One Shoot, SNSD

Lie Detector [Tell Me the Truth] [ONE SHOOT]

Lie Detector [Tell Me the Truth]

Rather than love, than money, than fame, give me truth
Author        : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)
Title            : Lie Detector.
Genre          : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance.
 Cast           : TaeNy, SNSD Member.
Warning      : The genre in Yuri (Girl X Girl) DON’T LIKE ?? GO AWAY !! NO BASHING !!
Thanks buat Mutia yang udah bantuin dapet ide dan revisi ulang FF ini
-LockTi SaSmith-

“Tidak masalah seberapa banyak kebohongan yang kamu buat, tetapi yang penting adalah bagaimana kamu membuat kebohongan itu menjadi kenyataan”

PROLOG

-TTS Lie Detector-

“KAU tidak ingin mengurus group lain ??” Manager Oppa meletakkan tangannya diatas mesin berwarna putih itu. “Yap.. I like SNSD.”

Dut..Dut…Dut…Dut

Lampu merah pada benda itu menyala dan berputar, saat dentuman ke empat….

Kringgg….

Manager Oppa terlonjak kaget. “Ahh… Aku kecewa..” Gumam Seohyun sambil berlalu meninggalkannya.

Tiffany merebut benda itu dari tangan Seohyun, lalu menyodorkannya tepat dihadapan Seohyun. “Aku benci berada bersama kedua TTS Unnie ??” Tantangnya.

Seohyun meletakkn tangannya diatas mesin itu lalu berkata, “Aku sangat menyukainya.”

Dut..Dut…Dut…Dut

Lampu merah pada benda itu kembali menyala dan berputar, saat dentuman ke empat….

Hening…

Seohyun tersenyum bangga, “Aku benar-benar menyukainya..” Kemudian Seohyun kembali meraih benda itu dari Tiffany.

Tiffany menyadari sesuatu lalu sebisa mungkin berusaha melarikan diri, namun naas.. belum sempat ia kabur, Seohyun berhasil meraih lengannya dan menariknya kembali ke tempat semula.

“Unnie…” Seohyun berlutut dihadapan Tiffany lalu menyodorkan benda putih itu. Tiffany akhirnya mengalah dan mau menyanggupinya. Dengan gugup, Ia  meletakkan tangannya diatas mesin tersebut. “Aku…..” Seohyun berhenti sejenak. “Katakan kau benci dengan SM.”

“Aku benci SMEnt.”

Lampu merah pada benda itu kembali menyala dan berputar, saat dentuman ke empat….

Hening….

Tiffany menutupi wajahnya sambil tersenyum dan berkata, “Tolong jangan disiarkan di televisi.” Tangannya melambai didepan layar kamera.

PROLOG END

Tiffany Pov

“OPPA… aku benci padamu…” Sunny melempar bantal merah yang Ia pegang tepat pada punggung manager Oppa saat ia kebetulan lewat didepan kami. Ia kemudian mematikan televisi LCD 60’ yang baru beberapa bulan lalu kami beli.

“Ya… benda itu mengerikan… lebih baik kalian beristirahat.. Oppa harus pergi menemui Direktur untuk membereskan sesuatu.” Oppa berhenti didepan pintu sebelum menutupnya kembali. “Jaga dorm baik-baik ya…” Ia lalu menghilang dibalik pintu besar berwarna putih.

Aku dapat mendengar Sunny bergumam sesuatu saat ini, entah apalah itu, aku tak mau tahu. Bukannya aku tak perduli, hanya saja… otakku masih benar-benar buntu untuk memikirkan hal semacam itu.

Aku memejamkan mataku sambil merebahkan kepalaku disandaran sofa. Jadwal manggung TTS akhir-akhir ini begitu menguras tenagaku. Bukannya aku mengeluh atau tidak menyukainya, aku akan berbohong jika aku mengatakannya. Tentu, aku sangat bahagia dengan terbentuknya TTS, selain aku dapat mengisi waktu luang saat break time SNSD, aku juga bisa menghabiskan waktu bersama—….

