FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 10

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author             : Roykilljoy

Indo Tran        : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)

Genre              : Romance

Main cast         : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.

Warning          : The Gendre is YuRi (Girl x Girl)

Prologue

“Kita sudah ada di mobil ini selamanya !! Mengapa kita tidak bisa hanya terbang kesana menggunakan pesawat ??” Sooyoung cemberut, mengalihkan wajahnya keluar jendela Van yang memuat member SNSD. Disamping supir ada asisten, dibelakang mereka ada Sooyoung, Sunny dan Yuri yang duduk pada baris pertama. Jessica, Hyoyeon dan Yoona dibaris kedua dan terakhir Taeyeon, Tiffany dan Seohyun di belakang. “Ini sudah enam jam !!” Lanjutnya, melipat kedua tangan didepan dadanya.

Sunny mengangkat bahunya sambil sibuk memainkan nitendo berwarna pink di tangannya. “Mungkin mereka tidak bisa menavigasinya.” Sunny menyandarkan dagunya di jendela, dia melihat awan salju yang semakin tebal menghalangi jalan. “Ini tidak seburuk yang kau pikirkan.”

“Kalian semua harus tidur.” Jessica menguap, tangannya telentang didepannya. Jessica bergeser menutupi tubuhnya dengan selimut yang tebal. “Aku dengar PD-nim ingin kita segera menyelesaikan script begitu kita sampai disana.”

“Kupikir kau sedang tidur.” Gumam Hyoyeon, melihat gadis yang sedang bergeser disamping kirinya mendekat ke jendela.

“Yeah…”

**

“Fanny-ah ??” Bisik Taeyeon pada gadis yang sedang bersandar di bahunya.

“Hm ??” Desah Fanny membenamkan kepalanya lebih dalam pada leher Taeyeon.

“Kurasa, kita hampir sampai.” Taeyeon menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga Tiffany, membuat Tiffany tersenyum. “Lihat kesana.”

Tiffany mengalihkan pandangannya pada jendela, dimana Taeyeon menunjuk. Matanya melihat beberapa bangunan mewah. “Wow.. apakah kau berpikir, kita akan tinggal disana—oh… lihat salju itu !!”

“Waw.. ini akan menjadi salah satu resor ski yang mewah.”

“Oh, seperti Aspen.”

“Seperti apa ??”

Tiffany tertawa sambil menggelengkan kepalanya, saat van berhenti. “Tidak apa-apa.”

“Siapa yang ingin syuting CF dalam cuaca seperti ini.” Gerutu Sooyoung.

Sunny bersandar pada Yuri untuk melihat keluar jendela. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya menyenangkan. Kita bisa pergi bermain ski.” Sunny menyingrai lalu membuka pintu van. “Tidakkah itu menyenangkan ??”

Seorang wanita menggunakan mantel yang tebal menghampiri para gadis yang berhamburan keluar dari van. Dia membawa sebuah earphone yang dipasang ditelinganya dan microfone kecil yang diselipkan disela-sela mantelnya. “Mmm… Mmmmhh… Ya pak… mereka baru saja tiba.” Dia membenarkan kacamatanya lalu menyuruh para member SNSD untuk mengikutinya. Dia mengatakan ‘ikuti saya’ tanpa mengeluarkan suara dan terus mengangguk-angguk pada orang yang sedang di telponnya. Tiffany menarik Tayeon melewati dua gadis yang masih ada didalam van. Sunny menyelipkan DS di saku mantelnya, perhatiaanya fokus pada seorang wanita yang sedang memimpin mereka melalui jalan yang ditutupi salju dan berjalan menuju gedung yang tinggi.

Taeyeon menyelipkan lengannya di pinggang Tiffany, mencoba menghangatkan gadis yang sedang menggigil di sampingnya.

