SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT] [2nd Shoot]

THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT]

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  The Circle of Friends

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship.

 Cast                : TaeNy, Leeteuk, Shiwon, YulSic.

Chapter           : Three Shoot.

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl)

[2nd Shoot]

Hari demi hari kulalui bersama Tiffany, semenjak dia menginap dirumahku, kita menjadi semakin dekat. Tak hanya dirumah atau diluar saja, di sekolah pun kita juga selalu nempel layaknya sebuah amplop lengkap dengan perangkonya. Dia bahkan memiliki nama panggilan untukku… TaeTae… Kedengaran lucu, tapi aku menyukainya. Aku juga memanggilnya Mushroom, karena minggu lalu ia memotong rambutnya seperti jamur, itu alasan yang cukup lucu untuk memanggilnya mooshrom.

“TaeTae….” Tiffany memanggilku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Huh ?? Wae mushroom ??” Aku menolehkan kepalaku. Tanpa di sangka, ia mengecup pipi kiriku dengan singkat. Aku merasakan wajahku mulai memanas, apa yang kurasakan ?? Ini adalah hal yang wajar yang dilakukan oleh seorang sahabat kan ??

“Anio…. Hehehe…” Dia memejamkan kedua matanya, jari-jarinya dengan nakal menyelip diantara jari-jariku. Anehnya, aku samasekali tidak menolaknya, tidak menarik kembali tanganku atau menyingkirkan tanngannya. Aku justru menikmati semua ini, menikmati sentuhan hangat yang dia berikan padaku. “Kau kedinginan ??”

Aku menggelengkan kepalaku. “Anio… Wae ??”

Dia menatapku lalu mengangkat tanganku bersamanya. “Telapak tanganmu sangat…. Dingin…” Dia menempelkan tanganku di pipi kanannya, dapat kurasakan kehangatan dan kelembutan yang dia alirkan melalui pipinya, aku tak pernah menyangka kulitnya akan selembut dan sehalus ini. Membuatku semakin ingin menyentuhnya.

“Tae…..” Suaranya terdengar lembut dan setengah berbisik, sorot matanya seolah takut dan ragu.

“Ne…??”

“A—Aku….” Dia memilin-milin rambutn pendeknya, tampak sedang berpikir apa yang akan dia lakukan.

“Hmm….??” Aku mengangkat sebelah alisku, menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“A—Aku…. Mau berbicara padamu… boleh kan ??” Tanyanya. Semburat kemerahan menyeruak di pipinya yang lembut. Aku berpikir sejenak, menerka-nerka apa yang akan dia katakan.

Aku tak menjawab, hanya mengangguk. Tiba-tiba sebuah pikiran terbesit di otakku. Mungkinkah ?? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ini tak mungkin terjadi, dia tak mungkin menganggapku seperti itu. Aku hanya sedang paranoid saja. Tak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan. Kita berdua akan begini dan terus seperti ini selamanya. Tak akan ada satu pun yang bisa merubah keadaan ini.

“A—Aku Me………” Sontak aku langsung berdiri sebelum dia sempat melanjutkan perkataaanya.

“A—Aku harus pergi sekarang… A—aku harus bertemu dengan seseorang.” Jawabku lalu berlari. Aku terlalu pengecut untuk mengetahui kenyataannya. Semuanya terasa sangat menakutkanku. Aku lebih memilih untuk tidak mengetahui apapun daripada aku harus menerima konsekuensi dari keadaan yang mungkin takkan bisa ku kendalikan. Aku layaknya seorang gadis kecil yang lari dari kenyataan yang bahkan belum kuketahui permasalahannya, atau lebih tepatnya aku mengelaknya.

Aku berlari, meninggalkan gadis malang itu sendiri, tercengang disana sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya. Aku hanya takut, apa yang dikatakkannya mungkin akan mengubah segalanya, persahabatan kita atau lebih buruknya perasaan kita. Aku beringsut meraih HP ku, aku tak tahu harus berlari kemana lagi.. aku seolah ingin menyembunyikan diriku di lubang besar di dalam tanah atau mengunci diriku dalam lemari pakaian.

Oppa….

