SNSD, SOSHI FF

A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 5/END]

A LOVE UNDER AN OAK TREE

Author             : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)

Title                 :  A Love Under An Oak Tree

Genre              : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance, Friendship, Comedy.

 Cast                : Yulsic (Mainly) Taeny, YoonHyun.

Chapter           : 5 Chapter.

Warning          : Yuri (Girl X Girl)

 Thanks for those who make this story possible
@aish29ahmad (untuk penjelasan singkatnya [?] tentang Amnesia dan tetek bengeknya ^~^v), @marisaroti, @drarrysasunaru, @PutryLocksmith, View Love SoneFanytastic, Lulu Amanda, PakunHwang Kawaii Pisan
and many more.. thanks for your support.. you know who you are 🙂

Violet || Kim TaeNy Hwang || Morning…

I got you babe, I call, I call it chocolate love

Noreul wonhae, gajilrae ajjil ajjil oh chocolate love

I got you babe, I call, I call it chocolate love

Noreul wonhae, gajilrae dalkom dalkom oh chocolate love

Taeyeon membuka kedua matanya saat terdengar dering yang tak lagi asing baginya. Seujurnya, ia tak ingin meninggalkan dekap hangat yang sedang dinikmatinya, hanya saja ia tak mau gadis yang sedang memeluknya erat itu merasa terganggu dengan lengkingan suara tersebut. Jika ia bisa, ia lebih memilih tinggal disini selamanya. Namun apa daya, cepat atau lambat ia harus kembali sebelum pekerjaannya melayang.

Perlahan, ia mengangkat sepasang lengan yang melingkar sempurna di pinggangnya lalu berjongkok. Tangannya merayap mencari pakaiannya yang tercecer dilantai, setelah semua terkumpul, ia merogoh kedalam saku celana jeansnya. Mengambil sebuah ponsel berwarna perak lalu menekan layarnya. Ia menyerngit saat layar benda itu kembali berledip, ia mendapati beberapa pemberitahuan baru yang muncul 59 Missed Call, 21 New Message, 35 Voice Mail dan semuanya berasal dari Yuri. Ia bertanya-tanya sendiri sebelum memutuskan untuk menghubunginya. Mungkin ada sesuatu yang penting..

Ditekannya speed dial no 3 sebelum mendengar jawaban dari seberang sana. “Yeoboseyo ??” Taeyeon terkejut begitu mendengar respon yang tak biasanya. Yuri berteriak-teriak, menjerit dan menanyakan dimana Tiffany. “Mianhae.. aku meminjam vila tanpa seijinmu, kau boleh menyalahkanku tapi jangan—…” Ia lebih terkejut lagi saat Yuri tiba-tiba saja memotong ucapannya, Ia kukuh menanyakan dimana Tiffany. “Kau bisa mengatakannya padaku…”

“Ada apa ?” Taeyeon tersentak saat mendengar suara yang tak ia harapkan. Dia menoleh dan melihat sesosok figure mulus tanpa berbalut benang sehelaipun berdiri tepat dibelakangnya. Sontak ia berdiri.

Anio… Um… Ini…” Taeyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya mengitari seluruh ruangan saat ia mendapati tatapan penuh tanya dari gadis dihadapannya. “Yu—..” Ia masih ragu, Ia tak mau jika nanti Yuri akan memarahi Tiffany, ataukah Ia masih takut jikalau gadis itu ternyata menaruh hati pada kekasihnya, perasaan sama yang seperti ia rasakan dulu. Entahlah, ia sendiri masih ragu…

“Yu ??” Alisnya berkerut.

“Yuri….” Taeyeon memainkan ponsel ditangannya sambil merunduk. Tiffany mulai memahami sikap Taeyeon, perlahan ia mendekatinya, meraup dagunya dan hal itu membuat Taeyeon terpaksa harus menatapnya. “Dia.. ingin….”

“YA !!! KIM TAEYEOOONN !!! CEPAT BERIKAN PONSELNYA PADA TIFFANYYY !!” Terdengar suara melengking yang berasal dari ponsel di tagan Taeyeon. Ponsel itu masih berelap-kelip. Yuri berteriak sekencang-kencangnya hingga suaranya terdengar sampai telinga Tiffany.

“Mwo ??” Tiffany menunjuk dirinya sendiri. “Na ??”

Dengan terpaksa Taeyeon mengulurkan ponselnya pada Tiffany, gadis brunette itu lalu meletakkan ponsel tersebut pada telinga kirinya. “Ne ??” Suaranya masih serak. “MWO ??” Ia tersentak kaget, lalu mengangguk-angguk. “Ne.. Aku akan segera kesana..” Matanya mengitari seluruh ruangan. Ia menatap Taeyeon sejenak sebelum mengembalikan ponsel itu padanya.

