FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 5

LOVE IS HARD

Author             : Roykilljoy

Indo Trans   : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard

Genre              : Romance

Main cast         : SNSD Member, Taecyeon 2PM

Warning          : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

original version :

MY JUICE BOX HEART 

Chapter 12

“Hey..” Tiffany tersenyum meletakkan kuncinya di meja kecil didekat pintu.

Taeyeon tidak menengok kearahnya, dia sedang berada disuatu tempat yang jauh mencoba untuk membuat mimpi dan kenyataannya bertukar tempat.

“Dimana semua orang ??” Tiffany berjalan menuju ruang tengah lalu berdiri diantara Taeyeon dan TV.

Taeyeon menatapnya dengan tatapan menyedihkan sementara Tiffany mengerutkan alisnya. “Kau benar-benar berpacaran dengannya ??”

Tiffany mengangguk sambil menundukkan kepalanya. “Yeah.. kami baru saja memulainya hari ini.”

“Oh… Begitu….” Suaranya sangat pelan, seperti tatapannya. Dia mematikan TV yang sedang ia tonton lalu berdiri. Taeyeon menarik nafas dalam, menahan nafasnya sejenak lalu mengeluarkannya. Dia tersenyum sedih. “A—Aku ikut senang.” Dia mendekap Tiffany, memeluknya dengan hati-hati. Ia ingin memeluknya lebih lama, tapi terlalu canggung. Tidak ada perasaan didalamnya, tidak ada lagi kehangatan dalam pelukannya.

Taeyeon melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kamarnya. Tidak ada yang salah dengan tidur, meskipun ini masih siang.

“Tunggu !!” Mata Tiffany menelusuri seluruh ruangan. “Tidakkah kau i—ingin melihat TV, a—atau  bermain Video game bersamaku ??”

Taeyeon tersenyum lemah. “Mungkin lain kali saja Tiffany.. Ku rasa aku hanya ingin berbaring sekarang.”

“Ta—Tapi..” Suara Tiffany terdengar cemas. “Kita bisa eh… membaca buku bersama. Kau bisa tertidur disini..”

Taeyeon merasakan nafasnya semakin sesak. Tidak disini Taeyeon… Tidak didepannya… Dia tahu hari ini akan datang. Dia tahu ini akan terjadi. Dia hanya bisa berharap kalau dia akan kuat menghadapi ini semua. Taeyeon menggeleng lemah, dia takut kalau dia berbicara justru akan membuat suaranya semakin lemah dan Tiffany akan menyadarinya.

Tanpa banyak bicara lagi Taeyeon pergi kekamarnya, menutup pintu dibelakangnya. Dia jatuh kekasurnya menunggu suara TV menyala sebelum akhirnya dia terisak di balik bantalnya. Dia megingat kembali dimana Taecyeon belum masuk dalam kehidupan mereka berdua.

***

[Flashback]

Taeyeon merasakan HPnya bergetar, lalu menyambarnya di meja dekat tempat tidurnya.

 

To : Taeyeon

Ddok… Ddok… Ddok.. 🙂

-Tiffany-

 

Taeyeon menyingrai lalu membalasnya.

 

To : Tiffany

Masuk.. Aku terlalu mengantuk untuk berdiri

-Taeyeon-

 

To : Taeyeon

Mianhae.. Aku tidak bermaksud menganggumu

-Tiffany-

 

To : Tiffany

Babo !! Kau tidak menggangguku !! Masuklah…

-Taeyeon-

 

Waktu berlalu sebelum pintu kamar perlahan terbuka dan Tiffany masuk ke dalam. Taeyeon membuka selimutnya lalu memberi isyarat pada Tiffany untuk lebih mendekat padanya. Dia berbalik menatap Tiffany yang sedang bersandar padanya. “Selamat Malam Fanny-ah..”

“Selamat malam Tae-Tae…”

Selama beberapa bulan terakhir, semua ini sudah menjadi rutinitasnya bersama Tiffany. Setiap malam, Tiffany akan mengetuk pintunya, atau mengiriminya sebuah pesan, menanyakan apakah dia bisa tidur bersamanya. Taeyeon kadang-kadang mengeluh, tapi didalam hatinya dia sama sekali tidak keberatan. Dia sangat senang setiap kali Tiffany datang kepadanya.

“Tae Tae-ah…”

“…………”

“Taengoo.”

“………..”

“Taeyeon-ah..”

“Mwo ??”

“…Kau belum tidur ??”

“Hampir…. Tidurlah Fanny-ah.. kau tidak ingin membangunkan Yoona kan ??”

Tiffany menggelengkan kepalanya lalu menutup matanya. “Anio… Selamat malam TaeTae..”

Taeyeon tersenyum sambil menutup matanya, sepasang tangan yang hangat menggenggam tangannya. “Selamat malam Fanny-ah…”

Taeyeon berbaring menikmati kehangatan yang dirasakannya.

Ini seperti mimpi.. dia tidak ingin semua itu berakhir… Tapi dia harus mengakhirinya.

“Fanny-ah…”Kata-katanya menggema di udara pagi hari.

Tiffany bergeser, “Mwo ??”

“Sudah waktunya bangun…”

Tiffany memeluk pinggang Taeyeon membenamkan wajahnya di leher Taeyeon. “Anio…” Regeknya. “Aku tidak mau.”

“Kau harus..”

