Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Love in 49 Days [Chapter 1]

“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.

SEOUL 9detik.com – Salah seorang mahasiswi Semester 6 dari sebuah Universitas negeri di Seoul, (07/3/2012), telah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menyayat urat nadi lengan kirinya menggunakan silet. Beruntung, nyawanya berhasil diselamatkan oleh pihak medis setempat. Mahasiswi tersebut bernama Kim Taeyeon, berusia 24 tahun, warga Jeonrado Jeonju.

Aksi nekat tersebut ia lakukan di kamar mandi universitasnya saat jam pelajaran tengah berlangsung. Beruntungnya, ada mahsiswi lain yang mendapati korban, pingsan dengan pergelangan tangan berlumuran darah.

Ia akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit terdekat dengan bantuan dosen dan beberapa mahasiswa lainnya untuk mendapatkan perawatan medis. Pihak Univeritas juga langsung menghubungi keluarga dan kerabat terdekat korban atas kejadian ini. Belum diketahui secara pasti, apa motif gadis itu melakukan aksi nekat tersebut. Pihaknya mengaku, korban sering terlihat melamun dan tampak murung beberapa hari terakhir.

Berdasarkan keterangan dari beberapa saksi, sebelum melakukan aksi nekat tersebut, Taeyeon sempat meminta izin pada dosen kelasnya untuk pergi ke kamar kecil. Namun, selang beberapa saat, korban tak kunjung kembali ke kelas hingga terdengar kabar ia mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi di lengan kirinya menggunakan silet. Berdasarkan informasi dari sejumlah pihak, korban memang dikenal pribadi yang pendiam dan tertutup setelah mendapat masalah dengan kekasihnya.

Praktisi Psikologi Universitas Seoul, Kang Minho, merasa prihatin atas maraknya percobaan bunuh diri yang tengah terjadi di kalangan masyarakat. Ia menilai, tindakan tersebut disebabkan karena mental pelaku yang kurang matang dalam menghadapi tantangan hidup.


A
uthor    : Mutiara Triastuti
Editor     : Syatiul Inayah
T
itle      :Love In 49days
G
enre    : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance
Cast        : Taeny, Yulsic, YoonHyun.
C
hapter : Undecided.

-LockTI SASmith

Love In 49days

Author POV

Bayangkan taengoo kayak gin dah

Bip… Bip…Bip….

Detak suara mesin Electro Cardiographyang berada diatas meja putih itu menggema di seluruh ruangan. Berpuluh-puluh kabel kecil melilit ditubuhnya. Hidungnya disumpal selang yang terhubung langsung dengan tabung berwarna biru disudut ruangan. Kedua matanya terpejam erat. Hembus nafasnya tak beraturan. Cairan berwarna merah kental itu masih berlumuran disekitar pergelangan tangan kirinya. Kulitnya yang putih kian memucat. Bibirnya sudah mulai membiru.

Seorang gadis terbaring lemah disalah satu kamar Unit Gawat Darurat. Tubuhnya sudah melemas. Nyawanya sudah diambang batas, selang infus yang terpasang di lengan kirinya masih belum sanggup menyelamatkan hidupnya yang sudah diujung tanduk. Ia kehilangan banyak darah, pasukan berseragam putih dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya itu bergegas memasang selang infus baru di pergelangan kirinya.

Tiiiiiiiiiiiiiitt…

Untuk kesekian kalinya alat pemacu detak jantung itu dihentakkan tepat di dadanya saat garis merah pada layar mesin Electro Cardiographitu bergerak tak beraturan, semakin menurun. Suara dengungan itu memantul-mantul pada dinding yang berwarna putih polos.

Kekhawatiran kian tergambar jelas di raut wajahnya, peluh tak hentinya menetes dari pelipisnya. “Tak ada reaksi dari pasien”

Dokter berusaha untuk tidak terlihat panik, Ia kembali menggosok-gosokkan alat pacu itu dan menambah daya sebesar 200 Voltase. Pilar-pilar besi beraliran listrik itu kembali dihentakkan di atas dada gadis yang sedang terbaring lemah tersebut.

