FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 9

LOVE IS HARD

Author             : Roykilljoy

Indo Trans      : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard

Genre              : Romance

Main cast         : SNSD Member, Taecyeon 2PM

Warning          : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

original version :

MY JUICE BOX HEART 

Chapter 20

Tiffany menatap TV didepannya, “Aku mulai menyadarinya beberapa bulan yang lalu, ketika aku mulai membaca cerita itu.” Dia menyeka air matanya, yakin dengan ucapannya. “Pada awalnya, aku sangat takut, aku tak pernah berpikir seseorang akan menggambarkan secara rinci apa yang aku rasakan. Dan disitulah, hatiku dalam internet dan melihat seluruh dunia. Semakin aku membacanya, semakin aku menyukainya. Semua yang ingin kukatakan, semua yang ingin kulakukan ada disitu. Aku menunjukkannya pada Sunny, tapi dia tidak merasa seperti yang aku rasakan. Saat itulah aku rasa, itu sangat berarti untukku. Aku mulai menunggu setiap chapter, ingin tahu apa petualangan baru atau sweet moment yang kita miliki. Aku tidak tahu kapan, tapi terkadang aku lepas kendali. Aku menemukan diriku memelukmu lebih lama, atau duduk denganmu lebih dekat…” Tiffany tersenyum singkat. “Aku selalu mencari-cari alasan untuk bisa dekat denganmu… Aku…Aku mulai percaya kalau itu semua sangat NYATA. Hanya saja, beberapa minggu yang lalu aku menyadari kalau aku melakukan kesalahan itu.”

***

[Flashback]

“Mmhh… TaeTae..” Tiffany terus menciumi gadis yang ada dibawahnya. Dia memeluknya erat begitu juga dengan Taeyeon.

Kita harus menghabiskan setiap hari seperti ini TaeTae. Tiffany membuat lingkaran dibahu Taeyeon dengan jari telunjuknya. Pada saat itu, semuanya sempurnya. Semuanya.

“Kurasa ini sudah rusak..”

“Betul sekali…”

“Ini tidak rusak—!! Jangan berakata seperti itu !! Aku menyukai benda ini !!”

Tiffany mengerang lalu berdiri dan melepaskan pelukannya pada Taeyeon yang sedang tertidur pulas dibawahnya. Dia melirik jam sebelum mencari tahu asal suara berisik tersebut. Sooyoung, Yuri dan Sunny berkumpul di dapur mengelilingi TV putih kecil diatas meja.

“Kau bisa membelinya, kau tidak perlu membawanya dari rumahmu..” Sunny duduk di meja, melihat Sooyoung mengutak-atik TV itu.

“Itu tidak sama, Appaku yang membuatkannya untukku.” TV itu berderak sebelum sebuah gambar muncul dari layarnya.

“Bagaimana itu ??” Sooyoung bertanya pada Yuri yang sedang berada tepat didepan TV.

“Bagus..” Yuri mengangguk.

Sooyoung menepuk kedua tangannya, “Woo… Lihat… Sudah kubilang… itu tidak rusak..”

“Hey, apa kalian tidak keberatan jika pindah kebawah ??” Tiffany melirik gadis yang sedang Tidur di belakangnya, secercah senyum mengembang di pipinya. “TaeTae sedang tidur..” Tiffany berjalan menuju kulkas.

“Fanny-ah… lihat apa yang kupunya !!” Sooyoung tersenyum sambil menunjuk kotak putih didepannya. “Sekarang kita bisa makan sambil menonton TV.”

“Menyenangkan.” Tiffany mengangguk, mengeluarkan sepotong roti.

“Apa yang kau lakukan ??” Tanya Sooyoung sambil mengambil remot disamping benda itu.

“Hm ?? Oh… membuat sandwich untuk Taeyeon dan aku.”

“Buatkan aku juga..” Sooyoung memindah-mindah saluran TVnya.

“Kau baru saja makan didalam mobil…” Desah Yuri. “Ngomong-ngomong, dimana kau tadi ?” Yuri menatap Tiffany. “Sicca ingin kau untuk menemaninya belanja.”

“Aku dan Taeyeon pergi keluar..”

“Apa kau tidak membawa HPmu ?? Kami mencoba menghubungimu berkali-kali.”

