SNSD, SOSHI FF, Two Shoot

PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT]

PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT]

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Please Forgive My Selfishness (Marry Me..)

Genre              : GENDER-BENDER, Drama, Romance.

Main Cast        : TaeNy

Sub Cast          : SooSun, YulSic.

                          Taeyeon Kim (Namja)

                          Tiffany Hwang (Yeoja)

                          Choi Sooyoung (Namja)

                          Sunny (Yeoja)

                          Kwon Yuri (Namja)

                          Jessica Jung (Yeoja)

Chapter           : Two Shoot.

Warning          : The genre is Gender Bender

[1st Shoot]

 

Prologue

“Aish… Ini masam… aku gak suka.” Tiffany memuntahkan kembali es krimnya.

“Huh ?? Aneh sekali ?? Bukankah kau menyukai strawberry ??” Taeyeon mengerutkan dahinya.

“Memang seperti itu rasanya strawberry…” Sunny menyendok es krim strawberry vanilla nya.

“Aku mau strawberry yang benar-benar manis..”

“Kau benar-benar aneh..” Sooyoung angkat bicara.

“Yah… kau tetap berhutang padaku.. jangan menghinaku…”

Sunny dan Taeyeon tertawa sedangkan Sooyoung cemberut.

“Eww… Jangan cemberut seperti itu, aku sudah pernah bilang, itu sama sekali tidak cute.” Tiffany mencoba mencicipi es krimnya sekali lagi.

“Kurasa itu cute…” Sooyoung seketika tersenyum.

“Itu karena dia pacarmu… aku ragu, kau akan bilang taeyeon cute kalau cemberut.”

Sunny tertawa kecil. “Sebenarnya, aku juga merasa kalau Taeyeon itu cute.” Sunny menerima tatapan mematikan baik dari Tiffany maupun Sooyoung.

“Yah.. Apa itu maksudnya ??” Sooyoung menatap pacarnya yang pendek.

“Oppa… maksudku… Taeyeon itu sudah kuanggap seperti Oppaku sendiri dan dia juga banyak membantuku bersamamu kembali…”

Semuanya mengangguk dan tertawa, sampai tiba-tiba…

Hwekkk.. Hweekkk… Hweekk..

Tiffany membungkam mulutnya sambil memegangi perutnya.

“Baby.. kau kenapa ?? Sakit ??” Taeyeon mengecek kening Tiffany.

Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ehm.. kurasa ada yang mau menggelar pesta pernikahan nih..” Celetuk Sunny. Sooyoung hanya mengangguk-angguk dan tertawa kecil.

Mata Taeyeon melebar, lalu menatap Tiffany.

Tiffany hanya menggeleng-geleng sambil mengangkat bahunya dan masih menutupi mulutnya.

“Chagiya… kita harus ke dokter sekarang… NOW !!” Taeyeon menggangdeng tangan Tifffany. Sunny dan Sooyoung yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak-bahak.

“Sepertinya apartemen mereka bakalan rame tuh…” Sooyoung mengangguk masih tertawa.

Prologue End

Taeyeon Pov

Aku langsung menyeret Tiffany keluar dari restouranku setelah pertemuan kami dengan SooSun couple beberapa saat yang lalu, aku benar-benar bersyukur mereka akhirnya bahagia dengan jalan yang mereka pilih. Aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan Soo kalau dia sekali lagi berani menyakiti hati si danshin itu, hehehe.

Oiya, hampir lupa, entah mengapa tadi tiba-tiba Tiffany serasa ingin muntah-muntah. Dia bilang dia sangat mual, apa jangan-jangan ?? Apa jangan-jangan apa yang dikatakan SooSun benar. apakah Tiffany ?? Ouch… Oh My God… bagaimana ini jika dia benar-benar ?? Kita bahkan barusaja bertunangan. Aku harus segera ke dokter untuk memastikan kebenarannya.

“T—Tae…” Tiffany gemetar, aku merasakan tangannya sangat dingin. Aku memeluknya erat, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Sssh…. Kita ke dokter dulu.. Ok..” Aku merangkulnya lalu membukakan pintu mobilku yang kuparkir tak jauh dari pintu keluar.

__________

“Selamat tuan… Istri anda positif hamil 3 minggu.” Aku memaksakan senyumku pada Dr. Park lalu membungkuk. Aku menatap Tiffany, dia benar-benar terlihat shock. Semenjak Dr. Park pergi meninggalkan kami berdua disini, keheningan memenuhi ruangan. Aku meliriknya, dia sedang menggigit bibir bagian bawahnya, pertanda dia sedang kebingungan. Aku sedang berpikir keras, bagaimana semua ini bisa terjadi ?? Pikiranku melayang pada malam itu, malam saat kita pertama kali melakukannya. Sekitar 3 minggu yang lalu.

[Flashback]

Aku meminum gelas ke 5 Wine yang tadi kupesan. Aku benar-benar tidak menyangka, bagaimana bisa dia tega melakukan hal itu padaku ?? Aku melihatnya, yeah… benar-benar melihatnya bersama seorang pria lain. Pria itu menggandeng tangannya dan merangkulnya.. Oh, Shitt … Apa dia tidak cukup denganku ?? Apa aku kurang sesuatu di matanya ?? Meskipun pria bernama Shiwon itu lebih tinggi dan yeah… harus kuakui dia tampan dan tubuhnya atletis. Tapi, dia bukanlah pria baik-baik, aku pernah melihatnya menggoda beberapa wanita di bar. Aku yakin pria itu adalah dia. Bagaimana bisa tunanganku menghianatiku ?? Aku terus meminum Wine ku. Aku memang jarang minum sebelumnya kecuali Soju, aku memang gampang sekali mabuk. Bahkan Tiffany pun masih tahan minum daripada aku.

Aku mulai merasakan kepalaku sedikit berat dan terasa pusing, mataku mulai berkunang-kunang, mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar mabuk. Aku menyandarkan kepalaku pada meja ditengah bar ini. Aku benar-benar merasa pusing sekarang. Aku ingin melupakan semuanya, meskipun hanya sesaat. Semua ini membuatku frustasi. Aku benar-benar belum siap melepaskan dia. Aku terlalu mencintainya, hanya Tiffany yang ada dihatiku.

Aku merasakan seseorang merangkul pundakku. “Tae.. Apa yang kau lakukan ??” Aku mendengar suara yang sangat kukenal, aku mendengarkannya setiap hari. Aku hanya menggeser kepalaku kesamping tanpa menoleh kearahnya. Kepalaku terlalu berat untuk mengadah. Dia mencoba menegakkanku, tapi tidak bisa, aku ambruk kembali ke kursiku dan membenamkan wajahku pada permukaan meja. “Tae… Mengapa kau seperti ini ??” Aku mendengarnya terisak. Aku hanya bisa memohon berharap semoga dia segera menghentikan tangisanya. Aku benar-benar tidak bisa mendengarkannya menangis saat ini. Terlalu menyakitkan.

