FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 6

LOVE IS HARD

Author             : Roykilljoy

Indo Trans   : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard

Genre              : Romance

Main cast         : SNSD Member, Taecyeon 2PM

Warning          : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

original version :

MY JUICE BOX HEART 

Chapter 15

“Lari yang bagus…”

Jessica meletakkan kuncinya diatas meja lalu berjalan santai menuju kulkas. “Yeah… Um.. Apa salah satu dari kalian ada yang melihat Seohyun ??”

Hyoyeon mengangkat bahunya lalu berdiri dari kursinya dan pergi menghilang.

“Anio..” Jawab Sunny sambil menatap Jessica menuangkan jus jeruk kedalam gelasnya. “Dia tidak pergi bersamamu ??”

Jessica menggeleng sambil mendesah. Dia melihat sesosok gadis yang sedang meringkuk disofa, posisinya masih sama seperti disaat dia meninggalkannya subuh tadi. (Jessica waw ?? Subuh-subuh bangun jogging tiap hari ?? Sungguh sulit dipercaya.. kekekekkk).

Jessica berjalan kearah Taeyeon yang sedang tertidur dengan damainya lalu mengguncang seuruh tubuhnya. Taeyeon mengendus kesal lalu berguling kesamping masih dengan mata tertutup. “Yah !! Aku sudah bilang kau harus tidur di tempat tidurmu, kau akan sakit jika tetap disini.”

“Aku baik-baik saja.” Gerutu Taeyeon lalu membenamkan wajahnya di bawah bantal berwarna pink.

“Taeyeon…” Jessica melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Aku tidak akan mengingatkanmu lagi.”

Gadis keras kepala merasa gusar, dia bergeser dibalik selimut kecil berwarna merah muda. Begitu dia menyadari Jessica tidak akan pergi meninggalkannya, dia segera melemparkan selimut itu dari tubuhnya lalu berjalan dengan susah payah menuruni tangga.

Jessica mendesah sambil menggeleng lemah lalu megambil bantal berwarna pink lalu meraih selimut kecil yang juga berwarna pink dan melipatnya. Jessica berjalan memasuki kamar Sooyoung, Yuri dan Tiffany lalu meletakkan selimut dan bantal yang dibawanya di atas tempat tidur Tiffany.

“Gomawo…”

“Eeek—Tiffany ??” Jessica memegang dadanya lalu berputar kearah Tiffany yang sedang menatapnya sedih diambang pintu.

“Kau membuatku takut.”

“Mianhae…” Suaranya tetap datar.

Jessica menatap Tiffany, dia masih ingat perdebatan mereka kemarin malam. Ketegangan diantara mereka masih terasa.

“Apa kau sudah makan ??”

Tiffany menggelengkan kepalanya, berjalan melewati Jessica lalu merangkak ke tempat tidurnya, “Aku tidak lapar.”

“Kau harus memakan sesuatu.”

Tiffany menutup matanya, kedua tangannya memeluk batal yang ada diatas dadanya. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak baik-baik saja.” Jessica menarik lengan Tiffany. “Ayo..”

***

Tiffany duduk dimeja dapur, matanya menatap TV di ruang tamu dimana pertempuran vidiogame antara Sunny dan Sooyoung. Jessica berdiri dibelakang Tiffany, kepalanya bersandar di meja, tangan kirinya memijat lehernya sementara tangan kanannya mengetik SMS.

To : Seohyun

Unnie harus menjadi orang pertama yang meminta maaf.. Mianhaaee~~

-Jessica-

To : Jessica

Jangan begitu, aku tahu Unnie hanya menceritakan pengalaman Unnie yang sangat menyakitkan.

-Seohyun-

Rasa sakit tiba-tiba tergambar dalam wajahnya sebelum akhirnya dia tersenyum lemah.

To : Seohyun

Kau dimana ?? Mereka berdua sudah membuatku benar-benar gila.

-Jessica-

Jessica melihat Tiffany sedang menunduk menatap serealnya dengan tangan kanannya untuk menopang dagunya.

“Unnie…”

Jessica tersentak kaget melihat sosok tinggi yang tiba-tiba muncul disampingnya.

