Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 1

LOVE IS HARD

Author             : Roykilljoy

Indo Trans   : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard

Genre              : Romance

Main cast         : SNSD Member, Taecyeon 2PM

Warning          : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

original version :

CANDY STAR WORRIED GIRL

Chapter 1

Author Pov

“TaeTae…”

Taeyeon tidak mendengarkan gadis yang memanggilnya, dia sedang duduk bersila dilantai dan matanya sibuk melihat layar laptop di depannya.

“Taeyeon-ah”

Gadis itu tetap memanggilnya sambil cemberut, tapi tetap saja Taeyeon tidak bergeming.

“Ah !!” Tiffany menganggetkan Taeyeon dan membuyarkan pikirannya dari dunia maya.

“Fanny-ah.. kau mengaggetkanku…”

“Habisnya.. kau mengacuhkanku..” Kata Tiffany sambil cemberut.

“Oh… Sorry.. aku sedang mengerjakan sesuatu.”

“Oh.. “ Tiffany menyandarkan kepalanya di pangkuan Taeyeon untuk melihat layar laptopnya. Taeyeon merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulitnya.

“Tidak ada… hanya membaca…” Kata Taeyeon lalu menutup laptopnya dan meletakkannya di meja di sampingnya. “Ada apa ??”

“Hanya berpikir..” dia menaikkan kepalanya kearah Taeyeon. “Kau melihat HPku ?? Aku dan Taecyeon sebentar lagi akan keluar, tapi aku tidak dapat menemukannya sekarang.”

Taeyeon menelelan ludah, kemudian menyilakkan rambutnya di belakang telinganya.

“Dimana kau terakhir kali melihatnya ??”

“Aku gak tau…” Tiffany menyilangkan tangannya di depan dadanya. “Aku memakainnya tadi setelah sarapan.. tapi sekarang aku lupa menaruhnya.” Tiffany mencoba mencari di lantai sekitarnya.

“Aku harus menemuinya sejam lagi.” Suaranya sedikit berbisik.

*Mungkin karena dia sedang sibuk berpikir. Mungkin dia akan berpikir kau lupa kalau kau punya janji dengannya* Pikir Taeyeon. Senyuman kecil muncul dari bibir taeyeon tapi langsung menghilang begitu melihat ekspresi tiffany yang semakin sedih. Dia tidak tahan jika melihat tiffany bersedih.

“Kenapa kau tidak bersiap-siap dulu ?? Aku akan mencarikannya untukmu.

“Jinjja ??”

“Yeah..” taeyeon mengangguk.

“Gantilah pakaianmu.”

“Okay !!” Wajah Tiffany berubah menjadi secerah mentari lalu memberi taeyeon ‘eye smile’ sebelum pergi ke kamar mandi.

Taeyeon melihat tiffany, menunggu suara pintu tertutup dan dia sendiri lagi. Taeyeon mendesah, lalu mengambil laptop disebelahnya.

“Aishh Taeyeon… apa yang sudah kamu lakukan ??” Suaranya bergema di seluruh ruangan yang kosong.

“Aku harus tahu bagaimana akhir ceritanya.”

Chapter 2

Taeyeon Pov

“Taeyeon-ah…”

Suaranya bergema di telingaku saat aku sedang tiduran di kasur dan menatap kosong kearah langit-langit kamarku.

“Hm ??” Jawabku singkat.  Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi tampaknya banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini yang mengganggu pikiranku.

“Aku minta maaf soal tadi.” Jawabnya dari balik pintu, lalu berjalan mendekat kearahku. “Aku tidak bermaksud untuk berteriak seperti itu.”

Aku tertawa kecil. “Its Ok, frekuensi suara normalmu adalah 9, maka 10 juga tidak terlalu buruk.”

Aku tidak mau dia khawatir karena sesuatu yang merupakan kesalahanku. Kesalahaknku karena tidak membantunya padahal tadi aku sudah bilang kalau aku akan membantunya.

[Flashack]

“Bagaimana endingnya Taeyeon ?? Bagaimana endingnya ??” Aku bergumam sendiri sambil melihat kearah layar leptopku.

“Taeyeon-ah.. apa yang kau lakukan disini ?? kenapa kamu masih disini ?? Apa kau sudah menemukannya ??” Tanya Tiffany dengan tuuh setengah basah dan mengeringkan rambutnya menggunakan tangannya. “Kau bilang kau akan membantuku !!”

“Eh ??” Aku membuang laptopku dari pangkuanku.

“Oh.. mianhae Fanny-ah… aku akan mencarinya sekarang.. jangan khawatir.”