…Tiiiiiiiiiiiiitt…

Sayang, takdir berkata lain. Nyawanya tak dapat lagi tertolong. Dokter tampak sudah putus asa dan menggelengkan kepalanya. Ia mengisyaratkan suster untuk mengurus jenazah gadis itu.

Ia mengangguk mengerti, diliriknya jam yang menggantung didinding lalu menuliskan angka 08:55 dalam selembar formulir yang sudah disediakan.

“Coba hubungi keluarga dari pasien ini secepatnya.” Dokter itu melepas sarung tangan dan maskernya, ia mengalungkan stetoskop kembali di lehernya lalu berjalan keluar kamar.

Saat tangan cekatan suster  dengan perlahan melepaskan kabel-kabel yang melekat di tubuh gadis itu, ia dikejutkan oleh suara detakan yang berasal dari mesin ECG atau Electro Cardiographyang hendak dilepaskannya.

..Tiitt…Tiiitt…Tiiitt…Tiittt….Ttiitt..

Garis merah yang tampak pada layar mesin tersebut kini bergerak naik turun, perlahan tapi seirama. Suster itu terkejut, lalu berlari keluar ruangan. Meninggalkan tubuh gadis itu kini sediri. Sebuah keajaiban menghampirinya, tanpa sepengetahuan seorangpun, sebuah cahaya menghampirinya. Matanya masih terpejam saat cahaya itu merasuk menembus dadanya. Seluruh ruangan itu mendadak berubah gelap, lalu perlahan pancaran cahaya mulai muncul dari tubuh gadis itu. Ia bersinar, layaknya matahari pagi yang mencerahkan. Sekilas, lalu kembali padam.

Ia kembali bernafas, hembusnya tenang saat seorang dokter berlari memasuki ruangan itu diikuti oleh suster dibelakangnya. Ia bergegas mengecek kondisinya sebelum akirnya tersenyum lega. “Ia kembali hidup, sungguh sebuah keajaiban.” Sekali lagi, Dokter memeriksa detak jantung gadis itu menggunakan stetoskop yang dikalungkan di lehernya. “Pasang kembali jarum infus dan selang oksigen.” Intruksi  sang Dokter sebelum menuliskan kondisi terbaru gadis tersebut.

Sebuah cahaya yang kasat mata, perlahan keluar dari tubuhnya. Ia bergerak, berdiri dan bangkit. Parasnya sungguh menyerupai gadis itu. Ia berjalan perlahan, tanpa terasa tubuhnya menembus suster yang berdiri tak jauh darinya. Ia mengerjapkan mata, berdiri ling-lung sambil mencoba mengembalikan pikirannya. Matanya mengitari seluruh ruangan itu, alisnya berkerut saat mendapati dirinya sendiri tengah terbaring lemah dan ditemani oleh seorang dokter dan suster. Pandangannya berhenti tepat pada sebuah cermin yang tergantung di ujung ruangan. Ia berjalan mendekat pada cermin itu, Ia menyerngit begitu merasa ada keganjilan pada dirinya. Matanya melebar saat ia tak mendapati pantulan dirinya sendiri dalam cermin tersebut, matanya mengerlip-ngerlip. Ia menatap kedua telapak tangannya, tubuhnya transparan. Tubuhnya tersentak saat ia tak mendapati bayangan dirinya pada tempatnya berpijak.

 “Apa aku sudah mati???”