“Anio..” Tiffany menggelengkan kepalanya. “Kadang, aku ingin mematikannya saat aku sedang bersama— Maksudku, saat aku pergi keluar..”Yuri tampaknya tidak menyadari hal itu.

“Oh, Okay… kita akan  pergi sebagai gantinya..”

“Dimana Sicca ??”

“Dalam perjalanan.”

“Bisakah kau berhenti mengganti-ganti salurannya, kepalaku pusing.” Gerutu Sunny.

“Kau bahkan tidak menontonnya.” Sooyoung meletakkan remote di atas meja. “Lagipula mereka tidak menarik..” Desah Sooyoung. Dia menyandarkan kepalanya saat dai melihat adegan emosional pernikahan di layar TV. “Aku tidak sabar sampai seseorang datang menjemputku..”

“Jangan terlalu memikirkan hal itu. Mungkin, itu akan terjadi.”

“Terkadang, hanya itu yang bisa dipikirkan.” Sooyoung merosot dari tempat duduknya.

“Jinjja ?? Aku tidak pernah… memikirkannya.” Yuri menuang segelas air.

“Sama..” Tambah Sunny.

“Bagaimana denganmu Fanny ??” Mata Sooyoung terlihat sayu saat memikirkan tentang pria yang akan menjadi pendampingnya kelak.

“Apakah kau pernah berpikir tentang namja chingumu nanti seperti apa ??” Kau praktis dapat melihat hati di matanya.

“Mengapa aku butuh namjachingu jika aku memiliki Tae—,” Matanya melebar saat ia menjatuhkan pisau yang dia gunakan untuk memotong roti untuk Taeyeon. Dia benar-benar focus pada makannan didepannya sehingga membuatnya tidak memikirkan apa yang telah dia katakan. Suara telepon rumah bordering membawa pikirannya kembali focus memikirkan jawaban atas kesalahannya. “cyeon.”

“Siapa ??” Tanya Sunny lalu melompat dari kursinya untuk mengangkat telepon.

“Taecyeon… kubilang Taecyeon…”

“Mwo ?? Sejak kapan ??” Sooyoung berbalik menghadap Tiffany.

Tiffany menangkat bahunya, matanya menelusuri lantai.

“Kita jalan bersama.”

“Yeah tapi—,”

“Seo kau sudah siap ?? Oh…. Unnie Sicca ingin kau membantunya membeli bahan makanan.” Yoona berlari kedapur, meletakkan dua kantong plastic di dekat TV.

“Oh… The Pink Monster sudah bangun….”Yoona melemparkan tangannya ke udara. “Pagi ini aku melihatnya tidur diatas Taeyeon Unnie. Dia terlihat seperti sedang menggelitikinya !!” Yoona tertawa lepas. “Apakah kalian melihat Seohyun ??”

“Aku disini !!” Seohyun muncul dari lorong.

“Bagus, apa kau sudah siap untuk pergi ??”

Seohyun mengangguk lalu berjalan menuju pintu.

“Dimana jaketmu ??”

“Apakah aku memerlukannya ??” Seohyun berjalan mengikuti Yoona.

Yoona berlari ke lemari. “Di luar sangat dingin.” Dia membantu Seohyun mengenakan mantelnya. “Sudah siap ??”

“Kalian mau pergi kemana ??” Sahut Sooyoung.

Yoona mengangkat bahunya. “Aku akan pergi ke rumah orang tuaku besok, jadi aku ingin berjalan-jalan hari ini.” Yoona membuka pintu. “Serius, seseorang harus membantu Sicca Unnie.”

“Aku akan pergi !!” Tiffany menyambar jaketnya lalu berlari menghampiri duo maknae didepan pintu.