“Lupakan… sudah terlambat sekarang… mungkin dia akan berpikir kalau…………”

“Hey Guys…” Suara Jessica menggema diseluruh dorm saat dia dan Sooyoung memasuki ruangan.

“Fany.. kau meninggalkannya di van pagi ini, dan terus berdering tanpa henti.” Dia meletakkan benda berwarna merah kecil di atas meja.

“Babo… mungkin dia akan kehilangan hidungnya, kalau itu tidak menempel diwajahnya.” Kata Sooyoung. Mereka berdua tertawa lepas.

Tiffany menggelegkan kepalanya frustasi “Ugh !!” Dia menyambar HPnya dan menghilang, berlari menuju kamarnya dan membanting pintunya.

Mereka berdua memandang satu sama lain lalu memandang taeyeon yang menundukkan kepalanya melihat ke lantai.

“Ada apa dengannya ??”

Taeyeon mengambil laptopnya dan melihat kerusakan yang diakibatkannya. Terdapat retakan besar yang tergambar jelas di layar laptopnya.

“Taeng ??” Sooyoung menaikkan nada suaranya.

“Kencan lagi ??” Jessica duduk di sofa sambil menatap gadis yang sedang membuka laptopnya.

“Hmm..” Taeyeon membalas tatapannya. “Yeah.. dengan Taecyeon.”

“Lagi ?? Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu ini.” Sahut Sooyoung sambil memasukkan beberapa makanan kedalam mulutnya dari kulkas.

“Ah…” Jessica memandangi Taeyeon yang sedang berusaha menyalakan lapotpnya kembali. “I see.” Gumamnya.

“Yah … Choi Sooyoung…. Tidak perduli kau membukanya atau menutupnya, aku akan mematahkannya juka kau tetap melakukannya.”

“Mulutnya atau pintunya ??” Sebuah suara muncul dari balik mereka. Taeyeon tersenyum kecil saat Yuri duduk disampingnya, untuk mencairkan suasana. “Dua-duanya.”

[Flasback end]

Chapter 3

“Seriously TaeTae…”

Aku berdiri, menatapnya. Membuatnya agar tidak khawatir. Aku tidak perduli dengan teriakkannya tadi.

Aku seharusnya membantunya, bukan malah menatap ke layar laptopku dengan lautan fanfiction yang terhampar di internet.

*Yaah.. sekarang laptopku sudah rusak, aku tak perlu lagi khawatir tentang hal ini…* Pikirku.

“Mianhae..” Katanya lembut. Tangannya sedang menyilakkan rambutnya kebelakang, merapikan beberapa helai rambut yang masih belum rapi di belakang telinganya. Aku rasa, dia buru-buru meminta maaf padaku karena rambutnya dan tubuhnya masih basah setelah dari kamar mandi tadi.

“Taeyeon ??”

“Hm ??” Mataku berlari kearahnya, wajahku mulai memerah begitu menyadiari bahwa aku menatapnya terlalu lama.

Aku pikir, dia menyadarinya ketika dia mendesah dan menatap lantai.

“Kamu selalu melakukannya akhir-akhir ini.”

“Mwo ??”

*Apakah dia mengetahuinya ?? Apakah aku terlalu ceroboh ?? Tapi aku selalu berhati-hati selama ini.*

“Melamun..” Jawabnya. “Kau sudah hampir sama buruknya seperti Jessica.”

“Oh..” Aku mendesah lega. “Aku rasa, aku punya banyak pikiran akhir-akhir ini.”

“Tapi…” Dia menatap tajam kearahku. “Sepertinya itu hanya erjadi ketika kau bersamaku.” Dia menyelipkan tangannya pada tanganku. “Apakah aku melakukan kesalahan ??”

“Anio Fanny-ah… kau tidak melakukan apapun, aku benar-benar sedaang banyak pikiran akhir-akhir ini.”

“Seperti apa ?? Kau tidak pernah bercerita apapun padaku lagi. Kau hanya memendamnya sendiri dan menatap ke layar leptopmu setiap waktu…. Membaca.”

“Apa aku benar-benar terlihat sedang membaca ??”

“Lalu apa lagi ??” Dia menarik tangannya dan menyilangkannya di dadanya. “Dengan kamu memandangi laptop di pahamu setiap hari, apalagi kalau tidak membaca ?? Apa yang kau baca ??”

Ini sangat memalukan untuk mengatakannya, tapi aku tidak mau dia berpikiran buruk terhadapku.

Aku menjawabnya dengan sangat pelan, kukira dia tidak bisa mendengarnya.

Tapi aku salah.

“Fanfics ??”

