One Shoot, SNSD, SOSHI FF

THE LAST SONG FOR ME [ONE SHOOT]

THE LAST SONG FOR ME [ONE SHOOT]

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : The Last Song For Me.

Genre              : Yuri (Girl X Girl) Romance, Tragedy.

 Cast                : TaeNy

Chapter           : One Shoot

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl)

 

Epilogue

“Ppany-aaahhhh….” Taeyeon memeluk tubuh pacarnya dari belakang.

“Mwo TaeTae-ah ??” Tiffany membalikkan badannya menatap Taeyeon.

“Anio…. Aku ingin memelukmu saja…”

“Aishh.. tumben sekaliii….”

“Mmmhh… ayo masuk kedalam… diluar sini udaranya sangat dingin.” Taeyeon menarik lengan Tiffany dan menuntunnya masuk kedalam apartemen mereka.

“Tae Tae… Sa-Rang-Hae….” Bisikan nakal Tiffany terdengar seperti melodi yang mengalun indah di telinga Taeyeon. Membuatnya merasa hangat dan nyaman.

“Araa….” Jawab Tayeon sambil mengecup lembut bibir Tiffany.

Tiffany mengalungkan tangannya pada pundak Taeyeon, sementara Taeyeon melingkarkan tangannya pada pinggang Tiffany.

“Ppany-ah….” Kata Taeyeon sambil membelai punggung Tiffany.

“Mwo ??” Jawab Tiffany memainkan rambut Taeyeon.

“Kau tidak ingin pergi kesuatu tempat ?? Aku sudah rindu padamu… kita sudah hampir sebulan ini tidak pergi berkencan…” Taeyeon cemberut.

“Hihihi.. habis… kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu itu sih…. Aku jadi merasa dinomor duakan…” Ujar Tiffany sedikit kesal.

“Aish.. apa yang kau bicarakan huh ?? Aku melakukan ini semua demi kamu… agar aku bisa secepatnya melamarmu babo…”

“Jinjja ?? Hahaha…” Tanya Tiffany seolah tak percaya.

“Yaa !! Tentu… setelah itu, kita akan pergi ke Amrik lalu menikah disana…” Taeyeon memikirkan betapa bahagianya dia kalau itu benar-benar terjadi saat ini.

“Aku tidak sabar sampai saat itu tiba…” Sambung Tiffany membelai lembut pipi Taeyeon.

“Yaw… Aku akan bernyanyi dan mengumpulkan uang yang banyak untuk kita.”

Epilogue End

 

[Flashback]

“Gadis cantik… kau mau kemana ??” Sekitar 3 pria mesum mengelilingi Tiffany. Dia barusaja pulang dari kampus menuju apartemennya.

“A—A—Aku… mau pulang.” Gagap Fanny, dia sangat ketakutan. Tangannya gemetaran sambil membekap beberapa buku didadanya.

“Tidak perlu takut…. Kita tidak akan menyakitimu…. Kita hanya ingin bermain denganmu…” Sahut salah seorang pria berjalan mendekati Tiffany.

“Ma—Mau Apa kau ??” Tiffany berjalan mundur. Dia mendekap bukunya lebih erat.

“Sshh… sini, biar kuberi tahu…” Pria itu semakin mendekati Tiffany, senyuman mesum tergambar jelas diwajahnya.

“J—jangan mendekat…” Sekarang, tubuh Tiffany sudah benar-benar menatap tembok.

“Kau cantik sekali….” Kini, dia dan pria itu hanya berjarak beberapa inchi saja. Pria itu mendekatkan mukanya pada Tiffany. Tiffany menutup kedua matanya lalu menutupi wajahnya menggunakan bukunya.

“Biarkan aku merasakanmu…” Tiffany menutup erat kedua matanya. Beberapa menit berlalu, tapi dia tidak merasakan apapun, dia lalu membuka kedua matanya. Mulutnya ternganga saat ia melihat seorang gadis yang berukuran lebih kecil darinya melawan pria-pria mesum itu. Gadis itu menggunakan gitarnya untuk memukuli pria itu, dan alhasil gitarnya itu rusak parah dan tidak dapat dipakai lagi. Gadis itu membuang gitarnya kearah pria itu lalu berlari menuju Tiffany.

“Kau baik-baik saja nona ?? Apa kau terluka ??” Dia bertanya pada Tiffany dengan nafas tersenggal-senggal. Tiffany hanya tercengang dan shock dengan kejadian barusan. Dia membeku disitu.

“Nonaa ??” Gadis itu mengguncang tubuh Tiffany.

“Oh.. Y—Ya… k—kau ??” Tanya tiffany menelusuri gadis itu, dia melihat sudut kiri bibir gadis itu mengeluarkan darah. “K—Kau ..” Tiffany menatap bibir gadis itu, lalu gadis itu menyentuhnya dan melihat ada darah di ujung tangannya.

“Aish… it’s Ok… baiklah… aku pergi dulu, lain kali hati-hati ya nona….” Gadis itu melangkah pergi, tapi sepasang tangan menghentikannya. Gadis itu berbalik, “Um ??”

“Biarkan aku merawat lukamu… ummmmm….”

“Taeyeon…” Jawabnya.

“Baik Taeyeon, karena kau sudah menyelamatkanku, aku masih berhutang budi padamu… sini…” Tiffany menarik tangan Taeyeon, mereka berdua berjalan menuju apartemen Tiffany.

[Flashback End]

Tiffany Pov

“Fanny-ah..”

“………”

“Fanny ??”

“……….”

“Yah !! Tiffany….” Aku merasakan Yuri mengguncang tubuhku.

“M—Mwo ??” Aku berusaha focus pada gadis didepanku saat ini. Yeah… bagaimanapun juga, dia itu pacarku, lebih tepatnya pelampiasanku. Aku mencintainya ?? Mungkin.. I dunno… Aku hanya merasa aku butuh seseorang untuk mengisi hidupku sejak……. Sejak dia meninggalkanku 1 tahun yang lalu, tanpa sepatah katapun, tanpa informasi… dia hanya menghilang begitu saja…. Mungkin dia sudah bosan denganku dan pergi kepelukan gadis lain, seperti dia datang kepelukanku dulu… Yeah…. Dulu.

“Aish… Seriously Fanny… aku berbicara pada tembok selama 20 menit… Sungguh sulit dipercaya.” Yuri menggelengkan kepalanya.

“Mi—Mian, aku hanya memikirkan sesuatu.” Aku memaksakan senyumku pada Yuri.

“Sigh…” Yuri menghela nafas berat. “Aku tahu apa yang kau pikirkan.” Dia tersenyum lemah. Dia benar-benar sangat mengerti aku.. itu sebabnya aku menyukainya, dia… sangat menyayangiku meskipun dia tahu aku tidak mencintainya seperti dia mencintaiku, tapi dia benar-benar menyayangiku dan melindungku… setelah gadis itu… gadis yang sangat kucintai…. Pergi… meninggalkanku…..

“Anio…” Aku meneguk kopiku. “Ayo pergi jalan-jalan. Aku bosan…”

“Apapun yang kau inginkan Fanny-ah….”

 

[Flashback]

“Janji ??” Tiffany mengangkat kelingkingnya layaknya bocah berusia 7 tahun. Taeyeon tertawa kecil kemudian mengaitkan jari kelingking mereka.

“Apapun yang kau inginkan Fanny-ah…”

Tiffany merebahkan dirinya di sofa, kepalanya berada di pangkuan Taeyeon. Mereka tersenyum sambil menatap satu sama lain, Taeyeon terus membelai wajah dan rambut Tiffany dengan lembut. Tiffany menutup matanya, menikmati kehangatan sentuhan kekasih yang sangat dicintainya itu.

“Tae Tae….” Kata Tiffany, kedua matanya masih terpejam.

“Mwo ??” Jari telunjuk Taeyeon menelusuri rahang indah Tiffany.

“Kemana kita akan pergi ??” Tiffany membuka sebelah matanya, melirik kearah Taeyeon, wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja.

“Kemana ??” Taeyeon memberikan tatapan bingung pada Tiffany.

“Kau bilang kita akan pergi keluar minggu ini ??”

“Hmm…” Taeyeon menekan dagunya menggunakan jari telunjuknya, sedang berpikir. “Sejujurnya aku ingin sekali pergi ke taman hiburan..” Taeyeon tersenyum lebar.

