FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 12

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author             : Roykilljoy

Indo Trans   : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                  : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)

Genre              : Romance

Main cast       : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.

Warning          : The Gendre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 3

Sinar mentari menerobos tirai putih tipis yang menggantung dibalik pintu geser, bermain-main di lantai, dimana tumpukan selimut dan beberapa helai kain tergeletak dan berserakan di sembarang tempat, setelah terjadi pertempran hebat yang terjadi kemarin malam. *PERTEMPURAN ???*

Sinar terangnya melaju sampai tepi tempat tidur, menyambut dua pasang kaki yang saling terjerat satu-sama lain. Sinarnya merayap diatas selembar selimut berwarna putih yang menuupi sepasang tubuh yang saling merangkul satu sama lain dengan lembutnya.

Tubuh Taeyeon bergidik, saat ia merasakan kehangatan sinar matahari menyentuh wajahnya. Taeyeon berguling sambil menggerutu lalu meletakkan kepalanya dibawah dagu Tiffany. Dia tak ingin bangun selama mungkin. Pertama, karena dia sangat menikmati kehangatan lengan Tiffany yang melilit pinggangnya dengan sempurna. Kedua, karena dia terlaluu lelah untuk melakukan hal lain. Sayangnya, dia tidak bisa mengabaikan deringan telepon yang melengking dan membahana diseluruh ruangan. Taeyeon berpikir apakah ia akan megangkatnya atau mengabaaikannya. Tapi, bagaimanapun juga dia menyadari bahwa itu hanya akan mengganggu gadis yang ada disampingnya. Sambil menggerang dan membabi buta, dia meraih gagang telepon di meja yang tak jauh dari tempatnya.

“He—Hello ??” Katanya serak, suaranya terdengar lelah setelah dia melawati malam yang panjang dan pertempuran yang penuh gairah [?]

“Ne.. Taeyeon-Sshi… Saya Lyn, saya ingin menginformasikan pada kalian, bahwa mungkin dalam beberapa hari ini akan ada gangguan, salah satu jalur utama listrik kami hancur tadi malam karena badai. Kau mungkin memperhatikan pemadaman listrik tadi malam.” Suaranya terdengar nyaring.

“Um…” Taeyeon melirik kearah gadis yang sedang tertidur nyenyak disampingnya. Dia tidak memperdulikan apapun tadi malam kecuali Tiffany. “Yeah…”

“Saya pikir juga begitu. Saya pribadi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Untuk mengatasi kondisi ini, kami telah menyiapkan beberapa pelayanan dan kegiatan outdor di hotel kami. Termasuk makan untuk mu dan semua anggota secara gratis. Semuanya telah ditangani oleh bagian logistik, selamat menikmati waktu kalian.” Taeyeon mengangguk acuh, meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya. Dengan lembut, ia kembali menyelipkan tubuhnya di pelukan kekasihnya. Mendekapnya erat sambil merasakan kehangatan yang dialirkan melalui sentuhan kulit mereka.

“Mmmh…” Desah Tiffany, merasa relaks saat tubuh Taeyeon menyentuh tubuhnya. “Selamat pagi…” Suaranya rancu dan serak tak lebih baik daripada Taeyeon.

“Selamat pagi…” Taeyeon tersenyum lalu menciumi bagian bawah dagu Tiffany.

“Apa tidurmu nyenyak ??” [Pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan : Retoris. Hahahaha] Kata-katanya bergetar dibibir Taeyeon saat dia menciumi leher jenjang Tiffany.

“Mmmmhh.. Kau ??”

“Amazing…” Taeyeon menarik kembali tubuhnya untuk menatap dalam kedua mata Tiffany. “Jam berapa sekarang ??”

Taeyeon mengangkat kedua pundaknya sambil menyelipkan beberapa helai rambut dibelakang daun telinga Tiffany. Entah mengapa dia merasa lebih relaks saat ini. Nyaman dan tidak terganggu.

“Apa kau lapar ??”

