SNSD, SOSHI FF

A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 1]

A LOVE UNDER AN OAK TREE

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  A Love Under An Oak Tree

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship, Comedy.

 Cast                : Yulsic (Mainly) Taeny, YoonHyun.

Chapter           : Still Unknown/ Undecided.

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl)Heppi reading guys….

Oak trees come out of acorns, no matter how unlikely that seems. An acorn is just a tree’s way back into the ground. For another try. Another trip through. One life for another.

Prolog

Seorang gadis kecil berjalan sendiri melewati jalan setapak di lereng bukit… menikmati hembusan angin petang yang menerpa seluruh tubuhnya. Gadis itu tak sedikitpun merasa kedinginan meskipun ia hanya memakai kaus putih tipis yang dipadankan dengan cardigan berwarna hijau bahkan celana jeans biru selututnya pun tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Gadis kecil itu tak memperdulikan keheningan malam yang kian mencekam, ia melangkahkan kaki kecilnya dengan penuh keyakinan. Ia harus menyelamatkan seseorang….

Suara raungan serigala bercampur dengan isak tangis seorang gadis berdenyut sampai gendang telinganya. Sesekali kakinya terperosok kedalam lumpur basah yang mengotori ujung celananya. Gadis itu tetap menegakkan kepalanya, pupilnya menyipit mencoba mengumpulkan sorot cahaya yang terpancar dari sinar bulan purnama petang ini.

“Aish… tau gini kenapa tadi gak bawa center aja sih… gelap banget…” Gertunya dalam hati.

Ia memeluk kedua lengannya sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya pada lengan cardigan yang sedang ia kenakan. Kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan mencari tanda-tanda kehidupan yang mungkin masih dapat ia temukan di tempat ini.

“Aku yakin banget tadi aku denger sesuatu… seperti suara tangisan.” Gadis itu menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian telinganya, mencoba untuk memperjelas indera pendengarannya.

Semak belukar yang bergoyang di samping bawah pohon Oak menarik perhatiannya. Ia kembali menyipitkan matanya, mencoba memperjelas pandangannya yang kian buram. Sambil berjingkat ia melangkahkan kakinya, dari jarak beberapa meter saja, gadis itu dapat melihat ada sesuatu yang tersembunyi dibalik semak. Dalam kegelapan malam yang kian mencekam, ia mengumpulkan kembali nyalinya yang sempat menciut. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya saat ia mendapati seseorang atau mungkin sesuatu sedang meringkuk dibalik semak sambil memeluk kedua lututnya.

Krakk…

Sebuah ranting lapuk dari cabang pohon Oak tua yang menjalar tak karuan itu tanpa sengaja terinjak oleh ujung kaki gadis kecil itu. Sontak, ia kembali memundurkan kakinya selangkah kebelakang sambil memejamkan kedua matanya dengan erat. Kedua tangannya mengepal di depan dadanya, ia menggertakkan giginya begitu menyadari kecerobohannya.

Suara teriakan lumba-lumba yang hampir memecahkan gendang telinganya, memaksanya kembali untuk membuka kedua matanya lebar-lebar. Ia menggunakan sepasang jari telunjuknya untuk menyumpal kedua telinganya, melindunginya supaya tak benar-benar pecah.

Begitu pandangannya benar-benar sempurna, “Kyaaahhhh !!!” dia membuka mulutnya lebar-lebar, terlihatlah sesosok gadis seukuran tubuhnya dengan mata dan hidung yang memerah hanya saja gadis itu sedikit lebih pendek darinya. Parasnya benar-benar sempurna untuk seorang gadis kecil, gaun putih gading yang ia kenakan selaras dengan kulitnya yang putih pucat dan bibir tipisnya yang berwarna merah delima.

Gadis pemberani itu tercengang ditempat, melihat  sososk asing itu justru berteriak dan berlari dibalik pohon Oak yang sudah ratusan tahun umurnya. Ia membenamkan wajahnya dibalik pohon sambil sesekali mengintip melalui celah menggunakan sebelah matanya. Kaki dan tangannya gemetar, ekspresi ketakutan tergambar jelas diwajahnya.

Gadis berkardigan hijau tersebut memberanikan diri mendekatinya, berjalan selangkah demi selangkah menghalau rasa ingin tahunya yang kian membesar. Namun, sosok asing itu justru semakin ketakutan, menggelengkan kepalanya sambil membisikkan kata ‘jangan medekat’ pada gadis itu. Ia menyerngit sejenak, mencoba memikirkan situasi yang sedang ada dihadapannya. Setelah otaknya kembali bekerja secara normal, ia tersenyum simpul sambil megulurkan tangan kanannya pada sosok asing yang sekarang sudah melandaskan pantatnya diatas rerumputan dengan kedua tangannya sebagai tumpuan tubuhnya.

“Jangan takut… aku bukan apa-apa… Aku tak bermaskud jahat padamu.” Gadis pemberani itu tersenyum hangat padanya.

Namun, gadis bergaun putih gading itu tak membalas bantuan uluran tangannya, ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap gadis didepannya.

“Kau tak butuh bantuan ??” Ia kembali bertanya setelah tak mendapatkan respon dari gadis itu.

Gadis ketakutan itu mengangguk, perlahan dengan tangan gemetaran, ia meregangkan tangannya menyambut uluran tangan gadis dihadapannya. Dengan lembut, gadis pemberani itu mengangkat tubuhnya yang sudah melemas. Setelah ia sudah benar-benar berdiri tegak menggunakan kedua kakinya, gadis pemberani itu membantunya membersihkan pasir dan kotoran yang menempel di gaun putihnya, gadis itu tersenyum. “Gomawo…” Ucapnya sambil memeriksa kembali bagian belakang gaunnya kemudian menepuk-nepuk sedikit dibagian pantatnya.

“Ne… Kau harus lebih berhati-hati… bagaimana bisa gadis kecil sepertimu bisa berada ditempat yang seperti ini, dimana orang tuamu ??” Gadis pemberani itu megedarkan pandangannya sejauh mata memandang, namun ia tak menemukan tanda-tanda kehidupan manusia lain.

“Aku kabur….” Katanya jujur.

“Kabur ?? Atas dasar apa kau kabur dari rumahmu ??” Gadis pemberani menatapnya heran.

“Ceritanya panjang…” Gadis bergaun putih itu nampak murung, ia menyeka sedikit air mata yang masih tertinggal di ujung dagunya.

“Kedua telingaku siap untuk menampung ceritamu…” Gadis bercardigan hijau melebarkan senyumnya sambil menyibakkan rambutnya ke belakang punggungnya kemudian membuka kedua telinganya lebar-lebar.

Gadis bergaun putih tersenyum lega sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, ia merasakan lengannya tubuhnya bergerak kesamping, ternyata gadis bercardigan hijau tersebut telah menarik lengan kanannya dan menyeretnya menuju sebuah tempat di balik pohon Oak tua.