“Aku sudah mengatakan kepada mereka untuk membersihkan semua ini.” Desis wanita paruh baya itu sambil menendang-nendang salju di depannya. “Kita mempunyai tamu penting minggu ini, kau ingin kami mengalami kecelakaan ?? Tidak ?? Bagus, sekarang perintahkan tim kemari untuk membersihkan jalanan.” Wanita itu berdehem kemudian berbalik pada seluruh member. “Selamat datang So Nyeo Shi Dae di hotel kami. Nama saya Lyn, saya salah satu manager disini. Jika kalian membutuhkan sesuatu, saya sarankan untuk meminta pada saya.” Lyn berbalik lalu tersenyum cerah pada gadis-gadis itu lalu berjalan mendekat pada mereka. “Jangan khawatir soal koper-koper kalian.” Sekelompok pria dengan mantel hitam yang seragam, berbondong masuk kedalam van. “Mereka akan membereskannya.” Katanya masih dengan senyum yang sama, meskipun deraan angin yang sangat dingin menerpa wajahnya. “Maaf, saya terburu-buru dan kami berharap meskipun jadwal kalian sibuk, kalian akan tetap menikmati kunjungan kalian di hotel kami.” Dua penjaga membungkuk lalu menarik dua pintu kaca besar untuk mereka masuk.

“Maaf Lyn Sshi ??”

“Ne Sunny Sshi ??”

Sunny tersenyum pada wanita yang mengenali namanya, “Aku melihat lift ski saat dalam perjalanan kemari, apakah itu beroperasi ??”

“Ya, banyak gunung terbuka untuk ski, snowboarding, dan kegiatan rekreasi lainnya. Saya harap kalian memiliki waktu untuk bersenang-senang dan menikmati fasilitas yang kami sediakan selama kalian berada disini.” Wanita itu melambaikan tangan diatas kepalanya, dua orang langsung muncul disisi kirinya. Mereka membungkuk pada member SNSD sebelum mengunci kedua lengannya di belakang punggungnya seperti tentara. “Direktur sudah siap, dua orang ini akan mengantar kalian ke lokasi syuting.” Dahinya berkerut lalu menjetikkan kedua jarinya. “Maafkan aku,” Dia melirik Taeyeon, “tapi apakah kita kehilangan seseorang ??”

**

“MMhh…” Jessica menenggelamkan wajahnya lebih dalam pada bantal, menutupi kepalanya dengan seimutnya.

Meskipun di van sempit, tapi menurutnya bisa tidur merupakan hal yang terbaik. Semua orang selalu menggodanya karena tidur terlalu lama atau sulit untuk dibangunkan. Tapi mereka tidak tahu bahwa selama ini dia tidak pernah tidur nyenyak karena gelisah. Setiap malam, pikirannya akan terjaga meskipun dia menutup matanya. Tapi hari ini lain, dia bisa tidur begitu nyenyak dan pikirannya begitu tenang. Dia begitu heran, mengapa bantal yang ia pakai begitu nyaman. Dia berguling dan bergeser mendekat pada punggung kursi. Dia membenamkan wajahnya pada material yang lembut, menikmati kehangatannya. Dia mulai bergeser lagi, tapi berhenti ketika dia merasakan bantalnya tiba-tiba bergerak. Sebuah pikiran lain merasuki kepalanya, lebih tepatnya realisasi.

Aku tidak membawa bantal.

Jessica memiringkan kepalanya, matanya bertemu dengan gadis didepannya. Seketika itu dia bangkit dan duduk, dia hampir saja memukul kepala Hyoyeon. Kata-katanya sangat tenang tidak seperti detak jantungnya yang tidak karuan.

“Mian…”

“Gwaenchana…” Gumam Hyoyeon pelan, matanya perlahan-lahan menatap Jessica.

Jessica melirik keluar jendela, “Dimana kita sekarang ??” semua yang bisa dia lihat adalah hamparan salju putih yang sangat luas.

“Di Hotel kita, kurasa.” Suaranya tetap rendah dan terkendali, mantap tak tergoyahkan.

“Apakah semua orang sudah masuk kedalam ??”

Hyoyeon mengangguk. “Ya.”

Jessica tersentak melihat betapa dinginnya Hyoyeon padanya. “Mengapa kau tidak membangunkanku ??”

Hyoyeon mengangkat bahunya, lalu menutup matanya.

Jessica mengerang frustasi lalu berdiri. Dia tahu gadis itu akan bersikap seperti itu, hal ini sudah menjadi rutinitas. Mereka tidak pernah berbicara banyak satu sama lain. Agar anggota yang lain tidak penasaran dengan udara canggung diantara mereka berdua, mereka akan mencoba untuk tidak masuk kedalam argumen atau perkelahian. Namun, saat mereka hanya sedang berdua, Hyoyeon tidak memiliki alasan untuk bersikap begitu baik pada Jessica. Daripada berpura-pura bercakap-cakap yang tidak penting dan tidak ada gunanya. Dia lebih memilih untuk memasang earphone di telinganya, menunggu sampai Jessica keluar dan bernafas lagi. Jessica tersenyum kontras. Meskipun Hyoyeon membencinya, mereka masih bisa melakukan sesuatu selain berdebat.

