FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 13

LOVE IS HARD [ACT 3]


Author     : Roykilljoy

Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)

Genre      : Romance

Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.

Warning    : The Gendre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 4

Taeyeon mengedarkan pandangannya kepada sekelompok gadis yang sedang menatapnya lekat. Yuri tepat berada di samping meja kopi didepannya. Disisi lain terdapat Sunny yang duduk di ujung sofa, bibirnya cemberut dengan telapak tangan menopang dagunya, sayup-sayup ia bergumam sendiri. Antara dirinya dan Sunny, Seohyun duduk dengan tatapan kosong tanpa ekspresi.

Di ujung sisi kanan sofa, ada Hyoyeon, terlepas dari situasi, dia menatap malas kearah TV. Sooyoung duduk dilantai disampingnya, bersandar pada meja kopi dengan alis terangkat. Yoona berada diantara Hyoyeon dan Jessica memandangi Taeyeon dengan alis berkerut. Sama seperti Seohyun, Jessica tidak menunjukkan raut ekspresi diwajahnya.

Tiffany duduk disamping Taeyeon, tenang dan tidak bergeming, sangat kontras dengan ekspresinya beberapa menit yang lalu.

[Flashback]

“Tidak !! Tidak !! Ini tidak boleh terjadi !! Tidak seperti ini !!” Tiffany duduk di pinggir tempat tidur sambil menggeleng, sementara kedua tangannya mencengkram kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. “Apa yang akan kita lakukan TaeTae ?? Apa yang harus kita lakukan ??”

Taeyeon menoleh kebelakang pada gadis yang sedang cemas, panik dan bergumam. Matanya sendu. Dia memakai celananya sebelum menghampiri gadis yang kian memucat. Dia duduk disamping Tiffany, menggengam kedua tangannya erat-erat. “Ssshh… Semuanya akan baik-baik saja Fanny-ah…” Dia melayangkan telapak tangannya di ujung kepala Tiffany kemudian menguspnya perlahan untuk menenangkan hati kekasihnya yang kian cemas.

Tiffany segera menarik kembali tangan Taeyeon kemudian menggenggamnya erat. Menyebabkan Taeyeon sedikit terkejut dengan aksinya yang mendadak. “Tidak… Tidak… Tidak akan…” Serunya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Air matanya mulai bercucuran.

“Mereka akan membawamu menjauh dariku… Mereka akan menghancurkan kita. Aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu itu !! Mereka akan mengirimku kembali ke Amerika dan aku takkan pernah bertemu denganmu lagi !!” Tiffany merebahkan dirinya kedalam pelukan Taeyeon. Menyelipkan kepalanya dibawah dagu Taeyeon. “Aku tidak bisa kehilanganmu Tae… Tidak sekarang… Aku barusaja memilikimu…”

“Tiffany…” tangan halus Taeyeon dengan lembut mengusap punggung Tiffany. “Takkan ada yang dapat menjauhkanku darimu… Jika aku harus keluar dari SNSD dan mencarimu kepenjuru dunia, aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apapun demi bersamamu.” Dia melandaskan bibirnya pada dahi gadis yang sedang menangis tersebut, membiarkannya lama sebelum melepaskan ciumannya. “Aku mencintaimu…”

Isak Tiffany perlahan mereda ketika Taeyon meraup wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut kemudian berbicara untuk menenangkan gadis tersebut. “Aku berjanji padamu, semuanya akan baik-baik saja.” Dia mengangkat dagu Tiffany. “Kau mempercayaiku, kan ??”

Tiffany mengangguk kecil, tubuh gemetarnya perlahan mereda.

“OK…” Taeyeon melepaskan pelukannya pada Tiffany yang masih terlihat ragu untuk melepas Taeyeon. Ia berjalan kearah pintu dimana dia meraih tumpukan kain berwarna merah muda. “Pakai bajumu…” Dia kembali ke tempat tidur seraya menyerahkan gundukan itu pada gadis yang masih termenung. “Kita akan turun kebawah dan…………. Berbicara…”

Tiffany kembali menjawab dengan anggukan kecil, dia mulai memakai kembali bajunya seperti yang sudah diperintahkan oleh gadis yang lebih tua.

