FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 14

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Syasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Gendre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 5

Itu adalah hari latihan biasa, saat Hyoyeon pertama kali bertemu dengannya. Saat ia menorehkan kesan pertama ketertarikan pada gadis itu. Terpesona. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya. Terutama, karena ia tak pernah perduli untuk melihat kesekelilingnya saat ia berjalan melalui lorong-lorong gedung ini. Ia sendiri tak yakin, apa yang membuatnya tertarik pada sosok yang sedang terpaku dilantai, tapi begitu ia melihat sosok langsing itu menari sendirian di tengah lorong, ia sadar bahwa ia benar-benar tidak perduli.

Gadis itu berputar-putar dihadapannya. Seirama dengan alunan musik yang mempertemukan kedua mata mereka. Waktu seolah berhenti. Tangannya mengepal dan bibirnya mengering. Ia baru menyadari saat ia merasakan sesuatu yang aneh dibawah perutnya, berdebar… saat itulah ia mampu melepaskan pandangannya dari gadis tersebut. Dengan cepat, ia bergegas memasuki ruang latihan yang luas itu.

Selama seharian itu, pikirannya tak pernah lepas dari gadis tersebut. Ia bertanya-tanya siapakah namanya, umurnya, dimana ia tinggal dan apa yang ia sukai…

Aku yakin ia seperti malaikat…

“Hey gadis kecil, kau menari dengan sangat bagus…” Sebuah suara muncul dari sudut ruangan, menghampiri dirinya.

Hyoyeon mendesis lalu memasukkan barang-barangnya kedalam tasnya. Hari ini tak berbeda…

Biasanya ia bisa dengan mudah menghindari penganggu yang mengusik latihannya. Ia megutuk dirinya sendiri karena menatap sekelompok gadis yang justru mengepungnya.

“Mungkin terlalu bagus…” Seringai gadis kedua. Ia menjulurkan lidah. Tak ada kata yang tak perlu ia ucapkan.

“Hey..” Gadis jakung mendorng bahu Hyoyeon untuk mendapatkan respon. “Sepatu yang bagus, darimana kau mendapatkannya ?”

“Thanks… Ini diimpor dari Amerika.” Ia tau, ia tak seharusnya menjawab, tapi kata-kata itu meluncur begitusaja. Hyoyeon merasa ia berbeda hari ini.

“Ah.. kau membeli sepatu buatan Amerika karena kau ingin dianggap menjadi orang Amerika ?? Atau mungkin karena kakimu terlalu besar ?”

“Apa yang kau bicarakan ??” Gadis yang paling tinggi tertawa. “Tentusaja karena kakinya yang terlalu besar.”

Bahu Hyoyeon merosot sesaat, ia merasa sediki terluka dengan ucapannya. Dengan cepat, ia kembali membangkitkan semangatnya lalu berjalan menghadang sekelompok gadis tersebut.

“Ha !! Coba lihat..” Tangan gadis yang paling pendek melesat masuk kedalam kantong tas Hyoyeon bagian belakang yang terbuka. Sekali lagi, ia mengutuk dirinya sendiri namun kali ini dikarenakan ia tak menutup kembali tas nya setelah mengambil ponselnya.

Gadis paling tinggi melihat temannya mencuri dompet dari tas Hyoyeon. “Tak ada yang menarik disini.”

“Oh… tidak… tidak juga..” Sanggahnya cepat lalu memasukkan beberapa lembar uang Hyoyeon kedalam sakunya.

“Ah, sebaiknya kita buang saja ini.” Mereka mentertawakannya. “Jangan membuang-buang uangmu lagi untuk sepasang sepatu.”

Hyoyeon tak sebodoh itu untuk melawan mereka. Ada lima dari mereka dan dia menyadari takkan ada gunanya kalaupun ia sanggup melawannya satu persatu hanya saja, ia tak punya pilihan lain.

Hyoyeon berbalik, bertumpu pada kedua tumitnya, lalu secepat kilat keluar dari ruang latihan. Ia bersyukur karena tidak jadi menggunakan uangnya untuk membeli minuman dari mesin otomatis tadi. Meskipun ia tak dapat pulang kerumah, namun setidaknya ia bisa menelpon seseorang untuk menjemputnya.

