One Shoot, SNSD, SOSHI FF

TWINKLE-TWINKLE LITTLE STAR [ONE SHOOT]

TWINKLE-TWINKLE LITTLE STAR [ONE SHOOT]

Author           : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 : Twinkle-Twinkle Little Star.

Genre             : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance.

 Cast               : TaeNy, SNSD Member, Leeteuk.

Chapter         : One Shoot

Warning        : The genre in Yuri (Girl X Girl)

 

Prolog

 

Aku adalah bulan yang mencintai matahari. Bulan mencintai matahari karena ia membutuhkan cahaya terang. Tanpa cahaya bulan takkan pernah bersinar. Matahari hangat dan menggairahkan. Tapi bukankah sewajarnya bulan mencintai matahari ?? Karena dalam putaran satu hari manusia pasti akan bertemu dengan matahari dan bulan (dengan pengecualian pada saat gerhana). Matahari melengkapi bulan dan bulan melengkapi matahari. Sama seperti siang melengkapi malam dan malam melengkapi siang. Yin Yang. Lingkaran maskulin dan feminisme. Sempurna…

 

Taeyeon Pov

Aku berjalan berjingkat memasuki dorm yang sudah nampak lengang. Angin dingin berhembus menusuk tulang, mengikis asa. Kurasakan tubuhku mulai bergidik, bukan ketakutan karena hal berbau magis atau sebangsanya. Menurutku, kali ini lebih mengerikan. Menghadapi makhluk ciptaan Tuhan yang sering kau sebut perempuan. Aku tahu, aku pun perempuan. Bukankah seharusnya kaum perempuan lebih takut pada lelaki hidung belang ?? Yang sering kau dengar gelagatnya yang mengerikan ?? Karena aku pun perempuan dan kodratku adalah bersanding dengan lelaki tampan. Yang kumaksudkan adalah, bagaimana jika hatimu mulai bimbang. Seperti yang kurasakan. Aku wanita dan aku adalah perwujudan dari sosok terkeal di Negara panda, yang sering kau lihat di film cartoon jika adikmu sedang menonton TV. Aku adalah sosok Yin yang dikenal dengan figure feminim nya. Berlenggok didepan kamera dengan senyum palsu yang tampak dibuat-buat. Berkalung dusta yang selalu kau banggakan didepan jutaan makhluk lainnya. Menjadi panutan yang kian diagung-angungkan ??

Mereka akan datang padamu, membawa seribu satu macam pujian, mungkin seribu satu macam pujian, seribu pujian yang akan menelakanmu, dan satu yang terakhir akan membuatmu tertidur pulas. Saat itulah mereka berubah menjadi monster buas yang akan menerkam mangsa dibalik perseteruan ideologi antar manusia.

Tokoh Yin seharusnya tampak sempurna dengan Tokoh Yang yang melengkapinya. YinYang sebuah lingkaran yang takkan pernah terpisahkan. Bagaikan siang dan malam, saling mengiringi, saling mengimbangi. Namun, apakah semua itu hanya tipuan jenaka ?? ataukah takdir yang sudah digariskan Tuhan ?? Entahlah… bagaimana jika kau merubahnya, dengan tangan kecil manusia yang berlumur dosa ?? YinYin, Bolehkah ?? Tampak asing ditelinga, mengganjal hati yang suci.

Malam terlihat sangat gelap, bintangpun tak menampakkan wujudnya. Hanya menorehkan sepenggal bulan yang bertengger dengan anggunnya. Senyumnya tampak dibuat-buat. Bulan kesepian, dia butuh seorang kawan. Tapi kemanakah dia ?? Kemanakah bintang yang selalu menemami bulan ?? Berkelap-kelip mengagungkan kuasa-Nya. Dimana ia bersembunyi ?? Apakah awan membawanya pergi ?? Bintang… Bintangku… Kemanakah engkau berlari ??

[Shoot 1]

Dering ponsel membawa pikiranku kembali, suaranya nyaring menggema dan memantul didinding. Segera kuraih mesin canggih keluaran masa kini yang baru kubeli 2 minggu yang lalu. Bergegas kutekan tombol hijau disisi kiri bawah benda berwarna ungu tersebut. Tanpa pikir panjang, kudekatkan pada gendang telingaku. Aku tak lagi sanggup menahan emosiku.

Eodieso ?? Ya !! Kau tahu sudah pukul berapa sekarang ??” Amarahku menyembur, layaknya gunung api volkanik yang bersiap memuntahkan lava panas dalam perut bumi. Aku melirik sekilas jam yang bertengger didinding, menunjukkan pukul 1 dini hari.

“Taenggoo…” Aku tersentak, suara maskulin…. Tidak… bukan suara yang kunanti tiap pagi, saat mentari merangkak naik dan menyambutku layaknya tuan putri.

Aku menjauhkan benda itu dari telingaku, menatap tajam kearah layar yang berpijar dalam kegelapan malam. Sialan !! Umpatku kesekian kalinya. Bukan nama yang kuharapkan yang tertera disitu, justru sebaliknya. Gila !! Gila !! Aku benar-benar akan gila dibuatnya !!

“Taengoo…” Suaranya lirih, dingin.. menusuk tulang rusukku.

“Ne Oppa…” Jawabku sayu. Tak tersirat sedikitpun dalam benakku hanya untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Aku sudah muak dengan kepura-puraan belaka.

“Ada apa denganmu belakangan ini ?? Mengapa kau menghindariku ??” Aku tak terkejut, sudah jutaan kali dia menanyakan hal tersebut padaku, dan aku akan melontarkan jawaban yang sama pula.

“Aku tak menghindarimu.” Selalu begitu. Pikiranku benar-benar buntu.