 

Taeyeon POV

Kulihat tubuhku terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, dengan selang oksigen yang membantuku bernafas, dan alat infus yang terpasang di pergelangan tangan kiriku, juga sebuah mesin dan puluhan kabel yang terpasang di tubuhku. Aku menyesal mengapa aku tak menyayat tanganku lebih dalam agar aku benar-benar mati, Sekarang aku hanyalah sesosok arwah, roh yang tak tau akan kelanjutan hidupnya, apakah tubuhku mampu bertahan ataukah tidak, kuharap tidak, karena aku tak ingin hidup lebih lama, apa gunanya hidup jika hanya rasa sakit yang nantinya akan kudapatkan.

Apa gunanya aku bangun, jika nanti ketika aku membuka kedua mataku aku hanya akan mendapati kekasihku bersama gadis lain. Apa yang salah dengan diriku, apa kurangnya aku padanya. Sehingga Jessica lebih memilih sahabatku Kwon Yuri ketimbang diriku ?? Mereka bercumbu layaknya sepasang kekasih dibelakangku.

Apa arti sebuah ciuman di bibir ?? Seorang sahabat dekatpun takkan melakukan hal itu. Tapi mereka melakukannya, mereka melakukan hal hina itu saat mereka mengira aku tak melihatnya. Tapi aku melihatnya, aku merasakannya. Kau mengatakan bahwa aku ini adalah gadis yang tak punya hati, tapi nyatanya… Aku punya hati, karena sekarang aku merasa hatiku sedang hancur.

Aku sudah melakukan segalanya, merelakan apapun demi dirinya, demi Jessica. Selama 2 tahun ini aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padanya, miriskah hidupku ini ?? Mencintai untuk disakiti ?? Telah kukorbankan seluruh jiwa dan nyawaku demi dirinya, namun apa yang kudapat ?? Hanya menyisakan rasa sakit yang menyayat di hati, goresan luka yang takkan mengering. Jika aku dapat memilih, aku lebih memilih untuk tak mendapatimu malam itu, biarlah aku hidup berkalung kebohongan belaka, bahkan jika aku harus bermain dalam sebuah opera, asal luka ini tak tertorehkan, asal sakit ini tak kurasakan, meskipun cintaku harus dibayar dengan dusta.

Apakah mencintai seseorang haruslah sesakit ini ?? Apakah definisi cinta itu hanya ungkapkan perasaan semu yang menggebu namun menyisakan luka pada akhirnya ?? Ataukah sepasang insan yang menggambarkan perasaan mereka dengan bentuk heart ?? Cinta itu kejam, tak ada kata cinta yang tak berakhir duka. Cinta itu menyakitkan, tak perduli itu benar atau salah.

Dari sudut ruangan, kulihat dokter itu perlahan menghampiriku, memeriksa detak jantungku menggunakan stetoskop dilehernya lalu memeriksa denyut nadi pada pergelangan tanganku. “Kondisinya masih sangat lemah..” Ia mengecek sekali lagi selang infus dan mesin yang dari tadi tak berhenti berdetak diatas meja.

Semua orang menoleh saat terdengar suara pintu kamar dibuka, awalnya aku tak begitu memperdulikannya. Namun, aku mengubah kembali pikiranku saat kulihat Yuri dan Jessica melangkah memasuki ruangan. Aku menahan nafas dan amarah saat mereka semakin mendekat pada tubuhku. Untuk apa mereka kemari ?? Apa perdulinya ?? Bukankah mereka senang jika aku mati ?? Kan mereka bisa melanjutkan hubungan tanpa harus merasa terganggu akan kehadiranku ??

“Semua ini salahku…” Jessica menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya saat dokter dan suster sudah keluar ruangan.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri Sicca-ah…” Ia mengusap kepala Jessica lembut, membuatku muak dan ingin muntah saja melihatnya.