Aku melirik sekilas gadis yang sedang asik dengan ponselnya di ujung sofa, wajahnya begitu tenang dan bersinar, seandainya saja—…

[Flashback]

“AKU ingin membicarakan hal penting denganmu.” Seorang pria berpawakan besar duduk menyandar di balik kursi putar empuknya. Tatapannya tampak gelisah.

“Denganku ??” Tiffany mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati apa yang membuatnya terjebak dalam ruangan yang sama sekali tak ingin dimasukinya.

Pria itu mengangguk, “Kulihat… kalian berdua semakin hari semakin dekat..” Beliau meluruskan posisi duduknya lalu menatap gadis itu lekat. “Langsung saja pada intinya.” Ia berhenti sejenak.

Tiffany tahu apa yang akan dibicarakannya, tapi Ia tetap tak mau menunjukkan raut muka terkejut. Tentu ia tahu, dan ia tak mau tahu. “Kuingin… kau lebih bisa mengontrol diri didepan umum. Sepertinya, kau harus menjauh darinya untuk sementara waktu.” Pria itu memijat ujung dagunya perlahan. “Kau mengerti maksudku kan ??”

Tiffany mengangguk, Ia tak punya kuasa untuk mengelak ataupun menolak. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan mengerikan itu. Ia mendesah berat, mencoba memadamkan api yang tersulut dalam hatinya.

[Flashback End]

AKU menggelengkan kepala, hatiku masih gusar. Bukankah setiap manusia punya Hak Asasi ?? Sepertinya hal itu tak berlaku disini, kami dikekang, seolah dipenjara.

Aku merasakan genggaman hangat menyentuh telapak tanganku, aku membuka kedua mataku yang terasa berat. Aku melihat Jessica tersenyum padaku sambil membisik. “Gwaenchana ??” Aku megangguk sambil tersenyum lemah, mengisaratkan padanya untuk tak terlalu menghawatirkanku. “Apa yang sedang kau pikirkan.”Ia menirukan gerakanku, memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa tepat disampingku.

“Anio..” Aku kembali mengelak.

Ia membuka kedua matanya, lalu menoleh padaku dan menatapku lekat, entah… sorot matanya sulit untuk kujelaskan. Terkadang, aku merasa ia memiliki kekuatan lebih untuk membaca pikiran seseorang. Dan tebakanku benar-benar akurat, ia seolah tahu apa yang kupikirkan. Jessica tersenyum hangat lalu kembali pada posisinya semula, gerakannya seolah… menyuruhku untuk tenang dan tak terlalu memikirkannya.

Saat aku akan membuka mulutku untuk berbicara, tiba-tiba pintu utama dibuka secara frontal. “Unnieeessss…” Yoona menyapa dengan senyumnya yang merekah, sangat cerah sampai-sampai matahari pun mendadak melesak jika dibandingkan dengan sinar nya. Dari pakaian yang ia kenakan, aku dapat menebak jika ia barusaja menyelesaikan syuting drama terbarunya untuk episode hari ini. “Aku membawa sesuatu…” Serunya penuh semangat.

Mataku mengitari seluruh ruangan, tak tampak raut ketertarikan sedikitpun dari semua member disini. Takterkecuali Seohyun yang sedang sibuk berkelut dengan buku yang barusaja dibelinya kemarin. Akupun demikian, memalingkan mukaku pada Jessica yang tampak damai dalam dunianya. Secepat itukah ia tertidur ??

“Taraaaa…” Ku-eratkan kedua mataku yang terkatup rapat.

“Mwo ya ??” Dari gendang telingaku yang masih bekerja, aku dapat mendengar Yuri bergabung dengannya.

“Lie detector…” Mataku refleks terbuka lebar, membulat, mendengar kata itu melucur mulus dari mulut Im Yoona. Aku sontak bangkit, meluruskan posisi dudukku sambil mengerlip-ngerlipkan kedua mataku.

“Yap… benda ini dapat medeteksi apakah kau berkata jujur atau berbohong.” Yoona memproklamirkan kegunaan benda tersebut, tak perlu dijelaskanpun, dapat ditarik kesimpulan dari namanya. “Bukankah TTS telah mencobanya beberapa waktu yang lalu, ya kan Unn ?” Tembak Yoona dalam sekejap mata.

