SNSD, SOSHI FF, Two Shoot

PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT] [2nd Shoot End]

PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT]

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Please Forgive My Selfishness (Marry Me..)

Genre              : GENDER-BENDER, Drama, Romance.

Main Cast        : TaeNy

Sub Cast          : SooSun, YulSic.

                          Taeyeon Kim (Namja)

                          Tiffany Hwang (Yeoja)

                          Choi Sooyoung (Namja)

                          Sunny (Yeoja)

                          Kwon Yuri (Namja)

                          Jessica Jung (Yeoja)

Chapter           : Two Shoot.

Warning          : The genre is Gender Bender

[2nd Shoot]

Taeyeon Pov

“Appa bilang, dia masih di America. Mengurus bisnisnya.”

“Hmm ?? Baiklah, kapan dia kira-kira akan kembali ke Korea ??”

“Kata Unnie, mungkin sekitar minggu depan…”

“Oh… Baiklah.. kita menemui Appamu minggu depan saja… kau sudah bilang padanya ??”

“Yeah… aku sudah memberitahunya dan dia bilang.. kita harus pergi ke Perusahaannya karena dia tidak bisa meninggalkan sesuatu yang sangat penting.”

“Baiklah… tidak masalah…”

Tersenyum. “Love you Tae…”

“Love you too honey…”

Seminggu kemudian…..

“Apa maksud kalian ??” Appa Tiffany terbelalak. Bola matanya hampir saja keluar dari kelopak matanya.

“A—Aku… A—Um…. Ha—Ham… Em…..” Gagap Fanny. Aku bisa merasakan dia gemetar dibelakangku. Telapak tangannya sangat dingin memeluk lenganku.

“Tiffany hamil.” Sekali lagi aku menjelaskannya. Aku tak mau gadis ini menjadi yang pertama untuk memberikan kabar ini.

Appa menatap lekat kami berdua lalu berbalik dan mengatakan “Kalian berdua, ikut aku !!” Katanya tegas.

Kurasakan tubuhku bergetar, entah itu karena Tiffany yang sedang gemetar atau justru aku sendiri yang gemetar. Kepalaku dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi.

Tuhan, jangan biarkan gadis ini menanggung masalah yang besar. Jangan kau tempatkan kami berdua dalam situasi yang sulit. Aku tak bisa melepaskan gadis ini, tak sekarang, maupun selamanya. Aku barusaja akan memulai hidup bahagia bersamanya. Jika Appa tak merestui kami, aku akan memutuskan untuk kabur dan lari bersamanya. Aku tak perduli apapun yang akan terjadi, yang kupikirkan sekarang hanyalah gadis cantik yang sekarang berada tepat di sampingku. Aku akan melakukan apapun untuknya.

Kami berjalan mengikuti Appa. Dia membawa kami kepuncak gedung di perusahaannya. Entah apakah dia akan memintaku untuk terjun dari atap sini ataukah menyuruhku untuk berpisah darinya. Entahlah, otakku serasa mau pecah memikirkannya.

“T—Tae…” Bisik Fanny, suaranya serak. Dia terlihat sangat khawatir.

“Sshh… Gwaenchana…” Aku menenangkannya, sebenarnya akupun tak lebih baik darinya. Tapi sebagai seorang lelaki, aku tak boleh terlihat lemah di depannya.

“Kalian tahu apa yang telah kalian lakukan, kan ??” Kata Appa begitu kami sampai di lantai paling atas gedung. Aku dan Tiffany mengangguk bersamaan, kurasakan Tiffany mencengkram lenganku erat.

“Bagus… lalu kau Taeng… kau akan bertanggung jawab kan ??” Tanyanya begitu kita sampai di balkon atas. Appa menaikkan sebelah alisnya. Aku mengangguk mantap. Appa tersenyum.

“Aku tak tahu apa kalian berdua menyukainya atau tidak.. tapi, aku rasa ini yang terbaik..” Aku merasakan jantungku berdegup sangat kencang, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku meskipun angin berhembus menerpa wajahku. Tiffany membenamkan wajahnya di balik lenganku, kurasakan lututku melemas, apa yang harus aku lakukan jika Appa menyuruhku pergi menjauh darinya ?? Appa yang harus kukatakan pada kedua orangtuaku ?? Bagaimana aku harus menjalani hidupku tanpa kehadirannya disisiku ?? Aku menggenggam erat tangan kanannya, bersiap. Jika Appa memintanya meninggalkanku, maka aku akan langsung menarik tangannya dan membawanya berlari bersamaku.

Begitu Appa membuka pintu balkon, tampaklah sebuah ruangan, lebih seperti ruangan rahasia. Semua didominasi warna pink, biru dan ungu. Temboknya berwarna putih polos dengan desain yang elegan. Di ujung tengah ruangan, terdapat satu mimbar dan dengan dihiasi bunga bunga indah yang didominasi merah, pink, biru dan ungu. Sepanjang jalan menuju mimbar, terpampang karpet merah yang memanjang terhubung antara sebuah pintu dan mimbar. Di samping kanan dan kirinya, terdapat kursi panjang berwarna coklat dan silver yang dijajar secara teratur menghadap mimbar.

Aku melongo melihatnya, Apa maksudnya semua ini ??

“Maaf, jika kalian tidak menyukainya, aku telah berusaha sebaik mungkin. Tapi, kupikir kalian harus melakukan secepatnya.”

