SNSD, SOSHI FF

A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 3]

A LOVE UNDER AN OAK TREE

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  A Love Under An Oak Tree

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship, Comedy.

 Cast                : Yulsic (Mainly) Taeny, YoonHyun.

Chapter           : Still Unknown/ Undecided.

Warning          : The genre in Yuri (Girl X Girl) 

Blue || Kim Taeyeon || Come to me.. girl

Fajar kian menyongsong, matahari merangkak naik dari sangkarnya. Melunturi langit gelap pada sebagian lengkungnya di ufuk timur. Angin gugur menari perlahan-lahan dari ujung dahan ke ujung dahan yang lain, begitu mempesona hingga daun-daun terbawa lenggoknya. Lampu-lampu parkir di sekitar café masih menyala terang. Menyublim embun yang menempel di besi kokohnya.

Seorang gadis mungil duduk disitu, termagu. Ia menatap seekor kupu-kupu yang hinggap di kuncup bunga….. Menghisap madu lalu merontokkan bulir-bulir benang sari tepat pada putiknya. Simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak saling membutuhkan keberadaan satu-sama lain. Saling menguntungkan.

Ia disini, membutuhkan kehadiran seseorang…

Seseorang yang akan menggandeng tangannya kemudian membawanya pergi dari keterpurukan. Ia sudah bosan menunggu. Ia harus melakukan sesuatu. Namun apa daya, seucil nyali pun ia tak punya.

Secarik kertas digenggamnya, tertera sebaris tulisan yang membuat dadanya berdebar.  Dengan cemas, ia memutar-mutar ponsel digenggamannya. Menyentuh layar touchscreen dengan gemetar. Pikirannya bimbang, haruskah ia melakukan apa yang gadis jakung sarankan padanya.

Cepat atau terlambat… Angin sekelebatan membawa pikirannya kembali pada asalnya. Ia tersadar…

Dengan penuh keyakinan ia melayangkan ibu jarinya pada layar bergambar amplop disudut kanan bawah ponselnya. Bergegas menyentuh tab new message di ujung atas layarnya.

Dengan cepat ia mengetik ‘Hay Tiffany…’ ia berhenti sejenak, kemudian menghapusnya secara tergesa.

‘Tiffany, ini aku… Kim Taeyeon, kau ingat ??’ Ia kembali terhenti, jarinya seolah mempunyai pikiran tersendiri. Dengan cekatan ia menyentuh tombol eraser selama berulang-ulang hingga hanya layar putih yang tersisa.

‘Hallo Tiffany, maaf sebelumnya jika aku mengaggu waktumu. Aku—.’

Aish… Dia pasti menganggapku sok kenal padanya. Siapa aku tiba-tiba mengiriminya pesan seperti itu ? Teman ?? Apakah berbincang dengan seseorang selama beberapa menit saja sudah dapat dikategorikan sebagai seorang teman ??

Sebuah asumsi mengganggu pikirannya, meluluh lantarkan dinding-dinding benteng pertahanan yang telah ia bangun dengan susah payah. Semua benar, daun berbisik, angin berhembus, burung berkicau, kupu bersiul, lebah berdengung… mereka semua benar….

Air mengalir, bunga merebak, isak merintih, tangis memekik… Semua benar… Gadis pengecut takkan bahagia. Ia hanyalah seorang gadis pengecut, terlalu takut pada perasaannya sendiri, takut perasaannya akan terlukai.

Ia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mondar-mandir layaknya mesin strika. Berputar-putar mengelilingi kursi taman. Apa sebaiknya aku menelponnya saja ?? Tapi mau ngomong apa ?? Aishh…

Dengan pasrah ia mengacak-acak rambut elaboratenya, kemudian menghempaskan pantatnya kembali ke kursi taman. Menyebabkan besi itu berdecit mulus akibat gesekan dengan aspal.

“Unnie….” Sebuah suara mengagetkannya. Ia menolehkan kepala, terlihat sesosok gadis kecil dengan rambut hitam legam yang dikepang menjadi dua bagian. Tangan kanannya membawa sebuah kanvas sedangkan tangan kirinya menggenggam sebuah pena yang dirangkai dari dedaunan yang sudah mengering.

Taeyeon mendongak, senyumnya menungging begitu ia melihat sosok yang sudah tak asing lagi. Gadis itu tersenyum lalu berdiri dihadapan Taeyon.