Aku sontak mendongak, terlonjak.

“U—uh.. Mwo ?? Ne…” Taeyeon tampak sedikit shock, namun wajah tenangnya berhasil menutupi rasa keterkejutannya.

“Ah—… Benar… Baru saja selesai ditayangkan..” Sahut Yuri berapi-api.

“Oohh… Jinjja ??” Yoona menatapnya tertarik. Sementara aku hanya dapat diam dan membeku.

“Apakah benda ini benar-benar bekerja dengan baik ??” Yuri tampak menimang-nimang mesin putih dalam genggamannya. “Bagaimana kalau kita coba buktikan ??” Yoona mengangguk mantap.

Ohh.. crap !! Aku tak menyukai saat-saat seperti ini. Aku tak menyukai tatapan YoonYul yang membuatku ingin segera melarikan diri dari sini. Kedua monster itu benar-benar mempersulit hidupku. Mengusik ketenanganku, aku harus segera kabur. Sebelum semuanya menjadi kacau.

Aku berdiri, berlagak seolah ingin buang air kecil, “Fany Unnieee…..” Aissshh… Aku benci aegyeo Yoona.

Mereka berjalan, menghampiriku dengan tatapan menyelidik. “Bolehkah kita meminta bantuanmu ??” Drama Princess Im Yoona in action.

Dengan mimik mengiba mereka menyodorkan mesin itu dihadapanku. Aku menatap benda itu ngeri. “Ohh.. aku ingin…..”

“Jebaaaaalllll….” Lagi-lagi Yoona merajuk, membuatku ingin muntah… lebih tepatnya ingin kabur.

“Anio.. aku sudah mencobanya kemarin…” Dalihku. Meskipun aku yakin mereka takkan meloloskanku begitu saja, tapi apa salahnya mencoba ??

“Ayolaahh.. hanya untuk percobaan saja… kumohoonnnnn….” Tatapnya penuh harap. Entah mengapa… mereka senang sekali mempermainkanku.. apa menurut mereka aku terlihat sebodoh itu ??

“A—Aku…”

“Jangan-jangan kau punya sesuatu yang sedang kau sembunyikan ya..??” Yuri dengan tatapan detektifnya, menyelidikku dari pangkal kaki sampai ujung kepala.

“Mencurigakan sekali…” Kini Sooyoung mendadak bergabung meneliti raut wajahku sambil memjiat ujung dagu dan menumpu sikutnya.

“A—anieo…” Aku melambai-lambaikan telapak tanganku didepannya. “Eobso… Jinjja !!” Tatapan mereka sungguh mengerikan, seringai-seringai kecil diwajah mereka kini menghantuiku. Tampaknya, aku sangat buruk dalam meyakinkan seseorang.

“Kalau begitu kau takkan berbohong, kan ??”

Tuhaaann… bantulah aku…

Aku melirik sekilas pada gadis diujung sofa, ia tetap tenang dan fokus pada benda mungil dalam genggamannya. Tampaknya ia tak tertarik dengan nasibku yang sudah berada di ujung tanduk singa. Okay.. apakah singa punya tanduk ?? Entahlah..

Dengan berat hati, aku mengangguk. Mereka bertiga mengerubungiku seolah aku ini adalah buronan yang masih berstatus ‘wanted.’

“Baiklah Fanny-Fanny Tiffany…. Tell me the truth…

Yoona dan Yuri saling menatap… pandangan jahil yang membuatku keki.

“Apa kau….. menyukai Taenggoo ??” Tembakan Yuri kali ini tepat mengenai ulu hatiku. Seandainya tangan Jessica tak refleks menopang tubuhku, mungkin saja saat ini pantatku sudah jadi korban cium lantai karena terlonjak kaget. “Waaa… santai Tiff…”

“M—Mwo ??” Pekikku. “Pass…” Mereka tampak berpikir sejenak sebelum Yoona mengutarakan pertanyaan selanjutnya.

