SNSD, SOSHI FF

A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 2]

A LOVE UNDER AN OAK TREE

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  A Love Under An Oak Tree

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship, Comedy.

 Cast                : Yulsic (Mainly) Taeny, YoonHyun.

Chapter           : Still Unknown/ Undecided.

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl)

Heppi reading guys….

Awali membaca cerita ini dengan sebuah senyuman 🙂

Maka kau akan mengakhirinya dengan senyuman pula 😉

Chapter 2

Pink || Tiffany Hwang || Leaves Draw

Tiffany berjalan mengekor di belakang gadis blonde itu, Ia melangkahkan kakinya secepat kilat. Gadis didepannya berjalan terlalu cepat, rambut pirangnya melambai-lambai diterpa angin sore. Langit cukup bersahabat, matahari bersinar cerah berselimut awan yang berarak menghalau sinarnya. Warna keemasan melukis angkasa, semburat oranye mewarnai horizon. Kawanan burung kowak berterbangan kembali dari perairan menuju sarangnya, memimpin matahari yang semakin condong ke barat.

Dua gadis feminim duduk santai di bawah pancuran air, matanya menatap kosong segerombolan burung gereja yang hinggap mengelilingi tanah, mengais-ngais butiran sisa makanan yang sengaja  ditebar oleh beberapa orang yang kebetulan lewat. Gemericik tetes air mancur tak luput membuat tubuhnya basah. Dari kejauhan, seorang gadis kecil berlari-lari kecil kearah mereka, tangannya membawa selembar kertas yang berkibar, senyumnya merekah bak bunga mawar yang baru mekar di halaman rumah.

Gadis kecil itu menghampiri Tiffany, mulutnya berkata riang. “Unnie… lihatlah… ini bagus kan ??” Ujarnya bangga.

Tiffany mengangguk, matanya menelusuri sebuah gambar diatas kertas yang dipegang olehnya. Sangat buruk, garisnya melencong kemana-mana. Warna crayon nya pun blepotan belum lagi pemilihan warna yang berbentrokan, sangat kontras dan tak selaras. “Ne… Sangat bagus…” Ia tersenyum hangat pada gadis kecil itu.

Mendapat respon positif, gadis itupun menari-nari kegirangan, kemudian berlari menghampiri temannya sambil tersenyum bangga, dengan besar kepala ia mengangkat gambar itu tinggi-tinggi, menceritakan pada temannya apa yang barusaja ia dapatkan.

Jessica tersenyum mengejek, menunggingkan sedikit sudut bibir kanannya. Memandang gadis kecil tersebut dengan tatapan merendahkan.

Gadis kecil itu kemudaian berlari menghampirinya, “Unnie… Lihat…. Unnie itu bilang, gambarku bagus…” Katanya sambil tersenyum riang menghadap Jessica.

Jessica menyeringai tajam, pandangannya tak lepas dari selembar kertas ditangan gadis kecil itu. “Bagus ?? Lihat… garisnya saja tak lurus, warnanya juga blepotan… Kau harus belajar menggerakkan tanganmu dulu sebelum mulai menggambar. Ini bahkan tak layak disebut sebagai sebuah gambar.” Katanya dingin.

Senyum gadis itu seketika menghilang, butiran kecil, hangat, dan basah mengalir lembut melalui pipinya yang putih mulus. Ia sontak berlari meninggalkan mereka, selembar kertas yang dipegangnya pun ikut terjatuh dan terbang dibawa angin ke barat. Tiffany menatap gadis blonde itu dengan tatapan seakan ingin menelannya bulat-bulat. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menggertakkan giginya yang rapi. “Yah !! Apa yang barusaja kau lakukan ??”

Jessica mendesah disela-sela nafasnya. Menyibakkan helai rambut keemasan yang menutupi wajahnya kebelakang dengan anggunnya. “Tak ada gunanya kau membohonginya seperti itu…”

Tiffany menatapnya putus asa. Jessica selalu saja begini, bersikap sedingin ini pada semua orang yang tak ia kenal, padahal Tiffany sangat mengerti gadis blonde itu sejujurnya memiliki hati yang tulus, murni dan hangat. “Dia hanya seorang gadis kecil.”

