FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 8

LOVE IS HARD

Author             : Roykilljoy

Indo Trans      : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard

Genre              : Romance

Main cast         : SNSD Member, Taecyeon 2PM

Warning          : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

original version :

MY JUICE BOX HEART 

Chapter 18

Jessica duduk di kursi dapur, perlahan mengaduk secangkir teh didepannya. Dia menghela nafas, menopang dagunya dengan tangan kirinya, dia memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu

Setelah menenangkannya, Seohyun menceritakan semuanya pada Jessica. Bagaimana dia mengatakan pada Yoona bahwa dia mencintainya, bagaimana dia menciumnya dan bagaimana Yoona pergi meninggalkannya.

[Flashback]

“Aku tidak tahu bagaimana ini dimulai, aku hanya tahu ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlalu jauh untuk berhenti. Aku harus mengatakan ini padanya, tapi dia…..”

“Sssh.. kau tidak harus menceritakannya padaku…” Jessica menyeka air mata Seohyun menggunakan ibu jarinya. “Maaf, aku tak menyadarinya Seohyun….”

“Tidak apa-apa… Kau hanya mencoba untuk membantu Taeyeon Unnie…”

“Itu tidak masalah, kau bisa memberitahuku. Aku akan selalu menyempatkan waktuku untukmu Seohyun… Aku akan membantumu sebisaku. Kalaupun ada yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki masalahmu, aku akan melakukannya.”

Seohyun terdiam.

“Aku selalu ada disini untukmu.”

“Tapi Unnie….??”

“Hm….”

Seohyun menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.”

[Flashback End]

Jessica menatap jam diatas TV. Hari ini Yoona pulang ke dorm dan Jessica perlu berbicara padanya.

Aku tidak bisa membiarkan semua orang disini patah hati. Jessica kembali menyeruput tehnya, pikirannya kembali ke Seohyun.

‘cinta itu indah.. tidak perduli dengan siapa diantara kita bukankah begitu ?’

Jessica tertawa geli saat dia menyadarinya. “Jadi selama ini dia tidak membicarakan tetang mereka berdua.”

Ngomong-ngomong so’al mereka….

“Mau kemana kau ??”

Taeyeon berjalan dari ruang tamu menuju pintu depan, menaruh mantelnya di lengan. “Keluar…” Matanya menelusuri dapur. “Untuk makan.”

“Ah..” Jessica melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Dia tidak disini.”

Taeyeon berdehem. “Siapa ??” Gumamnya.

Jessica mengejek sambil menggeleng. “Dia pergi bersama Soo dan Yuri.”

“Heh ??” Taeyeon meraih kuncinya sambil mendesah lega. “Sooyoung pergi juga ??”

“Yeah… dia berbicara tentang point cards atau apapun itu aku tidak mengerti, dia berbicara terlalu cepat.” Jawab Jessica. Dia tahu bahwa Taeyeon berusaha untuk mengubah topic pembicaraan mereka. “Jadi.. kau menghapus ceritamu ??”

“…….” Hening.

Taeyeon ragu-ragu sebelum mengangguk kecil.

“Wae ??”

“………. Aku tidak bisa memberikan diriku sendiri akhir yang bahagia, tidak jika kenyataanya seperti itu…” Taeyeon menggelengkan kepalanya sambil memasukkan kunci pada engsel pintu. “Bagaimanapun aku harus melakukannya, itu pilihan yang terbaik.” Dia membuka pintu sambil tersenyum kecut. “Aku tidak segila itu.”

***

Seohyun menuju kekamar, memeluk boneka kodoknya. “Gomawo Unnie sudah mengijinkanku melakukan ini.”

Jessica menghampiri Seohyun, “Kau sudah berterimakasih padaku tadi.” Dia mematikan lampu di sudut kamarnya. “Apa yang akan kau lakukan jika nanti dia kembali ?? Apakah kau ingin aku untuk berpindah kamar denganmu ??”

Seohyun menggelengkan kepalanya, “Aku baik-baik saja sekarang, tapi jika dia mau aku pindah maka aku akan melakukannya, tapi jika tidak… maka aku akan baik-baik saja.” Dia menarik selimut diatas kepalanya. “Aku hanya tidak bisa berada disana sekarang… itu mengingatkanku bagaimana dia pergi meninggalkanku.”

Jessica mengusap kepala Seohyun, “Okay.. terserah padamu saja”. Dia menutup matanya, “Selamat malam Seohyun…”

“Selamat malam Unnie..”