Aku merasakan seseorang lagi menopang lengan sebelah kananku dan sepasang tangan lembut yang selalu menggandengku, menopang lengan sebelah kiriku. Aku mencoba yang terbaik untuk tidak ambruk, dengan sekuat tenaga, aku berjalan tegak dan membiarkan mereka menuntun langkahku. “Gomawo Shiwon Oppa..” Aku mendengarnya mengatakan hal itu samar-samar. Aku segera menolehkan kepalaku ke kanan, What The Hell ?? Pria itu… Aku segera menghempaskan tanganku dan memukul keras tangannya yang berada di lengan kananku lalu mendorongnya paksa. “Tae, apa yang kau lakukan !!” Teriaknya mencoba menghentikanku.

“Gwaenchana Fanny-ah, It’s Ok, dia sedang mabuk..” Fanny ?? What The— ?? Hanya aku yang boleh memanggilnya Fanny.

Aku berusaha memukulnya, tapi sepasang tangan menghentikanku. “Kita pulang sekarang Tae… Kau mengacaukan semuanya..” Katanya lalu menyeretku kedalam mobil. Mwo ?? Bahkan sekarang, dia menganggapku sebagai penghancur ?? Perusak suasana ?? Aku ingin tahu, apa yang sebelumnya mereka berdua lakukan sampai-sampai aku mengganggu waktu berharga mereka ??

__________

“Tae.. kau tidak seharusnya melakukan semua ini…” Dia menatapku nanar begitu kita sampai di apartemen. Aku hanya bisa menyingrai, kepalaku terlalu berat untuk berdebat dengannya. Dia menuntunku menuju kamarku lalu merebahkanku diatas kasur empukku berwarna biru tua. Aku memejamkan mataku, beberapa saat kemudian, aku merasakan sesuatu yang hangat diatas kepalaku, dia mengkompresnya, lalu menyuapiku sup serta memberiku beberapa obat yang harus kutelan. Setelah itu, aku memejamkan mataku, beberapa jam kemudian, aku mulai membuka mataku, aku masih melihatnya menungguiku dan beberapa kali memeriksa kepalaku, menyeka keringatku,  dan memegang telapak tanganku. Aku menatapnya, tapi kepalaku masih pusing, meskipun tidak sepusing tadi, setidaknya aku sudah sedikit sadar sekarang, aku sudah bisa melihat dengan jelas siapa yang ada didepanku saat ini. “Ah Tae… Kau sudah bangun… Apa kepalamu masih pusing ??” Dia memeriksa dahiku. Aku tidak menjawabnya, hanya menatapnya dingin. Dia mengerutkan dahinya. “Mengapa kau melakukan hal ini Tae ??”

“Mengapa aku mengganggu waktu berhargamu dengannya ??”

“Apa maksudmu Tae ??”

Aku menyingrai. “Apa maksudku ?? Menurutmu apa maksudku ??”

“Berhenti bermain-main denganku Tae… aku benar-benar tidak mengerti apa maumu sekarang ini ??” Katanya dengan sedikit emosi.

“Apa mauku ?? Aku mau kau menjelaskan semuanya…” Aku mencoba membuat suaraku sedatar mungkin.

“Apa yang harus aku jelaskan padamu ?? Aku akan mengatakan semuanya…” Dia menatap dalam kedua bola mataku.

“Benarkah ?? Lalu apa hubunganmu dengan Shiwon ??”

Matanya melebar, shock. “Shiwon ?? Jangan bilang kau…”

“Jawab saja..” Aku mulai kehilangan kesabaranku.

“Dia itu hanya… hanya…. Seseorang yang kukenal…”

“Seseorang yang mencuri hatimu, huh ??”

“TAE !! Apa maksudmu…”

Aku mengejek. “Jika kau sudah bosan denganku, bilang saja.. kau tidak perlu bermain kucing-kucingan seperti itu.. Kau tahu aku tidak suka itu…”

“Aku tidak punya perasaan apapun padanya Tae…” Dia mempertegas kata-katanya.

“Tidak punya ?? Lalu apa yang kau lakukan kemarin bersamanya ?? Dia menggandengmu, bahkan merangkulmu. Lalu sekarang, kau bersamanya di bar itu ?? Ch.. betapa beruntungnya aku memilikimu.”

 Dia memutar kedua bola matanya lalu menggenggam erat kedua tanganku. “Tae… dengarkan aku, AKU dan DIA tidak ada hubungan apapun, kita hanya sebatas teman, dan kemarin aku hanya memintanya membantuku, dan sebagai imbalannya, dia memintaku membantunya dengan sesuatu, kumohon, percayalah padaku Tae… hanya kau lah yang ada di hatiku, saat ini dan selamanya.”

“Bagaimana bisa aku mempercayaimu jika yang kulihat kemarin adalah seperti itu ??”

“Tae.. jika kau mencintaiku.. kau harus percaya padaku…”

“Jika kau MASIH mencintaiku, apa yang akan kau lakukan untuk membuatku mempercayaimu ??” Tanyaku serius.

“Apapun..” Katanya mantap dan penuh keyakinan. “Bahkan jika kau memintaku terjun dari gedung ini.”

Aku menyingrai. “Benarkah ??” Dia mengangguk lalu bangkit berdiri. Aku memegang tangannya. “Baiklah, kalau begitu, berikan tubuhmu padaku…” Kataku penuh emosi.

Dia menggigit bibir bagian bawahnya.

“Mengapa ?? Kau tidak bisa ?? Berarti kau sudah tidak mencintaiku…” Aku berbalik.

“Ani Tae.. bukan seperti itu.. Aku hanya… hanya… kau belum sepenuhnya sadar Tae.. Kau masih mabuk, aku bahkan ragu kau masih mengingatnya pagi besok. Kau hanya emosi sesaat Tae…”

Aku menyingrai, “Alasan… Kau hanya ingin memberikan tubuhmu padanya kan ?? Atau jangan-jangan kau sudah melakukan itu dengannya, ya kan ??” Tanyaku penuh emosi. Dia hanya menatapku nanar lalu beringsut kearahku, dia menciumku sangat keras dan penuh emosi, aku melihat dan merasakan setetes air mata mengalir melalui kedua sudut matanya, degan kasar dia mencopot bajunya dan membuangnya kesembarang tempat.