[Flashback End]

***

“Aku tidak bisa memikirkan cara untukku memperbaikinya, komentar Yoona—, aku keceplosan. Aku tahu jika aku tetap berada didekatmu mereka akan mencari tahu, kau mungkin juga akan tahu. Aku mulai panik. Pilihannya adalah berhenti berada didekatmu atau memberitahukan padamu semuanya. Aku tidak bisa memilih salah satunya.” Tiffany membenamkan kepalanya pada kedua tangannya, mencoba meredam kata-katanya. “Kupikir, jika aku pacaran dengan Taecyeon aku bisa sedekat mungkin denganmu seperti yang kumau dan tidak ada yang curiga. Tapi kemudian, kau mulai menghindariku, dan…. Dan….” Tiffany mengangkat kepalanya membiarkan air matanya mengalir dari matanya yang penuh harap. “Aku—Aku tahu kau tidak merasa seperti yang aku rasakan, aku tahu kau tidak mencintaku, tapi….” Tiffany terisak, nafasnya tersenggal. “Tapi tolong jangan jauhi aku !! Jangan membenciku !! Hatiku tidak bisa menerimanya.” Suaranya parau dan putus asa. “Sebelum malam itu, aku tidak berpikir aku bisa hanya menjadi temanmu, tapi sekarang aku tahu aku bisa. Aku janji !!” Dia membenamkan kepalanya di kedua tangannya lagi. “Aku lebih memilih menjadi temanmu daripada tidak memilikimu sama sekali.”

“Meng—,” Otak Taeyeon kembali berputar setelah mendengar pengakuan Tiffany. “Mengapa kau tetap mengatakannya ??”

“Huh ??” Tiffany hati-hati mengangkat kepalanya, takut dengan kata-kata Taeyeon.

“Tiffany…” Taeyeon menggenggam kedua telapak tangan Tiffany. “Saranghae..”

Tiffany mengerutkan dahinya, “Mwo ??”

“Saranghae… Jeongmal Saranghaeyo…..” Kata-kata itu mengalir dengan mudah dari mulutnya.

“Tapi…” Tiffany menggelengkan kepalanya. “Tapi kau bilang—, kau tidak merasa seperti itu.”

“Kapan—??”

[Flashback]

Dia membalikkan wajahnya kearahku, membuatku terpaksa harus menatap matanya.

“Kau tidak berpikir aku seperti itu kan ??”

“M-Mwo ??”

Wajahnya tergambar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Pandanganya tampak takut dan khawatir. Sedangkan matanya terlihat terluka dan malu.

“Jalan cerita itu… kau tidak berpikir aku seperti itu kan ??”

“Fany-ah…”

[Flashback End] (Clue : Love Is Hard part 1)

Apakah itu ??

Apakah itu yang dia maksud ??

Tapi dia tampak begitu bingung, sebuah pikiran tiba-tiba menelusup kedalam otaknya.

Bagaimana jika dia salah paham ?? Bagaimana jika Tiffany sebenarnya khawatir karena penasaran dengan jawaban Taeyeon. Bagaimana jika dia sedih karena dia takut dengan kata-kata yang akan Taeyeon ucapkan. Bagaimana jika dia malu untuk mengungkapkannya ??

“Tiffany…” Tangannya menangkup pipi Tiffany yang sedang menangis dan menyeka air matanya. “Saranghae…”

“A—Aku…”  Tiffany membuka mulutnya untuk berbicara, tapi dihembuskannya dan jatuh kedalam pelukan Taeyeon. Tidak ada alasan untuk meragukan kata-katanya.

Tubuhnya relax sambil menyandarkan kepalanya di lekuk leher Taeyeon, Tiffany menutup matanya. “Saranghae TaeTae…” Dia bisa mengatakannya seribu kali tanpa lelah.

Taeyeon tersenyum, perutnya bergejolak mendengar kata-kata lembut Tiffany. Taeyeon menutup matanya lalu bersandar di lengan sofa sambil menarik Tiffany dengannya. Tidak ada yang bisa menandinginya. Ini adalah Surga. Ini adalah kebahagiaan.

(#Well, Thanks to Jessica guys…. *Bow Jessica Unnie… Kamsahamnidaa* Plakk untuk menyadarkan Tiffany dari ‘kebodohannya’ hanya gara2 keceplosan doang dengan tega menyakiti hati Taenggoo Unnie ?? Huhuhu) #Plakk.. It just FanFic anyways..)

Epilog

Taeyeon berbaring di tempat tidur sambil tersenyum memandang gadis yang sedang tertidur pulas disampingnya. Sejak pengakuan mereka beberapa hari yang lalu, mereka secara rutin tidur bersama setiap malam. Semua member di dorm, merasakan perubahan atmosfir di dorm dari bubbly Tiffany dan dorky Taeyeon, meskipun ada yang ingin tahu apa yang menyebabkan perseteruan yang terjadi tiba-tiba kembali normal tapi tidak ada yang perduli untuk bertanya. Ada yang takut, beberapa ada yang sudah tahu dan beberapa lagi tidak perduli.