Jantungku akan copot jika setiap hari seperti ini.

“Mianhae…” Seohyun menatap Tiffany. “Ada apa dengannya ??”

Jessica mengangkat pundaknya. “Aku tidak tahu.. Dia tidak mau bercerita padaku.. Aku rasa dia marah padaku.”

“Padamu ??”

“Yeah.. karena kemarin malam. Nanti aku akan menceritakanmu.”

Seohyun mengangguk lalu berjalan menghampiri Tiffany.

“Unnie… apa kau baik-baik saja ??”

Tiffany perlahan-lahan mengangkat kepalanya sebelum tersenyum lemah. “Oh, Seohyun… aku baik-baik saja, mengapa kau bertanya seperti itu ??”

“Kau seperti sedang sakit.”

“Aku tidak sakit.” Matanya kembali menatap TV.

Jessica bergabung dengan mereka, dia duduk disebelah Tiffany. “Lalu, bagaimana perasaanmu ??”

“…Bagaimana perasaanku ??”  Dia mengangkat pundaknya lalu melipat kedua tangannya di pahanya. “…Aku merasa…. lelah… dan dingin. Seperti aku…..” Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu—jam berapa sekarang ??”

“Duabelas siang.”

Suaranya melemah. “Aku harus menemui Taecyeon satu jam lagi.”

“Kau terlalu sering pergi keluar bersamanya akhir-akhir ini.” Sooyoung melompat dari sofa lalu berlari menuju dapur dan mengambil beberapa snack. “Apakah dia— pacarmu ?”

Tiffany mengangguk lalu berdiri dari kursinya. “Ya… Aku akan pergi mandi.”

Jessica menatap sereal yang sudah dingin diatas meja, tak tersentuh sekalipun lalu dia menatap Seohyun yang juga tampak kebingungan.

“Waw… mereka benar-benar berpacaran… kau sudah tahu tentang hal ini Sicca ??”

“Yeah…” Jessica mengambil mangkuk didepannya lalu membuang isinya.

“Bagaimana denganmu ??” Sooyoung berpaling kearah Seohyun.

Seohyun mengangguk.

“Wow..” Sooyoung kembali berjalan menuju sofa. “Apakah aku menjadi orang terakhir yang mengetahuinya ??”

“Tahu apa ??” Sunny menyerahkan stick game pada Sooyoung.

***

“Jinjja ??”

“Mereka berpacaran ??”

“Yeah… dia berkata padaku seperti itu.”

“Aku tidak mempercayaimu..”

“Aku serius !! Bahkan Seohyun juga berkata seperti itu.”

“Seo ??”

“Memang benar..”

“Waw..”

“Aku juga mengatakan hal itu tadi.”

Taeyeon duduk di tempat favoritnya di sofa berusaha keras untuk meredam pembicaraan yang sedang booming di sekitarnya. Sebelumya, Jessica telah membujuknya keluar kamar dengan alasan untuk bersenag-senang dengan yang lain karena tidak ada yang dia lakukan hari ini. Saat ini, semuanya terlihat sedang sibuk membicarakan Tiffany dengan pacar barunya.

“Dia seharusnya sudah berada disini sekarang.”

“Aku sudah mengiriminya SMS.” Yoona memasukkan kembali HPnya kedalam sakunya.

“Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan berdua.” Sooyoung menatap langit-langit. Tiba-tiba ada yang menjendulnya dari belakang.

“Apa maksudmu ??” Yoona menatap sekilas Seohyun yang sedang membolak-balik bukunya.

“Kau tahu, seperti dimana mereka berdua makan bersama, hang out bersama, dan semacamnya.”

“Oh…” Yoona mengangguk. “Begitu….”

Taeyeon tahu, mereka tidak bermaksud menyakitinya dengan pembicaraan itu tapi pecakapan gila itu sudah benar-benar menyakiti hatinya. Bahkan sekarang dia sedang duduk di sofa dengan mata tertutup dan mengepalkan kedua tangannya dengan rapat. Dia meyadari bahwa ini adalah saat terburuk sejak hari dimana Tiffany memberitahukan padanya tentang hubungannya dengan Taecyeon.