“Ini kan yang kau mau ??” Dia masih menatapku nanar, sorot matanya penuh emosi. Aku jadi merasa bersalah padanya, akhirnya aku mendorongnya.

“Sudah, lupakan saja tentang hal ini…” Saat aku akan meraih bajunya dilantai, dia menghentikan tanganku.

“Anio Tae.. aku akan menunjuukan padamu kalau aku masih benar-bnear mencintaimu.. dan yang harus kau ingat, ini pertama kalinya aku melakukan hal ini dan HANYA DENGANMU…” Dia mencopot Bra dan Underwear Pinknya lalu melemparnya kesembarang tempat, aku melongo melihat aksinya yang spontan ini. Tanpa kusadari rahangku terbuka lebar, lalu dia melompat keatasku dan mengunci mulutku,dia menciumku sekali lagi, tapi kali ini lebih lembut dan hangat, aku menikmati semua ini, tanpa kusadari, aku mulai terhanyut dan menikmati semua permainannya. Aku membuka sedikit mulutku membiarkan lidahnya menelusuri setiap inchi rahagku, lidah kita bertemu dan saling menyapa seirama satu sama lain. Perlahan, aku mulai membuka kemeja dan celanaku. Tangan kiriku meremas pantatnya sedangkan tangan kananku menelusuri dadanya. “Euh….” Dia mendesah lemah di bibirku.

“Kau yakin tidak akan menyesal ??” Aku menanyainya sekali lagi. Dia tidak menjawab, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tersenyum lalu melanjutkannya kembali.

Dia mulai menelusuri ABS ku dan jari-jari lembutnya membelai punggungku.. Lalu…

S.K.I.P

(Hahaha.. Mian,, Author ndak bisa bikin NC Gender Bender, Author rasa, para readers sekalian lebih pintar mengenai hal ini daripada Author.. Hehehe)

 

[Flashback End]

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Seharusnya kejadian itu tidak boleh terjadi, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Aku meliriknya, sekali lagi, dia sedang memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya di pahanya. Hatiku serasa teriris melihatnya seperti itu, sontak aku menghampirinya dan memeluknya. Dia tidak bergeming, isak tangisnya sangat pelan, sepertinya dia berusaha meredamnya. Aku mengusap lembut punggungnya.

“Sshh.. Gwaenchana… Shh…” Aku mencoba menenangkannya.

“Tae.. Eo—Toh—Khae ??” Katanya sambil terisak.

“Ssshh.. aku akan mencari jalan keluarnya…” Aku membelai lembut rambutnya. Tiba-tiba suatu pikiran merasuki otakku, bodoh memang, tapi rasa ingin tahu menghantui diriku.

“Kita hanya melakukannya sekali, apa kau yakin itu anakku ??” Pertanyaan bodoh mengalir begiu saja melalui mulutku. Aku tahu, tidak seharusnya aku menanyakan hal ini disaat yang seperti ini. Tapi aku tidak mau mati penasaran.

Dia menatapku dengan mata yang terbuka lebar, sorot matanya terlihat sangat terluka. Air mata mengalir deras melalui pipinya meskipun ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia membenamkan kepalanya pada telapak tangannya. “Tae.. bagaimana bisa kau mengatakan hal ini ?? Bukankah sudah kubilang, kau lah yang pertama dan satu-satunya yang pernah melakukannya denganku. Aku tak pernah sekalipun melakukannya dengan pria lain, tak pernah sekalipun. Bagaimana bisa kau berpikiran sekeji itu ??” Dia memukul-mukul perutnya. “Jika kau tak menginginkannya, kita bisa menggugurkannya Tae… asalkan kau jangan pernah meninggalkanku.. Au tidak bisa…” Suara tangisannya semakin menjadi. Aku merasa bersalah padanya, aku langsung menghentikan tangannya yang menyakiti dirinya sendiri dan bayi didalam kandungannya. Sekarang, megapa dia yang berpikiran seperti itu ?? Bayi itu tidak bersalah, dia tidak berdosa. Aku tidak bisa menyakitinya.

“Mianhae.. Mianhae.. Aku hanya shock.. iya, aku sepenuhnya mempercayaimu.. Ssh.. jangan lakukan hal itu lagi, dan jangan pernah berpikiran kau akan membunuhnya.. dia tidak bersalah, aku akan bertanggung jawab dan menikahimu.. Sshh..” Aku memeluknya erat, memegangi tangannya yang sedari tadi berusaha memukuli perutnya.

“Aku tidak mau kau melakukannya dengan terpaksa Tae, aku mau kau benar-benar yakin dari lubuk hatimu.. dan mencintaiku sepenuhnya… Tidak ada paksaan sedikitpun, meskipun keadaan yang memaksanya.”

“Ssh.. aku tidak merasa terpaksa atau dipaksa, aku akan menikahimu, karena aku tahu aku mencintaimu, semua ini hanya masalah waktu… cepat atau lambat, aku pasti akan menikahimu. Aku yakin itu, hanya saja sekarang, mungkin tuhan mempercepat waktuku memilikimu seutuhnya.” Keseriusan memancar dari mataku.

Dia menghentikan tangisannya sejenak, aku menatapnnya. Isakannya mulai tak terdengar dan nafasnya juga sudah mulai teratur. Dia menatapku lembut. “Benarkah ??” Aku mengangguk-anggukan kepalaku.

“Tentusaja, aku akan bertanggung jawab, aku akan melindungimu dan dia dari apapun juga. Meskipun dengan nyawaku, aku akan melakukannya.” Aku mengusap lembut perutnya yang masih datar. Dia tersenyum, lalu beringsut dan memelukku.

“Anio… Aku tak mau kehilanganmu, jika kau harus kehilangan nyawamu, itu artinya kau akan meninggalkanku sendiri bersama bayi ini. Apa yang harus aku lakukan kalau begitu ?? Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku tanpamu ?? Memikul beban ini sendiri ?? Aku tak mau…” Dia memelukku semakin erat, membenamkan kepalaku pada dadaku. Aku mengusap rambutnya lembut, dari kepala sampai punggungnya.

“Aku berjanji, aku takkan meninggalkanmu… Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku padamu, kata cinta saja tak cukup untuk mengatakan seberapa besar perasaan yang kumiliki untukmu. Aku akan melindungimu Tiffany Hwang… Apapun itu, mari kita menghadapinya bersama-sama…” Aku merasakan dia mengangguk dalam pelukanku, nafasnya begitu hangat dan menyejukkan. Merasuk kedalam relung-relung jiwaku. Aku tak mau kehilangannya, malaikat yang kini ada dalam pelukanku, akan kudekap selamanya dan takkan membiarkannya terbang menjauh dariku.