“Kalau begitu…. Katakan kalau kau membenci Taeyeon Unnie… Double… Triple… Multiple…” Sungutnya dengan tatapan yang… Eugh… Aku melirik Taeyeon sekilas, benar-benar tak membantuku sama sekali, Ia justru tampak tertarik dengan permainan konyol ini. “W—Wae ??” Mata kami bertemu, Aku tersesat.. tak mampu berkata… Pancaran mata itu… benar-benar menyesatkan pikiranku, sungguh murni dan… hangat. “W—Wae ??”

“Tell me the truth…” Sooyoung, Yuri dan Yoona merajuk berbarengan. Bahkan Jessica yang tadinya sama-sekali tak tertarik sekarang justru memasang wajah serius. Ia benar-benar dapat membaca pikiran..

Dengan gugup, kuletakkan telapak tangan kananku diatas mesin putih tersebut sambil memejamkan mata, berdo’a demi apapun itu.. semoga benda itu mendadak rusak, kehabisan daya atau sebagainya.

Aku menghela nafas dalam sebelum akhirnya kuucapkan kata-kata itu. “Aku memben—… Ani.. Aku menyukai Kim Taeyeon.”

Dut..Dut…Dut…Dut

Berbunyilah… Berbunyi… Bunyi…

Lampu merah pada benda itu menyala dan berputar, saat dentuman ke empat….

Hening…

Engh ??

Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. HENING ???

Yoona dan Yuri saling menatap, mulutku ingin berbicara… tapi… bibirku seolah tergembok rapat-rapat.

“Ah… alat ini sudah basi… Ayo pergi…” Yuri mengambil langkah inisiatif terbaik, baguslah.. kalau mereka melihat bagaimana sorot mataku sekarang, aku takkan dapat mengelaknya lagi, sampai kapanpun.

Aku kembali duduk dan bersyukur, semua orang tampaknya mencoba mengalihkan perhatian mereka pada hal lain dan tak ingin membahas persoalan ini. Aku menatap Jessica, Ia hanya mendesah berat kemudian kembali menyandarkan kepala dan menutup kedua matanya. Hopeless…

Kualihkan pandanganku pada gadis itu, Ia menatapku… sungguh lekat. Tatapan mata yang sulit kujabarkan. Ia terlihat seperti sedang menelusuri arti dibalik siratan mataku. Mencari pembenaran dari sorot mataku, Mungkin ?? Selang beberapa detik, ia seolah mengalihkan pandangannya dariku dan kembali menatap layar ponselnya.

Aku mengedarkan pandanganku, semua member melakukan hal serupa, mereka hanya menatap kosong layar kaca dengan pikiran yang dapat kutebak telah melayang entah kemana. Entahlah… apapun yang mereka pikirkan tentangku…

Aku berusaha memusatkan perhatianku pada drama yang sedang diputar di televisi. Aku tak tahu episode kali ini bercerita tentang apa. Semua yang berhasil kutangkap hanya ekspresi tangis Yoona.

***

AKU merasakan perubahan atmosfir semakin mencekik tenggorokanku, aku sudah tak sanggup berada di tengah-tengah suasana canggung seperti ini… Lebih baik aku pergi saja..

Aku berpamitan pada mereka sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Ku tutup pintu, kemudian berdiri tepat didepan wastafel. Kunyalakan keran air perlahan, kurasakan cairan hangat menyentuh kedua telapak tanganku. Kudekatkan wajahku pada cermin yang menggantung diatas keran. Melihat wajahku yang kian bersemu, semakin memerah. Tanpa menunggu waktu, kubasuh wajahku dengan air hangat dan langsung merasuk kedalam pori-pori kulitku. Aku menghela nafas dalam, membiarkan udara yang tadi tercekat kini meluncur bebas. Setelah kurasa cukup, kuraih handuk yang tersampir di ujung wastafel lalu mengusapkannya lembut pada wajahku, berharap semburat kemerahan itu segera luntur.

Mungkin, mencari udara segar dapat mengembalikan wajahku seperti semula.