Wajah cerah Sunny memenuhi ruangan saat dia membuka pintu van. “Apa yang kalian berdua lakukan disini ?? Semua orang sudah menunggu !!”

“Mianhae… dia—….” Jessica menggelengkan kepalanya, tidak ada alasan baginya untuk menyalahkan Hyoyeon, dia tidak ingin menaburkan garam di atas luka. “Aku ketiduran..”

“Ayo masuk… disini dingin !!” Sunny menggosok-gosok kedua tangannya. “Kurasa ini semakin parah…”

__________

Chapter 1

“Jangan terlalu banyak bergerak… kau akan merusaknya..” Tiffany menyelipkan lengannya keluar dari bawah mantel merah mudanya. Menepuk-nepuk bagian atas rambut Taeyeon.

“Aku tidak bisa… Aku kedinginan.”

“Sini..” Tiffany merangkul bahu Taeyeon, membagi mantel bersamanya. “Lebih baik ??”

Taeyeon tersenyum, tenggelam dalam kehangatan pacarnya. “Sangat.”

Mereka melihat Sooyoung dan Yuri bermain salju beberapa meter dari mereka, tersenyum dan tertawa riang didepan kamera. Mereka sedang syuting iklan di salah satu halaman hotel yang megah. Disini banyak set alat peraga yang digunakan untuk memberi kesan wonderland musim dingin. Konsep untuk iklan mereka telah di review secara singkat saat dalam perjalanan dan secara rinci saat mereka baru saja sampai. Para member bermain dan menari di salju, sampai Tiffany lapar dan ingin makan ayam. Kemudian Taeyeon keluar dan mengabulkannya. Awalnya, seharusnya Seohyun yang menjadi pengantar ayam tersebut, namun sutradara melihat betapa akrabnya mereka berdua, jadi sutradara itu mengubah sedikit konsepnya. Setelah selesai syuting iklan, mereka di jadwalkan untuk pemotretan kalender baru. Semua jadwal mereka itu diklakukan di hotel ini diperkirakan akan berlangsung selama 4 hari. Jika semuanya berjalan dengan lancar.

“Kau bisa menungguku didalam jika kau kedinginan.” Tiffany merebahkan kepalanya di bahu Taeyeon, lalu menutup matanya.

“Dan meninggalkanmu diluar sini ??” Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Lagipula aku ingin melihatmu.”

“Kau yakin ?? Aku tidak ingin kau jatuh sakit.” Taeyeon menyelipkan tangannya pada Tiffany. “Aku yakin.”

Hening.

“Ah, siapa yang bisa bermain dengan perut kosong ?? Apa yang kau inginkan ?? Hmm….” Gumam Tiffany. Menghafalkan bagiannya. Taeyeon meremas tangan Tiffany yang sedang gelisah. “Kau akan baik-baik saja.”

Tiffany mengangguk, lalu melihat seorang wanita melambaikan tanggannya kearahya. “Kurasa, mereka memanggilku.” Tiffany melepaskan pegangannya dari Taeyeon lalu menatapnya.

“Lakukan yang terbaik.” Taeyeon tersenyum.

Tiffany menoleh kebelakang dan memberi ‘eye smile’ terbaiknya. “Jangan masuk angin !!”

Taeyeon mengangguk, merasakan wajahnya semakin memanas. Tiffany selalu memberikan sensasi ini padanya. Taeyeon tidak pernah memberikan dirinya sendiri kesempatan untuk menyadari hal ini sebelum mereka berpacaran, karena dia tidak mau memberikan dirinya sendiri harapan yang belum tentu benar, tapi saat hubungan mereka semakin dekat, dia mulai memperhatikan setiap tidakan Tiffany padanya, sekecil apapun. Dia menyukai hal itu.