“Lalu apa yang kau lakukan tadi ?? Seenaknya meninggalkanku dengan alasan yang benar-benar tak masuk akal.” Sial !! Ingin sekali kusumpal mulutnya dengan sepatu yang sedang kukenakan.

“Aku—.” Suaraku terhenti, sayup-sayup kudengar suara pintu yang dikunci. Tanpa berpikir dua kali, aku beranjak dari kursi kemudian bergegas menuruni anak tangga menuju lantai utama. Segera kumatikan ponsel tanpa perduli mengakhiri pembicaraanku dengannya. Pikiranku hanya satu… Dia… Bintangku….

Aku melihatnya melepas sepatunya di sudut meja, lalu meletakkan mantelnya di lemari yang berada tepat di ujung pintu. Aku memandangnya, lekat…

“Uh… TaeTae ??” Ia tampak terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul dibalik tirai yang berhubungan langusng dengan dapur. Aku mencoba bersikap sedatar mungkin, tanpa menunjukkan raut emosi sedikitpun.

“Darimana saja kau ?? Jam segini baru pulang ??” Aku mencoba bersikap dingin. Namun usahaku hanya akan berujung sia-sia. Kekhawatiran enggan lepas dari raut wajahku.

“Bertemu teman.” Dalihnya singkat. Kurasakan amarahku sudah memucuk, bagaimana bisa dia hanya menjawabnya seperti itu ?? Tak tahukah dia bahwa aku telah menghawatirkannya selama berjam-jam sampai sekarang. Dan dengan mudahnya ia hanya menjawab sesingkat itu ?? Gila !! Aku sudah benar-benar gila dibuatnya !!
“Teman macam apa yang kau temui selarut ini ??” Dia beralih menatapku, nanar. Wajahnya tampak berkabut. Sial !! Wajah malaikatnya seolah menyihirku. Aku terpaku. Membeku… Aku menggelengkan kepalaku. Lalu, apa perduliku ?? Apa aku cemburu ?? Konyol !!

Ia mendesah lirih, seperti menahan perih, “Kau sendiri ?? Apa yang kau lakukan disini ?? Kau bilang ini sudah larut malam ?? Mengapa kau belum tidur ?? Apa kau sengaja menunggu kedataganku ??” Ia menunggingkan senyum… menyebalkan. “Berhentilah berpura-pura Kim Taeyeon..” Desisnya sebelum melangkah menaiki anak tangga lalu membuka pintu kamarnya.

Aku beringsut mengejarnya, meraih lengannya, namun percuma, ia sudah menghilang dibalik pintu kayu besar bercat merah muda. Aku menyerngit sejenak. Hatiku berteriak lebih keras daripada pikirku. Dengan gegabah aku mendorong pintu yang tampak tak pernah dikunci itu, perlahan, sinar terang menyambutku, menyilaukan mataku.

Aku berdiri disitu, tercengang, tak mampu berkata apapun. Otakku berhenti bekerja, mataku terbelalak, mulutku ternganga, rahangku terasa nyeri. Apa yang kulihat ?? Sesosok tubuh malaikat tanpa berbalut busana lengkap. Hanya seutas bra merah muda yang melingkar sempuna di sekitar dadanya. Ia menatapku datar, seolah tak terjadi suatu hal yang mengejutkan. Aku masih bersyukur kepada tuhan, ia hanya melepas kemejanya saja. Mungkin jika ia melepas celananya, aku bisa pingsan seketika.

“Wae ??” Hanya itu kata yang meluncur dari mulutmu.

“A—aku..” Tak bisa, aku tak mampu bersikap biasa. Kulitnya begitu mulus seputih salju, tapi suatu hal menarik perhatianku, apa itu ?? Aku menatapnya lekat, meminta penjelasan, keterangan lebih jelas, atau apalah. Tanda merah disitu, dilehermu, tidak… diatas dadamu. Siapa ?? Siapakah manusia yang menorehkannya ?? Pada bintagku ??

Ia mengikuti pandanganku sekilas, lalu menunggingkan senyum penuh kemenangan. Tidak, getir.. iya… senyumnya getir. Aku melangkahkan kakiku perlahan, mendekat padanya, kurasakan tubuhku gemetar, dadaku berdebar hebat. Menatap tubuh indahnya dari jarak sedekat ini, membuat pikiranku pecah. Akal sehatku seketika lenyap. Aku menyentuhnya lembut, tanda itu… “Siapa ??” Tenggorokanku tercekik, lidahku tercekat, aku tak mampu berkata.

“Mengapa ??” Sialan !! Apa hanya ini ?? Selama tiga tahun akankah tetap seperti ini ?? Tiga tahun terberat dalam hidupku. Bersembunyi dibalik selimut, tersenyum dalam luka, tertawa dalam duka ?? terjebak dalam kepura-puraan belaka ??

“Jawab aku Tiffany…” Aku menatap iris coklatnya, tersirat luka disana, dalam… Siapakah yang telah melakukanya padamu ??

“Lalu, apa perdulimu ??” Ia membuang muka keluar jendela. Kau benar-benar membuatku bingung, apa sebenarnya maumu ??

“Kau…..” Ia menghentikanku saat aku berusaha berdebat dengannya, ia hanya… berjalan datar melewatiku, tanpa melirikkan mata sedikitpun.

“Lebih baik kau tidur, sebelum yang lainnya terbangun…” Ia meraih piyama yang tersampir didekat meja rias, kemudian membuka kancingnya satu persatu lalu memakainya perlahan. “Kau masih ingin disini ??” Aku melihatnya bersiap melepas celanananya.

