SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT] [1st Shoot]

THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT]

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  The Circle of Friends

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship.

 Cast                : TaeNy, Leeteuk, Shiwon, YulSic.

Chapter           : Two Shoot.

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl)

[1st Shoot]

Taeyeon Pov

Aku sedang duduk di pinggir danau, merasakan sejuknya angin sore ini. Semilir angin yang menyibak beberapa helai rambutku membuatku sedikit relax, dan air yang tenang membawa pikiranku pada orang yang sangat kutunggu sejak satu jam yang lalu. Dia adalah Leeteuk, namjachinguku.. kita barusaja jadian seminggu yang lalu, kurasa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Hari demi hari yang kita lalui bersama-sama, membuatku benar-benar merasa dibutuhkan, aku jadi mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya, bukan hanya hasrat kecemburuan yang terbesit dibenakku saat aku melihat teman-teman seusiaku becumbu bersama kekasihnya. Tapi ini benar-benar hebat.. aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, aku merasa seperti jantungku akan segera meledak begitu aku menatap matanya. Kurasa aku memang benar-benar sedang jatuh kedalam satu keadaan yang dinamakan ‘Falling in Love’.

Aku masih tidak bisa mempercayainya, aku.. seorang Kim Taeyeon.. jatuh cinta di usiaku yang baru 17 tahun.. dan yang terpenting adalah dengan seorang Leeteuk… Namja yang sangat popular di sekolah.. Gosh…. Aku masih belum bisa mempercayainya… Kupikir, dulu aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku dengan terjebak diantara tumpukan buku dan kertas yang selama ini menyapu semua kesedihan dan kesepianku. Tapi aku salah, aku masih bisa merasakannya, perasaan sangat kuat yang orang menyebutnya ‘Love’

Aku merasakan tubuhku gemetar, telapak tangan dan kakiku kedinginan, padahal cuaca hari ini tidak buruk dan aku menggunakan mantel saat ini. Tapi entah mengapa aku masih merasa kedinginan, mungkin saja sekarang aku sedang nervous ?? Ini adalah kencan pertamaku semenjak aku berpacaran dengan Oppa. Aku merasa sangat gugup, berkali kali aku membenarkan rambut dan poniku yang tersibak oleh angin sore ini. Bahkan aku membawa bedak dan beberapa make up yang ku simpan dalam tas jinjing kecil yang ku slempangkan dibahu kiriku. Aku mengeluarkan sebuah cermin kecil berbentuk bundar dan berbingkai biru dari dalam saku mantelku, aku memang sengaja meletakkannya disitu agar tidak belibet mencarinya kalau aku memerlukannya. Aku membetulkan make-up diwajahku, sedikit berantakan kurasa… mungkin karena keringat yang sedari tadi mengucur dari dahiku.

Aish… Apa yang kulakukan sekarang ?? Ini bukan aku… aku tak pernah secentil ini sebelumnya, aku adalah seorang gadis kutu buku disekolah dan selalu menjadi gadis yang lugu dihadapan semua orang. Tapi ada apa dengan diriku akhir –akhir ini ?? Memalukan sekali…

Aneh bukan ?? Aku merasa kedinginan, tapi aku berkeringat dengan derasnya. Biasanya, aku selalu bersikap cool dan innocence di depan semua orang. Tapi hari ini semua terasa seolah mengubur seluruh image yang telah ku jaga sedemikian rupa. Mungkin inilah yang orang lain rasakan saat kencan pertama bersama pasangan mereka. Aku membuatnya serasional mungkin.

Tepat saat aku memasukkan kembali cermin kedalam saku mantelku, aku mendengar seseorang meneriakkan namaku.

“Taeng…” Aku menoleh pada asal suara tersebut. Seseorang yang sudah satu jam lebih kutunggu akhirnya muncul juga dihadapanku.

“Oppa…” Seketika itu kurasakan senyum termanis mengembang dipipiku. Dia tersenyum melihatnya, wajahku pun tersipu. Dia memegang kedua tanganku sebelum senyum indah dipipinya perlahan memudar.

“Mianhae.. Aku sedikit terlambat… Aku terjebak macet di jalan dan traffic light itu membuatku frustasi…” Dia mendesah berat.

“Gwaenchana Oppa.. Aku baru menunggu 5 menit yang lalu..” Bohongku. Tidak, aku tidak sepenuhnya berbohong, kita memang janjian jam 5 sore, tapi saking bahagianya aku datang satu jam lebih awal. Dan kau percaya, terakhir aku mengecek jam di handphone ku beberapa saat yang lalu, disitu tertulis 17:05 tepat. Saat itu, rasanya ingin sekali aku memutar jam lebih cepat agar dia segera datang di hadapanku, tapi kurasa sekarang semua itu sudah tidak penting lagi.

“Benarkah ??” Senyumnya kembali merekah. “Baguslah kalau begitu…” Dia menggenggam tanganku. “Ayo kita jalan…. Kau mau kemana ??”

“Umm….” Aku berpikir sejenak, jujur… aku tak pernah tertarik untuk pergi keluar rumah sebelumnya, aku hanyalah seorang gadis polos yang terjebak dalam dunia yang tak seorangpun ingin masuk kedalamnya. “Terserah Oppa saja…” Kataku sambil menundukkan kepalaku karena merasa malu.

Oppa yang menyadari perubahan ekspresiku langsung mencairkan suasana. “Bagaimana kalau kita ke taman hiburan ??” Tanyanya penuh semangat. Aku mengangguk, dia… sungguh seperti anak kecil… aku tertawa melihat tingkahnya yang dork.