***

“Unnie..” Terdengar suara kikikkan. “Mengapa kau tidur disini ??”

Jessica membuka matanya, Yoona sedang berdiri di dekat kulkas dengan tas besar di bahunya. “Hm ?? Oh.. aku sedang menunggumu.”

“Oh ya ??” Yoona memiringkan kepalanya. “Untuk apa ??”

Jessica berdiri dari kursinya dan meletakkan cangkirnya di wastafel. “Aku ingin berbicara denganmu..”

“Tentang apa ??”

“Kenapa kau tidak meletakkan tasmu dulu ??”

“Um… Okey…”

“Apa yang salah ??”

“Hm ??” Yoona memperhatikan Jessica mencuci cangkirnya.

“Dia tidak disana, jika itu yang kau khawatirkan.”

Yoona tersentak lalu tertawa gugup saat dia berjalan menuju kamarnya, “Mengapa aku harus khawatir tentang itu.”

Jessica mengikuti Yoona menuju kamarnya. “It’s Ok Yoona. Sebenarnya, hal inilah yang ingin kubicarakan denganmu.” Jessica berjalan mendekati Yoona yang membeku di tempat tidurnya. “Seohyun menceritakanku apa yang sebenarnya terjadi.”

Jari Yoona menyentuh bibirnya, “Dia melakukannya ??” Yoona menjatuhkan diri di kasurnya. “Me—Mengapa dia harus me—..”

Jessica menggelengkan kepalanya, “Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Pernahkah kau berpikir tentang bagaimana kau akan menghadapinya.”

“………..”

“Aku tahu membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan hal ini, tapi kau tidak bisa menghindarinya selamanya.”

“……….” Yoona tetap tak bergeming.

“Kau harus mengatakan kepadanya apa yang kau rasakan, apakah kau bisa menerima cintanya atau tidak.”

“Tapi, bukankah lebih baik jika aku tidak mengatakan apapun.” Kata Yoona dengan polosnya.

“Lebih mudah, tetapi tidak lebih baik. Percayalah…” Jessica duduk di tempat tidur Seohyun, menghadap Yoona.

“Kau tidak bisa membiarkannya kebingungan terlalu lama, aku tahu dia berusaha untuk tetap kuat. Tapi dia menangis didalam hatinya.” Jessica membelai rambut Yoona. “Dia tidur dikamarku sekarang. Karena, terlalu sulit baginya untuk berada disini dan mengetahui bahwa kau pergi karenanya.”

“Tapi dia baik-baik saja ??”

Jessica menunggu, sebelum memutuskan untuk tidak mengatakan kondisi Seohyun sebenarnya bagaimana dia menangis sampai dia tertidur setiap malam. Tidak ada alasan untuknya memperburuk keadaan.

“Dia akan lebih baik jika kau berbicara dengannya.”

Pandangan Yoona jatuh kelantai, “Aku tidak… aku tidak berpikir aku bisa berada didekatnya, apa aku jahat ?? Aku hanya… Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Yoona menggelengkan kepalanya. “Apa aku orang yang jahat ??”

Jessica menghela nafas, “Kau bukan orang jahat Yoona, hanya pikirkan tentang apa yang kau inginkan dan katakan padanya. Tidak perduli apapun jawabanmu, kau harus memberitahunya.”

Yoona mendesah, “Kita masih terlalu muda, bagaimana mungkin dia bisa tahu apa yang dia inginkan.”

Jessica melipat kedua tangannya didepan dadanya, sepintas dia teringat percakapan serupa dulu. Kali ini dia membela, “Hanya karena dia muda, bukan berarti dia tidak tahu apa yang dia inginkan.”

Suara Yoona melembut, kepalanya gemetar. “Aku tidak bisa mengatakan padanya, ini hanya akan semakin menyakitinya.”

“Itu bukan keputusan yang baik.”

“Oh, jadi sekarang aku memberikan nasihat yang buruk…”

Jessica tersentak dengan suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Dia bangkit berdiri, sementara Hyoyeon berjalan masuk dan meletakkan koper Yoona di lantai.

“Apakah kau menguping ??” Jessica melotot.

“Pfftt..” Hyoyeon mengejek. “Mungkin lain kali kau harus menutup pintu saat kau membicarakan tentang bagaimana menghancurkan hati orang lain.”

“Mwo ??” Jessica terperangah. “Aku hanya ingin mereka bahagia.”