Taeyeon sendiri sangat terkejut betapa kuat dia akhir-akhir ini. Dia hanya mengeluarkan beberapa tetes air mata, lebih sedikit daripada saat dia merenungkan situasinya.

“Itu dia !!” Teriak Sooyoung sambil meraih semangkuk popcorn.

Tapi, begitu Tiffany memasuki dorm, Taeyeon tahu semua itu akan berubah.

“Hey !! Maaf, aku terlambat, kalian belum memulainya kan ??” Tiffany meletakkan kuncinya diatas meja lalu menggantungkan mantelnya di lemari.

“Belum.” Yuri mengunyah popcornnya. “Kami menunggumu.”

“Gomawo.. aku akan ganti baju terlebih dahulu.” Dia tersenyum sekilas lalu berlari menuruni tangga.

“Dia terlihat jauh lebih baik daripada pagi tadi.”

“Taecyeon pasti pacar yang baik.”

“Pacar yang baik ??” Gumam Taeyeon, tubuhnya gemetar.

“Apakah kau barusaja mengatakan sesuatu Unnie ??” Yoona berbalik menatap gadis kecil dibelakangnya.

Taeyeon tiddak menjawab, dia takut suaranya akan terlalu keras atau terlalu lemah. Dia menatap Yoona yang sedang duduk dilantai sambil menggeleng kearahnya.

Jessica yang sedang berada disamping Taeyeon menyadari sesuatu. “Um.. maaf soal ini.” Dia berbisik. “Mau kuambilkan minum ??”

Taeyeon mengangguk sedikit.

“Oke, aku akan mengambilkanmu jus jeruk.”

“Sicca…” Panggil Sooyoung. “Bisakah kau membuatkan popcorn lagi ?? hehehe..”

“Mwo ?? Anio.. Kau akan kekenyangan saat makanan kita sampai nanti.”

“Pfff..” Desah Yuri. “Selalu seperti itu.”

Tiffany kembali menuju ruang tamu dengan celana pendek berwarna pink, meskipun begitu, itu sama sekali tidak menarik perhatian Taeyeon. Dia menghilang, tenggelam disebuah tempat yang jauh dalam pikirannya. Saat Tiffany berjalan semakin mendekat, hatinya semakin sakit. Ini semua, Taecyeon dan Tiffany benar-benar berpacaran sekarang dan semua orang sudah mengetahuinya. Tidak ada gunanya lagi bermimpi, tidak ada gunanya lagi menulis cerita dengan akhir yang bahagia seperti di negeri dongeng. Semuanya tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Tidak akan ada lagi cerita tentang kita..

Aku tidak akan pernah bisa memilikinya…

“Hay Tae…” Tiffany tersenyum lembut kepada gadis yang sedang duduk didepannya, tetapi Taeyeon benar-benar tidak memiliki keberanian untuk menatapnya. Dia tergantung di sehelai benang, terkatung dan hatinya benar-benar hancur.

Taeyeon menundukkan kepalanya lalu menutup matanya sekali lagi. Dia merasa matanya mulai terbakar dan air matanya akan segera keluar. Itu hanya beberapa saat sebelum air matanya benar-benar terjatuh.

Tidak Tae…. Tidak didepan semua orang… Tidak didepannya…

“Mwo ?? Jadi sekarang kau mulai mengabaikanku ??”

Dia tidak berusaha menjawabnya, nafasnya mulai tercekat di tenggorokannya sementara tangannya mulai gemetar dan hanya semakin memperburuk keadaan. Beberapa saat lagi dia akan…..

“Boleh aku duduk disini ??” Tiffany menunjuk tempat kosong di sisi kiri Taeyeon.

“Um—..” Seohyun berbalik mencari Jessica. “Unnie.. Sicca Unnie duduk disitu.”

Jessica menyerahkan beberapa lembar uang pada pengentaar makanan yang mereka pesan lalu berbalik. “Eh… Ya Fanny-ah…”

Tiffany sama sekali tidak memperdulikan mereka berdua. Dia berjalan semakin mendekati Taeyeon.