__________

Aku duduk kursiku seperti yang biasa aku lakukan didalam kelas. Focus pada buku yang sedang kubaca, sebuah buku yang menceritakan tentang seorang gadis malang yang bertemu dengan sesosok pangeran tampan berkuda putih perpedang kesatria yang membawanya keluar dari situasi sulit yang selama ini dia tanggung. Aku bukanlah penikmat cerita cheesy seperti ini, tapi begitu membaca sinopsisnya, semua ini, cerita ini, keadaan ini mengingatkanku pada Leeteuk Oppa. Aku tersenyum membacanya, padahal baru beberapa lembar saja aku membukanya. Tapi aku selalu membayangkan semua itu akan terjadi padaku dan Oppa.

Senyumku seketika memudar saat aku mendengar beberapa orang temanku sedang mengganggu gadis malang yang kuketahui bernama… Um… Ti—Tiffa—ny ?? itu… Entah mengapa aku bisa mengetahuinya, Tapi akhir-akhir ini menyebar gossip tentangnya… Tidak bagus, sedikit buruk kurasa… Dia… ternyata adalah seorang gay ?? Itulah kabar yang kudengar dari beberapa murid yang sedang bergosip di kantin kemarin siang. Mereka mendapati Tiffany sedang bermesraan dengan seorang gadis di halaman belakang sekolah. Sebenarnya aku tidak begitu terkejut tentang hal itu, beberapa murid dikelasku juga melakukan hal yang sama. Maksudku, bagaimana itu bisa menjadi hal yang aneh saat kau masuk kedalam sekolah dengan jurusan yang hampir 98% siswanya adalah perempuan. Jurusanku, maksudku… seorang sekertaris memang hampir semuanya perempuan, kan ?? Terkadang, aku serasa ingin kabur dari tempat ini… Ini bukanlah tempat untuk gadis yang sedikit tomboy sepertiku.. aku ingin pergi sekelas dengan Oppa, di jurusan IT tentunya.

“Hey Tiffany… Bagaimana kencanmu kemarin bersama Hyuna ?? Menyenangkan kah ?? Aku ingin tahu apa saja yang kalian berdua lakukan kemarin ??” Tanya Sooyoung menggoda gadis malang itu, membawa kembali pikiranku dari bayanagan tentang Oppa.

Dia hanya menundukkan kepalanya dan berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya, terkadang aku tak mengerti dengan sebagian orang disini, apa yang aneh tentang hal itu. Bukankah itu merupakan hak pribadi nya ?? Privacy nya ?? Mereka seharusnya tidak punya hak untuk menghakiminya.

“Haha… Kau tak ingin berjalan-jalan bersamanya sepulang sekolah nanti ??” Goda Hyoyeon yang tak lain tak bukan adalah yeojachingu Eunhyuk teman Leeteuk.

“Yeah… mungkin kau bisa membeli beberapa Bra dan Underwear couple bersamanya… hahaha..” Kata Sooyoung mengundang tawa bagi beberapa siswa disini yang masih ‘Straight’.

“Yeah… Atau mungkin kau bisa bertukar Bra dan sebagainya bersama dia ??” Sahut Gyuri yang duduk tak jauh dari mereka.

Meskipun aku adalah bagian dari mereka, tapi aku tak mengerti apa yang lucu dari hal ini ?? Aku melihat gadis itu, dia terlihat sangat…. Terluka… meskipun dia masih tetap berusaha tersenyum pada mereka, tapi sorot matanya mengatakan hal lain.

“A—Aku…” Dia tergagap sambil mencoba yang terbaik untuk membuka mulutnya, meskipun aku tau ini takkan membuatnya lebih baik, dia akan break down cepat atau lambat.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri dari tempat dudukku, “Hey…. Kalian semua…. Berhenti mengganggunya, dia tidak bersalah. Dia bahkan tidak menganggu kalian, kalian seharusnya tidak punya hak untuk mengganggu dan ikut campur dengan kehidupannya…” Kataku menaikkan sedikit suaraku. Bagaimanapun juga, aku adalah ketua kelas disini dan itu berhasil membuat semua murid dikelas ini terdiam dan menatapku ngeri.

“A—Aku baik-baik saja Tae—yeon…” Katanya sambil menatap tepat pada kedua bola mataku, aku benar-benar terpaku pada kepolosan dimatanya, meskipun diluar dia tampak seperti seorang ‘bad girl’ tapi aku melihat ketulusan dan kemurnian dari matanya yang bersinar. Bahkan, aku pun yang sudah terlihat polos dan innocence tak bisa mengalahkan sinar matanya yang menunjukkan betapa murninya dia. Aku terpaku beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa aku sedang berada ditengah-tengah situasi yang sedikit mengundang perhatian.

“Kalian semua dengar kan apa yang tadi aku katakan ?? Sekarang, kembali ke tempat duduk kalian masing-masing..” Perintahku pada mereka. Aku mengakui mereka semua memang benar, bahwa jika aku marah aku akan terlihat sangat menakutkan, apalagi dengan kata-kata yang kulontarkan pada mereka.

“Go—Gomawo … Kau seharusnya tak perlu melakukan hal itu…” Katanya sambil menundukkan kepalanya lagi.

“Gwaenchana… Kau baik-baik saja ??” Tanyaku padanya. Dia mengangguk sambil tersenyum, senyumannya..Tidak seperti tadi yang terlihat dipaksakan dan terluka. Kali ini dia benar-benar tersenyum dengan tulus, dan senyumannya.. senyuman itu… benar-benar membuatku tak berkedip, dia sungguh…. Cantik.. Yeah… Bukan maksud apa-apa.. tapi aku harus mengakuinya, senyumannya benar-benar khas. Dia seolah membawaku terbang ke angkasa dan melompat-lompat diatas awan.

“Baiklah, anak-anak.. ayo kita mulai pelajaran pertama hari ini ??” Seorang guru tiba-tiba masuk dan merusak suasana yang sedang kunikmati bersamanya. Aku tersentak dan membalikkan badanku kedepan kelas. “Kim Taeyeon, kembali ke bangkumu sekarang..”

“N—Ne…” Aku beringsut kembali ke tempat dudukku lalu focus mendengarkan apa yang Mrs. Park jelaskan.