Tentusaja itu akan terlambat… Hyoyeon berdiri di halte bus, mencari sesuatu didalam tas ranselnya. Sebenarnya, ia dapat merasakan bahwa ia sudah menemukannya, tapi ia terus saja bertahan merogoh tasnya. Tujuannya adalah ia ingin menjaga pikirannya untuk tetap sibuk sehingga air mata yang sudah mendorong keluar, kembali tertahan di pelupuk matanya.

Angin berhembus singkat menerpa wajahnya saat ia mendongak meatap langit. Matahari sudah mulai terbenam dan ia mungkin takkan bisa kembali kerumah.

Mungkin akan lebih baik jika kembali ke studio… Mungkin ia dapat menggunakan telepon disana… tapi.. tunggu.. Ia menghela nafas panjang, pandangannya jatuh kebawah.

“Aku suka sepatu ini.” Gumamnya. Ia merasa air mata mulai merembes dari pelupuk matanya. Ada banyak hal yang terjadi hari ini. Begitu banyak hal yang saling tumpang tindih. Gadis itu, para pengganggu lalu uangnya… Semuanya terasa terlalu rumit untuk gadis seusianya. Ia hanya ingin semua hal menjadi lebih baik, untuk lebih bahagia. Dia tak ingin teus menerus terbelenggu dalam ketakutan… kesepian… Ia menutupi wajahnya meggunakan kedua telapak tangannya. Ia sudah tak sanggup membendung emosinya yang sudah memuncak. Ia bahkan tak mendengar seorang gadis yang memanggilnya dari belakang.

“Permisi, Ho—Yeon ??”

Bagus, pengganggu lain. Hyoyeon tak bergeming, ia tetap meringkuk mendekap ranselnya. Ia tak ingin kehilangan hal lain lagi. Dia tak bisa membelinya lagi.

“Kurasa ini milikmu…”Sebuah sara manis mengalun lembut di telinganya. Hyoyeon menoleh, sedikit tersentak saat menyadari ia gadis yang sama seperti sebelumnya.

Gadis berambut panjang itu berlutut di samping Hyoyeon sambil memegang erat dompet ditangannya. “Ambillah..” Dia tersenyum saat menyadari keraguan dari sorot mata Hyoyeon.

Hyoyeon mengangguk, mengambil kembali sebuah dompet hitam ditangannya. Suaranya lembut. “Kamsahamnida…”

“Gwaenchanseumnida…”

Mereka berdua berdiri bersamaan. Mata Hyoyeon menelusuri gadis dihadapannya. Gadis itu mengenakan gaub putih panjang yang dipadankan dengan blus berwarna hitam. Perpaduan yang elegan, berbeda dengan serangam balet berwarna hitam yang sebelumnya ia kenakan. Rambutnya tergerai lurus diatas bahunya. Sedikit bergelombang dan pas untuk membingkai wajahnya yang sempurna. Sorot matanya lembut, tapi cerah sementara suaranya menenangkan dan meyakinkan, seolah-olah apapun yang ia katakan dapat membuat semua orang merasa nyaman.

Gadis itu menyadari tatapan Hyoyeon, lalu memberinya senyuman kecil. Wajahnya luar biasa hangat.

“Kau Ho—Yeon kan ?? Aku mendengar apa yang gadis-gadis itu katakan padamu..”

“Hyoyeon…” Gumamnya, matanya terpaku pada tanah dibawahnya.

Hening…

Ia dapat merasakan gadis asing disisinya sengaja berlama-lama dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia belum juga pergi. Matanya menatap dompet di genggamannya.

Bagaimana bisa dia— ?? Ia ingin menanyakannya, namun sangat sulit untuknya mengeluarkan kata-kata. Ia mengintip isi dompetnya dan mendesah. Uangnya lenyap.

“Kau tak banyak berbicara ya ??”

Hyoyeon mengangkat bahunya, matanya menelusuri tanah dibawahnya. Ia menyelipkan kembali dompetnya kedalam saku celananya.

Kakinya mulus seperti susu dan…. Kencang… Wajahnya kembali bersemu merona sebelum megalihkan pandangannya ke lain tempat. Ada apa denganku ??

“Kurasa sepatumu bagus, Adikku memiliki sepasang yang mirip seperti itu.” Ia mengikuti pandangan Hyoyeon. “Jangan percaya apa yang mereka itu katakan padamu tadi.”