Aku melirik kearah Tiffany, meminta penjelasan atas semua ini, tapi tak jadi karena aku melihat wajahnya juga tampak kebingungan. Tak jauh lebih baik dariku.

Appa melihat wajah kami yang tampak kebingungan lalu tertawa. “Kalian masih bingung, huh ??” Dia tertawa lagi. Kami berdua mengangguk bersamaaan.

“Apa maksudnya ini Appa ?? Kau mau menjauhkan Tae dariku lalu menikahkanku dengan orang lain ?? Aku tak mau Appa….” Tiffany memeluk lenganku sangat keras sambil terisak. “Aku takkan membiarkanmu mengambilnya dariku… Aku sangat mencintainya Appa…” Aku membelai rambutnya.

Appa Tiffany mendesah berat. “Baby Fanny, Fanny Stephany… siapa yang akan menjauhkan kau darinya ?? Awas saja… sudah membuat anakku tercinta ini hamil dan mau melarikan diri begitu saja, takkan pernah Appa biarkan, kau tidak seperti itu kan Taeyeon ?? Kau bersedia bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat pada babyku ini kan ??” Aku mengangguk mantap.

“Good…. Kalau begitu, kalian sudah siap menikah… ini semua Appa persiapkan untuk pernikahan kalian berdua minggu depan…” Aku dan Tiffany saling menatap, mata kami berdua terbuka lebar dan rahang kitapun serasa hampir jatuh kelantai.”

“Tapi—Appa.. Darimana ??” Gagap Fanny, sepertinya dia sangat shock sama sepertiku.

“Hmm… Appa Taeyeon 5 hari yang lalu menelponku dan aku langsung menyuruh seseorang untuk menyiapkan semua ini untuk kalian… Anggap saja hadiahku untuk kalian. Maaf Steph… Appa gak bisa menjadi sosok Appa yang baik untukmu selama ini, tapi Appa senang, akhirnya kamu menemukan seseorang yang akan menjagamu dan menyayangimu sepenuh hati, Appa tahu selama ini kau selalu merasa kesepian dan menderita… Maafkan Appa selama ini tak bisa menjagamu dengan baik… Appa hanya—hanya…” Appa menyeka air matanya. Aku yang melihatnya pun ikut terharu, Tiffany melepaskan pegangannya pada lenganku dan beringsut memeluk Appanya sambil menangis.

“Anio Appa, kau yang terbaik… Kau hanya ingin melepaskan pikiranmu dari Umma kan ?? Appa hanya menyibukkan diri Appa agar tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan kan ?? Aku tahu semuanya… Aku mengerti dan Appa yang terbaik…” Isaknya.

“Ssshhh….” Appa mengusap kepala Tiffany, “Sebentar lagi, kau akan menikah…. Kau tidak boleh menangis didepan calon suamimu seperti ini, bagaimana kalau nanti matamu sembab dan bengkak ?? Kau akan kelihatan jelek.. Nanti Taeyeon kabur loh sebelum hari pernikahannya… hahaha..” Canda Appa Tiffany seolah member nasihat kepada anaknya yang akan menikah. Tiffany tak bergeming, ia justru menangis semakin keras.

“Noh, kok malah nangis kayak gini ?? Sshh… Maaf kalo Appa salah bicara…”

“A—Anio… Go—Gomawo Ap—Appa….” Katanya sambil terisak lebih keras.

“Sssh…. Ne… Sssh….”

Aku tersenyum melihat kehangatan mereka berdua.

“Sudah sana.. kembali pada calon suamimu… Taeyeon… Appa titip anak kesayangan Appa ini padamu… Jangan sampai kau menyakiti hatinya, kalau kau melakukannya, Appa akan mengejarmu sampai keujung dunia sekalipun…” Appa mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Aku berjanji…” Kataku sambil mengangguk mantap. Dia tersenyum, melepaskan pelukan Tiffany lalu tersenyum dan pergi meninggalkan kami berdua.

Tiffany menatapku dengan mata yang berair, aku tersenyum diapun begitu. Dia berlari dan memelukku, aku mengusap punggungnya.

“Aku sangat bahagia Tae…”

“Aku juga….”

__________

Author Pov

“Mwo ?? Secepat itu kah ??” Sooyoung memotong beef di piringnya menjadi potongan yang cukup besar dan langsung melahapnya. Sunny hanya bergeleng-geleng melihatnya. “hehehe…”

“Ne.. Orang tua kami sudah menyetujuinya dan semuanya juga sudah clear… tinggal fitting baju, membeli cincin dan menyebar undangan…” Taeyeon menjelaskannya.

“Aku turut berbahagia deh…” Sunny menoel lengan Tiffany.

“Hehehe… Gomawo Sun…”

“Aku gak sabar deh melihat kalian berdua nanti…” Sunny mengangguk,

“Oh, ya.. Kalian pasti mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan kalian, mendekor ruangan, menata bunga-bunga, aishh… pasti sangat menenangkan….” Sunny memenepuk kedua tangannya sambil membayangkannya.

“Uh… Oh…. Sebenarnya, Appa Tiffany yang menyiapkan semuanya… sebagai kejutan katanya…” Taeyeon tersenyum, akan tetapi seolah ada sesuatu dibalik senyumannya itu. Tiffany menyenderkan kepalanya di bahu Taeyeon,

“Ne… Appaku sudah menyiapkan semuanya….”