“Anio.. Ini minggu pertama Break kita, Aku tidak punya sesuatu untuk dilakukan hari ini.”

“Tiffany.. bangun sekarang.. Aku harus pergi kekamar mandi.”

“Pergilah…” Tiffany melepaskan pelukannya pada Taeyean. “Setelah itu kembalilah..”

“Aku senang jika kau berada diatasku.”

 

Chapter 13

“Hmm ??” Tiffany mengangkat kepalanya untuk posisi yang lebih nyaman. Sama seperti yang Taeyeon katakan, dia berbaring di bawah punggung Taeyeon, menutupi tubuh Tiffany dengan tubuhnya sendiri.

“Oh…” Tiffany berguling. “Maafkan aku Tae.. Apa kau baik-baik saja ??” Taeyeon menyelinap keluar dari tempat tidur, tangannya telentang diatas kepalanya. “Aku baik-baik saja Fanny-ah..”

Taeyeon berjalan menuju pintu, senyum cerah mengembang di bibirnya.

Taeyeon meninggalkan kamarnya, lalu kembali beberapa saat kemudin. Dia berdiri di samping tempat tidurnya, menyentuh mata Tiffany yang sudah tertidur lagi. “Fanny-ah..” dia menarik nafas. Tiffany sedang berbaring miring menghadap Taeyeon, tubuh langsingnya meringkuk di bantal.

Dia ada di sisiku lagi. Tiffany bisa mengambil alih seluruh tempat tidur dan tidur disampingnya setiap malam jika dia menginginkannya, Taeyeon tak pernah keberatan. “Asalkan kau ada disini, semua itu tidak jadi masalah.”

Tiba-tiba Tiffany bergeser dari tempat tidurnya.

Oh My God…. Apakah aku mengatakannya terlalu keras ?? Apakah dia mendengarku ??

Bukannya berbalik untuk bertanya pada Taeyeon, Tiffany malah bergerak mendekat kearahnya memeluk Taeyeon erat, Taeyeon mendesah lega… Membiarkan dirinya kalah kali ini.

***

“Sangat cantik…” Gumam Taeyeon sambil menatap wajah gadis yang sedang tertidur di lengannya. Tiffany tidur menghadap ke arah Taeyeon. Sekarang, kaki mereka saling berkaitan. Taeyeon membelai lembut pipi Tiffany, dia melakukannya setiap pagi selama Tiffany tidur di kamarnya.

Sehelai rambut jatuh diatas mata gadis yang sedang tertidur pulas. Taeyeon menyibaknya pelan, mengaitkannya lembut dan menyelipkannya di balik telinga Tiffany.

Bisakah aku benar-benar ??…. Dia menjauhkan pikirannya. Dia tidak mau terjerumus dalam godaan.

“Aku bisa bangun setiap hari seperti ini.”

“Kenapa tidak ??”

“Huh ??” Taeyeon tersentak kaget oleh suara Tiffany yang dia pikir sedang tidur.

Tiffany tiba-tiba membuka matanya, lalu tersenyum cerah.

“Mengapa tidak ?? Kita bisa menghabiskan setiap hari untuk tidur—pikirkan ini, kita bisa berhibernasi selama liburan ini.”Tiffany menciumi kepala Taeyeon dalam pelukannya. “Kau begitu hangat.”

Taeyeon terlalu terkejut untuk menjawabnya. Aku hangat ?? Apa yang dia maksud dengan itu ??

“Taeyeon-ah… kau baik-baik saja ?? Mukamu begitu merah..”

“Aku—Aku baik-baik saja..” Jawab Taeyeon mencoba menyembunyikan gugupnya. “A—Ayo kita membuat sarapan.”Taeyeon segera menutupi wajahnya yang memerah dan berlari keluar kamar.

Tiffany telah bersikap seperti ini selama berbulan-bulan. Mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah membuat Taeyeon menjadi kikuk. Bukan karena mereka dulunya tidak terlalu dekat, hanya saja akhir-akhir ini semua itu semakin meningkat baik frekuensi maupun intesitasnya. Dulu, mereka hanya akan berpegangan tangan, duduk berdekatan satu sama lain, seperti yang semua member lakukukan. Tapi sekarang, mereka tidak hanya berpegangan atau bergandengan tangan saja, tapi bergandengan dan memain-mainkan jari-jari mereka atau tidak hanya duduk bersama, tapi Tiffany akan duduk sedekat mungkin dengan Taeyeon lalu memeluknya seerat mungkin.

Tetap saja, keadaan ini tidak terlalu membingungkan Taeyeon, semua terasa alami. Seolah-olah tidak ada maksud dibalik semua itu. Cara tangan mereka berdua saling berkaitan satu-sama lain, cara tubuh mereka saling berpelukan, semua itu terasa begitu natural. Taeyeon begitu yakin, dia tidak akan memberitahu pada Tiffany bagaimana perasaannya yang sebenarnya, betapa dia sangat mencintainya selama ini. Tapi, setiap hari berlalu, menjadikannya sangat sullit.

Bahkan saat dia duduk di meja dapur, melihat Tiffany menyiapkan mangkuk sereal untuk mereka dia selalu bertanya-tanya, apa yang menyebabkan sikap Tiffany berubah padanya, apakah jawabannya seperti yang selama ini ia harapkan, apa yang telah dia tulis selama ini tatapi tidak pernah memberikan dirinya sendiri sebuah kesempatan untuk mempercayai bahwa semua ini dapat terjadi di didunia nyata. Atau mungkin dia juga memliki perasaan yang sama.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, tidak ingin pikirannya menjalar kemana-mana dan hanya akan membuatnya semakin berharap. “Apa yang ingin kau lakukan hari ini ??”