Aku menggelengkan kepala. “A—Ah… Tidak—Tidak…” Kulangkahkan kakiku dengan ragu mendekati pintu. Membukanya perlahan, kemudian menutupnya erat, sayup kudengar desah berat merasuk dari balik pintu. Kepalaku tertunduk lesu. Tanpa suara aku berjalan merayap dalam gelap, sengaja lampu tak kunyalakan agar tidak mengganggu yang  lainnya.

Aku membuka pintu kamarku perlahan, sesosok tubuh mungil meringkuk dibalik selimut, tangan kirinya menjuntai landai dilantai. Perlahan, kuangkat lengannya kuletakkan dengan lembut di perutnya. Kulangkahkan kakiku keluar jendela, kembali menatap langit kelam. Kini bulan tak lagi sendiri, sebuah bintang kecil muncul disisinya, tapi mengapa bintang itu tak berkelip seakan kehilangan sinarnya ?? Bisakah sebuah bintang tak bersinar ?? Sanggupkah bulan bersinar terang tanpa bintang ?? Sedangkan bulan memerlukan pantulan cahaya matahari untuk bersinar… Ah… semua ini membingungkan… Langit tetap gelap dengan atau tanpa bintang yang menghiasinya. Bulan tetap merengut dengan atau tanpa bintang yang menemaninya.

Tanpa suara aku merebahkan tubuhku di kasur empuk, melirik sebentar kearah gadis lelap disampingku, wajahnya tampak damai. Senyum menungging di wajahku, setidaknya masih ada satu bintang yang bersinar. Perlahan, aku mulai mengatupkan kedua mataku yang kian terasa berat. Langit-langit berubah warna, putih… abu…. Kemudian hitam… gelap…

***

“Morning…” Sebuah suara mengalun lembut di telingaku. Membawa jiwaku kembali menempati ragaku. Setelah kesembilan nyawaku telah genap terkumpul, perlahan aku membuka kedua mataku yang masih enggan terbuka.

Pandanganku masih berkabut, setelah mataku tak lagi buram, aku mulai mengedarkan pandanganku melihat sekeliling. Untuk kesekian kalinya, aku kembali terkejut. Ini bukan kamarku…

Lagi-lagi aku berada disini, setiap pagi… sungguh membingungkan, apa yang sebenarnya terjadi ?? Setiap malam aku ingat, sepenuhnya tersadar… aku tidur di kamar bersama Sunny, tapi mengapa keesokan harinya, tiap kali aku membuka kedua mataku, aku selalu berakhir di kamar bersama Tiffany disisiku ?? Apakah ia menungguiku tiap malam ??

Kekuatan magis apa yang membawaku kemari setiap mentari kembali dari persembunyiannya ??

Ia tersenyum, benar-benar cantik… sinarnya mengalahkan mentari pagi ini. Kurasakan diriku ikut tersenyum, terbawa hangatnya. “Apa tidurmu nyenyak ??” Matanya menipit, mirip bulan sabit. Aku mengangguk singkat, senyumku masih melekat, enggan lenyap.

“Tapi—.” Sulit sekali rasanya mengucapkan hal itu. Entah… biarlah… biar langit gelap yang menjawab…

“Cepat mandi… sebentar lagi kita akan melakukan promosi.” Aku kembali mengangguk kecil, menyambar handuk yang dia ulurkan. Aku melihatnya, bekas itu masih ada, belum hilang. Tidak, justru semakin merah.

“Um…” Beribu pertanyaan menghujam kepalaku. Apakah ia keluar semalam ?? Setelah kembali ?? Mengapa bekas itu masih ada ?? Malah kian memerah ??

“Mwo ??” Wajah polosnya mendongak kearahku. Begitu murni layaknya air di telaga kaum bangsawan, sungguh.. menyejukkan jiwa.

Aku melangkah gontai memasuki kamar mandi dengan handuk yang tersampir dipundakku. Beribu pertanyaan yang bahkan tak mampu kujawab kian menghantuiku. Terkadang, ia bersikap sungguh baik padaku… setiap pagi, dia akan menyambutku dengan senyum khasnya, sedetik kemudian ia bisa bersikap sangat dingin mengalahkan ice princess Jessica Jung. Apa yang salah dengannya ?? Sesuatu merasukinya ??

Segera aku disambut oleh butiran air hangat yang meluncur mulus membasahi seluruh tubuhku. Pikiranku kembali tenang, setidaknya hari ini aku tak perlu sepenuhnya berpura-pura memberikan fans service kepada para SONE.

Aku bergegas membasuh tubuhku dengan gelembung-gelembung sabun yang melayang di udara. Aku sangat menyukainya, ini adalah bagian dimana aku bisa kembali menjadi diriku sendiri, tanpa perlu menjaga image dengan topeng yang selalu kukenakan setiap kakiku melangkah. Menjadi seorang public figure yang sudah dikenal dimuka dunia bukanlah hal yang dapat kau remehkan. Terkadang, aku merasa heran pada gadis-gadis remaja jaman sekarang, pikirannya sungguh sempit. Menjadi artis bukanlah hal gampang, butuh tekad kuat dan nyali gigihlah yang nantinya akan dapat bersanding dengan jejeran bintang top sekelas Paris Hilton, Avril Lavigne, Sarah Mclachn atau bahkan Celine Dion.

Lagipula, gemerlap kancah keartisan tidaklah seindah bintang yang berkilau di angkasa jagad raya. Semua sunguh dibalut dengan dusta. Senyum palsu yang dibuat-buat dibalik layar kaca, tetes air mata buaya yang dibayar dengan kepuasan dan ketenaran demi rasa simpatik yang dapat kau beli dengan mudah dari produser-produser ternama tanpa harus mengeluarkan banyak keringat. Menurutku, itu hanya perbuatan sampah yang kian marak dilakukan oleh bintang-bintang muda. Melakukan semua dengan instan tanpa perlu usaha. Tak semua usaha yang dilakukan saat pertama dapat membeledak di masyarakat. Berjalan dari nol, merangkak naik, berusaha, berjuang, bertekad kuat, dicaci, dihina, dipuji, diagungkan. Semua itu hal yang seharusnya ada dalam perjuangan.