Hanya itu yang bisa kuingat saat ini. Hanya dia yang terbesit di pikiranku saat ini. Dengan gemetar aku meluncurkan jari-jariku menelusuri layar I-Phone berwarna silver yang kuletakkan di saku hoodie yang sedang kukenakan saat ini. Setelah beberapa detik aku menelsuri namanya, akhirnya aku menemukannya dan tanpa menunggu waktu aku langsung menekan tombol hijau di sudut kiri bawah layar I-Phone ku.

“Allo….” Suaranya terdengar nyaring di seberang sana. Aku bisa membayangkan sekarang dia sedang dalam mood yang baik. Haruskah aku merusaknya ?? Tapi aku membutuhkannya sekarang, aku membutuhkannya untuk meyakinkan peraasaanku sendiri.

“O—Oppa….” Kataku sambil gemetar dan sedikit terisak, aku tak dapat menyembunyikannya.

“Uh… Taeng ?? Waegeurae ?? Kau menangis ?? Apa yang terjadi denganmu ??” Suaranya berubah khawatir. Mianhae Oppa… aku membutuhkan sosokmu sekarang untuk meyakinkan perasaanku yang sebenarnya.

“O—Oppa.. A—Aku….” Aku benar-benar sulit mengeluarkan suaraku, bahkan untuk membuka mulutku pun aku tak bisa.

“Wae Taenggoo… Apa yang terjadi padamu ??”

“Oppa… Bisakah kau menemuiku di taman sekolah sekarang ??”

“Uh… N—Ne… Ta—tapi ada apa Taeng ?? Mengapa begitu tiba-tiba ??”

“A—Aku… P—Please Oppa…” Aku memohon padanya.

“Ne… tunggu disitu.. Oppa akan segera menghampirimu.”

Dengan itu, aku mendengar Oppa mentup teleponnya terlebih dahulu.

Aku duduk di bawah pohon beringin sambil memeluk kedua lututku, rasanya lemas sekali, aku hanya belum siap. Setelah beberapa menit aku menunggunya, akhirnya dia meneriakkan namaku dari kejauhan.

“Taenggooo….”

“Oppa…” Aku melambaikan tangan di atas kepalaku untuk memberitahunya. Sontak, Oppa langsung beringsut menghampiriku.

“Taenggoo.. Kau kenapa ??”

“O—Oppa…” Air mataku mengalir tanpa bisa ku bendung lagi, tangan hangat Oppa menarik pundakku kedalam pelukannya sambil mengelus punggungku.

“Ssh… Ssshh… Kau kenapa ?? Ada seseorang yang mau menyakitimu ??” Oppa membelai rambutku lembut.

“A—Aku… -Hikss- O—Oppa…-Hiks- Aku… -Hiks-.” Kataku sambil terisak.

“Shh… sudah.. kau mengislah dulu, nanti kalau kau sudah siap… kau boleh bercerita padaku.” Katanya tanpa melepaskan tangannya dari pundakku. Aku merasa aman setiap kali aku berada didekatnya.

Setelah cukup lama menumpahkan air mataku di bahunya, Oppa menatapku dalam sambil menyeka air mataku menggunakan kedua ibu jarinya.

“Jaangan menangis lagi… kau benar-benar terlihat jelek saat menangis…” Katanya sedikit menggodaku. Aku memukul lengannya pelan.

“Oppaaa….” Kataku full Aegyeo, rasanya memalukan.

“Aisshhh… Jangan melakukan hal itu lagi… aku tak bisa menahan pesona aegyeo mu itu…” Aku melihat Oppa tersenyum menahan malu, lucu sekali.

“Kalau begitu aku akan menggunakannya setiap hari… hahaha…” Kataku sambil tertawa ajhuma.

“Aish….” Oppa memutar kedua bola matanya, lalu menatapku begitu ia mengingat sesuatu.

“Taenggo…”

“Ne…??”

“Aku… Aku ingin mengajakmu ke pesta prom night sabtu besok kau mau kan ?? Setiap orang boleh membawa pasangan…” Katanya sambil menggenggam kedua tanganku lalu mencium punggung tanganku.

“Uh… Oppa…” Jantungku seolah berhenti berdetak selama sepersekian detik. Aku sedikit terkejut dengan aksinya.

“Kumohon… tuan putriku….” Katanya lalu berdiri sambil membungkukkan sedikit punggungnya dengan kaki kanan yang menyilang dibelakang kaki kirinya dan tangan yang masih menggenggamku.

Aku terkejut, dia mengingatkanku pada novel yang kubaca beberapa waktu yang lalu. Seorang pangeran yang menyelamatkan purti yang malang dari kesengsaraan.

Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku, “Ne…. Ne…. Oppa…”

Mungkin dengan ini aku bisa meyakinkan perasaanku sendiri dan menunjukkan kepada semua orang kalau aku dan Tiffany tidak pernah berhubungan lebih dari sekedar sahabat.

__________

@Prom Night…

Lampu remang-remang dari bola polkadot yang bersinar di langit-langit sambil berputar-putar memancarkan cahaya yang berwarna warni menambah romantis suasana malam ini. Beberapa orang membawa pasangannya, sebagian lagi hanya menyendiri atau mengambil kesempatan kali ini untuk mencari teman kencan. Gedung ini cukup luas untuk sekedar acara prom night dan perpisahan ini. Tapi, suasana simple dan unik yang membuat pesta ini lebih hidup. Seluruh pengunjung pesta ini mengenakan gaun berwarna gelap, karena memang tema prom night tahun ini adalah vampire knight.

Simple saja, aku hanya mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam dengan selingan motif rumit yang menggantung diatas lututku dan tak ketinggalan, sebuah pita besar berwarna senada yang kuselipkan disela-sela rambutku seperti bandana, juga kalung bintang-bintang yang mempermanis leher jenjangku.

Aku berjalan berdampingan dengan Oppa memasuki gedung. Sedari tadi aku terus memperhatikannya, cukup manis dengan jas berwarna hitam legam dan beberapa aksesoris yang membuat dia layaknya seorang vampire. Sedikit mirip Edward Cullen menurutku… hehehe….

Seketika pandanganku buyar ketika melihat seorang gadis yang sangat ku kenal bergandengan tangan dengan seorang pria lain. Saat itu juga, dadaku serasa sesak. Mengapa kau bisa ada disini ?? Dengan seorang pria ?? Bukankah kau….??

Siapa pria itu ?? Mengapa dia datang bersama My Mushrom..

Wait…. MY ???

Tanpa kurasa, aku dan Oppa berjalan semakin dekat kearah mereka. Aku merasakan jantungku berdetak sangat kencang. Apa yang kau lakukan di tempat ini ?? Dan siapa pria yang ada disampingmu saat ini??

“Annyeong…” Sapa Oppa pada seorang pria gagah yang datang bersama gadis itu.

“Annyeong Teuk…” Pria itu menjabat tangan Oppa dengan senyum yang mengemang dipipinya. Dengan tatapan penuh Tanya, pria itu memandangku, aku yang sedari tadi menyibukkan pikiranku dengan beriu-ribu pertanyaan yang berkerubung di otakku, langsung membalas tatapannya. Aku menaikkan sebelah alisku, menerka-nerka apa yang sebenarnya dia pikirkan. Oppa mengikuti pandangan kami.

“Oh…  dia Kim Taeyeon… Yeojachinguku.” Oppa memperkenalkanku pada pria itu sambil tersenyum saat mengucapkan yeojachingu.

“Oh… Salam kenal Taeyeon.. aku Shiwon, dan ini Tiffany… dia… um…” Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, Tiffany langsung menggandeng tangannya sambil tersenyum cerah yang terlihat dipaksakan. Aku membelakkan mataku melihat pemandangan itu, dadaku semakin terasa berat.

“Huh…?? Tiffany ?? Bukankah kalian teman dekat ??” Oppa memandang kami berdua. Aku tersenyum simpul sambil diselingi anggukan kecil.

“Kebetulan sekali, kalian saling mengenal..” Semakin erat pria itu menggandeng Tiffany, semakin sulit rasanya untukku hanya untuk sekedar bernafas.

TaeNy Party Dress
TaeNy Party Dress

Mengapa aku merasakan hal ini ?? Apa yang terjadi padaku ?? Mengapa hatiku sesakit ini melihat kalian berdua berada didepanku saat ini ?? Bukankah seharusnya aku ikut senang melihat kebersamaan mereka ?? Tapi…. Rasanya hatiku tak bisa menerimanya.

Kita melewatkan malam yang berat ini dengan berbincang-bincang ringan sambil sesekali bergoyang mengikuti irama musik yang turut memeriahkan acara ini. Sedari tadi yang kau dan aku lakukan hanya mengikuti mereka dan mengangguk apapun yang mereka katakan. Tidak satupun dari kita berdua berbicara banyak, hanya anggukan dan jawaban singkat yang keluar dari mulut kita. Aku sebenarnya merasa tak nyaman dengan suasana canggung ini, tapi aku tak berani berkata ataupun bertanya apapun padamu, dan itu semakin membuat otakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentangmu.