Apakah itu Tiffany menyiapkan sarapan untuk Taeyeon di pagi hari, bahkan saat dia sendiri tidak punya waktu untuk makan. Atau, Tiffany yang menyalakan lampu di ruang tamu, jadi Taeyeon bisa dengan mudah menemukan jalan menuju kamarnya saat malam hari. Taeyeon menghargai itu. Salah satu kenangan favoritnya adalah salah satu dari tindakan kecil Tiffany. Itu mungkin adalah salah satu hal yang paling sederhana yang pernah dia lakukan. Tapi, sampai saat ini itu masih membuat jantung Taeyeon serasa mau copot saat mengingatnya. Memori itu akan selalu dia simpan dan tidak akan membiarkan satu orangpun mengetahuinya. Entah mengapa, dia merasa ini menjadikannya hal yang sangat spesial. Tayeon menyingrai dan tertawa, mempererat mantel merah muda yang menutupi badannya. Sooyoung dan Yuri berjalan melewati Tiffany, berjalan santai menyusuri jalan setapak tertutup salju ke arah Taeyeon. “Hey… kalian terlihat sangat bagus tadi.” Sorak Taeyeon.

Merka berdua menggeleng sambil mengiggil, tidak bisa fokus pada apapun selain membeku lalu masuk kedalam hotel melalui pintu kaca yang besar.

**

“I—I—Ini ko—kon—kon—yol!!” Gagap Sooyoung dengan gigi gemeletuk. Dia duduk dimeja. Memeluk tubuhnya yang memggiggil. Yoona membungkus Sooyoung dengan selimut yang tebal di bahunya sebelum ia meletakkan secangkir coklat panas diatas meja didepan Sooyoung. “Sepertinya ini semakin memburuk.” Sooyoung menatap Yuri yang telah menyeret kursi didepannya. “Sampai saat ini, saljunya belum berhenti turun.”

“Aku telah membaca ramalan cuaca, ini tidak akan membaik dalam beberapa hari ini.”

“Beberapa hari ??” Sooyoung membanting cangkir kosong diatas meja. Bukan karena dia marah, lebih tepatnya dia tidak dapat mengendalikan otot-ototnya yang sudah membeku. “Kita akan bekerja dalam cuaca yang seperti ini ??”

Jessica mengangkat bahunya, meraih cangkir lalu mengisinya kembali dan meletakannya di depan gadis yang lebih muda.

“Mugkin mereka akan mengatur ulang jadwal kita jika ini semakin memburuk.” Jessica melihat Seohyun yang sedang menatap Ponselnya. “Seburuk apa yang ramalan cuaca itu katakan ??”

Seohyun menggelengkan kepalanya, “Tetap didalam ruangan, kurasa ini akan terjadi badai salju.”

“Langitnya begitu gelap saat ini.” Gumam Yoona sambil melirik keluar jendela disamping pintu kaca. Jessica mengikuti tatapan matanya sebentar melewati Hyoyeon yang sedang duduk di sofa disamping Yuri, dia memasang Headphone di telinganya dengan mata tertutup, dia kembali menatap langit. Sekelompok awan putih kini berkumpul menjadi satu.

Taeyeon yang menggiggil membawa kembali pikiran Jessica. Dia melihat Taeyeon melompat dari kaki satu ke kaki yang lainnya supaya tetap hangat. Saat dia berpikir untuk menarik Taeyeon masuk kedalam, tapi tidak jadi ketika ia melihat Tiffany berlari kearah Taeyeon dan membawanya masuk kedalam. Mereka duduk berdampingan satu sama lain di ujung sofa. Yoona meletakkan dua gelas didepan mereka sementara Jessica menuangkan coklat hangat. “Apa yang terjadi diluar sana ??” Jessica menambahkan beberapa marshmallow untuk setiap cangkirnya.

“Mereka mendapat marshmallow dan aku tidak ??” Protes Sooyoung sambil menyeka kumis coklatnya.

“Kau terus meminumnya sebelum aku memiliki kesempatan untuk meletakkannya di cangkirmu.” Jessica mengalihkan perhatiannya pada troli es.

Tiffany dengan lembut mengusap tangannya ke rambut Taeyeon yang terkena salju karena terlalu lama menungguinya. “Mereka menyuruh kami untuk kembali masuk kedalam.”

Sebuah ketukan lembut terdengar dari balik pintu putih yang sangat besar di seberang ruangan. “Permisi, SNSD ??” Kata sebuah suara lembut. “Saya diperintahkan untuk mengantar kalian ke loby.”