Hidup kami dulu dan sekarang sangatlah berbeda, sebelum dunia mengenal kita, kami hanyalah sekumpulan gadis polos yang berjuang keras demi meraih mimpi dan cita. Awalnya, banyak yang membenci kami, mencemooh, menghina, bahkan mencaci maki, namun perjuangan yang kami lakukan sampai sekarang tak berujung sia-sia. Wujud dari benih yang sudah kami tuai selama bertahun-tahun kini berbuah manis dan indah. Aku tak pernah sekalipun mengijinkan para anggotaku menggunakan cara kotor untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Semua butuh perjuangan… benar… semua butuh usaha…

Itulah, kami So Nyeo Shi Dae, sebuah girlband yang dibentuk oleh SMENT perusahaan besar yang mengorbitkan boyband terkenal Super Junior yang kini leader nya merupakan namjachinguku… well, kau dapat menyebutnya sedemikian rupa. Aku tak pernah mencintainya dengan tulus, pada awalnya.. aku hanya sekedar, kagum pada sosok kepemimpinannya yang hebat. Banyak yang dapat aku pelajari dari sosoknya, namun kini.. perasaanku padanya sudah berubah, entah kapan… Semenjak——….

Tok…Tok…Tok…

Suara pintu diketuk telah berhasil memecahkan pikiranku, membawanya kembali yang sedari tadi entah tersesat sampai mana. “TaeTae… cepatlah.. Maknae sudah menunggu dibawah…” Suara feminism merasuki gendang telingaku, lembut, menenangkan…

“Ne….” Jawabku singkat. Segera kusambar handuk yang tadi kuletakkan di ujung wastafel kemudian membalutnya pada tubuh mungilku.

“Uh.. Tae.. Kau sudah… Aaah…” Dia sontak membalikkan tubuhnya, wajahnya be semu merah.

“Wae ??” Tanyaku polos tanpa ekspresi. Tak berbeda dengan raut wajahnya tadi malam.

“Ani… kau pakai dulu… ah.. maksudku… kau ganti dulu… aish… bersiaplah, ku tunggu dibawah.” Ia bergegas melangkahkan kakinya keluar kamar. Hahaha.. aku sangat menyukainya, menggodanya seperti tadi sangatlah mengasyikkan. Aku memang dengan sengaja hanya mengenakan bikini saja. Lihatlah ekspresi nya tadi.. sungguh lucu.

***

Aku tak kuasa menahan tawa sampai sekarang. Kulangkahkan kakiku menuruni anak tangga. Dengan senyum merekah, aku menyapa sekelompok gadis yang sedang sibuk mempersiapkan jadwal pribadi mereka.

“Waw… Ada yang mengalahkan sinarku pagi ini.” Sunny berkata seraya memainkan kotak kecil canggih menggunakan kedua ibu jarinya dengan cekatan.

“Tumben Taeng… senyummu bahkan lebih menawan ketimbang si permata ‘eye smile’ itu..” Cetus Yuri sambil menirukan mimik wajah Tiffany.

“Yaahh !!” Sebuah benda empuk meluncur mulus kearah Yuri, dengan piawai ia berkelok menghindari serangan tersebut sehingga benda itu sekarang mendarat tepat mengenai kepalaku yang sedang berdiri tak jauh dibelakang Yuri.

Aku sontak mendongak, tersentak. “Uhn…. Mianhae….” Dengan panik, Tiffany beringsut berlari menghampiriku, kemudian melayangkan jari-jarinya diatas kepalaku, tak ketinggalan meniupkan udara hangat sambil mengusap lembut rambut blonde ku bak bocah kecil yang kepalanya terantuk pintu. Aku tersenyum menahan malu, kurasakan dadaku berdebar, perutku pun berkibar seolah diaduk mesin penghisap debu. Aku dapat mendengar detak jantungnya yang tak beraturan dalam jarak sedekat ini. Kurasakan hembus nafasnya menerpa wajahku, hangatnya merasuk kedalam pori-pori kulitku.

“Ehm… Is something happened last night ??” Sebuah suara dingin memecahkan pertempuran hebat yang sedang berlangsung.

“Same as usual.” Sunny menyahuti pernyataan yang dilontarkan Ice Princess tanpa mengalihkan pandangannya dari benda kecil yang sedang asik ia mainkan.

“Aaahhh………” Sorak 5 gadis tanpa raut terkejut di wajah mereka. Layaknya sesuatu hal yang sudah menjadi santapan hangat sehari-harinya sampai kau merasa jengah.

“Unnie… Manager sudah menunggu di van. Apa kalian sudah siap ??” Maknae bertanya sambil menggendong sebuah map besar di lengannya.

“Ne…” Tiffany sontak melepaskan tangannya dari rambutku, kemudian kembali merapikan pakaiannya dan berjalan menghampiri Seohyun.

“Ehm… Maknae… Apa itu ??” Kataku sambil melayangkan jari telunjukku tepat pada setumpuk kertas di pangkuannya.

“Ini dokumen yang harus kita tandatangani, Ji Eun Unnie baru saja memberikannya padaku pagi ini, dia berusaha menghubungimu tapi tak tersambung.” Jawabnya ragu.