Tiffany menganggkat bahunya, “Aku tidak tahu, kau ??”

Taeyeon menyandarkan kepalanya pada meja. “Aku ingin tidur selama seribu tahun, ini sangat sepi.”

Tiffany meletakkan mangkuknya disamping kepala Taeyeon. “Aku rasa hanya kita berdua yang ada disini.” Dia kembali ke dapur lalu menyiapkan sepotong semangka untuk Taeyeon. “Ini.” Dia menunggu Taeyeon mengangkat kepalanya lalu meletakkannya didepannya.

“Gomawo.” Taeyeon tersenyum, lalu menggigit buah besar yang ada didepannya. Seketika cairan berwarna merah muda menetes melalui dagunya.

“Taeyeon-ah…”Teriak Tiffany lalu berlari bergegas mencari serbet untuk Taeyeon. Dia membungkuk dan mengusap sudut bibir Taeyeon. Tiffany tidak menyadari semburat merah dipipi sahabatnya.

“Aku akan memotongnya untukmu, kau tahu…” Tiffany mengangkat pisau ditangannya.

“Oh.. yeah.. mungkin itu akan lebih baik.”

Tiffany menyingrai sambil memutar bola matanya lalu membungkuk dihadapan Taeyeon. Dia mulai mengiris buah dihadapannya dengan terampil.

Taeyeon menutup matanya, menikmati saat-saat seperti ini. Hangat nafas Tiffany yang dapat dirasakannya menembus kulitnya.

“Fanny-ah …”

“Nee??”

“Mwo ?? Apa kau mengatakan sesuatu ??”

Tiffany terkikik lalu mengambil mangkuknya sendiri. “Tidak… Tidak apa-apa.”

**

“Kita mungkin harus segera pergi.”

“Ya.. Aku bangun sekarang.”Taeyeon duduk dilantai lalu memakan serealnya diatas meja, sementara Tiffany berbaring di sofa menatapnya dari kejauhan. “Benarkah ??” Dia berbalik terlentang.

“Baiklah.. aku akan pergi ke kamar mandi sekarang.”

“Kapan kau selesai makannya ?? Kau akan mencuci mangkuknya ??”

“Itu bukan salahku.”

“Itu salahmu karena kau melamun.” Tiffany tertawa matanya menatap langit-langit. “Kau terlalu asyik melamun, aku kira kau Zombie.”

“Aku tidak—Ah, ini geli.. apa yang kau lakukan ??”

Tiffany segera menarik tangannya dari rambut Taeyeon tanpa sadar tangannya memainkan rambut Taeyeon, “Mianhae…. Aku akan mencuci piringku lebih dulu, kau lanjutkan saja dulu makanmu.”

“O—Okay..” Taeyeon kembali menyendok serealnya sambil menontom TV.

***

“Cuacanya benar-beanr bagus..” Tiffany berputar-putar di depan Taeyeon, rok kuningnya bergelombang tertiup angin lembut. Tiffany kembali berlari kearah Taeyeon lalu menyelipkan tangannya di lengan Taeyeon. Wajah mereka berdua sama-sama terlihat gembira. “Tidakkah kau berpikir begitu ??”

Taeyeon mengangguk-angguk, mereka telah shopping selama berjam-jam. Meskupun saat ini adalah hari yang indah, dia lebih senang menghabiskannya bersama-sama Tiffany.

“TaeTae..” Dia menarik Taeyeon didepan sebuah toko perhiasan dimana berbagai macam perhiasan yang berkilauan dipajang. Matanya menatap sebuah kalung mahal dengan desain yang sederhana. “Tidakkah itu cantik ??” Taeyeon menarik nafas. “Ya.. itu cantik.” Mata Taeyeon menatap leher mulus Tiffany. “Itu akan terlihat bagus jika kau memakainya.”

“Hah ??” Tiffany menatap Taeyeon kebingungan lalu kembali melihat kalung tadi. “Itu sempurna.”

“Ayo kita membeli makanan… ada suatu tempat yang ingi kutunjukkan padamu, tidak terlalu jauh dari sini.” Tiffany menggeret tangan Taeyeon keluar.

**

“Bagus bukan ??” Tiffany mengambil menu makanan.

“Hmmm…” Taeyeon mengangguk sambil memilih makanan yang ingin dia makan.

“Kau kenapa Taeyeon, dari tadi diam saja ??”

“Tidak apa-apa.. hanya sedang.. berpikir sesuatu.” Matanya memandangi seluruh sudut ruangan. “Semuaya terlihat enak, mana yang kau piih ??”

“Aku belum menentukanya, kau ??”

“Aku juga belum menentukannya. Apakah kau keberatan jika kau memesankan satu utnukku ?? Aku ingin pergi kekamar mandi sebentar.”

“Oh.. Aku akan menunggumu.”

“Tidak… kau duluan saja.” Taeyeon tersenyum lalu berdiri dari kursinya. “Aku senang dengan apapun yang kau pesankan untukku.”

Taeyeon berlari ke arah sudut ruangan, menunggu pelayan menghampiri Tiffany. Dia berlari keluar restoran setelah melihat Tiffany berbicara dengan pelayan itu.