“Oh….” Sunny dan Sooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oh… ngomong-ngomong berapa usia kandungamu Tiff ??” Sunny mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Em… Sekitar sebulan…”

“Waw… Beneran dah.. kalian… baru setaun lulus juga… ckckckc…” Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku dua tahun, lagian aku sudah punya pekerjaan yang tetap untuk menghidupi anak dan istriku… wheekkk…” Taeyeon menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.

“Awrrr.. Cute….” Tiffany mengecup bibir Taeyeon sekilas, Taeyeon hanya senyam-senyum gak jelas. SooSun couple hanya bisa melongo melihatnya.

“Ya.. sebentar lagi kalian akan jadi orang tua, bagaimana bisa kalian jadi contoh yang baik untuk anak kalian kelak jika kelakuan kalian sekarang seperti itu ?? Ckckck…” Sooyoung mlahap gigitan terakhirnya.

“Biarkan… Pasti nanti anakku akan kegirangan punya Appa yang ganteng dan cute… seperti aku ini begitu juga dengan Umma yang cantik, seksi dan tak ketinggalan senyum dan butt yang khas… hahaha…” Kata Taeyeon sambil tersenyum mesum.

SooSun memutar kedua bola matanya melihat tingkah byun sahabat mereka itu. Sementara Tiffany memukul-mukul lengan Taeyeon sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.

“Auch… Sakit Ppany-aahhh…” Kata Taeyeon full Aegyeo.

“Hentikan… kau membuatku mual…” Sahut Sooyoung.

“Ya… bagaimana dengan Sunny si Aegyeo Queen itu ?? Tidakkah kau merasa mual ??”

“Tentu tidak, Aegyeo Sunny is the best…” Sooyoung tersenyum penuh arti, sementara Sunny hanya tersenyum menahan malu.

“Whatever…”

Mereka berempat mekanjutkan makannya sambil bercanda dan mengobrol ringan. Sampai tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.

“Hay… Umm… Tae—Taeyeon ???” Gadis itu mendongakkan wajahnya pada Taeyeon. Taeyeon membelakkan kedua matanya.

“Su—Sun…Mi ??” Gagap Taeyeon lalu menjatuhkan sendok ditangannya.

“Uh… itu beneran kau Taeng ?? Uh… “ Gadis itu langsung memeluk tubuh Taeyeon. “Aku kangen padamu Taeng…” Taeyeon tidak bereaksi, dia sedang dilema disatu sisi ia ingin membalas pelukannya karena dia sudah sangat merindukan gadis yang sedang memeluknya ini, akan tetapi disatu sisi ia tak mau menyakiti hati Tiffany, karena bagi dia Tiffanylah yang terpenting saat ini jadi dia lebih memilih untuk diam. Dari sudut mata Taeyeon dia bisa melihat semua temannya termasuk Tiffany sedang melihat mereka dengan kedua mata yang hampir terlepas dari kelopaknya dan rahang yang terbuka lebar. Taeyeon terlalu shock untuk memikirkan hal itu, pandangannya terfokus pada sorot mata Tiffany yang terlihat sangat terluka.

SunMi akhirnya melepaskan pelukannya pada Taeyeon, “Apa kabarmu ?? Tambah ganteng aja nih…” SunMi memperlihatkan senyum terbaiknya yang benar-benar akan membuat seluruh hati pria meleleh jika melihatnya.

“Uh… Um… Ah… Yeah…” Gagap Taeyeon setelah melihat senyum SunMi, hatinya masih berdebar-debar seperti dulu saat mereka masih bersama-sama. Taeyeon tidak bisa menghentikannya meskipun dia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja. SunMi tersenyum melihat tingkah Taeyeon yang tak berubah. Tiffany mengiggit bibir bawahnya sambil menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kecemburuan.

Sooyoung berdehem, dia seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sooyoung memang satu-satunya orang yang mengerti hal ini, SunMi meninggalkan Taeyeon saat mereka masih kelas 1 SMA dan SunMi masih kelas 3 SMP, gadis itu meninggalkan Taeyeon demi melanjutkan SMA nya di Paris.

“Uh… Oh… Kenalkan ini kedua sahabatku, ini Sooyoung kau pasti sudah tahu kan ? Dan yang ini Sunny lalu ini… Um… Tu…”

“Aku Tiffany, calon istrinya Taeyeon…” Potong Tiffany sambil mengulurkan tangannya, SunMi tersentak kaget tapi dia berusaha bersikap sedatar mungkin.

“Oh…. Calon istri… Baiklah, salam kenal Tiffany… Aku SunMi… Um…. Teman masa kecil Taeng…” SunMi membalas jabat tangan Tiffany sambil memaksakan senyumnya.

“SunMi-ah….” Teriak seseorang menghampiri SunMi.

“Oh… Yubin Oppa…” SunMi membalikkan badannya.

“Yah.. kemana saja kau… lama sekali… aku sudah mencarimu kemana-mana…”

“oh… Mian Oppa… tadi aku tak sengaja bertemu dengan teman-teman lamaku…” Yubin tersenyum pada mereka. “Semuanya… Ini Yubin…. Yubin…, ini Tiffany, Sunny, Sooyoung dan….. Taeyeon…” SunMi terasa berat mengucapkan kata terakhirnya.