Taeyeon merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan benda kecil didalamnya. Dia sedang memandangi sosok sempurna dalam dekapan hangatnya. Sekarang sudah sekitar pukul dua malam. Ia tahu karena dia telah menghitung saat-saat sejak Tiffany tertidur, menunggu yeoja chingunya tertidur pulas. (baca : Her Girlfriend : Pacar perempuannya, ‘kata Nya/Her berarti perempuan)

Yeoja chinguku… Senyumnya melebar. Hanya dengan mengatakan hal itu saja, dia sudah merasa seperti semua mimpinya menjadi kenyataan.

Taeyeon merentangkan kalung itu dan perlahan-lahan membungkuk kedepan, mengalungkan kalung perak itu di leher jenjang Tiffany. Jari-jari Taeyeon menelusuri rantai sampai bandul cincin yang diukir dengan nama mereka berdua. Taeyeon menyelipkan bandul cincin itu dalam kerah piyama Tiffany. Tiba-tiba Tiffany meraih tangan Taeyeon.

“Apa yang kau lakukan ??” Tiffany tersenyum, lalu membuka sebelah matanya.

“Kau belum tidur ??” Tiffany mengangguk kecil sambil menguap. “MMmmmhh… Menikmatimu menatapku…” Tiffany mendekatkan wajahnya pada Taeyeon. “Aku suka saat kau melakukannya.”

Dia meletakkan tangan Taeyeon dibawah kepalanya dan menyandarkan pipinya di telapak tangan Taeyeon. “Kau tidak bisa tidur ??” Tanya Tiffany, tangannya menelusuri kalung dibawah bajunya. “Apa ini ??”

Taeyeon melihat Tiffany menarik rantai dibawah bajunya, tiba-tiba rasa takut menghantuinya.

Bagaimana jika ini terlalu cepat untuk memberinya hadiah ?? Ini baru tiga hari…

Tiga hari yang menakjubkan, Taeyeon tersenyum.

“Oh, TaeTae… Ini… Ini….??” Tiffany bangkit berdiri lalu berlari menghadap cermin yang tergantung diatas meja Taeyeon.

Taeyeon mengangguk dan tersenyum melihat ekspresi shock Tiffany. “Kupikir aku menghilangkannya.”

[Flashback]

Taeyeon merangkak di bawah lantai tempat tidur Hyoyeon, mencari sesuatu yang hilang. Dia tidak berpikir banyak saat dia melemparkannya malam itu, tapi sekarang dia membutuhkannya.

“Dimana ya ??” Taeyeon mendengus, “Seharusnya disekitar sini…”

“Jadi Tiffany, ya ??”

“Huh—Aduh !!” Taeyeon terkejut, kepalanya membentur tempat tidur Hyoyeon. Sontak, dia bangkit dan merapikan bajunya saat Hyoyeon berjalan mendekat.”

“Hay.. Hyoyeon.. kupikir kau sedang keluar…” Taeyeon berusaha sebaik mungkin agar suaranya tidak terdengar mencolok.

Hyoyeon mengabaikan gumaman Taeyeon, lalu menarik laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu. “Kotaknya rusak.”

“…………” Hening…

“Ini sangat cantik…” Dia menggantungkan kalung itu, menunggu Taeyeon mengambilnya. “Apa kau mencari ini ??”

“Hyo… Aku….” Taeyeon tetap membeku. “Aku bisa menjelaskannya…”

“Tidak perlu…”Ejek Hyoyeon. “Aku tahu tatapan itu…”

Dia meraih tangan Taeyeon lalu meletakkan kalung itu di telapak tangan Taeyeon. “Aku senang kalian memperbaikinya, apapun diantara kalian berdua.”

Hyoyeon berjalan mendekati pintu sambil menyeret kakinya, “Kau harus memberikanya sekarang.” Lalu berhenti di ambang pintu. “Kau tidak mau membiarkan waktu berlalu terlalu lama, kan ??”