Taeyeon mendesah lemah, tangannya lembut membelai rambut gadis yang lebih muda. Dia harus tetap tenang demi Tiffany, meskipun kenyataannya dia sendiri merasa berantakan. Bagaimana kalau semuanya takkan baik-baik saja. Bagaimana jika semua yang dikatakan Tiffany akan menjadi kenyataan ?? Bagaimana ia sanggup mencari Tiffany ke seluruh penjuru dunia ?? Jika ia terlalu lama menemukan Tiffany, akankah gadis itu masih tetap mencin—.”

“TaeTae ?” Taeyeon berpaling pada gadis yang sekarang berdiri tepat disampingnya.

Ia sontak tersenyum padanya. “Siap ??”

Tiffany mengangguk, suaranya menyusut saat mereka berjalan keluar ruangan. “Jangan biarkan aku pergi.”

[Flashback end]

Taeyeon memandangi anggotanya sekali lagi sebelum ia mempererat gandengannya pada Tiffany. Ia mulai gugup lagi. Taeyeon tahu, itu hanya akan mengulur waktu sebelum Tiffany mogok dan tak ingin semua itu terjadi. Dia menarik nafas panjang, dan menahannya masuk. Akan lebih baik jika ia mengatakannya sesegera mungkin.

Cepat katakan dan cepat selesaikan.

Ia menghembuskan nafas panjag sambil memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutnya. “Saya… kita….”

Tiffany menegahinya, Ia tak ingin kekasihnya mengatakan hal ini sendirian. Walau bagaimanapun, ia tetap ikut andil dalam permasalahan ini. “Aku dan TaeTae…. Kita….”

Tapi Taeyeon tidak akan membiarkan Tiffany menjadi orang pertama yang mengatakannya. Jika mereka marah, yang seharusnya disalahkan adalah aku. “Kami sedang berkencan.”

“Kami berpacaran.”

“Mwo ??”

Dia tidak yakin siapa yang melontarkan pertanyaan tersebut, namun dia tetap menjawabnya walau bagaimanapun juga. “Dia pacarku.”

Bermacam-macam ekspresi tergambar dari masing-masing wajah mereka.

“Aku tidak dapat mempercayainya !!” Gerutu Yuri, melipat kedua tangannya didepan dadanya.

“Kau serius ??” Mata Sooyoung melebar.

Taeyeon mengangguk saat Tiffany meringkuk dibelakangnya. Dia akan tetap tegar demi Tiffany tak perduli apapun juga.

“Sejak kapan ??” Yuri menyerngit, kemarahan jelas terlihat dari wajahnya.

“Sejak waktu liburan kami.” Taeyeon menggengam tangan Tiffany kian erat.

“MWO ??” Sooyoung menghempaskan tangannya ke udara. “Itu sudah lebih dari setengah tahun yang lalu.

Taeyeon merasa Tiffany tersentak akibat volume suara gadis jakung tersebut. Kepala gadis berambut gelombang itu sekarang berada tepat dibelakang bahunya, menyembunyikan wajahnya dari hadapan gadis-gadis itu. Taeyeon dapat merasakan air mata merembes melalui kemejanya.

“Kau tidak berpikir untuk memberitahukannya pada kami ??” Yuri gusar, suaranya lirih.

“Kau marah.” Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

“Mwo ??” Wajahnya kembali tersadar sebelum akhirnya ia menggeleng sambil melambaikan tangannya didepan wajahnya. “Tidak… bukan begitu.. maksudku, iya… tapi karena kalian tidak memberitahukannya kepada kami.”

“Hah—?” Tanya Taeyeon seraya mengangkat kepalanya.

“Mereka takut, itu bukanlah hal yang mudah untuk diceritakan.” Jessica menyilangkan kakinya di ujung sofa dekat meja.

“Kau tahu ??” Sooyoung melongo, mengalihkan perhatiannya pada gadis yang lebih tua.

Jessica mengangguk sambil menutup matanya. Gerakannya sungguh pasif, Taeyeon hanya bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi padanya.