“Semua orang menuduhku sebagai penyebab ia bunuh diri… aku takut Yul…”

‘Cihh…’ Dessisku. Apakah dia sudah sinting ?? Atau memang tak waras ?? Sekarang dia menyudutkanku dan bersikap seolah aku ini gulma yang tak mampu hidup tanpanya ?? Segala tipu daya yang ia tunjukkan tak lagi sanggup membuatku bergeming untuk kembali padanya. Aku tak sudi melihat mereka bermesraan didepan tubuhku. Meskipun mereka mengira aku takkan dapat melihatnya, tapi bisakah setidaknya mereka berpikir untuk mencari tempat yang lebih pantas untuk bermesraan, bukan di depan tubuh mantan pacarnya yang sedang sekarat dan koma ?? Dasar tidak tahu diri.

“Sudah… dia bunuh diri karna kemauannya, kau tak memaksanya untuk bunuh diri kan ?? Jangan menyalahkan dirimu terus-terusan…” Dia dengan tenang menggengam erat kedua tangan Jessica. Rasanya hatiku sudah berapi-api melihatnya, aku ingin segera pergi dari sini. Meskipun aku sakit hati padanya, namun jauh didasar hatiku… aku masih saja memiliki sedikit perasaan untuknya. Semua kenangan itu sulit kulupakan. Jika melihat wajahnya, semua peristiwa yang telah kita lalui seolah berputar kembali dalam kepalaku… Aku ingin menghentikannya dan membuang semuanya, tapi tak bisa…

Luka hatiku semakin dalam dan terkoyak, saat melihat mereka berpelukan, didepan mataku. Meskipun wujudku kini tak lagi sama, namun hati dan perasaanku tetaplah yang dulu, Kim Taeyeon yang rela melakukan apasaja demi kekasihnya Jessica.

Atmosfir seakan berubah, seketika suasana menjadi hening dan sedikit canggung. Aku merasa kikkuk juga, memang kita terbiasa kumpul bertiga seperti ini, tapi sebelum kejadian ini. Sebelum aku tahu mereka memiliki hubungan lebih, sebelum aku melihat ciuman itu tepat didepan kedua mata kepalaku.

“Bagaimana kalau kelak dia sadar ??” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Jessica seolah menusukku. Bagaimana jika aku sadar ?? Kelak ?? Memangnya apa yang akan ia lakukan ?? Meminta maaf padaku ?? Maaf, hatiku sudah terlalu sakit untuk menerima permohonan maafnya.

“Entahlah… kita berdo’a saja demi kebaikannya… semoga kita bisa kembali seperti dulu lagi…” Ne ??? Apa aku gak salah dengar ?? Aku ?? Maksud dia… ?? Bukankah mereka yang membuat persahabatan kita serumit ini ?? Memangnya dia pikir dia siapa ??

“Akankah dia balas dendam pada kita ??”

“Ssshh… Jangan berbicara yang tidak-tidak… Aku tahu siapa Taeyeon dan dia tak mungkin melakukan hal itu.” Ckkhh… Ya… Aku memang takkan melakukan hal hal itu, sekarang…. Meskipun aku terlihat lemah, tapi aku tak bisa membiarkan diriku terus-terusan dipermainkan seperti ini. Aku harus melawan sebelum aku tak lagi mendapat kesempatan…

“Sebaiknya kita pulang, biarkan dulu dia beristirahat.” Yuri menggenggam tangan Jessica dan menariknya keluar. Jessica hanya mengangguk kecil dan melirik sekilas tubuhku yang tergeletak tak berda.

Bagus, kalian memang sangat menggangu ku, kalian tidak hanya menggangu waktu istirahatku tapi hidupku, kalian bukan hanya menggangu tapi sudah menghancurkannya. Menghancurkan hidupku dengan aksi bodoh yang kalian sebut dengan cinta. Cinta, huh ?? Cinta macam apa yang kalian maksud ?? bermesraan disaat kalian mengira aku tak melihatnya ?? Cara yang kalian gunakan terlalu indah. Sahabat dan cinta keduanya memang tak bisa berjalan beriringan. Keduanya hanya berakhir dengan luka. Kita harus memilih salah satunya, satu atau keduanya pada akhirnya akan menyakitkan pula. Terkadang aku berpikir, sepertinya manusia lebih kejam dari pada setan, karena setan tidak akan pernah menyakiti manusia sedang manusai bisa menyakiti sesama manusia.