Waktu ??

Cara Hyoyeon mengatakannya, sama persis dengan kata-kata Jessica malam itu.

[“Dia tidak akan menerimaku, kurasa waktu berlalu terlalu lama.”]

“Jessica ??” Taeyeon menghembuskan nafasnya. Pikirannya melayang.

Hyoyeon tetap diam, “Kau ??” Taeyeon menunjuk Hyoyeon. “dan dia ??”

“STOP !!” Hyoyeon menggelengkan kepalanya, “Berhenti !!” Dia berjalan keluar sebelum Teyeon dapat menyelesaikan kata-katanya.

[Flashback End]

Taeyeon menarik dirinya dari pikirannya, memutuskan bahwa ini yang terbaik untuk membiarkan bagian tentang Jessica dan Hyoyeon untuk dirinya sendiri.

“Tapi kapan kau…??” Tiffany memainkan jari-jarinya pada bandul cincin itu, mengagumi refleksinya.

“Awal bulan ini, saat kita berdua pergi belanja..” Taeyeon menatap Tiffany, “Dan ini jadi beberapa minggu yang lalu..”

“Aku tahu kau tidak keluar untuk mengangkat telpon..” Tiffany memukul-mukul bahu kekasihnya.

Suara Taeyeon lembut, “Aku akan memberikan ini padamu dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya.”

“Jinjja ??” Tiffany duduk disamping Taeyeon. “Kapan ??”

Taeyeon mengangkat bahunya, “Pada saat yang tepat.”

“Apa yang akan kau katakan ??”

Taeyeon mengangkat bahunya lagi, wajahnya bersemu merah. “Aku tidak tahu, apapun yang ada di kepalaku saat itu.”

“Ah…” Tiffany mengangguk lalu tersenyum lebar. “Baik, lakukan kalau begitu…”

Wajah Taeyeon semakin merah. “Lakukan apa ??”

“Kau tahu..??” Tiffany memegang kedua tangan Taeyeon. “Menyatakan perasaanmu padaku.”

“Eh ??” Tanpa sadar, Taeyeon menggauk kepalanya yang tidak gatal, matanya menelusuri seluruh ruangan.

“Apa yang salah ??”

“Tidak ada, itu hanya—,”

“Mwo TaeTae ??”

Sial !! Sial !!

“Kau…” Tiffany menarik kedua tangan Taeyeon kedalam pangkuannya, “tidak mau ??”

Suara Tiffany terdengar kecewa dan itu membuat Taeyeon merasa ngeri. “Tidak !! Bukan itu… Hanya saja… Bukankah kita sudah melakukannya ?? Tidakkah aneh jika aku melakukannya lagi ?? Lagipula, Hyoyeon mungkin mendengarnya….”

Tiffany melirik ketempat tidur didekat tembok, dimana Hyoyeon tertidur lelap. Dia berpaling ke Taeyeon lagi, mengangkat kedua tangannya lalu menelungkup pipi Taeyeon.

Tiffany tertawa lembut lalu membelai pipi lembut Taeyeon, “Kau malu kan ??”

“Anio…” Gumam Taeyeon.

Tiffany tertawa lagi, “It’s Ok TaeTae… Aku tidak akan memaksamu…” Tiffany menyandarkan punggungnya pada Taeyeon. “Lakukan kapanpun saat kau merasa nyaman.” Tiffany menepuk tempat tidur dibelakang Taeyeon. Taeyeon mengangguk dan berbaring disamping Tiffany, matanya tertuju pada langit-langit. Setelah itu, Tiffany menutup matanya dan bergabung dengan Hyoyeon yang sudah tertidur lebih dulu.

Taeyeon mendesah, berguling menghadap Tiffany. Taeyeon menelusuri wajah Tiffany yang sedang tertidur seperti yang sudah biasa dia lakukan. Dia memeluk bahu Tiffany. “Fanny-ah ??” Bisiknya lembut.

Saat Tiffany tidak menjawabnya, dia kembali berbalik menatap langit-langit.