Sebenarnya, aku bisa saja menanyakan padamu beberapa hal simple atau hanya sekedar basa-basi saja, tapi saat aku akan membuka mulutku, rasanya suaraku seolah tersangkut di tenggorokanku, dan membuatku tak bisa mengucapkan apapun.

“Saatnya, kita mengumumkan Vampire King dan Queen tahun ini, dan grand final nya telah diputuskan, yaitu……..” Suara MC menggema diseluruh ruangan. Semua pasangan tampak tegang menunggu kata selanjutnya. Beberapa ada yang pesimis, ada yang tak perduli dan sebagian lagi tampak meyakinkan pasangan masing-masing. Oppa dan Shiwon tampak antusias berharap semoga mereka bisa masuk dalam sebagian orang yang tampak memeriahkan pesta malam ini. Sedangkan dilain pihak, aku dan Tiffany termasuk dalam bagian yang tak perduli, kami hanya saling menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing. Tapi, jawaban tak terduga, membuat kami terpaksa menarik pikiran kami kembali dari permainan dunia fantasi konyol yang semakin menggila. “Taeyeon-Leeteuk dan Shiwon-Tiffany, silahkan maju kedepan.” Aku dan Tiffany membelakkan mata dan menatap masing-masing pasangan untuk mengkonfirmasi apakah indera pendengar kami masih bekerja dengan semestinya.

“O—Oppa ??” Aku masih belum bisa mempercayainya, aku masih sedikit shock.

“Ne… Kita berempat masuk nominasi… Tidakkah kau menyukainya ??” Oppa menaikkan sebelah alisnya saat menatapku.

Aku mengangguk pelan, tak tahu harus menjawab apa. Seketika itu, Oppa menggandengku naik keatas panggung yang ditata apik oleh panitia, diikuti dengan Shiwon dan Tiffany dibelakang kami. Saat itu, kami giliran yang pertama untuk menunjukkan chemistry pada para tamu disini. Simply, aku dan Leeteuk Oppa mengambil kesempatan untuk menyanyi, aku tak punya persiapan apapun, begitu juga dengan Oppa. Kami memutuskan untuk menyanyikan lagu ‘Way Back Into Love’. Aku tak tahu, entah mengapa aku dan Oppa tampak menghayati lagu tersebut, ikut hanyut kedalam lagu yang sedang kami nyanyikan, beberapa kali kami saling mencuri pandang dan saling mengaitkan jari-jari kami. Respon yang sangat tak terduga, hampir semua orang yang ada di gedung ini bertepuk tangan sambil tersenyum kearah kami. Aku benar-benar tak menyangka mereka akan menyukainya. Karena, sesungguhnya aku tak benar-benar memikirkan Oppa saat aku menyanyikannya tadi, tapi seseorang ynag lain, seseorang yang sangat ingin aku peluk saat ini, seseorang yang dengan intens menatap kami berdua dengan sorot mata yang membara, sama seperti warna gaun yang sedang ia kenakan. Betapa aku menginginkanmu saat ini, membuatku semakin sulit untuk tertawa lepas. Sudut matamu yang sesekali berubah menjadi bulan sabit saat kau sedang tersenyum, tak lagi sedamai saat kita berdua bersama.

Setelah lagu tersebut selesai kami nyanyikan, dengan lembut Oppa menggandeng tanganku menuju meja di sudut ruangan sembari menunggu final result. Perlahan, aku mengambil gelas berisi champagne yang ditata apik membentuk struktur segitiga pascal dengan anggunnya menjulang layaknya sebuah gedung kaca yang elegan. Aku menyelipkan kaki gelas yang ramping itu diantara jari telunjuk dan jari tengahku. Aku tak begitu memperdulikan suara-suara atau perbincangan ringan yang dilakukan Oppa dan teman-temannya tentang betapa serasinya kami berdua. Saat ini, aku sedang memfokuskan seluruh pikiran dan perasaanku pada pemandangan mengerikan yang berada tepat didepanku.

Aku merasa risih saat melihat Pria itu meletakkan telapak tangan kirinya pada pinggang rampingmu sambil merangkulmu, sedangkan telapak kanannya berada tepat di bahu mungilmu.