Kulihat, urat-urat diwajahku masih menegang. Dengan desahan singkat dan seunging senyum simpul, kulangkahkan kakiku melewati undakan tangga di sudut ruangan menuju balkon atas, barangkali aku juga dapat kembali menyegarkan pikiranku yang sudah suntuk.

Belum sempat ujung kakiku menyentuh undakan teratas, sekilas dapat kulihat seseorang berdiri menyandar pada pagar besi sambil merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Kusipitkan kedua mataku mempersempit pandanganku, DIA !! OH MY GOD !!

Aku segera memekik, berbalik.

Jangan sampai ia melihatku…

Semburat merah di wajahku belum padam, aku masih belum siap harus bertatap muka dengannya.

Begitu aku hendak melangkahkan kaki kembali menuruni anak tangga, aku mendengarnya berkata ?? bertanya ?? tidak… dia bergumam. “Wae ??” Lembut suaranya, selembut tatapannya padaku saat ini.

“W—Wae ??” Aku tak kuasa menahan rasa gugupku. Pancaran sinar diwajahnya sungguh mengalahkan cahaya matahari terbenam sore ini.

“Wae ??” Ia melangkah mendekat, aku semakin gugup. Kurasakan tubuhku gemetar hebat.

“W—wae ??” Aku tak sempat menghitung, entah sudah berapa kali ia mengucapkan hal yang sama. Peluh kian membanjiri pelipisku.

“Bukankah tadi siang kau bertanya seperti itu ??” Mata kami saling bertemu, berpaut, berpagut.. Entah mengapa aku jadi semakin takut.. takut akan tersesat dibalik sirat hangat sepasang mata itu.

“Ta—tadi itu… A—Aku… tak bermaksud seperti itu… A—Aku hanya…..” Aku tak mengerti mengapa aku jadi gugup begini.

“Ini…” Dia menyandarkan punggungnya pada pilar besi penyangga di pinggiran balkon sambil menyodorkan sekotak minuman padaku. Awalnya aku sedikit ragu, namun sepertinya ia menangkap ekspresiku, Matanya mengisyaratkanku untuk segera berdiri disampingnya. Entah megapa aku menurut begitu saja, layaknya anak anjing yang sudah dijinakkan.

Tubuhku seolah memiliki pikiran tersendiri. Kuraih sekotak orange juice yang ditawarkannya lalu meneguknya perlahan. Membiarkan cairan itu membasuh tenggorokanku yang sudah kering akibat pergolakan batin yang kian menegang. “Gomawo..”

Ia tersenyum dan mengangguk, kemudian kami kembali terdiam. Kurasakan hembusan air menerpa wajahku, menyibak beberapa helai rambutku hingga beterbangan terbawa lenggoknya. Kurasakan sebuah tangan dengan lembut menyentuh pundakku. Rasanya sungguh hangat.

Aku sontak menoleh. Kulihat senyumnya rekah dan hangat. Rasanya tenang dan menyejukkan, lebih sejuk dari semilir angin petang ini. Dia mendadak meraih sesuatu dari balik meja disamping kirinya. Ia menyodorkan benda itu di hadapanku.

Oh Tuhaannn… Tidak lagi…

Tanpa kuduga sebelumnya, Ia justru meletakkan telapak tangannya sendiri diatas benda itu lalu bergumam… Ah… tidak… Ia berkata…. Eh… Mungkin ia memproklamirkan… “Aku juga mencintai Tiffany Hwang.”

Aku terlonjak kaget, jantungku berdebar cepat.. kencang… darahku berdesir hebat… oh… aku tak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya… aku tak sanggup… bukan… aku takut.. iya takut menerima kenyataan jika….

Dut..Dut…Dut…Dut

Salahkah jika aku mengharapkan sebaliknya ?? Hening ?? Aku berharap hening…

Lampu merah pada benda itu menyala dan berputar, saat dentuman ke empat…

Hening…..

Aku mengerlip-ngerlipkan kedua mataku, masih terpaku, membeku… tak mampu berkata apapun… Jantungku kian berpacu.. Oh Tuhan… tadi itu…. Itu… itu…

Tatapanku seolah tak percaya, sepertinya ia dengan cepat membaca pikiranku. Seungging senyum simpul dan tatapan hangat pun sudah cukup menjadi jawabannya. Ia melenggang dan berlalu sebelum kembali menatapku sejenak lalu menghilang dibalik pintu geser.