“Oh… salam kenal, senang bertemu dengan kalian semua… Tiffany… Sunny… Sooyoung dan Taeyeon….” Yubin tersenyum lalu megingat sesuatu. “Uh… Tae—Yeon ??” Yubin mengamati Taeyeon, mencoba memikirkan sesuatu. Taeyeon mengangkat alisnya.

“Ne ??” Taeyeon mengerutkan alisnya.

“Oppa… bukankah kau mengatakan kalau kau harus menghadiri rapat penting sekarag ??.” SunMi mencoba mengalihakan pembicaraan. Yubin memukul jidatnya sendiri.

“Ouch… hampir lupa… hehehe… Maaf semua, aku harus pergi sekarang… SunMi-ah.. kau mau tetap disini atau kembali ke rumah ?? Mumpung searah…”

“Ah, Oppa… aku kan baru seminggu kembali kesini… aku masih belum terlalu menghafal jalan pulang…” Kata SunMi menggandeng tangan Yubin. Yubin terlihat sedikit tak nyaman dengan kontak fisik mereka yang tiba-tiba.

“Uh… Oh… Okay kalo gitu…” Yubin tersenyum kepada mereka lalu berkata. “Kau aneh hari ini… ckckck…” Yubin memandang Taeyeon, tapi keburu diseret SunMi menjauh..

“Kau ini cerewet sekali ya… Semuanya… aku pergi dulu ya…senang bertemu dengan kalian…” SunMi langsung membawa Yubin keluar restoran.

Mereka berempat saling berpandangan, karena merasa atmoshfir sudah mulai berubah menjadi sedikit canggung, akhirnya mereka melanjutkan makan dengan penuh keheningan sebelum Taeyeon kembali mengecek kondisi restorannya.

__________

Taeyeon dan Tiffany pergi ke sebuah danau untuk merefreshkan fikiran mereka sejenak. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Taeyeon memasukkan kedua tangannya pada saku jaket yang ia kenakan sambil memandang langit dan menendang-nendang kecil kerikil di depannya kedalam danau. Tiffany hanya duduk-duduk diatas kursi panjang, dibawah pohon rindang sambil memandangi Taeyeon yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Setelah merasa puas, Taeyeon berjalan kearah Tiffany dan duduk disebelahnya. Keheningan beberapa menit sebelum Taeyeon memulai pembicaraan.

“Fanny-ah….”

“Hmm ??” Jawab Tiffany tanpa menoleh pada Taeyeon. Ia mengerti Tiffany sedang kesal sekarang, oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi yang pertama untuk memulai pembicaraan, karena jika dibiarkan Tiffany takkan pernah mau berbicara padanya.

“Kau marah ??” Taeyeon menggenggam tangan Tiffany, tapi ia tak membalas genggamannya.

“Kenapa aku harus marah ??”

Taeyeon mengangkat bahunya, “Mungkin kau sedang marah padaku karena sesuatu.”

“Sesuatu ?? Menurutmu sesuatu itu apa ??” Kata Tiffany sedikit menyindir.

Taeyeon mendesah berat. “Aku tahu kau sedang marah sekarang, maafkan aku…”

“Hanya maaf ??”

“Kau mau penjelasan dariku ??”

“Menurutmu ??”

“Baiklah… akan ku jelaskan semuanya padamu sekarang… aku tahu kau ngambek karena SunMi kan ??”

“………..” Tiffany tak menjawab pertanyaan Taeyeon, dia hanya menundukkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun pada pria itu.

“Aku… dan SunMi… adalah teman dekat…..”

“…………”

[Flashback]

“Oppa….” Teriak seorang gadis cantik berusia sekitar 15 tahun pada Taeyeon.

“Mwo SunMi-ah ?? Mengapa wajahmu terlihat bersemangat sekali ??”

“Coba tebak ? Apa yang barusaja aku dapatkan ??”

“Apa ?? Sepatu baru ?? Tas baru ?? Baju baru ??” Tebak Taeyeon asal, dia hanya ingin menggoda pacarnya saja, sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan gadis itu katakan.

“Ahh… Oppa….” SunMi memukuli lengan Taeyeon.

“Aw.. jangan marah begitu dong chagi…” Taeyeon mengusap-ngusap lengannya yang sebenarnya sama sekali gak sakit.

“Oppa… Aku dapet beasiswa SMA di Paris… Impianku selama ini Oppa…” Teriak SunMi kegirangan. Taeyeon sangat mengetahui jika SunMi memang ingin menjadi seorang sutradara film, oleh karena itu dia sangat berkeinginan untuk mengejar cita-citanya di negeri eifel itu.

“Oh…. Selamat ya Sun… akhirnya, kau bisa mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan…” Kata Taeyeon sambil tersenyum, sangat bertolak belakang dengan isi hatinya yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak senang. Karena, dengan SunMi mendapat beasiswa ke Paris, itu artinya dia harus meninggalkan Taeyeon disini, di Korea sendirian. Tapi, apa daya, Taeyeon sama sekali tak punya hak untuk mencegah maupun melarangnya.

“Terimakasih Tuhan… engkaau telah mengabulkan do’aku…” SunMi melompat-lompat sambil berputar-putar dengan subuah surat yang didekap tepat didadanya.

Taeyeon hanya tersenyum melihat tingkahnya, ia sama sekali tak ingin merusak suasana hati SunMi saat ini. Tiba-tiba SunMi mengingat sesuatu, lalu berbalik…

“O—Oppa….” SunMi menatap Taeyeon dalam. Taeyeon seolah mengerti maksud dari tatapan SunMi..