KREKKK

Aku menoleh saat kudengar pintu terbuka, memangnya siapa lagi yang menjengukku ?? Keluargaku ?? Temanku ?? Aku menyerngit saat kulihat sesosok gadis asing, aku bertanya-tanya siapa dia ?? Apakah mengenalnya ?? Ataukah kita pernah bertemu sebelumnya ?? Ah… kurasa tidak…

Aku tak begitu memperdulikannya, toh untuk apa… Tak ada yang dapat melihatku saat ini. Tapi sosoknya membuatku bertanya-tanya. Untuk apa ia datang kemari jika tak mengenalku ?? Salah masuk kamar ?? Entahlah.. aku hanya mengalihkan pandanganku keluar jendela. Dari sini aku dapat melihat Jessica dan Yuri memasuki mobil. Jika kulihat mereka memang serasi.

Author POV

 “Ah… lebih baik diletakkan di sudut sana saja…” Jessica menunjuk pohon natal yang sudah terhias rapi.

“Aigo Sicca… Mana kelihatan jika diletakkan di ujung… mending ditengah ruangan…” Yuri menggeser kembali pohon itu ke depan.

“Ya !! Kwon Yuri !! Chugullae (note : ingin mati ) ?? Ini rumah kekasihku !! Siapa kau berani-beraninya mengatur seperti itu , huh ??” Jessica berdecak kesal.

“Mwo ?? Taeyeon itu sahabatku dari kecil, kami selalu meletakkan pohon natal di tengah ruangan, dan kau tak dapat megubahnya !!” Ia berkata dengan angkuh.

“Sudah… sudah… lebih baik diletakkan disini saja…” Taeyeon menggeser pohon itu didekat jendela. Tepat diantara tengah ruangan dan sudut ruangan. “Adil kan ??” Ia tersenyum, ia selalu bisa mengalah dan mendamaikan mereka. Jika dilihat-lihat, ia lebih seperti sosok ibu yang mendamaikan kedua anak mereka yang hobi bertengkar. Yuri dan Jessica memang selalu bertengkar jika keduanya dipertemukan, ia juga bertanya-tanya mengapa. Jessica jarang menunjukkan emosinya pada siapapun kecuali dirinya, jika padanya Jessica akan manja dan hangat… Ia selalu melindungi Jessica… lebih seperti seorang Unnie. Tapi jika Jessica sudah bertemu dengan Yuri, ia seolah mengeksplor semua emosinya, keduanya selalu bertengkar. Beradu pendapat atau mempertahankan ego masing-masing. Ia melihat Jessica tampak berbeda jika berada disekitar Yuri, gadis itu seolah nyaman mengeluarkan perasaannya. Biasanya, Jessica lebih memilih diam jika merasa tak nyaman. Begitu juga Yuri, ia biasanya akan mengalah pada orang lain, tapi pada Jessica… ia akan mempertahankan pendapatnya habis-habisan. Mereka berdua seolah menjadi orang lain jika bersama. Entah mengapa Taeyeon justru lebih nyaman melihat mereka seperti itu, setiap hari melerai kedua orang yang disayanginya. Melihat mereka selalu bertengkar, mungkin merupakan hal yang menyenangkan bagi Taeyeon. Melihat sisi lain dari keduanya. Ia masih bertanya-tanya, apakah ia memang hanya menganggap Jessica sebgai adik perempuannya saja ?? Yang perlu ia lindungi ?? Entah… Pikiran rancu itu kian membuatnya bimbang.

Ia tersentak kaget saat medengar sebuah suara yang seolah memanggilnya, ia menoleh.