Green || Kwon Yuri || Black Pearl Café

“Ya !! Sampai kapan kau akan memandangi gambar itu terus, huh ?? Mau kau pelototin sampai fotonya bolong sekalipun, kau takkan pernah bisa masuk kedalamya ataupun gambar itu tiba-tiba keluar dengan sendirinya, jadi… Hentikan fantasi konyolmu itu Kwon Yuri !! Banyak hal yang masih menunggu untuk kau kerjakan….” Gadis pendek itu lagi-lagi mengomelinya. Yuri kembali meletakkan foto syarat makna tersebut di sudut mejanya, ia mengalihkan pandangannya ke berbagai sudut ruangan, menghindari tatapan gadis pendek itu. Sesekali ia mencuri pandang sambil melayangkan lirikan singkat pada sebuah foto berbingkai teddy bear tersebut.

Gadis pendek itu menghela nafas dalam, kembali mengisi udara di kerongkongannya yang sudah kehabisan oksigen. “Yul, sampai kapan kau akan terus-terusan begini, huh ?? Masih banyak gadis-gadis seksi dan pria-pria tampan yang kaya raya menunggumu di luar sana.” Gadis pendek itu mengambil kursi didepan mejanya, memaksa yuri untuk menatap kedua matanya.

“Sudahlah Taeng…. Simpan ocehanmu untuk nanti… Sekarang masih waktunya bekerja, apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu ??” Taeyeon menggeleng lemah, dia sudah kehabisan akal menghadapi gadis keras kepala ini. “Lantas, ada perlu apa kau datang ke ruanganku ??” Yuri menaikkan kedua alisnya, menatapnya seolah tak terjadi apa-apa.

“Oh, iya…. Ada pelanggan yang…. Aisshh…. Dia mencarimu.” Taeyeon sengaja mempersingkat obrolan mereka, atau lebih tepatnya ia tak tahu bagaimana ia harus menjelaskannya pada Yuri.

“Mengapa dia mencariku ??” Yuri membuang muka, dia sudah muak dengan berbagai macam alasan konyol pelanggan yang sebenarnya bermaksud untuk bertatap muka berdua dengannya.

“Dia marah-marah, Yoona tak sengaja menumpahkan milkshake pesanannya pada gaun pelanggan itu, dan sekarang dia berteriak-teriak mencari manager café ini.” Taeyeon menarik-narik kerah lengan kemeja Yuri.

Yuri memutar kedua bola matanya, mendengar karyawan sekaligus sahabatnya itu mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang. “Tak bisakah kau menghandle nya ??”

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya, raut wajahnya tampak putus asa. “Aku menyerah… Lebih baik kau temui dia, sebelum ia menghancurkan seluruh benda di café ini.” Taeyeon bergidik ngeri.

Yuri tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali kemudian berjalan keluar ruangannya lalu dengan santai ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga diikuti oleh Taeyeon dibelakangnya. Pemandangan yang sudah tak asing lagi menyambut hangat kedua matanya. Yuri mengedarkan pandangannya keseluruh sudut café sebelum tersenyum singkat.

Begitu ia menginjakkan kakinya pada anak tangga terakhir, ia sudah disambut oleh teriakan seorang gadis blonde yang dimaksud Taeyeon. Gadis blonde itu tak hentinya berteriak-teriak pada karyawan sekaligus sepupunya Im Yoona, ia tetap bersikeras memaksa sepupunya untuk mengizinkannya masuk dan bertemu dengannya. Yuri memasang wajah kalem sambil mengembangkan senyumnya sebelum ia melangkah mendekati asal kegaduhan di café miliknya.

“Ehm.. Maaf, saya Manager sekaligus pemilik Café ini, ada yang bisa saya bantu ??” Yuri berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menunjukkan emosinya, ia memandang pelanggan mengerikan itu dengan tatapan sehangat mentari di pagi hari.

“Aku………” Begitu pelanggan itu memaingkan wajahnya pada Yuri, dia tampak sedikit terkejut. Mereka berdua terdiam ditempat, tak satupun dari mereka yang melanjutkan pembicaraan. Mereka hanya menatap lekat satu sama lain.

Yuri merasa tak asing lagi dengan gadis ini, namun ia tak tahu siapa dia dan kapan mereka pernah bertemu, ia merasa mengenalinya, namun entah dimana ia pernah bertatap muka dengan gadis ini, ataukah mungkin hanya dalam sebatas mimpinya saja. Entahlah, ia tak dapat berpikir sejauh itu saat ini. Sorot mata gadis itu benar-benar telah membuatnya terpana seketika. Ia merasa mengenali sepasang mata coklat yang menatapnya tajam. Yuri menyerngit sejenak, Nampak berpikir keras, apakah ia benar-benar mengenali gadis ini ataukah ini hanya bagian dari halusinasinya saja… Karena bagi Yuri, batas antara Imajinasi dan Realita sangatlah tipis.

“Ehem….” Suara deheman yang berasal dari mulut Taeyeon berhasil memecahkan keheningan dari suasana canggung itu, sudah lebih dari 3 menit mereka dalam posisi seperti itu. Baik Yuri maupun gadis itu terkisap, membawa pikiran keduanya kembali pada kepalanya masing-masing.

“Ah… Kau harus mengganti gaunku ini… kau tahu, gaun ini baru aku beli dari Paris. Dan gajimu setahun pun takkan sanggup menggantinya..” Gadis blonde itu beralih pada Yoona yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya, air mata di pelupuk matanya seakan mau tumpah. Meskipun sudah berkali-kali ia terjebak dalam situasi seperti ini, namun tak pernah sekalipun ia menghadapi pelanggan yang mengerikan seperti ini.

“Sudah Jessie… Lupakan saja… Ayo kita pulang…” Teman gadis blonde itu berusaha menarik lengannya. Ia tersenyum singkat sambil sedikit membungkukkan kepalanya pada Taeyeon sebelum menyeret lengan gadis yang sedang marah berusaha menyelesaikan permasalahan tersebut. Taeyeon yang menerima senyuman singkat dari gadis brunette [note:berambut coklat] itu sontak tersenyum sambil menendang-nendang ujung sepatunya di lantai, berusaha menahan senyumnya yang  kian melebar. Yuri tahu, sahabatnya selalu melakukan hal itu jika ia tertarik pada sesuatu atau sedang menyembunyikan perasaannya.

“Mwo ?? Anio Tiff…. Kau tahu kan, gimana susahnya aku dapetin gaun ini Tiff.. Lo tahu kan perjuanganku beberapa minggu yang lalu… Lagipula bagaimana bisa gadis seceroboh dia dipekerjakan di café yang cukup ternama seperti ini.” Gadis blonde itu menpuk-nepuk kecil lengan kiri gaunnya yang terkena tumpahan milkshake coklat itu. Bercak-bercak kecoklatan nampak sangat jelas membekas disela gaun soft pink selutut yang ia kenakan.