Perlahan, kaki dan tubuh mereka mulai bergerak seirama dengan music yang mengalun lembut ditelinga.  Aku tidak tahu mengapa, aku membenci pemandangan ini. Melihatnya tersenyum sambil beberapa kali tertawa membuatku hampir lepas kendali.

Aku merasa sedikit lega, saat melihat Tiffany tak begitu focus sehingga beberapa kali ia tersandung atau menginjak kaki Pria itu, tanpa kusadari aku melepaskan beberapa tawa kecil dari mulutku saat aku melihat pemandangan lucu tersebut.

Tapi, senyum dan tawaku seketika lenyap saat aku melihat adegan yang sama sekali tak ingin ku tonton. Bayangkan, pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Tiffany, dan lebih parahnya sengaja atau tidak, gadis itu secara natural menutup matanya, menunggu tindakan selanjutnya dari pria yang ada tepat diadapannya.

Pandanganku hanya terfokus pada mereka. Duniaku seolah runtuh seketika. Jantungku serasa di hujam beribu-ribu ton beton. Nafasku seolah tercekik di tenggorokanku. Dadaku serasa sulit untuk bernafas. Darahku seolah berdesir dan mendidih di pori-pori kulitku. Rasanya, ingin sekali aku bisa menghentikan waktu lalu berlari dan bersembunyi disuatu tempat yang tak terlihat. Atau, yang paling buruk, aku sangat berharap lantai tempat pria itu berpijak, tiba-tiba retak dan terbelah di antara kakinya lalu membawanya masuk terperosok kedalam inti bumi dan takkan pernah menampakkan lagi mukanya dihadapan kami. Tapi sayangnya, aku tak bisa. Pandanganku seketika menjadi buram dan berkaca-kaca. Aku melampiaskan amarahku dengan mengepalkan kedua tanganku dengan sangat erat tanpa menyadari gelas yang ada digenggamanku.

Saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja, tiba-tiba aku mendengar suara benda pecah di sekitarku kemudian suara musikpun ikut terhenti. Tapi aku tak memperdulikannya, seluruh padangan dan pikiranku kukerahkan seluruhnya pada pasangan mengerikan didepanku ini. Begitu aku menyadari, semua pandangan tertuju padaku dengan tatapan ngeri, barulah aku menyadari saat ini aku sedang menjadi pusat perhatian. Aku mengikuti arah tatapan mereka semua, setiap pasang mata sedang memandang tanganku dengan intens. Setelah aku menyadari apa yang telah terjadi, sontak aku tercengang dan membeku ditempatku tak bergeming, aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku sedikitpum, untuk berkedip saja rasanya mustahil. Crap… Bad Timing ….

Aku melihat darah mengalir melalui telapak tanganku. Perlahan dan gemetar, dengan sisa-sisa keberanian yang masih melekat dalam tubuhku, aku membuka jari-jari lentikku. Beberapa pecahan gelas masih menempel dan menancap di telapak tanganku. Darah yang tadi sempat tertahan diantara genggamanku, kini perlahan mulai mengalir melalui lenganku dan saling berlomba-lomba untuk terjun ke lantai. Aku lebih merasa shock daripada kesakitan. Rasa sakit yang meluap-luap dalam hatiku seolah mengalahkan rasa sakit yang seharusnya aku rasakan saat ini.

Aku kembali menatapnya, sorot matanya terlihat shock dan sangat khawatir, bahkan dia mengerutkan kedua alisnya sambil mengedutkan sudut bibir tipisnya. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, mencoba untuk memperjelas pandanganku yang sempat kabur. Sesaat, kurasakan sepasang tangan menyentuh lenganku lalu menyeretku bersamanya.

Tanpa kusadari, kini aku menemukan diriku sedang berada disebuah ruangan yang cukup luas untuk kita berdua. Oppa dengan lembut mendorong tubuhku yang masih shock di sebuah kursi empuk disudut tengah ruangan.

“Kau tuggu disini sebentar.. aku akan segera kembali.” Dengan itu, dia berlari keluar ruangan sambil tergesa-gesa. Aku masih tenggelam kedalam pikiranku, saat secara tiba-tiba Oppa berlutut dihadapanku sambil meletakkan sebuah kotak kecil disampingku lalu dengan lembut mengambil tangan kananku kedalam pangkuanya.