Aku mengangguk berkali-kali. Rasanya, ingin sekali aku pergi dari sini. Bahkan, jika berarti meniggalkan tiffany disini dengan seribu pikiran gilanya. Tapi aku tidak dapat berbuat apapun, begerak sedikitpun, itu hanya akan membuatnya berpikir buruk tentangku. Jika aku tidak menenangkannya, maka mataku akan membunuh diriku sendiri.

“Tentang apa ?? Aku harap bukan SNSD. Aku mendengar sekarang para ANTIS melampiaskan kekesalan mereka dalam Fanfiction.”

Aku tidak menjawab.

“Realy taeyeon ??” Dia berdecak, meletakkan kedua tangannya di pinggulnya.

Aku mengangguk lagi. “Itu bukan masalah besar, itu hanya sebuah cerita.”

Dia mendesah dan menggelengkan kepalanya. “Ajuma Taeng mengabiskan waktu libur selama sebulan mengacuhkan member lainnya dan membaca fanfiction ??” Pandangannya ke lantai lagi.

Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Nada suaranya sangat membingungkan antara serius dan bercanda.

Aku memandangi wajahnya untuk menjawabnya.

Sakit.

“Mianhae Fanny-ah.. kau tidak perlu lagi khawatir tentang itu. Laptopku tidak bisa menyala, kau tahu.”

“Hmm.”

“Aku merusaknya saat aku menjatuhkannya.”

“Oh…” Sekarang giliran dia yang menjauh, aku ingin berbicara lagi untuk mengubah suasana. Tapi dia mendahuluinya.

“Kau seharusnya tidak perlu membacanya, tidak jika itu tentang kehidupanmu sendiri. Terkadang, itu hanya akan menghambat kita dan membuat kita merasa tidak nyaman.”

“Kau juga membacanya ??”

“Sunny menunjukkanku sekali. Aku tidak menyelesaikannya.”

Sunny membaca fanfics ?? aku tidak kaget.

“Yeah… dia menyukai hal-hal aneh semacam itu… terlalu banyak drama.”

“Ada satu yang terbaik.”

“Dan … banyakkk…..” Wajahnya berubah menjadi pink. Aku bisa menebak apa yang dia maksud.

Aku merubah topik pembicaraan ini. “Apa yang kau suka salah satunya ??”

Pandangannya tertuju padaku. “Itu tentang kita.”

Chapter 4

“Kita ??” Jawabanku sangat cepat daripada yang kupikirkan.

“Yeah.” Dia mengangguk. “Awalnya kita adalah teman lalu berubah menjadi sepasang kekasih.” Tangannya memijat dagunya seperti sedang berpikir keras. “Lucu, huh ?? Aku rasa kita harus memberi mereka ruang untuk berpikir tentang itu.”

Aku tertawa kecil, bola mataku naik turun seirama dengan detak jantungku yang semakin cepat. “Kita sangat dekat.”

“Hmm… ini sangat aneh.”

“Oh……”

“Itu sangaaatt nyata… caranya mendeskripsikan kita. Dia pasti dangerous fan.”

“Dangerous ??” Aku merendahkan nada suaraku.

“Seperti seorang penguntit.” Kau harus memberitahunya.

“Oh…” Jika aku memberitahunya itu hanya akan menjadikannya masalah besar.

“Itu membuatku berpikir.” Yeah, ini akan menjadi masalah, dan harus segera diselesaikan.

“Tentang apa ??”

Dia membalikkan wajahnya kearahku, membuatku terpaksa harus menatap matanya.

“Kau tidak berpikir aku seperti itu kan ??”

“M-Mwo ??”

Wajahnya tergambar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Pandanganya tampak takut dan khawatir. Sedangkan matanya terlihat terpaku dan malu.

“Jalan cerita itu… kau tidak berpikir aku seperti itu kan ??”

“Fany-ah…”

“Aku tahu itu pertanyaaan yang bodoh, itu hanya… karena mereka membuatnya seperti itu bisa menjadi kenyataan.”

“Fanny-ah… tentusaja aku ti-tidak pernah berpikir seperti itu.” Aku menundukkan wajahku.

“Gezz… Kau seharusnya tidak perlu membaca seperti itu !! Sekarang… gati bajumu… kau membasahi lantaiku.”

Wajahnya kembali normal, lalu berdiri.

“Hahaha.. .aku tahu kamu tidak mungkin.. aku hanya ingin tahu apakah kau mendengarkanku atau tidak. Kau terihat seperti akan melamun lagi.”

“Hahaha.. yeah.. yeah.. aku tahu maksudmu.” Kataku sambil mendorongnya keluar kamarku.

“Okay, so.. lupakan fanfics itu sejenak dan berbicara padaku lagi. Tanpa kamu, aku tidak punya seseorang yang bisa ku ajak hang-out.”

“Kau punya Taecyeon.”