“Sudah.. tenangkan dulu dirimu, besok kita menemui orang tuaku, setelah itu Appamu.” Dia mendesah berat lalu mengadahkan kepalanya menatapku, sorot matanya tampak bingung dan ragu-ragu. Mungkin dia belum yakin tentang hal ini, meskipun dia tak mengucapkan sepatah katapun, atau…. Mungkinkah dia takut ?? Entahlah, yang pasti aku harus menenagkannya sekarang. “Sssh.. tenang saja.. semuanya akan.. baik-baik saja…” Aku meyakinkannya sekali lagi.

__________

Tiffany Pov

Sinar mentari pagi, menyilaukan mataku. Kehangatannya mulai menelusup kedalam dalam tubuhku, angin pagi ini seolah berdesir melalui kulitku. Perlahan, aku mulai membuka kedua mataku, meregangkan tangan dan kakiku.. Ouchh.. Aku merasakan sakit diperutku, OH My.. Aku lupa kalau sedang ada kehidupan baru dalam perutku, aku mengusapnya pelan. Setelah terasa mendingan aku meraba-raba tempat disebelahku, tempat dimana seharusnya calon suamiku berbaring malam tadi. Tapi aku tak merasakan apapun, seolah tak ada tanda kehidupan apapun, hanya sesuatu yang empuk dan yang kuketahui adalah sebuah guling yang tergeletak disitu. Aku menoleh, memang tak ada siapapun, aku mulai panik .. Ada apa denganku ?? Tak biasanya aku seperti ini… Padahal, sebelumnya aku tak pernah tidur seranjang bersamanya, yeah.. keculai malam itu. Malam berawalnya semua kekacauan ini.

Mataku mulai menelusuri setiap sudut ruangan, jantungku seolah berhenti berdetak. Aku takut dia akan meninggalkanku, aku takut dia tidak siap dengan semua ini dan meninggalkaku bersama beban yang harus kupikul sekarang. Aku tahu dia sudah berjanji padaku malam tadi, tapi tetap saja, itu tidak mengurangi rasa takutku akan kehilangan sosoknya. Aku mulai bangkit dari tempat tidurku, mengecek satu persatu setiap ruangan yang kulalui. Jantungku mulai tak karuan, lulutku pun seolah melemas, memikirkan kemungkinan terbesar yang akan terjadi.

Tidak Tae… Jangan lakukan hal ini… kumohon, jangan meninggalkanku sendiri.. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kau meninggalkanku saat ini. Mungkin lebih baik aku bunuh diri.

Air mata mulai mengalir melalui pipiku, menelusuri rahangku. Meskipun aku tidak menangis, tapi entah mengapa air mata itu terus mengalir tanpa bisa kukontrol. Emosiku benar-benar memuncak, aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Pikiranku benar-benar kacau. Tiba-tiba aku mencium bau sesuatu yang sangat harum dari arah dapur, aku menaikkan sebelah alisku. Aku mengikuti sumber bau tersebut, tak lama kemudian, aku menemukan diriku sudah berada didapur, aku melihat sosok yang kucari dari tadi berdiri membelakangiku, tangannya tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Aku mendesah lega, sambil tersenyum. Beban dikepalaku tadi seolah sirna. Aku menyeka air mataku. Saat dia akan berbalik untuk meletakkan sesuatu di meja makan, tanpa sengaja dia melihatku.

“Ouh.. Tiffany ?? Woah… kau membuatku kaget setengah mati…” Dia mengusap dadanya menggunakan tangan kirinya. Aku hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menatapku bingung lalu menaikkan sebelah alisnya. Dia meletakkan piring yang dari tadi dia pegang diatas meja makan lalu berlari kearahku. “Kau kenapa Tiff ?? Kau menangis ?? Apa yang salah ?? Apa kau sakit ?? Yang mana yang sakit ?? Perlukah kita pergi kedokter sekarang ??” Dia menanyaiku tanpa henti, aku tersenyum memandangnya. Air mataku kembali menetes. “Tiff…”

“……”

“Katakan sesuatu.. kumohon, jangan membuatku bingung seperti ini…” Dia memegang kedua pundakku. Aku menggelengkan kepalaku.

“Anio Tae… Aku hanya takut kau pergi meniggalkanku begitu aku bangun dan tidak menemukan dirimu disampingku pagi ini. Dan sekarang, aku lega karena melihatmu disini, lagi masih berada disisiku.”

Dia mendesah lega, “Kukira kau kenapa.. Chagi… Baby… dengar, aku KIM TAEYEON, tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Aku akan selalu berada disisimu dan meindungimu, tak perduli apapun yang akan kuhadapi.” Dia mengecup keningku, aku memeluk pinggangnya.

“Gomawo Chagi..” Aku membenamkan kepalaku didadanya. (Pura-puranya disini, Taeyeon lebih tinggi dari Tiffany ya.. hahaha). Dia mengusap kepalaku lembut.

“Sudah menjadi kewajibanku Chagi…” Aku mengangguk dalam pelukannya, saat tiba-tiba aku mencium bau yang menyengat, membuatku benar-benar ingin muntah. Aku mendorongnya dan menutup hidungku sambil melambai-lambaikan tangan kananku didepan mukaku, mencoba mengalihkan udara yang akan masuk kedalam lubang hidungku. “Bau apa ini ??” Dia menyingrit, menaikkan kepalanya sambil menghirup udara disekitarnya, hidungnya kembang-kempis seperti seekor kelinci.

“Apa ya ??” Dia memiringkan kepalanya, sedetik kemudian, matanya melebar seolah mau keluar dari kelopak matanya. “Oh.. My.. God… Aku lupa….” Dia beringsut lari menuju kompor lalu mematikannya. Dia terihat sangat frustasi. “Aishhh….” Dia memukul meja di depannya, lalu mengibas-ngibaskan tangannya kesakitan. Aku menghampirinya.

“Ada apa Chagi ??” Aku mendongak di bahunya. Melihat beberapa potong daging yang dicampur dengan beberapa bahan masakan yang sudah berwarna kehitaman dan tak berbentuk lagi.

“Tadinya aku mau memasakkan sesuatu untukmu, karena kupikir kau kecapekan kemarin dan kelaparan sekarang, tapi sepertinya sudah tidak perlu lagi. Aku sudah mengacaukan semuanya.” Dia mendesah lemah, aku tersenyum sambil memeluknya. Aku tertawa kecil.