Aku melandaskan telapak tanganku mulus tepat pada pelipisku kemudian bergegas menaiki anak tangga menuju balkon atas. Semalam, aku lupa meletakkan ponselku disana. Sungguh ceroboh…

Segera kuraih benda berwarna ungu yang tergeletak dipinggir meja, kulihat dilayarnya tertera 59 panggilan tak terjawab, 42 pesan belum dibuka dan 32 pesan suara. Gila !! hampir semuanya berasal dari Teuk Oppa. Apa sih sebenarnya maunya ni orang ?? Sialan !!

Aku bergegas menghampiri kedua partner ku yang sudah menunggu di depan pintu.

“So clumsy as usual.” Gumam gadis berambut merah kecoklatan.

Kami melanjutkan perjalanan setelah berpamitan pada ke enam member lainnya. Mereka memberi kami support positif sambil memeluk kami satu persatu.

Yeah… This is our big family So Nyeo Shi Dae. And I love them so much…

***

“Unnie, malam ini Yoona akan hadir sebagai penari latar pada perform kita bertiga.” Maknae berkata dengan senyum merekah.

“Jinjja ??” Aku sedikit terkejut mendengarnya, karena jujur aku belum mendengarnya dari manager. “Aku merasa sedikit buruk padanya.”

“Anio Unnie…. Yoona Unnie datang untuk mensupport kita, jangan terlalu menghawatirkannya. Lebih baik kita focus pada perform kita malam ini.” Aku mengangguk ragu.

Aku masih memikirkan bekas di lehernya pagi tadi, aku tak dapat mengeluarkan pikiranku darinya. Sungguh membuatku gila. Ini konyol…

Bahkan sampai perform ‘Twinkle’ pun aku melakukan sedikit kesalahan, bekas kemerahan itu benar-benar mengganggu pikiranku. Berkali-kali Tiffany menyuruhku untuk focus, tapi tetap saja, hal itu selalu mengusikku.

Beruntungnya, malam ini kami pulang membawa piala kemenangan untuk TaeTiSeo. Yoona benar-benar datang dan mengucapkan selamat pada kami. Aku sungguh bahagia memiliki mereka. So Nyeo Shi Dae is 9 and forever be 9

Tiffany Pov

Setelah pesta kemenangan kami malam ini, aku duduk termagu dalam sebuah vila yang telah kami sewa. Aku yakin Maknae sudah dibawa lari Yoona entah kemana. Aku senang, mereka berdua melakukan semuanya dengan sangat baik, sepasang malaikat cantik, sungguh serasi. Layaknya sebuah puzzle saling melengkapi satu sama lain. Aku masih teringat perkataan Yoona beberapa waktu lalu.

“Apa yang salah dengan hal  itu ?? Ini hidup kita, hak kita. Meskipun kita terikat dalam suatu kontrak kerja, tidak berarti bahwa hidup kita juga terikat. Kita berhak melakukan apa yang kita inginkan, kita bebas menentukan pilihan kita.”

“Tapi… kau tahu, semua itu… salah…”

Unnie…Tak ada yang salah di dunia ini, kita tak bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai, kita mungkin bisa memilih, tapi takdir yang menentukan segalanya. Hidup adalah sebuah pilihan Un… Kita adalah apa yang kita pilih…. Karena cinta, tak pernah salah…”

Seutas senyum perlahan terukir di wajahku, aku tak menyangka Im Chooding bisa berkata seperti itu. Ia sudah dewasa, seandainya saja—…

Aku menggelengkan kepalaku, mencoba menjauhkan pikiran yang mungkin saja dapat menyakiti perasaanku sendiri. Untuk apa merangkai asa jika kelak yang kau dapat hanya angan belaka. Mengharapkan sesuatu yang tak pasti terjadi. Ibarat mencari setetes air di tengah gurun pasir. Yeah.. Fatamorgana… Kenyataan yang sudah tergambar jelas sebelum kau sempat membayangkannya.

Sayup-sayup kudengar suara berisik dari dalam dapur, kulangkahkan kakiku keluar kamar, perlahan kurekatkan telingaku pada tembok pemisah yang terhubung langsung dengan dapur.

“Mianhae Oppa………” Aku tak dapat mendengarnya dengan jelas, hanya suara… suara lembut yang selalu kunantikan kehadirannya.

Aku tak ingin mendengarnya, setiap kata yang ia ucsapkan.. semakin perih hatiku menahannya. Luka… hanya luka dalam yang ia torehkan, berharap kelak luka itu akan berubah menjadi asa, meskipun hanya dalam buaian dusta. Aku masih berharap… cinta yang semu…

Aku berjalan tertatih dalam gelap, melihat langit penuh dengan kilau bintang. Berkelap-kelip bersahut-sahutan. Tapi semua terasa kurang, tak lengkap tanpa kehadiran bulan. Dimanakah keberadaannya ?? Kemanakah pijarnya menghilang ?? Apakah matahari telah menggerogotinya perlahan ?? Entahlah…. Bulan… Mati….

[Flashback]

Aku duduk termagu dalam kamar ku, berpikir tentang kata-kataku. Mungkin sedikit menyakitinya, tapi hatiku sejujurnya sakit, menahan perih… melihatmu bersamanya malam ini, dalam gelap… dalam kegelapan malam.

Aku mendesah lemah, sayup kudengar tapak kaki mendekat kearah pintu, aku melangkah mendekat, melihat tubuhmu yang berjalan dengan mata terkatup rapat, sungguh lucu. Ini adalah bagian yang aku suka dalam dirimu. Dimana aku dapat sepenuhnya melihat siapa kamu, tanpa topeng yang selalu kau kenakan di wajah cantikmu. Sungguh imut, seperti seorang bayi. Bayi besar, dan aku menyukainya.