“hang out dengannya berbeda dengan hang out bersamamu.” Dia membuka pintu. “Hey.. kita sudah siap mebonton Film, ini akan menjadi Film yang paling menakutkan saat ini.”

Matanya mengaharapkanku untuk menjawab, aku benar-benar tidak ingin berada diskitar orang-orang selama aku merasa perasaanku akan mudah meluap dan tertangkap oleh orang lain. Tapi tiffany mengharapkan kita semua ber9 dapat berkumpul meluangkan waktu bersama seperti biasanya.

“Aku akan menunggumu disana.”

Dia menutup pintuku dan pergi kebawah.

“Sebentar lagi dia akan siap guys…” Dia berteriak dari bawah.

Kuarahkan pandanganku keatas, mencoba menahan air mataku agar tidak keluar, kukedip-kedipkan mataku berulang kali.

Lies… aku pikir semua ini hanya sebuah kebohongan.

Chapter 5

“Taeyeongiee..”

Badanku berada di sofa, tapi pikiranku melayang kemana-mana. Kucoba memfokuskan pikiranku kepada gadis yang duduk disebelahku.

“Yeah ??”

Tiffany menggandeng lengan sebelah kananku menariknya mendekat ke dadanya dan memeluknya erat.

“Nothing.” Dia tersenyum. “Hanya memastikan kau berada disini denganku.”

Aku dapat merasakan dia menyandarkan kepalanya dibahuku. “Aku tidak tahu apakah aku dapat melihat film horor ini tanpamu disini.”

Aku meremas bantal di pahaku dengan tangan kiriku, mencoba untuk menyebunyikan rasa senangku. Piyamanya yang tipis membuatku menyentuh kulitnya yang lembut setiap kali dia bergerak.

“K-Kita a-akan baik-baik sa-saja Fanny-ah…”

Tiffany tertawa kecil lalu menoleh kearahku. “TaeTae.. kau takut ??”

“M-mwo ?? A-Anio…”

Kepalanya kembali ke pundakku, “Kau gugup.. berati iya.”

“Hey.. kalian berdua… berhenti berbicara !! Aku ingin melihat film ini !!” Sebelah kananku Sooyoung bergerak dari tempat duduknya, separuh bersandar. Aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Tapi aku yakin dia sedang memakan sesuatu.

“Sorry..” Tiffany menyelimuti kakinya dengan selimut berwarna pink lalu menyandarkan kepalanya dipangkuanku.

“Dan kau— suara bulpenmu sangat menggangu kita.”

“Sorry Unnie…” Kata Seohyun yang sedang duduk di lantai, mengerjakan sesuatu di atas meja.

“Kita seharusnya beristirahat !! Berhenti bekerja !!”

“Maaf.. aku tidak bisa.. aku punya banyak PR untuk dikerjakan minggu ini.”

“Itu artinya kau masih punya 6 hari tersisa untuk mengerjakannya.”

Seohyun menoleh kearah seorang gadis disebelahnya.

“Unnie.. aku tidak bisa melihat yang seperti ini.” Tangan halus menyentuh pundak Seohyun.

“Seo…”

Seohyun menaruh bolpennya setelah mendengar suara Yoona.

“OK Unnie…”

“Sudah selesai ??”

“Ok Sooyoung… mainkan..” Yuri menjendul kepala belakang Sooyoung. Aku tertawa menlihat tingkah mereka semua.

Aku memandang keseluruh ruangan, menghitung semua teman-temanku. Hyoyeon berada didepanku disebelah kanan meja, pandangannya terbelah dua antara melihat TV dan DS Sunny yang berbagi selimut dengannya.

Diantara Seohyun dan Hyoyeon terdapat Yoona yang tangan kirinya memegang sebaskom popcorn dan tangan kanannya memegang sebungkus snack.

Sooyoung berada di sofa dengan tengannya penuh dengan makanan tapi tetap saja mencoba mencuri makanan dari Yuri. Dipundak Yuri terdapat Jessica yang sebelum film diputar sudah pergi kealam mimpi terlebih dahulu. Aku memberanikan diri melihat kearah seorang gadis yang menyandarkan kepalanya di pangkuanku, memandangnya hanya akan membuatku tidak fokus pada film yang sedang kutonton.

Pikiranku melayang pada sore tadi, saat tiffany berkata hal itu padaku.

“Kau tidak berpikir aku seperti itu kan ??”