**

Mereka disambut oleh Lyn saat mereka memasuki Lobby. Dia berdiri dibelakang marmer besar yang ada di conter. Pakaiannya elegan, berbeda dengan pakaian musim dingin besar yang tadi ia kenakan. Dia melirik komputer disampingnya dimana seorang gadis muda duduk dan mengetik di sebelahnya. Wanita paruh baya itu mendorong kembali kacamatanya pada hidungnya, tersenyum melihat para member SNSD datang menemuinya. “Jadi SNSD…” Dia memandangi para member. “Kami menyesal memberitahu kalian, bahwa proses syuting iklan kalian telah ditunda karena cuaca buruk. Kami diperintahkan untuk tetap menjaga semua orang didalam hotel sampai pemberitahuan lebih lanjut.” Dia berhenti sejenak. “Kami sudah menginformasikan kepada seluruh logistik tersebut dengen manager anda. Tapi saya merasa tidak tepat jika tidak memberitahu kalian secara pribadi. Sebagai pengganti dari hang-up, kami dari pihak hotel telah memindahkan semua barang bawaan anda ke Suite Duluxe kami.” Gadis muda disamping Lyn tersentak mendengar kata Suite. Hal ini tidak disadari oleh Lyn.

“Kita memiliki—Apa ??” Matanya menjadi gelap. “Baik, apakah pria itu ada disini ??—Lanjutkan…” Dia menggunakan tangannya untuk membersihkan daun telinganya. “Maafkan aku..” Dia memandangi seluruh ruangan mencari sesosok pelayan, tetapi tidak ada. Lyn menghela nafas, meletakkan tangannya pada gadis disebelahnya, “Antarkan mereka ke Suite, sembilan kunci.” Gadis itu berkedip berulang kali sebelum mengangguk. Lyn berpaling kembali pada gadis yang berada didepan mejanya.

“Dia akan mengantar kalian ke kamar kalian. Selamat menikmati liburan kalian…”

**

“Apakah kau ingin tanda tangan ??”

Sejak mereka memasuki lift, gadis itu berkali-kali mencuri pandang pada member SNSD, terutama Sooyoung. Gaids itu tetap diam sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Sooyoung barusan.

“Tidak ada kertas ??” Gadis itu menundukkan kepalanya dan mengatakan kata-kata pertamanya sejak mereka pertama kali bertemu dengannya.

“Maaf, tapi saya tidak diperbolehkan.”

“Benarkah ??” Sooyoung meletakkan tangannya kedalam kedua saku mantelnya. “Bagaimana kalau foto ??” Gadis itu kembali menundukkan kepalanya. “Saya tidak diizinkan.”

“Jinjja ?? Ini gila !!”

“Sooyoung !!” Seru Sunny. “Kami tak ingin membuatnya terkena masalah.”

“Ya..” Jessica bergeser dari tempatnya. “Aku tidak yakin dia diizinkan untuk berbicara.”

“Oh…” Sooyoung mengangguk, menyelipkan rambut pendeknya di belakang telinganya. “Bisakah kau memberitahu, berapa lama lagi kita sampai ??”

Gadis itu mengangkat kepalanya dan mengangguk singkat. “Sekitar 5 menit lagi. Suite Deuluxe berada di atas bangunan.  Sampai saat ini hanya dua tamu yang mempu membayar dan menginap didalamnya.”

**

Para member terkagum saat mereka memasuki kamar hotel yang sangat mewah. “Kalian akan menemukan jalan menuju kamar kalian masing-masing… selamat menikmati waktu kalian.” Gadis itu tersenyum lalu membungkuk dan berjalan keluar pintu.

“Wow !!” Yuri tersentak saat memasuki apartemen yang terlihat seperti kamar yang sangat mewah. Dia sangat terkesan, saat lift tiba-tiba terbuka dan langsung masuk didalam ruangan mereka. Sunny berlari menuju ruang tamu. Sebuah TV LCD yang sangat lebar, terpampang luas dan menggantung tinggi di dinding yang bercat putih. Dia menyingrai melihat sofa mewah berwarna biru tua yang melengkung mengelilingi sebuah meja kaca. Dia melompat kecil dan mendaratkan pantatnya pada permukaan lembut lalu menarik sebuah bantal dan memeluknya. “Sooyoung.. lihat TV ini !!”