Selama pelajaran berlangsung, aku tak bisa menahan senyum. Aku mendapati gadis itu beberapa kali mencuri pandang dan diam-diam tersenyum kearahku. Caranya memandangku, dia sangat lucu. Aku melihatnya sedang menatap kearahku dengan tangan kiri yang menopang dagunya dan sebelah kanannya memegang bullpen berwarna… ouch… pink sambil menulis sesuatu di bukunya yang juga berwarna pink, oh… atau lebih tepatnya mencoret-coret bukunya. Dia terlihat lebih sibuk memandangku daripada menulis apa yang sedang dijelaskan oleh Mrs. Park. Aku bahkan ragu kalau dia sadar bahwa dia sedang berada ditengah jam belajar-mengajar saat ini.

Saat muka malaikatnya memandang dengan damai kearahku, seseorang membuatnya seolah terjatuh kembali kedalam dunia yang menakutkan. “Tiffany Hwang…” Kudengar Mrs. Park memanggilnya dengan suara yang tenang, tapi serius. Salah satu pertanda buruk. “Apa kau mengerti apa yang sudah kujelaskan tadi ??” Tanyanya menatap tajam kearah gadis malang itu.

“Uh….. N—Ne.. S—Seo—Seonsaeng—n—nim…”Jawabnya gugup sambil mengangguk ragu-ragu.

“Bagus, kalau begitu maju kedepan…” Ekspresi Tiffany sontak berubah drastis. Sangat berbeda dengan semenit yang lalu, wajahnya tampak khawatir. Tak heran, Mrs. Park memang guru yang terkenal killer dibalik wajahnya yang kalem. Dengan gemetar, ia berjalan menuju papan tulis lalu mengambil board marker yang ada disusut meja guru. Dia menuliskan jawaban yang sama sekali tak bisa kumengerti. Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku… dia benar-benar payah dalam pelajaran matematika.

Mrs. Park hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ini yang kau sebut dengan ‘mengerti’ ??” Tiffany hanya menundukkan kepalanya, tak mampu mengatakan apapun. Aku jadi merasa kasihan padanya.

Tak lama setelah itu, bak terlepas dari jeratan rantai malaikat penjaga neraka, bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Mrs. Park melangkahkan kaki dengan santai keluar kelas. “Jangan harap aku akan melepaskanmu lain kali Ms. Hwang..” Katanya sebelum menghilang dibalik pintu. Tiffany mendesah lega lalu berjalan lemas menuju bangkunya.

Aku menghampirinya dan memegang pundaknya. Dia sedang menenggelamkan wajahnya di balik tangannya di atas meja. “Kau baik-baik saja ??” Pertanyaan bodoh yang seharusnya tak perlu kukatakan, karena toh aku sudah tahu jawabannya. Tapi aku benar-benar ingin bertanya padanya, basa-basi sedikit tidak jadi masalah.

Dia mendongak kearahku dan tersenyum meyakinkan. “Ne…” lalu kembali membenamkan wajahnya diatas meja.

“Ingin pergi kekantin bersamaku ??” Tanyaku, entah mengapa. Biasanya aku akan menghabiskan waktu istirahatku di dalam kelas atau diperpustakaan.

Wajahnya seketika berubah cerah dan mengangguk penuh semangat. “Ne… Aku mau…” Dia langsung menggandeng tanganku dan menggeretku kekantin.

__________

“Jadi, bagaimana hubuganmu dengan Hyuna ?? Apakah itu benar ??” Tanyaku. Aku tahu, tak seharusnya aku menanyakan hal ini. Tak seharusnya aku mencampuri urusannya. Tapi aku benar-benar penasaran setengah mati.

Dia mengangguk sambil menyeruput strawberry milkshake nya. “Awalnya, tapi akhirnya kita berdua putus, karena………… semua orang mengetahuinya.” Katanya ragu. Aku bisa mengerti keadaannya dan rasa sakit dihatinya.

“Oh….. Mianhae….” Kataku sambil menundukkan kepalaku. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku yang telah merusak suasana ini.

Dia tersenyum lemah lalu menatapku. “Gwaenchana …. Bagaimana denganmu Taeyeon ?? Apakah kau sudah mempunyai pacar ??” Tanyanya kalem.

Saat aku akan menjawab pertanyaannya, seseorang memanggil namaku.

“Taenggoo…” Aku bisa mendengar suaranya. Suara yang selalu kurindukan setiap hari.

Oppa….

Aku langsung berbalik dan menjawabnya dengan senyuman yang merekah. “Oppaaaa….” Kataku sedikit manja. Aku bisa merasakan Tiffany sedikit terkejut dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba. Aku biasanya terlihat cool dan berwibawa dikelas. Itu karena image ku sebagai ketua kelas.

“Em…. Kau sibuk ??” Tanya Oppa tiba-tiba lalu memandang Tiffany.

“Uh… Oh….” Aku tak tahu harus menjawab apa, aku benar-benar bingung. Disatu sisi aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama Oppa, tapi disisi lain aku tak mau merusak suasana hati Tiffany. Apa yang harus aku lakukan ??

Aku mengerutkan kedua alisku sampai, dia berbicara.. gadis itu berbicara. “Anio… aku akan kembali kekelas dulu Taeyeon.. aku akan mencatat penjelasan Mrs. Park tadi, terimakasih telah meminjamkanku catatanmu, aku akan memastikan aku mencatatnya semua tanpa tertinggal sebaris pun… kamsahamnida..” Katanya sambil tersenyum padaku, senyum yang sama seperti tadi, tulus. Tapi aku bisa melihat sorot matanya yang sedikit kecewa. Dengan ragu, aku mengagguk. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi selain mengiyakannya. Setelah sadar, aku melihatnya… melihat punggungnya menjauh dariku.

__________

“Kau ingin es krim ??” Oppa bertanya padaku saat kami tiba di halaman belakang sekolah. Aku tak menjawab, hanya mengangguk. Dia menyuruhku duduk dikursi panjang dibawah pohon sebelum dia berjalan ke kantin yang tak jauh dari sini. Tempat ini sangat hening, aku menyukainya.