“Bahagia bagaimana ?? Dengan mengakui semuanya ?? Lalu apa yang akan terjadi ??” Hyoyeon melipat kedua tangan didadanya. “Ini tidak akan berakhir. Seseorang akan terluka pada akhirnya.”

“Hyo Aku—.” Jessica akan berjalan mendekati Hyoyeon tapi dia mencegahnya.

“Yoona… biarkan aku menceritakanm sebuah cerita…” Matanya menatap Jessica. “Ini tentang dua orang gadis kecil.”

Yoona duduk diam diatas kasurnya, bingung dengan sikap kedua Unnies nya.

“Pada suatu hari, ada seorang gadis kecil yang suka menari. Setiap hari dia naik bus sendirian dan pergi berlatih. Dia suka berlatih karena dia merasa bebas dan bisa bersenang-senang. Para instruktur mencintainya dan memujinya tetapi para murid tidak begitu baik padanya.” Matanya jatuh kelantai sebelum kembali pada Jessica. “Samapai dia bertemu dengan seorang Putri. Sang putri sangat mengaggumkan, dia bergerak seperti ballerina dan memiliki suara yang lebih indah dari para malaikat. Gadis kecil itu takut pada awalnya, tapi lama-kelamaan mereka menjadi semakin dekat. Mereka akan menghabiskan waktu bersama-sama setiap saat, menonton film, bermain di taman…..” Dia tersenyum mengingatnya. “Gadis kecil itu, sangat bahagia. Dia akhirnya memiliki seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang diajak berlatih, seseorang untuk mengisi kesepian—, tapi meskipun sangat bahagia, dia masih belum puas. Dia ingin lebih, Dia merasa saat dia melihat sang Putri dan menghabiskan waktu bersama membuatnya semakin percaya. Dia telah jatuh cinta.

Dia tahu apa yang dia rasakan dan yakin bahwa sang Putri juga merasakan hal yang sama. Jadi, pada suatu malam, sembari menunggu bus, gadis kecil itu menceritakan semuanya tentang bagaimana perasaannya selama ini pada sang Putri. Tapi sang Putri.. tidak merasakan hal yang sama…” Matanya menyipit. “Dia berkata pada gadis kecil bahwa dia bingung, bahwa dia masih muda untuk mengetahui apa yang dia inginkan.Dia mengatakan bahwa seharusnya gadis kecil itu tidak pernah mengakuinya.” Suaranya berubah lembut. “Saat bus datang dan aku naik, dia tidak pergi bersamaku.” Lalu suaranya berubah menjadi normal. “Gadis kecil dan tuan Putri tidak pernah bersama setelah itu.”

“…………” Hening…

Hyoyeon melirik kearah Jessica terakhir kalinya sebelum mendesah berat. “Cinta…” Dia berdiri di depan pintu, tangannya bertumpu pada engkol pintu. “…Kebahagaiaan itu… tidak akan berlangsung lama. Suatu hari, dia akan meninggalkanmu…” Langkah kakinya memudar di lorong.

“…………..” Hening.

“Sicca Unnie ??”

Jessica menaikkan kepalanya, menghadap Yoona. “Hmm ??”

Yoona mengerutkan alisnya, “Apa kau baik-baik saja ??”

“Aku baik-baik saja..” Jessica tersenyum hangat. “Mengapa kau bertanya seperti itu ??”

“…..Kau menangis…”

“Mwo ??” Ujung jarinya menyeka pipinya. Dia menatap tangannya yang lembab.

“Ini karena Movie Night…” Jessica berbalik kearah pintu. “Pikirkanlah apa yang telah kukatakan.” Jessica berjalan menuju kamarnya.

Chapter 19

“Kami pulang….” Teriak Sooyoung. Jessica melihat Sooyoung merebahkan dirinya di sofa lalu mengambil Stick dan menyalakan Video gamenya. Tiffany berjalan masuk menuju kamarnya sementara Sunny dan Yuri menghampiri Jessica didapur.

“Aku tidak tahu kau bersama mereka.” Jessica menyeruput tehnya sambil tersenyum pada Sunny.

“Yeah.. kita berada didaerah yang sama.” Sunny menyambar secangkir Yogurt dan duduk disamping Jessica.

“Bagaimana dia hari ini ??” Sunny mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya. “Sama seperti kemarin dan hari sebelumnya.” Dia mendesah, mencelupkan sendok kedalam Yogurt nya. “Dia tidak mengatakan sepatah katapun.”

“Aku mengkhawatirkannya.” Yuri mengerutkan alisnya. “Kita comeback minggu depan, apakah dia akan baik-baik saja ??”