Yuri yang melihat kejadian itu, langsung menarik tangan gadis blonde tersebut sambil menungingkan senyum simpul. “Aku yang akan bertanggung jawab, aku akan ganti rugi semuanya…. Ikut aku ke ruanganku.” Singkat saja, kata-kata yang terucap dari mulutnya telah berhasil membuat semua orang ditempat itu ternganga. Efek keterkejutan dari pribadi Yuri, hampir selalu membuat semua orang terpana pada sosoknya. Parasnya yang tinggi dengan pinggang semut yang tak lebih dari 20 inch, terukir jelas pada lekuk tubuhnya. Raut wajahnya yang selalu tenang dalam kondisi apapun membuatnya tampak berwibawa. Kulitnya yang sedikit lebih gelap dibandingkan dengan kebanyakan gadis di Korea, dipadankan dengan kemeja tipis, membuatnya tampak lebih seksi. Baik wanita ataupun pria yang melihat parasnya, pasti akan sulit untuk melepaskan tatapannya pada gadis seksi itu.

Blue || Kim Taeyeon || Brunette Girl

“Benarkah ??” Gadis blonde itu masih saja tak percaya pada Yuri. Semua orang tahu siapa Kwon Yuri, gadis pemberani yang selalu berpegang teguh pada ucapannya

“Kau bisa memegang kata-kataku nona… sekarang, ikut aku keruaganku dan katakan apapun atau berapapun yang kau mau…” Yuri melancarkan senyuman termanis yang dapat dengan mudah menaklukan hati pria maupun wanita yang melihatnya.

“Ba—Baiklah…” Gadis blonde itu berjalan mengikuti Yuri menaiki tangga. Namun, tiba-tiba Yuri membalikkan badannya menghadap gadis itu.

“Maaf nona, aku hanya ingin kau yang masuk kedalam ruanganku…” Yuri melirikkan pandangannya pada gadis brunette yang berdiri tepat dibelakangnya.

“O—Oh… Arasso…” Gadis tersebut sontak berhenti pada anak tangga ketiga sebelum akhirnya kembali turun dan berdiri disamping Taeyeon yang wajahnya semakin memerah. Setelah mereka berdua lenyap dari pandangan Taeyeon, gadis mungil itu langsung menundukkan kepalanya sambil menggigit ujung bibir bawahnya, menahan senyumnya sekaligus menyembunyikan wajahnya yang kian terbakar. “Uh… Oh… Maafkan sikap temanku tadi… Dia memang seperti itu, maaf telah membuat banyak keributan yang mungkin merepotkan kalian semua.” Gadis brunette itu membungkukkan kepalanya pada Taeyeon kemudian pada Yoona yang berdiri tak jauh darinya.

“Uh…. Oh… N—Ne… Gwaenchanayo… Kami tidak merasa direpotkan…” Dengan nyali yang kian menciut, Taeyeon memberanikan diri menatap matanya, ia benar-benar ingin menatapnya lebih lama lagi. Bentuk tubuhnya benar-benar sempurna, sedikit lebih berisi namun seksi dimata Taeyeon. Dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil dan fetish, gadis brunette itu benar-benar memiliki lekuk tubuh idaman setiap wanita. Parasnya yang indah, kulitnya yang seputih susu, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, tak ketinggalan kedua matanya yang sesekali dapat dengan mudah berubah bentuk menjadi bulan sabit kapanpun ia menunggingkan senyumnya, dan yang paling menarik perhatian gadis mungil itu ialah pantatnya yang berisi, membuat gadis mungil itu ingin segera menoelnya. [BYUNTAE Mode : ON]

Berkali-kali Taeyeon menggelengkan kepalanya yang dipenuhi fantasi konyol dan imajinasi yang tak logis. Bahkan tanpa terasa, ia memukuli kepalanya sendiri menggunakan nampan yang berada di tangannya.

“Hay… Kau kenapa ?? Sakit ??” Gadis brunette itu menatapnya khawatir. Ia menelusuri tubuh Taeyeon mulai dari atas kepala sampai ujung kaki untuk memastikan bahwa gadis mungil itu baik-baik saja.

“Ahaha… Anio… Hanya sedikit…… Pusing…” Jawabnya asal, otaknya sudah tersumbat dengan pemikiran gila yang sedari tadi tak hentinya menari-nari di kepalanya.

“Oh… Pasti kau kena marah Bos mu gara-gara ulah temanku tadi ya … sekali lagi aku minta maaf….” Gadis brunette itu kembali menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari kukunya. Taeyeon yang melihat hal itu, jadi merasa bersalah terhadap gadis malang itu.

“Ah… Anio… Anio… Bukan masalah itu, kau ….. tenang saja…..” Taeyeon melayangkan tatapannya ke tempat dimana seharusnya Yonna berdiri, namun sepertinya gadis itu sudah tak berada di tempatnya, Taeyeon mengedarkan pandangannya keseluruh café sebelum akhirnya ia menemukan sepupu sahabatnya tersebut sedang sibuk melayani pelanggan lainnya, Taeyeon menunggingkan senyumnya mendapati seorang gadis jakung yang sudah tak asing lagi baginya berdiri di samping Yoona sambil membawa catatan pesanan pelanggan, gadis itu adalah Seohyun, adiknya. Ia bersyukur saat ini café tak begitu ramai seperti biasanya, lagipula adik tercintanya sudah berada disini untuk membantunya meskipun ada maksud lain dibalik kedatangannya, namun setidaknya Seohyun telah sedikit meringankan pekerjaannya, jadi ia bermaksud untuk beristirahat sejenak melepas penat seraya mencuri waktu untuk mendekati gadis brunette seksi yang berada tepat disampingnya tersebut.

“Kita bisa duduk sebentar sembari menunggu temanmu.” Taeyeon dengan sopan mengajaknya ngobrol sejenak. Gadis itu mengangguk mengiyakan lalu berjalan mengikuti Taeyon menuju meja disudut café dekat dengan jendela. Dengan malu-malu Taeyeon menarik sebuah kursi lalu mempersilahkan gadis itu duduk, mukanya nampak makin memerah. Gadis itu hanya tersenyum khas, merasa senang karena diperlakukan sedemikian rupa oleh Taeyeon.

Gadis itu mengedarkan pandangannya pada seluruh pengunjung di café tersebut, “Apakah aku mengganggu waktumu ??” Ia merasa sedikit sungkan pada gadis mungil itu.

Taeyeon tersenyum meyakinkan sambil meggeleng lemah padanya. “Anio… Aku ingin beristirahat sebentar.”