*

Tiffany duduk dengan sabar menunggu Taeyeon kembali. Dia tidak yakin sudah berapa lama dia menunggunya. Wajahnya tampak khawatir saat dia memutuskan untuk menunggu Taeyeon atau pergi mencarinya. Setelah melewati perdebatan panjang, dia akhirnya memutuskan jika Taeyeon belum datang saat makanannya sudah siap, dia akan pergi mencarinya.

“Tiffanty….”

“Taeyeon-ah… apa yang terjadi ??” Tiffany berdiri lalu berjalan kearah Taeyeon. “Kau baik-baik saja kan ??”

“Yeah…” Taeyeon merapikan rambutnya yang berantakan.

“Kemana saja kau ?? Kau kedinginan…” Mereka duduk di tempat masing-masing. Mata Tiffany menelusuri gadis acak-acakan didepannya.

“Aku—Aku.. keluar… mengangkat telepon.”

“Jinjja ??”

Taeyeon mengangguk-angguk mencoba menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Matanya melihat segelas air didepannya. “Untukku ??”

Tiffany mengangguk, “Aku tidak tahu apa yang kau inginkan.” Katanya menahan tawanya saat melihat Taeyeon dengan cepat menyambar gelas itu dan meneguknya seperti seseorang yang baru selesai lari maraton. “Jadi aku memesankanmu air putih, aku harap kau baik-baik saja.”

**

“Aku tidak percaya, ini masih siang.”

“Yeah… hari ini berjalan lambat.” Taeyeon melihat Tiffany memotong-motong makanannya menjadi bagian yang lebih kecil.

“Aku pikir, seharusnya sekarang aku pergi berbelanja dengan Jessica hari ini.”

“Oh… ingin kembali ??”

Tiffany menggeleng lalu mengunyah makanannya. “Mungkin dia sudah pergi sekarang.” Senyumnya melebar. “Di samping itu, aku menikmati kesendirianku sekarang.”

“Aku juga.” Taeyeon menggiggit Alfredo di depannya. “Ini benar-benar lezat Fanny-ah…”

“Gomawo.” Matanya menatap meja sebelum melihat kearah Taeyeon. “Aku tidak yakin apakah kau— Oh.. kau menjatukannya disini.” Dia meraih serbetnya lalu bersandar kearah Taeyeon. Dia dengan lembut menyeka saus yang ada di sudut bibirnya. Taeyeon membeku dan hatinya melompat-lompat saat bahan lembut itu bergerak melewati bibirnya. Untuk kedua kalinya, Tiffany menyeka bibirnya hari itu.

*Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau malu saat ini*

Tiffany menatap gadis yang sedang kikuk didepannya. “Apa yang salah ??” Tiffany kembali duduk dikursinya.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, mencoba menangkis suasana canggung disekitar mereka.

**

“Oh… Perutku terasa penuh.” Kepala Taeyeon bersandar pada meja sedangkan tangannya memegangi perutnya.

“Jinjja ?? Aku masih lapar.” Tiffany memain-mainkan garpunya pada piring kosong didepannya.

“Kau selesai begitu cepat.”

“Aku mencoba untuk memotong-motongnya supaya tampak lebih banyak.” Dia menyeruput teh nya. “Tidak membantu…”

“Ini..” Taeyeon memutar-mutar garpu pada mie nya, mencakup porsi yang pas lalu mengangkatnya. “Makanlah punyaku.” Taeyeon membungkuk kedepan, tangan kirinya berada dibawah tangan kanan nya agar tidak berantakan.

Tiffany tersenyum perlahan, membuka mulutnya lalu menelan makannannya. “Mmmhh…” Desahnya sambil menutup matanya. “Ini lezat..” Dia menjilat bibirnya sebelum membuka matanya dan mulutnya lagi. “AAhhhh…..”

Taeyeon terkikik, lalu mengumpulkan sisa mie dipiringnya lalu memutar garpunya dan menyodorkannya dimulut Tiffany lagi.

*Aku menyuapi Tiffany*

Nafasnya tercekat di tenggorokannya, tangannya mulai gemetar. Dia menghentikan tangannya tepat di hadapan Tiffany, pikirannya melayang sedangkan matanya menatap bibir lembut Tiffany.

“Tae Tae…” Tiffany cemas lalu membuka matanya. “Taeyeon-ah ??”

“Hah ??” Taeyeon terkejut, tangannya masih gemetar.

“Bisakah aku memakannya ??” Kata Tiffany, dagunya menunjuk mie yang di sodorkan oleh Taeyeon di depan mukanya.

“O—Oh..Uh..”

Melihat Taeyeon sedikit ragu, Tiffany memegang tangan Taeyeon membantu mengarahkannya kedalam mulutnya. Gerakannya sama seperti sebelumnya, dia mengunyahnya perlahan lalu menjilat bibirnya, tapi kali ini tidakkanya tampaknya hampir membunuh Taeyeon.

Suara dentingan keras yang berasal dari garpu yang terjatuh di meja karena pegangannya yang gemetar menyebabkan Taeyeon kembali dari pikirannya yang entah melayang kemana.

“Tae ??” Tiffany memiringkan kepalanya kesamping, alisnya berkerut saat melihat gadis didepannya.

“Uh—Ayo…” Taeyeon berdiri, wajahnya tersipu. “Kita harus pergi.”

***

“Aku tidak tahu mengapa dia membaca hal semacam ini.”