“Hmm… kau ini seperti anak kecil saja…” Tiffany menyingrai. “Baiklah… kita akan pergi kesana…” Tiffany bangkit duduk sambil menepuk kedua tangannya.

“Jinjjaaa ??? Aw… gomawo chagiyaaa….” Taeyeon mengucup bibir Tiffany lalu berdiri dari sofa, dia berlari sambil berputar-putar kegirangan.

“Aishh… dia memang masih kecil…” Desah Tiffany, senyum kecil mengembang dipipinya saat melihat tingkah konyol kekasihnya itu.

[Flashback end]

***

Aku dan Yuri berjalan menuju taman hiburan, sejujurnya aku tidak ingin pergi ke tempat ini, tapi… aku tidak bisa menolak ajakan Yuri, apalagi setelah aku mengecewakannya pagi tadi. Aku merasa bersalah padanya, dia sudah terlalu baik padaku selama ini.

“Tiffany… Kau mau naik apa ??”

“Apapun… terserah kau saja.. aku mengikutimu saja.” Aku mengubah garis mataku menjadi bulan sabit.

“Hmm…” Dia tersenyum simpul. “Ayo… naik Gyro Drop.”

[Flashback]

“Ya !! Ppany-ah… Ayo naik itu.” Taeyeon merengek sambil menarik-narik lengan Tifffany.

“Mwo ?? Ya !! Itu… menyeramkan sekali Taeyeon-ah… Aku… bisa pusing kalo naik itu.” Tiffany melihat permainan itu seperti melihat monster gua yang sudah 100 tahun bersembunyi dan tiba-tiba menampakkan diri didepannya.

“Aish… pengecut.. Weekk… Merong…” Taeyeon menjulurkan lidahnya lalu berlari kearah permainan Gyro Drop.

“Ya !! Kim Taeyeon… Aku tidak takut… aku bukan pengecut !!” Tiffany berlari mengejar Taeyeon.

“So ? Kau tidak berani kan ?? hahaha…” Taeyeon memberikan tiketnya pada penjaga wahana.

“Wait… apa yang akan kau lakukan Kim Taeyeon??” Tiffany membelakkan matanya.

“Bermain..” Taeyeon tersenyum dorky. “Baiklah, kalau kau tak mau ikut, kau bisa kan memfotoku ??” Taeyeon menyerhkan instant camera yang barusaja dibelinya bersama Tiffany tadi.

“Aku ikut… aku bukan pengecut dan aku tidak akan membiarakn kau berfoto sendiri tanpa aku disampingmu…” Tiffany membuang rasa takutnya lalu memberikan karcisnya dan duduk disamping Taeyeon.

“Ahahaha..” Taeyeon tertawa ajhuma.

“Mwo ??” Tiffany menatapnya dengan tatapan mematikan.

“Ani…. Lalu siapa yang akan memfoto kita ??” Taeyeon bertanya sambil mengerutkan dahinya.

“Aku tahu…” Tiffany menyerahkan cameranya pada penjaga wahana. “Tolong fotokan kita nanti.” Tiffany tersenyum menunjukkan ‘eye smile’ terbaiknya. Penjaga itu tersenyum dan mengangguk.

[Flashback end]

“Kau pusing Fanny-ah ??” Yuri bertanya saat kita barusaja turun dari permainan itu.

“Hmm.. sedikit..” Aku memegang kepalaku.

“Baiklah, ayo kita membeli Ice cream..” Dia menggeret tanganku. Aku hanya mengikutinya, dari tadi yang kulakukan hanyalah mengikutinya dan tenggelam diantara memory terindah yang selalu kurindukan. Memory yang telah membuatku tersenyum, tertawa dan menangis disaat yang bersamaan. Aku tahu, pergi kesini bukanlah ide yang bagus… Ini hanya akan menambah beban dihatiku, banyak sekali momen berharga yang kulalui bersamanya ditempat ini. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan Yuri… Aku sangat merasa bersalah padanya.

Saat kita akan berjalan menuju stand Ice cream, ada satu permainan yang menarik perhatiaku. Permainan favoritenya ‘Merry Go Round’ (Komedi Putar). Dia selalu mengajakku menaikinya, meskipun sedikit memalukan, tapi jauh dilubuk hatiku, aku sangat menikmatinya. Selalu saja ada cara untuknya membuatku mengiyakan setiap permintaan konyolnya.

“Fanny-ah… kau ingin naik itu ??” Aku mengangguk. Yuri menatapku seolah tak percaya. Entah apa yang merasukiku, aku merasa yang bertanya padaku barusan adalah Taeyeon.

[Flashback]

“Yey… Merry Go Round…” Teriak Taeyeon.

“Mwo ?? Ya.. Kim Taeyeon.. jangan bilang kau ingin menaikinya ??” Tiffany menatapnya dengan tatapan ‘Kau-Yakin’

Taeyeon mengangguk anggukkan kepalanya mantap. “Aku sering menaikinya, kenapa ?? Jangan bilang kau takut.. Oh.. jangan-jangan kau malu ya ?? hahahaha..” Taeyeon berputar-putar mengelilingi Tiffany.

“Aish… Tae… Itu… permainan anak usia 5 tahun, Ya !!” Tiffany mencoba meraih lengannya, berusaha untuk menghentikannya berputar-putar.

“Memangnya kenapa ?? Disitu tidak ada tulisan yang mengatakan ‘Hanya untuk anak usia 5 tahun’ atau ‘Usia 5 tahun diatas dilarang menaiki permainan ini’. Hehehe.” Taeyeon tertawa dorky.

“TaeTae ya !!” Tiffany mencoba menghentikan Taeyeon.

“Uhhhh…. Wae ?? Pliiiisssss….” Taeyeon cembeut, mencoba yang terbaik untuk memamerkan Aegyeonya meskipun dia selalu merasa konyol pada akhirnya.

“Aish…. Sigh…. Baiklah Tae… tapi ini terakhir kalinya kau memintaku melakukan hal-hal konyol bersamamu ya…” Tiffany mendesah berat mengikuti Taeyeon. Tiffany tidak pernah bisa menolak Taeyeon apalagi saat dia menggunakan Aegyeonya pada Tiffany. Tiffany akan merasa lututnya berubah menjadi Jelly saat melihatnya cemberut.

[Flashback End]

“Ah…. Tidak !!” Aku menggelengkan kepalaku mencoba menjauhkan pikiran konyolku. Yuri hanya tersenyum padaku, senyuman yang terkadang tidak bisa kumengerti.

Setelah kita berdua menghabiskan ice cream di bangku taman, dia mengantarku pulang kerumah, entah mengapa aku merasa dia selalu melindungiku, dia tak ingin aku sedih ataupun terluka sedikitpun, aku merasa aman didekatnya. Sama seperti saat aku bersama Taeyeon. Aish… gadis itu… Aku tidak pernah bisa melupakannya dari ingatanku, apapun yang kulakukan…Aku selalu mengingatnya. Aku tidak bisa mempercayainya, dia meninggalkanku… dan berjanji akan segera kembali tapi apa nyatanya ?? Dia tidak pernah menemuiku sampai saat ini, bahkan dia tidak pernah menelponku atau hanya sekedar SMS aku. Aku begitu bodoh…. Mempercayai janjinya dengan sepenuh hatiku. Aku benci dia… Aku benci Kim Taeyeon.. Aku benci karena dia selalu bisa membuatku mempercayainya, mempercayai janjinya. Aku benci padanya karena dia selalu bisa membuatku melakukan apapun yang dia inginkanm bahkan hal-hal yang konyol sekalipun. Aku membencinya karena dia selalu membuatku tersenyum, sedih, menangis dan tertawa disaat yang bersamaan. Aku membencinya karena dia meninggalkanku. Dan aku sangat-sangat membencinya karena dia membuatku mencintainya.

[Flashback]

“Tae Tae… Kau mau kemana ??” Tiffany menghampiri Taeyeon yang sedang mengemasi beberapa pakaiannya.

“Fanny-ah… Mianhae… Aku harus pergi selama beberapa minggu untuk manggung di Seoul. Kau tahu kan, itu impianku selama ini…” Taeyeon menatap Tiffany serius.