“Sedikit.” Taeyeon terkekeh. Tangannya membelai lembut pipi Tiffany. “Aku tidak bisa menyelesaikan makan malamku kemarin…”

Tiffany nyengir sambil cekikikan, “Sorry…” Dia berguling menarik kembali kain tipis lalu turun dari tempat tidur Taeyeon. “Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.”

Mata Taeyeon menatap kulit mulus dan pucat dari sosok anggun sedang mencari pakaiannya yang berceceran di lantai. Tiffany berbalik kearah Taeyeon lalu menatap keluar jendela. “Kelihatannya masih cukup pagi.”

Taeyeon terpana menatap sosok feminim didepannya, ia menahan nafasnya selama beberapa saat. Dia menarik bibir bawahnya masuk kedalam mulutnya lalu menggigit sudut kanan bibirnya secara perlahan sembari menikmati pemandangan slow motion dari sosok malaikat yang sedang memakai pakaiannya. [droll… droll…..]

“Aku berubah pikiran…” Taeyeon berlari kearah Tiffany yang akan membuka pintu. Taeyeon memeluk Tiffany dari belakang, menghentikan gerakan Tiffany. “Aku tidak lapar sama sekali.”

***

Seohyun duduk dengan linglung menatap secangkir teh yang telah disiapkan oleh Jessica beberapa waktu yang lalu.

Kehangatan dari dasar cangkir menyengat dan merasuk di pahanya saat ia meletakkan cangkir tersebut dalam pangkuannya, ia duduk sendirian di sofa ruang tamu namun ia tak merasa terganggu dengan hal itu. Pikirannya sedang berada di tempat lain, terus-menerus mengingat peristiwa pagi itu, membawanya pada momen tertentu.

Ia tak lagi memahami Yoona.

Sejak kejadian bulan lalu, saat mereka berbagi ciuman, tak satupun dari mereka dapat berbicara dengan nyaman satu sama lain. Yoona seakan naik, turun. Terkadang, ia akan berbicara dengan Seohyun seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka kemudian pada hari berikutnya ia seakan menjauhi gadis termuda seolah-olah hidupnya tergantung pada hal itu. Pagi ini, telah terbukti dari sikap aneh Yoona yang sering terjadi belakangan ini.

[Flashback]

Seohyun berbaring telentang menikmati keheningan dalam ruangan. Meskipun mereka mereka memiliki beberapa jadwal padat CF yang berubah menjadi liburan kecil yang disebabkan oleh cuaca buruk, dia berencana untuk mencari sebuah tempat terpencil untuk berlatih aktingnya.

“Dan juga pusat kebugaran…” Ia bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya. “Seharusnya ada satu disekitar sini…” Dia berpaling kekiri mengahadap tempat dimana seharusnya Yoona berada. Dia  telah melirik tempat itu selama beberapa kali, mencoba mencari tahu apakah gadis yang lebih tua telah tidur disampingnya tadi malam. Seohyun sudah berada dikamarnya setelah menonton film kemarin, sedangkan Yoona mengikuti Hyoyeon, Sunny dan Sooyoung ke dapur untuk mengambil beberapa minuman. Ia mencoba untuk tetap terjaga dan menunggu gadis itu, namun pada akhirnya ia tertidur.

Ketika ia terbangun, tempat tidur Yoona tetap tidak tersentuh dan ia tak tahu dimana gadis itu berada. Seohyun hanya dapat merenungkan semua arti dari kemungkinan tersebut. Suara deringan dari telepon yang bergetar dan terletak diantara kedua tempat tidur mereka menarik kembali pikiran Seohyun malam itu. Sebelum ia dapat meraih asal suara tersebut dia berhenti sejenak karena Yoona memasuki ruangan. Gadis itu secara perlahan menutup pintu di belakangnya, memastikan untuk tidak membuat terlalu banyak keributan. Seohyun menatapnya dari balik selimut tebal saat Yoona berjalan menyebrangi ruangan lalu berjalan menuju tempat tidur kosong disampingnya.