Aku mendekap tubuh mungilnya dengan lenganku, lembut… menuntunnya masuk kedalam kamarku, kegiatan yang selalu kulakukan tiap malam hingga pagi menjelang. Menunggu… menunggumu menghampiriku, meskipun kau tak sepenuhnya tersadar. Tapi aku terus menunggu… setiap malam, layaknya anjing bodoh… yang selalu menunggu majikannya datang, seperti tokoh Hachiko dalam filmnya yang bertajuk Chūken Hachikō dengan setia menunggu Hidesaburo Ueno hingga datang menghampirinya di stasiun Shibuya. Tapi aku tak ingin seperti dia… menunggu orang yang sudah mati…

Kurebahkan tubuh mungilnya diatas kasurku yang empuk. Ia masih menutup matanya, kudekap erat tubunya. Kudengar detak jantungnya yang tak beraturan. Kurasakan hembus nafasnya yang megelitik di leherku. “Fanny-ah…. Saranghae…” Kudengar desahnya lembut. Selalu… itu yang kudengar setiap malam. Tapi selalu saja terucap dengan mata terkatup rapat. Dekapannya semakin erat. Bibir hangatnya mengecup erat leherku, menghisapnya keras hingga meninggalkan bekas kemerahan disana, bekas yang selalu kau pertanyakan. Bekas yang selalu mengganggu pikiranmu… bekas yang sebenarnya kau torehkan dengan bibir lembutmu. [LO PERCAYA ?!?! Well, neva mind]

“Na do Saranghae TaeTae…” Bisikku lembut ditelingamu. Entah kau menggubrisnya atau tidak. Seandainya saja.. kau tak mendengarkan kata mereka, seandainya saja kau menyumpal kedua telingamu dengan kapas. Aku pasti sudah memilikimu sekarang… My beloved … Kim Taeyeon…

[Flashback End]

PRANKK… PYAARRR….

Gemerincing suara beling menghantam lantai menggema di seluruh vila, memantul-mantul didinding. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju asal suara. Kulihat sesosok gadis mungil berdiri ling-lung dengan tangan kanannya mengantung di pintu kulkas. Sebelahnya lagi memegangi kepalanya yang tampak berat. Aku menghampirinya, kulihat wajahnya merah, seperti kepiting yang baru direbus.

Kuraup wajahnya, bau alcohol merebak menyengat menusuk rongga hidung. Aku menatapnya nanar, sorot matanya tampak sendu. Kulihat pecahan beling berserakan dilantai, cairan merah menetes di sisi kakiku, kutamati lekat, setetes darah… kulihat tangannya mengeluarkan cairan berwarna sama. Sontak kudekap erat tubuhnya, kuraih pergelangan tangannya lalu kuhisap ujung jarinya yang bercat merah. Sebuah benda berwarna ungu tergeletak di sampingnya, kulihat layarnya bertuliskan nama yang tak ingin kudengar, tak ingin kulihat, tak ingin kutahu. Kurasakan air merembes melalui kemejaku, kudongakkan sedikit wajahnya, ia menangis pilu. Kudekap semakin erat, kutuntun ia masuk kedalam kamarku. Aku tak sanggup membiarkannya seperti ini, dia hidupku dan aku berhak memperjuangkan hidupku.

Kududukkan ia di pinggiran tempat tidur, kuraih sekotak First Aid Kit di samping pintu lalu berlutut dihadapannya. Kuletakkan tangan mungilnya di atas telapak tanganku lalu mengusapnya perlahan dengan kapas yang sudah kuberi cairan penahan rasa perih. Aku membelai lukanya lembut, memperlakukannya seperti seekor ikan koi kecil. Aku tersenyum, tapi kau tidak. Pancaran matamu menunjukkan sesuatu, sesuatu yang tak bisa kutebak. Sesuatu yang terkadang membuatku takut dan gugup.

Mata kita saling bertatap, bertaut, bak kutub magnet yang berdaya positif dan negatif. Diriku tenggelam, kedalam labirin yang terbentang dibalik sirat matamu. Ingin kualihkan, namun tak aku tak kuasa. Semua pintu tertutup rapat, tak satupun dapat kubuka dengan tangan kecilku.

Dia meraup wajahku, semakin menyesatkan pikiranku yang enggan sirna dari pancaran sinar dibalik matanya. Ia masih terisak, perlahan. Ia mendekapku erat. Semua tampak sempurna. Awalnya hanya lewat tatapan mata, lalu semua kata seolah kehilangan makna, tergantikan oleh sentuhan, pancaran cinta, dengus nafas, dan tetes keringat dari dua tubuh yang telanjang. Kami berdekap lebih erat. Kujilati air matanya agar lenyap. Kuciumi hamparan kulitnya lekat-lekat. Kubiarkan guncangan tangisnya melambat sampai sengguk isak nya berubah lenguhan nikmat. Bibir kami saling melumat bertukar saliva yang dibumbui dengan campuran vodka.

Aku tertidur dalam rengkuh tangannya, dengan kepala bergerak seirama desah nafasnya. Saat terpejam, matanya seolah tetap bersinar, berkanopi sepasang alis hitam. Wajahnya keindahan terakhir yang kulihat sebelum mimpi menjemput dan harapan pertama yang kucerna saat pertaa kali membuka mata. Rikuh yang biasa muncul saat terbangun didada gadis yang selalu kunantikan. Diiringi sepoi angin yang belum juga berhenti, naluri kami terpuaskan sampai pagi. [NC GAGAL TOTAL]

***

Taeyeon Pov

Kurasakan kepalaku berat, perlahan cahaya keemasan menerobos masuk melalui kedua kelopak mataku. rasanya dingin dan hangat. Sebuah sentuhan bergesekan dengan kulitku. Aku tak ingin terbangun, dari mimpi indah yang mengugah hasrat beberapa waktu lalu.