“Ah… Gwaenchana… Aku akan baik-baik saja disini… Pergilah dan raih cita-citamu disana…” Taeyeon menggenggam kedua tangan SunMi.

“T-Tapi Oppa…. ??”

“Sssh… Gwaenchana…” SunMi memeluk Taeyeon. “Jangan membuatku kecwa telah melepasmu pergi, kau harus benar-benar belajar dengan tekun disana…”

“Ne…Aku janji Oppa…”

[Flashback End]

Tiffany hanya manggut-manggu ditempatnya. “Gwaenchana… aku takkan meninggalkanmu saat ini, takkan pernah…” Taeyeon mengangkat tangan Tiffany dan diletakkan didadanya. “Aku janji…”

“Aku tahu… Kau takkan mungkin meninggalkanku dalam kondisi yang seprti ini kan…” Cibir Tiffany, karena didalam hatinya sendiripun dia yakin bahwa Taeyeon takkan pernah melakukannya. Taeyeon mengangguk, matanya terus menatap langit, dia tak menceritakan hal terpenting yang sebenarnya terjadi. Taeyeon tak ingin memperkeruh keadaan apalagi sampai menyakiti hatinya. Pikirannya terus melayang saat itu, dengan tempat dan waktu yang sama.

[Flashback]

“Ne… Aku janji Oppa….” SunMi terus mengandeng tangan Taeyeon sampai mereka sampai pada tujuan mereka, sebuah danau yang tenang dan hening. Taeyeon sangat menyukai hal seperti ini, dia selalu merasa damai dan nyaman setiap kali dia memandang danau yang tenang. Dia bisa memikirkan dengan jernih apa yang sedang mengganggu pikirannya. Taeyeon memang sangat suka ketenangan. “Oppa… Maukah kau berjanji satu hal padaku ??” Tanya SunMi serius.

“Janji apa ??” Taeyeon mengerutkan dahinya.

“Oppa… Kau akan menungguku sampai aku kembali ke Korea lagi kan ??”

“Hmm ??” Taeyeon mengangkat alisnya. “Maksudmu…”

“Oppa… jika kau berjanji kau akan menungguku, maka aku akan kembali untukmu…”

“Baiklah.. .aku akan berjanji…” Taeyeoen mengangkat jari kelingkingnya seperti anak kecil.

“Dork…” Celetuk SunMi. “Tapi janji ya Oppa…”Taeyeon hanya tertawa renyah sambil mengangguk mantap. “Ok, kalau gitu, mari kita membuat janji hitam diatas putih..”

“Maksudnya ??”

SunMi mengeluarkan secarik kertas dan sebuah bolpoin lalu menuliskan janji, keinginan dan harapan mereka kelak dalam kertas tersebut lalu memasukannuya kedalam sebuah kotak kecil.

Aku, Kim Taeyeon… Akan berjanji untuk tetap setia menunggu SunMi sampai dia kembali ke Korea dan menemuiku sebagai seorang gadis yang berhasil. Always love you forever –With Love Kim Taeyeon-

Aku, SunMi…. Akan berjanji untuk tetap setia pada Kim Taeyeon, aku juga berjanji akan menemuinya jika aku sudah menjadi orang yang sukses. Aku akan meraih cita-citaku seperti yang Taeyeon inginkan, karena aku mencintainya, selalu dan selamanya…. –With Love and whole heart SunMi-

Kotak tersebut dipendamnya dibawah pohon rindang yang menjulang tinggi, menyejukkan hati. SunMi memberi tanda sebuah batu diatas gundukan itu lalu menutupnya kembali dengan rumput. Mereka saling mengaitkan jari kelingkingnya lalu tersenyum sambil menghabiskan sisa waktu yang mereka miliki dengan menikmati indahnya pemandangan danau yang seolah melambai mengajak mereka untuk hanyut dalam tenangnya air yang beriak terkena hembusan angin sore.

[Flashback End]

Taeyeon berjalan mendekati sisi belakang pohon tersebut lalu menggalinya sedikit menggunakan ujung kakinya, munculah sesuatu berwarna kecoklatan yang menyembul di bawah kaki Taeyeon.

“Tae… apa yang sedang kau lakukan ??” Tanya Tiffany tiba-tiba muncul disebelah Taeyeon.

“Ah… hanya menikmati kesejukan pohon ini…” Taeyeon menutupi gundukan tersebut dengan tanah yang tadi dia sisihkan, matanya tak lepas dari Tiffany.

“Oh… Balik yuk…” Tiffany menggandeng tangan Taeyeon, tapi Taeyeon tak merespon.

“Aku masih ingin disini lebih lama lagi…”

“Oh….” Tiffany mengangguk.

“Fanny-ah…..” Taeyeon menatap Tiffany lekat.

“Hmm ??”

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu…??”

Tiffany memiringkan kepalanya kesamping. “Mwo ??”

“Kau belum menceritakannya padaku, sebenarnya mengapa kau dan Shiwon ada di bar malam itu, saat aku mabuk.” Tanya Taeyeon blak-blakan.

“Kau benar-benar ingin tahu yaa….” Tiffany mencibir.

“Yeah.. maksudku, kita kan sebentar lagi akan menikah, aku tak mau ada rahasia lagi diantara kita berdua..”