“Thanks… tapi kau tak harus berbicara padaku jika kau tak mau.”

“Tapi aku ingin…” Ia tersenyum.

“Okay..” Keheningan memenuhi udara, sambil merenungkan apa yang harus dikatakan. Beruntung, gadis itu penuh dengan pertanyaan.

“Apa setiap hari kau meninggu bus di tempat ini ??”Hyoyeon mengangguk.

“Apakah disini aman ??” Hyoyeon mengangkat bahunya. “Kurasa… Aku biasanya tak mengalami kesulitan.”

“Oh… Baguslah…” Gadis itu mengangguk. “Namaku Jessica.”

“Jeshkah ??”

Gadis itu terkikik, ia menunjuk mulutnya sendiri dan menyuruh Hyoyeon untuk mengamati mulutnya. Ia tak berani berpaling. Kemudian ia melihat gadis itu membentuk suku kata perlahan dan diikuti oleh Hyoyeon. Bibirnya dengan anggun mengeluarkan suara yang lembut mengalun “Jes-si-ca.”

**

“Unnie ??” Seohyun membuka pintu kamar perlahan, “Unnie… aku ingin berbicara padamu, apa kau didalam ??”

Ia memasuki raungan besar dimana tiga tempat tidur berbaris dari dinding disebelah kanannya.

“Hallo ??” Serunya lagi. Kemudian melangkah memasuki ruangan kosong tersebut.

“Oh.. Seohyun…” Sunny keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuhnya dengan sempurna, meyisakan uap hangat di sekelilingnya. “Ada apa ??”

“Aku mencari Hyoyeon Unnie, aku tak tahu dimana kamarnya.”

“Apa maksudmu kamarnya ??” Sunny merogoh koper kecil didekat kasurnya, “Dia tidur disini bersama kami.”

“Yeah… jadi semakin sempit.” Sooyoung tiba-tiba muncul diantara kasurnya dan Yuri.

“Apa yang kau lakukan dibawah situ ??”

“Aku menjatuhkan ponselku.” Sooyoung mengangkat tubuhnya lalu merebah di kasur dekat dinding. “Jadi… ada kamar kosong untuk Hyoyeon tidur ?? Dasar pembohong !!” Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Ia bilang hanya ada tiga kamar tidur disini.”

Seohyun bergeleng. “Tidak… tapi sebenarnya.. hal ini yang ingin kubicarakan dengannya. Aku ingin menanyakan apakah dia mau bertukar kamar denganku.”

“Oh Yeah ?? Mengapa ?? Bosan sekamar dengan Im Chooding ??” Sooyoung dan Sunny saling terkikik, tak menyadari Seohyun yang mengernyit sekilas.

Seohyun tetap tersenyum dan menggeleng, “Aku hanya ingin merasakan tinggal di lantai dua.”

“Aku akan bertukar denganmu.” Yuri tersenyum dari belakang pintu.

“Benarkah Unnie ??”

Gadis berkulit kecoklatan itu mengangguk lalu duduk di tempat tidurnya. “Tentu… lagipula disini terlalu berisik. Pertama, dia yang selalu mendengkur sepanjang malam.” Dia memutar bola matanya pada Sooyoung. “Lalu yang satu ini menguasai kamar mandi.” Yuri melirik Sunny yang kembali memasuki mesin uap. “Kau tak perlu bertanya padaku dua kali.”

**

Hyeoyeon tersentak, terbangun dari tidurnya saat ia merasakan hembusan angin dingin menampar pipinya. Butuh waktu sepersekian detik untuknya benar-benar tersadar dan menyadari dimana ia berada. Ia merasakan nyeri di setiap inchi dari lekuk tubuhnya  karena kedinginan, saat ia menarik tubuhnya dari balkon yang dipenuhi bintik-bintik permukaan salju. Kalau saja bukan karena tenda diatasnya dan layar tipis yang melindunginya dari kerasnya cuaca saat ini, ia yakin sekarang ia pasti telah mati kedinginan. Atau setidaknya sudah membeku.

Hyoyeon berjalan kembali ke kamar tidur paling besar dan menutup pintu dibelakangnya. Sunny menatapnya kebingungan saat ia berdiri dan merapikan barang-barangnya dari kopernya.