“Oh….” Gadis brunette itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

Selama beberapa menit tak ada yang berbicara, mereka berdua hanya menatap lekat iris satu sama lain. Bertatap. Bersinggung. Bertaut, betapa erat sesaat kemudian tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun, suasana canggung ini kian mematikan Taeyeon, membuatnya semakin gugup. Ia sontak mematahkan staring battle yang telah berlangsung selama beberapa menit tersebut. “Um… ngomong-ngomong, mau pesan sesuatu…. Em…..??”  Taeyeon menaikkan sebelah alisnya pada gadis itu.

“Tiffany.” Jawabnya singkat.

“Cantik…” Tanpa sadar kata itu meluncur mulus dari mulut Taeyeon, ia membelakkan matanya begitu menyadari perkataannya.

“Ne ??” Gadis brunette bernama Tiffany tersebut nampak sedikit terkejut, ia memiringkan kepalanya kesamping sambil menatap gadis mungil didepannya. Taeyeon menggigit lidahnya, mencoba menahan rasa excited nya, ia menemukan hal itu sangat lucu melihat gadis brunette itu memiliki kebiasaan yang unik.

“Ah… Anio…. Um… Okay… Tiffany… Um… Jadi…. Apa kau tak haus ?? Ingin memesan sesuatu mungkin ??” Taeyeon berusaha bersikap se normal mungkin didepannya, ia tak ingin terlihat konyol dengan tingkahnya yang semakin aneh, namun hal itu justru membuatnya tampak semakin bodoh.

Tanpa ia duga, gadis itu justru terkekeh sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan kanannya, wajahnyapun tak jauh lebih merah daripada Taeyeon. Hal itu semakin membuat Taeyeon menjadi salah tingkah, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia terjebak dalam situasi yang tak ia sukai. Dimana ia dibuat tak berkutik oleh orang lain. Taeyeon jadi semakin kebingungan.

“Permisi… Maaf, ada yang bisa kami bantu ??”
“Mau pesan apa ??” Sepasang malaikat cantik menyelamatkannya kali ini, Taeyeon mendesah lega mengeluarkan karbon dioksida yang sedari tadi terjebak di kerongkongannya. Yoona memandangnya dengan tatapan menggoda. Sungguh Hopeless benar-benar tak membantunya sama sekali, ia justru membuat muka Taeyeon semakin merah merona. Semburat kemerahan kian mewarnai pipinya yang seputih salju dan semulus porselen. Seohyun yang sudah mengetahui watak Unnienya itu bermaksud untuk melepaskanya dari kondisi ini.

“Unnie ingin pesan apa ??” Gadis jakung itu berpaling pada Tiffany dengan sebuah notebook di tangan kirinya dan bolpoin pink berhias Love di tangan kanannya, siap untuk mencatat pesanan pelanggannya.

“Uh… Aku… Orange Juice aja.” Tiffany melayangkan senyuman hangat pada gadis jakung yang sedang sibuk berkutat dengan notebook ditangannya. Bulpen dengan bentuk Love di bagian atasnya itu seolah menari-nari dalam genggaman Seohyun, bulu-bulu yang membentuk Love itu seakan melambai-lambai kekiri dan kekanan, menunduk dan mendongak seirama dengan gerakan tangan Seohyun yang cekatan.

“Itu saja Unnie ??” Seohyun menempatkan ujung bolpen berbentuk Love tersebut pada sudut dagunya sambil sedikit menepuk-nepukkannya pada permukaan kulitnya yang halus.

Tiffany mengangguk singkat, ia lebih tertarik pada benda di genggaman gadis jakung itu. “Di mana kau membelinya ??”

“Ne ??” Seohyun dengan sopan mengkonfirmasi pertanyaannya.

Tiffany menunjuk sesuatu ditangan Seohyun. “Oh…. Bulpen ini maksud Unnie ??” Seohyun dengan riang memutar-mutar pangkalnya hingga membuat bulu-bulu itu beterbangan dan melayang-layang di udara, semakin menarik perhatian Tiffany. “Taeyeon Unnie memberikannya padaku.” Ia dengan bangga memeluk leher Gadis mungil yang sedang duduk membeku ditempatnya.

“Aku juga memilikinya, Taeyeon Unnie memberikan kami sepasang.” Yoona merogoh tas hitam kecil yang dililitkan di pinggulnya kemudian mengeluarkan benda yang sama persis seperti milik Seohyun, hanya saja warnanya biru langit. Dengan bangga Yoona menggoyang-goyangkan miliknya didepan wajahnya sambil meniup-niup ujung bulunya. Udara yang dihembuskan Yoona membuat bulu-bulu itu seolah menari-nari riang di tangannya.

“Ah… lucu sekali…. Kurasa, kalian pasti sangat dekat.” Tiffany memandang sepasang kakak beradik itu sambil tersenyum. Namun, Taeyeon merasa ada sesuatu dibalik senyumannya. Tiffany memang terlihat cantik tiap kali ia tersenyum, hanya saja Taeyeon melihat ada rasa ketidaknyamanan yang tersirat dalam sorotan mata gadis itu.

“Tentusaja.” Gadis Jakung itu bergelayut manja dalam dekapan Taeyeon, membuat mata Tiffany semakin tak nyaman memandangnya, tapi apa daya, ia hanya dapat tersenyum hambar yang terlihat sangat dipaksakan. Entah gadis jakung itu sengaja melakukannya atau tidak, karena ia hapal betul watak kakaknya yang sangat lambat merespon sinyal dari seorang gadis ibarat seekor siput yang merambat di pinggir pasir pantai. “Aku akan membuatkanmu coklat hangat, Unnie pasti lelah seharian bekerja, ini akan membuatmu lebih baik. Jangan khawatir, aku dan Yoong Unnie yang akan menangani semuanya.” Seohyun memberikan sebuah wink penuh arti pada gadis mungil itu, Taeyeon mengerti sepenuhnya makna wink yang di kirimkan dongsaengnya. Ia masih bertanya-tanya, apa yang dimaksud gadis jakung itu dengan ‘menangani semuanya’ ?? Makna postif atau justru negatif ??

Taeyeon melihat dongsaengnya melangkahkan kaki menjauh bersama Yoona disisinya, dari sudut ekor matanya ia mendapati kedua gadis jakung itu tersenyum sambil cekikikan, saling berbisik di telinga masing-masing sebelum menghilang dibalik pintu kayu yang berhubungan langsung dengan mesin-mesin pembuat pesanan pelanggan.