Dia mengenakan celana jeans biru dan kaos merah, dia memakai pakaian yang berbeda dari sebelumnya. ‘Mungkin dia habis dari kamar mandi’ gadis termenung menyimpulkan, dia mellihat handuk basah yang tersampir di bahu Yoona.

Yoona membungkuk membuka tasnya lalu meraih sesuatu didalamnya. Saat ia menemukannya, dia mengambil pengering rambut di tangannya kemudian berbalik, memutar badannya menunpu pada kedua tumitnya. Matanya menatap pada sesosok tubuh yang bersembunyi dibalik selimut di kasurnya. Gadis berambut panjang beralih ke pintu geser dibelakangnya lalu kembali pada Seohyun.

Seohyun hanya bisa bertanya-tanya apa yang sedang ada dalam pikiran gadis didepannya. Yoona berbalik pada pintu kaca lalu memutar-mutar tongkat putih panjang sampai tirai itu tertutup sepenuhnya. Menghalau sengatan sinar matahari yang menerpa wajah Seohyun. Dia kembali untuk memeriksa apakah dia melakukannya dengan baik, lalu mendesah lega saat dia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Seohyun tersenyum sambil mengintip. Dari sudut ekor matanya, ia dapat melihat gadis itu tersenyum kearahnya. Seohyun membuka mulutnya untuk mengucapkan terimakasih pada gadis itu, namun terhenti saat Yoona mulai bergerak kearahnya. Dia meletakkan pengering rambut di samping telepon hotel, kemudian berlutut didekat gadis yang wajahnya sedikit tertutupi oleh selimut hangat. Beberapa menit berlalu saat mata Yoona menatapnya secara intens.

Saat itulah Seohyun menyadari bahwasanya gadis yang lebih tua itu mengira dirinya sedang tertidur. Gerakan Yoona sungguh lembut dan hati-hati. Telapak tangannya membelai halus sisi Seohyun, perlahan melewati lipatan selimut. Dia membiarkan jari-jarinya sedikit melayang sehingga Seohyun tak merasakannya. Meskipun demikian, Seohyun sangat menyadari akan sentuhannya. Tangan tak berdosa itu perlahan menyeret kain kusut tersebut sampai tepat berada disekitar kepala Seohyun. Gadis yang lebih tua dengan lembut menarik kembali selimut tebal, tatapannya jatuh pada sosok tenang dibawahnya.

Hening…

Waktu berlalu sebelum akhirnya Yoona bergerak lagi.

Seohyun berbaring, berusaha untuk mengontrol nafasnya yang sempat tercekik di tenggorokannya, namun kelihatannya mustahil untuk dilakukan. Dia berjuang sambil kebingungan saat kehangatan bercampur rasa penasaran tumbuh diwajahnya, mengisyaratkan perlahan secara bolak-balik. Dia hanya dapat menebak apa itu sebenarnya. Kehangatan bermain-main disekitar pipinya sebelum mengalir melalui dagunya. Dia merasakan kepalanya miring kesamping dengan sendirinya. Ia tak dapat menahan pikiran liarnya lagi.

Seketika, tubuhnya menjadi hangat, sehangat tangan yang memeluknya.

Wajah Yoona hanya berjarak beberapa inchi darinya. Matanya tertegun saat menatap kedua mata Seohyun yang tetap tenang. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat, membeku dalam pelukan canggung mereka.

“Ini…” Suara Yoona tampak gemetar. “Ini tak akan mengubah kita berdua…” Dia mencoba memantapkan kata-katanya. “Aku masih…… tidak bisa…”

“Aku tak meminta penjelasan darimu…” Seohyun duduk di tempat tidurnya, mengamati Yoona dengan pengering rambutnya. Gerakannya tampak ragu-ragu dan tak yakin, sama seperti suranya.

Gadis termuda menghela nafas, “Maaf Unnie, aku tak bermaksud untuk—.”

“Mengapa kau meminta maaf ??” Yoona mengejek, matanya mengamati hal lain kecuali gadis yang sedang duduk didepannya. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu…” Yoona meletakkan tangannya pada gagang pintu kemudian memutarnya dan menggesernya secara perlahan. “Ku harap aku dapat memberikanmu sebuah jawaban..” Dia bergumam pada dirinya sendiri.