“Apa ini Min Rin-ah ??” Taeyeon menunjuk sebuah kanvas di tangan gadis tersebut.

“Ini lukisanku, Unnie mau lihat ??” Gadis kecil itu membekap lukisan tersebut dengan kedua lengannya, menghalangi pandangan Taeyeon yang semakin penasaran.

Taeyeon hanya mengangguk singkat sambil berusaha mengintip sedikit lukisan tersebut, selama ini ia belum pernah melihat gadis kecil itu se ambisius ini.

“Lukisan ini aku buat untuk Taengoo Unnie dan Seohyun Unnie….” Gadis itu menyodorkan kanvas tersebut di muka Taeyeon, menggugah semangatnya yang sempat mengikis.

“Jinjja ?? Untuk Unnie ?? Kapan kau membuatnya ??” Taeyeon menimang-nimang kanvas tersebut, terpukau atas jerih payah gadis kecil itu.

“Minggu lalu Min Rin bertemu dengan seorang Unnie yang sangat cantik, Ia berkata bahwa lukisan Min Rin sangat buruk. Lalu aku berjanji akan membuat lukisan yang lebih bagus lagi.”

“Benarkah ??” Taeyeon menatapnya bangga. “Siapa namanya ??”

“Mollayo Unnie…” Wajahnya nampak sedih.

“Ah… gwaenchana… jika suatu saat kau bertemu kembali dengannya, kau harus berterimakasih atas perkataannya.” Rehat Taeyeon. Ia membelai lembut rambut hitam gadis kecil itu.

“Haruskah ?? Dia membuatku sedih…”

“Tak selamanya apa yang kau dengar memiliki arti yang sama dengan apa yang kau pikirkan..” Pandangannya tak lepas dari gadis tersebut. Ia tak ingin melihat gadis itu bersedih.

“Maksud Unnie ??” Gadis kecil itu menatapnya kebingungan, otaknya masih terlalu simple untuk memahami ucapan bijak Taeyeon.

“Suatu saat kau akan mengetahuinya…” Taeyeon tersenyum hangat, sehangat mentari pagi yang merasuk di pori-pori kulitnya. “Janji satu hal pada Unnie..”

“Hmm ??” Dua garis vertikal tergurat di bilik alisnya.

“Jangan menyerah….”

“Mwo ??”

Taeyeon tak menjawab, ia hanya mengulurkan jari kelingkingnya pada gadis kecil itu. Gadis itu akhirnya mengangguk dan membalas pinky promise Taeyeon. Kikikan kecil tak luput dari mulut mereka berdua. Udara pagi ini membawa kehangatan di hati mereka, terlebih Taeyeon. Ia sudah tak lagi merasa cemas akan Tiffany. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya memiliki arti tersendiri baginya.

“Unnie.. maukah kau membuatkanku satu lagi…” Gadis itu mengangkat penanya tinggi-tinggi membuatnya tampak berkilauan. “Aku ingin memberikannya pada temanku…” Tatapannya mengiba. “Ia sudah membantuku melukis itu.” Ia mengarahkan jari telunjuknya pada lukisan disamping Taeyeon.

“Tentusaja…” Taeyeon beranjak dari tempatnya. “Unnie akan mencari bahan-bahannya. Kau tunggu disini dulu ya…” Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju pohon besar di dalam taman, berjongkok untuk mengambil beberapa dedaunan kering yang berserakan di atas rumput. Meninggalkan gadis kecil itu bercengkrama dengan seorang gadis asing.

Red || Jessica Jung || It’s Impossible

Dering ponsel menggema di seluruh ruangan. Lengkingan suaranya telah berhasil membangunkan seonggok monster besar dari tidur lelapnya. Pada awalnya, ia berniat untuk membiarkan benda kecil itu berdering sepanjang waktu, matanya terlalu berat utuk terbuka. Mimpinya masih terlalu indah untuk di sudahi. Namun, pada deringan ke empat kalinya, gadis itu berubah pikiran. Telinganya berdengung akibat getaran yang ditimbulkan mesin canggih tersebut. Dengan malas, ia melayangkan tangannya, meraba-raba dengan mata terkatup rapat. Hampir saja ia menjatuhkan benda itu dari meja. Untungnya, tangannya masih memiliki gerak refleks yang sempurna untuk kembali menangkap benda kecil itu.