Aku dapat merasakan tatapannya tajam padaku, merasa tidak nyaman. Aku selalu berharap suatu hari nanti aku dapat mengatakan semuanya padanya tapi aku tahu aku tidak akan pernah bisa setelah aku mengetahui kebenarannya. Jika aku hanya bisa berpikir menyukainya di dunia nyata itu cukup unuk membuatnya menatapku seperti ini. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menyatakan perasaanku padanya. Persahabatan kita tidak akan pernah dapat diperbaiki lagi kalau aku melakukannya. Dan juga ini akan berpengaruh pada kita semua, dan aku tidak dapat melibatkan mereka dalam permasalahan ini. Tidak atau aku akan menyesal seumur hidupku. Aku selalu merasa cemburu jika dia menceritakan tentang orang lain yang disukainya padaku. Itu membuatku ingin melarikan diri dan tidak akan mendengarkannya bercerita.

Chapter 6

“TaeTae ??”

“Hmm ?”

“Aku bilang, apakah kau menggunakannya ??” Tiffany menunjuk bantal ditanganku.

“Oh.. Tidak..” Aku melemparkan benda malang itu. “Tidak”

Dia tersenyum, “Apakah kau keberatan jika aku menggunakannya ?”

Aku menggelengkan kepalaku siap untuk memberikan benda itu padanya. Tapi dia malah bergerak sedikit dan merendahkan kepalanya dan bersandar di pahaku.

Tentusaja, aku tahu aku tidak punya kesempatan untuk fokus pada film itu tidak perduli betapa bagusnya seharusnya film itu.

Aku menatapnya, mengusap kepalanya dengan lembut. Dia tersenyum menyetujuinya. Aku tahu dia tidak pernah memikirkan hal ini. Dia selalu menyukai jika aku melakukan hal ini padanya.

Aku berpikir, berapa banyak orang yang kau biarkan sedekat ini padamu. Jari-jariku mengusap lembut ke rambutnya.

Sangat cantik

Dia bergerak, semakin menemprlkan tubuhnya padaku.

Aku sangat senang, sampai pikiran tentang dia mengganggu pikiranku. Aku tahu kalau suatu saat ini akan terjadi juga, meskipun aku tidak mau mempercayainya. Tetap saja, ini tidak akan mengubah kenyataan. Taecyeon telah mengambilnya dariku. Dia telah memplokamirkannya kepada kita. Aku tahu perasaan tiffany padanya. Cara tiffany berbicara tentangnya. Cara tiffany menatapnya, itu seperti saat aku sedang menatap pada cermin.

Aku berbohong jika aku mengatakan aku tidak pernah bermimpi kita pada akhirnya akan bersama. Heh, itu semua berakhir ketika dia muncul dalam kehidupan kami.

Tiffany bernafas pelan dan teratur. Aku merasakan diriku sendiri tersenyum, berharap momen seperti ini tidak berakhir. Aku ingin seperti ini selamanya.

“Cara ini, dia tidak dapat mengambilmu lagi dariku.”

Mataku bergerak menatap bibirnya. Bagian belakang tanganku menyentuh pipi lembutnya.

“Fanny-ah..” Suaraku lebih rendah dari berbisik. Aku tahu tidak ada orang yang dapat mendengarnya. Tapi tetap saja aku tidak punya keberanian untuk melanjutkannya lebih keras lagi. Aku tidak tahu berapa lama lagi hubunganmu dengannya tapi, aku tetap ingin mengatakannya lebih dulu.

Ibu jariku menelusuri rahangnya.

I love you Tiffany.

Dia tidak bergeming. Aku tidak tahu mengapa aku mengharapkannya. Bukan karena aku mengatakannya terlalu keras. Mungkin karena aku sedang berlatih cara mengungkapkan perasaanku padanya. Tidak… yeah… Dia bukan pembaca pikiran. Dia tida bisa membaca pikiranku barusan.

I Love You aku mengulangnya. Meskipun dia tidak akan bangun dan itu hanya ada dipikiranku untuk membuat perasaanku lega.

I Love You Tiffany tapi setiap kali aku mengatakannya

I Love You Tiffany semakin sakit yang kurasakan

I Love You Tiffany aku merasakan kedua mataku terbakar dengan air mata. Aku tidak ingin mereka keluar, tapi mereka tidak mendengarku sama seperti dia tidak mendengarku.

I Love You Tiffany, kenapa kau tidak menjawabku ?? Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu ?? Aku merasakan sebutir air kecil mengalir di pipiku, berkalan melewati daguku. Aku rasa aku tidak perlu mengusapnya, tidak seorangpun yang dapat melihatnya.

I Love You Tiffany…

“Ah..” Wajahnya tertuju padaku. “Apakah kau barusan meneteskan sesuatku kearahku ??” Dia bergumam, matanya tetap tertutup.

Dengan cepat aku menghapus air mata dipipiku yang telah menggaggu tidurnya.