“Dia tidak mengurung dirinya dikamar hari ini.” Jessica menyingrai, berusaha meringankan pikiran member lain.

“Yeah.. Kurasa…” Yoona melirik jam diatas TV. “Apakah Taeyeon Unnie ada disni ??”

“Dia pergi tadi.”

“Apakah kau bilang padanya tentang Movie Night malam ini ??” Tanya Sunny bersemangat sambil mengaduk minumannya.

“Tidak.. Aku lupa. Aku akan SMS dia.”

“Ok.. Yuri… Bantu aku menyiapkan makan malam.” Yuri mengangguk lalu mengikuti Sunny menuju kompor.

**

To : Taeyeon.

Hey… Movie Night malam ini…

-Jessica-

 

To : Jessica

Kapan ??

-Taeyeon-

 

To : Taeyeon.

Sebentar lagi, Sunny sedang membuat makan malam, mungkin sekitar satu jam atau lebih.

-Jessica-

 

To : Jessica.

Ok

-Taeyeon-

 

To : Taeyeon.

Apa kabar ??

-Jessica-

 

To : Jessica

Aku baik-baik saja. Sampai bertemu nanti..

-Taeyeon-

 

To : Taeyeon

Ok 🙂

-Jessica-

Taeyeon mendesah, menyelipkan kembali HPnya kedalam saku mantelnya. Kepalanya bertopang pada dagunya.

“Apakah kau ingin menunggu Tiffany-sshi atau apakah kau ingin memesan untuknya ??”

“Hm ??” Taeyeon melirik kearah pria familiar yang sedang berdiri tepat disamping mejanya. “Oh.. tidak .. aku sendirian hari ini.”

“Oh..” Pelayan itu sedikit terkejut, sebelum ia tenang kembali. “Apakah kau memesan seperti biasanya atau menu yang baru ??”

Taeyeon berpikir sebentar sebelum memutuskan.

***

Jika dia belum kembali dalam 20 menit, kita akan memulainya tanpa dia.” Tegas Sooyoung sambil menggenggam remote di tangannya lalu melirik jam dinding.

“Menurutmu, apakah dia lupa ??” Yuri menatap Jessica yang sedang bersender di bahunya.

“Unnie tidak akan lupa.” Jawab Seohyun, matanya menelusuri beberapa lembar kertas dihadapannya.

“Mungkin sesuatu terjadi padanya.”

“Unnie !!” Teriak Seohyun. “Jangan berkata seperti itu…”

“It’s Ok Seo…” Yoona mengusap bahu Seohyun dari belakang. “Taeyeon Unnie sebentar lagi akan datang…”

“Jam berapa kau memberitahunya Sicca ??” Tanya Sunny.

“Satu jam yang lalu..”

“Tapi dia pergi 3 jam yang lalu, ini sudah hampir gelap..”

Jessica mengabaikan ocehan Sunny, berdiri dari bahu Yuri dan berjalan menghampiri Tiffany yang berbaring di ujung sofa, wajahnya dibenamkan di bawah bantal. “Bagaimana kabarmu Fanny-ah ??”

“………..”

“Apa kau sudah makan hari ini ??”

“………..”

“Fanny ??”

“Kurasa dia tertidur..”Gumam Hyoyeon yang duduk dilantai disamping Seohyun. Jessica mengangguk lalu mengalihkan pandangannnya ke TV.

“Lima menit lagi…” Sooyoung melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Aku akan menunggunya lima menit lagi.”

***

 “Kau tidak keberatan ??”

“Tidak sama sekali Fanny-ah…” Taeyeon bergeser dari tempat tidurnya, matanya focus pada gadis dibalik selimut.

Tiffany membalas tatapannya.

Mereka saling menatap selama beberapa saat sebelum akhirnya suara tawa memenuhi ruangan.

“Mwo ??” Taeyeon mulai tertawa sendiri.

“Tidak apa-apa..” Tiffany menyandarkan kepalamya didada Taeyeon lalu menarik lengannya disekitar lehernya. “Aku sangat bahagia…” Tiffany bermain-main dengan tangan Taeyeon.

Aku lebih bahagia. Desah Taeyeon, dia merasa seperti ada kupu-kupu didalam perutnya.

“Aku bisa mendengar detak jantungmu…”

“Oh….” Wajah Taeyeon bersemu merah.

Tiffany tertawa lagi. “Ini berdetak sangat kencang.”

Bodoh… Sangat ceroboh… apa yang akan dia pikirkan tentangmu… Batin Taeyeon.