“Apa yang kau lakukan diluar sana ??”

Hyoyeon mengangkat bahunya lalu menghempaskan tubuhnya diatas sofa besar disudut ruangan. Dia menyambar bantal lalu meringkuk memeluknya. Melepas lelah yang membebaninya.

“Seohyun mencarimu…”

Hyoyeon mendengus sebagai jawaban, telinganya masih mendengar. Walaupun musik di kepalanya telah lama berhenti, namun setidaknya ia dapat menggunakan earphone itu untuk menghindari percakapan. Ia butuh tidur dan membiarkan dirinya beristirahat dari kondisi mengerikan yang harus ia hadapi namun ia tak bisa.

Semua ini kesalahanku. Ia kembali mengingat kejadian dibawah balkon beberapa waktu yang lalu.

Hyoyeon mendengus, berguling kembali kearah gadis lain di ruangan itu.

Aku akan mandi lalu berbicara padanya. Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku akan membereskan semuanya.

Begitu Ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Sooyoung berada ditempat tidurnya sedang bermain DS milik Sunny sedangkan Sunny sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Yuri sedang tidur di kasur tengah.

Tunggu…

“Apa yang terjadi dengan Yuri ??” Ia menelusuri gadis jakung yang terselip dibalik selimut.

“Ia dan Seohyun bertukar tempat.” Sunny mengerutkan dahi di balik layarnya. “Kau berbohong kepada kami.” Hyoyeon mengambil tasnya didekat kursi sambil membungkuk.

“Kau bilang dia berbagi kamar dengan Yoona, kemudian Jessica tidak punya kamar untuk dua orang. Hyoyeon memasukkan kembali pakaiannya kedalam tasnya, mengacuhkan kata-kata Sunny. “Kau harus turun kebawah.. Tak ada lagi alasan bagimu untuk tidak tidur di kasur.”

“Yeah..” Sooyoung mengangguk, “Tidakkah kau merasa lelah terus-terusan tidur di kursi ??”

Ia ingin berdebat. Untuk berkata bahwa ia baik-baik saja berada di sini atau memninta salah satu dari mereka untuk pergi menggantikannya tapi ia tahu semua itu takkan ada gunanya. Sunny takkan meninggalkan Spa mewahnya, dan Sooyong takkan meninggalkan pemandangan indahnya lalu Seohyun… Baik… ia hanya akan membuat Seohyun semakin tersakiti. Tak ada alasan untuk mengusiknya. Ia berpikir untuk meminta Yuri berbagi kamar dengan Jessica tapi ia tahu bahwa ia hanya akan memunculkan pertanyaan mengapa tidak ia sendiri yang berada sekamar dengan Jessica. Ia tidak mau semua orang menjadi ikut campur dalam masalahnya.

Hyoyeon mendesah, kemudian berbalik menghadap kedua gadis yang sedang menatapnya lekat. Ia mengangguk sedikit lalu membereskan barang-barang miliknya. “Kau benar..” Ia bergumam kemudian memutar gagang pintu. “Mianhae…”

**

Jessica membuka mata sambil mendesah, “Malam gelisah seperti biasanya.” Gumamnya lalu kembali bangkit duduk dipinggiran kasur dan memakai sandalnya. Malam-malam gelisah seperti ini, tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang selalu terjadi dan sekarang adalah bagian dari hidupnya. Dia meninggalkan kamar tidurnya lalu berjalan melewati ruang tamu untuk mengambil segelas air didapur.

Dia mengambil gelas dari rak piring didekat wastafel dan menekannya didepan pintu lemari es, menikmati gemericik suara sembari menunggu penuh terisi. Ia meneguknya perlahan sebelum berjalan kembali kekamarnya. Langkahnya berubah berjinjit saat ia mendapati selimut besar tersebar di lantai dengan dua tubuh di bawahnya.

Bagaimana mungkin aku melewatkannya saat berjalan ke dapur ?? Dia tersenyum sendiri.

Jessica menatap penuh kerinduan pada pasangan kekasih itu. Tatapannya tak mengerikan, terlihat ingin tahu. Ia tertarik dengan bagaimana tubuh mereka terlihat serasi sangat sempurna satu sama lain.

Seperti potongan puzzle. Ia mengangguk, lalu kembali tersenyum.