“Oh… begitu ya… kurasa kau benar… seharusnya tak ada lagi rahasia diantara kita.” Kata Tiffany sambil tersenyum penuh arti dan hanya Taeyeon yang tahu arti senyuman itu. Taeyeon memalingkan mukanya, menyadari arti tatapan Tiffany.

“Sebenarnya, tak ada hal special yang terjadi diantara kita, dia hanya memintaku untuk menjodohkannya dengan temanku bernama Gyuri, lalu aku memintanya untuk membantuku menyiapkan kejutan untuk ulang tahunmu saat itu, kau ingat ?? Sebenarnya aku berencana untuk menyanyi didepan bar miliknya, menyanyi selamat ulang tahun untukmu dan membawakan sebuah kue ulang tahun, menghabiskan waktu semalaman bersamamu, huffttt…” Kata Tiffany sambil tersenyum skeptic mengingat rencana yang sebenarnya sudah ia rencanakan secara matang. “Tapi aku benar-benar tak menyangka ternyata kau juga berada di bar itu dan lebih parahnya lagi, kau mabuk disana…”Tiffany cemberut. Sedikit rasa kecewa dan marah masih membekas dihatinya.

“Mianhae…” Taeyeon menundukkan kepalanya.

“Sudahlah Tae Oppa…. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita awali hidup baru kita ini dengan senyuman dan secercah harapan yang akan menuntun kita menuju masa depan yang kita inginkan.” Kata Tiffany sambil mengusap-ngusap perutnya. Taeyeon tersenyum melihatnya, dia lalu menempelkan telinganya pada perut Tiffany dan mengelusnya.

“Baby… baik-baik ya disini… jangan kau sakiti Ummamu ya…”

“Hihihi…” Tiffany terkekeh. “Tae, dia belum juga genap dua bulan, mana dia tau…”

“Hehehe… Yuk kita pulang…” Kata Taeyeon menggenggam tangan Tiffany. Merekapun berjalan menuju apartemen yang tak jauh dari danau itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya bergandengan tangan dan tersenyum satu sama lain, meskipun dalam benak mereka masih terbesit rasa ingin tahu yang mendalam. Tapi, mereka lebih memilih memendamnya sampai waktunya tepat.

__________

“Aku, Kim Taeyeon,  meminangmu Tiffany Hwang, untuk menjadi satu-satunya istriku yang sah secara hukum, untuk memelukmu dan merangkulmu setiap hari, setiap malam dan seterusnya. Untuk tetap ada disisimu disaat susah dan senang, akan kita lalui bersama, baik kaya maupun miskin kelak, saat sehat maupun sakit, akan kita lalui bersama-sama. Untuk mencintai dan mengasihi, untuk melindungi dalam bahaya apapun yang akan menghadang kelak, sampai hembusan nafas terakhirku, aku meminta izinmu untuk memilikimu seutuhnya sampai kita mati, tidak… bahkan kematianpun, takkan memisahkan kita berdua. Tiffany Hwang, maukah kau menjadi istriku ??”

Tiffany terkikik sebelum menjawabnya. “Ya.. Aku bersedia menjadi istrimu Kim Taeyeon..”

“Sekarang giliranmu Fanny…” Taeyeon berbisik kepada Tiffany yang sekarang sedang memeluk erat lengannya dihadapan pastur, kerabat dan semua keluarganya.

“Okay….” Jawab Tiffany dengan nada suara yang hanya dapat didengar oleh orang yang berjarak tak lebih dari tiga kaki darinya sebelum dia berdehem. “Kim Taeyeon, aku Tiffany Hwang tidak akan meminta izinmu untuk menggenggam tanganmu tapi, aku akan melewatkan semua itu aku hanya harus mengatakan itu tepat pada intinya saja. Mulai sekarang, Aku…” Tiffany menunjuk dirinya sendiri “Milikmu SELAMANYA..” Dia menunjuk Taeyeon, tanpa membuang-buang waktu lagi, dia menarik lengan Taeyeon dan merapatkan jarak yang tersisa diantara mereka lalu menempelkan bibir mereka bersamaan.

“Awwwww….” Teriak salah seorang tamu undangan pada dua sejoli yang sedang mempersatukan jiwa dan raga mereka menjadi satu kesatuan yang utuh.

“So Sweeeett….”

“Pengantin wanitanya sangat berani ya…”

“Aku ingin yang seperti itu saat menikah nanti…”

Seluruh ruangan dipenuhi dengan raungan tepuk tangan saat dua pasang kekasih suami istri itu membagi ciuman panjang dan panas mereka dihadapan para kerabat dan keluarga. Kegiatan mereka hanya terhenti saat pastur membuat statement kepada mereka untuk ketiga kalinya.

“Kalian dapat bertukar cincin sekarang..”

Mereka melakukan apa yang pastur perintahkan dengan segenap hati dan perasaan yang bercampur aduk antara senang, terharu, bahagia, bersemangat menjadi satu didalam dirinya.

**

“Selamat Taeng…” Sooyoung menjabat tangan sahabatnya itu. Taeyeon hanya tersenyum dan mengangguk, tak lupa mengucapkan terimakasih padanya.

“Tiffany… akhirnya kau menikah juga… aku ikut senang…” Sunny memeluk Tiffany dan mencium pipi kanan kirinya. “Kau…” Sunny menunjuk Taeyeon, “Awas kau kalau berani menyakitinya…” Sunny menunjuk Tiffany dan bayi yang ada dalam perutnya.