“Hmm ??” Gumam Sooyoung dari dapur, di seberang ruangan dari arah ruang tamu. Dia membenamkan kembali kepalanya kedalam lemari es stainless stell yang sangat besar. “Sebentar… Kulkas ini benar-benar terisi penuh..” Dia meraup beberapa makanan kedalam pelukannya.

“Hei…” Jessica memegang pundak Sunny. “Bersiap-siaplah… kita mungkin akan berada disini beberapa hari kedepan.”

“Sica !!” Yuri melompat-lompat dari anak tangga berwarna putih spiral. “Lihat !! Ada tangga disini..”

“Ya !!” Sahut Yoona yang berlari menaiki anak tangga itu sammbil mengayun-ayunkan kakinya. Dia berlari bolak balik menaiki dan menuruni anak tangga itu. “Mereka menyala sebelum kau menginjaknya, lihatlah !!” Mereka cekikikan saat bermain-main dengan mesin itu seperti anak kecil. Jessica bergumam lalu dengan kesal meninggalkan mereka.

“Unnie.. hati-hati !!” Seohyun berdiri di ujung tangga, melihat tingkah kekanak-kanakan mereka.

“Bagaimana dia bisa tahu ?? Lihat aku Unnie !!” Yoona menyingrai pada Yuri, mengabaikan kata-kata Seohyun. Yonna kembali berlari, tapi tanpa disadari dia tergelincir dan hampir terjatuh untung saja, Seohyun dengan sigap menarik lengannya sebelum ia sempat terjatuh. “Kau harus lebih berhati-hati.” Teriak Seohyun di ujung telinga Yoona.

“Eh ??” Yoona mendorong dirinya menjauh lalu berjalan menuruni tangga. “A—Aku akan pergi mencari kamarku..”

“Hmm..” Sooyoung mengangguk sambil menikmati kue yang sedang dia kunyah. “Ide yang bagus, Mungkin, yang pertama datang, yang pertama dilayani, huh ??”

Yoona mengangguk lalu menarik Seohyun bersamanya. “Ya.. ayo kita pergi !!”

“Baiklah… jangan cepat-cepat..”

**

“Kasur yang mana yang kau inginkan ??” Yoona meletakkan kopernya diantara dua tempat tidur ukuran jumbo.

“Apa kau tidak keberatan jika aku barada disini ??” Seohyun berdiri didekat pintu kamar tidur sambil menundukkan kepalanya. “Denganmu ??”

Yoona mengerutkan dahinya, bergegas kearah pintu dan menutupnya, lalu berdiri didepan Seohyun. “Aku minta maaf, aku telah menendangmu dari tempat tidur. Aku hanya… Aku…” Dia menggelengkan kepalanya, sambil menundukkan kepalanya. “Aku tidak akan melakukannya disini..” Dia meletakka tangannya di pundak Seohyun, “Aku berjanji…” Dia tersenyum.

Seohyun kembali tersennyum, meluruskan kembali tubuhnya. “Tempat ini mewah, ya kan Unn ??” Yoona kembali ke ujung ruangan, dan mulai membereskan kopernya sambil mengangguk. Dia melirik kesudut ruangan, dimana terdapat balkon di samping pintu kaca. “Akan lebih baik lagi jika kita bisa pergi keluar. Apa kau melihat kolam renang di bawah ?? Dapur berada tepat disebelahnya.”

**

“Kalau aku tahu kita akan berada disini lebih lama, aku akan menyiapkan pakaian lebih banyak lagi.”

“Kurasa kita semua juga akan melakukannya.” Taeyeon merubuhkan tubuhnya pada tempat tidur yang sangat besar. “Ini benar-benar dingin diluar sana.” Dia mengambil headphone dari tas ranselnya dan menancapkannya pada I-Pod di sakunya.

“Kudengar, itu tidak akan berhenti selama beberapa hari.” Sunny meletakkan DS nya di meja rias yang tinggi disamping tempat tidurnya. Dia membuka koper yang berada disamping kakinya dan menarik sepasang pakaian hangat dari dalam tas nya lalu menyampirrkannnya di kedua bahunya. “Kupikir, kita harus mengambil sisi baiknya, anggap saja ini sebagai mini-vacation.”

Taeyeon tertawa, melirik gadis yang berdiri di samping tempat tidurnya. “Itu cara yang bagus untuk menganggapnya.” Dia memasang Headphone di telinganya, menenggelamkan suara-suara disekitarnya.