[Flashback End]

“Aku tidak bisa keluar seperti ini.” Protes Sunny, berlari menuruni anak tangga. “Tunggu sebentar, aku akan pergi mengambil beberapa barangku dan berganti pakaian.”

“Ayolah…” Sooyoung mengikutinya, mengaitkan lengannya pada gadis terpendek. “Kami tidak memakai baju yang lebih baik.”

“Yeah…” Yuri mengangguk menyetujui perkataan gadis tertinggi. Dia menyeret gadis terpendek sampai pintu depan. “Kita hanya akan berjalan-jalan saja.”

“Hay, Seohyun….” Sahut gadis tertinggi, melihat sosok termenung duduk sendirian di sofa. “Kau mau ikut ??”

Seohyun mendesah lembut, tersenyum sambil bangkit dari sofa. “Tentu…”

“Keren !! Kita akan mendapatkan makan siang gratis disalah satu restoran di lantai bawah. Hey, apakah Taengoo disini ??”

Gadis termuda melihat sekeliling ruangan tersebut. “Tidak…”

“Ah…” Sunny mengangguk. “Okay…”

***

-OST : Tiffany SNSD Ring-

How sparkling it was
The beautiful day
When we made the promise of our love

Tiffany berbaring dengan hati berbunga menikmati tumpuan berat gadis yang tertidur diatas tubuhnya sejak beberapa saat yang lalu. Dia berpikir setidaknya sudah ada satu jam sejak cahaya di dalam kamar tersebut lebih gelap dari sebelumnya. Ia menguap sambil memiringkan kepalanya ke belakang membenamkannya kedalam bantal dan meregangkan kedua tangannya diatas kepalanya sebelum membiarkannnya terjatuh di sela-sela rambut Taeyeon. Dia menggerakkan jari-jarinya melalui rambut Taeyeon yang berantakan, dia mengambil kesempatan ini untuk menciumi dahi gadis yang sedang tertidur pulas.

I couldn’t breathe
Couldn’t say a word
At the ring you put on for me
Only tears were dropping

Taeyeon membenamkan kepalanya lebih dalam pada caruk leher Tiffany, tak hentinya menghembuskan nafas dalam dan hangat kedalam sela pori-pori kulit gadis yang lebih tinggi.

Tangannya melewati bandul kunci pada leher gadis yang lebih tua, dimana ia telah menorehkan sejumlah lingkaran kecil menggunkakan jari-jarinya sebelum melanjutkannya pada punggung gadis malang tersebut.

I was like the lonely star that lost its light in the dark
You’ve become my light

Desah nafas yang tak beraturan meluncur dari mulutnya lalu berakhir dengan erangan ketika ia menyempul kukunya berulang kali diatas kulit mulus Taeyeon. Dia akan mengorbankan apapun untuk tetap seperti ini selamanya, untuk dapat tetap merasakan kehangatan ini selamanya. Sebuah tawa kecil meluncur melalui mulutnya begitu ia menyadari kekonyolan ini. Sekarang, dialah yang ingin menggunakan kamar mandi.

The promise with you that is engraved on my hand
Becomes the best flower
It will never change

Perlahan, Tiffany mengangkat tubuh Taeyeon lalu secepat kilat ia beringsut meninggalkan tempat tidur, ia bersyukur karena terdapat sebuah kamar mandi yang terhubung dengan kamar tidur mereka sehingga ia tak harus berpisah dari pelukan Taeyeon terlalu lama. [coo cweeeettt]

Dia segera kembali ke tempat tidur yang sudah acak-acakan, melepaskan ujung seprai yang melilit di kaki Taeyeon lalu menyelipkan kembali sudutnya pada tepian kasur sebelum merebahkan tubuhnya disamping gadis yang sekarang sedang berbaring menghadap pintu geser. Dia menyampirkan lengannya disekitar pinggang ramping Taeyeon. Dengan lembut, ia menciumi pundak gadis tersebut. Taeyeon tersentak saat tangan Tiffany menyentuh perutnya yang datar.