Yuri menggertakkan giginya sambil tersenyum kecut, “Kau mengatakannya pada Sicca dan bukan aku ?? Kita teman sekamar Fanny-ah…”

“Unnie… Jangan marah, mereka hanya takut….”

“Tunggu.. tunggu… kau juga tahu—maknae ??”

Seohyun mengalihkan pandangannya kelantai, tidak mau memberikan jawaban pada Sooyoung ataupun tatapan terkejut salah seorang dari pasangan tersebut.

“Apakah ada yang tahu lagi ??”

“Aku !!” Sunny mengucapkan kata pertama semenjak perdebatan itu berlangsung.

“Benarkah ??” Taeyeon merasa tidak enak menayakan hal itu kepada gadis itu disaat situasi yang seperti ini, dia dapat meledak kapanpun, namun ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya yang menggebu.

Sunny mengangguk tenang, “Yeah….”

“Bagaimana bisa ??” Sunny mendesah kemudian berbalik pada Taeyon, seringai kecil terukir diwajahnya.

“Kau tidak pernah mengapus username mu dari laptopku.”  Mata Jessica sekejap terbuka sambil menjentikkan jarinya dan bergumam sesuatu pada dirinya sendiri. Sunny sontak menyadari maksud Jessica, ia tertawa kecil demi menetralisir suasana hati. “Setelah itu, sangat mudah untuk mencari tahu….”

Tiffany mengeringkan air matanya lalu melonggarkan pegangannya pada Taeyeon. “Sungguh ceroboh.” Gumamnya dibahu Taeyeon.

“Kau tak lebih baik.” Ejek Sunny sambil meraih sekantong keripik kentang diatas meja. “Gadis ini…” Dia menunjuk Tiffany menggunakan ujung dagunya, matanya berpendar kearah gadis-gadis di ruangan itu. “Kalian tahu kan, dia selalu kehilangan ponselnya ?? Dan aku pernah menemukannya sekali.” Dia berbicara disela-sela mengunyah kripiknya. “Semua gambar dan pesannya seluruhnya berisi tentang Taengoo, semua itu seperti sebuah petunjuk.”

“Kau mengutak-atik ponselku ??” Tiffany mengangkat kepalanya untuk menatap Sunny, sekejap ia lupa akan ketakutannya.

“Aku berusaha untuk menelpon rumah untuk memberi tahu bahwa aku telah menemukannya. Tapi, aku tak tahu bagaimana cara untuk menahan rasa penasaran tersebut.” Suasana tegang mulai menguap dari ruangan. Taeyeon bersandar ditelinga Tiffany, “Kurasa kita berdua sama-sama sedikit ceroboh.” Dia menyeringai, mengingat kembali pertengkaran kecil mereka sehari sebelumnya.

“Sedikit ??” Gumam Jessica. “Tidakkah kalian tahu, betapa sulitnya usahaku untuk menutupi aksi kalian berdua, huh ??” Ia memutar kedua bola matanya.”Ini seperti pekerjaan fulltime !! Aku dan Seohyun—!!” Dia menatap Seohyun. “Ceritakan pada mereka Maknae !!”

Seohyun mengatupkan kedua tangannya dalam pangkuannya. Matanya berpendar, wajahnya mulai memerah. “Unnie, kau tidak harus menulis Fanny ‘heart’ TaeTae pada cermin kamar mandi dan meninggalkannya begitu saja, bahkan jika kabutnya hilang, bekasnya masih tertinggal jika kau tak menghapusnya.” Wajah Tiffany seketika semerah tomat 😀

Jadi, Fanny… Pikir Taeyeon sambil menggelengkan kepalanya.

Kikikan kecil memenuhi ruangan sebelum akhirnya digantikan oleh keheningan sama seperti pasangan tersebut saat mereka berbicara tentang hal semacam itu.

“Jadi ??” Taeyeon berdehem, kata-katanya tentatif. “Apakah kalian baik-baik saja dengan ini ??” Ia menggenggam erat tangan Tiffany kemudian mengangkatnya dihadapan para gadis, “dengan kita ??”

Keheningan itu kembali berlanjut seakan abadi.