“A—Aku…” Suaranya memecah kesunyian. “Aku menyukai bagaimana kau memiringkan kepalamu saat kau sedang bingung, alur alismu saat kau sedang berpikir. Aku suka saat kau sedang bersandar padaku atau menyentuhku dengan cara apapun. Aku suka caramu tersenyum padaku saat aku membuka pintu dorm. Entah bagaimana, sepertinya kau selalu ada saat aku baru pulang.” Taeyeon terkikik saat memikirkan hal itu. “Aku sering berpikir bahwa kau selalu menungguku, meskipun aku tahu kau tidak melakukannya.” Lanjutnya lalu mendesah. “Aku menyukai caramu memegang tanganku saat kita berdua sedang tidur. Aku harap aku bisa mengatakan hal ini padamu. Seharusnya sekarang ini lebih mudah kan ?? Tapi tetap saja, setiap kali kau melihatku. Aku……” Taeyeon menggelengkan kepalanya matanya terpaku pada gadis disebelahnya. “I Love You Tiffany Hwang….” Tayeon mendesah, tubuhnya menggigil. “Jack… aku tidak baik dalam hal ini.”

Hening….

“Kau sempurna dalam hal itu..” Isak Tiffany lalu berguling menghadap Taeyeon. Matanya yang berkaca-kaca menatap mata Taeyeon yang terkejut. Dia menyandarkan kepalanya pada telapak tangan Taeyeon lagi.

“Apa kau pernah tidur ??”

Tiffany tertawa. “Aku sudah bilang, aku suka saat kau sedang menatapku.” Tiffany tersenyum. “Aku tidak menyadari, kau tahu begitu banyak tentangku.”

Taeyeon menagangguk, tatapannya lembut.

“Kau tahu…” Tiffany menutup matanya. “Aku telah menunggumu…. Seperti di ceritamu..”

“Bagaimana kau….??”

Tiffany menyambar bandul kalung di lehernya. “Tulisan ini..” Tiffany membuka matanya, “Ini benar-benar cantik Taeyeon-ah..”

“Aku tidak yakin apakah kau berpikir itu terlalu cheesy.”

“Sama sekali tidak..” Jari-jarinya menelusuri bandul cincin itu. “ini membuatku ingin menangis.”

“Jangan…” tangan Taeyeon menangkup kedua pipi Tiffany lalu menyeka air matanya. “Ini kenyataan, kau tahu… kau adalah detak jantungku… Tiffany adalah detak jantungku.”

Tiffany mendesah, matanya berkilau dibawah lampu yang redup.

Keheningan memenuhi ruangan saat mereka menatap satu sama lain. Tiffany tersenyum saat dia melihat tatapan mata Taeyeon yang bolak-balik antara mata dan bibirnya. Pikiran mereka mencerminkan satu sama lain. Tiffany menutup matanya lalu membungkuk, menunggu Taeyeon untuk melakukan hal yang sama.

Taeyeon menarik nafas panjang sambil memegang kepala Tiffany. Ini merupakan ciuman pertama mereka. Taeyeon merasakan seperti ada kupu-kupu di perutnya saat ia mendekat pada bibir pink Tiffany.

Hidung mereka bersentuhan satu sama lain saat mulut mereka menyatu. Seketika perut Taeyeon terasa seperti meledak lalu mengirimkan gelombang kehangatan pada tubuhnya yang gemetar. Tiffany dengan lembut memeluk pinggang Taeyeon.

Taeyeon menuggu bertahun-tahun untuk ini meskipun ia telah menggambarkan hal ini dalam fantasinya berkali-kali sebelumnya, tapi dia tidak pernah mengira akan selembut ini.

Tiffany menarik Taeyeon sampai tubuh mereka benar-benar menempel. Dia dapat merasakan kehangatan yang beraasal dari tubuh Taeyeon. Tangannya menelusuri seluruh tubuh Taeyeon sambil membuka sedikit bibirnya, dia berharap Taeyeon akan melakukan hal yang sama. Tanpa ragu Taeyeon memenuhinya.

Taeyeon mendesah lemah saat lidah mereka bertemu, saling menyapa satu sama lain dengan anggunnya. Tangannya menarik kepala Tiffany, mencoba memperdalam ciuman mereka. Ciuman lapar mereka seketika berubah menjadi penuh gairah. Kaki Tiffany merangkak diatas kaki Taeyeon. Meskipun dia sudah kehabisan udara, tapi dia menolak menjadi yang pertama untuk melepaskan ciuman mereka. Semua ini adalah yang selalu dia pikirkan saat sedang berada di dekat Taeyeon, dan sekarang ini terjadi. Jantungnya berdetak lebih kencang, seolah-olah akan meledak seperti yang selalu dia rasakan saat dia memikirkan apa yang dia lakukan, dimana dia berada dan dengan siapa dia melakukannya.