“Taeyeon-ah, bolehkan ??”

“Masih banyak sofa kosong yang dapat kau duduki Fanny-ah…” Sooyoung berlari kearah Jessica, membantunya membawa makanan.

“Hanya duduk ditempat la—.”

“Aku tidak mau duduk ditempat lain, aku ingin duduk bersama Taeyeon !!” Tiffany berteriak sambil berputar untuk menghadap semua member.

Tiffany berpaling kearah gadis yang sekarang sedang berdiri didepannya, kepalamya masih menunduk.

“Taeyeon-ah ??” Alisnya berkerut. Dia menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar tidak akan mengatakan apapun, ya kan ??”

“………….”

Tiffany menghela nafas, saat dia akan mengatakan sesuatu lagi….

“Aku—…..!!” Suara terisak samar-samar menggema ditelinganya. Saat itulah dia menyadarinya..

“Tae Tae ??” Tiffany memiringkan kepalanya mencoba untuk melihat Taeyeon dengan lebih jelas.

Suaranya sangat lembut lalu menggunakan tangannya untuk mengangkat dagu Taeyeon. “Apakah kau men—.”

“—Anio !!!” Taeyeon berteriak, mundur kebelakang lalu menutupi wajahnya denga telapak tangannya dan berlari menuju kamarnya, membanting pintu dibelakangnya.

“…………” Heming

“Dapatkah kau membantuku menyiapkannya ??” Hyoyeon menunjuk wadah piring didepan Sunny.

“………..”

“Kumohon…”

Sunny mengatur hidangannya diatas meja. “Sungguh sulit dipercaya !! Disaat-saat seperti ini yang kau perdulikan hanyalah makanan ??”

“Yeah…” Sooyoung meatap Hyoyeon dengan bingung. “Tidakkah kau lihat apa yang baru saja terjadi ??”

“Tentusaja aku mengetahuinya.” Hyoyeon mengulurkan tangannya untuk mengambil piring itu.

Sunny berdekik, kedua tangannya diletakkan pada pinggangnya. “Lalu ??”

Hyoyeon meletakkan makanan itu dipiringnya, tanpa melihat mereka berdua yang sedang menunggu jawabannya. “Itu bukan urusanku.”

“Bagaimana kau bisa berkata seperti itu ??” Sunny jengkel, melemparkan tangannya kedara.

Sooyoung menggelengkan kepalanya sama-sama merasa jengkel. “Kau benar-benar…”

“—Kalian berdua, tinggalkan dia sendiri…” Jessica menundukkan kepalanya saat melirik kearah Hyoyeon yang sedang menuangkan makanan dipiringnya. “Aku akan memeriksanya…”

Chapter 16

 

#mungkin lagu ini cocok yaa… Author selipin dikit-dikit yaa… biar mello dramatic.. hahaahah *evil laugh*

—–Backsound Song : SNSD Taeyeon ‘Can You Hear Me’. Bethoven Virus OST.——-

Even small pains make me cry
My heart cries out
When i pass by you

Taeyeon membungkuk dimejanya, isak tangisnya memecah keheningan di kamarnya. Dia berulang kali mengusap-usap matanya, berusaha menjernihkan penglihatannya. Dia meraih sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam, berisi sebuah kalung perak yang berkilauan dibawah cahaya yang redup.

“Aku sangat bodoh !!” Dia menggenggam lemah kotak itu sambil duduk ditempat tidurnya.

“Sangat bodoh !!”

You are the whole world
i dream for only you
i hold my breath in front of you

Dia kembali teringat saat itu, saat dia berjuang keras demi mendapatkan barang mahal tersebut. Dia ingat betapa bahagianya saat dia berlari kembali ke toko perhiasan ketika Tiffany dengan sabar menunggunya di restoran. Kebahagiaan yang penuh ia rasakan saat dia meminta kepada pramuniaga untuk mengukirkan nama mereka berdua pada liontin itu. Waktu itu, semuanya telah berlalu….