Perlahan, kuregangkan kedua tanganku. Ouch… kurasakan perih menjalar di perutku. Apa aku salah makan tadi malam ?? Aku berhenti sejenak. Kembali memikirkan kejadian semalam.

Baik… setelah perayaan, aku pergi kedapur untuk mengagkat telpon dari Oppa, lalu aku meminta kita mengakhiri semua kemudian aku mengambil beberapa botol vodka dalam kulkas dan suara pecahan beling itu… lalu di kamar—………

Aku sontak membuka kedua mataku lebar-lebar. Aku berada dalam sebuah kamar, seranjang dengan seorang gadis cantik yang hanya berbalut selimut putih, sama dengan yang sedang ku pegang. Kurasakan tanganku gemetaran, perlahan ku buka kain tipis yang menutupi sebagian tubuhku, kuberanikan diri untuk mengintip melalui celah kelopak mataku.

Tuhan… Aku telanjang bulat. Apa yang telah aku perbuat ??

Dengan tubuh gemetaran aku merapatkan diri di sudut tembok, membekap erat kedua lututku sambil membenamkan kepalaku diantaranya. Isak tangis tak luput dari mulutku. Aku takut… sangat takut….

Perlahan, kurasakan kain tipis yang menyelimutiku sedikit bergerak, kasur pun terasa bergeser. Aku tak berani mengintip melalui sela lenganku. Aku takut apa yang akan terjadi setelah ini.

Beberapa detik kemudian, kurasakan hentakan keras menghempas kasur. Tak lama setelahnya, kurasakan hangat merasuk tubuhku. Sebuah lengan mendekapku erat. Meletakkan kepalaku di cengkuk dadanya.

“TaeTae….” Bisiknya lembut ditelinga. “Uljima…” Sebuah tangan membelai rambutku. “Gwaenchana… Sshh…” Dekapannya semakin erat.

Aku menggeleng lemah dalam peluknya. “Anio…” Isakku memekik. “Ini tak boleh terjadi… Ini salah, ini…….”

“TaeTae…” Ia mendorongku sedikit kebelakang. “Lihat aku…” Ia menaikkan jari telunjuknya didaguku membuatku harus menatap lurus kedua retina nya. “Mengapa kau melakukan hal ini pada dirimu sendiri ??” Tersirat perih dalam ucapannya. “Mengapa kau perduli tentang apa yang akan mereka katakan, kau menyakiti dirimu sendiri….” Ia berhanti sejenak, butiran permata mengalir lembut melalui kedua kelopak mata indahnya. “Kau menyakitiku…” Suaranya parau, lirih merintih seperti menahan perih.

“Tiffany…” Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku kehilangan akal, apa yang ia katakan memang benar, aku menyakiti semuanya. Aku meyakiti dia… Bintangku…

“Kau tak bisa menyalahkan cinta, aku juga tak menginginkannya, rasa ini muncul begitu saja.” Ia menundukkan kepala, meletakkan kedua tangannya kedalam pangkuannya. “Aku… tak bisa melupakanmu….” Butiran hangat menetes di permukaan kulitku. “Meskipun sudah kucoba jutaan kali, hatiku tetap meneriakkan namamu…. Terlebih jika kau….” Suaranya semakin berat, seolah dipaksakan. “Bersama dengan pria itu…”

Tanpa banyak kata, aku memeluknya erat. Melingkarkan lenganku sempurna pada pundaknya. Aku tak bisa membiarkan bintangku terluka. “Mianhae…” Isak kami kian memekik, memenuhi isi seluruh ruangan. Perlahan aku melepaskan pelukannya, menatap kedua mata sembabnya lekat. Perlahan, jarak diantara kita semakin menghilang, digantikan seonggak perasaan yang menggebu, cinta yang membara. Tanpa kusadari, wajahnya kiann mendekat, aku dapat merasakan dengus nafasnya menggelitik leher. Tak lama, pertarungan hidungpun tak dapat terelakkan, semakin lama, hidung tersebut digantikan kedudukannya oleh mulut. Lumatan demi lumatan lembut perlahan basah. Rasa asin menggetirkan lidah. Saliva bercampur dengan tetes air mata. Sakit tak lagi kurasakan, malah berganti dengan kebahagiaan. Dunia seakan milik kita berdua saat pertarungan lidah tak lagi terelakkan. Dengan semangat yang kian membara, kami melanjutkan apa yang tak dapat sepenuhnya kami nikmati saat sebelumnya. [Lo tau maksud gua kan ?? kekeke]

***

Kami kutub magnet serupa yang mencoba melawan hukum dunia. Berusaha mendekat dengan segala daya yang ada. Bumi milik kami tercipta sendiri. Seperti mataku dan telinganya. Seperti otakku dan isi hatinya.
Rasa ini bukan kami yang minta. Karena urusan hati tidak sama dengan lampu, tidak bisa dipadamkan sewaktu-waktu.
Kalau harus masuk neraka, aku tahu dosa apa yang membuka pintu beratnya. Cinta. Aku cinta keindahan di permukaan basah matanya. Lekuk dan sudut, bentuk dan gegaris, semua yang ada padanya. Akan segera kuakui semua dosa, tapi biarkan dulu kedua retina ini mencecap nikmat yang ada dihadapannya. Setiap detil adalah nyaman didinding sisi kepala, setiap ketidak sempurnaan adalah badai nikmat dalam lembab sudut hati. Tuhan mencipta dengan cinta. Cinta yang membuatku dosa. Biar habis seluruh raga dikerikiti panas api, biar redam semua jiwa dirajam bebatuan tajamnya, biar surgaku menyiapkan isi neraka, aku akan tetap bercinta dengannya…

Epilog

Author Pov

Aku lebih memilih punya satu nafas untuk rambutnya, satu ciuman dari mulutnya, satu sentuhan dari tangannya, daripada keabadian tanpa itu semua

Malam itu bulan purnama bersinar terang, ditemani bintang-bintang yang berkilauan, saling bersahut-sahutan.