Taeyeon tertawa lepas. “Bukankah seharusnya akulah yang berkata seperti itu…”

Mereka berempat tertawa bersama-sama, menunjukkan kebahagiaan dan keakraban seperti yang biasa mereka lakukan saat SMA.

“Kapan nih kalian nyusul ??” Tiffany menggoda Sunny dengan menjawil lengannya.

“Tidak lama lagi….” Sooyoung tersenyum penuh arti, Sunny hanya tertawa dan memalingkan mukanya, mencoba tersenyum menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.

Taeyeon dan Tiffany saling berpandangan lalu tertawa.

“Kau ??” Sunny mengangguk.

“Whoaa….” Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalian cepat sekali ya… hahaha.” Taeyeon tersenyum mesum.

“Ya !! Jauhkan pikiran kotormu itu ByunTae !! Ckckc…” Sooyoung berdecak. “Tiff, jaga pikiran suamimu ini ya… jangan sampai dia berpikiran aneh-aneh lagi.”

“Pasti… bakalan kusapu setiap hari tuh otaknya.” Tiffany menoel-noel lengan Taeyeon.

“Ah… justru kamu yang membuat pikiranku tak pernah bersih chagiya..” Lagi-lagi Taeyeon tersenyum mesum sambil menjawil pipi Tiffany yang sudah semerah tomat.

Sunny dan Sooyoung hanya bisa memutar kedua bola mata mereka melihat kelakuan dua pasangan baru didepan mereka sekarang.

“Ehm… selamat ya Taengoo….” Seorang pria tinggi berkulit sedikit gelap menghampiri mereka dengan senyum merekah yang mengembang di pipinya, tubuhnya sangat atletis.

“Ah.. Kwon Yuri…. Lama tak melihatmu… kemana aja kau ??” Taeyeon memeluk pria itu sambil menepuk-nepuk pundaknya.

“Hehehe.. aku barusaja kembali dari Jepang, kau sendiri bagaimana kabarmu ??”

“Seperti yang kau lihat.”

“Wah… kau beruntung mempunyai istri secantik dia..” Yuri mengalihkan perhatiannya pada Tiffany yang tersenyum malu-malu.

“Ya.. dia istriku…” Kata Taeyeon memperingatkan temannya yang terkenal playboy itu.

“Hahaa… tenang aja man… aku sudah punya bidadariku sendiri…” Yuri tersenyum cerah. “Oh… Sooyoung ??” Yuri menoleh pada pria yang tak jauh darinya.

“Uh… Yuri ??”

“Hay…. Bagaimana kabarmu ??”

“Baik.. kau sendiri ??”

“Yeah…”

“Kalian berdua saling mengenal ??” Taeyeon memotong pembicaraan mereka. Yuri dan Sooyoung hanya mengangguk-angguk.

“Dia partner dance ku…” Jawab Sooyoung. “Bagaimana kau dengan….??”

“Jessica ?? Well, kita baik-baik saja. Oiya, bulan depan kita akan tunangan…”

“Waw… selamat ya…” Sooyoung menjabat tangan Yuri. “Dua minggu lagi, aku dan Sunny juga akan menikah…”

“Menikah ?? Benarkah ?? Ah… kalian cepat sekali yaa… hahaha…” Yuri tertawa. “Ah.. itu Jessica..” Yuri melambai-lambaikan tangannya diatas kepalanya. “Sicca… disini…”

Jessica menghampiri Yuri lalu mengaitkan lengan mereka.

“Hay Jess…” Sapa Sooyoung.

“Oh, Hay Soo, Sun, Tae, Tiff…” Jessica memberikan senyuman termanisnya dengan mereka.

“Hay Jess…” Jawab mereka serentak.

“Jangan lupa datang ke pesta pertunangan kita bulan depan ya…” Kata Yuri sambil merangkul Jessica. Mereka semua mengangguk.

“Kau juga…” Sahut Sooyoung.

“Pasti… Aku pergi dulu ya…” Yuri melambaikan tangan pada mereka lalu pergi bersama Jessica.

“Op—Ehm, Taeyeon… selamat yaa..” Seorang gadis cantik dengan gaun berwarna putih gading berjalan mendekati mereka.

“Uh.. SunMi ?? N—Ne… Kamsahamnida..” Taeyeon memaksakan senyumnya. Mereka saling tersenyum beberapa saat, sebelum kemudian menghentikan pikiran mereka yang tenggelam kedalam satu pemikiran yang sama. Tiffany mempererat genggamannya pada Taeyeon, membuatnya kembali menyadari situasi yang sebenarnya.

“Selamat ya…” Yubin yang berada disebelah SunMi angkat bicara.

“Aku turut bahagia…” SunMi menundukkan kepalanya pada mereka lalu berbalik dan berlari menerobos kerumunan undangan.

“Sun….” Yubin hendak meraih SunMi namun gagal. “Sekali lagi.. selamat…” Yubin tersenyum dan membungkuk sebelum berlari mengejar SunMi. Taeyeon dan Tiffany saling berpandangan sejenak.

“Ehmm…” Sooyoung berdehem, mencairkan atmosfir yang mulai terasa canggung ini. “Apa yang akan kalian lakukan setelah semua ini selesai ??”

“Istirahat.. kau tahu, kita lelah sekali setelah ini…” Jawab Taeyeon sambil terus menggenggam tangan Tiffany.