Jessica menatap lurus kearah langit, pandangannya tertuju pada sepasang merpati yang hinggap di seutas kabel listrik. “Dia harus belajar memahami kehidupan, omong kosongmu itu takkan mengantarkannya menuju kedewasaan. Biarkan dia terjatuh diterpa deru badai lalu bangkit berdiri, berpegang erat pada sebatang pohon yang rapuh, daripada membiarkannya menari kegirangan di dalam tabung kaca. Terjebak didalamnya dan takkan pernah bisa keluar. Ia takkan pernah tahu kejamnya dunia luar. Sekali ia terjatuh, ia akan sekarat.” Ia memejamkan matanya, merasakan hembus angin yang menerpa wajahnya, rambutnya menari indah bersama deru udara sekitar.

Namun, mendadak sebuah suara terngiang dalam kepalanya. ‘Terkadang, membohongi dirimu sendiri akan membuatmu bahagia.’ Tidak. Dia tak mempercayai hal itu, suara asing yang mengganggu pikirannya selama bertahun-tahun kembali berbisik di telinganya. “Tidak.” Ia mendesah, kedua matanya masih rapat, makin rapat. “Tidak.” Berkali-kali ia mengulang, mendesah. Dadanya berdebar, gemetar. Belakangan ini kalimat-kalimat menyesakkan itu kembali hadir bagai ingin menyambarnya.

Tiffany yang sudah terbiasa akan hal itu, sontak merangkul bahunya, mendekapnya erat sambil mengusap punggungnya. Ia tak berkata apapun, ia tahu semuanya akan sia-sia saja… tak ada yang dapat menenagkannya disaat seperti ini. Jessica butuh sedikit waktu untuk kembali menenangkan dirinya, dan merangkulnya erat. Itulah yang selalu dilakukan Tiffany saat gadis blonde itu mendadak bertingkah berbeda dari biasanya.

“Tidak.” Lirih suaranya, seperti isak tangis yang tertahan. Semua berlintasan. Angin, seserbuk sari bunga, burung-burung gereja, seisak tangis mulai berat. Ia lalu kembali menatap langit yang sudah mulai gelap. “Tidak.” Ia kembali berkata, tanpa ternganga. “Tidak..” Keluhnya. Jangan bawa. Jangan. Biar…

Angin lewat, berkata kau akan bahagia…

“Tidak…” Serupa bisikan.

Angin lewat, bergumam kau akan bahagia…

“Jessieee…” Suaranya rendah dan pelan. “Kau menangis lagi ??”

“Tidak…” Tangisnya benar-benar terlepas.

“Jessieee…” Ia mengusap punggung gadis blonde itu lembut.

Kau akan bahagia…

Angin melesat. Pergi, berlari… entah… si blonde gugup… Gadis kecil itu menarik-narik ujung bajunya. “Unnie kau kenapa menangis ??” Ujarnya polos.

Si blonde tak mau menjawab, dengan senyum simpul ia menerima selembar tisyu yang di ulurkan padanya.

“Unnie… aku akan membuktikan padamu kalau aku bisa menggambar sesuatu yang lebih baik dari ini, kutunggu kau disini minggu depan…” Senyumnya kembali mengedar, berputar-putar pada tumitnya sambil melayangkan sebuah pena kecil yang memantulkan sinar keemasan matahari terbenam.

Sinar itu menyilaukan mata si brunette tepat saat itulah ia menyadari bahwa ia merasa tak asing lagi dengan benda yang sedari tadi berada tepat dalam genggaman gadis gigih itu. “Darimana kau mendapatkannya ??” Pupilnya menyipit, ia menggunakan telapak tangan kanannya untuk menghalau pancaran sinar yang menyakitkan matanya.

“Seseorang memberikannya padaku.” Sanggahnya riang, senyumnya tak absen dari bibirnya.

“Hmm… mungkin sekarang lagi ngetrend.” Ia bergumam. Melirik sekelebatan saat daunnya kembali merefleksikan pancaran sinar terang dalam genggaman kecilnya.

“Aku lelah…” Keluh Jessica. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu si brunette, memejamkan mata perlahan seirama daun berguguran, menyapu kawanan burung gereja yang tengah lahap.

“Baiklah… kita pulang sekarang.” Ia tahu si blonde lelah, ia selalu lemas setelah pikirannya tersesat di masa yang berbeda.

Deru ban mobil berdecit dengan aspal yang menghitam. Bayang pepohonan yang terlindas berton-ton kendaraan ber roda kian pudar. Dedaunan berserakan, matahari mengiba. Jatuh tenggelam dalam lautan yang kelam. Menghantarkan dua gadis blesteran ketempat persinggahannya.