Sekelompok gadis berkumpul di halaman belakang rumah. Mendirikan tenda yang cukup besar untuk menampung semuanya. Mereka berpasang-pasangan. Yuri yang duduk dimuka tenda, sedang menggoncang-goncang seonggok makhluk besar didalamnya berusaha untuk membuatnya membuka kedua matanya. Sunny di sisi lain, sedang mengipas asap yang mengepul di balik pemanggang, membolak-balik sisinya kemudian menyuapi monster besar yang sedari tadi tak bosan mengganggunya memanggang. Yoona duduk diatas batu besar, sedang membantu maknae menempelkan stiker kodok berwarna hijau dalam buku koleksinya, sungguh lucu. Sedangkan Hyoyeon sedang sibuk mengotak atik ponselnya, selang beberapa saat kemudian sebuah wajah cantik muncul dibalik layarnya. Dengan senyum merekah bak mawar merah yang baru mekar, ia meletakkan ponselnya tepat dihadapannya.

Lalu, dimanakah dua sejoli yang sedang kasmaran ??

Itu mereka… sedang duduk tenang dibawah sinar rembulan, diiringi kemerlip bintang yang merefleksikan cinta keduanya. Menatap permukaan air yang tenang, sepasang malaikat kecil duduk di pinggiran kolam renang, menyibak-nyibakkan kaki mereka hingga menyebabkan cipratan air tak luput membasahi baju mereka.

Gadis berambut merah kecoklatan menyandarkan dagunya pada bahu gadis berambut blonde. Dengan lembut si blonde membelai wajahnya. “Saranghae…” Bisiknya lirih.

Seungging senyum tak luput dari wajah Tiffany, dengan nada menggoda ia berkata. “If I tell you I love you, can I keep you forever?”

Senyum Taeyeon merekah, “I come here not to say I can’t live without you. I can live without you, I just don`t want to.”

Perlahan, diatas permukaan air tenang yang merefleksikan kemerlip bintang dan cahaya rembulan yang berisinar sempurna, dua hati saling bertabrakan. Perasaan yang telah lama terpendam, kini membeludak menggebu-nggebu. Gairah cinta yang tersirat dari pancaran mata keduanya, melambangkan kesetiaan dan kegigihan para pejuang cinta.. yang telah berani mempertahankan apa yang mereka percaya. Cinta tak pernah salah, sekuat apapun kau coba menjatuhkannya, ia akan tetap tumbuh… jauh dilubuk hatimu yang terdalam.

“I wanna hold you close, under the rain. I wanna kiss your smile, and feel the pain. I know what`s beautiful, looking at you. In a world of lies, you are the truth.”

Dua pasang bibir saling melumat, berselimut hamparan pemata dua hati melebur menjadi satu kesatuan. Cinta yang membara, berujung rasa yang tak sanggup kau jabarkan dengan kata-kata. Dimana dua sejoli yang sudah ditakdirkan alam untuk bersama. Meregangkan—….

Sebuah benda meluncur mulus diatas jidat Taeyeon. “Yaa !!!” Teriaknya penuh amarah.

“Yah !! You two lovebirds… GET A ROOM NOW !!!!” Sooyoung berteriak di ujung paru-parunya pada pasangan yang tak tahu malu. Sambil tersenyum menahan malu, keduanya bergandengan tangan memasuki dorm.

Lalu… kau pasti tak ingin tahu apa yang selanjutnya akan terjadi pada mereka…..

Aku adalah bulan yang mencintai matahari. Bulan mencintai matahari karena ia membutuhkan cahaya terang. Tanpa cahaya bulan takkan pernah bersinar. Matahari hangat dan menggairahkan. Tapi bukankah sewajarnya bulan mencintai matahari ?? Karena dalam putaran satu hari manusia pasti akan bertemu dengan matahari dan bulan (dengan pengecualian pada saat gerhana). Matahari melengkapi bulan dan bulan melengkapi matahari. Sama seperti siang melengkapi malam dan malam melengkapi siang. Yin Yang. Lingkaran maskulin dan feminism. Sempurna….

Tapi percayakah kau jika aku mengatakan bahwa aku juga mencintai bintang ?? Aku mencintai bintang karena malam terasa sangat hambar dan sepi tanpa kehadiran kerlap-kerlip cahayanya. Benar-benar cantik dan menggoda. Apakah wajar jika bulan mencintai bintang ?? Bersama bintang, bulan tidak dapat menggenapi putaran 24 jam. Kegelapan akan selalu menyertai langit dan bumi. Bintang dan bulan hanyalah pasangan serasi pada malam hari. Yin Yin, lingkaran feminism. Setengah sempurna.

Tapi, dengarkanlah, malam selalu sempurna dengan bulan yang mengawini bintang ……

-Rahasia Bulan-

-END-

 

Iklan

62 thoughts on “TWINKLE-TWINKLE LITTLE STAR [ONE SHOOT]”

  1. Nggak sengaja nemu ini… Sumpah bahasa lo keren banget 🙂
    Gue sampe kyk kesihir gitu bacanya, Belajar dimana? hahahaa…

  2. annyeong.. hanya mw mninggalkan jejak..
    aku suka ceritanya.. romantis.. puitis.. daebak lahh pkoknyaa..^^
    aku tggu ff slnjutnya.. ‘n jg bkl setia membaca dan memberi komentar atau sekedar meninggalkan jejak.. hwaitingg~~

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s