Aku menunggunya sambil memainkan jari-jariku. Pikiranku masih dipenuhi dengan bayangan sorot mata gadis itu saat kutinggalkan tadi. Aku jadi sedikit merasa bersalah padanya. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya kembali senang ya ?? Mungkin aku bisa mengajaknya pulang pulang bareng. Yeah… kurasa itu ide yang bagus. Lagipula Oppa ada rapat OSIS setelah ini, jadi aku bisa pulang bersamanya.

“Nih….” Oppa menyodorkanku semangkuk es krim blueberry.

“Gomawo Oppa…” Aku menerimanya lalu memberikan senyum termanisku padanya. Oppa mengangguk dan mengambil tempat kosong disampingku.

“Appa yang sedang kau pikirkan Taeng ??”

“Oh… tidak ada.. hanya beberapa hal tentang urusan sekolah.” Kataku tanpa berpaling pada eskrim ku.

“Hmm…. Baiklah… jangan terlalu dipikirkan Taeng….” Oppa menyentuh pundakku lembut. Merasakan kehangatan Oppa membawa pikiranku kembali pada Novel yang kubaca tadi. Aku ingin sekali menjadi tokoh utama dari cerita itu, gadis malang dan kesepian yang diselamatkan oleh seorang pangeran impiannya yang selalu menemani hari-harinya. Mungkinkah hal itu akan terjadi padaku kelak ?? “Taeng… Mianhae aku tak bisa mengantarmu nanti…” Oppa menatapku lekat.

“Uh ?? Gwaenchana Oppa… aku nanti akan pulang bersama temanku…” Jawabku cepat. Aku tak ingin dia menghawatirkanku saat ini. Aku sudah besar, bahkan sebelum aku berpacaran dengannya aku sudah terbiasa pulang sendiri. Meskipun saat ini aku memang benar-benar masih ingin bersamanya, tapi aku tak boleh egois.

“Hmm ??” Dia menatapku, terlihat jelas sorot matanya yang tampak khawatir dan takut. Aku bisa melihat dari tatapannya yang terasa tak nyaman.

“Ah… Aku bersama Tiffany.. gadis yang bersamaku di kantin tadi.. tapi, kalau kau tak mengizinkan, aku tak akan……”

“Oh… Gwaenchana Taenggoo… Aku senang kau tak pulang sendirian hari ini.” Oppa tersenyum meyakinkan, membuat hatiku mencair seketika. Aku mengangguk lalu memeluknya,

“Gomawo Oppa….”

“Ne…Ne…. Kau tak ingin es krim ini menangis karena cemburu melihat kemesraan kita kan ??” Aku menatapnya bingung, lalu dia mengangkat mangkuk es krim coklatnya yang sudah mencair. Kita berdua sama-sama tertawa lepas. Entah mengapa, terkadang aku melihat kewibawaannya di depan semua orang, mencoba terlihat cool dan independent. Tapi, saat ini saat dia berada didekatku, semua yang kulihat darinya adalah sosok yang hangat, perhatian, cheesy, dork dan seperti anak kecil. Terkadang, aku melihat diriku sendiri didalamnya.

__________

“Tiffany, mau pulang bareng ??” Tanyaku, padahal aku tak tahu apakah kita searah atau tidak. Setidaknya, aku mengantarnya sampai gerbang sekolah. Aku sedikit merasa bersalah meninggalkannya begitu saja siang tadi.

“Huh ??” Aku melihat ekspresi bingung diwajahnya sebelum ia tersenyum cerah dan seketika memperlihatkan ‘eye smile’ nya yang sangat bersinar. “Tentu….”

Aku menggandeng tangannya dan menyeretnya keluar, keheningan memenuhi udara selama perjalanan. Tak ada salah satu diantara kita ada yang berani membuka pembicaraan sampai akhirnya dia menanyakan sesuatu yang sedikit mengejutkanku. “Jadi, dia itu benar-benar pacarmu ya ??” Sorot matanya tampak sedih dan kecewa.

“Huh ?? Nugu ??” Aku sedang mempelajari tatapannya saat aku menyadari apa yang dia maksudkan. “Oh.. Leeteuk Oppa ??”

Dia mengangguk lemah sambil memain-mainkan dasi nya.

“Ah…. Kupikir kau sudah mengetahuinya….” Kataku berjalan mendekat padanya, mencoba mencairkan suasana. “Mungkin terdengar aneh, aku seorang gadis kutu buku dan lugu bisa berhubungan dengan Leeteuk yang terkenal itu, aku tak kaget semua orang menanyakan hal itu padaku… terkadang, aku pun tak mempercayai diriku sendiri, tapi aku terlalu mencintainya hingga mengubur jauh rasa ragu ku terhadapnya.” Kataku sambil tersenyum sedih. “Apa menurutmu gadis sepertiku pantas mendapatkan namja sempurna seperti dia ??”

“Sshh…” Tanpa kuduga, dia memelukku dan mengusap lembut punggungku, aku sedikit shock pada awalnya, tapi entah mengapa aku tidak mendorongnya menjauh. Seperti magic, aku seolah larut dalam kehangatannya. Apa yang kupikirkan ?? Ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang teman untuk memghiburnya kan… “Kau…. Terlalu sempurna untuknya Taeyeon…” Gumammnya pelan. Dia mungkin berpikir aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku Kim Taeyeon punya indera pendengaran yang sangat tajam, jadi aku dapat mendengarnya dengan jelas.

“Apa yang kau bilang ??” Aku ingin dia mengulangnya dengan jelas dan lebih percaya diri, sehingga aku bisa bertanya apa maksud dari ucapannya barusan.