“Mungkin ini menarik untuknya. Aku heran mereka belum kembali sampai saat ini.”

Tiffany meletakkan buku besar itu disudut meja di dekat sofa. Dia menarik majalah dan duduk di samping Taeyeon. Apapapun suasana canggung yang terjadi di restoran tadi telah hilang begitu mereka sampai di dorm. Mereka kira, begitu sampai dorm, mereka akan bertemu setidaknya satu dari semua member, tapi ternyata dorm itu masih kosong. Karena tidak ingin menggangu ketenangan berharga mereka berdua sepakat untuk melakukan hal yang tidak melibatkan banyak suara yaitu, membaca.

“Semua buku disini tidak menarik… Aku tidak tahu, bagaimana bisa Seohyun hidup dengan semua ini.” Tiffany menguap. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Taeyeon sedangkan tangan mereka bergandengan dan jari-jari mereka saling berkaitan. “Jessica selalu menyembunyikan yang bagus di kamarnya.”

“Ingin mengambilnya ??”

“Aku tidak mau dimarahi lagi olehnya.”

“Oh yeah…. Kau merusakkan salah satu bukunya kan ??”

“Itu hanya satu tempat es krim—satu tempat..” Dia memukul mukul lengannya diatas kepalanya lalu kembali ke genggaman Taeyeon. “Padahalkan aku sudah menggantinya.”

“Mmmhh…” Taeyeon membolak-balik halaman majalah yang dia baca.

“Kapan hidupku membaik ??”

Taeyeon tertawa pada gadis frustasi disampingnya. “Lalu, apa yang ingin kau baca ??”

“Aku ingin membaca apa yang kau baca.”

“Oke..” Taeyeon meletakkan majalah itu di pangkuannya. Mereka membacanya bersama-sama, lebih tepatnya melihat gambarnya, mereka hanya membaca kata-katanya sekilas lalu melewatinya.

“Ini bagus…”

“Mmmhh…”

“Aku suka rambutnya..”

“…Yeah…”

“Gaun ini cantik..”

“………”

“Kau tidak berpikir begitu ??”

“……..”

“Fanny ??”

“……….”

Taeyeon melirik kearah gadis yang kepalanya bersandar di bahunya. Seulas senyum tergambar dibibirnya saat ia mengamati gadis yang sedang tertidur. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada irama nafas disampingnya. Dia meletakkan majalahnya dengan hati-hati agar tidak terjatuh dan membangunkan gadis yang sedang bersandar dibahunya. Dia memindah posisinya agar lebih nyaman, dia meletakkan kepala Tiffany didadanya sedangkan tangannya mendekap bahu gadis itu.

[Flashback end]

 

Chapter 14

“Dimana Taeyeon ??”

“Dia masih tidur.” Jawab Hyoyeon yang sedang duduk di meja. “Dia tidak terlihat begitu baik.”

“Tidak juga dengan yang satu ini.” Sooyoung mengarahkan dagunya kearah Tiffany yang sedang menunduk menatap serealnya.

“Apakah kalian sedang bertengkar ??” Sunny menarik kursinya.

Tiffany menaikkan kepalanya perlahan. “Bertengkar ??”

“Ya… Apakah kalian memperdebatkan sesuatu.”

Tiffany menggelengkan kepalanya lalu kembali pada posisi semula.

“Movie Night malam ini ??”

Sooyoung menggeleng, tidak melepaskan pandangannya pada gadis disampingnya.

“Anio.. Seohyun sedang menyelesaikan skripsinya, jadi kita melihatnya besok. Jangan coba-coba untuk melewatkannya !! Aku punya film keren untuk kita tonton besok.”

“Pembunuhan dan misteri ??”

“Tidak…  ini tidak terlalu menyeramkan seperti kemarin, ini hanya… menegangkan.”

“Bicarakan hal ini saat aku sedang tidak makan.” Keluh Yuri.

“Apakah kalian berdua sudah selesai ?? Kami tidak igin melewatkan janji kita.”

Hyoyeon mengangguk lalu berdiri dari kursinya. “Aku…” Sooyoung berjalan mengikuti Hyoyeon. Yuri berbalik menatap dua orang yang masih duduk di kursi mereka. “Kalian yakin tidak ingin ikut kita ke salon ??”

Sunny menggelengkan kepalanya membenamkan wajahnya pada Nitendo DS nya. “Asap”

“Fanny ??”

“…..” Dia berkedip dengan cepat. Memfokuskan pandanganya pada gadis yang sedang berdiri di depan meja. “Huh ?? Oh—ya… Aku sudah selesai..” dia mendorong mangkuknya kearah Yuri menunggu Yuri untuk mengambil mangkuknya.

“Mwo ??” Sunny meletakkan Nitendo DSnya. “Apa kau baik-baik saja ??” Dia meletakkan telapak tangannya pada dahi Tiffany.

“Yeah.. aku baik-baik saja.” Tiffany berdiri lalu berjalan menuju kamarnya.

Yuri dan Sunny saling menatap kebingungan lalu mengambil manguk yang sama sekali tidak tersentuh sedikitpun lalu membuang isinnya.

“Mungkin kau harus menyeretnya kesini.”

“Hmm…” Yuri mengangguk, memijat dagunya.

“Menyeret siapa kemari ??” Jessica meletakkan kuncinya di datas meja.