“Sooyoung mengatakannya..” Sunny mengangkat bahunya menuju pintu. “Woah Fanny-ah !! Apa yang kau lakukan disini ??”

Tiffany berdiri di tengah pintu, menyingrai pada gadis dihadapannya. “Aku tanya, apakah aku bisa berbicara denganmu ??”

“Yeah, ada apa ??” Sunny berhenti di tengah tangga.

Tiffany memainkan jari-jarinya dibelakang punggungnya, matanya menelusuri lantai. “Aku ingin meminta tolong sesuatu padamu..”

“Apa itu ??”

Mata sabitnya menatap gadis yang lebih pendek didepannya. “Bertukar kamar denganku.”

“Mwo ?? Wae ??” Sunny melanjutkan menuruni tangga. “Aku sudah mulai menata semua barang-barangku.”

“Jebal… Aku berbagi kamar dengan anak-anak hyper aktif itu di dorm. Apakah aku harus melakukannya juga disini ??”

“Dan kau melemparkannya padaku ??” Sunny mengejek. “Tidak, terimakasih..”

Tiffany terus membuntutinya. “Kumohon… aku akan mengerjakan tugas-tugasmu selama seminggu—tidak, sebulan saat kita kembali ke dorm.”

“Mengapa kau tidak meminta Taeyeon yang bertukar kamar denganmu ??”

“Karena itu—….” Dia memangdang Sunny kebingungan saat Sunny berjalan masuk kekamar mandi. “Apa yang akan kau lakukan ??”

“Tidak ada Bath tub di lantai atas, hanya ada Shower.”

Tiffany menepukkan kedua tangannya, “Ada satu di kamarku…”

Sunny berhenti sejenak, tanganya terhenti di engsel pintu, suaranya seolah tak percaya. “Jinjja ??”

Tiffany dengan penuh semangat mengangguk dengan cepat. “Ya !! Itu sangat besar.. kau pasti akan menyukainya…”

Sunny tersenyum pada gadis yang sedang melompat-lompat didepannya “Kau benar-benar berusaha keras.”

“Aku…” Tiffany memainkan rambutnya. “Aku hanya membutuhkan teman sekamar yang tenang sekarang…”

“Okay…”

“Jinjja ??”

Sunny mengangguk sebelum Tiffany memeluknya erat. “Gomawo Sunny-ah…” Tiffany melompat-lompat kegirangan. “Gomawo…”

“Baiklah.. Baiklah… mari kita lihat seberapa besar bath tab itu.”

**

Sesosok mahluk berbalut merah muda merayap masuk ke kamar tidur yang mewah, matanya terpaku pada sosok yang sedang tengkurap sambil membolak-balik majalah yang tebal. Tiffany bersandar diatas tempat tidur. Dengan lembut ia mengusap rambut-rambut yang menutupi leher Taeyeon ke satu sisi dan perlahan-lahan mulai mencium lembut kulit halus Taeyeon.

Taeyeon mengerang saat dia merasakan kehangatan sentuhan kekasihnya itu, membiarkan majalahnya terjatuh dari genggamannya. Tiffany mencengkram punggung Taeyeon, menciumnya dan membuka jalan untuk kulit sensitif di bahu Taeyeon. Dia memang menyukai kedua sisinya, tapi Tiffany tahu bahwa Taeyeon lebih menyukai sebelah kirinya. Dia menancapkan sebuah gigitan kecil dan meninggalkan sebah kissmark disana, membuat Taeyeon mengerang dan menggeliat dibawahnya.

Tiffany memiringkan kepalanya lalu mendekatkan mulutnya pada telinga kekasihnya itu. “Bagaimana jika itu bukan aku ??” Kata Tiffany dengan nada suara yang panas dan menggoda.

“Aku tahu itu kau..” Gumam Taeyeon, dia meredamkan suaranya dibawah bantal, berusaha menahan suaranya. Tiffany melepaskan diri dari Taeyeon, mengambil majalahnya yang terjatuh dilantai.

“Bagaimana bisa ??”

“Rabutmu…” Taeyeon memalingkan wajahnya dari Tiffany, berusaha untuk menyembunyikan wajah merahnya. “Baunya benar-benar harum…”

Tiffany tersenyum. “Gomawo..”