“Mmwo ?? Jadi, kau akan meninggalkanku disini ?? Begitu..??” Tiffany menatap Taeyeon tidak percaya.

“Aish.. Kau tidak sendiri Ppany-ah… aku akan meminta Yuri untuk menjagamu selama aku pergi, lagipula aku tidak lama kok, mungkin paling lama juga sebulan.” Taeyeon meyakinkan Tiffany.

“Ta—Tapi… A—Aku…”

“Sssh… Aku janji aku akan kembali…”

“Janji ??”

“Janji…” Taeyeon mengangkat jari kelingkingnya sambil tersenyum dorky. “Janji aku akan kembali padamu.. kembali untukkmu..” Taeyeon tersenyum lebar. Tapi, entah mengapa Tiffany tidak dapat mempercayai begitu saja ucapan Taeyeon, tidak seperti biasanya dia dengan mudah mempercayai Taeyeon sepenuhnya. Tapi, kali ini ada sesuatu yang berbeda darinya, entah mengapa dia merasa kalau Taeyeon akan pergi, menjauh dari hidupnya.

“Telpon aku setiap hari…” Tiffany masih tetap tidak mau melepaskannya.

“Kalau perlu setiap menit aku akan menelponmu…” Taeyeon tertawa Ajhuma.

“Aishh…” Tiffany memukuli lengan Taeyeon.

“Aw… sakit…”Taeyeon menggosok-gosok lengannya. “Ppany-ah…”

“Hmm??”

“Gomawo …” Taeyeon tersenyum hangat.

“Hmmmm ??” Tiffany memiringkan kepalanya.

“Gomawo untuk segalanya… You make my life complete…”

[Flashback End]

‘Dia benar-benar tidak menepati janjinya’.

Aku benar-beanr bodoh mempercayainya saat itu.. semua janjinya palsu… Aku benci kau Kim Taeyeonnn….

Aku tidak tahu apa yang merasukiku, aku berkali-kali mencoba mengalihkan perasaanku darinya dengan berkencan bersama beberapa gadis lain. Tapi, tetap saja apapun yang kulakukan, apapun yang ada dipikiranku semua adalah tentang dia… tentang Kim Taeyeon. Meskipun aku sedang melakukan Sex dengan gadis lain, aku selalu saja berpikir bahwa itu adalah Taeyeon. Desahanku, eranganku, semuanya Taeyeon, bahkan aku meneriakkan nama Taeyeon saat aku sedang ‘Cum’. Dan dengan itu, hubunganku dengan mereka kandas malam itu juga. Tapi Yuri tidak seperti itu, entah mengapa dia selalu tersenyum saat aku keceplosan menyebutkan nama Taeyeon ditengah-tengah waktu pribadi kita. Aku tahu, Taeyeon memang cinta pertamaku, malam pertamaku, dan segalanya untukku, aku telah menyerahkan seluruh hidupku padanya. Dia adalah orang yang membuat jantungku berdetak lebih kencang, dia adalah orang yang membuatku merasakan apa itu cinta. Dia adalah orang yang memberitahuku arti cinta yang sesungguhnya. Dia adalah orang yang membuatku membuka diriku pada dunia yang sangat kejam. Dia adalah orang pertama yang membuatku kehilangan keperawananku, tapi aku tak pernah menyesalinya. Entah mengapa aku selalu bersyukur tentang hal itu, meskipun dia telah menghancurkan hatiku, aku tetap disini, menunggunya, menunggunya kembali padaku, seperti yang dia katakan. Aku selalu menunggunya disini, dihatiku. Meskipun aku terlihat seperti orang yang bodoh.

Aku membuka lemariku, menemukan beberapa benda kenanganku bersamanya.

[Flashback]

“Kau suka ??” Taeyeon memakaikan sebuah badana berwarna pink disela-sela rambut indah Tiffany.

“Pinkkk !! Pink !! Pink !! I Like it !!” Tiffany berteriak kegirangan sambil memandang refleksinya di sebuah kaca yang menggantung di tembok toko. “Love you Tae..”

“love you too Honey…” Taeyeon mengecup pipi Tiffany.

“Aw… kalung itu cantik sekali Tae…” Mata Tiffany tertuju pada sebuah kalung couple perak berbandul Kunci dan Gembok. Kalung itu berkilauan memancarkan keanggunannya, kalung itu berdesain sederhana, tapi elegan.

“Kau suka ??” Tiffany mengangguk-angguk mantap. “Baiklah… ayo kita membelinya…” Taeyeon menyambar kalung itu lalu membayarnya di conter bersama bandana yang menempel apik di rambut indah Tiffany.

“Cha….” Taeyeon mengalungkan kalung gembok itu di leher jenjang Tiffany. Sungguh indah, kalung itu sangat pas di leher Tiffany, bandul gemboknya menggantung tepat di tengah tulang leher Tiffany. “Yeppuni….” Taeyeon mengecup dahi Tiffany.

“Gomawo TaeTae…” Mata Tiffany berubah menjadi bulan sabit.

“Anything for You….”

[Flashback End]

Mengapa dia melakukan semua itu ?? Mengapa dia melakukannya jika pada akhirnya dia akan meninggalkanku seperti ini ?? Mengapa dia memperlakukanku seprti itu ?? Aku memang bodoh… Yeah.. Aku bodoh karena membiarkan diriku terjerumus kedalam cinta yang semu, cinta yang sesaat. Aku sangat bodoh karena aku membiarkan perasaan itu jatuh terlalu dalam sehingga sulit untukku keluar.

Yeah… aku harus berubah…

Kau harus berubah Tiffany Hwang….. Kau tidak bisa selamanya hidup dalam keterpurukan… Kau harus membuktikan padanya jika kau bisa…. Jika kau bisa hidup lebih baik tanpanya… Jika mungkin dia sekarang dapat hidup bahagia dengan orang lain, mengapa kau tidak… mengapa kau tidak bisa ???

Pikiran itu selalu merasuk dalam kepalaku… mencoba mengintimidasiku dengan kata-kata logisnya.

Tapi semuanya benar… Aku harus bisa melupakannya…

***

3 Months Latter….

Setelah 3 bulan berlalu, akhirnya aku perlahan dapat melupakannya dari ingatanku. Aku sangat beruntung aku mempunyai Yuri yang benar-benar mencintai dan menyayangiku. Apapun yang kuminta, dia pasti mengabulkannya, meskipun dia harus berjuang sampai tetes darah penghabisanpun. Aku tidak tahu mengapa, aku sangat yakin dia menyukaiku saat aku masih bersama Taeyeon dulu.

*

Tok…Tok….Tok….

Aku medengar suara pintu diketuk, aku langsung berlari menuju pintu depan. Itu pasti Yuri… Yeah…

Perlahan aku membuka pintunya, aku ingin memberinya sedikit kejutan.

Satu….

Dua….

Tiga….

Bamp….. “Yuri ??”

Senyumanku tiba-tiba lenyap begitu aku melihat sosok yang berdiri dihadapanku kini, itu bukan Yuri…

Dia lebih pendek dariku, kulitnya seputih susu, rambutnya blonde. Dia memakai mantel berwarna cream dengan topi yang menutupi sebagian kepalanya.

Aku memiringkan kepalaku kesamping, mencoba menyamakan tinggiku dengannya, aku menatap dalam matanya…

Bola mata itu…..

Warna matanya yang coklat hazelnut itu mengingatkanku pada seseorang…..

Dia tersenyum padaku… aku mengenalinya…. Dia…. Dia… Dia… adalah orang yang kutunggu selama ini.

Aku menatap matanya lagi, lebih dalam… itu memang Kim Taeyeon… tapi …. Ada yang aneh dengan tatapan matanya… dingin…. Hampa…. Kesepian….

“Tae…. Taeyeon ??” Aku mencoba menstabilkan nafasku yang tadi sempat menggantung di ujung tenggorokanku.

Dia tersenyum dan mengangguk. Aku tidak dapat menahan kerinduanku padanya, aku memeluknya erat.. sangat erat…. Tapi, kali ini aku memang benar-benar merasa ada yang berbeda darinya, ini lebih dingin.. pelukannya tidak sehangat dulu, ini…. Sangat dingin….

Aku menadorongnya, dia tetap tersenyum padaku..