“Tiffany.” Jawab Sunny. “Dia terlihat sedikit tidak baik hari ini.”

“Kata Hyoyeon, Taeyeon juga sama seperti itu. Dia belum bangun sampai sekarang.”

HP Yuri tiba-tiba berdering, “Yeah… aku kesana sekarang.” Dia berbalik menuju pintu, “Tidak, sepertinya mereka tidak terlihat ingin bergabung dengan kita.”

***

“Tae ??” Jessica perlahan membuka pintu kamar Taeyeon. “Taeyeon-ah??” Serunya lagi, dia berjaan menuju Taeyeon yang menutupi seluruh tubuhnya di bawah selimut. “Kau tidak mungkin sedang tidur, ini masih siang.”

“Tidak ada hubungannya dengan itu, aku masih lelah.”

“Jinjja ??” Taeyeon mengangguk dibalik selimutnya. “Biarkan aku melihatmu.”

Jessica menarik selimut itu dan menemukan Taeyeon masih dalam pakaian yang sama seperti pagi tadi.

“Taeyeon-ah… Kau menangis ??”

Taeyeon mengangkat bahunya, memutar kepalanya kearah jendela. “Anio.. Aku pikir juga begitu, tapi… mereka tidak jatuh.”

“Apa kau tidur ??”

Taeyeon menggeleng.

“Dia mengatakannya padamu ??” Jessica duduk di tepi kasur, memegang kedua tangan Taeyeon.

Taeyeon tersenyum sebelum berkedip lalu mengangguk kecil. “Ini tidak seburuk yang kupikirkan Sicca…” Matanya kembali menatap jendela. “Aku tidak berpikir ini menyakitiku saat ini, aku tidak berpikir hatiku akan menyadari hal ini.”

Jessica menghela nafas, melipat tangannya di pangkuannya. “Kau masih bisa memberitahunya, kau masih bisa memberitahunya bagaimana perasaanmu kepadanya.”

“Apa gunanya ??” Suaranya semakin lemah. “Dia sudah pergi…”

“Tapi bagaimana kalau tidak ??  Bagaimana kalau kata-katamu membuatnya kembali ??”

Taeyeon menyingrai. “Itu akan semakin membuatnya menjauh. Lalu aku tidak akan pernah bisa memilikinya bahkan sebagai seorang sahabat.”

“Dia akan selalu menjadi sahabatmu, percayalah…”

“Bagaimana kau tahu ?? Apakah kau juga pernah merasakannya ??”

Jessica menyingrai, menatap langit-lagit. “Yeah…”

Taeyeon menoleh menatap gadis disebelahnya.

“Seseorang pernah menyatakan padaku perasaannya. Tapi aku masih terlalu muda untuk memahaminya, jadi aku menjauhkannya dari pikiranku. Tapi saat ini, saat aku sudah dewasa, aku melihat mereka tumbuh. Aku sadar bahwa aku melakukan suatu kesalahan.”

“Kau pernah mengatakan padanya ??”

“Ya…” Jessica mengangguk ragu-ragu. “Dia tidak akan menerimaku…. Kurasa terlalu banyak waktu yang berlalu.” Jessica tertawa kecut lalu melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Aku tidak pernah mengatakan hal ini pada siapapun.”

“Jessica….”

“Tidak papa, ini bukan tentangku. Aku telah membuat kesalahan dan aku hidup bersama rasa bersalahku selama ini. Aku mungkin tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi, tapi kau masih punya kesempatan. Hanya karna sekarang Tiffany bersamanya bukan berarti kau dia tidak akan mendengarkanmu. Dan bahkan jika dia tidak menyadarinya sekarang, tapi jika dia merasakan sama dengan apa yang kau rasakan padanya, maka pada akhirya dia akan berpaling padamu.” Jessica menyingrai, menggelengkan kepalanya. “Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mempengaruhimu, akan tetapi ini sangat menyakitkan melihatmu seperti ini.”

Jessica bangkit berdiri. “Terutama jika kau masih tidak mau bercerita padaku.” Dia berjalan menuju pintu.

“Jessica…??”

“Hmm….”

“Gadis yang kau…..”

“Ya…”

“Apakah aku mengenalnya ??”

Jessica tersenyum, “Kau melihatnya hampir setiap hari.”

***

Setelah berbicara dengan gadis yang lebih muda dan bijaksana. Taeyeon mendapati dirinya sedang berada diruang tamu dengan komputer barunya di pangkuannya. Dia sedang mengetik mati-matian dan tidak menghiraukan sama sekali TV yang sedang menyala didepannya.

Jika aku tidak bisa memilikinya di dunia nyata

“Setidaknya aku bisa memilikinya disini.”

“Pagi….” Gadis dengan celana jeans biru tersenyum, pandangannya kearah lantai.

“Kurasa ini sudah siang.” Gumam Taeyeon, tangannya terus mengetik.

“Oh…”

“Apa yang kau lakukan dikamar mereka ??” Taeyeon merendahkan suaranya, pandangannya tetap kearah laptopnya.

“Hm ?? Aku—Aku sedang mencari sesuatu. Hey… Ingin pergi keluar hari ini ??”

“….Aku tidak bisa…”

“Tapi…” Dia mendekatkan diri kearah Taeyeon. “Kita belum sempat jalan-jalan akhir akhir ini.”

“Itu karena kau terlalu sibuk dengannya.” Jawab Taeyeon sinis.

“Huuh ??”