Taeyeon terkejut saat Yuri merupakan orang pertama yang menyuarakan pendapatnya.

“Aku tak pernah berpikir kalian berdua akan seperti ini… itu….tapi itu hanya…..” Dia memandang langit-langit. “Kurasa baik-baik saja.” Desahan akhirnya meluncur mulus melalui mulutnya. “Kurasa itu karena kalian berdua telah bersama-sama sejak aku bertmu kalian” Dia mengangguk, membenarkan pikirannya. “Akan sedikit terasa aneh jika melihatmu bersama orang lain.”

“Yeah…” Sunny mengangguk juga, menghabiskan keripiknya. “Kurasa itulah sebabnya mengapa saat aku mendengar hubunganmu dengan Taecyeon sungguh mengejutkan.” Yuri tertawa, menyikut gadis yang lebih tinggi disampingnya. “Taeyeon, Taecyeon…. Mungkin dia berpikir jika dia tak dapat memiliki Taengoo maka pria itu adalah pilihan terbaik berikutnya.”

Sooyoung menggeleng.

“Ckk… Dasar gadis bodoh..” Canda Sunny.

Tawa memenuhi ruangan…

“Kurasa itu indah.” Yoona menghembuskan kata-katanya. Taeyeon bertanya-tanya apakah ia menahan nafasnya sepanjang waktu. “Cinta ya Cinta…” Dia tersenyum, berpaling pada Hyoyeon yang duduk diam disampingnya, dengan sengaja menghidari tatapan gadis yang sedang memandangnya lekat. “Benarkan Unnie ??”

“Itu salah..” Gumam Sooyoung, memijat dagunya dengan jemarinya.

Tiffany mendesah, tangannya mencengkram kain lengan Taeyeon.

Taeyeon merasa tubuhnya kaku saat kedua tangannya mengepal membentuk tinju, matanya gelap.

Sebut bahwa semua ini salah, Katakan saja apa yang kau inginkan… Tapi jangan pernah membuat Tiffany menangis. [Ceileeeeee XD]

Yuri memperhatikan gerik gadis yang lebih pendek, kemudia menyenggol lengan Sooyoung sekali lagi, mendesak ia untuk berbicara kembali.

Gadis tertinggi melirik pada pasangan yang sedang duduk disofa, lalu dengan cepat ia bergegas melambaikan tangannya didepan wajahnya. “Bukan kau—kau tidak salah !! Hanya saja, aku telah menganggap kita semua sebagai saudara. Dan sekarang, jadi… ini seperti saudara perempuanku… yeah… kau tahu…” Dia membuat mimik kebingungan dengan gerak tubuhnya.

“—Ugh !!” Sunny bergidik. Menutupi wajahnya.

“Kami tahu…” Taeyeon menunduk, menghentikan gadis yang lebih muda untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia hanya dapat membayangkan apa yang ada dalam kepala Sunny.

“Kurasa, aku sudah harus terbiasa dengan hal itu, tapi jangan khawatir. Kami semua keluarga disini kan ??”

Sooyoung tertawa. “Sekarang ini, seperti kalian adalah orang tuaku bukan saudaraku..”

Taeyeon melayangkan sebuah senyuman, ia bersyukur usahanya berhasil untuk membuat Tiffany tersenyum. Dia merasa genggaman Tiffany kembali relax. Tiffany memejamkan matanya, ketegangan berangsur mereda saat ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Taeyeon.

“Tapi…..” Tatapan Yuri kembali murung. “Apa arti ini bagi kita semua ?? Bagi So Nyeo Shi Dae ??”

Taeyeon menjawab pertanyaan itu dengan raut ragu yang tergambar di wajahnya. “Apa maksudmu ??”

“Apakah kalian akan memberitahukannya kepada publik ?? Kepada SONE ??” [Tenang Unn.. kami semua mendukungmu 100% kekeke]

Dia dapat merasakan gelombang cemas menggoda ruangan. Yuri pasti bukan satu-satunya orang yang menunggu jawaban mereka.

Taeyeon menoleh kebelakang pada gadis yang sedang bersandar dibahunya. “Aku tidak berpikir, salah seorang dari kami siap untuk melakukan hal itu, kan ??”