“I Miss You Tae… kemana saja kau selama ini ?? Kau tahu aku merindukanmu setengah mati… kau tahu betapa sulitnya aku hidup tanpamu selama ini ??” Air mataku terus mengalir tanpa bisa kubendung lagi.

“Mianhae… aku juga merindukanmu… maaf karena telah membuatmu menunggu selama ini…” Dia tersenyum padaku, senyuman yang tidak dapat kumengerti… Aku melihatnta sedikit menggigil kedinginan, aku mempersilahkannya masuk dan membuatkannya coklat hangat.

“Lalu Tae … kemana saja kau selama ini ??” Aku memulai pembicaraan.

“Suatu tempat, yang dingin… gelap….  hampa…. Sendiri…. Kesepian….” Dia menatap lekat mataku, sungguh… aku tidak mengerti apa yang ada didalam diri dan pikirannya. Aku benar-benar merasa ini bukanlah Taeyeon yang kukenal… Taeyeon yang hangat… Cute… Dorky… perhatian… penuh senyum dan ramah… bukan Taeyeon yang dingin, serius, dan pemurung seperti ini. Dia seperti tidak punya semangat hidup.

“Kau kesepian Tae ?? kenapa kau harus berada disitu ?? Aku ada disini Tae… Aku menunggumu… Kau tidak perlu merasa kesepian seperti itu… Kau hanya perlu datang padaku… itu saja….” Aku menatapnya dengan tatapa tidak percaya.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa Tiff…” Aku sedikit terkejut.. dia tidak pernah memanggilku Tiffany atau Tiff sebelumnya, bahkan ketika dia sedang marah padaku.

“Wae ??” Aku melihatnya penasaran, aku yakin ada sesuatu yang salah dengannya.

Dia menggelengkan kepalanya lagi, “Boleh aku pinjam HPmu ??”

Awalnya aku ragu, tapi pada akhirnya aku mengangguk juga dan menyerahkan HPku padanya. Aku menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dia lakukan dengan HP ku…

“Tae.. Sorry…. Aku tidak….” Aku menyadari banyak sekali foto dan SMSku dengan gadis lain, terlebih dengan Yuri. Dia hanya tersenyum padaku, lagi-lagi senyum yang tak dapat kumengerti.

Aku melihatnya mengeluarkan HPnya lalu membuka sesuatu, entah apa. lalu dia menyerahkan HP ku kembali, aku membukanya… ternyata dia barusaja mem Bluetooth sesuatu, lagu ??

“Apa ini Tae ??” Aku memiringkan kepalaku sedikit kesamping.

“Kumohon…. Dengarkan itu saat kau akan pergi tidur, jadikan lagu itu senandung yang akan membawamu kedalam alam mimpi…. Pejamkan matamu dan dengarlah lagu itu saat kau akan terlelap… Janji ??” Dia menatapku dengan tatapan serius.

“Tapi kenapa Tae ?? Maksudku.. kenapa kau selalu membuat janji dan mengingkarinya ?? lalu kau menyuruhku berjanji lagi… aku sudah lelah bermain-main dengan janjimu…”Aku meluapkan segala emosi yang selama ini bergejolak di hatiku.

Dia menghela nafas berat. “Ara… Mian… Mianhae… Aku…..” Aku melihat ada setetes air yang jatuh dari mata kirinya, sangat berkilau seperti permata.

Mungkin hanya refleksi….

“Aku tidak bermaksud membentakmu Tae… Aku minta maaf, aku hanya…. Terlalu…” Aku menundukkan kepalaku, sedikit merasa bersalah.

“Anio…. Semua ini salahku karena membuatmu menunggu terlalu lama, tapi aku memenuhi janjiku kan ?? Aku menemuimu lagi….” Setetes air itu mengalir pelan melalui pipinya yang kemerahan lalu menelusuri rahangnya yang sempurna dan jatuh kelantai, entah aku yang salah lihat atau ini memang benar terjadi.. air mata itu jatuh dengan gerakan slow motion, sekitar 5 detik menggantung di udara lalu jatuh kelantai seolah pecah menjadi berkeping-keping berkilauan seperti kaca. Aku mengedipkan mataku berkali-kali, mngkin sekarang penglihatanku sudah mulai kacau.

“Tiffany…” Dia mengecup kedua tanganku. “Tolong… penuhi keinginanku sekali ini saja… Kumohon….” Dia menatapku tepat pada kedua bola mataku. Seperti aliran listrik beribu-ribu volt mengalir melalui tubuhku, aku mengangguk.

“Aku ingin melihat sunset bersamamu saat ulang tahunku… kumohon….” Dia menggenggam tanganku erat, tatapan matanya seolah penuh harapan dan keinginan yang kuat. Aku mengangguk lagi.

“Janji ??” Aku mengangguk, ingin rasanya aku berbicara sesuatu, tapi tatapan matanya seolah membiusku, mematikan otakku. Aku tidak dapat berpikir hal lain selain dirinya dan tatapan matanya.

Dia tersenyum lalu pergi menjauh, berjalan mundur selangkah demi selangkah..

Hatiku berteriak-teriak ingin menghentikannya, tapi otakku benar-benar tidak berfungsi, seolah-olah mati rasa dan hanya menatapnya nanar dengan kedua bola mataku. Membiarkannya pergi lagi dari hidupku.

Dia tersenyum padaku, waktu seolah berhenti berputar. HP yang tadi kupegang tiba-tiba jatuh dan terhenti diudara. Mataku hanya focus dengan sosoknya yang begitu bersinar, semua seolah hanya menjadi background berwarna putih saja. Aku merasakan pipiku basah, air mataku mengalir brgitu saja seiring dengan bayangannya yang terus memudar. Sosoknya yang bercahaya lenyap begitu saja. Barulah aku menyadari semua yang kulihat bukanlah imajinasiku..

“Tae ??” Aku menelusuri sekitar. Semuanya berwarna putih, HPku yang tadi menggantung diudara kini benar-benar jatuh dilantai yang juga putih.

“Tae …. Tae….” Aku mencoba meraih sosoknya yang menghilang tadi, tapi yang kutangkap hanyalah udara.

“TAEEE !!!!” Aku berteriak sekuat tenaga.

Tiba-tiba aku terbangun, aku terduduk dikasurku dengan keringat dingin yang mengalir deras dari dahi dan leherku. Aku melihat keseluruh sudut ruangan. Aku yakin… benar-benar yakin bahwa ini adalah kamarku… lalu yang tadi ?? Apa itu ?? Apa itu hanya mimpi ?? Tae hanya datang dalam mimpiku ??

Aku melihat HPku yang tergeletak di lantai. Bluetoothnya masih aktif. Aku melihat satu berkas baru yang masuk.

Ini kaaannn….

Tanganku gemetar hebat… satu lagu yang masuk dalam HPku berjudul ‘ Last Hope’

Lagu yang Taeyeon tunjukkan tadi dalam mimpiku, seluruh tangan dan kakiku gemetar hebat. Rasanya, aku sudah tak sanggup lagi berdiri dengan kedua kakiku, aku memeluk kedua lututku erat sambil bersender di tembok dan terisak.

Aku melirik kalender di mejaku… 9th April 2012.

Hari ini……

Tok…. Tok… Tok…

Aku mendengar pintu apartemenku diketuk. Aku tetap menggigil di sudut ruangan.

Tok… Tok… Tok….

Apa yang harus aku lakukan ?? Apakah aku harus membukanya?? Bagaimana jika dia datang kemudian pergi lagi dari hidupku seperti dalam mimpiku tadi ?? Memudar dan tiba-tiba lenyap tanpa jejak…

Aku masih terlalu takut untuk pergi keluar, melihat siapa yang sekarang berdiri didepan pintu apartemenku.

Apa yang akan kulakukan jika itu benar-benar dia ?? Apa yang harus aku lakukan ??

Setelah beberapa menit berdebat dengan diriku, akhirnya aku memberanikan diri untuk membukanya. Dengan tangan yang gemetar aku memutar engsel pintunya. Aku mengintip sosok yang sekarang ini berdiri dihadapanku. Aku membuka sedikit mata sebelah kananku. Seorang gadis yang lebih pendek dariku, dia memakai blazer berwarna merah dan senyum yang khas. Aku tersenyum padanya,

“Sun—Sunny ??” Aku menaikkan sebelah alisku.