“Itu membuatku memikirkanmu ketika aku menciumnya.”

Tiffany membelai rambut Taeyeon dengan lembut, “Aku merasa seperti aku tidak melihatmu selama sebulan..”

“Karena itu memang kenyataannya.” Gumam Taeyeon berbalik menatap Tiffany. Wajahnya bersemu merah merona. “Kau pergi pagi-pagi sekali dan aku pulang saat sudah larut malam, yang bisa kita lakukan hanya tidur bersama sekarang.”

“Ah… Kau begitu cute saat sedang marah..” Tiffany mengusap punggung Taeyeon. “Jangan khawatir, aku barusaja meminta Sunny untuk bertukar kamar denganku.” Dia menyingrai. “Kita bisa menganggap semua ini seperti liburan pribadi kita berdua. Salju terus turun dan kita tidak bisa keluar kemana-mana.” Suaranya melembut, matanya berkilau dibawah lampu tidur. “Ini akan sangat menyenangkan.” Taeyeon tahu betul tatapan itu sekarang. Jantungnya berdetak sangat kencang seperti menaiki roller coster. Dia membelai pipi Tiffany, bergeser lebih dekat pada Tiffany.

“Yah !! Kids.. Disana kalian rupannya !!” Suara Sooyoung menggema dari pintu. (Ganggu banget sih.. hahaha) Ia mengetuknya sebentar sebelum membukanya. “Ya !!” Dia berteriak pada seseorang di bawah tangga, tatapannya sekarang tertuju pada dua orang gadis yang terlihat panik di atas tempat tidur. “Aku menemukanmu sekarang !!” Dia melirik pada Taeyeon dan Tiffany yang sekarang sedang duduk-duduk di ujung tempat tidur. Tiffany membolak-balik majalah sedangkan Taeyeon sedang berpura-pura mengangguk-anggukkan kepalanya seirama dengan musik hening di Headphone yang dipasang di telinganya. “Aku menemukannya Yuri…” Sooyoung mengalihkan pandangannya pada Yuri yang sedang berada di ujung lorong. Setelah itu, Yuri muncul disebelah Sooyoung, “Kau mengatakan pada Sunny kalau dia boleh memakai bath tub kita ??”

“Oh… Eh,, kita bertukar kamar.”

“Aw… Disitu ada Jet Airnya, Dia akan berada disana selamanya !! Sekarang, apa yang sedang lakukan ??”

“Hm ??” Tiffany mengangkat bahunya sambil menggeleng. “Tidak ada, hanya membaca..” Tiffany menatap Sooyoung. “Apa kau membutuhkan sesuatu ??”

Sooyoung menatapnya bingung lalu tertawa kecil, “Sica memesan makanan dari restoran hotel. Kalian harus turun jika ingin makan.” Sinar mencurigakan dari matanya, menunjukkan arti tawaran yang sebenarnya. Jessica tidak akan membiarkan siapapun makan kecuali jika mereka semua sudah lengkap bersama-sama. Taeyeon meletakkan Headphone nya di atas kasur lalu bangkit berdiri. Dia menatap Tiffany lalu melihat majalah terbalik yang ada di tangan Tiffany. “Ayo Fanny-ah, kau lapar kan ??” Gumam Taeyeon, sekarang dia tahu alasan mengapa tadi Sooyoung tertawa.

Tiffany mengangguk, mengikuti Taeyeon menuju kearah pintu. Mereka berjalan menlewati area dapur di lantai atas kemudian beberapa kamar lalu tangga spiral menuju dapur utama. Seohyun bertemu mereka di tangga, berjalan kearah yang berlawanan.

“Maknae !!” Sooyoung menghalangi jalan Seohyun menggunakan tangannya. “Jangan bilang kau belum siap makan malam ?? Aku baru saja selesai memanggil semua orang !!”

Seohyun tersenyum sambil menggeleng, “Aku mau mengambil beberapa piring, sepertinya yang ada dibawah tidak cukup—.”

“—Kita akan mengambilkannya.” Tiffany memegang tangan Taeyeon lalu menariknya kembali menaiki tangga.

“Kau yakin ??”

“Ya.” Tiffany tersenyum singkat. “Kita akan turun sebentar lagi.”

-TBC-

Iklan

49 thoughts on “LOVE IS HARD Part 10”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s