Blue || Kim Taeyeon || Can You Be Mine ??

Gadis mungil itu termenung di muka jendela, memandang aspal yang merefleksikan langit tanpa gemerlap bintang, tak sepotong bulan pun ia sisakan. Otaknya berputar, terus berputar. Memanggil-manggil nama seseorang.

‘Tiffany..’ Tangannya mencengkram kaki meja.

‘Tiffany…’ Pandangannya kian buram.

‘Tiffany….’ Nafasnya tertahan. Isaknya memekik. Kesunyian malam, dingin menusuk tulang rusuknya. Udara semakin berat. Apa yang salah dalam hidupnya ?? Mencintai seseorang yang dicintai sahabatnya ??

Keheningan malam, gemerincing sendok diaduk memecah sunyi. Sesosok tubuh meringkuk dibalik selimut. Menatapnya ngilu. Matanya memancar, beredar, berpendar. “Apa yang kau lakukan disini ?? Kau tak kedinginan ??”

Selembar kain putih membungkus tubuh mungilnya. Senyumnya dipaksakan.

Gadis jakung mengangguk, kaki panjangnya berselonjor. Secangkir coklat hangat diraihnya, diaduk perlahan, menyebabkan denting sendok beradu dengan cangkir beling. Nyaring ditelinga gadis mungil.

Disebulnya sedikit, asap mengepul, setelah itu berhambur. Tak lama kemudian lenyap diantara bintik debu. Gadis jakung tersenyum, menawarkan cangkir itu pada gadis mungil.

Taeyeon tak merespon, ia menatap langit kelabu. Kabut menyelimuti wajahnya yang sendu. Ada setitik air mata disitu. Ia masih duduk terpaku. Dingin membalut kakinya yang kian membeku.

“Ingin bercerita ??” Gadis jakung menawarkan diri. Tersenyum pada sosok malang.

“Cerita apa ??” Gadis mungil berdalih, mengelak, mencoba tersenyum.

“Kau tak perlu repot-repot memikirkan alasan untuk membohongiku, hidup bersamamu selama 7 tahun, kau pikir aku tak mengenalimu ??” Gadis jakung tersenyum mengejek, kulitnya yang kecoklatan mengkilap di bawah bayang lampu gantung.

“Apa yang harus kuceritakan ??” Seringai kecil menghantui gelap malam. Ia membuang muka kedepan jendela. Tubuhnya bergidik, sedikit menggigil.

“Gadis itu….” Si jakung kembali membungkus tubuh gadis mungil dengan selimut yang sudah menjuntai landai dilantai.

Taeyeon tak menggubris. Matanya terus menatap lurus ke depan jendela, bau aspal menyengat di rongga hidungnya.

“Taeng… kupikir kau menyukainya, jadi aku—……”

“Kau meminta nomornya.” Potongnya, kabut masih melekat di raut wajahnya yang sendu.

Senyum gadis jakung melebar, matanya menyipit. “Ya, kau benar… dan aku bermaksud untuk—…”

“Menjadikan dia gadismu.” Sanggahnya lagi. Dia mendesah disela-sela nafasnya, tersenyum kecut di bingkai jendela.

“Ya, benar sekali…” Senyumnya perlahan memudar. “Tunggu….” Si jakung kembali meluruskan badannya. “Mwo ??” Dahinya mengerut. Berpikir keras.

“Kau mengingingkannya, padahal kau mengetahui bahwa aku menyimpan perasaan padanya.” Taeyeon bangkit berdiri, berbalik memunggunginya, menghadap pintu.

“Tunggu….” Gadis jakung meraih lengannya. “Apa maksudmu ??” Suaranya bergetar seirama dengan tubuhnya yang gemetar.

“Apa maksudku ?? Justru aku yang bertanya, apa maksudmu ??” Ia membolak-balikan perkataannya. Menghentakkan keras pergelangan tangannya yang memerah terkena cengkraman.

“Taeyeon… kurasa kau—…” Si jakung berusaha meraih kembali lengannya, namun usahanya sia-sia. Gadis keras kepala itu sudah berada di depan pintu.

“Taeyeon…. Dengarkan aku dulu…. Aku tidak menyukainya…. Sungguh…” Ia berteriak di ujung paru-parunya.

Si batu membeku di ulu pintu. Ia terpaku bisu, tatapannya ragu dan pilu. Tak bergeming, tubuhnya merinding.