Dari balik sebidang kaca pesegi berbingkai kayu cokelat tua. Liuk pohon. Getar dahan. Serpih bunga. Daun berjatuhan. Semua digerakkan angin. Seekor capung membentur kaca sebelah luar, lalu terbang liar. Taeyeon termenung di muka jendela sudut cafe bersama seorang gadis asing yang baru dikenalnya. Ia terjebak disana, tak berkutik. Tak sepatah katapun terucap dari mulutnya setelah dua pengacau itu lenyap dari pandangannya. Tadinya, ia hendak mengajak gadis brunette itu pergi menghabiskan waktu bersama sambil berjalan-jalan ditengah hembus angin musim gugur ini. Namun, sejujurnya ia sendiri juga tak yakin mampukah mulutnya berkata hal itu ?? Ia kerap kali meragukan nyalinya. Dan semuanya memang terbukti, apa yang di ucapkan seluruh sahabat dan saudaranya tepat sasaran. Ia hanyalah seorang gadis pengecut, bibirnya terpaku seolah telah diolesi lem alteco disela-selanya.

“Jadi dia itu gadismu ??” Suara Tiffany memecah kesunyian, bentrok dengan gemerisik dedaunan yang berguguran diterbangkan angin sore.

Taeyeon menyerngit, otaknya berpikir sejenak. Ia masih belum sepenuhnya menangkap perkataan Tiffany. “Gadis…….ku ??” Taeyeon mengerutkan dahinya tampak berpikir keras. Dua garis vertikal sejajar tergurat di atas pangkal hidungnya, diantara kedua ujung alis gadis mungil tersebut.

Walau bagaimanapun, Tiffany tetap mengangguk. Berharap secercah harapan dari anggukannya akan membawa keajaiban dalam perkataannya.

“Tunggu… yang kau maksud adalah Seohyun bukan ??” Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan di telinga Tiffany.

Gadis brunette itu nampak clueless. Tak tahu harus menjawab iya atau tidak, ataukah justru ia harus melontarkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum menjawabnya.

Terbesit sedikit rasa bersalah dibenak Taeyeon, tak seharusnya ia menanyakan hal tersebut pada gadis yang bahkan tak tahu siapa nama gadis jakung itu. “Gadis yang tadi merangkulku…” Ujarnya menjawab kebingungan Tiffany.

Gadis brunette itu mengangguk sambil tersenyum getir, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat segala sesuatu dibalik senyum khas nya. Salah satunya adalah Taeyeon.

“Dia itu…. Dongsaengku…. Hehehe… kau pasti tak percaya, kan ?? Entah bagaimana, mungkin saja saat pembagian sum-sum tulang belakang dalam rahim, aku absen karena ada urusan mendadak… hahaha…” Gadis mungil itu bergurau konyol.

Tiffany terkekeh mendengarnya, menunjukkan deretan rapi giginya yang putih bersih. “Oh… jadi begitu…. Kau lebih cocok sebagai adiknya.” Gadis brunette itu menepukkan kedua tangannya seirama. Perpaduan melodi yang terjalin antara dentum mesin pengaduk coffe, desir angin yang menerbangkan gemerisik dedaunan kering dan suara decakan yang berasal dari sepasang telapak tangan yang berbentrokan mengalun lembut mengiringi suara kikikan dari mulutnya.

Senyum Taeyeon merekah, “Semua orang berkata seperti itu. Dia memang lebih cantik dan sangat… dewasa seperti wajahnya.” Lelucon garing yang selalu ia dengar dari setiap orang yang mengenalnya.

“Bukan karena dia lebih cantik atau apa…. Tapi karna kau terlalu imut di usiamu…” Kata-kata yang melintas dari mulut gadis brunette itu telah berhasil membuat semburat merah di pipi Taeyeon kian merekah. Ia tak tahu harus menjawab apa, memang tak jarang orang menyebutnya imut, hanya saja saat Tiffany mengatakannya, jantungnya berdebar tak karuan, hatinya bergetar seakan ada seekor kupu-kupu yang hinggap di perutnya. Taeyeon tak sanggup lagi menyembunyikan senyumnya yang sempat tertahan.

Tidak, mereka berdua tak sanggup, dua pasang iris dari sepasang wajah oriental saling tarik-menarik layaknya dua buah magnet bergaya positif dan negatif. Sayup-sayup terdengar suara tapak kaki yang beradu dengan lantai kian mendekat. Tak satupun dari mereka yang berminat menghentikan contest yang telah berlangsung selama beberapa menit itu. Menelusuri makna dibalik sorotan matanya, menembus pupil yang perlahan melebar, seirama dengan awan yang berarak menutupi sinar matahari. Kali ini, Taeyeon lah yang menjadi pemenangnya. Gadis brunette itu memutuskan untuk mematahkan staring battle dan menyerah setelah menatap sekilas pada sepasang gadis jakung yang telah sekian lama berdiri tepat di samping mereka, menunggu babak final dari pertempuran mereka.

Taeyeon terlalu asyik untuk menyadari kehadiran mereka, Seohyun dan Yoona telah berdiri disana selama ia tak dapat mengingatnya. Taeyeon sudah mengantisipasi bahwa sepupu sahabatnya itu pasti akan mengomelinya karena telah membuat kakinya kram setelah berjam-jam menungguinya. Tak seperti dugaannya, Yoona hanya tersenyum penuh arti padanya. Taeyeon mengedip-ngedipkan matanya yang terasa panas setelah contest itu berakhir.

“Maaf, telah mengaggu… Tapi sepertinya hot chocolate ini sudah tak layak minum lagi.” Seohyun menatap lekat pada coklat panas yang sudah mendingin di nampannya.

“Benar… Es nya pun sudah meleleh.” Yoona mengaduk-aduk bongkahan balok yang sudah tak berbentuk lagi. Bulir-bulir air yang telah menguap menempel di dinding gelas beling dalam genggamannya, perlahan jatuh menetes membasahi clemeknya. “Mau kubuatkan yang baru Unnie ??” Yoona menatap Tiffany dengan hati-hati.

Gadis brunette itu hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, terimakasih… Maaf telah merepotkan kalian…” Sontak ia berdiri lalu membungkuk sesal pada kedua gadis jakung tersebut. Rambutnya yang coklat keemasan perlahan jatuh kebawah saat ia menundukkan kepalanya, menggantung dengan anggun di sekitar pundaknya.

“Jangan meminta maaf kepada kami seperti itu Unnie…” Seohyun bergegas meletakkan nampan diatas meja didepan Taeyeon kemudian merangkul pundak Tiffany sambil tersenyum geli. “Mulai sekarang, kau adalah Unnie kami…” Senyumnya kian mengembang bak adonan yang ditaburi ragi.

“Yeah… kami punya Unnie baru lagi…” Yoona berputar-putar pada tumitnya kegirangan, layaknya seorang bocah berusia 5 tahun yang mendapatkan sebatang lolipop.

“Yoong… Awas… nanti tumpah…” Taeyeon memperingatkan gadis ceroboh itu, namun ia justru melirik Taeyeon dengan tatapan menggoda. Wajah gadis mungil itu kian merona. Ia serasa ingin berlari dari tempat itu dan menyembunyikan wajahnya di suatu lubang besar kemudian terseyum sampai puas seperti orang bodoh.