Pelukan mereka berakhir ketika suara Hyoyeon yang menggeser selimutnya, mencemarkan udara yang penuh gairah. Taeyeon menjadi yang pertama untuk melepaskan ciuman panas mereka. Dia menarik nafas dalam dan mencoba menjernihkan pikirannya kembali. Tiffany melakukan hal yang sama lalu menatap dalam satu sama lain.

“Itu…” Nafas Taeyeon terengah-engah lalu menatap langit-langit. “….itu…. itu….”

“Aku tahu…” Dengus Tiffany, nafas mereka seirama. Dia berpaling ke Taeyeon, tangannya mengelus dahi Taeyeon. “Kau berkeringat…”

“Jinjja ??” Taeyeon menyeka keringat di dahinya, “Aku akan segera kembali.” Taeyeon menarik kakinya dari kaki Tiffany lalu berjalan kearah pintu, langkahnya seperti orang mabuk.

“Bisakah kau membawakanku segelas air ??”

“Tentu saja.” Perlahan Taeyeon membuka pintunya dan pelan-pelan berjingkat ke ruang depan, tapi langkahnya terhenti saat dia melihat dua orang gadis yang sedang duduk disofa, menguping pembicaraan hening mereka.

“Aku pikir dia akan membiarkanmu tidur disana.”

“Aku takut merepotkannya, jadi aku pergi.”

Yoona gelisah, menundukkan kepalanya. “Kau harus kembali ke kamar kita. Aku merasa berbeda saat tidak ada orang lain disana.”

“Jika kau perlu seseorang yang menemanimu, aku akan meminta salah satu Unnie untuk pindah” Kata Seohyun tenang.

“Aku tidak membutuhkan orang lain— aku perlu kau disana…. Di kamar kita.”

“………………” Hening.

Yoona mendesah, mengusap lengannya. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan Seo.” Dia memeluk dirinya sendiri. “Aku tidak mau semuanya berubah, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa memberikan seperti apa yang kau inginkan.”

“Aku tidak pernah memintamu melakukan apapun.” Suaranya tetap sama.

“Matamu mengatakan semua itu.”

“…………..” Hening.

“Seohyun ??”

Seohyun menatap Yoona. “Aku akan menunggumu..”

“Tapi bagaimana kalau……….”

“—Lalu aku akan memberikan jawabanku.” Seohyun bersandar di lengan sofa. “Selamat malam Unnie…”

Yoona berdiri, mengulurkan tangannya pada Seohyun, “Aku tidak akan membiarkanmu berada diluar sini.”

Taeyeon tidak menunggu untuk melihat apakah Seohyun menerima ajakan Yoona atau tidak. Dia menyelinap ke kamarnya dan perlahan menutup pintunya.

“Mana airnya ??” Tiffany melihat Taeyeon berjalan mendekatinya.

“Hm—Oh, aku lupa…” Dia berbalik ke arah pintu. “Tunggu sebentar, akan kuambilkan.”

“Tidak perlu…” Tiffany tersenyum lalu berguling. “Kembali ke tempat tidur, TaeTae…”

-END-

Or

-TBC- ???

Iklan

67 thoughts on “LOVE IS HARD Part 9”

  1. Dan yeah kita harus berterima kasih dengan sica karena telah menyadarkan panny gentang perasaannya
    ternyata yg suka sm sica itu hyo ??!!
    lucu jga klo di bayangin haha
    woah taeny kisseuan >_<
    first kiss pula.. aigoo tae kta2 lu
    yoonhyun msh abu2 nih

  2. Taeny jdian yeah!! Yoonhyunie msih gelap yoona unn blom brani memastikan
    Hyo sprtinya msih sakit hati sma pnolkan sica dulu
    Soosun sbuk main game mluk -_- tp epepnya mkin seru and mnegangkan and tmbah sneng sma sttus taeny skrang 😀

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s