“Baiklah…”

__________

Seminggu setelah pesta pernikahan….

Taeyeon berjalan kearah danau, dia duduk dikursi yang biasa ia duduki bersama Tiffany dan SunMi sebelumnya, dia berjalan kesisi belakang pohon tersebut dan berjongkok. Ia mengambil ranting pohon disampingnya lalu mulai menggali tanah yang terdapat sebuah gundukan dan batu diatasnya. Dia terus menggali sampai akhirnya sebuah kotak kecil berwarna coklat kemerahan muncul kepermukaan tanah yang sedikit dalam. Dia mengambil kotak tersebut, tanpa membukanya ia membawanya ke pinggir dananu. Dengan segenap hati dan perasaan, ia meletakkan kotak itu diatas air di pinggir danau. Membiarkan perasaannya hanyut bersama kotak berisi janji, harapan dan inmpian mereka bersama air yang membawanya. Entah itu akan tenggelam dan terkubur di bawah danau bersama semua perasaannya yang tersisa atau seseorang akan menemukannya, ia sama sekali tak perduli, yang ia lakukan sekarang adalah ia ingin mengubur dalam semua masa lalu nya dan memulai kehidupan yang baru bersama Tiffany dan anaknya kelak. Dia tersenyun melihat kotak yang perlahan hanyut dan menjauh dari pandanganya. Ia merasa lega, akhirnya ia bisa melepaskan semua beban yang terikat padanya. Meskipun masih ada sedikit rasa bersalah di hatinya, tapi ia lebih memilih untuk membuangnya jauh, melayang melewati batas ruang angkasa.

Mianhae SunMi, aku tahu kau kembali untukku, tapi aku benar-benar minta maaf, orang yang kucintai sekarang ini adalah Tiffany, bukan kau lagi. Aku tahu aku memang egois, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, aku sangat mencintai Tiffany. Memang, aku dulu sangat mencintaimu, tapi entah mengapa perasaan itu menghilang seiring berjalannya waktu. Mungkin, tuhan memang tak mengizinkan kita untuk bersama, seperti janji dan harapan yang kita tulis dulu. Aku tak pernah menyesal meninggalkanmu waktu itu, aku yakin kau akan menemukan seseorang yang lebih baik untuk menggantikanku. Oh, kau sudah punya, kan ?? Aku akan bahagia selama kau selalu bahagia bersama siapapun kau kelak. Aku hanya bisa berdoa untukmu, untuk kebahagiaanmu. Kuharap kau bisa melupakan dan mengubur dalam semua masa lalu dan perasaan kita satu sama lain, sama sepertiku yang sudah melupakanmu, sekali lagi, maafkan keegoisanku ini………

Tanpa ia sadari, ada dua orang gadis yang sedang mengamatinya dari kejauhan, meskipun dua orang gadis tersebut tak menyadari kehadiran satu sama lain, kedua gadis tersebut tersenyum, pada saat yang bersamaan, kedua gadis tersebut menitikkan air mata.

Oppa… Maafkan aku sudah meninggalkanmu terlalu lama, maafkan aku telah membiarkan hatimu diisi oleh gadis lain, tapi maafkan aku karena aku tak bisa melupakanmu sampai saat ini. Maafkan keegoisanku, Tapi aku akan mencobanya, aku akan berusaha melupakanmu. Aku harap kau bahagia bersamanya, dengan keluarga barumu. Aku takan melupakan masalalu yang telah kita lalui begitu saja, tapi aku akan berusaha pergi sejauh mungkin darimu dan kehidupanmu. Maafkan aku karena kembali disaat yang tak tepat. Aku mencintaimu selalu, Kim Taeyeon. Dari segenap hati dan Jiwaku… Aku akan melepaskanmu bersama gadis yang kau cintai. Meskipun hatiku sakit dan perih melihatnya. Kau harus berjanji kau takkan pernah menyakitinya, aku yakin dia adalah gadis yang baik, aku senang kau menggantiku dengan dirinya. Semoga kau bahagia bersamanya……

 

Tae-Tae… Terimakasih telah memilihku, terimakasih telah melepaskannya demi aku. Aku tahu kau masih sangat mencintainya, tapi aku tak bisa melepaskanmu… Aku sangat bahagia, akhirnya kau menjadi milikku seutuhnya, Kedengarannya egois memang, tapi aku tak bisa menghilangkan perasaanku padamu. Aku berjanji, aku akan menghapus namanya dari hatimu. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap berada disisiku. Maafkan keegoisanku ini, karena aku mencintaimu… dengan jiwa dan ragaku…

 

Please…. Forgive my selfishness… Kumohon, maafkan keegoisanku…

 

Love is patient. Love is kind. It does not want what belongs to others. It does not look out for its own interests. It does not keep track of other people’s wrongs. Love is but full of joy when the truth is spoken. It always protects. It always trusts. It always hopes. It never gives up.

Love… never fails.

-END-

Iklan

37 thoughts on “PLEASE FORGIVE MY SELFISHNESS (TAENY VER) [TWO SHOOT] [2nd Shoot End]”

  1. Pilihan yg tepat tae,,,emang salah satu pasti akan tersakiti…tp itu lebih baik…
    Kyaaaa..taeny alkhirnya bisa bersama..n tambah 1 anggota lg nanti…
    Soo sweetttt…

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s