“Gomawo Chagiya… kau lucu sekali, kita bisa makan di restoranmu seperti biasanya kan ?? Atau menyuruh seseorang untuk mengantarnya kemari…” Aku meyakinkannya.

“Tadinya, kupikir akan lebih baik jika aku bisa memasakkanmu sendiri, mungkin dia akan menyukai masakan Appanya. Aku ingin tahu, apakah dia menyukai masakanku ??” Dia mengusap lembut perutku lalu membungkuk dan menciumnya, “Baby… Apakah kau ingin mencicipi masakan buatan Appamu yang tampan ini ??” Aku memukul pelan punggungnya. Tertawa melihat tingkah dorky nya yang tak pernah bisa lepas darinya.

“Kurasa dia sangat menginginkannya, tapi dia tak mau melihat masakan gosong ini…” Aku memiringkan kepalaku sambil menutup mataku. “Oh, sepertinya dia juga ingin mencium Appanya saat ini.” Aku langsung berlari kepelukannya lalu menempelkan bibirku padanya dan mulai mengulumnya lembut, tak lama kemudian ciuman itu berubah semakin panas dan bergairah. Setelah merasa kehabisan udara, aku mendorongnya pelan lalu menarik nafas dalam.

“Aku ragu, apakah dia atau kau yang menginginkannya..” Dia tersenyum dorky. Lalu membelai lembut ujung rambutku.

“Um.. Aku rasa kita berdua… hehehe…” Aku memberikan ‘eye smile’ terbaikku untuknya.

“Aw…” Dia mengecup mata kananku. “Lakukan itu hanya padaku, aku tak mau orang lain jatuh lemas melihat senyumanmu.. Okey…” Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Semua yang ada didiriku hanya milikmu seorang Tae..” Dia mengecup dahiku.

“Good… sekarang, gantilah bajumu lalu berdandan yang cantik. Aku sudah mengatakan pada Umma akan mengunjungi mereka pagi ini.” Aku hanya mengangguk mengiyakannya. Memang kemarin, dia sudah mengatakannya padaku. Tapi sepertinya aku masih belum siap menemui mereka saat ini. Mereka memang orang yang sangat baik dan lembut, sudah beberapa kali aku menemui mereka. Mereka sangat menayangiku seperti anaknya sendiri, semua keluarganya menyukaiku. Tapi, entah mengapa aku masih merasa deg-deg.an, aku takut bagaimana reaksi mereka nantinya. Tapi aku tidak mau mengecewakan Taeyeon, aku juga ingin kita segera mempercepat pernikahan ini sebelum masalahnya semakin membesar.

Aku memasuki kamarku, mengambil sepasang pakaian yang menurutku pantas untuk kukenakan saat ini. Sebuah dress dengan design yang simple tapi masih terlihat anggun. Kuletakkan dress itu di atas kasur dengan sebuah syal dengan warna senada. Kemudian High heels yang tak terlalu tinggi, lalu beberapa asesoris simple hanya untuk mempermanis penampilan saja. Setelah semuanya beres, aku menyambar handuk di lemari lalu memasuki kamar mandi, aku harus benar-benar terlihat sempurna didepan keluarga Taeyeon. Aku tak mau tampil malu-maluin didepan mereka semua. Aku harus bisa menjadi calon istri yang sempurna untuk mereka.

Tak terasa sudah satu jam aku berada dalam kamar, aku masih berdandan, berkali-kali aku mengusap make-up ku karena kurasa berlebihan, lalu memoleskannya lagi, karena kurasa terlalu polos. Aku benar-benar merasa linglung saat ini, padahal aku adalah sesorang yang mempunyai sense fashion yang sangat tinggi. Tapi, mengapa saat ini otakku serasa tidak bekerja dengan benar.

Tok… Tok… Tok…

“Fanny-ah, kau sudah siap ??” Sudah ketiga kalinya Taeyeon memanggilku saat ini, dan jawabanku tetap sama.

“Belum Tae, sebentar lagi..”

Tiba-tiba dia membuka pintuku, “Aku sudah menuggumu sejak 30 menit yang lalu, apa yang membuatmu begitu lama ??” Taeyeon menghampiriku lalu menaikkan resletingku yang masih terbuka di punggungku. Aku mendesah berat.

“Apa menurutmu aku sudah cantik ?? Apa aku sudah layak bertemu dengan orang tuamu ?? Apa aku sudah terlihat sempurna, menurutmu apa yang kurang ?? Aku cocoknya make yang ini ata—…..” Dia meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirku.

“Sshh…. You are Beautiful enough honey… just the way you are. Be your self baby… huh ??” Dia membenarkan beberapa helai rambutku yang sedikit keluar dari tempatnya. Aku tersenyum lemah.

“Tapi, bagaimana kalau—…”

“Tidak ada tapi, tidak ada kalau…” Dia memegang kedua tanganku didadanya. “Aku yakin, ani… benar-benar yakin kalau orang tuaku akan dengan senang hati menerimamu apa adanya. Kamu cantik dari hatimu, itu sudah cukup untuk mereka. Tapi, betapa beruntungnya aku memilikimu yang cantik bagaimanapun dirimu.. Okay… Aku tunngu 15 menit lagi.” Dia mengedipkan sebelah matanya padaku lalu pergi keluar kamarku.

Aku tersenyum skeptic, kurasa apa yang dikatakan Taeyeon benar, tak usah dandan berlebih, mereka menyukaiku apa adanya diriku. Aku memoleskan beberapa make-up hanya untuk memberi kesan segar pada wajahku lalu memakai high hellsku dan pergi keluar menemui Taeyeon.

“See, my beautiful girlfriend… My pure angel… Kau sangat cantik, seluruh dunia mengakui hal itu.” Dia tersenyum dorky.

“Thanks My handsome boyfriend for giving me confidence. Love you..” Aku mengecup bibirnya, lalu menarik lengannya dan berjalan keluar rumah.

“Ini lebih seperti kita pergi ke rumah orang tuamu daripada orang tuaku.” Aku tertawa mendengar statementnya. Aku memang terlihat lebih percaya diri sekarang, aku berjalan dengan anggunnya dan penuh percaya diri sambil menggandeng lengan Taeyeon.

“Alright.. Alright.. Sekarang, biarkan aku membukakan dulu pintu untukmu..” Aku melepaskan gandengannya lalu dia membuka pintu mobil sambil membungkuk padaku seperti seorang pelayan.

“Silahkan masuk Tuan Putri…” Dia tersenyum sambil sedikit membungkuk. Aku melangkah dengan anggunnya lalu berbalik kearahnya dan mengecup singkat bibirnya.