Dengan geram ia menekan tombol hijau disudut kiri ponselnya, lalu mendekatkan benda itu di telinga kanannya. “Yeoboseyo…” Suaranya serak. Tenggorokannya masih belum hangat untuk memulai percakapan. “Hmm ??”  Ia masih terlalu malas untuk berbicara banyak.

“MWO ??!!” Ia sontak bangkit dari posisi nyamannya. Kedua matanya mendelik, layaknya seseorang yang terkena serangan jantung mendadak. “JINJJA ??” Matanya berkedip-kedip, berusaha menghilangkan kabut yang enggan lenyap dari sudut matanya membuat pandangannya terhalau. “Kau tidak sedang mempermainkanku kan ??” Ia mulai gusar, tak percaya entah apa yang baru saja ia dengar. “Baik-baik.. aku akan segera kesana untuk membuktikan ucapanmu itu…” Ia melirik jam yang bertengger dengan anggunnya di sudut dinding kamar mewahnya. “Ok.. beri aku 60 menit.. aku segera datang…” Ia membuka selimutnya dan melemparkannya kesembarang tempat. “Baik…” Ia mengangguk kecil lalu meletakkan kembali benda itu di atas meja.

Ia beranjak dari kasur lalu bergegas memasuki kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar tidurnya. Pikirannya dipenuhi beribu pertanyaan yang masih ia ragukan. Begitu cairan hangat membasahi tubuhnya, perlahan ia mulai merasa sedikit tenang. Menyandarkan kepalanya pada sisi shower. Membiarkan wajahnya dibasuh dengan air yang mengalir deras menerpa kulit mulusnya.

Setelah semuanya selesai, ia bergegas menyambar handuk di samping wastafel. Mengeringkan rambutnya yang berwarna keemasan, lalu segera memakai pakaiannya. Dengan tergesa, Ia melangkahkan kakinya mendekati kamar diujung ruangan.

Begitu ia sampai didepan sebuah pintu besar berwarna pink menyala, Ia mengetuk pintu tersebut dengan frontal. Mengganggu gadis yang sedang beristirahat didalamnya.

“Mwo ??” Perlahan, pintu kamar itu mulai terbuka. Munculah seorang gadis cantik dengan rambut yang sedikit acak-acakan dari dalamnya. Dengan nada kesal, ia bertanya sambil menghentakkan kaki kanannya di lantai. “Ada apa ?? Ini masih pagi…” Gadis itu mengucek kedua matanya untuk mendapatkan kembali penglihatannya yang sempurna. “Tumben sekali kau bangun jam segini ??”

Dua gadis itu masih berdiri didepan pintu, “Yah… !! Cepat mandi dan ikut aku sekarang..”

Tiffany hanya bisa mengerlipkan matanya, ia merasa terkena serangan jantung mendadak. “M—Mwo ??” Sangat jarang Jessica berbicara dengan nada tinggi padanya. Terbesit rasa takut dalam benaknya, tapi apa daya. Ia hanya bisa memandang gadis blonde itu dengan tatapan kebingungan lalu mengangguk lemah sebagai jawabannya.

Green || Kwon Yuri || Princess Seobang

Yuri duduk termenung, matanya menatap lurus keluar jendela, seutas senyum mengembang di pipinya, pikirannya masih melayang jauh. Setelah menghubungi gadis itu kembali beberapa waktu yang lalu, entah mengapa ia merasa sedikit bahagia. Wajahnya benar-benar mengingatkan Yuri dengan seseorang yang telah lama ia nantikan.

Menyedihkan ??

Entah.. Ataukah ia hanya menggunakan gadis blonde itu untuk mengenang masa lalunya ??

Bodoh !!

Ia tak tahu, benar-benar bingung. Haruskah ia melupakan gadis kecil dalam angannya pergi begitu saja ??

Pada siapa lagi ia harus menceritakan semua rahasianya ?? Pada bulan yang tak mendengar ?? Pada bintang yang tak berucap ?? Pada meja kursi yang tak menghiraukan ?? Pada malam yang penuh harap ?? Pada pagi yang mengikis asa ??

[Flashback]

“Sudah sampai belum ??” Sambil merengkuh kakinya yang sudah kebiruan, gadis bergaun putih itu bertanya.