“Hahaha..” Aku tertawa kecil, mencoba membuat suaraku senormal mungkin. “Sorry Fanny-ah…”

“-Sshh…” Aku mengalihkan pandanganku di ujung sofa. Mataku tertangkap oleh sebuah Zombie di belakang Yuri yang sedang menatapku tajam. Aku menatapnya balik, berpikir apakah dia benar-benar menatapku atau hanya sekedar melamun dan menatap kosong kearahku seperti biasanya. Ketika dia menggelengkan kepalanya, aku tahu dia tidak melamun.

Kamu tidak melakukan sesuatu yang salah Tae, teman menyentuh temannya adalah hal yang wajar.

Aku mencoba memfokuskan pandanganku kembali pada TV. Dia tidak mungkin dapat melihatku dari sini. Tidak dalam kegelapan. Aku memandang Jessica yang masih menatapku. Aku tidak tahan dengan tatapan Icynya.

Setelah Tiffany kembali ketempat tidurnya, aku menghilang dari ruang tamu dan dan pergi ke kasurku. Membiarkan semua perasaanku lenyap dibalik bantalku dan menuntunku pergi kedunia mimpi.

Chapter 7

“Taeyeon.. kau jatuh cinta padaku ??”

“Mwo ??”

“Kau bilang kau jatuh cinta padaku.”

Aku tertawa gugup, tidak yakin bagaimana cara untuk  memperbaiki situasi ini. Aku bahkan tidak yakin aku bisa berada didalam situasi ini.

“T-Tiffany… A-Aku… T-tidak… B-bermaksud seperti itu.”

“Benarkah ??” Dia menyilangkan tangannya di didadanya. “Kau tergagap lagi.”

“A-Aku…”

“Taeyeon..” Suaranya sangat rendah dan serius, “Kita tidak bisa sperti itu… Kita ini idola… apa yang akan mereka katakan ??”

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. “Apakah itu sebuah masalah ?? Maksudku … bukankah perasaan kita lebih penting ??”

Ini sangat egois. “Itu sangat egois Taeyeon, bagaimana kau bisa berkata seperti itu.”

“Aku bukanlah orang yang polos Tiffanny, aku tidak mau hidup ketakutan tentang apa yang fans akan katakan. Kau selalu saja takut tentang pikiran mereka.” Jangan memprovokasinya.

“Jadi kau berpikir aku seperti itu ??” dia terlihat kecewa. “Aku terobsesi dengan opini fans ??”

“Anio… aku tidak bernaksud seperti itu..”

“Kau sepertinya tidak bermaksud tentang banyak hal.” Kata sebuah suara di balik pintu.

Taecyeon berjalan mendekati Tiffany. Sekarang, mereka berdua akan menghakimiku. Aku melihatya melingkarkan tangannya ke pinggul Tiffany. Ini keterlaluan. Aku berbalik dari hadapan mereka.

“Kau bahkan tidak bisa melihat kearah kami.” Suaranya semakin serius, aku tahu jika aku melihat kearahnya, aku tidak akan dapat menahan air mataku.

“…..”

“Aku sudah bercerita kepada mereka tadi.”

Tetap saja..

Dia mendesah.. “So.. sekarang kamu tidak bisa berkata apapun ??”

Aku merasakan air mataku menetes, aku tahu apa yang akan dia katakan.

Dan aku tidak mau mendengarkannya.

“Taeyeon, Taecyeon adalah namjachinguku… aku perduli padanya… aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkannya jika kau tidal bisa berdiri diantara kita.”

No… aku harus memilih diantara memiliki sedikit Tiffany didalam hidupku atau sama sekali tidak memilikinya, jawabannya sangat mudah.

Tiffany…

Aku selalu memlilih Tiffany

Dengan cepat dia menarik Tiffany kepelukannya, lengannya melingkar sempurna di pinggul Tiffany menekan punggungnya agar lebih dekat dengan dadanya.

Aku dapat bertahan dengan rasa sakit ini, aku dapat menutupinya. Tidak seorangpun boleh tahu betapa sakitnya hati ini. Tak seorangpun boleh tahu betapa hatiku menangis sekeras ini.

“F-Fany-ah… aku… tidak masalah…”

Tiffany mendesah bersandar di lengannya. “Kau tergagap berarti iya.”

“Tunggu Tiffany !! Biarkan aku mencobaya lagi… aku berkata.. a-aku berkata… aku akan baik-baik saja.. a-aku janji !!”

“Ayo pergi…” dia berbalik menuju pintu dan membawa Tiffany bersamanya.

Mengambil Tiffanyku.

Chapter 8

“Taeyeon-ah…”

Aku tetap menutup mataku… tidak ingin melihatnya pergi dariku. Air mata jatuh di pahaku. Dimana kepalanya barusaja bersandar disitu beberapa jam yang lalu.