“Gomawo Chagi…” Aku masuk kedalam jok depan sambil tersenyum. Dia menutup pintu mobilnya pelan lalu mmasuk kedalam jok kemudi disebelahku. Aku melihatnya tersenyum.

“Siap Chagi ??” Aku mengangguk. “Neee…” Dia menyalakan mesin mobilnya lalu melaju menuju tempat tujuan kita.

__________

“O—Omma.. A—Aku punya sesuatu yang penting untuk kukatakan padamu..” Taeyeon memulai inti pembicaraan.

“Apa itu Taeng…” Omma menatap kami lembut.

“Um.. Eeh… Kau… Uh… Aku… Ani.. Kami…” Taeyeon tergagap, aku meramgkul lengannya untuk menenangkannya.

“Woah.. Tarik nafas Taeng… Apa yang ingin kalian bicarakan ?? Sepertinya penting sekali…” Umma menggusap pundakku dan Taeyeon lembut sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku menggigit bibir bagian bawahku.

“Um.. Aku—..”

“Tiffany hamil.” Potong Tae. Mata Umma langusng membelalak.

“Kau…??” Aku mengangguk lalu memejamkan mataku, menunggu reaksi Umma selanjutnya. Aku berharap tidak ada kejadian diluar kendaliku. Jantungku berderu sangat kencang, tanganku benar-benar dingin meskipun cuaca hari ini agak panas. Umma mendesah berat lalu menatapku tajam. “Kau yakin ??” Aku mengangguk sekali lagi. Aku merasakan Taeyeon gemetar disampingku, tak lebih baik dariku. Aku mengucurkan keringat dingin, make-up yang tadi kupakai kini perlahan luntur terkena keringat. Umma tersenyum, hangat sekali. “Aku susah mengira ini akhirnya akan terjadi juga.” Aku mengerutkan keningku.

“Maksud Umma ??” Sela Taeyeon.

Umma menghela nafas, “Kau pikir tinggal serumah dengan seorang gadis, apalagi yang kau cintai, tidak akan terjadi apapun, huh ?? Umma kira kau ini tidak sepolos wajahmu.. hahaha… terkadang, kau memang sangat polos ya.. hahaha…” Umma dan aku tertawa, aku benar-benar setuju dengan Umma. Taeyeon memang tidak sepolos kelihatannya.

“Aish.. mulai lagi deh..” Gerutu Taeyeon sambil cemberut. Dia benar-benar cute dan tampan tentunya. “Lalu gimana Umma ??”

Umma mengerutkan keningnya. “Apanya yang bagaimana ??”

Taeyeon menepuk jidatnya, aku mengusapnya. Umma tersenyum melihat kehangatanku bersamanya. “Gimana dengan kita ?? Dengan Tiffany yang hamil dan bayi dikandungannya ??” Jelas Taeyeon yang sudah mulai tak sabar.

“Hm… menikahinya tentunya..”

“Yeah… aku pasti akan melakukannya Umma.. lalu bagaimana, apakah Appa dan Umma setuju dengan hal ini ??” Yang mengingatkanku saat ini, dimana Appa ngomong-ngomong. Saat aku akan bertanya, tiba-tiba Taeyeon menyelaku.

“Oiya…. Memangnya Appa kemana ??” Tanya Taeyeon sambil menelusuri seluruh ruangan.

“Hm… Appa ?? Sepertinya dikebun…” Tiba-tiba saja kita melihat Appa berjalan didepan jendela di ruangan ini. “Nah, itu dia… kebetulan sekali..”

“Appaaaa !!!” Taeyeon melambai-lambaikan tangannya didepan jendela yang transparan. Appa tersenyum dan berjalan memutar menuju pintu yang tak jauh dari jendela.

“Mwo Taeng ??” Appa masuk sambil tersenyum hangat. Saat Taeyeon akan menjawabnya, tiba-tiba saja Umma memotongnya.

“Sebentar lagi kita akan menimang cucu..” Kata Umma bersemangat. Mata Appa melebar, lalu menatapku dan Taeyeon. Aku merasakan jantungku serasa mau copot.

“Benarkah ??” Dia menaikkan sebelah alisnya. Taeyeon menggangguk kecil. Sebuah senyuman tiba-tiba saja mengembang di pipinya. “Wah… aku sudah tak sabar..”

“Appa ??”

“Mwo ??” Appa menatap Taeyeon bingung. Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Apakah kau baik-baik saja dengan kami, maksudku apakah kalian menerimanya dan bayiku dalam kandungannya ?? Karena aku akan segera menikahinya..”

Appa tersenyum, “Tentusaja, mengapa tidak, lagipula kan itu bayimu Taeng… Justru Appa akan sangat marah jika kau lepas dari tanggung jawab.” Umma mengangguk mantap.

“Appamu benar Taeng…” Senyum Umma mendadak menghilang. “Bagaimana dengan Appamu Tiff ?? Apa dia sudah tahu tentang hal ini ??” Sontak saja Atmoshfir yang tadinya penuh kehangatan, kini berubah menjadi canggung dan hening. Kita berdua tak bergeming, aku menundukkan kepalaku sementara Taeyeon menggeleng lemah.

“Aku dan Tiffany berencana akan memberitahunya besok.” Aku melihat Appa tersenyum.

“Bagus, cepatlah kalian mengatakannya padanya, dan menggelar pesta pernikahan.. Jangan menundanya terlalu lama.” Kami berdua mengangguk.

“Aku tak sabar, seperti apa cucuku kelak, pasti cantik sepertiku..” Umma tersenyum sendiri, akupun ikut tersenyum.

“Yah… apa yang kau katakan ?? Dia cantik seperti Ummanya, lagipula apa hubungannya denganmu ?? Nanti, cucu pertamaku pasti akan tampan dan gagah sepertiku..” Canda Appa. Langsung saja Umma menampar lengan kanannya. “Aw…”

“Ya.. siapa yang bilang kau tampan dan gagah, kalaupun dia laki-laki pasti akan tampan dan cute seperti ayahnya..” Taeyeon hanya memutar bola matanya. Aku tertawa kecil.

“Lagipula sebenarnya, siapa sih yang akan punya anak..” Gumamnya pelan. Tawaku semakin membesar.

“Apa yang kau bilang cute ?? Kau… Lihat apa yang kau lakukan ?? Selalu memakaikannya baju anak perempuan, lihat sekarang dia jadi seperti anak perempuan kan ??” Aku mengerutkan dahiku. Aku melihat Taeyon ternganga.

“Umma… jangan…bilang…”

Umma menjetikkan jarinya, “Ah, Tiffany.. kau pasti belum melihatnya, yak an ?? Aku akan menujukkan sesuatu yang menarik padamu.” Umma bangkit dari kursinya lalu berjalan masuk kedalam.