“Ah… Tidak ada… Aku hanya bilang, kau adalah gadis yang paling beruntung karena memilikinya dalam hidupmu, begitupun dia juga sangat beruntung memiliki yeojachingu yang baik dan cantik sepertimu.. kalian adalah pasangan yang sempurna.” Dia tersenyum lemah. “Kalian tak perlu bersembunyi dibalik kegelapan.” Aku tahu sekarang dia berbicara tentang dirinya sendiri, jadi aku berbalik mengusap punggungnya.

Aku merasakan sisi pundakku basah, apakah dia ?? “Tiffany ??” Tanyaku sambil mengusap belakang kepalanya.

“G—Gwaenchana… M—Mianhae…” Katanya sambil terisak di bahuku. Langit seolah runtuh menimpaku, aku tak bisa melihat gadis disampingku ini menangis, entah mengapa, karena alasan yang tak jelas, aku ingin melihatnya selalu ceria dan tersenyum. Aku merasa aku harus melakukan apapun untuk melindungi gadis ini. Sebenarnya siapakah dirimu ?? Mengapa aku merasakan hal yang seperti ini padamu ?? Mengapa aku bisa se nyaman ini bila ada didekatmu ??

“Jangan bersedih… Aku selalu ada disini untukmu…” Kataku sambil memeluknya lebih erat. Aku merasakan dia tersenyum dalam pelukanku.

“Jinja ?? Jadi sekarang kita berteman ??” Tanyanya polos. Aku bisa membayangkan senyuman indahnya meskipun aku tidak mentapnya sekalipun.

Aku mengangguk dengan cepat, tak ingin dia menunggu terlalu lama. “Yeah.. kurasa sekarang kita berteman…” Inilah untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang teman. Aneh bukan ?? Sebelumnya, semua orang hanya mendekatiku untuk alasan tetentu, mungkin karena aku pintar dan bisa memanfaatkan contekan dariku atau karena aku kaya, mereka bisa membuatku mentraktirnya selama istirahat sekolah dan itu membuatku muak. Untuk pertamakalinya dalam hidupku setelah 7 tahun yang lalu aku bisa merasakan seorang teman yang benar-benar tulus ingin berteman denganku. Aku bisa melihat itu dari sorotan matanya saat menatapku, sangat murni dan tulus.

“Aku senang bisa berteman denganmu Kim Taeyeon…” Suaranya sangat lembut mengalun ditelingaku.

“Aku juga senang bisa berteman denganmu Hwang Miyoung…” Dia tersenyum dan sedikit tersipu. Aku tertaawa melihatnya seperti itu. Aku rasa dia sangat…. Cute….

Aku dan dia terus berjalan pulang, tapi aku merasa sedikit ganjil dengan hal ini, dia tak kunjung megambil jalan kearah rumahnya dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi, justru ia terus mengikutiku sambil menggandeng tanganku. Apakah ia ingin mengantarku pulang, atau dia ingin mampir kerumahku untuk mengetahui dimana aku tinggal, entahlah… saat aku sudah mendekati rumahku, hanya satu blok saja dari sini, aku menatapnya. Kupikir ini gila, dia benar-benar akan mengikutiku sampai rumah ?? Aku menatapnya bingung, dia sepertinya membaca pikiranku dari ekspresiku. Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil, lalu melepaskan gandengannya pada lenganku, “Aku pulang dulu…” Dia berjalan menjauh ke sisi jalan yang berjarak tak terlalu jauh dari rumahku. Dia berbalik lalu melambaikan tangannya padaku. “Annyeong Taeyeon.. Sampai bertemu besok disekolah…” Katanya lalu berjalan santai menuju sebuah rumah yang tak jauh dari tempatku berdiri dan meninggalkanku yang tercengang disana melihatnya membuka pintu sambil tersenyum cerah secerah mentari pagi padaku. Aku tak menyangka. Apakah itu rumahnya ?? What ?? Ada apa denganku ?? Bagaimana bisa aku tak tahu tentang hal ini ?? Rumah kita hanya berjarak satu blok… dan aku tak pernah tahu atau bahkan melihatnya disekitar sini. Ataukah aku hanya seorang gadis yang terjebak di suatu tempat yang membuatku muak, sehingga aku tak pernah melihat dunia luar. Aku merasa sangat bodoh dengan diriku sendiri.

__________

Hari demi hari berlalu, hubunganku dengan Tiffany pun semakin dekat. Aku justru merasa hubunganku dengan Leeteuk Oppa semakin menjauh, aku tak merasa kangen setengah mati lagi padanya saat dia tak berada didekatku. Tiffany lah yang menghapus rasa kesepianku, dia sering datang kerumahku dan belajar bersama. Orang tuaku menyukainya karena dia sopan dan ramah. Terkadang, ia akan mendatangi rumahku dan menunggu dikamarku saat aku sedang keluar atau pergi kencan bersama Oppa. Dan itu justru hanya akan membuatku semakin merasa bersalah karena membuatnya menunggu terlalu lama. Tapi dia selalu tersenyum dan mengatakan semuanya baik-baik saja, dan aku selalu merasakan ada kekecewaan dan kesedihan dibalik senyumannya.

Ketika aku berkata aku bersama Oppa, sorot matanya tak lagi sama seperti saat kita sedang berdua, dan itu berhasil membuatku merasa ingin melindunginya. Oh, sihir apakah yang digunakan gadis kecil ini untuk membuatku seolah tunduk padanya ?? Dia tampak polos dan childish saat sedang berada didekatku.

“Taeyeon…” Aku mendengar suara malaikatnya memasuki kamarku. Membawa pikiranku kembali ke dunia nyata.

“Oh… Tiffany ??” Aku bangkit dari kasurku lalu memandangnya lembut.

“Aku mengganggumu ??” Tanyanya. Aku heran, sudah berkali-kali aku menyuruhnya untuk tidak mempermasalahkan hal itu padaku. Dia bisa masuk kekamarku kapanpun dia mau. Tapi, dia tetaplah Tiffany. Selalu meminta izin kepada orang tuaku entah dia bisa masuk ke kamarku atau menungguku diruang tamu, meskipun jawabannya sangat jelas, gadis kecil ini bisa melakukan apapun yang dia mau disini, tanpa mengkhawatirkan apapun. “Apa kau sedang sibuk ??”