Taeyeon tidur tengkurap dengan satu lengan dibawah kepalanya, sementara yang lain melingkar sempurna di pinggang Tiffany yang berbaring miring membelakangi Taeyeon, mencengkram sedikit selimut yang membalut tubuhnya. Taeyeon menarik nafas dalam sebelum membiarkannya pergi sambil menghela nafas, berguling kesisinya. Ia dengan malas melingkarkan kedua lengannya sempurna dipinggang Tiffany saat ia bergeser. Jessica mengintip dari balik punggungnya saat melihat Tiffany mengerutkan kening dan bergeser dari balik selimutnya. Dengan cepat ia merespon pelukan yang diinginkannya.

“TaeTae-ah..” Rengeknya, suaranya lembut. “Apa kau kedinginan ??”

“Hng.” Rengeknya lagi.

“Sini..” Terdengar suara gemericik dari balik selimut. “Mendekat padaku… lebih baik ??”

Tiffany mendesah puas, “Mmmhh…”

Jessica sudah berada didepan pintu sebelum ia berbalik untuk menatap sekali lagi pada sejoli yang terkunci dalam pelukan masing-masing. Ia tersipu malu melihat tindakan kecil wujud cinta mereka. Tapi Jessica tak dapat menahannya. Ini hampir sedekat yang pernah ia alami. Dia akan berbohong jika ia mengatakan dia tak merasa iri pada mereka. Sangat memalukan untuk mengakui betapa ia ingin memiliki apa yang mereka miliki. Berapa lama ia merindukan seseorang untuk memeluknya, dan bagaimana Taeyeon memeluk Tiffany dengan lengannya dibawah kepala Tiffany, sedangkan tangannya membelai lembut rambutnya. Sementara Tiffany mencengkram erat kemeja Taeyeon, memelukny begitu dekat seolah-olah mereka adalah satu kesatuan. Itu membuatnya sedih bahwa ia merindukan seseorang untuk melihat padanya seperti cara mereka saling memandang. Berada disana untuknya saat teman-temannya melengkapi satu sama lain. Itu menyedihkan bahwa ia ditakdirkan untuk takkan pernah mengakuinya.

Akan sangat memalukan jika orang lain tahu betapa sakitnya aku.

Perasaan aneh tumbuh didadanya. Pikirannya sendiri mengejutkannya. Dia berhenti sejenak lalu menggelengkan kepala. Menatap mereka takkan membuat situasinya lebih baik.

Apapun situasi yang mungkin…

“Saranghae… Fanny-ah…” Taeyeon bergumam di kening Tiffany. Kata-kata itu membuat Jessica bergidik.

“Na do Saranghae Taemgoo…” dan bibir Tiffany berpaut pada bibir Taeyeon, hal itu lantas membuat air mata Jessica terjatuh.

Jessica bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menyeka air mata dari pipinya. Dia sangat pintar dalam mengendalikan perasaannya selama bertahun-tahun, namun terkadang semua seolah ingin melesak keluar begitu saja dari tubuhnya.

Sebuah ketukan lembut dari pintu membuatnya kembali bangkit berdiri dan terbangun dari tidurnya.

Ia tak menyangka siapa yang menganggunya malam-malam begini.

“Mengapa kau disini ??” Jessica merasa tubuhnya menegang, ia mendadak menyadari bahwa ucapannya terdengar lebih seperti tuduhan daripada pertanyaan normal.

Ia merasa lega saat Hyoyeon tampak tak menyadarinya. “Keadaan.”

Jessica melayangkan pandangan matanya pada Hyoyeon, mendapati koper di tangannya. Ia lantas tahu apa maksudnya, namun ia tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. “Kau ingin berbagi kamar dengan ku ??” Sekarang pertanyaannya lebih terdengar seperti pernyataan.

Hyoyeon tetap santai, kepalanya menunduk dengan tas ransel tersandang di bahunya. Seringai kecil tergurat di wajah Jessica saat matanya mendapati tali berwarna ungu.

Ia masih mengingatnya.