“Sebentar lagi…” Gadis bijak berjongkok mensejajarkan tingginya. “Mau kugendong ??” Tawarnya. Sedikit rasa bersalah terbesit dibenaknya.

Gadis bergaun putih menggeleng lemah, “Aku tak ingin merepotkanmu lagi.”

“Aku tak merasa direpotkan olehmu…” Kukuhnya.

“Aku tahu kau merasa seperti itu.” Ia berusaha bagkit berdiri, bertumpu pada sebatang ranting kering yang ia temukan dibalik semak belukar. “Tunjukkan saja padaku tempat itu.” Runtutunya. Membuat gadis bijak itu terdiam sejenak.

“Tadinya kupikir, ini ide yang bagus…” Gadis bijak tersenyum, getir. “Tapi, sekarang kurasa tidak…”

“Mengapa tidak ??” Alisnya bertaut. “Aku ingin melihatnya !!!” Ia mulai merengek. “Cepat tunjukkan !!”

Gadis bijak meringis, belum pernah ia menemui gadis seunik ini. Cengeng, manja, penakut tapi sok berani. “Baiklah kalau itu maumu…” Ia membantunya berjalan, mengulurkan tangan kanannya sebagai tumpuan kakinya yang pincang.

Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti dua gadis kecil yang berjalan dengan tertatih-tatih. Malam yang semakin gelap tak dihiraukannya, lolongan serigala menjadi kawan mainnya.

“Bagaimana aku harus memanggilmu ??” Gadis bergaun putih bertanya dengan tenang dalam dekapan hangat gadis bijak.

“Hmmh ?? Terserah kau saja mau memanggilku seperti apa…”

“Bagaimana kalau Seobang ??” Celetuknya.

“Hng ??” Ia sedikit terkejut dengan kata ‘Seobang’ tapi apapun demi membuatya tersenyum, akan dengan senang hati ia lakukan. Ia merasa, gadis ini adalah sebagian dari hidupnya yang terpisah. Entah mengapa, ia harus melindunginya. “Bagus…”

“Lalu, untukku ??” Ia kembali merajuk, memasang muka iba.

Gadis bijak terkikik, “Baiklah… My Princess…” Nada suaranya terdengar lembut dibuat-buat.

“Princess ??”

“Hmm… Princess…” Ia tersenyum, matanya menerawang ratusan bintang yang berkilauan. “Kaulah my Princess…”

[Flashback End]

 

Tokk… Tokk… Tokk…

Suara ketukan pintu membawa kembali pikirannya. Saatnya ia menyambut tamu yang sudah ia tunggu kehadirannya…

Pink || Tiffany Hwang || My Destiny

Tiffany melangkahkan kakinya menapaki ubin yang berbaris rapi dan selaras di ujung taman. Ia tak tau lagi harus mencari kemana, sepertinya semangatnya sudah mulai mengikis. Bukankah adiknya mengatakan ia selalu datang kemari ?? Entahlah…

Dari balik pepohonan besar, ia melihat seorang gadis kecil yang pernah ia temui beberapa saat yang lalu.  Dengan senyum rekah, Tiffany melambaikan tangan, mencoba menarik perhatiannya.

“Unniee…” Gadis kecil itu berlari menghampirinya.

Tiffany membungkuk untuk mensejajarkan tingginya. “Hey, kita bertemu kembali.” Matanya membentuk lengkungan bulan sabit.

“Hay Unnie..” Gadis kecil itu celingukan, “Sendirian ??”

Tiffany mengangguk, kemudian menirukan gerakannya. “Kamu juga ??”

Gadis itu menggeleng, “Anio.. Aku bersama seseorang..” Alis Tiffany berkerut, ia tak melihat kehadiran orang lain selain mereka berdua.

“Unnie.. aku pergi dulu, sampai bertemu lagi..” Ia berlari sebelum Tiffany sempat memanggilnya kembali.

Tiffany menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju bangku kayu panjang berlapis besi di bawah pohon rindang. Ia melihat sebuah kanvas putih tergeletak di sandaran ujung bangku tersebut, karena penasaran, ia membukanya perlahan. Tampaklah sebuah lukisan sederhana tiga orang gadis, tertawa sambil bergandengan tangan. Meskipun terlihat sederhana dengan kombinasi warna yang tak terlalu banyak, namun masih terlihat bahwa lukisan tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada itu.