just like you and i aren’t meant to be
just like it’s merely a moment passing by

Beberapa minggu yang lalu, ketika ia kembali ke toko itu saat ukirannya sudah selesai, ia berencana akan memberikan kalung itu pada Tiffany. Rencananya, dia akan mengajak Tiffany untuk tidur dikamanya setelah menghabiskan waktu seharian dengannya. Setelah dia yakin bahwa Tiffany sudah tertidur pulas, dia akan memberikan kalung itu dan mengalungkannya diam-diam  pada leher jenjang Tiffany. Kemudian, dia menyelipkan liontinnya kedalam kerah piyama Tiffany, sehingga Tiffany tidak akan menyadarinya sampai dia melihatnya. Setelah itu Taeyeon akan berencana untuk bersembunyi di tempat terdekat dan menyatakan cintanya pada Tiffany.

just like you and i aren’t meant to be

just like it’s merely a moment passing by

“Aku begitu bodoh !!” Teriak Taeyeon denga suara yang melengking, bersimbah malu. “Bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh !!” Taeyeon melempar kotak hitam itu di dinding dekat tempat tidurnya dengan kekuatan penuh, menyebabkan kalung didalamnya terlempar entah kemana. Taeyeon tidak perduli dimana kalung itu terjatuh.

You pass by me so easily
Even if i can’t go up
and take just a step

Perutnya terasa nyeri. Dia terus terisak sampai paru-parunya terasa seperti terbakar menyebabkan dia sulit untuk bernafas. Kepalanya berdenyut-denyut seiring dengan air matanya yang terus mengalir dari kedua mata indahnya. Taeyeon terjatuh miring, matanya menatap dinding dimana dia melemparkan kotak hitam tadi. Taeyeon memeluk dirinya sendiri, mencoba mengendalikan erangannya.

You make me walk around
You make me cry
Like an idiot, like a child
Just laugh it off

 

Dia merasa sangat menyedihkan karena menangis gara-gara Tiffany. Dia tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Bahkan dengan kalung dan semua mimpinya, setelah Taecyeon memasuki kehidupan Tiffany, dia tahu kalau dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan Tiffany. Dia adalah orang yang salah untuk Tiffany dan Taecyeon lah yang tepat. Taeyeon pikir, dia bisa ikut bahagia untuk Tiffany dan melanjutkan mencintainya dari kejauhan. Akan tetapi, hari ini membuktikan bahwa semua itu mustahil untuknya.

The closer i get
More scared i get
But this love can’t be stopped

Setiap kali dia melihat Tiffany, hatinya akan terasa nyeri. Dia tidak bisa melihat Tiffany tanpa berpikir apa yang telah dia lakukan bersama pacarnya. Mungkinkah dia memeluknya, mungkinkah dia menyentuhnya, mungkinkah mereka berciuman.

Why is it just my love that is slow
Why is it just my love that is hard

Dengan pikiran yang selalu menghantuinya, dia tidak berpikir bahwa dia akan tahan dengan semua ini. Bagaimana dia bersikap didepannya ketika Break telah usai ?? Bagaimana dia bisa duduk pada saat rekaman atau latihan dengan Tiffany jika hatinya masih menginginkannya ?? Jika Taeyeon masih mencintainya ??

Even if i’m by your side
You are the whole world

Hanya ada satu cara untuk menghentikannya. Dia tidak ingin melibatkan orang lain yang tidak seharusnya terlibat dalam permasalahannya. Dia sudah tahu, saat Taecyeon masuk dalam kehidupan mereka, Taeyeon harus melepaskan Tiffany.


i look at only you
i stare into distance in front of you

Ini demi kebaikannya. Taeyeon meyakinkan dirinya sendiri. Erangannya semakin keras. Kau tidak bisa membiarkan semua orang menderita karena kau menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau miliki. Sekali lagi, Taeyeon meyakinkan dirinya sendiri.