“Umma… Tidak lagi….” Mohon Taeyeon. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya merka bicarakan.

“Apa yang salah Taeng… Umma rasa ini sangat cute…” Umma langsung berlari menuju kamarnya. “Ah, dimana ya aku meletakkannya…” Suara Umma terdengar sampai sini. Seketika itu wajah Taeyeon langsung berubah cerah. Dia tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rapih, tapi justru itu membuatku semakin penasaran. “Ah… Ketemu…” Senyum di wajah Taeyeon seketika lenyap. Dia menghempaskan tubuhnya disofa dan membenamkan wajahnya kedalam bantal. Aku melihat Umma berlari kearahku membawa sebuah buku, eh.. bukan.. lebih tepatnya album foto. Aku memiringkan kepalaku.

“Apa itu Umma ??”

“Kau pasti menyukainya, buka saja…” Saat aku membukanya, aku mendengar Taeyeon bergumam di balik bantalnya.

“Jangan tertawa..” Gumamannya cukup keras sehingga kami semua bisa mendengarnya, umma hanya bisa tertawa sedangkan Appa menggelengkan kepalanya.

“Sabar ya Taeng… Appa yakin kali ini dia tidak akan kabur meninggalkanmu, yakan Tiff ?? hahaha..” Appa langsung nyelonong masuk kedalam kamar.

Aku mulai membuka sampul album foto berwarna biru cerah itu, seketika mataku disambut oleh sebuah foto seorang.. em… gadis ?? imut yang sangat mirip dengan TaeTae.. “Ini kakaknya Tae ?? Atau adiknya ??” Aku memringkan kepalaku. Takjub karena gadis itu begitu mirip denga TaeTae. Setahuku, TaeTae hanya mempunyai satu adik perempuan dan… tidak semirip ini. Umma memandangku sambil tertawa. Taeyeon menggumamkan kata-kata yang tak bisa kudengar dengan jelas dari balik bantal.

“Sesungguhnya, itu Taeyeon…” kata Umma enteng. Aku membelalak.

“Hah ?? Ta—Tae—Tae ??” Umma mengangguk mantap. Aku menatapnya sekali lagi, dengan mata yang benar-benar terbuka lebar.

“Karena dulu Umma ingin sekali Taeyeon menjadi anak perempuan, jadi Umma senang sekali memakaikan baju anak perempuan padanya.” Umma senyam senyum sendiri. Kemudian, Taeyeon bangkit sambil menutup album itu.

“Dan Umma membuatku menderita selama 4 tahun.” Mukanya terlihat kesal. Umma hanya tertawa.

“Yah, kau tetap harus berterimakasih pada Umma, kalau bukan karena itu, mana mungkin sekarang kau menjadi sepintar ini.” Umma membela dirinya.

“Maksudnya ??” Aku mengatakan kata-kata pertamaku semenjak mereka mulai berdebat tentang masalah yang sama sekali tak kuketahui. Yang kutahu hanyalah Umma ingin punya anak perempuan dan Taeyeon menjadi sasarannya.

“Aisshh..” Taeyeon kembali membenamkan wajahnya kedalam bantal biru disofa.

“Gini Tiff… karena kamu akan menjadi istrinya Taeyeon, kamu boleh tahu tentang ini.” Umma menatapku hangat. “Dulu, karena Taeng sering banget pakai baju cewek, dan pernah sekali aku memakaikannya saat dia di sekolah dasar, dia jadi di ejek dan dijauhi sama teman-temannya dan dia menjadikan belajar sebagai pelariannya selama 4 tahun.. Tidak, selama dia bersekolah sepertinya.. hahaha… dia itu sangat pintar, kau tahu kan ?? Meskipun sedikit Byun… hahaha.” Aku jadi tertawa mendengarnya.

“Yah… berhenti tertawa kalian berdua…” Taeyeon memasang muka memelas. “Bahagia diatas penderitaan orang lain.” Wajahnya cemberut, imuuut sekali, aku mencubit pipinya. “Aww..” Dia menggosok-gosok kedua pipinya.

“Harus kuakui Tae.. kau memang benar-benar imut dan…. Cantik disini… hahaha…” Tiffany menunjuk foto Taeyeon menggunakan dress berwarna biru dengan rambut disanggul kebelakang tapi tetap menyisakan beberapa helai didepan telinga dan tak ketinggalan poninya yang lurus kedepan sambil mengulum jari telunjuknya. “Rambutnya benar panjang begini ??” Aku bertanya pada Umma.

“Anio.. aku memasangkannya wig..” Umma tersenyum, sekali lagi TaeTae cemberut.

“Sudahlah Umma… jangan mulai lagi..”

“Hahaha… Sejauh ini hanya dua orang yang tahu tentang ini.”

“Dua ??”

“Yeah.. kau dan…… Sunmi…” Aku melihat wajah Taeyeon tiba-tiba berubah muram.

“Sun—Mi ??”

“Yeah… teman dekat Taeyeon dulu…” Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku, lalu membuka beberapa lembar, perhatianku tertuju pada dua sosok yang sedang bermain-main di pantai. Satu adalah Taeyeon dan satu lagi, seorang gadis cantik yang tak kuketahui siapa. Aku menatap foto itu, mereka tampak sangat…… Mesra…. Aku merasakan hatiku mulai terasa berat. Rasanya sangat menyakitkan melihatnya, kurasa aku cemburu pada gadis kecil ini. Umma mendekatkan wajahnya pada album yang sedang kubuka. Sepertinya dia melihat poker di wajahku. “Oh, itu SunMi.. yang tadi kuceritakan..” Umma tersenyum seolah menenangkanku. Jadi ini yang namanya SunMi.. mengapa mereka terlihat akrab sekali ya ?? Dan bagaimana bisa aku tidak mengenalnya ?? Aku mengenal hampir semua teman dekat Taeyeon, baik pria maupun wanita. “Tenang saja. Dia pindah ke Paris empat tahun yang lalu…”

“Sudah-sudah acara nostalgia nya.” Taeyeon segera menutup album itu sebelum aku sempat membuka halaman selanjutnya. “Umma, aku lapar, tadi kita tak sempat sarapan karena aku membakar masakanku yang sedang kubuat..”

Umma mendesah. “Tumben sekali kau, tak biasanya kau membakar masakanmu ??”

“Yeah… sedikit kecelakaan..”

“Baiklah, Umma juga sudah menyiapkan masakan kesukaanmu Taeng.. Meskipun kau bisa memasak sendiri dan lebih enak tentunya. Tapi Umma yakin, kau merindukan masakan Umma kan ??”