Dia tersenyum. “Boleh aku masuk ??”

Aku tersenyum dan mengangguk, Sunny adalah teman dekat Taeyeon. Aku sering bertemu dengannya dulu saat kita masih bersama.

“Um…. Apa yang membawamu kemari Sun ??” Aku memberinya secangkir teh hangat.

Dia menghembuskan nafas berat. “Sejujurnya, aku ingin menanyakan satu hal padamu.” Dia menatapku dengan serius.

Aku memiringkan kepalaku kesamping, “Mwo ??”

“Kau masih ingin bertemu dengannya kan ??”

“Nya ??”

“Taeyeon…”

“Uh…. Oh….” Aku memainkan jari-jariku tanda bahwa aku masih bimbang.

“Jujur Tif… kau masih mencintainya kau ?? Kau masih ingin bertemu dengannya kan ??” Kini dia berjalan mendekat padaku.

Aku menganggukkan kepalaku.

Dia mendesah pelan, “Baik, kalau begitu… cepat ganti bajumu, kita pergi sekarang.” Dia berjalan menjauh dariku.

“Wae ?? Memangnya kita mau pergi kemana ??” Aku bertanya penasaran.

“Menemui Taeyeon lah….” Dia memutar kedua bola matanya.

“Kau tau dimana dia berada ??” Dia mengangguk pelan.

“Mengapa kau tidak memberitahukannya sejak dulu ?? Mengapa baru sekarang ?? Dan dimana dia saat ini ??”Aku mennghujaninya dengan beribu pertanyaan.

“Masih perlukah kau bertanya tentang hal itu padaku sekarang ??” Dia sedikit berteriak padaku, wajahnya menegang. Aku menatapnya ketakutan, entah apa yang merasukinya sekarang.. aku rasa tatapannya penuh amarah dan putus asa. Dia menghela nafas dalam. Wajahnya kembali tenang. “Maaf Tiff.. aku hanya lepas control, kumohon… jangan tanyakan pertanyaan yang menyulitkanku…” Kini tatapannya nanar. Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarku. Mengapa itu menyulitkannya ?? Aku hanya bertanya mengapa dia baru mengatakannya sekarang dan dimana Taeyeon berada ?? Mengapa dia terlihat marah jika aku menanyakannya ?? Apa ada yang salah ?? Apa aku salah menanyakannya ?? Aku rasa itu pertanyaan yang wajar. Apa yang sebenarnya di sembunyikannya ?? Aku yakin ada sesuatu dibalik semua itu, tapi aku tak tahu apa. aku hanya mengikutinya dan pasrah dia membawaku kemana.

Kita berhenti didepan sebuah rumah sakit yang besar ‘Seoul International Hospital’. Aku mengerutkan dahiku, mengapa dia membawaku ditempat seperti ini ?? Siapa yang sakit ??

Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku, mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya ada didalam pikiran Sunny.

Tunggu… Tadi Sunny bilang dia akan mengajakku bertemu dengan Taeyeon kan ?? Mengapa dia mengajakku kemari ?? Apa Taeyeon sedang sakit ??

Tiba-tiba kita berhenti didepan sebuah kamar pasien dengan nomor 909. Sunny menghela nafas berat sebelum dia membuka pintu kamar bernomor 909 itu. Kita telah berdiri didepan situ setidaknya 1 menit sebelum ia akhirnya membukanya. Aku menerka-nerka apa yang akan yang akan dilakukannya. Dia membiarkanku masuk terlebih dahulu, aku mengerutkan dahiku, ada apa sebenarnya ??

Sunny mendorongku masuk, terlihat sesosok gadis seukuran Sunny tergeletak lemah tak berdaya di tempat tidur pasien dengan masker oksigen dihidungnya dan jarum infuse di pergelangan tangan kirinya. Detak mesin penghitung detak jantung bergema diseluruh ruangan. Gadis itu berambut blonde, dengan kulit mulus pucat seputih porselen. Aku berjalan mendekatinya, sepertinya sosoknya tak asing lagi bagiku. Tiba-tiba dadaku terasa sangat sesak, jantungku berdebar begitu keras, tangan dan kakiku gemetar hebat. Aku tidak mau mempercayainya, siapa yang berbaring disana, aku benar-benar tidak ingin mempercayainya.

“T—Ta—Tae…” Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulutku. Lututku melemas, aku tak dapat lagi berdiri tegak. Tiba-tiba aku merasakan seseorang memegangiku dari belakang.

“Dia sudah seperti itu selama beberapa bulan ini.” Suara Sunny menggema ditelingaku. “Dia menderita leukemia, dia mengetahuinya sekitar 1,5 tahun yang lalu, ternyata dia sudah terlambat. Dia harus menjalani pengobatan rutin.” Kurasakan baju yang tadi kukenakan sudah mulai basah terkena air mataku. “Selama beberapa bulan pertama, dia terus mengikutinmu meskipun kau tak pernah tahu. Dia tak pernah meninggalkanmu…. Dia bertahan dengan semua ini. Dia tak ingin kau tahu, dia tak ingin kau menghawatirkannya, dia tak ingin kau membuang-buang waktumu demi orang yang sudah tak berdaya sepertinya, dia—.”

“STOPP !!” Aku menjerit sambil menutup telingaku, aku tak mau mendengar tentang semua itu.

Mengapa Tae ?? Mengapa kau melakukan semua ini ?? Mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku ?? Mengapa kau lebih memilih bertahan dengan dirimu sendiri ??  Mengapa kau menghadapi kejamnya dunia ini sendiri ??

Aku menangis memeluk lututku selama sekitar setengah jam. Sunny meninggalkanku disini sendiri bersama Taeyeon. Aku berdiri, menggenggam erat tangannya, memeluk tubuhnya dan mencium keningnya.

“Saranghae TaeTae… mengapa kau berpikiran seperti itu Tae ??”

**

Aku menelusuri kamarnya, di ujung ruangan itu, terdapat sebuah meja kecil dan beberapa tumpukan buku yang tersusun rapih diatasnya. Lalu sebuah boneka ‘Taeroro’ yang dulu kuberikan padanya.

[Flashback]

“Ppany-ah… jangan marah dong…” Taeyeon berjalan mendekati Tiffany yang berbaring diatas kasur dengan selimut diseluruh tubuhnya. Tiffany tidak membalasnya, malah berbalik mebghadap tembok. Dia masih marah atas sikap Taeyeon tadi siang.

“Ppany-ah….” Taeyeon menyambar boneka disamping kasur Tiffany. “Taetoro minta maaf…” Taeyeon berkata dengan Aegyeonya yang membuat hati Tiffany meleleh. Tapi, Tiffany tetap mempertahankan ego nya.

“Ppany…. Taetoro janji.. Taetoro gak akan ngulangin bentak Ppany lagi…. Taetoro menyesal. Tippany mau kan maafin Taetoro ??” Taeyeon menggerakkan-gerakkan boneka itu, seolah-olah boneka itulah yang meminta maaf.

“Taetoro sayang Tippany…. Saranghae Ppany-ah…”

Tiffany tersenyum dibalik selimutnya.

“Tippany sayang kan sama Taeroro ??” Taeyeon masih menggunkan Aegyeonya.

Tiffany mengintip dari balik selimutnya, lalu tersenyum.

“Anio…. Tippany gak sayang sama Taeroro…”

Senyum dibibir Taeyeon perlahan mulai memudar.

“Wae ??” Taeyeon cemberut.

“Tippany cuman sayang sama TaeTae, Tippany gak mau selingkuh sama Taeroro…” Senyum Taeyeon melebar, lalu pura-pura cemberut.

“Mwo ?? Ungg…. Taetoro patah hati….” Taeyeon berpura-pura menangis seperti anak kecil.

“Mianhae Taetoro… Uljima… Ppany Ppany Tippany hanya akan mencintai TaeTae selamanya.” Tiffany memeluk Taetoro dan Taeyeon bersamaan.

[Flashback End]

Aku menangis mengenang kejadian itu, mengingat semua kenangan indah yang telah kita lalui bersama-sama. Aku melihat ke jendela, terdapat secarik kertas yang ditempel dengan selotip, kertas itu menghadap keluar jendela, karena penasaran.. aku membaliknya.