Tiffany tidak menanggapi.

Taeyeon menganggap diam pertanda iya. Dia merasa tubuhnya condong ke depan saat tubuh Tiffany semakin merosot menimpa punggungnya. “Hanya bisa merasa nyaman di rumah kami, aku rasa itu sudah lebih dari cukup bagi kita.”

Seolah diperintahkan, tangan Tiffany tiba-tiba merayap di sekitar lengan Taeyeon kemudian secara perlahan, menyelipkannya di pinggang ramping Taeyeon.

Taeyeon, secara naluriah meletakkan tangannya sendiri diatas tangan Tiffany, menggenggamnya. Dia duduk bersila kemudian menyandarkan kepalanya pada bantal disebelah kirinya.

Seohyun tersenyum lebar pada pemandangan hangat di depannya, merasa lega pada ddirinya sendiri. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan jika semuanya tak berakhir sedemikian rupa. Semua orang diruangan it sangat berarti untuknya. Perasaan dan pikiran mereka sangat penting. Ia kembali memandangi gadis-gadis diruangan itu satu persatu sebelum akhirnya mengalihkan padangannya ke layar TV, melirik gadis diujung sofa.

Dia tidak berkata apapun.

“Unnie ??”

“Hm ??” Gerutu gadis berekor kuda.

“Dari tadi kau diam saja.”

Hyoyeon beranjak dari tempatnya, menaikkan volume pada Ipodnya. “Aku tidak perduli dengan semua itu. Cinta pada akhirnya hanya akan melukaimu.” Semua mata tertuju padanya saat ia berjalan menaiki tangga, semua kecuali seorang gadis yang matanya terpaku pada lantai dibawahnya.

“Ada apa dengannya ??” Kata Sooyoung sambil membolak-balik salurannya.

“Eh…” Sunny mengangkat bahunya, memutar kedua bola matanya. “kalian tahu bagaimana reaksinya jika semua orang didekatnya membicarakan sesuatu yang berbau romantis.”

“Mmh…” Sooyoung mengangguk, melirik lewat bahunya pada pasangan yang sedang kasmaran. “Jangan mengkhawatirkannya—hahaha!!” Dia menahan tawanya. Taeyeon berbaring telentang dengan mulut ternganga dan satu lengan menjuntai di tepian sofa, sementara yang lainnya berada di punggung Tiffany yang sedang berada tepat diatasnya. Tangan Tiffany mencengkram erat dan melingkar sempurna pada pinggang gadis mungil itu. Mereka bernafas seirama, setelah melalui hari penting mereka yang panjang.

**

Hyoyeon berdiri di balkon kamar, dia sudah berbagi dengan tiga gadis lain. Baiklah, berbagi bukanlah kata yang tepat untuk mengungkapkannya.

“Lebih seperti jongkok.” Gumamnya, membungkuk ke tanah salju berbintik dibawahnya. Udara malam berhembus disekitarnya, tulangnya gemetar namun ia tak memperdulikannya. Dia lebih mengkhawatirkan sesuatu yang lain, sesuatu selain kondisinya sendiri.

“Kau marah..” Sayup-sayup terdengar suara yang teredam. Hyoyeon mengintip melalui pintu geser, namun berhenti saat ia menyadari bahwa suara itu berasal dari balkon bawah. Dia duduk dalam diam, sengaja dengan enggan menguping pembicaraan dibawahnya.

“Aku…. Aku hanya ingin mengerti…” Sahut suara yang ke dua. Hyoyeon ingin melihat di tepi pagar untuk mencari tahu siapa mereka, namun kemudian ia merasa tidak perlu melakukannya. Ia tahu siapa dua orang tersebut.

Seohyun berdiri dibelakang Yoona, dengan sedikit ketakutan ia melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Semua yang telah kau katakan….. tentang ini semua baik-baik saja…. Itu.. itu hanya berlaku untuk mereka ??”

“Ya—Mak..Maksudku—Tidak !!” Yoona meggelengkan kepalanya, terengah dengan frustasi. “Aku tidak tahu…. Maksudku—.”