Ia tersenyum, rasanya menyenangkan bilamana ia juga ikut masuk dalam lukisan tersebut, tak perduli bagaimanapun bentuknya nanti, ia ingin… Merasakan kebahagiaan yang tergambar jelas dalam lukisan tersebut. Tersenyum bersama mereka. Bersama ujung daun terakir dari dahan lapuk, bibirnya terpaut. Membentuk suatu lengkungan bulan sabit yang selaras dengan sudut matanya yang berpola sepadan.

“Unnie…” Ia menoleh, senyumnya memudar, matanya terpaku pada sosok mungil dihadapannya. Ia terpana, tak mampu berkata. Mulutnya terkatup rapat. Wajahnya merona…

Mereka hanya berkedip, namun hatinya saling berpaut. Berdebar… Tiffany tak menyangka ia akhirnya menemukan gadis itu, tak sia-sia usahanya mengitari penjuru taman. Ia bersyukur, dapat bertemu kembali dengannya, seperti statementnya beberapa waktu lalu, ‘jika kita kembali bertemu.. aku yakin kita berjodoh dan sudah ditakdirkan oleh tuhan untuk bersama.’ Dan semua itu terbukti, gadis itu… memang yang selama ini ia cari, dan ia tak mau melepasnya begitu saja.

Red || Jessica Jung || What it is??

Tok…Tok…Tok….

Dengan frontal, Jessica mengetuk pintu megah bercat hijau yang beberapa waktu lalu pernah ia datangi.

“Masuk….” Perlahan, ia membuka engsel pintu tersebut, sama seperti seminggu yang lalu, matanya dikejutkan oleh cahaya silau yang menyeruak menghalau pandangannya. Rambutnya yang keemasan pun berkilau bagai permata.

Layaknya tuan putri, ia melenggang masuk dan duduk di hadapan gadis yang sama. “Kau serius ??” Tanpa basa-basi ia bertanya. Tak perlu terkejut, karena memang sifatnya seperti itu dari dulu.

“Tentu.. lalu menurutmu, untuk apa aku memanggilmu kemari kalau aku tak benar-benar serius ?? Mengerjaimu ??” Tatapannya mengejek merendahkan.

Jessica tersenyum kecut, “Kau yakin itu asli ??” Ia masih tak yakin. Bagaimana bisa gadis itu mendapatkannya hanya dalam kurun waktu tak lebih dari satu minggu ?? sementara ia sendiri harus menunggu berbulan-bulan lamanya. Sunguh mustahil…

Dengan angkuhnya, Yuri meletakkan sebuah kotak berwarna merah jambu dihadapan Jessica. Meskipun ia tak mempercayainya, namun tetap saja ia masih merasa penasaran dan ingin membuktikan perkataan gadis itu.

Jessica membuka kotak itu dengan hati-hati, ia tercengang begitu melihat seluruh isi dalam kotak tersebut. Benar-benar mustahil dan sulit dipercaya. Darimana ia mendapatkannya ?? Sepasang gaun yang sama persis dengan miliknya yang terkena tumpahan milkshake beberapa waktu yang lalu. Bayangkan… Sepasang.. Dua buah gaun… Satu saja, ia sudah setengah mati mendapatkannya dan ini dua ?? Dalam waktu tak lebih dari satu minggu ??

Ia merenggangkan kedua gaun tersebut, dua-duanya memiliki model yang sama, hanya saja warnanya sedikit berbeda, yang berada ditangan kanannya berwarna soft pink sama persis dengan miliknya dulu. Dan yang berada di tangan kirinya berwarna deep pink. Benar-benar mustahil. Walau bagaimanapun Jessica tak dapat mengelaknya. Karena tak hanya gaun saja dalam box tersebut, tapi juga tanda tangan asli dari designernya. Ia tahu betul, karena ia juga memilikinya.

“Bagaimana bisa ??” Ia masih terkatup-katup. Pandangannya tak lepas dari gaun tersebut.

“Coba kau lihat labelnya.”

Kwon’s Boutique

Aigo… ia hampir lupa, bahwa sebenarnya designer tersebut berada didalam naungan sebuah perusahaan yang dikelola oleh warga Korea yang sangat terkemuka di Paris. Itu berarti Yuri adalah….

Yuri menyeringai lebar, ia merasa menang kali ini.