Just like you’re the end for me
Just like you’re my last moment

“Ta—Tapi A—Aku…”

You pass by me so easily
Even if i can’t go up
and take just a step

Jangan bodoh Taeyeon, kau telah membiarkan cerita dongeng ini terlalu jauh. Kau harus realistis. Dia tidak mencintaimu, dia tidak merasakan hal yang sama denganmu, tidak akan pernah, kau tidak bisa memaksakannya. Kau tidak akan pernah membahagiakannya seperti dia (Taecyeon) membahagiakannya. Kau tidak akan pernah menjadi dia (Taecyeon). #Author kebingungan gimana mendeskripsikan secara rinci tentang ‘He/She dan Him/Her’ dalam bahasa Indonesia, semuanya sama-sama ‘Dia dan Nya’ kan ??#

You make me walk around
You make me cry
Like an idiot,like a child
Just laugh it off

“Ta—Tapi dia seharusnya menjadi milikku” Air matanya mengair semakin deras. “Mengapa kau tega melakukan hal ini kepadaku ?? Tidakkah kau tahu bagaimana perasaanku ?? Tidakkah kau tahu betapa aku mencintaimu ??” Dia mencengram dadanya, hatinya terasa sakit dan nyeri. “….Tidak….Tidakkah kau perduli padaku ??” Taeyeon terisak, mencoba menstabilkan kembali nafasnya yang tersenggal-senggal. “Ti—Tiffany…. Me—mengapa… k—kau.. ti—tidak.. perduli terhadapku ??” Suaranya semakin meninggi.

Tidak ada lagi kata-kata setelah itu, hanya dengusan dan jeritan frustasi.

The closer i get
More scared i get
But this love can’t be stopped

Meskipun Taeyeon menutup matanya, tapi tetap saja air matanya terus mengalir, tapi dia tidak memperdulikannya. Tanpa Tiffany hidupnya terasa hampa.

From far away
if i can stare at you just for a moment
That is love

Tanpa Tiffany……

Dia akan berusaha melupakannya,  mencoba untuk berubah dan kembali melanjutkan hidupnya. Untuk saat ini, dia hanya akan menangisi gsdis yang dicintainya dan berharap Tiffany akan meratapi hatinya yang sudah mati.

When this waiting and yearning
Gets you, and you can hear it
Just pretend nothing happened

“Sssh… Ini akan baik-baik saja…

sshhh…”


The closer i get to you more scared i get
But this love can’t be stopped

 

***

“Apa kau pikir mereka baik-baik saja ??” Yoona duduk ditempat tidurnya sammbil menggosok kedua lengannya.

“Aku yakin mereka akan segera menyelesaikannya.” Seohyun selesai menyisir rambutnya dan meletakkan sisirnya didepan meja rias.

“Seo ??” Yoona menatap lantai.

“Mm??” Seohyun berjalan menuju kasurnya dan menatap gadis didepannya.

“Aku tidak suka saat Unnies sedang bertengkar..”

“Aku juga….”

Yoona bangkit berdiri, “Bisakah…” dia berjalan mendekati Seohyun, “Bisakah aku….”

Seohyun tidak perlu bertanya lagi. “Tentu saja Unnie…”

Yoona tersenyum lemah, berguling dibawah selimut disamping Seohyun. Seohyun mematikan lampunya sebelum berbaring disampingnya.

“Selamat malam Seo….”

“Selamat malam Unnie…”

Seohyun menatap gadis disampingnya.

Dia harus melakukannya.

“Yoona ”

“Mm ??” Yoona berguling menatap gadis dibelakangnya, matanya setengah tertutup.

“A—Aku tidak ingin berakhir seperti mereka…”

“Hmm… Seperti siapa ??”

“Unnies…” Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika dia berada didekat Yoona.

“Apa maksudmu ??”

“…………”

“Seo ??”

Dia berhenti memikirkannya. Dia menarik nafas dalam.

“I Love you Unnie….”

Yoona tersenyum, matanya masih terpejam. “I Love you too Seo…”

**

Seohyun yang masih terjaga, berbaring sambil menatap Yoona. Dia sama sekali tidak tidur, memikirkan pernyataan cinta yang barusaja dia ungkapkan.

Dia akhirnya mengatakannya. Dia dan Yoona akhirnya merasakan perasaan yang sama. Dia tahu itu. Cara mereka berdua saat bersama. Cara Yoona memperlakukannya—dia pastinya juga jatuh cinta padanya.