Aku memutar bola mataku. “Aish… Tiffany, apa menurutmu aku sedang sibuk ??” Tanyaku padanya, meskipun dia bisa menebak jawabannya, sangat jelas sekali aku sedang tiduran sambil menerawang ke langit-langit tanpa melakukan apapun dan hanya memakai kaos santai dan celana pendek.

Dia tertawa kecil lalu duduk disampingku, “Kurasa aku bisa masuk kalau begitu…” Dia merebahkan dirinya di kasurku.

“Kapanpun kau mau…” Aku ikut merebahkan diri disampingnya.

“Kau tidak keluar dengan Oppamu… ??” Dia bertanya padaku. Aku merasakan nada suaranya terdengar khawatir dan cemas.

“Anio… Dia sedang pergi ke Jepang bersama keluarganya.” Kataku tanpa sedikitpun rasa sedih dalam suaraku.

Dia langsung bangkit dan menepukkan kedua tangannya. “Benarkah ??” Dia tersenyum lebar. “Berapa lama ??” Aku sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya. Bagaimana bisa seseorang mengubah moodnya secara-tiba-tiba ??

“Um… Satu minggu..” Aku mendesah. “Kemarin dia mengatakannya padaku.” Aneh, aku sama sekali tak merasa sedih dengan kepergiannya. Mungkin karena Tiffany disini untuk menghapus kesepianku.

Dia melompat-lompat kegirangan. “Jinjja Taeyeon ??” Katanya sambil mengepalkan kedua tangannya didagunya dan memasang muka berseri-seri. Aku mengangguk mantap, senang melihatnya seperti itu. “Baiklah kalau begitu, boleh aku menginap dirumahmu minggu ini ?? Aku ingin menghabiskan waktu liburan dengan mu… Boleh kan Taeyeon ??” Tanyanya dengan mimic wajah penuh harap.

Aku tak tahu harus menjawab apa, disatu sisi aku merasa senang karena akan ada yang menemaniku menghabiskan waktu liburan ini tanpa Leeteuk, tapi disisi lain hatiku merasa takut, entah apa yang akan terjadi, aku takut dengan besok, aku ingin semuanya tetap seperti ini dan takkan pernah berubah.

“Bagaimana Taeyeon ??” Tanyanya untuk yang kedua kalinya.

“Ne…” Kataku sambil tersenyum manis. Dia adalah temanku, teman yang special untukku, teman yang membuatku merasa nyaman.

“Gomawo Taeyeon…” Dia berlari memelukku. Aku senang setiap kali berada dipelukannya, rasanya hangat dan nyaman. Tapi rasa takut tetap saja menghantui diriku. Aku takut semuanya akan berubah dalam sekejap, dan aku tak mau itu terjadi. “You are my best friend.”

“Tapi….” Sebuah pikiran merasuki otakku. Sebenarnya, aku tak ingin mengatakannya, tapi bagaimanapun juga, ini adalah kenyataan. Sebagai teman yang baik, aku harus mengatakannya. “Bagaimana dengan…. Jessica ??” Dengan berat aku berusaha mengatakan namanya, Jessica… Tiffany selalu menceritakan tentang gadis itu, dia selalu mengatakan kalau gadis itu seperti ini dan itu, aku tahu.. gadis itu dari kelas sebelah. Tapi, yang aku tak mengerti… kenapa… mengapa aku merasa sedikit terganggu saat dia dengan bersemangat bercerita padaku tentang hubungannya bersama gadis itu.

Aku tak pernah bercerita banyak tentang Leeteuk padanya, aku tak bisa… setiap kali aku menceritakan tentang pria itu, sorot matanya terlihat sedih dan terluka. Aku benci ini, aku tak bisa melihatnya bersedih, aku ingin membuatnya selalu tersenyum dan tertawa bersamaku.

“Ah… Dia…. Sepertinya dia juga sedang sibuk minggu ini..” Katanya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

“Ah…” Hanya itu yang bisa kukatakan, kenyataannya dia adalah Yeojachingunya, dan apa yang bisa kulakukan.

“Aku akan menyiapkan beberapa bajuku dulu…” Tiffany berjalan kearah pintu.

“Butuh bantuan ??” Tanyaku seketika. Dia menngelengkan kepalanya lalu tersenyum hangat.

“Tak perlu, rumah kita hanya berjarak satu blok jadi kau tak perlu khawatir.” Dia  kembali menatapku dengan ‘eye smile’ mark di wajahnya. “Aku akan segera kembali.” Aku merasakan lututku melemas seketika. Mengapa ada malaikat secantik itu turun ke bumi ?? Aku menggelengkan kepalaku setelah gadis itu pergi lalu menutup pintu kamarku.

Sebaiknya aku mandi dulu, lebih baik untuk menjernihkan kembali pikiranku sebelum Tiffany datang kemari.

Aku bersandar didalam bath tub, membiarkan air hangat mengalir menghujam kepalaku, semoga ini bisa membuang kembali pikiranku tentang gadis itu. Aku merasakan kehangatan merasuk kedalam pori-pori kulitku dan menyengat keseluruh tubuhku. Perlahan, aku mulai menikmati semua ini, tanpa terasa mataku mulai menutup dan detak jam didinding kamarku terdengar sampai ketelingaku. Pandanganku menjadi gelap dan kabur, kepalaku semakin berat, tubuhku menjadi ringan, seolah melayang diudara. Tak lama kemudian, aku sudah berada di alam bawah sadarku, dimana aku bisa memainkan fantasiku tanpa perduli dan takut bagaimana orang lain akan memandangku, yang kulihat sekarang hanyalah sosok gadis itu, menikmati waktu bersama dan melakukan apa yang takkan mungkin bisa kita lakukan didunia nyata. *blush*

__________

“Kya… Aku ketiduraann…” Sontak aku mengambil handuk berwarna biru yang mengantung di samping bath tub lalu melilitnya untuk menutupi tubuh mulusku. Dengan hati-hati, aku melangkahkan kaki kedalam kamarku, lalu melihat sekeliling.