“TaeTae ??”

“Hmm ??”

“Bolehkah—bolehkah—aku—bolehkah aku bertanya padamu…”

Taeyeon tertawa lemah. “Tentu saja, aku ada disini, apa yang ingin kau tanyakan ??”

Hening…

“Fanny ??”

“……….”

“Tiffany ??”

“Lupakan, bukan apa-apa…” Tiffany melepaskan tangan Taeyeon dan menyelipkannya di sekitar pinggang Taeyeon. “Selamat malam TaeTae..”

Taeyeon mempererat pelukannya. “Malam Fanny-ah…”

***

“Permisi…”

Itu terasa sangat nyata, sehingga dia tidak bisa membedakah apakah itu memori atau hanya sebuah mimpi.

“Permisi…”

Tapi, semua itu terjadi saat dia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Tiffany.

“Permisi, Taeyeon-sshi…” sentuhan kecil terasa dari bahu kirinya. Taeyeon mengangkat kepalanya dari meja, mengamati seluruh ruangan.

“Kami akan segera tutup, apakah kau ingin kami membungkusnya ??” Taeyeon melirik meja didepannya, pikirannya masih linglung. Didepannya ada sepiring pasta dan diseberangnya terdapat semangkuk sup dan secangkir teh.

Dia lebih menyukainya daripada Steak..

“Atau kau mau kami untuk memasakkannya yang baru ??” Lanjut pelayan itu.

“Anieyo…” Taeyeon menggelengkan kepaalanya lalu melirik jam di HPnya. Sudah jam dua lebih. “Aku baik-baik saja, terimakasih…”

Taeyeon menunduk lalu bangkit dari kursinya. “Maaf, sudah merepotkan…”

***

“…..Unnie…”

“………..”

“Unnie bangun !!”

“Hmm. ??”

Seohyun mengguncang keras bahu Jessica yang sedang tertidur lelap di balik selimut. “Kumohon Sicca Unnie…”

“Huh.. Mw—Mwo ?? Ada apa ?”

“Tiffany Unnie, dia berdiri di dapur, dia tidak mau berbicara, dia tidak bergerak, bahkan aku rasa dia tidak berkedip. Itu seperti—! Itu sama seperti film yang tadi kita tonton…!!”

“Ssshh… Tenanglah…” Jessica berguling dari kasurnya., “Tidurlah.. Tidak ada lagi Film horror untukmu…”

Seohyun mengangguk, merangkak naik ketempat tidur sebelum Jessica keluar dari kamarnya.

Jessica berjalan menuju dapur sambil tersandung-sandung. Dia menggerayangi tembok untuk meuntunnya berjalan.

Seperti yang Seohyun katakan, Tiffany sedang berdiri dalam gelap, dengan punggungnya menghadap Jessica. Dia menggerakkan tangannya keatas dan kebawah untuk memotong buah di depannya.

“Apa yang kau lakukan ?? Ini sudah jam 3 pagi !!” Jessica melipat tangan didepan dadanya.

Tiffany tidak bergeming.

“Kau membuat Seohyun ketakutan setengah mati.” Tiffany tetap tidak bergerak. Hanya melanjutkan memotong buah didepannya.

“Tiffany ??” Jessica berjalan mendekatinya. “Hei…” Suaranya melembut. “Aku tidak bermaksud berteriak padamu…” Jessica mendengar isak tangis pelan saat ia berdiri di samping Tiffany. Jessica merangkul pundak Tiffany, perlahan dia mengambil pisau dari genggaman lemah Tiffany.

Tiffany tetap menatap piring buahnya, suaranya benar-benar lemah. “Dia tidak mau berbicara denganku.” Tiffany mendorong piringnya menjauh, menyandarkan kepalanya diatas meja. “Aku—…” Tiffany mencengkram dadanya. “Ini sangat menyakitkan Jessica… Aku tidak berpikir aku bisa menahannya…..aku… hatiku…..” Jessica mengusap lembut pipi Tiffany, lalu menyeka air matanya. “Jujurlah pada dirimu sendiri….”

“Kau selalu berkata seperti itu, tapi apa maksudnya ??” Sorot matanya yang sedih menatap Jessica. “Apa maksudnya itu Jessica…??”

“Maksudnya adalah, tanyakan pada dirimu sendiri apa yang sebenarnya kau inginkan..”