“Taeyeon-ah…” Suaranya semakin membesar.

“Biarkan saja dia.” Kata suadra yang lembut disebelahku.

“Yeah… dia mungkin sedang kesakitan.” Kata seseorang lagi.

“Anio.. dia harus bangun… ini sudah siang dan aku akan menggunakannya.”

Mwo ??

Aku membuka mataku, menelusuri seluruh sudut ruangan.

Tiffany sedang duduk disofa, sedangkan Sooyoung sedang di meja memakan semangkuk sereal dan Sunny duduk disebelahku, matanya sedang fokus ke DSnya. Aku menoleh ke pahaku.

“Apa kau sudah selesai dengan itu ??”

Aku menoleh kearah gadis disebelahku. “Mwo ??”

“Laptopku.. Fanny ingin memakainya.”

Aku menatap laptop silver di pangkuanku, mencoba memkirkan kejadian tadi.

“Oh..” Aku menaruhnya di meja didepanku.

“Gezz… kau melamun lagi..” Sooyoung menggelengkan kepalanya lalu duduk di tempat favoritnya, diujung sofa.

“Oh… Good…” Tiffany berjalan kearahku. “Kau terbangun… kau seharusnya tidak tertidur seperti itu, itu berbahaya !”

Tertidur ?? Jadi itu semua hanya mimpi ??

“Dengan kakinya bersila seperti itu… dia akan merasa sakit nanti.” Dia memasukkan sesendok besar sereal di mulutnya. “Kurasa dia tidak akan pergi shopping, huh Fanny ??”

“Yeah.. aku rasa tidak…” dia mengerutkan dahinya. “Apakah kau lupa ?? Kita seharusnya pergi shopping sekarang.”

Aku memijat leherku, “Oh.. Mianhae Fanny-ah.. aku akan bersiap-siap sekarang.” Aku berdiri, suara tulangku berdecit terdengar diseluruh ruangan. Aku kesakitan, terjatuh lagi di sofa.

Bagaimana ini bisa terjadi ?? Sunny mendesah.. mengambil leptopnya kembali.

“Ah !! Ini sangat panaass !!” dia menatapku tajam. “Ini terakhir kalinya aku membiarkanmu meminjam barang-barangku. Jika aku tidak setengah tertidur saat kau memintaku, aku tidak akan berkata iya..”

“Eh ??”

“Ah, memorimu sangat bagus seperti seperti selembar kertas yang basah.” Kata Sooyoung sambil memindah-mindah channel TV. “Kau datang dan memohon pada Sunny tadi malam dan membangunkannya untuk meminjam leptopnya. Lalu pagi ini kami menemukanmu menatap layar seperti ini.” Dia menirukan gaya seseorang sedang mengetik dengan mata tertutup. “Jessica yang malang, hampir pingsan setelah melihat film horor semalam lalu melihatmu dengan posisi seperti itu pagi ini.” Dia tertawa kecil. “Kebiasaan tidurnya semakin parah sekarang bahkan dia meminta sesuatu juga.”

Sunny tidak menghiraukan ocehan Sooyoung, pandangannya tertuju pada layar laptopnya.

“Hey Fanny !!” Dia menoleh kearah gadis dibelakangnya yang sedang sibuk SMSan menggunakan HPnya. “Pria kita masih belum memostingnya.”

“Priamu ??” Sooyoung mengalihkan perhatiannya dari makanannya.

“Fanfics.” Sunny menghubungkan DS ke Laptopnya lalu memandangku. “Fanny bilang kalau kau juga suka membacanya, sini… aku tahu satu yang bagus untuk kau baca.”

“Gah… jangan hal-hal seperti itu lagi !! Mereka selalu membuatku kecanduan. Sama seperti jika aku makan setiap detik setiap hari.” Kata Sooyoung sambil memasukkan satu sendok penuh sereal kedalam mulutnya.

“Tidak sekarang Sunny.. dia harus beristirahat dulu.” Kata Fanny sambil mengulurkan tangannya membantuku berdiri dari sofa. Dengan kaki yang pincang aku berjalan kearahnya dan membiarkannya menuntun diriku menuju kamarku.

“Gomawo..”

“Kapannpun..” Dia tersenyum. Aku dapat melihat sesuatu sedang menggangu pikirannya.

“Fanny-ah ??” Dia membantu menidurkanku di kasurku.

“Hm ??”

“Aku minta maaf, aku tidak dapat keluar bersamamu hari ini.”

“Its Okay.. aku telah menghubungi…. Taecyeon.” Suaranya semakin merendah, atau aku yang tidak memperhatikan.

Ini sama seperti mimpiku, ini.. terjadi sebagaimana seharusnya.