Dia memutar tubuhnya disekitar Seohyun, dia membuka mulutnya, akan berbicara, namun tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia menatap dalam mata Seohyun yang nafasnya terasa semakin berat mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat.

Tatapannya mulai beralih pada lengan Seohyun, entah bagaimana memikirkan bagaimana cara Seohyun memeluknya akan membuatnya lebih mudah untuk berbicara, meskipun apa yang dikatakannya tak sempurna. “Aku tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya…. Kita… tapi kemudian malam itu… itu seperti seluruh pikiranku meledak. Ada begitu banyak pikiran.” Suaranya berubah lirih “Begitu banyak pertanyaan.” Dia berbisik, memejamkan kedua matanya. “Ini terus berputar dikepalaku…. Tanganmu di pipiku, nafasmu dikulitku… bibirmu… Aku tak dapat berhenti memikirkannya. Tak perduli sekeras apa aku mencobanya.” Sebuah suara berdebar di telinganya, merasakan kehangatan yang sudah ia kenal.

Yoona membuka matanya, ia terkejut menemukan dirinya dalam pelukan Seohyun. Dia mengangkat kepalanya dari dada Seohyun, lengannya dengan kuat melingkar di pinggang gadis yang lebih tinggi. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Meskipun apa yang membuatnya lebih takut adalah ia tak yakin apakah Seohyun mau melakukannya.

Setelah meyakinkan Seohyun untuk kembali kekamar mereka malam itu, ia berpikir bahwa keadaan akan kembali seperti semula sebelum ciuman mereka. Walau bagaimanapun, Yoona tahu semua itu mustahil dan ia memutuskan untuk bertukar kamar. Seohyun memaksa dia untuk tidak melakukannya, namun berakhir dengan bertukar dengan Jessica. Yoona merasa bersalah tentang hal itu, terlebih ia belum memberitahu Seohyun mengapa mereka tidak bisa tidur berdekatan satu sama lain. Dia tidak berencana untuk melakukannya, hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya sedih.

[Flashback]

“Kau meminta Sicca Unnie untuk bertukar kamar denganmu ??”

Yoona terpaku, dia berdiri didepan meja riasnya. “Dia memberi tahumu ??”

“Tidak, dia tidak akan pernah melakukannya, aku mendengarmu.”

“Kau tidak tidur ??”

Seohyun mengangguk, matanya menatap lantai. “kupikir kau mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Apakah aku telah melakukan seseuatu yang salah ??”

“Tidak….”

“Lalu mengapa ??”

“……”

“Tak bisakah kau memberitahukannya padaku ??”

“Bukan apa-apa…” Yonna menggelengkan kepalanya, mencengkram erat boneka ditangannya.

“Mungkin ini akan membantumu.”

“Kau…” Nafasnya memekik, dia mencoba untuk meredamnya menggunakan benda empuk itu. “Pikir aku butuh bantuan.”

“Apa ?? Tidak… aku tidak bermaksud seperti itu.” Jangan menangis Seohyun… kumohon… aku tak sanggup melihatmu menangis lagi. “Kau bukanlah dirimu akhir-akhir ini.”Suaranya bergetar. “Kau tidak senang berada didekatku ??”

“Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu ??” Ia beranjak dari tempat tidurnya, masih memegang boneka itu saat berjalan mendekati Yoona.

“Aku selalu bahagia saat kau berada didekatku.”

“Saat pagi dan siang hari—namun, jika malam—.” Dia keceplosan.

Hening.

“Mwo ??” Seohyun berkata lembut.

Yoona menggelengkan kepalanya, ia sudah berkata terlalu banyak. “Aku menyakitimu.”

“Yoona.” Dia berdiri dibelakang Yoona, menatapnya melalui cermin besar. Tatapannya mengiba. “Jangan pergi…”

“Ini akan lebih baik bagi kita.” Dia berbalik, dia tidak sanggup menahan tatapannya.

“Kalau begitu, aku yang akan bertukar kamar.” Gumam Seohyun, berjalan menjauh.

“Mengapa ??” Yoona kembali melirik kearah cermin, menelusuri gadis frustasi.