Forever wish upon a star

Dear Mr and Mrs. Star

Kumohon, kabulkan keinginan terakhirku ini, Aku ingin bisa melihat matahari terbenam bersama Tiffany saat ulang tahunku sebentar lagi.

-Kim Taeyeon-

Aku mengambil bullpen di sebelah meja lalu menuliskan di bawahnya.

Forever wish upon a star

Dear Mr and Mrs. Star

Kumohon.. kabulkan semua keinginannya,

-Hwang Spongebob-

Setelah selesai, aku kembali menempelkan kertas tadi ketempat semula. Ada sesuatu yang menarik perhatianku di sudut kanan bawah jendela. Ada sebuah pot bunga kecil dengan sekuntum bunga berwarna merah berbentuk hati menggantung di batangnya yang kokoh. Jika dilihat dari penampilannya, bunga ini memliliki bentuk yang unik, berbentuk hati saat masih kuncup.

Aku melihat catatan kecil di bawah pot itu, aku membukanya.

‘Bleeding Heart Flower’

Lalu aku melihat lagi sebuah catatan yang ditempelkan pada stick ice cream di samping tunas bunga yang akan tumbuh di samping bunga yang masih kuncup.

Kapan kau akan tumbuh ?? Temanmu sudah lama menunggu.. Apakah kau akan membiarkan dia selamanya menunggumu untuk mekar bersama-sama ?? Aku ingin tahu bagaimana bentuknya jika sudah mekar ?? Cepatlah tumbuh dan mekar bersama-sama…. Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama…

Apakah dia benar-benar kesepian ?? Bunga ini sangat bagus, aku ingin tahu dari mana dia mendapatkan bunga seperti ini.

Aku berjalan mendekati tubuh Taeyeon… Aku tersenyum kecil melihat wajahnya yang polos. Dia terlihat sangat damai. Aku duduk disampingnya, menggenggam tangannya.

Tiba-tiba aku merasakan tangannya bergerak, dia perlahan mulai membuka matanya.

“Tae…” Bisikku lembut. Dia tersenyum, menatapku lekat.

“Tippany ??” Aku tersenyum, dia tetap memanggilku seperti itu. “Maaf, kau harus melihatku seperti ini.. Aku—.”

“Sssshh.. Kim Taeyeon…. Jangan berbicara seperti itu… aku mencintaimu Tae… Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu…” Aku mencoba menahan air mataku yang sudah mulai keluar.

Dia menatapku, aku bisa melihat tatapan putus asa dari matanya. Aku memeluknya, mencoba membuatnya nyaman.

“Maaf, aku harus memeriksanya.” Kata seorang dokter, secara tidak langsung menyuruhku keluar dari kamarnya, aku manatap Taeyeon penuh harap sambil terus memegang tangannya. Dia memberiku senyuman untuk meyakinkanku. Aku mengangguk dan keluar.

Aku melihat Sunny duduk di kursi tunggu sambil merenung, aku menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Bagaimana ??” Dia tersenyum lemah.

Aku mendesah… “Aku menyesal…”

“Mengapa kau harus menyesal ??” Sunny menatapku penuh tanya.

“Aku tidak mengetahuinya, aku merasa sangat buruk.. aku…” Air mata yang tadi berusaha kubendung sekarang sudah tak bisa kutahan lagi.. aku menumpahkan semua perasaanku.

“Ssshh… ini bukan salahmu.. dia memang sengaja menyembunyikannya darimu….” Sunny memelukku sambil mengusap punggungku.

“Tapi.. Aku—…”

“Sssh.. Ayo… kuantar kau pulang, tenangkan dirimu dulu lalu kembali lagi kemari besok…” Dia tersenyum padaku. Aku menggeleng lemah.

“Anio.. Aku ingin disini.. aku ingin menjaga TaeTae…”

Sunny mendesah lembut.. “Anio Tiff… kau harus pulang, setidaknya mandi dan membawa beberapa pasang baju untukmu disini beberapa waktu…” Sunny meyakinkanku.

Aku berpikir ulang, yeah… dia benar, setidaknya aku harus bebenah diri sebelum bertemu dengan orang yang paling kucintai… Aku melirik jam tanganku, 13.30

***

“Aku akan menjemputmu besok pagi, jadi bersiaplah…” Aku mengangguk lalu memasuki rumah. Kepalaku benar-benar terasa berat, mungkin Sunny benar, aku harus beristirahat untuk memuihkan kondisiku, aku tidak bisa sakit saat ini. Siapa yang akan menjaga Taeyeon kalau aku sakit ?? Aku tidak ma uterus-terusan merepotkan Sunny. Mungkin dia sudah lelah dan memutuskan untuk memberitahuku.. Entahlah, yang pasti sekarang aku sudah harus siap menemani dan merawat TaeTae…

Aku merebahkan diriku di sofa, lalu memejamkan mataku sebentar, berharap semua beban dikepalaku menghilang walau hanya semenit saja. Belum sampai lima menit aku memejamkan mataku, tiba-tiba terdengar suara klakson di depan rumahku.

Aisshh.. Siapa  sih ?? Mengganggu saja… Tidak tahu apa aku akan menghadapi hari-hari berat… Aku menggerutu dalam hatiku sebelum akhirnya membuka pintunya.

“S—Sunny ??” Aku membelakkan mataku. Ada apa dia kemari ?? Bukankah seharusnya dia menjemputku besok pagi ??

“Tiff…Tiff….” Nafasnya tersenggal-senggal. Tangannya gemetar, mengalir keringat dingin dari dahi dan lehernya, dia tampak shock. Dapat kulihat shock dan khawatir dari sorot matanya.

“Ada apa Sunn ?? Kenapa kau kemari ?? Bukankah—.”

“Sudahlah Tiff, cepat kau pakai jaketmu dan ikut denganku sekarang !!” Kata Sunny tergesa-gesa.

“Huh ?? Kenapa ?? Ada apa ??” Aku mengerutkan dahiku, mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya merasuki pikiran gadis mungil ini.

“Ikuti saja aku !!” Bentaknya. Aku tersentak kaget, otakku masih berpikir. “Taeyeon kritis Tif… cepatlah…”

Kali ini aku dua kali tersentak kaget.

Mwo ?? Taeyeon ?? Kritis ?? Mwo ya ??

Rasanya jantungku sudah mau copot, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menyambar jaketku di sofa. Aku langsung berlari menghampiri Sunny. Dia memberikan helm pink padaku, aku langsung memakainya di kepalaku.

Semoga Taeyeon baik-baik saja… Tuhan.. kumohon lindungi dia…. Aku memohon padamu..

**

Bep….

Bep….

Bep….

Aku membuka pintu kamar Taeyeon, setelah tadi dokter membolehkanku masuk, tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya.

Aku mendesah lega, dokter berhasil menyelamatkannya. Aku berjalan mendekatinya, lalu mencium punggung tangannya.

“Tae… jangan membuatku takut seperti tadi…” Air mataku menetes memnasahi tangannya.

Dia perlahan menggerakkan jarinya dan mulai membuka matanya,

“Tiffany….” Desahnya pelan. Air mata mengalir membasahi pipinya.

“Tae… kau tidak apa-apa kan ?? Mana yang sakit ?? Huh ??” Aku memeriksa seluruh tubuhnya. Dia menggelengkan kepalanya lalu menunjuk dadanya. Aku menatapnya lekat.

“Hatiku sakit Ppany-ah…” Dia menghela nafas berat. Aku memeluknya,

“Tae.. andai waktu bisa diputar ulang aku akan—….”

“Sshh… Kau mau kan menuruti permintaanku sekali ini saja ??” Dia memengang kedua tanganku. Aku mengangguk mantap.

“Sebentar lagi matahari tenggelam…” Taeyeon tersenyum lemah.

Aku memeluk lengan Taeyeon, menghentikannya yang sedang mencopoti jarum di tangannya.

“Apa yang kau lakukan ??” Kataku panic.

“Pergi melihat matahari terbenam…” Aku melirik jam dinding 04.45

Aku memasangkan kembali klip di jari telunjuk Taeyeon.

“Dalam kondisimu yang seperti ini ??” Teriakku.

“Kau tidak bisa mengingkari janjimu Tiffany… kau sudah berjanji padaku…” Dia memiringkan kepalanya kesamping dan mengnagkat jari kelingkingnya.