“Hahaha.. Umma tau aja…” Taeyeon meletakkan album itu diatas meja, kepalaku masih dipenuhi pertanyaan dan rasa ingin tahu dengan gadis bernama SunMi itu dan foto-foto selanjutnya. Entah mengapa, aku merasa dia special di hati Taeyeon. Melihat sorot mata Taeyeon memandang gadis itu dalam foto tersebut. Sebelum aku berhasil menjawab pertanyaanku sendiri, Taeyeon menggandeng tanganku dan membawaku ke meja makan. Kita semua makan dengan rasa penasaran yang menggila di otakku. Aku tidak ingin bertanya padanya, biarkan saja dia yang mengatakannya padaku jika sudah siap. Aku tak ingin memaksakannya, lagipula… dia tak kan mengambil TaeTaeku sekarang.

__________

Taeyeon Pov

Sudah malam sekarang, aku dan Tiffany sudah kembali ke apartemen kami. Aku melihat bulan bersinar dengan sempurna, menerangi hatiku yang sedang gundah. Sinarnya merayap masuk melalui sela-sela gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di setiap sudut kota Seoul. Tak pernah sepi dikota ini yang merupakan jantung Negara Korea Selatan. Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing masing, jalanan trotoar selalu ramai baik siang maupun malam. Lampu-lampu neon sign dan gedung selalu bersinar dengan anggunnya, seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling terang. Tak terkecuali hari ini. Meskipun begitu, terangnya takkan mengalahkan sinarnya bulan purnama malam ini.

Aku duduk disebuah kursi panjang di balkon apartemen. Ini merupakan tempat favoritku saat aku sedang butuh ketenangan. Angin bertiup seolah menyambutku dengan nyanyian heningnya. Aku tersenyum pada diriku sendiri, aku lega karena Umma dan Appa menerima keadaan ini. Ani, lebih dari itu, mereka sangat mendukungnya. Hanya tinggal satu masalah sekarang, yaitu dengan Appa Tiffany. Aku masih ragu, apakah dia menerima ini atau tidak. Harus kuakui, aku tak begitu dekat dengan keluarga Tiffany, karena Appanya selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tak punya waktu untuk anaknya sendiri. Tiffany selalu bilang kalau ayahnya seringkali pergi keluar negeri untuk mengurus bisnisnya. Dia hanya sendiri dirumah karena Unnie nya harus mendampingi Appanya yang merupakan asisten pribadinya. Jadi kerap kali Tiffany mengunjungiku dan kadang menginap dirumahku. Dia akan tidur dengan Haeyeon, adik perempuanku. Dia selalu bilang kalau dia menyukai keluargaku karena dia merasa nyaman bersama mereka. Dia tak pernah merasakan kehangatan itu dari keluarganya, aku jadi merasa kasihan padanya. Aku berjanji, aku akan melindunginya dengan jiwa dan ragaku.

“Tae…. Apa yang kau lakukan disini ?? Aku mencarimu dari tadi…” Katanya sambil cemberut. Hehehe.. ini semua memang kesalahanku, tiba-tiba saja menghilang begitu saja dari apartemen tanpa memberitahukan padanya.

“Aku…. Sedang mencari udara segar..” Aku mencoba tersenyum dengan semua pikiranku.

Dia mendesah. “Apa yang sedang mengganggumu Tae…” Dia memeluk lenganku. Yeah, kurasa takkan ada gunanya berbohong padanya saat ini. Dia memang tahu segalanya tentangku, meskipun aku ini pribadi yang tertutup, tapi entah mengapa dia seolah bisa membaca pikiranku dan tingkah lakuku. Itulah yang membuatku mencintainya, dia berbeda dari semua gadis yang pernah kukenal. Dia sangat istimewa.

“Besok….” Jawabku singkat.

“Kau tak perlu takut Tae… Kita akan menghadapinya bersama-sama.” Dia duduk disebelahku lalu menyandarkan kepalanya dibahuku.

Aku mendesah berat, membiarkan nafas yang tadi tercekat dibahuku bebas melalui hidungku. “Aku tidak takut…. Hanya saja…..” Aku melihat tiffany menatapku lekat.

“Kau tidak siap Tae ??” Ekspresinya berubah suram. Aku segera menggelengkan kepalaku.

“Ani, bukan seperti itu maksudku…. Aku…..”

“Jika kau tak menginginkammya, aku bisa menggugurkannya….” Dia menundukkan kepalanya.

“Tiffany…..” Aku menelungkup dagunya, membuatnya tepat pada kedua bola mataku. Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. “Dengarkan aku, kau harus janji… jangan pernah berkata seperti itu lagi, aku takkan pernah meninggalkanmu dan dia… Aku akan melakukan apapun agar kita semua bisa hidup bahagia bersama. Diriku, Hatiku, dan Cintaku hanya milikmu… Begitupun sebaliknya, jadi jangan pernah mengatakan hal bodoh seperti itu lagi, Okey…” Aku menyeka setetes air mata yang mengalir di pipi lembutnya. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Aku janji…”

Aku melihatnya memejamkan kedua matanya, aku bisa melihat apa yang dia ingin aku untuk lakukan. Tanpa pikir panjang, aku langsung memiringkan kepalaku kesamping lalu menutup kedua mataku dan sedikit membungkuk. Bulan purnama dan angin malam ini menjadi saksi suci cinta kita berdua. Aku merasakan kehangatan bibirnya menyentuh bibirku ditemani dengan hembusan angin sejuk yang menyeruak di sela-sela wajah kita berdua. Bulan seolah tersenyum, memberi sinyal kepada bintang-bintang untuk bernyanyi, mendendangkan lagu kebahagiaan dan kedamaian yang kami rasakan. Aku membuka sedikit mulutku, lalu membiarkan lidahku menyeruak disela-sela bibir tipisnya, dia melakukan hal yang sama. Lidah kita saling beradu dan bertukar silvia. Kehangatan malam ini takkan pernah kulupakan begitu saja. Bulan dan bintang pun menjadi saksi bisu betapa aku mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku yang hanya kuserahkan padanya.

-TBC-

Iklan

44 thoughts on “PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT]”

  1. Taeny so sweettt….jng tkut fanyah..tae slalu ada disampingmu…
    Tp gmn nt klo sunmi kembalii….???
    Maldoo andweee…!!!!

  2. ceritanya seruuuu… Aq kira tadi taeyeon gak mau nerima… Ternyata …..Salah taeyeon nerima memang bertanggung jawab

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s