Huft… Untunglah Tiffany belum datang…

Aku mendesah lega, lalu mengambil beberapa pasang pakaianku didalam lemari. Beruntungnya aku, sebelum aku sempat membuka handukku dan memakai pakaianku, tiba-tiba….

“Tae—Ye—on ???” Aku menolehkan kepalaku, kedua bola mataku membulat melihatnya, melihat gadis itu berdiri dihadapanku dengan sebuah tas jinjing di tangan kirinya. Aku melihat wajahnya memerah, lalu beberapa detik kemudian dia membalikkan badannya membelakangiku. “Uh…. Oh…. Mianhae… Seharusnya aku mengetuk pintu dulu tadi..” Katanya sedikit membisik.

“Ah… Gwaenchana….” Aku tak tahu harus menjawab apa lagi. Ini semua normal, kan ?? Kita berdua sama-sama perempuan kan… Bahkan beberapa kali aku mandi bersama adikku Haeyeon, terasa normal. Tapi mengapa didepan gadis ini, jantungku seolah berhenti berdetak. Pikiranku seolah melayang, mimpi tadi kembali menghantui otakku. Ini seharusnya tak boleh terjadi, tapi mengapa kami berdua seolah merasa tersipu. Bukankah hal ini normal untuk sepasang sahabat seperti kita ??

Sontak sebuah pikiran meraasuk kedalam otakku, Ah… Mungkin saja karena dia penyuka sesama jenis… Jadi hal ini terasa memalukan untuknya. Tapi mengapa hal ini juga terasa memalukan untukku ??

“Aku.. akan…. menunggumu diluar…” Dia melangkahkan kaki dengan gemetar. Entah apa yang merasukiku, aku menghentikannya, aku memegang tangannya dengan erat. Bayangan mimpi itu seolah kembali meracuni pikiranku.

“Kau… tak perlu… kau disini saja… um… aku…. Memintamu… untuk mengoleskan lotion ke punggungku…. Kau mau kan ??” Pintaku. Aku melihat mukanya sungguh merah, dia tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, sungguh imut… dia adalah bidadari yang turun dari langit.

Aku menggandeng tangannya masuk kembali kedalam kamarku lalu mendudukannya di ujung kasurku. Aku meyodorkannya sebotol hand body lotion lalu duduk memunggunginya. Dia menerimanya dengan tangan gemetaran, dia tak kunjung bergerak hanya menatap botol lotion tersebut. “Tiffany ??” Suaraku membawanya kembali ke dunia nyata.

“N—Ne… O—Oh…” Jawabnya lalu dengan gemetar menuangkan sedikit lotion ke telapak tangannya lalu mengusapnya dengan lembut ke punggungku. Aku tahu, ini salah… tapi aku tak bisa mengelak bahwa aku sangat menikmatinya. Setiap sentuhan hangat dari tangannya, membuat hatiku bergetar. Apa ini ?? Apa yang kurasakan ??

Tanpa terasa sudah lima menit dia menggosok punggungku di tempat yang sama, kurasa kita berdua telah hanyut dalam pikiran masing-masing. “Ehm…” Setelah menyadari semua ini tak seharusnya klakukan, aku menggeser sedikit tubuhku.

“Oh…. Ne…” Dia kembali meletakkan lotiom tersebut dipinggir kasur lalu memandangku. Aku bangkit dari kasur, tanpa sadar, haduk yang menutupi tubuhku sedikit terlepas, sontak aku menggunakan tangan kiriku untuk meraih ujung handuk tersebut dan menutupi kembali bagian tubuhku yang tadi sempat terbuka. Aku melirik gadis itu, dia sedang duduk sambil tercengang dengan situasi yang barusaja terjadi. Aku tidak bisa berbuat apapun, hanya tersenyum melihat ekspresi shock di wajahnya. Dia sangat imut dengan muka yang seperti itu.

Aku menyambar pakaian yang kuletakkan di samping meja belajarku lalu masuk kedalam kamar mandi. Aku bersyukur, mempunyai kamar mandi didalam kamar, dengan begitu aku tak perlu lagi keluar kamar dengan keadaan seperti ini. Mungkin seseorang bisa saja salah paham.

Setelah selesai berganti, dengan hati-hati aku membuka pintu kamar mandi. Aku melihat gadis itu masih duduk ditempat yang sama, dia menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya.

“Apa yang akan kita lakukan hari ini ??” Dia mendongakkan kepalanya.

“Mungkin nonton film..” Jawabnya. “Aku membawa beberapa kaset film baru yang mungkin belum pernah kau tonton…” Katanya lalu mengambil sesuatu dari tas nya. Aku mengangguk, tak tahu lagi harus berkata apa. Aku tahu, dia pasti akan menonton sesuatu yang romantic, cheesy, dan sebagainya, atau paling tidak dia menontonnya karena ada actor kesayangannya, entah siapalah namanya.

Aku menyalakan TV LCD dan DVD yang disediakan di kamarku.

“Taeyeon, kau mau nonton yang mana dulu ??” Dia menyodorkan beberapa DVD dihadapanku. Aku tak tahu yang mana, semua film ini tak ada satupun yang cocok dengan seleraku.

“Hm… kau saja yang memilih…. Aku akan menonton apapun yang kau inginkan.”

“Hm… Baiklah.. kalau begitu, yang ini saja…” Dia mengambil sebuah kaset dengan cover yang menutrutku tak menarik. Sepertinya aku akan tertidur bahkan sebelum konfliknya dimulai.