Seohyun membelai pipi Yoona. Sebuah gerakan yang selalu ingin dia lakukan. Dia menangkupkan tangannya kewajah Yoona lalu bersandar lebih dekat untuk mengecup bibir yang sudah lama ingin dia rasakan. (Waw.. Maknae???)

Bibirnya gemet ar saat bibir mereka mulai bersentuhan. Tubuhnya seperti tersengat listrik beribu-ribu volt. Dia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Tubuhnya terasa hangat, sementara jantungnya berdegup sangat kencang.

Dia menarik kepala Yoona lebih dekat. Seperti di beri aba-aba, Yoona membuka mulutnya dan memperdalam ciuman yang polos itu. Mereka bermain satu sama lain, tenggelam dalam hangantnya pelukan. Seolah-olah tubuh mereka punya pikiran masing-masing.

Yoona melingkarkan tangannya di sisi Seohyun, menariknya lebih dekat. Tanpa ragu, Seohyun menyambutnya. Dia dapat melakukan ini selamanya, merasakan Yoona selamanya.

Yoona nya.

Dia mendesah pelan, lebih dalam jatuh kedalam cintanya.

Desahan itulah yang membuat Yoona menyadari apa yang sedang terjadi. Apa yang dia lakukan dan membiarkan Seohyun melakukan itu padanya.

Mata Yoona membelalak, dia mendorong dirinya menjauh dari Seohyun, nafasnya tersenggal.

“Juhyun A—Apa yang yang k—kau …??”

“Apa aku salah melakukannya ??” Seohyun mengerutkan alisnya, khawatir kalau dia melakukan kesalahan saat pertama kali dia melakukannya. “Mianhae Unnie, Aku tidak berpengalaman—.”

“Kau—Kau menciumku ??” Tubuh Yoona gemetar dan menjauh dari Seohyun. “Me—Mengapa kau melakukannya ??”

Seohyun duduk di kasurnya, tidak mengerti apa yang menyebabkan Yoona pucat dan gemetar.

“Karena aku mencintaimu.”

Mata Yoona terbelalak sambil menggelengkan kepalanya, mulutnya ternganga.

“Apakah terlalu cepat untuk berciuman ??” Seohyun berlari ke tepi tempat tidur.

Yoona tidak menanggapinya.

Seohyun lalu berdiri. “Bagaimana dengan memeluk ??” dia melangkah mendekati Yoona sambil meregangkan kedua lengannya. Yoona tersentak mundur sampai dia terjatuh ditempat tidurnya.

Senyum diwajah Seohyun perlahan memudar. “Oh… Tidak…”dia menatap Yoona ketakutan. “Kau…. Kau tidak…” lututnya tiba-tiba lemas lalu terjatuh dilantai. “Kau tidak bermaksud seperti itu ??”

Yoona tetap tidak mengatakan sesuatu. Dia menyentuh bibirnya dimana Seohyun menciumnya.

“Apa yang sudah ku lakukan ??” Bisiknya.

Hening…

“Ini… Ini.. baik-baik saja…” Suara Yoona sangat tenang. “Kau hanya…..” Dia perlahan-lahan mendekati Seohyun. “Ti—Tidurlah… kau akan merasa lebih baik besok—.” Seohyun merasakan Yoona mulai menjauh darinya, wajahnya tampak takut dan cemas.

“Kau mau pergi kemana ??”

Yoona melipat kedua tangannya didepan dadanya, mataya menelusuri seluruh sudut ruangan.

“Aku hanya… Um… Aku baru saja ingat kalau… Aku … Umm…. Aku…”

Seohyun menggelengkan kepalanya, menarik kakinya didepan dadanya. Dia mengerti, Yoona tidak perlu berbohong padanya.

Suara pintu yang tertutup mengakhiri pembicaraan yang menyakitkan hati mereka. Seohyun merangkak naik ke tempat tidurnya.

Dengan mata yang berkaca-kaca dia menarik sellimut diatas kepalanya lalu tengkurap, membenamkan wajahnya diatas bantal. Suara isak tangisnya menggema diseluruh ruangan.

-TBC-

Iklan

65 thoughts on “LOVE IS HARD Part 6”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s