“Semua ruangan sudah penuh dan mereka sudah letih berpindah-pindah.” Mata mereka akhirnya bertemu. Kata-katanya terhenti sejenak sambil bertanya-tanya sudah berapa lama sejak ia memiliki kesempatan untuk menatap bola mata kecoklatan itu. “Aku tak ingin menganggu mereka lagi.” Sorot mata yang dulu bersinar dan lembut kini menjadi gelap dan sedih. “Jika kau ingin aku pergi, maka aku—…”

Jessica menggelengkan kepalanya lalu melangkah kesamping. “Silahkan…”

“Terimakasih Jessica…”

Desahan hening meluncur dari bibir Jessica saat ia berjalan menuju kasur besar dan acak-acakan itu.

Ia tak pernnah mengatakan hal itu lagi.

“Maaf jika aku membangunkanmu.” Gumamnya, suaranya terdengar lelah.

Jessica merangkak dari bawah selimut lalu menariknya sampai menutupi wajahnya. “Tak apa-apa, jika kau kedinginan tidur di dekat jendela, kita bisa bertukar.”

“Jangan khawatirkan aku.” Hyoeon meletakkan tasnya di dekat kaki kasurnya lalu merebahkan tubuhnya sebelum memejamkan kedua matanya. “Aku baik-baik saja.” Ia menghela nafas dalam, “Kau bahkan takkan tahu jika aku berada disini.”

*

“Hyoyeon !! Kesini…” Jessica melambaikan tangan diatas kepalanya untuk memanggil gadis kecil yang akan memasuki bis.

Hyoyeon merasakan wajahnya memanas, namun dengan cepat mengguncang perasaannya, sesuatu yang ia pelajari kemarin setelah tiba dirumah dan mengingat kejadian saat pertemuan pertama mereka, bahkan sampai sekarang kejadian itu terus berputar di kepalanya dan dia benar-benar yakin ia takkan pernah bisa melupakannya.

Ia tak mau menakuti gadis yang dapat dengan mudah berteman dengannya. Ia tak ingin bertingkah aneh dihadapannya.

Hyoyeon datang menghampirinya dan mengambil tempat duduk disampingnya. “Siang…”Jessica tersenyum, matanya bercahaya dibawah sinar matahari.

“Hai..” Hyoyeon menelan ludahnya sambil menyelipkan beberapa helai rambut dibelakang telinganya. “Kau menaiki bis ini juga ??”

“Mmmhh…” Dia mengangguk, jarinya memilin-milin tali dipangkuannya. “Kurasa.. kita akan lebih sering bertemu satu sama lain.”

“Yeah…” Ia memikirkan kata-kata selanjutnya. “A—Aku senang sekali..”

“Aku juga.” Kata-kata itu meluncur dengan mudah dari mulut Jessica. Hyoyeon melihat gadis itu membuka ikatan rambutnya yang tersanggul ketat.

“Kau penari balet ??”

“Hmm.. ??” Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit, kedua mata mereka kembali bertemu.

“Maksudku… kau suka balet ??”

Jessica mengagkat bahunya. “Tak apa, aku hanya sangat menyukai dance. Sesuatu tentang membiarkan tubuhku bergerak dan melakukan apapun yang ia inginkan seirama dengan musik yang membuatku merasa hidup, kau tahu ??”Jessica memutup mulutnya sambil tertawa renyah, “Apa yang barusaja kukatakan, tentusaja kau mengerti.” Jessica mengangguk, “Kau penari yang sangat hebat.”

“Uh, Um… terima—… terimakasih..” Hyoyeon tersepu malu, ia tak dapat menatap Jessica lebih lama.

“Aku serius.” Tatapan Jessica melembut. “Siapapun yang tak sependapat denganku pasti dia idiot.”

Selama perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Mereka datang ke tempat latihan seperti biasa dan memasuki gedung. Hyoyeon berbalik pada gadis yang berjalan dibelakangnya untuk menghentikan langkahnya.

Jessica menggelengkan kepala, “Aku akan mengantarmu kedalam.”

“Tidak perlu, kau mungkin akan terlambat.”

“Aku masih punya waktu luang, disamping itu, kita berada di lantai yang sama.” Jessica melanjutkan langkahnya. “Aku lebih tua darimu, jadi aku harus memastikan kau masuk kesana dengan selamat, mengerti ??”

Hyoyeon mendesah kecil dan mengikutinya dari belakang, seungging senyum simpul mengembang diwajahnya. Ia yakin Jessica tak sedang menunggu jawaban darinya, lagipula ia juga tak ingin menjawabnya.