Taeyeon mendesah, matanya menelusuri lantai. “Lupakan…. Tiffany, aku sedang sibuk sekarang….”

“Dengan apa ?? Bermain dengan laptopmu ?? Aku tidak membelikanmu sehingga kau dapat mengacuhkanku..” Wajahnya menatap gadis yang sedang marah. “Kau ingin mengambilnya kembali ??”

Wajah Tiffany mendadak lembut, suaranya melemah. “Mwo—?? Anio !! Maksudku—.” Tiffany mendesah, “Baik.. lanjutkan … aku tidak perduli..” Tiffany berbalik berjalan menjauh.

***

“Oh.. bagus.. kau punya yang baru.” Sunny tiba-tiba muncul lalu duduk di samping Taeyeon. “Apakah kau sedang membaca fanfics ??”

“Uh…. Yeah…”

“Jinjja ?? Ada yang bagus ??” Sunny membungkuk di pangkuan Taeyeon mencoba melihat layar laptopnya.

Taeyeon dengan cepat menutup jendela internetnya. “Anio… semuanya sangat jelek.”

“Oh.. yeah…” Sunny menjentikkan kedua jarinya. “Sini.. akan kutunjukkan satu yang akhir-akhir ini sering kubaca.”

Sunny meletakkan laptop itu di pangkuannya, lalu membuka salah satu halaman yang sangat dia kenal, halaman yang Taeyeon sangat mengenalnya.

“Ini disebut ‘Waiting’ aku dan Tiffany membacanya bersama-sama. Ini juga belum selesai, Tiffany—.”

“—Membencinya, aku tahu.. dia mengatakannya pdadaku.”

Sunny menatap Taeyeon kebingungan, lalu mengerutkan alisnya. “Mwo ?? Sejak kapan ??”

“Huh ??”

**

“Jadi, apa yang kau lakukan hari ini ??”

“……”

“Tiffany ??”

“Hmm ??”

“Apakah ada sesuatu yang salah ??”

“Anio…”  Tiffany berulang kali mencelupkan gorengannya pada saus. “Mengapa kau bertanya seperti itu ??”

Taecyeon duduk dengan kedua tangannya dilipat didepan dadanya. Dia menyingrai. “Hidungmu merah dan kau tidak menatapku. Setidaknya aku tidak melihatmu melepaskannya.” Dia berdiri dari kursinya lalu membungkuk dihadapan Tiffany untuk melepas kacamata hitamnya.

“Oppa Stop !! Aku membutuhkannya..” Teriak Tiffany.

“Kau ingin melakukannya denganku lain kali.” Wajah Taecyeon termenung mempelajari pacarnya.

“Mwo ?? Wae ??”

“Kau terlihat seperti sedang banyak pikiran.”

Tiffany menggeleng. “Aku baik-baik saja Tae—Taecyeon..”

“Okay…”

***

“Tiffany menyukain fanfic ini. Dia telah membacanya selama berbulan-bulan saat ini.”

“Mwo ??” Taeyeon menoleh, hatinya bergetar.

“Ya..” Sunny mengambil remote di meja. “Dia yang menujukkanya padaku.”

“Mwo ??”

Sunny menatap gadis disampingnya. “Apa yang salah Taeyeon ?? Kau terlihat konyol.”

“Tapi—Tapi—Tapi…”

“Astaga… apa kau sakit ??” Dia menyerahkan kembali laptop Taeyeon kepangkuannya.

“Dia bilang, dia membencinya… dia bilang kau yang menunjukkannya dan dia bilang dia membencinya.”

“Mwo ??” Sunny mengambil Nitendo DS nya. “Kau gila ?? Untuk apa aku membaca hal-hal yang berbau TaeNy ?? Kumohon kau jangan tersinggung, tapi aku hanya tidak ingin membaca dua teman dekatku seperti itu.” Sunny mengerutkan wajahnya. “Syukurlah, yang satu ini tidak seperti itu, ini hanya berbau romantis. Sedikit lembek untukku, tapi kurasa itu sebabnya dia sangat menyukainya.”

“Tapi dia bilang—Dia bilang…”

“—Kalau dia membencinya ??” Sunny mengalihkan perhatiannya pada TV dan meraih remote. “Apa yang sebenarnya dia katakan ??”

Apakah mereka….

“Wow…. Akir-akhir ini semakin banyak, Sooyoung tidak berbohong.” Suara Sunny memudar saat pikiran Taeyeon melayang entah kemana.

***

“Aku akan mengantarkanmu pulang.”

“Mwo ?? Wae ?? Membutuhkan waktu berjam-jam untuk kita sampai disini.” Tiffany memukul-mukul tangan Taecyeon.

“Its Okay… aku hanya putar balik.” Taecyeon menyingrai.

“Aku baik-baik saja Taeyeon… Aku janji…”

Taecyeon menghela nafas sambil menggeleng, “Mengapa kau selalu membohongi dirimu sendiri.”

***

Taeyeon tidak dapat mejawab apapun. Kenyataanya, setelah menerima kata-kata dari Sunny, otaknya langusng tidak dapat berfikir lagi dan meninggalkannya tanpa pilihan kecuali tidur. Itu tidak sesulit yang dia pikirkan, tidak lama setelah berbaring di sofa dia segera tenggelam di dunia mimpi.