“Apakah ini sakit ??” Dia tidak menanyakan apa yang terjadi padaku melainkan apa yang aku rasakan saat ini. Terkadang aku heran, apakah dia dengan sengaja memberiku pertanyaan semacam itu.

Aku menggelengkan kepalaku dengan tujuan mengalihkan tatapannya. “Anio…” Aku tidak merasakan sakit… bukan sakit karena insiden ini. Tapi, perasaan sakit yang tak kuketahui penyebabnya, atau lebih tepatnya tak ingin kuketahui.

“Kau harus lebih berhati-hati… aku tidak ingin melihatmu terluka seperti ini.” Dengan lembut ia mengusap darah yang mewarnai seluruh telapak dan pergelangan tanganku dengan cat berwarna merah.

“Oppa… Mianhee… telah merusak acaramu…” Kataku sambil menundukkan kepalaku, mataku menelusuri lantai yang berwarna putih polos ini.

“Ssshh… Lupakan hal itu… Sebaiknya kita mengobati tanganmu terlebih dahulu…”

“O—Oppa aku……”

“Taeyeon….” Tiba-tiba dia menatapku dalam, sorot matanya seolah mengatakan kejujuran dan kepasrahan.

“N—Ne….??” Aku sedikit takut membalas tatapannya, tapi dia keburu menelungkupkan kedua tangannya di daguku.

“Bagaimana…. Bagaimana jika….. saat ini kita mencoba untuk jujur pada perasaan kita sendiri ??” Lagi-lagi ia mengajukan pertanyaan dengan beribu jawaban yang menggantung di kepalaku.

“……………” Aku tak tahu harus menjawab apa, sorot matanya mengatakan hal lain. Seolah takut aku akan pergi meninggalkannya.

“Taenggoo…. Saranghae…” Dia tersenyum sebelum mendekatkan tubuhnya padaku. Wajah kita sudah semakin dekat dan hampir bersentuhan. Tangannya bermain nakal disekitar punggungku. Aku dapat merasakannya menelusuri setiap lekuk tubuhku sambil mencoba mencari resleting yang akan menunjukkan bagian tubuhku yang belum pernah kuekspos sama sekali. Barulah aku sadar, dia sudah mengambil alih diriku, mulutnya dengan kasar melumat habis bibirku. Aku membeku disana seperti patung, tidak membalas ciumannya ataupun mendorongnya menjauh. Tidak, sebelum aku mendengar sebuah benda terjatuh di atas lantai.

Saat aku mendongakkan kepalaku, aku melihatnya berdiri didepan pintu. Entah sengaja atau tidak, pintu itu dibiarkan terbuka lebar, dan dia melihatnya…. Melihat kita berciuman….

“TaeTae ??” Sesosok gadis cantik memandang kearah kami dengan tatapan penuh amarah dan rasa kecewa. Aku mendorong tubuh lelaki itu menjauh dariku. “Mi—Mianhee…” Aku melihatnya berlari sambil memegangi dadanya dengan kedua tangannya. Aku merasakan langit seolah runtuh menimpaku. Nafasku seolah tercekik di tenggorokanku. Melihat punggungnya menjauh dari pandangannku seperti itu seolah membuat hatiku teriris pisau belati. Aku melakukan hal yang salah. Bodohnya aku, hampir saja melakukannya. Aku merasa telah menyakiti hatinya. Aku harus pergi, aku harus berlari mengejarnya, tapi sepasang tangan menghentikanku.

“Fanny-ah….” Gumamku setengah berbisik.

“Kau harus tinggal disini.”

“Tapi aku tidak bisa… aku harus….”

“Kau harus mengejarnya ??”

Aku menganggukkan kepalaku. “Yeah…”

Dia tersenyum simpul. “Kau harus mengikuti kata hatimu Taeng… Kau tak bisa terus bersembunyi seperti ini dan membohongi perasaanmu sendiri. Kau akan menyakit hati banyak orang.”

“A—Apa maksudmu ??”

“Kau akan tahu maksudku….”

“Huh ??”

“Sekarang kau harus memilih, mengejarnya atau tinggal bersamaku disini.” Aku merasakan keseriusan dari ucapannya.