Aku tersentak kaget, dari mana dia tahu itu ?? Aku menatapnya penuh Tanya. Dia hanya tersenyum lemah seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

Dia kembali mencopoti jarum dan  maskernya.

“Kau sudah janji…” Suara Taeyeon terdengar kecewa. Aku benar-benar bimbang saat ini.

Aku menatap matanya, sorotan matanya terlihat penuh harap dan putus asa.

“Setelah aku melihatnya, aku akan menuruti apapun yang kau mau. Aku janji hanya 2 jam.” Taeyeon mengatupka kedua tangannya, “Pliss Tiffany.” Dia memohon padaku.

Aapa yang harus kulakukan sekarang ?? Aku benar-benar bimbang.

Aku melihat matanya berair.

“Jika kau tidak mau menemaniku, maka aku akan pergi sendiri.” Taeyeon berdiri dari tempat tidur pasien.

Dengan cepat aku menarik lengannya. “Maksimal 2 jam Ok ??” Aku benar-benar tidak bisa melihatnya seperti itu.

Dia tersenyum. “Maximal.” Ulangnya mantap.

Aku mendesah.

“Gomawo Ppany-ah…”

**

“Indah sekali…” Dia tersenyum, polos sekali, ekspresinya benar-benar murni seperti anak kecil. Aku melihat matahari sudah mulai terbenam, langit sudah berubah warna menjadi semburat berwarna oranye. Aku tersenyum sambil memeluk pundaknya. Suasana begitu tenang, memberikan rasa damai dan penuh kelembutan menelusup kedalam hati. Angin bertiup bagaikan suara music yang mengalun lembut mendendangkan suara hati.

Kita duduk di bawah pohon di pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Aku merasakan hembusan angin pantai sore menyibak rambutku. Aku menutup kedua mataku sambil menghela nafaas panjang. Aku merasakan sepasang tangan menggenggam tanganku erat. Aku meliriknya, lalu tersenyum hangat, sehangat matahari sore ini.

“Mana HP mu ??” Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku mengerutkan dahiku, lalu mengeluarkan nya dari kantong mantelku. Dia tersenyum lalu mengeuarkan earphone dari sakunya. Dia meletakkan sebelah earphone di telinga kananku lalu meletakkan satunya lagi di telinga kirinya.

Aku mulai mendengarkan melodi indah mengalun lembut di telingaku.

Jika aku kelak Mati

Ku titip cinta sejatiku padamu

Ku titip segala namaku padamu

Ku titip sebuah kunci hati padamu

Ku titip cintaku padamu

Ku titip sayangku padamu

Ku titip rinduku padamu

Ku titip catatanku padamu

Ku titip mutiaraku padamu

Ku titip karyaku padamu

Untuk selalu kau jaga seutuhnya untukku

Jika aku kelak Mati

Baringkan aku di sana!

Di pusaran dekat mereka

Di mana mereka sama akan jadi tanah seperti aku juga

Itu makam aku!

Makam aku di dekat nisan ayah bundaku

Jika aku kelak Mati

Buang rasa bencimu padaku

Singkirkan rasa muakmu padaku

Telan rasa dendammu untukku

Bunuh rasa cintamu padaku

Biar aku tidur panjang menantimu tanpa beban penyesalan padamu

Karena cintaku

Pesanku untukmu kekasih

Ku tinggal kan apa yag memang harus ku tinggalkan di sini

Di kotamu

Aku tinggal kan semua cerita tentang kita

Tentang cerita hujan kita

Tentang cerita hati kita

Tentang ikatan kita

Tentang semua yang telah terjadi di antara kita

Tentang bahagia ku mencintaimu!

Kisahku akan berahkir dengan kematianku

 

Kasih

Perjalanan ini amat sangat panjang dan berliku

Kepahitan telah kita lalui bersama

Mengarungi sandiwara dunia

Dengan berbagai lakon tokoh cerita

Telah kita lewati dengan

Kedustaanmu

Kejujuranku

Kemunafikanmu

Keinginanku

Hingga batas kata telah tercatat untukku

Kematiaan batas dari semua cerita kita

 

Kasih

Sengaja aku tulis di sini untukmu

Hingga aku jauh engkau akan tahu

Kita pasti akan pergi ke tempat di mana kita menjadi siapa di sana!

Tak akan ada cerita kita di sana

Hanya penghitungan semua apa yang telah kita buat

Waktu yang tak akan pernah kita tahu kapan itu

Tapi aku siapkan detik ini kasih

Hingga rasa kehilangan tak pernah ada padamu untukku

 

Kasih

Malam selalu kita lewati dengan bersama

Mengurai canda dengan mesra dan bahagia

Hingga tak sadar fajar telah mengintip kita untuk buka mata

Mengurai pagi dengan secangkir kemesraan bersama

Memintal harapan dengan sebuah pengabdian

Hingga tercapai apa ingin kita

Cerita mesra mu untukku sepanjang kita bersama

Tak akan ada kata kedua ketiga ke empat atau ke …ke …ke…lainnya

Karena cerita kita hanya milik kita

 

Pesanku untukmu kekasih

Biarkan aku pergi jauh sekarang kasih

Menembus batas dunia keabadian

Yang saatnya kita pasti akan ke sana kasih

Jangan menangis untukku kasih!

Air matamu hanya akan buat aku tersiksa dalam tidur panjangku

Jangan panggil namaku kasih

Aku tak akan kembali padamu kasih

Jangan kau ikut denganku kasih

Biarkan aku pergi sendiri

 

Inilah aku untukmu kasih

Aku tak pernah membenci dirimu

Karenamu aku ada nama itu

Karenamu ada kisah cerita itu

Karenamu ada cinta sejatiku

Karenamu ada karya itu

Karenamu ada sebuah keabadian kisah kita

Karenamu imaji selalu hadir di tiap waktuku

Karenamu aku bisa mencipta nada laguku

Karenamu aku tulis semua duka ku untukmu

Selamat tinggal kekasih

Izinkan aku tinggalkan pesan ini untukmu

Jangan pernah kau hilangkan semua itu

Selamat tinggal kekasih

Aku mohon pamit padamu

Lagu ini awal untuk ku

Tetapi ahkir untukmu

Oh..kasih

Maafkanlah aku

Maafkanlah aku

Maafkanlah aku

Aku menggelengkan kepalaku, air mata mengalir deras membasahi pipiku.

“Anio…”

“Tiffany, berjanjilah padaku, hanya kau yang bisa mendengarkan dan memiliki lagu ini, karena aku membuatnya dan menyanyikannya untukmu… berjanjilah…” Dia menatapku tajam.

Aku menggelengkan kepalaku. Anio TaeTae.. Anio…

“Tiffany….” Dia berdiri. “Terkadang, kita harus bisa menerima dikala cinta itu pergi, kita harus dapat berbesar hati dikala kita menyadari sesuatu yang hilang itu tidak akan pernah kembali, hanya akan menjadi abu yang terbang bersama angin…” Dia berusaha berdiri tegak dan menyembunyikan rintihan sakit yang dirasakannya. Aku sontak memeluknya.

“Tae… jangan pernah kau berkata seperti itu…”

“Tiffany….. sakittt…” Aku merasakannya mencengkram erat bahuku.

“Tae…” Aku menatap lekat sorot matanya yang penuh kesakitan. Aku langsung membalikkan badanku dan menyuruhnya bersandar dibahuku.

“Aku akan menggendongmu..” Dia menggeleng. “Aku bisa berjalan sendiri.” Tak lama kemudian, dia terjatuh.

“Tidak… kamu gak bisa….” Aku menarik lengannya dibahuku, menyendenkan kepalanya di pundakku. Aku perahan bangkit, aku memaksakan langkahku.

“Aku berat ya ??” Tanyanya khawatir.

“Tidak sama sekali, kau sangat ringan..” Aku memaksakan senyumku padanya. Aku tidak mau dia khawatir tentangku.

“Bohong…” Katanya sambil memeluk erat bahuku. Aku hanya menaikkan pundakku dan memaksakan langkahku supaya tidak terlihat lemah.

“Tiffany….” Bisiknya lembut di telingaku. Aku menoleh untuk melihat wajahnya, dia tersenyum dan mencium pipiku. “Terimakasih kau sudah menjadi bintangku…” Aku tertawa renyah.