“Jika kau tidak disini, lalu apa masalahnya ??” Ia melemparkan boneka itu ditempat tidur, bergumam sendiri sambil beringsut membuka pintu kamar. “Kamar hanyalah sebuah kamar.”

[Flashback end]

Itu tidak benar, mencium Seohyun, dia menikmati pelukan ini, semua itu tidak adil. Jika ia tak tahu apa yang dia inginkan ia tidak pantas untuk mencicipi bibir manis Seohyun itu.

Tangannya menyentuh lembut diatas perut Seohyun yang sedang bermain-main dengan ujung bajunya.

Apa yang kau lakukan Yoona ?? Sebuah suara terngiang di kepalanya, mencacinya saat ia mendesah pelan pada Seohyun.

Bagaimana bisa kau memperlakukannya seperti itu ??

Bagaimana bisa kau memanfaatkannya saat kau tak tau apa yang kau mau ?? Air mata mengalir dipipinya saat tangan Seohyun bermain-main dengan ujung rambutnya.

Seohyun memperdalam ciumannya pada gadis yang sedang terengah-engah, cemas menunggu tangan Yoona untuk menyentuh lembut kulitnya.

Berapa lama lagi semua ini akan bertahan ?? Kita berdua masih sangat muda. Bagaimana dia tahu apa yang dia inginkan.

Suara yang sudah tak asing lagi terngiang di kepalanya, berbeda dari omelannya ketika ia sadar. Suatu hari nanti dia akan meninggalkanmu. Kata-kata itu berdengung jelas ditelinganya, menariknya kembali dari situasi yang semakin memanas.

“Tidakk !!” Teriak Yoona, mendorong dirinya terlepas dari Seohyun. Ia tidak bermaksud untuk menggunakan kekuatannya terlalu banyak tapi dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ini seperti awal dari sebuah kebiasaannya. Yoona menyalahkan dirinya sendiri saat Seohyun bersandar pada pagar balkon.

“Oh Seo—A—Aku minta maaf—.” Tubuhnya gemetar saat ia meraih bagian belakang dari pintu geser balkon. “Kita tidak bisa—A—Aku minta Maaf—Aku hanya—hanya—aku—.”

“Unnie….” Bisik suara lirih dari gadis yang terluka. Matanya berkaca-kaca dengan tatapan menyakitkan. “Yoona…” Ujarnya lagi. Lengannya masih terulur. Memohon pada gadis itu agar kembali padanya. Namun pada akhirnya, ia berakhir dengan memeluk dirinya sendiri. Menemani tubuhnya yang merosot kelantai dingin dibawahnya. Pahitnya udara dingin dengan keras menerpanya, sulit untuk mempercayai bahwa beberapa menit yang lalu Yoona masih bersamanya. “Aku tahu kau mencintaiku.” Ia memaksa kata-katanya. Nafasnya tersengal. “Aku tahu itu.” Ia merintih lirih di udara. Itu menyakiti hati Hyoyeon untuk medengarnya dan tak mampu untuk membantunya. Seohyun membutuhkan seseorang untuk bersandar dan Hyoyeon tahu dia bertanggung jawab untuk itu. Meskipun begitu, ia tetap tak bergerak. Seohyun membutuhkan seseorang yang tegar untuk menenangkannya. Dan ia tidak berada dalam posisi yang dimaksudkan. Air matanya sudah membasahi wajahnya bahkan sebelum kenangan pahitnya sendiri berputar di kepalanya.

-TBC-

(^○^)ノ~~안녕히 계세요

Iklan

59 thoughts on “LOVE IS HARD Part 13”

  1. akhirnya taeny memberitahu hubungannya ke member..
    dan yeah member setuju sm hubungan taeny, but hyo msh samar2..
    yg dnger argumen yoonyhun hyo kah??
    hyo bertindaklah sebagai seorang unnie yg baik sekarang untk seo, kasian seo..

  2. Yeahh, akhirnya semua member menyetujui hubungan taeny, 🙂
    yoona gitu amat sm seo, gak kasia liat seo mempertahan kan hubungan mrk, knp yoona lari dr semua kenyataan

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s