“Bagaimana, jadi sekarang kau sudah mempercayaiku kan ??” Jessica tak menjawab, hanya memandangnya takjub. “Jika kau mau, aku bisa memberimu yang lebih dari ini.” Ia tersenyum tulus, sungguh berbeda dengan senyum angkuh yang selalu ia tunggingkan. Hal itu membuat hati Jessica semakin gundah.

“Mengapa ??” Ia menatap nanar kedua bola mata gadis itu.

“Hng ??”

“Mengapa kau melakukan semua ini— ??….. Padaku— ??”

Blue || Kim Taeyeon || We share this with a kiss

Taeyeon berjalan mendekat pada gadis itu. Mereka berbagi senyuman. Bahkan kupu-kupu dan capung yang berterbangan pun tak henti mengedarkan senyumnya.

“Hai…” Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Suasana menjadi semakin canggung. Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya pada tanah sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.

Taeyeon memberanikan diri duduk disampingnya. Gadis itu sedikit bergeser ke kanan.

“Unnie, terimakasih bulpennya.. aku pergi dulu, Hyoyeon Unnie sudah menungguku…” Taeyeon mengangguk lalu melambaikan tangannya pada gadis kecil yang sudah berjalan menjauh.

Hening…

Sekarang, hanya ada mereka berdua yag terjebak dalam situasi canggung. Sebenarnya, mereka sangat mengharapkan perbincangan yang hangat dan mengasyikkan. Namun, tak satupun diantara mereka yang memiliki banyak keberanian untuk memulainya. Selang beberapa menit kemudian, keheningan itu akhirnya lenyap.

“Ung…”

“Ungh…” Ujar mereka bersamaan, kemudian menggeleng.

“Kau duluan saja…” Sanggah Taeyeon. Memeprsilahkan gadis itu menjadi orang pertama untuk menyuarakan pikirannya.

“Anio… aku tak punya sesuatu yang penting untuk dikatakan.”

“Jadi, mengapa tiba-tiba kau berada disini ??” Mereka akhirnya bertukar pandang, sungguh sulit dijabarkan dengan untaian kata, perasaan apa yang kini ada dalam benaknya. Rasanya semua bercampur menjadi satu dan menciptakan suatu perasaan aneh yang sering kau sebut dengan Déjà vu.

“Uh.. aku… sedang… umm…. berjalan-jalan… dan… kebetulan tadi mengantar Jessica bertemu dengan… umm… kwon ??” Ia tampak kebingungan, barangkali sedang berusaha memikirkan dalih yang pas untuk dikatakannya.

“Ahh…” Sejujurnya, ada banyak sekali pertanyaan yang terus berputar di otaknya, hanya saja ia tak tahu harus memulainya dari mana.

“Kau sendiri ??”

“Uhm… hanya sedang… memikirkan sesuatu dan… kebetulan bertemu dengan gadis kecil tadi.”

“Ah… kau mengenalnya ??”

“Tentu… kau sendiri ?? Mengapa bisa mengenalnya.”

“Aku dan Jessica bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu…”

“Oh…”

“Tampakya kalian sangat dekat…” Gadis itu menatap sepatunya, telinganya bersiap mendengarkan jawaban yang keluar dari mulut Taeyeon.

“Tentu… dia.. um…gadis kecil itu… kau boleh menyebutnya adikku..” Tayeon menunggingkan senyum hangat, mengisyaratkan gadis itu untuk menatapnya.

“Jinjja ?? Kau punya berapa saudara ??” Mata mereka akhirnya bertemu, pancaran yang tak mampu di jelaskan. Dua pasang pupil kecoklatan saling berlomba menempati ruang kosong dibalik retina lawannya.

“Sejujurnya aku sendiri tak tau.. siapa aku sebenarnya, semua yang kutahu hanyalah sejak kecil aku sudah berada di panti asuhan dan ketika usiaku beranjak 12 tahun, keluarga Yuri menawarkan padaku dan Seohyun untuk tinggal bersama mereka. Itu sebabnya aku, Yuri, Seohyun dan Yoona sangat dekat.” Ia tak mengerti mengapa ia bisa seterbuka ini pada orang lain, padahal biasanya ia hanya mampu memendam semuanya seorang diri. Menyimpan semua rahasia dibalik kulit arinya.

“Ah… jadi begitu… Maaf…” Terbesit rasa bersalah dalam benak gadis itu, ia tak tahu harus berkata apa, ia tak ingin membuatnya bersedih.