Otakku masih menolak bekerja, aku masih terlalu shock dengan pernyataannya tadi, bisakah aku menyebutnya seperti itu ?? Meskipun itu lebih mirip deklarasi daripada pernyataan namun tetap saja, setiap kata melesak tepat mengenai ulu hatiku sampai aku jadi beku dibuatnya.

Selang beberapa detik kemudian, otakku seakan kembali berputar, mengingat kejadian tadi membuatku melonjak bahagia. Yesss !!

Senyum tak absen dari wajahku, aku berputar dan terus berputar.. melompat lompat kegirangan sambil terus mengepalkan kedua telapak tanganku diudara. Sungguh ?? Aku tak bermimpi kan ?? Tanpa sadar, aku menepuk-nepuk kedua pipiku sampai berwarna kemerahan, perpaduan antara malu dan bahagia. Yeaaaahhh !!!

Entah, aku tak perduli SM atau apapun itu, yang pasti aku sudah melihat… tidak… aku benar-benar mendengar dengan kedua telingaku sendiri… dia—…. Dia—Dia mengatakan bahwa—…

“Hey… aku dapat mendengarmu…”

BRUGG !! Pantatku melandas tepat diatas lantai. Tak lama kemudian terdengar suara tawa dari arah tangga, sangat mengerikan seperti bocah gila.

Sangat baguss… sementara aku harus jadi korban cium lantai, Waaa !!! Sunnguuuuhh memalukaaaannn …

Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, bersembunyi dibalik jubah keramat milik Harry Potter lalu berlari dan masuk kedalam lemari besi dan menguncinya rapat-rapat atau terperosok ditelan perut bumi kemudian lenyap, enyah begitu saja. Atau mungkin jika tuhan mengizikanku menggunakan mesin waktu aku akan meghapus kejadian tadi atau bahkan jika Dumbledore meminjamkan kekuatannya padaku untuk menghapus memori ingatan Taeyeon beberapa detik yang lalu menggunakan bubuk imaginer. Entahlah… Menyebalkaaann !! Yang pasti sekarang aku ingin mengecil sekecil-kecilnya melesak, sak, sak dan kasat mata. Oh, Halo, titik nadir. Hai, apa kabar, dingin beku karna sepi ?

Tanpa sadar aku memukul-mukul kepalaku dengan kedua tanganku mengingat betapa malunya diriku jika harus berhadapan dengan Taeyeon, apa yang harus kukatakan padanya nanti ?? Menatapnya canggung ?? Atau dengan wajah merah padam aku berkata, ‘Hay’ dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa ?? (Meskipun aku yakin hal ini sangat sulit untuk dilakukan). Ugh !!! Taeyeon bodoh !! Menyebalkan … Menyebalkaaaannn …

“Kau sakit kepala ??” Tiba-tiba kepalanya muncul begitu saja dibalik pintu geser, seringai kecil tergambar jelas diwajahnya, aku kembali mengedip-ngedipkan kelopak mataku. Oh God… Cobaan apalagi yang kau berikan padaku ??? Rasa maluku sudah tak sanggup lagi ku bendung  Waaa… Aku benar-benar ingin melemparnya dengan benda apapun yang dapat kuraih sekarang.. APAPUN !!…. Namun yang dapat kulakukan hanya berteriak sekencang-kencangnya.. tak perduli suaraku akan sampai berapa oktaf. “KIM TAEYEEOOOOOOOOOONNNNNN !!!!” Aku membuka kedua mataku saat kurasa benar-benar puas. Tapi dia sudah menghilang… lenyap begitu saja, aku celingukan mencari keberadaannya, tak lama kudengar tapak kaki beradu dengan lantai, kedengarannya ia sedang berlari menuruni anak tangga dengan tergesa.

Tanpa menunggu waktu, aku beringsut mengejarnya.. Tunggu sampai aku berhasil mendapatkanmu !!