Tangan lembut tiffany menggenggam tanganku dengan cepat membuyarkan pikiran ku. “Kita bisa pergi besok jika kau tidak sibuk.”

Aku tersenyum hangat padanya, mengetahui kebenaran yang sedang aku pikirkan. “Aku tidak sibuk.. kedengarannya menarik.”

Dia menepukkan kedua tangannya, berjalan kearah pintu. “Good !! Cepat pulih, Ok ?? Jangan melakukan banyak hal.”

Aku mengangguk melihatnya pergi menjauh, sebentar lagi itu akan menjadi kebiasaanku selama hidupku.. melihatnya pergi menjauh dariku….

Chapter 9

Author Pov

“Ini tidak benar..” Sunny berpindah dari sofa. Satu tangannya memegang DS dan satunya lagi memegang laptopnya.

“Apa yang tidak benar ??” Tiffany duduk disebelah Sunny, perhatiannya tertuju pada TV didepannya.

“Ceritaku… tidak ada satupun disini.”Dia menunjukkan lanyar laptopnya pada Tiffany.

“Ini seperti Favorite listku telah dipindahkan. Disini dikatakan aku telah Log In.” Fanny melihat kelayar dan menunjuk menu drop down. “Ini favorite list mu.”

Sunny menggelengkan kepalanya sambil mematikan DSnya. “Tapi itu semua bukan favoritku.. Lihat !!” Dia menunjuk ke layar. “Ini semua TaeNy fanfictions.”

“What ??” Tiffany yang tadinya berdiri, kini duduk lagi dan menatap kearah layar laptop sunny.

Sunny mengangkat pundakknya. “Terserah.. aku akan kembali sebentar lagi. Hey Sooyoung.. bersiaplah … Yoona akan sampai disini sebentar lagi.”

Sooyoung mengangguk mengikuti gadis kecil keluar dari ruangan.

Tiffany melihat kearah List. Matanya menelusuri kearah syinopsis salah satu cerita menyangkut dia dan Taeyeon. Dia menatap kearah judul cerita yang sangat dia kenal.

Waiting : A Tragedy ; A broken heart by TimH.B. itu merupakan cerita yang belum selesai. Cerita yang selalu mengganggu pikirannya. Cerita yang dia katakan pada Taeyeon kemarin. Cerita yang paling dinanti oleh Sunny.

Tiffany tiba-tiba teringat kata-kata familiar disitu. Beberapa bagian sangat pas jika digabungkan. Sesuatu yang sangat ditakuti dalam hidupnya. Dia berkata pada Sunny dia tidak ingin membacanya ketika Sunny menawarkannya sebukan yang lalu. Tapi setelah melihat chapter 1 dia tidak bisa berhenti membacanya.

Tiffany dengan cepat Log Out dari webset itu, tapi menyadari dibawah nama Sunny bukanlah namanya. Dia mengklik dua kali kotak Log In dan muncullah nama familiar di daftar User names.

“Oh My…” Tiffany dengan pelan menaruh laptop itu di meja didepanya.

“Ini tidak mungkin…”

Suara deringan HPnya membawa pikirannya kembali ke dunia nyata.

“Taec ??”

“Huh ??”

“Jessica ??”

“Yah… aku membaca pesanmu.. Taeyeon tidak dapat menemanimu kan ?? Aku tidak kaget setelah melihat bagaimana dia tidur pagi tadi. Aku dalam perjalanan, tunggu aku..”

Suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan membuyarkan pikirannya tentang sesuatu di layar laptop itu.

“Kamu seharusnya tidak menghentikan Sooyoung untuk memabngunkannya.”

“Jessica.. berapa lama kau ??”

“Sekitar 5 menit yang lalu aku rasa. Kenapa ?? Ada apa ??”

“Aku akan menemuimu diluar..” dia menyambar Jaket di sebelahnya.

“Aku harus berbicara padamu..” dia menatap layar laptop didepannya.

“Ini tentang Taeyeon..”

Tiffany keluar apartemen meninggalkan laptop silver itu tetap ditempatnya, drop down menu menunjukkan tiga nama yang tampak di User Name.

O.G.Mush

Sunscreen09

TimH.B

END

Bercanda 😀

-TBC-


Iklan

51 thoughts on “LOVE IS HARD Part 1”

  1. Woahh bener bener dah taeyeon kena delulu akut haha
    gra2 bca ff dia jdi ikut berhalusinasi jg, tpi sayang itu cma angan belaka doang bwt milikin panny..
    nyesek klo gua jd tae mah
    soonkyu bca jga ternyata..
    ni ff pertamanya ajh udh keren gmna endnya ??
    smga gak sad ending ya..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s