“Simpan itu untuk nanti. Kita harus kembali ke rumah sakit sekarang.”

Kurasakan basah di bahuku. Apa dia menangis ?? Apa TaeTae menangis ??? Apakah itu begitu sakit ??

“Tiffany… terimakasih untuk kesempatan ini. Terimakasih sudah berada disini dan menemaniku selama ini. Terimakasih telah memberi secercah harapan dalam hidupku. Terimakasih Tiffany, telah menjadi siapa dirimu, gadis mengaggumkan, periang dan bersemangat yang selalu membuatku bahagia setiap waktuku bersamamu. Kau berarti segalanya dalam hidupku.” Dia berbisik lembut di telingaku.

“Mengapa kau katakana ini sekarang Taeyeon. Simpan untuk nanti. Kita harus kerumah sakit sekarang.”

Kurasakan Taeyeon menggelengkan kepalanya di pundakku. “Bisa melihat sunset bersamamu, adalah hal yang paling ku inginkan sejak dulu. Aku sangat bersyukur kau mau menemaniku kemari.” Suaranya melemah.

“Taeyeon, apa yang kau katakan??” Aku merasakan pegangan Taeyeon semakin lepas. Anio TaeTae… tidak sekarang….

“Tiffany…. Sebenarnya… aku … tidak pernah… ingin kemari…. Keinginan terbesarku…. Adalah…. Aku ….. bisa….. bertemu…. Denganmu lagi…… sekarang…” Suaranya mulai serak.

“Taeyeon-ah ??” Aku berbalik dan melihatnya bersimbah air mata.

“Tiffany….” Bisiknnya. “Ini sakit… sangat menyakitkan… tidak hanya secara fisik…. Aku tidak mau….. aku tidak mau…..” Dia terisak lalu menyandarkan dahinya pada pundakku.

“Berhenti menakutiku Taeyon…. Ini tidak lucu…” Aku mulai merasa khawatir.

“Tiffany… Aku tidak mau…. Ini sakit Tiffany…. Sakit….” Pegangan Taeyeon sekarang sudah benar-benar lepas. Dengan cepat aku berbalik dan menangkapnya supaya tidak terjatuh.

“Taeyeon…..”

Kurasakan tangannya melingkar sempurna di pinggangku dan memelukku erat. Aku mendudukkanya dan melihat wajahnya yang penuh kesakitan.

“Tiffany… ini ulang tahunku, kau belum mengucapkannya padaku..” Dia memaksakan senyumnya. Aku merasakan pipiku sudah mulai basah. Aku mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketku.

“Selamat Ulang Tahun Taeyeon..” Aku memberinya sebuah gelang. Sudah lama sekali aku ingin memberikannya. “Dariku…” Aku menujuk hatiku. “Untukmu…” Lalu menunjuk hatinya.

Dia tersenyum dan air mata terus mengalir dari pipinya.

“Tiffany aku tidak mau…” Sekarang dia terisak.

Dengan sigap aku membalikkan badanku dan menggendongnya kembali. “Genggam gelang itu dulu… nanti aku akan memakaikannya di tanganmu… Aku janji kau akan baik-baik saja.” Aku mempercepat langkahku menuju rumah sakit yang sudah kian dekat.

“Tiffany Mianhae…” Isaknya.

“taeyeon … aku berjanji semua akan baik-baik saja…”

“Tiffany…” Suaranya berat.

“Katakan nanti saja…” Aku membungkukkan sedikit badanku agar dia tidak terjatuh.

“Tiffany aku tidak bisa…” Pandanganku sudah mulai kabur karena air mataku.

Tiba-tiba pegangan Taeyeon di pinggangku benar-benar terlepas.

“Sa-Rang-Hae…” Bisiknya.

“TaeTae… Na do Saranghae… Kumohon… bertahanlah…” Aku berhenti setelah kurasakan pegangannya benar-benar lepas, gelang di tangannya tiba-tiba terjatuh dan pecah.

Author Pov

Dari ambang jendela kamar Taeyeon, terlihat tunas bunga bleeding heart sudah mulai muncul, menggantung indah seolah menyambut temannya yang sudah lelah menanti. Bau harum merekah kesetiap sudut ruangan. Mereka terlihat seperti sepasang hati yang sudah siap untuk mekar bersama-sama dan menghadapi dunia yang baru…

 

3 Months Latter….

Hidup terkadang tidak adil bagi sebagian orang…

Setiap kali aku mekihat keluar jendela, aku selalu iri melihat semua orang berjalan menikmati kehidupan mereka..

Mengalami hari-hari buruk di tempat kerja, bersenang-senang dengan orang yang mereka cintai, dan melakukan apapun yang orang lain lakukan.

Dear diary, mengapa harus aku ??

 

Tiffany membuka halaman terakhir diary berwarna biru muda ditangannya.

Aku ingin tahu, bagaimana rasanya menjadi bintang. Memiliki cahaya sendiri dan tidak bergantung pada yang lain untuk bersinar. Aku berharap, suatu hari nanti aku dapat bersinar sendiri dan bersinar bagi orang lain untuk mengaggumiku bukan untuk mengasihaniku. Aku ingin bersinar terang untuknya, untuk Tiffany….

______________________________

 

Kamu datang kedalam kehidupanku…

Dalam pencarian cintaku….

Kau bagaikan secercah cahaya di ujung kegelapan…

Kau lukiskan indahnya warna pelangi di langit jiwaku….

Kau tunjukkan bintang yang paling terang di indahnya simfoni malam.

Untukmu,  aku ingin menjadi sebatang lilin…

Meski cahaya sang lilin lebih terang, aku ingin coba terangi jalanmu…

Untukmu, aku ingin menjadi sekuntum melati…

Meski harumnya melati lebih wangi…

Aku ingin mengharumkan harimu….

Untukmu… aku ingin menjadi sebatang tongkat,

Meski sang tongkat lebih kuat, aku ingin menopangmu…

Senyummu berarti untukku..

Tawamu adalah kebahagiaanku…

Dan…

Kuingin kau tahu…

Selamanya….

Seumur hidupku….

Cintaku hanya akan menjadi milikmu….

Saranghae Tiffany Hwang……

(By: Serfyana Khairil)

Tiffany menutup diary Taeyeon yang ada ditangannya. Dia mendesah pelan dan mencium sampulnya lalu memasukkanya kedalam sebuah kardus. Tiffany menutup kardus itu yang berisi harapan Taeyeon, diary, dan semua barang-barang berharga mereka berdua. Dia memasukkan kardus itu kedalam lubang disebuah pohon di dekat pantai, yang menghadap matahari terbenam dimana mereka berdua menghabiskan saat-saat terakhir mereka. Tak lupa, dia meletakkan bunga itu disamping pohon tersebut. Bunga bleeding heart yang dua-duanya sudah mekar sempurna.. tampak seperti dua buah hati yang patah

“Saranghae Kim Taeyeon.” Bisik Tiffany lalu berjalan menuju Yuri yang sudah menunggunya di kursi taman sambil tersenyum manis. Tiffany memasang earphone di telingannya lalu terdengarlah melodi yang mengalun indah yang khusus diciptakan dan dinyanyikan untuknya… hanya dia…..

-END-

Seribu…. Seribu… seribu….

Tissyunya seribu… seribu…. #PLAKK

—Hug Readers—

*sembunyi dibalik pohon.

Iklan

72 thoughts on “THE LAST SONG FOR ME [ONE SHOOT]”

  1. Thanks thor ;’ udah jadi superhero di film ;’ #plakk . Eh, udah nyiptain Ff ini ;’. Jadi keinget cerita sendiri, huhu #abaikan. Teruskan karya mu, thor! ;’

  2. keren 😥 nangis bacanya.
    authorny pinter banget bikin ff begini 😥
    ajarin thro, pengen jadi penulis kyk author jg.
    kalau ini diterbitkan jadi nove, pasti laris

  3. wah..tadi baca yang jahil-jahilan..sekarang baca yang sedih-sedih..
    author emg TOP, bahasanya bener-bener expert..ampe bikin berlinang air mata..
    keren.. ^^
    belajar dimana sih author sassya?
    jadi ngefans.. :)))

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s