Benar-benar sinting !! Sungguh tak waras !!

Gerutunya dalam hati, membayangkan dirinya tersenyum konyol didepan Tiffany dan kedua pengusik itu.

“Baiklah, kami pergi… selamat menikmati waktu kalian…” Yoona tersenyum riang sambil berjalan mengayunkan kakinya menyilang-nyilang, disisi lain, Seohyun hanya memandangnya sambil berdecak, tak ada gunanya lagi ia memperingatkan Im Choding untuk menghentikan perilaku Childist nya. Sungguh kau takkan pernah mempercayai bahwa gadis yang lebih jakung itu berumur setahun lebih muda darinya.

Mereka berdua melanjutkan obrolan Cheesy yang orang lain sama sekali tak mau mendengarnya. Larut dalam suasana hiruk pikuk café yang sudah mulai ramai disinggahi pengunjung.

Red || Jessica Jung || Tan Hot Girl

Jessica berjalan mengekor pada gadis jakung didepanya. Ia tak tahu mengapa gadis ini mengajak memasuki ruangannya. Terbesit sedikit rasa khawatir dalam benaknya, satu persatu ia menaiki anak tangga. Tumpahan Chocolate Milkshake yang mengotori gaunnya terasa lengket menembus pori-pori kulitnya. Berkali-kali ia menempelkan selembar tissyu basah berusaha menghilangkan setidaknya sedikit demi sedikit noda yang membekas. Namun, nampaknya semua usahanya sia-sia saja, bekas noda itu kini kian melebar dan sisa-sisa tisyu yang masih menempel pada gaunnya semakin sulit untuk dibersihkan. Ia mulai geram. Ia tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, gaunnya yang lembab dan lengket membuatnya risih.

Sesekali ia mengumpat dalam hatinya, gadis ini benar-benar terlihat sangat menyebalkan. Jessica tak suka melihat wajahnya yang sok cool. “Masih berapa lama lagi ??” Ia berdecak kesal, menatap gadis berkulit coklat dengan tak sabaran.

“Di ujung sana…. Itu ruanganku.” Gadis itu megacungkan jarinya kedepan, menunjuk tepat pada sebuah pintu besar bercat hijau dengan tulisan ‘Kwon Yuri Sajangnim’ yang tergantung di muka pintu.

“Baguslah… lebih cepat kita menyelesaikannya, lebih cepat pula aku keluar dari sini. Aku masih punya banyak urusan untuk dikerjakan.” Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar dingin. Memang pantas dengan julukannya Ice Princess.

“Semoga kau memang benar.” Gadis itu menyeringai. Tangannya memutar gagang pintu sambil tersenyum.

“Apa maksudmu ??” Jessica menatapnya ingin tahu. Namun, gadis berkulit coklat itu hanya mengangkat pundaknya sambil melayangkan lirikan menyebalkan pada gadis blonde itu. Membuatnya benar-benar ingin muntah.

Saat Jessica akan mengomelinya, sebuah pintu megah bercat hijau perlahan terbuka. Sorot cahaya lampu yang terpancar dari dalam ruangan tersebut membuatnya silau, seketika matanya disambut oleh pemandangan yang cukup menarik perhatiannya. Seperangkat ornamen unik yang didominasi kayu jati dan rotan, berdiri kokoh disetiap sudut ruangannya. Memang tak terlalu besar ataupun mewah, hanya saja lantainya yang bersih mengkilap, barang-barangnya meski cukup banyak namun tersusun secara rapi dan teratur, tak sedikitpun noda ataupun kotoran yang berserakan di sembarang tempat.

Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ruangan kantornya, lebih pantas disebut sebagai kapal pecah daripada sebuah ruangan. File-file dokumen yang berserakan, cangkir bekas tea atau coffe yang sengaja di umbar di sudut meja terkadang membuat pandangannya jadi tak nyaman. Belum lagi gumpalan-gumpalan kertas yang terkadang nyeleweng saat Jessica akan melemparkannya dalam keranjang sampah tapi malah berkelok kelain arah semakin membuatnya tampak semerawut.

“Silahkan duduk…” Gadis itu menunjuk sebuah kursi dihadapannya. Jessica mengangguk seketika, pikirannya masih blank dirinya masih terlalu shock dengan pemandangan menakjubkan disekelilingnya. Harus ia akui, terbesit sedikit rasa kagum terhadap gadis jakung dihadapannya saat ini. Hanya saja ego nya masih terlalu tinggi dari rasa kekagumannya.

“Okey.. langsung saja, apa yang bisa aku lakukan untuk mengganti gaun mahalmu itu ??” Jessica berpikir sejenak, mengedutkan ujung bibirnya kesamping kanan. Ia tahu, gadis didepannya saat ini bukanlah gadis sembarangan. Mengelola café sebesar ini dengan cabang diberbagai kota bahkan sampai keluar negeri bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan oleh gadis seusianya.

“Kalau kau sanggup mengganti gaun yang sama persis seperti ini dengan satu yang baru, semuanya selesai sampai disini.” Jessica tersenyum penuh kemenangan, ia tahu gaun itu hanyalah satu dan satu-satunya didunia ini, ia memesannya khusus dari perancang busana yang sangat terkenal di Paris. Ia bahkan mewanti-wanti pada perancang tersebut supaya tak membuat serepannya untuk orang lain. Sebanding dengan harganya yang selangit, untuk membujuk perancang tersebut agar mensetujui kerjasama dengannya bukanlah hal yang mudah. Tapi bagi Jessica, kepuasannya adalah hal yang paling utama.

“Baiklah…. Dimana kau membelinya nona ?? Kalau perlu aku akan membawakanmu selusin gaun yang seperti itu.” Nada suara gadis jakung itu terdengar merendahkannya.

“Di Paris.” Jawab Jessica singkat. Ia tersenyum mengejek, walau bagaimanapun gadis itu takkan pernah bisa mendapatkannya. Satu saja mustahil apalagi selusin ??

“Aku mengerti….. Siapa namamu nona ??” Gadis itu mengeluarkan selembar kertas dari dalam loker dibawah mejanya kemudian menarik sebuah bolpen yang terjepit diantara saku kemejanya. Jessica menatapnya heran, tak ada salahnya bermain-main sebentar dengan gadis sexy ini.

“Jessica.” Ia menggertakkan jemarinya pada kursi rotan yang sedang ia duduki. Termenung memikirkan siasat untuk mengerjai gadis ini. Beberapa menit yang lalu ia memang merasa ingin lekas menyelesaikan masalah ini kemudian bergegas melangkahkan kaki dari café ini, namun beberapa detik yang lalu, terbesit rencana nakal dalam otaknya setelah ia mendapati bahwa gadis menyebalkan ini tak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.