Taeyeon POV

 “Hello…. Excuse me…” Apa maunya gadis itu ? Aku tak terlalu memperdulikannya, mungkin dia salah lihat atau apalah. Aku kembali mengalihkan pandanganku keluar jendela. Menatap lurus hamparan bunga yang mewarnai aspal hitam disepanjang jalan setapak yang mengitari rumah sakit ini.

“Excus me miss…..”

Ne.. ?? Aku ?? Kualihkan pandanganku sebelum menunjuk diriku sendiri. Kuarahkan pandanganku kekiri dan kekanan, setelah itu mengitari seluruh ruangan. Benar.. tak ada siapapun kecuali tubuhku yang terbaring lemah di kasur. Selain itu, ya hanya ada aku yang berdiri disudut ruangan didekat jendela. Apakah dia berbicara padaku ?? Atau pada tubuhku ?? Apakah gadis cantik ini mengidap penyakit jiwa yang membuatnya berpikiran bodoh untuk menyapa tubuh seseorang diambang perjuangannya antara hidup dan mati.. ditengah sekarat dan koma ?? Sayang sekali… dia terlalu cantik untuk itu.

“Miss… I’ve talked to you !!…” Gadis itu meletakkan kedua tangannya disekitar pinggangnya sambil memasang muka kesal. Sudut matanya tak lagi melengkung melainkan membulat, ujung bibirnya pun sedikit condong kedepan, menandakan ia benar-benar merasa teracuhkan.

“Kau berbicara padaku ??”

Aku kembali mengedarkan pandanganku. Mengerikan.. tak ada siapapun disini, berarti peluang terbesar ya… dia benar-benar sedang berbicara padaku. Tunggu ?? Kalau iya.. berarti dia tidak gila… dan…. Dia… bisa melihatku dalam wujud sesosok ruh ??

 “My name is…”

“Tu—Tunggu ….” Aku ketakutan. Ada dua kemungkinan… pertama, dia seorang manusia yang bisa melihat hal-hal kasat mata semacam alam ghaib dan sebagainya. Kedua, dia bukan manusia. Dan jika dia manusia, untuk apa ia datang kemari ?? Dan kalau benar dia bukan manusia ?? Lalu sosok apakah dia ?? Malaikat penjemput maut ?? Sepengetahuanku, dari cerita-cerita dan takhayul yang sering kudengar, malaikat maut itu berjubah hitam dengan muka suram yang mengerikan.. sedangkan sosok ini, sangat jauh berbeda. Mungkin berbanding terbalik. Ia cantik, dengan kulit cerah dan wajah yang ceria. Ia tak memakai jubah hitam ataupun membawa garpu tala di tangan kanannya. Ia terlalu sempurna untuk menjadi seorang malaikat maut.

“Listen to me, Firstly… I

“Si—siapa kamu ??” Aku semakin merapatkan diriku pada tembok saat ia mulai berjalan mendekat.  “K-kau bisa melihatku ??”

“No, I’m…..”

“Jawab pertanyaanku…” Kunaikkan sedikit nada suaraku. “Menggunakan bahasa Korea.” Aku mulai merasa geram sekaligus takut.

“Ne, Namaku adalah…”

Cap cup cup Author : Annyeong Reader, saya kembali ahahaha#emang q pernah datang? Kayaknya blm dah, saya membawa FF dah, judulnya Love in 49Days??? Sebenarnya ini dapat inpirasi 2 drama dan 1 film yang membahas tentang 49Days, oya Gomawo sangat buat Sasya yang membantu aku merevisi ff ini, karena aku author baru jadi masih banyak kekurangan dah, oya sebenarnya aku ini cma Editor, tapi karena Sasya bilang aku punya sesuatu jadi aku mencoba dah jadi Author, jangan lupa kritik dan sarannya.

Ps. dari Sasya :

Bersabar sedikit ya guys… Sasya lagi mencoba dan berusaha mengeluarkan diri dari kegalauan hati nih… sesegera mungkin sasya akan kembali. Thanks…

Iklan

99 thoughts on “Love in 49 Days [Chapter 1]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s