My love
This moment is heaven
Happy tears keep flowing like a fool
Today, then tomorrow, even when time goes by
Forever you are the gem in me


“Dingin…..” Ia tersentak, menangkup tangan Tiffany.

Tiffany terkekeh, “Maaf, airnya membeku…”

“Tidak apa-apa…” Taeyeon kembali relaks lalu menggenggam kedua tangan Tiffany pada tangannya sendiri. “Selamat pagi… lagi…” Dia tersenyum menarik tangan Tiffany didepan wajahnya.

“Aku tidak berpikir ini masih pagi… Kau sudah tertidur cukup lama…”

“Maaf…”

“Jangan begitu…”

I was like a flower that lost its scent, full of tears
You’ve become my scent

Taeyeon meniupkan udara hangat pada tangan Tiffany melalui mulutnya sebelum menggosokkan kedua tangannya pada tangan Tiffany. Gadis yang lebih tinggi tersenyum lebar karena sikap keperdulian yang ditunjukkan oleh kekasihnya. Dia tidak akan pernah bosan menyayangi gadis itu.

“Fanny-ah ??”

“Hm ??” Tiffany menutup kedua matanya.

“Saranghae…”

The promise with you that is sparkling on my hand
Becomes the eternal light
It will keep shining

Jantungnya berpacu mendengar kata-kata mutiara tersebut. “Na do Saranghae TaeTae…” Jawabnya linglung, jantungnya berdetak kencang di telinganya.

“Apa tanganmu sudah terasa hangat sekarang ??”

“Hmmm…” Dia terkikik, tak mampu menahan pikiran yang sekelibat terbesit dalam otaknya. “Lakukan sebelahnya lagi.”

Taeyeon berguling menghadap gadis yang sedang dimabuk cinta. “Tentu saja.”

My love
This moment is heaven
Happy tears keep flowing like a fool

Dia menarik tangan tiffany yang lain lalu mendekatkannya pada mulutnya, mempraktekkan tindakan yang sama seperti sebelumnya sampai tangan Tiffany terasa hangat. Dia menciumi ujung jari gadis yang lebih muda, matanya menatap kilauan kalung yang menggantung apik di leher kekasihnya.

Tiffany mengikuti pandangan gadis itu, senyumnya tak pernah absen. “Kau tahu apa yang luc dari hal ini ?? Sebenarnya, aku ingin membelikannya untukmu.”

“Benarkah ??”

Today, then tomorrow, even when time goes by
Forever you are the gem in me

Gadis yang lebih muda mengangguk, tangannya menelusuri secara bebas diatas sebuah cincin yang tergantung pada rantai yang tipis. “Kupikir, ini akan terlihat bagus untukmu.”

Taeyeon tertawa kecil, “Gomawo, maaf… itu sedikit tergores.”

Tiffany cemberut, mengingat kembali kisah yang telah Taeyeon ceritakan, “Jika aku datang lebih cepat, kau tidak harus menagis begitu banyak….” Dia mendaratkan sebuah ciuman pada punggung tangan Taeyeon. “Mianhae…”

Do you know?
You in my heart

Gadis kecil tersenyum, membelai pipi Tiffany. “It’s Ok..” Dia bersandar didekat telinga Tiffany, membuat gadis itu menggigil saat ia membenamkan tangannya di samping sisinya. “Yang penting sekarang adalah bahwa kita pada akhirnya bersama.”

Tiffany mengangguk, pikirannya seakan berputar-putar lalu melayang saat tangan cekatan Taeyeon terus menjelajahi tubuhnya. [Ckckc…. Dasar Byuntae… diapa-apakan tetep aka Byuntae…]

Though I’m a fool that knows nothing but you
But there’s this one thing that my heart knows
That without you
I can’t become me
That without you
I can’t become me

**

“Mereka masih belum kemari ??”

Jessica mengangkat kedua pundaknya, “Kami telah menyisakan beberapa untuk mereka, tolong ambilkan itu.”