“Jessica-Sshi ??” Lamunanya seketika buyar oleh sudara gadis jakung yang memantul dari tembok ruangannya kemudian menggema di telinganya.

“Uh—N—Ne ??” Jessica memfokuskan pikirannya pada gadis dihadapannya.

“Aku bertanya nomor ponselmu, agar lebih mudah untukku menghubungimu.” Gadis itu meraih kembali bolpoin yang telah diletakkannya diatas meja, tanganya sigap untuk mencatat sedangkan telinganya sudah siap menunggu respon dari Jessica.

“010-221-212”

“Baiklah Jessica-Sshi… Kau bisa memaggilku Yuri, sebelumnya bisakah aku minta tolong sesuatu padamu ??” Gadis bernama Yuri tersebut mengalihkan tatapannya pada Jessica.

Mwoseumnikka ??” Tanyanya belagak sopan.

“Bolehkah aku meminta nomor gadis yang tadi bersamamu ?? Dia itu temanmu kan ??” Yuri meyakinkan, menatapnya penuh harap.

Jessica terdiam, rasa perih menelusup kedalam relung hatinya. Ia tak tahu mengapa, apakah ia kecewa ?? Ataukah ia hanya merasa iri terhadap sahabatnya yang mungkin ditaksir oleh gadis menakjubkan ini ?? Entahlah… ia masih bertanya tanya pada dirinya sendiri.

“Jessica-sshi ??” Gadis itu kembali menyerukan namanya.

“N—Ne… N—Ne ??” Jessica menggelengkan kepalanya, menjauhkan fantasinya yang kian merancu.

“Kau ini sebenarnya kenapa sih ?? Aku minta nomor temanmu tadi, boleh kan ?? Kalian hanya sebatas teman saja kan ??” Yuri mencondongkan badannya kedepan, menelusuri raut wajah Jessica yang gampang berubah-ubah.

Jessica hanya mengangguk cepat, tangannya merogoh sesuatu dalam tas selempangnya kemudian megeluarkan sebuah benda berwarna merah berbentuk persegi panjang. Dengan cekatan, ia memainkan kedua ibu jarinya pada sebuah layar bening dalam genggamannya. Ia berhenti menelusuri dan berkutat dengan ponselnya setelah menemukan nama Tiffany dalam daftar pencarian nomor.

“010-909-090” Katanya cepat. Yuri hanya mengangguk-angguk sambil mencatat nomor tersebut diatas kertas yang tadi ia gunakan unutk menulis nomor Jessica.

“Siapa namanya ??” Yuri tersenyum ramah, namun semakin membuat Jessica ingin melempar mukanya menggunakan high heels yang sedang ia kenakan.

“Maksudmu ??” Tanyanya datar, berusaha untuk tak menunjukan garis emosi sedikitpun pada raut wajahnya.

“Temanmu…”

“Oh….” Mata Jessica melirik pada sebuah foto berbingkai teddy bear di sudut kiri meja Yuri. “Tiffany…” Jawabnya singkat, ia lebih tertarik dengan gambar itu daripada obrolan bodohnya bersama Yuri. Pupilnya menyipit, mencoba memperjelas pandangannya yang terhalau sinar gemerlap lampu pelangi di sisi lain mejanya. Terlalu silau, ia tak dapat melihatnya dengan jelas, lagipula gambar itu sedikit miring 450 memunggunginya, semakin mempersulit penglihatannya.

“Baiklah, kau boleh pergi… aku akan menghubungimu kembali jika aku sudah mendapatkan gaun yang kau maksud.” Yuri menyerngit, menangkap Jessica memandangi foto dimejanya.

Jessica menyeringai, sambil mengumpat dalam hatinya. Ia hanya menganggukkan kepalanya singkat lalu berjalan keluar, begitu sampai di ambang pintu, pikirannya kembali pada foto misterius di meja Yuri. Perlahan, ia menutup pintu tersebut. Ia menyandarkan telinganya sekilas pada muka pintu, sebelum akhirnya berjalan menjauh menuruni anak tangga. Sayup-sayup ia mendengar Yuri bergumam “Tiffany…. Jadi Tiffany ya…. Hmm.. Tiffany…”

Ia tersenyum getir, bergegas menuruni anak tangga kemudian secepat kilat beringsut menghampiri Tiffany yang sedang larut dalam obrolan cheesy bersama seorang gadis mungil.

“Ya !! Ayo kita pergi…”  Emosinya sudah tak terbendung, meluap-luap seperti lahar panas dari gunung volkanik yang siap memuntahkan isinya.

“Huh ?? Cepat sekali… Tak bisakah kita tinggal disini lebih lama lagi ??” Gadis brunette itu berkata dengan tatapan mengiba.

Jessica menatapnya tak acuh, “Aku ingin cepat pergi dari sini.” Katanya dingin.

Wae ?? Apa yang kau bicarakan dengannya ??” Tiffany sengaja mengulur waktu, ia menyeruput orange juice yang tadi dipesannya.

“Tak banyak, intinya dia hanya memanfaatkanku saja.” Ia membuang muka, menatap jajaran lukisan artistik yang terpampang di dinding utama café itu.

“Huh ??” Tiffany nampak kehabisan akal, benar-benar clueless dengan tingkah sahabatnya yang mendadak berubah.

“Yeah… dia memanggilku karena dia ingin meminta nomormu dariku, entah dia ingin berkenalan denganmu atau apa. Mungkin saja dia naksir padamu… Aku tak perduli apapun itu, yang penting dia bisa mengembalikan gaunku.”

Suara gemerincng sendok yang terjatuh dalam cangkir hot chocholate dan semburan orange juice dari mulut Tiffany membuat Jessica semakin gusar. “Yah !! Kau ingin mengotori lagi gaunku dengan juice itu ya !! Menjijikkan sekali…”

“M—mwo ??” Tiffany meluruskan posisi duduknya. “Apa yang kau maksud tadi ??” Gadis brunette itu nampak semakin kebingungan.

“Entahlah, dia… Manager Kwon Yuri meminta nomormu dariku… What the hell… Ayo kita pergi…. Kalau kau tak mau, aku pulang sendiri.” Katanya digin seraya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Tiffany sontak bangkit dari kursinya, lalu menatap Taeyeon sekilas dengan tatapan penyesalan lalu beringsut mengejar gadis blonde tersebut.

Gadis mungil itu masih terpaku di tempatnya, tak bergeming, sungguh hopeless tak ada lagi harapan yang tersisa. Tak ada gunanya pula ia bersaing dengan Kwon Yuri.

Green || Kwon Yuri || Misunderstanding

Setelah gadis blonde itu menghilang dari pandangannya, Yuri tersenyum pada dirinya sendiri. “Taengoo pasti menyukai ini, aku berani bertaruh ia tak punya keberanian meminta nomor gadis itu.. hahaha… Siapa tadi namanya ?? Tiffany…. Jadi Tiffany ya…. Hmm.. Tiffany… Setidaknya,  aku tak perlu mendengarkan ocehannya selama beberapa saat.” Keluhnya kemudian melipat selembar kertas kecil tersebut menjadi empat sumbu simetris lalu dislempitkannya diantara saku kemeja.

Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar dari ruangannya. Senyum dipipinya kian mengembang, satu persatu ia menuruni anak tangga. Matanya menelusuri sosok gadis mungil yang telah ia nantikan. Begitu ia menemukannya, Yuri berjalan mendekati gadis mungil tersebut. Ia menyerngit, melihat wajah gadis mungil itu seakan ditekuk menjadi dua bagian.

“Taeng.. aku ingin membicarakan sesuatu hal padamu.” Katanya riang. Namun, senyumnya perlahan memudar begitu mendapatkan respon yang tak ia harapkan dari gadis mungil itu.

“Maaf Sajangnim… Saya sedang sibuk…” Mukanya kian kusut. Berjalan datar melewatinya tanpa melirikkan mata sedikitpun.

‘Mungkin dia terlalu lelah… Aku akan memberinya cuti selama beberapa hari.’ Gumamnya.

Ia kembali berjalan menuju ruangannya, lalu duduk dengan nyaman di kursi empuknya. Tangannya meraih foto berbingkai teddy bear kemudian menaruh tepat dihadapannya.

Ia menatap sekilas pada foto kenangan tersebut, pikirannya kembali melayang mengangkasa. Menembus batas antara ruang dan waktu, mendobrak pintu masa lalu, membuka lebar portal sejarah yang telah terkbur. Lubang hitam perlahan memudar, berputar cepat mengelilingi sudutnya. Seberkas cahaya menuntun pikirannya, menerobos ruang kabut transparan.

[Flashback]

Tampaklah sebuah ruang gelap dengan semak belukar yang lembab di tanah tempatnya berpijak. Dua orang gadis kecil bersandar pada dahan pohon raksasa tua. Menikmati semilir angin yang menelusup sampai pangkal tulang mereka. Berada dalam ketinggian 10 kaki dari tanah. Gadis bercardigan hijau memeluk erat lengan temannya. Membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Sesekali ia terisak, leleran ingus mengganggu pernafasannya. Gadis itu menggigil kedinginan, gaun putih yang ia kenakan sudah kuyup terkena derai air mata. Gadis bercardigan hijau itu melepas cardigannya. Membalut sempurna pundak gadis cengeng itu dengan kain hijau miliknya.

“Sssh… Sudah… jangan menangis… Aku membawamu kemari tidak untuk menangis, tapi untuk bercerita… Telingaku diciptakan untuk mendengar, bukan ember yang menampung air matamu.” Guuraunya menghibur lara. Gadis cengeng itu cemberut bebek, pipinya menggembung terisi penuh udara.

“Kau ingin bercerita ??” Gadis pemberani itu mengoyak tubuhnya.

“Apa kau mau mendengarkan ??” Isak tangis gadis cengeng itu pun mulai mereda.

“Dengar, aku… Bulan, Bintang, Pohon tua ini… Semuanya bersedia menjadi telinga untukmu.” Senyumnya ramah, menatap hamparan bintang berkelap-kelip menyelimuti kegelapan malam. “Kau tahu, mengapa Tuhan menciptakan bintang untuk menemani bulan, angin yang menerbangkan daun dari pepohonan ??” Matanya tak lepas dari hamparan bintang-bintang.

Gadis cengeng menggelengkan kepalanya, menatap gadis disampingnya, menunggu jawaban yang melesat dari mulutnya.

“Karena bulan kesepian, ia membutuhkan teman untuk bercerita, bintang itu berkelap-kelip membentuk suatu rasi kehidupan, bulan-bintang… lingkaran yang tak mungkin terpisahkan. Terkadang, malam terasa hambar tanpa gemerlap bintang yang menghiasinya. Tapi sebenarnya, bintang tak pernah meninggalkan bulan, ia hanya bersembunyi dibalik awan gelap.” Katanya bijak, ia melayangkan jari telunjuk kanan nya di udara, menghubungkan deretan bintang yang semburat tersebar kesegala arah, menarik garis antara satu titik dengan titik yang lain, membentuk suatu pola berkilauan.

Gadis cengeng itu tak menjawab, ia hanya mengikuti gerakan tangan gadis bijak sambil tersenyum pada dirinya sendiri, memandang lautan berlian yang menembus irisnya. Kedua bola matanya merefleksikan gemerlip permata yang menggantung diangkasa, alangkah indahnya.

“Angin juga diciptkan untuk mendengarkan pepohonan yang bercerita. Mengantarkan kisah mereka kemana ia singgah. Membaginya bersama dedaunan kering dari pohon-pohon yang sudah lapuk dan tumbang. Mengukir sebuah sejarah kehidupan. Kau mungkin takkan pernah bisa mendengarkannya, tapi mereka dengan setia akan mendengarkan ceritamu. Membawa pergi kisahmu bersama angin yang menerbangkan daun kering berguguran.” Gadis cengeng pun akhirnya tersenyum, meraih sebuah ranting kering yang melengkung disisi sudut ruang balok kayu tempatnya bersandar.

“Apa kau sering mengunjungi tempat ini ??” Gadis cengeng menyibakkan beberapa helai dedaunan yang berwarna kekuningan menggunakan ujung ranting tersebut. “Tempat ini tampak hidup.”

“Yeah… setiap kali aku ingin bercerita aku pasti pergi kemari. Itu membuatku sedikit lebih tenang.”

“Benarkah ?? Kalau begitu ceritakan kisahmu.” Gadis cengeng melempar ranting tersebut di sudut ruang balok kayu tersebut.

“Mengapa jadi aku ??” Gadis bijak mengerutkan alisnya, garis vertikal tergurat di dahinya.

“Kau dulu yang bercerita, setelah itu baru aku yang akan menceritakanmu.” Melihat gadis cengeng itu tersenyum, ia bangkit berdiri bertumpu pada kedua telapak tangannya, kemudian menepuk-nepuk belakang celana jeans nya. “Baiklah..” Ia mengambil ranting dahan tersebut lalu bergerak mendekat pada lubang disisi pohon Oak tua raksasa itu.

[Flashback End]

Yuri tersenyum simpul sebelum memutar keempat baut di tiap sudut pigora itu, kemudian mengeluarkan foto tersebut dari bingkainya. Ia membalik sisi belakang foto itu, tampaklah sebuah tulisan tangan yang ia tulis bertahun-tahun yang lalu.

~Soo Yeon~

-TBC-


I will never regret you, or say that I wish I’d never met you, because once upon a time, you were exactly what I needed.

Okay…. time to say …. Annyeongggg ….. 😀

*Wave* (^o^)/~~

62 thoughts on “A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 1]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s