“Taeyeon… aku bermaksud memberikannya padamu…” Ia berlari, menyusuri bayangan ornamen-ornamen yang bertengger di dinding. Sepasang tangan diraihnya, memutar dan menghadapnya. “Taengoo… dengar…. Aku sama sekali tidak memendam perasaan apapun padanya… aku bermaksud menyatukan kalian berdua… ini nomornya.” Selembar kertas yang dilipat diletakkan tepat di telapak tangan gadis keras kepala itu.

Perlahan, Taeyeon membukanya.. “Jessica ??”

Gadis jakung itu tersentak, “Oh…” Ia kembali merampas kertas ditangan Taeyeon, merobek tepat di tengah, menjadi dua bagian. “Maaf…” Ia meletakkan kembali paruhan kertas tersebut di tangan Taeyeon kemudian separuhnya lagi dimaksukkannya kedalam kantong. “Kuharap kau menyukainya…” Gadis itu pergi berlari, menuruni anak tangga dengan kakinya yang jenjang. Meninggalkan Taeyeon yang membeku di ujung pintu, tangannya gemetaran. Pandangannya buram, ia bertanya pada hatinya. Benarkah ??

 

Red || Jessica Jung || This Voice

Jessica perlahan membuka pintu kamarnya yang berdecit nyaring ditelinga. Melempar sepatu dan tas selempang sembarangan. Kakinya melangkah menuju kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamarnya. Deru tapak kaki beradu pada lantai yang licin, menimbulkan suara-suara yang memantul disekitar dinding. Ia merebah, menyalakan tombol merah 300C di pinggir bak keemasan. Membiarkan tubuhnya diguyur butiran air hangat yang merasuk kedalam pori-pori kulitnya.

Matanya terpejam, otaknya berputar. Gaun bekas noda kecoklatan itu tersampir di sudut jendela, bergoyang dan melambai dihembus udara malam, menorehkan kesan mengerikan sekaligus memilukan, gaun itu seakan berteriak meronta , menagis iba. Sesal menganjal dihatinya, ia sengaja membelinya untuk dikenakan saat pesta ulang tahunnya minggu depan. Namun sekarang, semua hanya angan belaka.

Ia mendesah lirih, ngilu dikepalanya mulai menjalar. Tangannya berpegang erat di tepian bathtub. Angin sekelebatan berbisik lirih, pikirannya mulai tak jernih. Ia mencoba bangkit, beranjak dari marmer yang kian mendingin.

Ia melangkah gontai, terlihat jenaka. Membalut tubuh rampingnya dengan kain lembut berwarna merah muda yang dilipat rapi di samping lemari. Wajahnya kusut, tubuhnya lesu, mimiknya sendu. Ia sudah bersiap mengeluarkan kebiasaanya. Terisak dalam gelap.

Kau pasti bisa… My princess… Kata-kata yang berbisik membuatnya bimbang. Wajahnya kian memucat, darahnya berdesir hebat, otot dikepalanya mulai menegang.  Ia berhenti di tepian jendela, dibalik tirai tipis ia terisak lirih. My princess… Ia memejamkan kedua matanya erat, butiran air hangat masih menetes dari ujung rambutnya yang keemasan dibawah pijar lampu mega watt.

Malam gelap, tak bersinar, tubuhnya melandai, menggunakan kedua tangannya sebagai sanggahan. Tangannya mencengkram erat tepi jendela. Lalu angin segera menyambutnya dengan bahasa-bahasa menjajah, menghujam. Berkali-kali. Mengaduk seluruh perasaannya. Lalu pecah.

Ia meringis… Tidak… Menangis….

Deru tapak kaki kian mendekat, membisik padanya. Meraung…. Melolong…. Berbisik kata yang sama. Kotak ingatan kian terbuka, sekelebatan.. tak teringat… terlupakan…

Sebuah suara memecah keheningan malam, teriakan si brunette melengking hebat ditelinganya. Langkah kakinya semakin dipercepat. Berlari… Menopang tubuh yang kian menepi….

“Jessie… Jessie…. Why again ??” Aksennya tak pernah hilang, dua gadis blesteran gemar menggunakan bahasa ibunya.

Gadis blonde menggeleng lemah, tersenyum getir, badannya merinding. Tiffany mendekapnya erat, hal yang selalu ia lakukan, saat kotak memori menampakkan wujudnya. Asing… terasa sangat asing.