“Huh ??” Taeyeon merasa kebingungan, apa sebab gadis itu meminta maaf padanya, ia bahkan tak menyentuhnya seujung kuku pun.

“Aku jadi membuatmu kembali mengingatnya..”

“Ah.. gwaenchana… sekarang giliranmu, ceritakan tentang dirimu…” Repet Taeyeon. Ia mengangguk-angguk lalu menatapnya penuh pengharapan.

“Ah… aku ??” Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.

“He.em…”

“Apa yang harus kuceritakan ??”

“Semuanya… apapun yang ingin kau katakan… Aku akan memastikan kedua telingaku dalam keadaan siap selalu.” Taeyeon menyelipkan beberapa helai rambutnya dibelakang telinganya layaknya bocah kecil, matanya membulat bak seokor anak anjing yang meminta sepotong tulang. Gadis itu tak dapat menahan tawanya, ia menemukan Taeyeon sangat lucu dan imut di matanya.

“Aku…..” Ia menghela nafas pajang sebelum melanjutkan cerita. “Aku lahir di Biamond Bar kemudian dibesarkan di Los Angles USA, Umma ku keturunan Korea dan Daddy ku murni Amerika. Namun, saat aku berusia 10 tahun, Umma pergi mendahuluiku, meninggalkanku, Daddy dan kedua saudaraku.” Ia tersenyum getir.

“Mianhae..” Taeyeon tampak menyesal, ia tak bermaksud untuk membuatnya mengingat masa lalunya yang pahit.

“Gwaenchana…” Gadis itu kembali menunjukkan senyumnya yang khas.

“Kau seharusnya tak perlu menceritakannya jika kau tak mau..”

“Tapi aku ingin…” Gadis itu tetap kukuh, ia bersikeras menceritakan semuanya, ia gemar bercerita. Sangat berbeda dengan Taeyeon yang lebih memilih memendam semua isi hatinya.

Mereka bertukar senyuman.

“Aku mengenal Jessica saat kami masih sama-sama kecil, ia pindah dari Korea ke US, saat itu lucu sekali, ia bahkan tak dapat mengucapkan namanya sendiri.” Matanya terpaku pada hamparan awan putih yang menggantung di bawah langit biru yang luas. Memanggil memori yang telah sekian lama terlupakan, dibawah lengkung horizon tempat dimana ia dibesarkan, dengan cinta dan kasih sayang yang tiada tara.

“Kita tumbuh bersama, seperti saudara. Bahkan lebih dekat dari saudara kandungku disana. Seiring berjalannya waktu, kami mulai tumbuh dewasa.. Ia memutuskan kembali ke Korea untuk membereskan hal yang belum terselesaikan, aku sendiri bahkan tak mengetahuinya. Awalnya, kita ditentang keras. Namun, kita bertekad untuk datang kemari. Dimana Umma ku dilahirkan, aku ingin melihatnya.. keluarganya…” Matanya mengitari angkasa, mencoba mencari setidaknya satu gambaran tentang orang yang melahirkannya dengan senyuman rekah. Barangkali ia dapat menemukan titik terang, walau hanya sekedar harapan, ia tak ingin kehilangannya. Kenyataan hanyalah perwujudan telak dari sebuah angan yang diagungkan.

“Kita bernasib sama…” Gadis itu merasakan sebuah tangan dengan lembut menggenggamnya. Ia tersenyum. “Aku akan menemanimu…” Genggamnya kian erat. “Percayalah… suatu hari nanti, kita pasti menemukan mereka.” Taeyeon menatapnya lembut, senyumnya hangat. Gadis itu merasa nyaman berada didekatnya.

Mereka berbagi tatapan, kemudian senyuman. Ini masih hari yang sama, langit yang sama, musim yang sama. Namun, waktu seolah mengelak berputar. Ia menetap dan terus berpendar, mengitari dinding-dinding beku berlapis hasrat. Perutnya terasa berkoyak, berkibar menghantam sisinya. Oh.. dua anak manusia yang terjebak dalam tabung reaksi kimia, dimana elemen tak dapat dijelaskan dengan rumus yang tak mampu dijabarkan.