Kita duduk berdampingan di sofa. Kali ini aku benar-benar bersyukur, kamarku benar-benar seperti kamar seorang tuan putri. Dia menyandarkan kepalanya di pahaku sambil memaku matanya didepan layar TV. Aku tak bisa berbuat apa-apa, sedari tadi aku hanya memandangi wajahnya yang cantik. Sungguh, ingin sekali rasanya aku membelai rambutnya. Tapi, aku mengontrol diriku, aku tak mungkin melakukannya. Apa yang akan dia pikirkan kalau aku benar-benar melakukan hal itu…

“Aish… Pria itu sangat bodoh… dia seharusnya mengerti kalau gadis itu bear-benar mencintainya, tapi mengapa ia malah memilih gadis lain ?? Lihat… dari tatapan matanya saja sudah kelihatan kalau pria itu sebenarnya juga mencintai gadis itu… kenapa pria itu malah menghindarinya ??” Omelnya. Sangat lucu, dia bergumam dan marah-marah sendiri karena sebuah film yang bisa kutebak akhirnya juga pria itu akan meninggalkan pacarnya dan lebih memilih gadis malang itu.

“Mungkin karena dia belum siap dengan perasaannya.. mungkin juga karena dia menentang perasaannya sendiri.” Semburku. Aku tak tahu mengapa aku mengatakan hal bodoh seperti ini. Kata-kata itu seperti mengalir begitu saja dari mulutku tanpa berpikir terlebih dahulu.

Aku melihatnya masih menatapku, sorot matanya tak seperti biasanya. Kali ini aku tak bisa menerka nya. Dia membeku, tatapannya tak berpaling dariku. Setelah menyadari apa yang barusaja kukatakan, aku langsung menggelengkan kepalaku. “Ah… Anieo…”

Dia kembali memfokuskan pandangannya pada film yang sedang kita tonton. Tapi tatapannya tak senyaman sebelumnya, dia tampak sedang berfikir keras. Apakah dia sedang memikirkan kata-kataku barusan ??

Keheningan memenuhi ruangan sejak percakapan terakhir kita. Tak ada yang memulai pembicaraan. Dia tampak sedang tenggelam pada pikirannya, begitu juga denganku. Tanpa terasa, film sudah berakhir. Aku memandang jam, menunjukkan pukul 11 malam. Aku mendesah lega, jujur aku sama sekali tak tahu apapun tentang jalur cerita film itu. Nama pemain utamanya saja aku tak tahu. Dari tadi aku hanya memandang wajahnya dan tenggelam kedalam dunia fantasiku.

“Bagaimana menurutmu film tadi ??” Tiffany memngangkat kepalanya lalu menatapku tajam.

“Hmm… Bagus…” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku benar-benar tak puny aide untuk menjawab pertanyaan bodohnya. Selain itu, aku juga sudah mulai merasa ngantuk.

“Oh…” Dia bangkit dari pangkuanku lalu berjalan santai dan merebahkan dirinya di kasurku. “Tidakkah kau pikir sudah saatnya kita tidur sekarang ??” Katanya sambil tersenyum khas.

“Uh… Oh…” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil meguap dan meregangkan tanganu diatas kepalaku. Aku merebahkan diriku disampingnya. Aku merasakan dia menatapku dalam, tampak hanyut kedalam pikirannya.

“Taeyeon…. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ??” Tanyanya sedikit ragu-ragu. Aku menganggkuk, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan dia katakan. Cukup lama, aku menunggu dia tak kunjung mengucapkannya, sampai aku merasakan kepalaku semakin berat dan pandanganku semakin kabur, mataku sudah tak sanggup lagi membuka. Aku sudah mulai melayang ke alam bawah sadarku sampai aku mendengar sebuah suara malaikat yang mengalun lembut ditelingaku. “Aku menyukaimu Kim Taeyeon…” Aku merasakan diriku sendiri tersenyum. Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau kenyataan, yang kurasakan sekarang adalah diriku sudah mulai terasa ringan dan seolah melayang. Semua itu terasa seolah sangat nyata.

“Aku juga….” Hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan. Aku sudah terbiasa seperti ini, berbicara didalam tidur sudah menjadi kebiasaanku yang sulit untuk ku hilangkan. Aku terus melanjutkan imajinasi dan fantasiku sampai aku merasakan dahiku menyentuh sesuatu yang sangat lembut. Aku tak punya pikiran apapun, aku hanya melihat dia menciumku di tengah hamparan taman bunga yang indah. Mengajakku berputar-putar lalu bermain-main dengan bunga-bunga yang berwarna-warni membentang luas melukis indahnya lautan pelangi.

-TBC-

ini sinopsis untuk part berikutnya …

“TaeTae ??” Aku mendongakkan kepalaku, aku melihat apa yang seharusnya tak boleh kulihat. Sesosok gadis cantik memandang kearah kami dengan tatapan penuh amarah dan rasa kecewa. Aku mendorong tubuh lelaki itu menjauh dariku. Aku melihatnya berlari sambil memegangi dadanya dengan kedua tangannya. Aku merasakan langit seolah runtuh menimpaku. Nafasku seolah tercekik di tenggorokanku. Melihat punggungnya menjauh dari pandangannku seperti itu seolah membuat hatiku teriris pisau belati. Aku melakukan hal yang salah. Aku merasa telah menyakiti hatinya. Aku harus pergi, aku harus berlari mengejarnya, tapi sepasang tangan menghentikanku.

“Kau harus tinggal disini.”

“Tapi aku tidak bisa… aku harus….”

“Kau harus mengejarnya ??”

Aku menganggukkan kepalaku. “Yeah…”

Dia tersenyum simpul. “Kau harus mengikuti kata hatimu Taeng… Kau tak bisa terus bersembunyi seperti ini dan membohongi perasaanmu sendiri. Kau akan menyakit hati banyak orang.”

“A—Apa maksudmu ??”

“Kau akan tahu maksudku….”

“Huh ??”

“Sekarang kau harus memilih, mengejarnya atau tinggal bersamaku disini.”

Iklan

41 thoughts on “THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT] [1st Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s