Si brunette memandangnya iba, saat bingkai kenangan mulai merangkai gambaran. Kartu memori yang seharusnya terbungkus rapi dalam suatu brankas lemari besi, akan tetapi harus dibuang saat kilat belati menyayat hati.

Tubuhnya kembali menggigil dalam dekapan hangat sang gadis brunette. Ia selalu bertanya-tanya, kapan semua akan kembali seperti semula ?? Itulah gunanya ia kemari. Ketempat asalnya, di negara tempat ia dilahirkan. Dengan seorang gadis yang juga blesteran, ia membulatkan tekatnya, tanpa cela. Mencari jarum ditumpukan jerami.. tidak.. justru sebaliknya, mencari jerami ditumpukan berton-ton jarum dan duri.

Ia perlahan tenang, nafasnya mulai panjang-panjang. Namun angin selalu saja datang mengusik, singgah di tepi jendela, berbisik, bergumam, berkata, tertawa, menjajah.

My Princess…

Selalu…

Mengganggu…

Ada saja…

Angin gugur berbisik, Princess…  Princess… Princess… Princess… Princess…

Siapa Princess ??

Kaulah My Princess…

Angin mengintip dari celah musim, My Princess… My Princess… My Princess… Kaulah My Princess…

Ah… Biar….

Ia menyerah….

Green || Kwon Yuri || Only You

Yuri termagu, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna kelabu. Ia berebah melepas lelah, setelah seharian memeras keringat. Pikirannya melayang, tersesat di langit luas. Ia merasa Taeyeon sedikit lucu, memandangnya dengan tatapan lugu. Mungkinkah ia cemburu ?? Tentu saja… dari kilatan matanya saja sudah terlihat bahwa gadis mungil itu memendam perasaan yang mendalam. Bagaimana bisa ia menjadi salah paham ?? Apa yang membuatnya berpikir Yuri ingin merebut gadis brunette itu darinya ?? Sungguh gila. Ia tak mungkin sampai hati melakukan hal sekeji itu.

Ia termenung dalam diam, pikirannya kembali melayang mengangkasa, menerobos kabut hitam legam, menembus dinding transparan. Jessica… Gadis blonde itu mengganggu pikirannya. Siapakah dia ?? Sorot matanya sendu, mirip seorang gadis kecil yang pernah ia temui dahulu. Bibr tipisnya yang merah delima, kulitnya yang seputih susu…

Ah, konyol… Tak masuk akal. Lusinan bahkan ribuan gadis seperti itu di negara ini, mana mungkin satu gadis yang memiliki tingkat kemiripan 70% memberikan asumsi bahwa dia adalah orang yang sama. Bukankah sebagian orang pernah berkata bahwa kita memiliki 7 kembaran yang tersebar di seluruh dunia. Benarkan ?? Mungkin Jessica hanyalah salah satu dari ketujuh manusia itu.

Otaknya kembali berpikir, mungkinkah ia akan datang kembali ?? Gadis kecil bergaun putih ?? Yang sedari dulu ia nanti. Janji sakti telah terucap dari mulut kecilnya. Akankah ia berkhianat ?? Mengingkari janji suci yang telah mereka buat ?? Dibawah pohon sekarat ditengah awan berarak, daun-daun bersorak ria, lubang gelap terisak, dahan ranting berbisik, gemerisik.

Kotak memori kembali berbisik. Aliran magis mulai merasuki malam di antara batas naluri. Dinding transparan yang memisahkan dua masa berbeda kian luruh dan berlubang. Dinding itu tinggi keatas tanpa batas, dan lebar kesamping tanpa tepi. Begitu tipis seperti kulit ari, namun kasat mata. Serupa pintu gerbang sebuah kota terlarang yang beribu tahun tergembok rapat dan kini dibuka.