“A—Aku…” Aku ragu, aku bingung. Apa yang harus aku lakukan ?? Apakah aku harus mengejarnya atau tetap berada disini bersamanya. Aku diam untuk beberapa saat, tapi hatiku berteriak menyuruhku unuk berlari secepat yang ku bisa.

Ekspresi yang tergambar jelas di wajahmu…. Sorot matamu yang terluka dan berkaca-kaca seolah menahan air mata yang sudah memberontak ingin keluar melalui kedua bola matamu, mengapa itu sangat menyakitkan melihatmu seperti tadi ??

“Seperti yang kukatakan tadi, ini saatnya kau jujur terhadap perasaanmu sendiri.” Katanya tetap tenang.

“A—Aku….” Oppa benar, tak seharusnya aku menyangkal perasaanku sendiri. Aku telah membohongi diriku sendiri, dan parahnya, aku tak hanya menyakiti hati banyak orang, aku bahkan juga melukai hatiku sendiri. Tapi, tubuhku seolah tidak bergerak mengikuti otakku. Aku tetap diam tak bergeming, badanku tiba-tiba lemas seketika.

“Sekarang, pikirkan… jika aku dan dia secara tidak sengaja tercebur dilaut dan kami berdua tak bisa berenang dengan baik, saat itu kau mempunyai sebuah tali untuk menyelamatkan salah satu dari kami, lalu siapa yang akan kau pilih untuk kau selamatkan lebih dulu ??” Aku terkejiut mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Oppa. Apakah sangat terlihat jelas ??

“A—Aku… A—Aku….” Aku tergagap. Aku benar-benar tak bisa membayangkan hal itu akan terjadi, siapa yang akan kupilih ?? Sebenarnya, jauh didasar hatiku aku lebih memilih menyelamatkan gadis itu terlebih dahulu. Tapi mengapa ?? Seharusnya aku mempunyai naluri untuk menyelamatkan orang yang kusayangi bukan ?? Oppa adalah satu-satunya orang yang kusayangi saat ini ?? Ya Kan ??

“Taeyeon….. kalau Tiffany meninggal dalam kecelakaan, apa yang akan kau lakukan ??” Kali ini aku lebih terkejut lagi. Tiffanny ?? Dia bilang Tiffany ?? Dia bahkan menyebutkan namanya. Apakah aku begitu ceroboh ??

Apakah aku benar-benar mencintaimu ??

“Aku akan merelakan nyawaku untuk menyelamatkannya.” Kata-kata itu meluncur mulus dari mulutku. Entah bagaimana, aku tak pernah memikirkan tentang hal itu. Perkataan itu tidak keluar dari otakku, tapi jauh dari lubuk hatiku tanpa sempat kupikirkan terlebih dahulu. Seperti refleks dan natural tanpa ada paksaan dan beban di pikiranku saat aku mengucapkannya.

“Kalau begitu pergilah, aku senang kau akhirnya menyadari apa yang sebenarnya kau inginkan.” Tanpa kuduga, Oppa mengucapkan hal seperti itu ?? Benarkah ?? Apakah aku tidak bermimpi ?? Bahkan aku melihatnya tersenyum hangat, sehangat mentari pagi. Oppa menepuk pundakku lembut sebelum akhirnya aku berlari. Yeah… inilah yang selama ini aku inginkan…. Hal yang selama ini selalu ku cekal keberadaannya, sekarang aku sudah tak perduli lagi. Perasaanku jauh lebih penting dari keegoisanku.

Sebelum aku berhasil mencapai ambang pintu, aku melihat sebuah kotak kecil yang tergeletak diatas lantai, dan beberapa benda berceceran di sekitarnya. Setelah kuamati lebih dekat, aku dapat membaca ‘First Aid Kid’ di salah satu sisi box tersebut. Aku tercengang, apakah tadi dia bermaksud mengobatiku sebelum ia melihatku bersama Oppa ??

Aku tersentuh dengan niat tulusnya, tapi beberapa saat kemudian aku menyadari… Aku begitu egois dengan perasaanku sendiri.

Mianhae Mushroom… Please… Tunggulah sebentar lagi… aku akan segera menemuimu…

Dengan keyakinan penuh, aku menghempaskan kakiku selangkah demi selangkah mengejar gadis itu, aku tak tahu dimana dia sekarang. Tapi, sebuah suara dihatiku menyuruhku untuk tetap berusaha dan tidak menyerah demi mendapatkannya.