Terdapat beberapa gadis lain saat mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut. Jessica tak memeperdulikan mereka, sedangkan Hyoyeon menundukkan kepalanya, menghitung jajaran kayu yang tersusun dilantai saat dia berjalan ke sudut ruangan, berharap gadis-gadis itu terlalu sibuk untuk memperhatikannya. Tapi tidak.

“Lihat… sepertinya kita mendapat gadis Amerika bodoh lainnya.”

“Mwo ??” Jessica berbalik pada kedua tumitnya, matanya menatap dingin pada seorang gadis yang ia duga sebagai leader mereka. “Tak apa, kita tak mengatakan apapun tentangmu atapun ‘namjachingu’mu.” Ia terkikik, berpaling pada temannya. Jessica melirik Hyoyeon sekilas lalu kembali menatap mereka.

Jessica membentak sebelum gadis tinggi itu memiliki kesempatan untuk mengelak Jessica berada tepat dihadapannya dengan kedua telapak tangannya mengepal. “Minta maaf !!”

Gadis itu tersentak kaget, Ia membuka mulut untuk berkata, tapi dihentikan oleh gadis pendek dibelakangnya saat Jesscia melangkah mendekat.

“Jangan lakukan itu.” Gadis pendek itu berseru pada leadernya. “Jika kita terlibat masalah lagi, mereka takkan membiarkan kita bebas.” Gadis pengganggu itu berbalik menjauh dari Jessica. “Sorry..

“Katakan itu padanya.” Ucapan Jessica benar-benar cepat dan tajam seperti mata pisau.

Gadis itu berbalik pada Hyoyeon sambil mendesah dan membungkuk. “Mianhae Hyoyeon…”

Hyoyeon membeku dengan sikap mereka, ia hanya dapat mengangguk sebagai jawaban.

“Kembalikan uang yang kau ambil darinya kemarin.”

Hyoyeon menepuk pundak Jessica, “Tak apa, mereka tidak—..”

Jessica meraih lengan Hyoyeon dengan lembut sambil melirik sekilas padanya, lalu ia kembali manatap dingin gadis pengaggu itu. “Kembalikan uangnya.”

Gadis itu mengangguk lalu dengan cepat mengambil beberapa lembar won dari dompetnya. Ia tak berfikir untuk menghitungnya dulu sebelum menyerahkannya pada Hyoyeon.

Hyoyeon juga tak memperhatikannya, Ia sedang sibuk menikmati kehangatan dari telapak tangan Jessica. Jantungnya berdetak kencang saat sebuah pikiran merasuki kepalanya.

Mengapa aku jadi seperti ini ??

Hari ini, Kemarin, Apakah ini rasanya jika mempunyai seorang sahabat ??

Apakah seperti ini rasanya ??

Jessica melepaskan tangan Hyoyeon dan menjawilnya pundaknya dengan lembut.

“Kamsahamnida.” Hyoyeon membungkuk saat itu juga.

“Cheomannayo…” Gadis penganggu itu menjawab sambil tersipu malu dengan tingkahnya. Matanya menatap Hyoyeon kemudian Jessica sebelum melangkah menuju teman-temannya. Entah mengapa, Hyoyeon merasa dia takkan terjebak dalam masalah lagi.

“Aku harus pergi latihan, ku tunggu kau di halte bus ??”

“Hm ?” Hyoyeon mengagkat kepalanya dari lembaran uang di genggamannya. “Yeah !!” Suaranya mengecil. “Terimakasih atas…. Um… ini…”

Jessica menggelengkan kepalanya, “Jangan khawatir, Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa kita ini berteman.” Ia membereskan barang-barangnya. “Aku lebih tua, jadi aku berkewajiban untuk melindungimu.” Ia tersenyum saat mencapai pinggir pintu. “Tak perduli apapun.”

-TBC-

Iklan

54 thoughts on “LOVE IS HARD Part 14”

  1. Taeny tak trpisahkan tetep 😉 kkk
    Jessica wktu abg aja udah nakutin pa lg skrang ice glarenya mkin bkin beku err #plak (“^_^)v Peace..
    Sprtinya hyo jtuh cnta pda pndangan prtma sma sica nih 🙂
    Duo maknae smoga cepat selesai prmslahnya 😀

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s