[Flashback]
Gadis bijak beringsut menuruni tangga yang terbuat dari dahan-dahan retak. Direkatkan oleh besi berkarat. Terpaku di sepanjang jalan setapak yang hanya dapat dinaiki kaki-kaki kecil tak berdosa. Malam semakin dingin, hanya bulan dan bintang yang menerangi. Dua gadis berpegangan tangan, melangkah dengan mata cermat.
Gadis bijak merunduk, tangan kanannya menyibak rumput dan dedaunan yang melumut di sisi barat pohon oak tua. Sebelah tangannya menggandeng gadis bergaun putih, ia meraih sebatang ranting kering yang terlentang menghalang jalan. Ranting itu kemudian ia pergunakan untuk menyingkirkan dedaunan lembab yang sudah mulai berwarna kehijauan akibat lumut yang tumbuh disekitarnya.
Mereka terdiam, tak ada yang berniat untuk memulai percakapan. Gadis bergaun putih itu sebenarnya sudah penasaran setengah mati, hanya saja ia tak mau memecah konsentrasi gadis bijak yang tampak sangat serius melakukan sesuatu. “Kau tunggu disini dulu.” Ujar Gadis bijak seraya berlari kecil meninggalkan gadis bergaun putih yang gemetar di sela akar raksasa yang mencuat ke barat dan ke timur.
Gadis putih itu condong ke belakang, menyandarkan lehernya pada akar raksasa pohon oak tua. Ia tak mengerti apa yang sedang gadis bijak itu lakukan, ia hanya disuruh menunggu, menunggu dan menunggu. Tak lama kemudian, ia melihat secercah cahaya lentera menyala dalam kegelapan. Pupilnya kian mengecil saat sinar itu kian mendekat kearahnya. Ia mulai ketakutan, gemetaran, mulutnya komat-kamit bak baca mantra pengusir setan. Matanya terpejam, kian erat. Ia tak mau membuka, ia ketakutan… ia tak mau tahu ada apa disana. Ia tak mau tahu apa yang akan terjadi jika ia membuka mata, akankah ia ditelan olehnya ?? Ataukah dibawa pergi kesuatu tempat yang tak ia kenal. Ia tak tahu.
Ia merasakan kehangatan disekitar pergelangan tangannya, tidak… ia merasa ada yang menarik lengannya. Menuntunnya kesuatu tempat. Ia tak sanggup membuka kedua matanya. Seolah lengket dan tak mau terbuka. Ia berjalan merayap, tersandung-sandung kerikil dan akar yang telentang menghalang. Gadis bergaun putih itu berhenti sebentar, matanya masih terkatup rapat-rapat. Ia kembali mengatur nafasnya yang mulai tak seirama. Panjang-pendek-panjang-pendek.
Suara kikikan terdengar menggelegar di telinganya, memnyebabkan ia terpaksa membuka kedua matanya perlahan. Sesosok gadis berkaus putih bercelana jeans pendek selutut tak luput dari pandangannya. Ia tersenyum sambil menggantungkan sebuah lentera pada ujung jari telunjuknya. “Mengapa kau menutup matamu seperti itu ?? Mengapa tanganmu berkeringat dingin begitu ?? Badanmu pun gemetaran, apa kau ketakutan ??” Gadis bijak tersenyum mengejek. Tatapannya bak mengoda merendahkan.
Wajah gadis bergaun putih itu bersemu merah dibawah pijar lentera. Ia menatap gadis bijak itu dengan tatapan mengerikan seakan hendak menelannya bulat-bulat. “Kau meninggalkanku sendirian.” Dalihnya.
Tawa gadis bijak itu menyembur, api berwarna jingga kebiru-biruan diujungnya itu bergoyang seirama dengan udara yang berhembus melalui mulutnya. “Aku mengambil lampu pijar ini.” Senyumnya merekah.
“Apa yang kau sebut lampu ?? Dimana pula kau mengambilnya ??” Gadis bergaun putih itu semakin penasaran.
“Nanti juga kau akan tahu.” Jawabnya simpul, kembali berjalan sambil sesekali menyingkirkan semak belukar menggunakan kedua kaki kecilnya.
“Bagaimana bisa.” Ia terus mengoceh, membbuat gadis bijak itu sedikit merasa risih.
“Aku yang memberitahu mu.” Dengan segera menyeret lengan gadis cerewet itu sebelum ia sempat menyanggah perkataanya.
Mereka berjalan dalam diam, dalam keheningan malam kelam, dalam dingin yang seakan menusuk tulang.
[Flashback End]

Yuri terdiam, suara dengkuran menggema diseluruh ruangan. Memantul-mantul didinding kamarnya yang luas. Ia akhirnya tertidur pulas, dalam gelapnya malam yang menembus batas kesadaran.

-TBC-

Thanks for reading, commenting, and the last… thank ya for your attention. Hope this little masterpiece can make smile on ya face. Good byeeee….. :* ~(‘▽’~) (~’▽’)~

Iklan

63 thoughts on “A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 2]”

  1. satu kata “keren” ^_^
    maaf baru berkomentar. aku membaca karya author dati awal tapi tak meninggalkan jejak saya meminta maaf ^_^

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s