Cuaca seolah tak bersahabat, menceminkan hatiku yang berteriak-teriak ingin mencurahkan isinya. Bulir-bulir air hujan bercampur dengan air mata perlahan membasahi seluruh wajahku. Tubuhku menggigil dan gemetar , merasakan dinginnya malam ini. Tangan dan kakiku perlahan membeku menghadang hujan yang semakin mengguyur tubuhku dengan derasnya.

Suara Guntur yang menggelegar seolah memecah langit ditemani dengan kilat yang berlomba-lomba mencakar gedung-gedung tertinggi di ibu kota Negara ini, tak sedikitpun menyulutkan nyaliku untuk tetap mencari keberadaannya.

Setelah berjam-jam aku terus berlari menerobos derasnya hujan yang mengguyur tubuhku malam ini, aku memutuskan beristitahat sejenak untuk melepas lelah sambil memikirkan tempat dimana dia kemungkinan berada. Setelah aku hampir sampai di sungai han, aku melihat seorang gadis malang yang berjongkok sambil memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya diantara kedua paha mulusnya. Gadis itu lebih memilih berjongkok di samping kursi taman daripada mendudukinya. Sekujur tubuhnya basah terkena guyuran air hujan yang terus mendera tak terkecuali gaun yang sedang ia kenakan.

Melihatnya seperti itu, membuatku semakin menyesal atas kebodohanku selama ini. Perlahan, dengan sisa-sisa tenaga yang masih melekat di tubuhku, aku melangkahkan kakiku menuju kearahnya. Saat aku mengira semuanya akan sedikit membaik, aku menyadari aku sudah terlambat, karena seseorang telah berjalan satu langkah didepanku.

Ada seseorang yang lebih baik untuk mu dibandingkan denganku… dia benar-benar memperlakukan dirimu lebih baik daripada yang telah aku lakukan padamu.

Aku melihat seorang gadis berambut pirang berdiri tepat dibelakangnya dengan tangan kanannya memegang sebuah payung yang cukup besar untuk menghentikan deru air hujan yang menghantam tubuh mungil mereka berdua. Aku hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan,

 Ingin rasanya aku berlari dan memelukmu saat itu juga. Tapi bagaimanapun, aku tak puya hak untuk merebutmu darinya. Aku yakin dia lebih baik dariku yang hanya bisa menyakitimu… Mianhae Mushroom… Jika saja aku datang lebih cepat darinya, jika saja aku berjalan selangkah didepannya… Jika saja….. Aku adalah gadis yang kau peluk saat itu. Aku akan menyerahkan apapun untuk itu… Untuk terus berada disampingmu dan merangkulmu…

Dengan berat hati, aku menyeret langkahku menuju jalanan yang yang tampak lengang, langit sudah sangat gelap dan hujanpun semakin mereda, sangat kontras dengan hatiku yang kian bergejolak. Lampu-lampu dipinggir jalanan pun seolah enggan menerangi hatiku yang sedang gundah. Hanya menyorotkan cahaya remang-remang yang membuat bayanganku kian memudar.

Mengapa aku begitu bodoh untuk menyadari perasaanku sendiri ?? Apa yang kupikirkan selama ini ?? Keegoisanku hanya menghancurkan diriku dan orang yang sangat kucintai. Semuanya kini seolah tak ada gunanya lagi. Kau pasti sudah sangat terluka melihat kejadian tadi.

Aku menghela nafas panjang begitu tanganku membuka pintu kamarku. Aku langsung menghempaskan tubuhku pada tempat tidurku tanpa perduli untuk mengganti bajuku yang sudah sangat basah. Mataku serasa sangat berat, otakku seolah tak mau bekerja, tangan dan kakiku membeku kedinginan. Aku menarik sebuah selimut dari ujung bawah tempat tidur, lalu menutupi hampir seluruh tubuhku dengan kain tebal berwarna biru muda tersebut. Sangat pas dengan perasaanku yang semakin membiru.

Aku berharap, semua keadian malam ini hanyalah mimpi buruk dan begitu aku membuka mataku esok hari, aku bisa melihat wajahmu tersenyum kepadaku seperti yang kau lakukan setiap hari. Menyapaku dengan eye smilemu setiap aku melangkahkan kakiku memasuki kelas.

-TBC-

 

Iklan

52 thoughts on “THE CIRCLE OF FRIENDS [THREE SHOOT] [2nd Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s