Dengus nafas terasa semakin hangat, jarak yang merapat tak mampu mengalahkan rasa yang meluap-luap. Mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, hasrat yang tak sanggup lagi dipendam. Kumbang-kumbang beterbangan, walang sangit melompat riang. Melunturi keheningan, beriringan seirama dengan decakan dua pasang bibir yang saling melumat lamat-lamat. Menciptakan perpaduan melodi yang mengalun dengan anggunnya, berbingkai dedaunan kering yang berguguran diudara, hembus angin mengajak awan menari bersamanya. Sungguh pertunjukan opera yang sangat menakjubkan, lantunan Simfoni indah yang tak dapat kau temukan tanpa sebuah kepercayaan.

“Saranghae…..”

“Na do….”

Red || Jessica Jung || With You ??

“A—Apa maksudmu ??”

“Jawab saja pertanyaanku…” Repet Jessica, ia merasakan sesuatu yang disembunyikan oleh gadis ini.

“Te—tentu untuk mengganti gaunmu kemarin, menurutmu karena apa ??” Balasnya, tatapannya tampak ragu dan gugup.

“Pembohong !!”

“Ya !! Bukankah kau sendiri yang memintaku menggantinya kemarin ?? Kau tak ingat, huh ??” Jessica terdiam sejenak, berpikir ucapannya ada benarnya juga. Tapi, entah mengapa ia merasa gadis ini tak benar-benar tulus melalakukannya.

“Kau mempermainkanku kan ?? Kau hanya ingin memanfaatkanku saja, kan ??” Sembur Jessica sambil bersungut-sungut.

“Kau pikir aku sebodoh itu apa ?? Untuk apa aku memanfaatkan gadis sepertimu ?? Kalau aku mau, Kim Tae Hee pun bisa kudapatkan hanya dengan kerlingan mata.” Gadis itu mengejeknya. Jessica terkisap, ia kalah telak.

Benar … untuk apa ia memanfaatkan gadis sepertiku jika ia mampu mendapatkan gadis yang jauh lebih segala-galanya ketimbang diriku ?? Dia punya banyak uang untuk dihamburkan… belum lagi keluarganya yang kaya raya itu… Euh…Menyebalkan sekali !!

Jessica dengan kesal melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, ia menuruni undakan tangga dengan hati geram. Ia merasa terpojokkan, dan ia tak menyukainya. Dengan amarah yang masih membara, ia celingukan mencari sahabatnya, namun sayang ia sama-sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaannya.

Ia merogoh ponsel dalam saku jeans nya dengan tergesa-gesa, lalu menekan speed dial no 2 di layar touchscreen nya.

“Halo ??” Ia mendekatkan benda itu di telinga kirinya. Hng ?? Bukan suara Tiffany.

“Siapa ini ??” Ia sedikit terkejut setelah mendapati suara lain dari ponselnya.

“Mianhae… Tiffany Unnie meninggalkan ponselnya di café.” Jessica mengerutkan alisnya, sambil bergumam sendiri dalam hatinya. Dasar… ddilFanny…

“Oh, bisakah kau memberikannya padaku, aku temannya dan sekarang berada di meja nomor 2.”

Ia mengangguk lalu menutup ponselnya, tak lama kemudian seseorang datang menghampirinya. “Mianhae Unn… ini Ponselnya Tiffany Unnie tadi tertinggal.” Gadis itu berkata dengan sopan. Jessica hanya tersenyum sambil memikirkan betapa cerobohnya gadis itu, sampai sekarang ia masih belum bisa percaya persahabatan mereka akan terjalin sampai sejauh ini. “Memangnya dia kemana ??”

“Tadi dia menanyakan Taeyeon Unnie, jadi mungkin sekarang mereka sedang berada di taman.”

“Tae—hyon ??” Alis Jessica berkerut, ia bertanya-tanya siapa yang dimaksud gadis ini ?? Setahunya, Tiffany tak memiliki banyak relasi di Korea dan lagipula Jessica hapal semua nama mereka, namun kali ini terasa asing di telinganya. “Siapa itu ??”

“Jangan ganggu mereka…” Yuri mendadak muncul dibelakang Jessica, membuatnya sedikit tersentak kaget. “Barangkali sekarang mereka sedang bersenang-senang.” Ia menunggingkan senyum simpul. “Sebaiknya kau ikut denganku saja, aku akan mengantarkanmu kemanapun yang kau mau.”

-TBC-

Iklan

64 thoughts on “A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 3]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s