“Yaaa !!! Jangan kabuurrr…” Aku berlari, mencoba meraih kerahnya atau apapun yang dapat kuraih darinya. Namun ia justru tertawa lebar sambil terus berlari menghindariku. Sayangnya, aku takkan menyerah begitu saja.. kukerahkan seluruh tenagaku untuk bisa mendapatkannya.

Kami berlarian bagai anak anjing dan kucing, kalau dipikir-pikir menyenangkan juga. Aku bisa tertawa lepas seperti ini, rasanya melegakan sekali. Tentusaja aku tak mau mengakui hal ini didepannya.

Begitu aku berhasil meraih lengannya, refleks aku mendorongnya mendekat padaku. Oh Lord…. Wajah kita sangat dekat.. Sungguh dekat hingga aku dapat merasakan hembus nafasnya mengelitik leherku.

Ia meatapku dalam, seolah mengiysaratkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dengan naluri alamiah yang tertanam dalam diri setiap wanita, perlahan kupejamkan kedua mataku sambil menunggu sentuhan hangat dari bibir mungilnya.

Beberapa saat kemudian…..

Hening..

Huh, tak terasa… Apa tadi itu hanya mimpi ??..

Perlahan, kubuka kedua mataku… hal pertama yang tak ingin kulihat… bukan… bukan senyum hangat yang kuharapkuan… justru seungging seringai kecil yang tergurat di wajah cantiknya. Seringai paling menyebalkan yang pernah kulihat diseluruh dunia…

Sungguh … You’re dead now !! Made fun of me, huh ??

“Ya !! Kim Tae—….” Kata-kataku terhenti saat kurasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh ujung bibirku… sekilas… lalu berlari secepat kilat.

Dia… Dia… Dia…

Oh… apa dia barusaja mengecupku ?? Aku tak henti menggigiti sudut bawah bibirku. Kurasa …. Aku ingin segera berlari menuju kamar, menguncinya rapat dan memeluk boneka Taetoro (yang ia berikan padaku) kemudian berteriak sekencang-kencangnya sambil membenamkan wajahku (yang dapat kuduga sudah seperti tomat, kepiting rebus atau apalah untuk menggambarkannya).

Okay… sudah cukup aku dipermalukan hari ini, kulihat sekilas benda putih itu tergeletak di meja makan. Sontak kuraih mesin itu lalu berjalan santai menghampiri Taeyeon. “Mwo ??” Wajah polosnya benar-benar menyihirku kali ini.

Mataku menunjuk sesosok gadis yang sedang sibuk mengganggu Maknae di seberang ruangan. “Aaaahhh…” Akhirnya ia mengangguk dan tersenyum jahil. Senyum yang jarang kutemukan akhir-akhir ini. Aku berjalan mengendap-endap sambil menyembunyikan benda itu dibalik punggungku. Begitu sampai ditempat tujuan, sontak aku menyodorkannya dan berkata dengan senyum licik… tentu aku tak ingin menjadi satu-satunya korban kejahilan di dorm saat ini. “Kwon Yuri….” Aku merajuk dengan tampang dibuat-buat.

“Tell me the truth…” Lanjut Taeyeon, benar-benar membantuku kali ini…

“Malhaebwa…” Repetku dan Taeyeon secara bersamaan, Sedangkan Yuri…. Hanya dapat berkedip-kedip kebingungan. Ekspresinya sungguh…. Menarik untuk ditertawakan… Hahaha 😀

Sepertinya, aku harus mengubah asumsiku pada benda ini sekarang… Cukup menyenangkan… bermain-main dengan mesin pendeteksi ini… Sekarang, tak lagi ada kebohongan antar anggota SNSD. Aku bahagia… dapat berada di tengah-tengah mereka.

Sekarang giliran kau mencoba…

“Apa kau mencintai SNSD ??”

“Tell me the truth….”

“Malhaebwa…”

Dut..Dut…Dut…Dut

-END- 

“Aku, selalu mengatakan yang sebenarnya, bahkan ketika aku berbohong”

Iklan

54 thoughts on “Lie Detector [Tell Me the Truth] [ONE SHOOT]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s