“Apa yang ku inginkan ?? Apa yang kuinginkan adalah, supaya dia melihatku lagi, untuk tersenyum padaku, untuk membiarkanku duduk disampingnya dan menyandarkan kepalaku dibahunya. Terkadang, dia akan membiarkanku masuk kekamarnya dan berbaring disampingnya. Dia akan berpura-pura tertidur tapi aku tahu dia terbangun.” Tiffany memejamkan matanya, suaranya serak. “Tapi aku akan menyerahkan semua itu jika dia mau berbicara denganku, jika dia memanggil namaku ketika dia pikir aku tidak mendengarkannya, aku ingin dia memanggilku Fanny-ah…. Untuk memanggilku apa saja…… aku hanya ingin dia berbicara lagi padaku…. Aku…. Aku….. aku ingin TaeTaeku….”

**

Taeyeon meletakkan kuncinya diatas meja didekat pintu lalu berjalan menuju sofa. Setelah tertidur di restoran tadi, dia tidak benar-benar merasa lelah dan tidak melihat alasan untuk membangunkan Hyoyeon dengan kepulangannya yang sudah sangat terlambat ini.

Aku akan bermain video game malam ini, dan tidur pagi harinya… dengan itu—….”

“Apa kau pernah berpikir ini sudah larut malam ??” Tiffany berdiri dari sofa. “Kau pergi tanpa memberitahu siapapun kemana kau pergi dan kapan kau pulang.” Suaranya lirih dan lemah. “Apa kau tahu, betapa khawatirnya aku ??” Lanjutnya, lalu memeluk kedua lengannya. “Betapa takutnya aku ??”

Taeyeon menahan dirinya untuk menghibur gadis didepannya, dia tahu dia tidak akan mampu menyembunyikan perasaannya lagi. Taeyeon tetap menundukkan kepalanya.

“Bahkan sekarang, kau tidak mau berbicara padaku…” Tiffany kembali merebahkan dirinya disofa. “Bahkan sekarang….” Tiffany membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, berusaha menahan isak tangisnnya. “Mengapa kau melakukan ini ?? Apa salahku ??”

“……..”

“Tidak bisakah setidakknya kau melihatku ??”

“……….” Taeyeon mengepalkan kedua tangannya erat.

“Kumohon…” Suaranya terdengar putus asa. “Plisss, lihat aku…”

Suara tangisan Tiffany semakin keras, Taeyeon tahu dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dia tidak bisa menjadi orang yang membuat Tiffany menangis. Tiffany tidak layak mendapatkannya.

Dia tidak melakukan hal ini dengan sengaja. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

Taeyeon mendesah lalu duduk disamping Tiffany.

“Jangan menangis Fanny-ah…” Taeyeon memeluk bahu Tiffany menariknya supdaya lebih dekat. “Uljima…”

Tiffany mencengkram erat lengan Taeyeon. Tangannya gemetar karena berada dalam pelukan hangat Taeyeon. Perlahan air matanya mulai mereda. Inilah yang dia butuhkan, apa yang mereka berdua rindukan.

Saat ini, Taeyeon lupa mengapa dia menyangkal dirinya sendiri pada gadis yang dapat membuatnya bahagia. Sepertinya, tidak ada alasan yang layak mengapa ia melakukan hal ini.

“Aku benar-benar minta maaf Taeyeon.. Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan semuanya. Aku hanya berpikir jika aku bisa meyakinkan semua orang bahwa aku berkencan dengannya.. hatiku akan….” Tiffany menggelengkan kepalanya. “Tapi semuanya malah bertambah buruk…” Bisiknya. Air matanya mulai jatuh lagi. “Aku harap aku tidak pernah membaca cerita itu, maka semua ini tak akan pernah terjadi… Mungkin sampai sekarang kau masih akan menyukaiku…”

Tiffany….

Taeyeon tidak mau menyiksanya lagi. Tiffany menyakiti dirinya sendiri. “Fanny-ah…”

“Taeyeon….” Tiffany mendorong tubunya, suaranya panik. “A—Aku ingin mengatkan sesuatu padamu……… maukah kau mendengarkannya ??”

Taeyeon mengangguk saat dia meliat Tiffany memeluk dirinya sendiri.

“A—Aku… Aku….  Aku jatuh cinta kepadamu….”

-TBC-


Iklan

53 thoughts on “LOVE IS HARD Part 8”

  1. Woahhhh…
    awal yg sangat tidak terduga >_<
    panny nyatain perasaannya??
    apa dia serius??
    panny tolong jangan permainkan hati taeyeon.. udh cukup banyak menderita dia sma sikap lu 😦

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s