***

Tiffany berjalan ke dorm yang gelap setelah matahari terbenam. Peristiwa hari ini meninggalkan udara pahit disekitarnya. Dia merasa seperti tidak ada seorangpun yang ingin berada di dekatnya, dan mulai membebani hatinya. Saat dia melihat sesosok tubuh yang tergeletak di sofa, membuat beban dihatinya menghilang.

Tanpa melepas mantelnya, dia berjalan menuju sofa. Seulas senyum mengembang dipipinya saat dia mempelajari gadis didepannya. Lagi-lagi Taeyeon tertidur dengan laptop diatasnya.

Tiffany perlahan-lahan meletakkan laptop itu di meja dekat sofa, menutupnya pelan-pelan agar tidak membangunkan sosok manis yang sedang tertidur dengan damainya. Dia menyelinap kedalam kamarnya, lalu muncul dengan bantal pink kesukaannya. Dia menepuk-nepuk bantalnya berulang kali agar terasa lebih lembut dan empuk, lalu dia berlutut didepan Taeyon dan dengan hati-hati mengangkat kepalanya. Dia menyelipkan bantal itu di bawah kepala Taeyeon lalu menyelimti sebagian tubuhnya.

Tiffany menyalakan lampu kecil disudut ruangan, sehingga Taeyeon tidak akan kebingungan jika dia tiba-tiba terbangun ditengah malam. Setelah puas dengan apa yang telah selesai ia kerjakan, Tiffany kembali ke sisi Taeyeon, memeriksanya sekali lagi.

Tiffany membungkuk dihadapan Taeyeon, membuka selimut yang menutupi wajahnya lalu dengan lembut menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Taeyeon.

Tiffany sangat terkejut saat dia mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Jessica yang tiba-tiba berada tepat dibelakangnya.

“Apa yang sedang kau lakukan ??”

“Dia tidak suka jika selimut menutupi wajahnya.” Tiffany tertawa kecil lalu berdiri.

“Dia mengatakan kalau rasanya seperti dia sedang terkurung disuatu tempat yang gelap.”

“Tiffany….. Mengapa kau melakukan hal ini ?? Kau akan berakhir dengan menyakiti hati seseorang.”

Tiffany memiringkan kepalanya kesamping. “Apa maksudmu Jess… ??”

“—Ayolah Tiffany… Aku terlalu lelah untuk bermain dengan semua permainan bodoh ini. Taeyeon… Taecyeon… Aku tidak tahu mengapa kau memperlakukan mereka berdua dengan cara seperti ini… Kau akan menghancurkan hati seseorang pada akhirnya.”

“Jika Taeyeon, dia hanya sahabatku… kenapa dia bisa patah hati ??”

Jessica tidak menunjukan ekspresi apapun, tapi dia tahu bahwa dia telah keceplosan.

Tiffany mendekati Jessica. “Mengapa dia bisa patah hati Sicca ??” Wajahnya tetap termenung dan bingung.

“…………..”

Hening…

Jessica memandangi gadis didepannya. Mata cerah Tiffany kini tampak memohon padanya untuk mengatakan sesuatu, tapi Jessica tidak akan membocorkan informasi apapun.

“Katakanlah sesuatu….” Suara lembut Tiffany menggema diseluruh ruangan. “Kumohon…” Tiffany mengepalkan kedua telapak tangannya dengan gemetar. “Katakanlah sesuatu…” Matanya kini menatap lantai, nafasnya tertahan di tenggorokannya. “Apapun…”

“Wae ??” Jawab Jessica, suaranya sangat lembut. “Apa yang akan kau lakukan ??” Tiffany mendongak, matanya menatap Jessica. “Aku—Aku… Tidak…..”

“Kau tidak tahu ??” Lanjut Jessica sambil mendesah. “Jika kau tidak tahu apa yang kau inginkan, maka jangan bertanya… Karena jika kau tidak yakin seseorang akan terluka.”

Tiffany melirik gadis yang sedang tertidur pulas di sofa.

Wajahnya berubah suram, matanya menjadi gelap lalu berjalan mundur kebelakang. “Aku tahu apa yang aku lakukan Jessica.. jangan khawatir tentang itu.” Lalu dia meniggalkan ruangan.

Beberapa saat kemudian, Jessica meninggalkan ruangan itu, wajahnya berubah sedih melihat gadis yang ada dibelakangnya, Taeyeon yang sedang terisak dengan mata tertutup dan air mata yang merembes melalui pipinya.

-TBC-


Iklan

45 thoughts on “LOVE IS HARD Part 5”

  1. Pembukaannya TaeNy momentnya so sweet..
    Tapi..
    pas baca kebawahnya NYESEK wehhh T^T
    jdi tae itu aslinya gak tidur, cma merem doang..
    pas ada jessi msuk, dan jeti beragumen, panny ngomong bgtu..
    jadilah taeyeon yg nangis bombay..
    panny lu tega banget dah sma taeyeon.. 😦
    cba lu pikir gmna klo lu ada d posisi taeyeon..
    taeny dramanya panjang bener 😦

  2. Menyebalkan, fany klo pun sahabatnya tae tetep perasaan gak akan maen mlo di antatra kali’n ber2 sama sama peka satu sama laen,
    Come on guys buka waktunya siapa yg harus mengatakan lebih dulu?

  3. uuuuuhhhh nyesek bgt taeny, mau menyatakan perasaan aja harus bnyk rintangan, fannnny sadarlah ada taeyeon yg menyukaimuuuuu….

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s