Sooyoung meraih beberapa potong roti italia sebelum menyerahkan keranjang hiasan pada Jessica.

“Keranjang ini sangat cantink…” Sunny mengamati mangkuk salad lalu menyerahkannya pada gadis di samping kirinya.

“Apakah menurutmu kita harus mengembalikannya ??”

Hyoyeon mengangkat kedua pundaknya, dengan cepat menyerahkan mangkuk salad kepada Yuri. “Mungkin tidak, aku akan mencucinya untuk berjaga-jaga.”

“Baiklah…” Sunny mengangguk, mulai menyendok makanannya.

“Kau harus memakan sayurannya.” Omel Seohyun. “Itu baik untuk tubuhmu.”

Hyoyeon mendesah meraih sebuah mangkuk, kemudian dia menempatkan beberapa lembar dedaunan di piggiran piringnya lalu meletakkan mangkuk itu kembali.

“Film lagi malam ini ??”

“Bagaimana jika menonton TV saja ??” Yuri menyarankan, menggosok perutnya yang sudah penuh. “Ada acara baru yang sudah lama ingin kutonton.”

“Boleh juga…” Yoona menyetujuinya, berlomba dengan Sooyoung untuk potongan terakhir roti italianya.

“Aku senang kita memiliki waktu luang seperti ini.” Seohyun tersenyum geli sambil menatap suasana kehangatan bersama Unnies nya.

“Aku juga.” Sooyoung mengangguk, “Akan lebih baik kalau aku membawa PS3ku juga.”

“Yeah, tapi kita kan tidak tahu jika ini akan terjadi.” Jessica mengoleskan beberapa selai pada rotinya.

Ssoyoung mendesah, perutnya terlalu penuh untuk memprotes gadis yang lebih tua. “Benar..” Lanjutnya sambil mengangguk.

Sunny tersenyum, bangkit dari meja. “Kau seharusnya memiliki DS seperti aku.” Dia menyerahkan piringnya pada Hyoyeon yang sudah berada di wastafel.

Gadis jakung mengangkat pundaknya lalu berjalan menuju sofa. “Mungkin, Dimana itu ?? Kau harus membawanya kebawah.”

“Baik…” Dia menyebrangi tangga.

Jessica melirik layar ponselnya, “Ini sudah jam 9 lewat, kalian sama sekali tidak melihat mereka saat sedang berjalan-jalan disekitar sini ??”

Yuri menggeleng, “Tidak, lagipula kita tidak pergi kemana-mana.” Dia meletakkan piringnya disamping Hyoyeon. “Tempat ini sangat besar.”

“Kapan kau melihat mereka pergi ??” Jessica berbalik pada gadis berambut gelap di sudut meja.

“Hm ??” Seohyum membalas tatapannya.

“Bukankah kau yang mengatakan pada Sunny bahwa mereka tidak berada disini ??”

“Oh…” Seohyun bergabung dengan gadis yang lebih tua di wastafel. “Maksudku di lantai bawah, Aku juga belum melihat mereka sama sekali hari ini.”

“Oh….” Jessica meletakkan pirinya di meja dekat Hyoyeon. “Okay…” Dia berbalik pada Yuri, mengikuti gadis yang lebih tinggi menuju ruang tamu. “Acara apa yang ingin kau tonton ??”

**

Sunny melompat menaiki tangga dan berbelok kekamar tidur di ujung lorong. Dia bermaksud untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal kemarin malam, namun pingsan beberapa saat setelah mengalahkan Hyoyeon dalam permainan minum kepalanya masih sangat berat. Dia mengetuk sebentar pada pintu yang masih tertutup lalu dengan gegabah mendorong pintu sampai terbuka begitu tidak mendengar jawaban.

Penghuninya masih terlalu asik satu-sama lain untuk menyadarinya.

-TBC-

Iklan

48 thoughts on “LOVE IS HARD Part 12”

  1. taeyeon tetep ya byun nya ada aja walau lg badai salju sekalipun kekekekkkk
    aduh sunny masuknya gk ontime bgt

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s