“Apa yang terjadi ??”

Tiffany hanya menggelengkan kepala lalu secepat kilat menyambar pakaiannya yang berceceran dilantai. “Mianhae… Aku harus segera pergi…” Ia berkata sembari sibuk mengenakan gaun baby pink nya.

“Wae ??” Taeyeon menundukkan kepalanya, bermain-main dengan sepatunya. Wajahnya tampak sedih dan kecewa. Ia masih ingin bersamanya lebih lama.

Tiffany menangkap ekspresi Taeyeon sekilas, Ia merangkulnya lembut dan membelai rambutnya. “Jangan sedih… Aku akan segera kembali…” Ia menggenggam kedua tangannya. “Aku janji…” Diraupnya dagu gadis mungil itu hingga wajah mereka kian dekat, awalnya hanya hidung yang bersinggungan, perlahan sepasang bibir itu saling berpagut.

“Janji ??”

Ia tersenyum, matanya pun ikut tersenyum. “Pasti…”

Taeyeon masih saja ragu, Ia tak ingin melepaskannya, ataupun kehilangannya. Baginya, berada disamping Tiffany adalah hal yang paling penting dari segalanya. Ia menyerngit begitu melihat gadis brunette itu berjalan menjauh. “Tunggu..”

Tiffany berbalik menatapnya, “Ne ??”

“Um…..” Sorot matanya penuh pengharapan, layaknya anak anjing meminta sepotong tulang. “Boleh aku menemanimu ??”

Tiffany berhenti sejenak, tampak berpikir keras. “Kumohon….” Taeyeon kembali merajuk.

Royale || TaeNy YulSic || Tell Me…

Bunyi Bip itu berulang kali terdengar menggema di telinganya, sedikit banyak hal itu cukup mengganggunya. Ia menggigiti sudut bibirnya, wajahnya tampak cemas. Sebelah tangannya menggenggam telapak kecil yang dihubungkan dengan selang bening dan jarum kecil yang menancap di punggung tangannya. Sebelahnya lagi, sedang memainkan ponselnya, memutarnya dengan cepat menggunakan ujung jari telunjuknya. Ia tak habis pikir, mengapa benda itu tak berdering, tak berkelap-kelip, tak bergetar, tak melakukan apapun. Hannya terdengar suara decakan yang berasal dari ujung kukunya yang dicat ungu.

Ia kembali menyipitkan mata, menatap jam dinding berbentuk bundar yang berdetak seirama dengan hembus nafasnya. Ia kembali mendesis, otot-otot kepalanya mulai menegang. Mungkin akan segera meledak.

Tatapannya kembali melembut saat ia merasakan tangan kecil itu perlahan mulai bergerak. Matanya menatap lekat gadis yang sedang gelisah itu, menelusurinya dengan tatapan cemas.

Peluh membanjiri pelipis Jessica, tidurnya tak lagi tenang. Tak sedamai beberapa detik yang lalu. Kepalanya bergerak kekiri dan kekanan dengan mata terpejam. Pikirannya rancu, kepingan-kepingan kenagan itu berputar dan terus berputar, tampak-hilang, muncul-pudar. Semua datang seolah menghantuinya, berbisik padanya tentang nyanyian pengantar tidur, yang akan melenyapkanmu kedalam kegelapan. Masa lalu yang tak pernah hilang, hanya bersembunyi dibalik awan gelap. Suatu ketika ia akan muncul kembali, mengganggu kehidupannya. Kehidupan yang ia rindukan, namun tak pernah dimilikinya.

[Flashback]

“Anio Umma…” Gadis bergaun putih itu kembali merajuk. Ada sesuatu hal yang membuatnya ingin tetap tinggal.

“Kita harus pergi…”Wanita separuh baya itu berusaha meraih lengan anak perempuannya yang masih kukuh ingin tinggal.

“Anio.. aku senang disini… mengapa kita harus pergi ??” Bajunya kini semakin basah terkena tetesan air mata yang sedari tadi tak mau berhenti keluar.

“SooYeon-ah… suatu saat kamu pasti mengerti..”

Gadis kecil itu tetap tak menghiraukan perkataannya, ia justru berlari menjauh. Menebobos ilalang yang menghalau pandangannya dan rerumputan yang menghalangi jalan setapak. Dengan kaki kecilnya, ia berlari secepat yang ia bisa. Telapak tangan yang sudah mulai mendingin dan membiru, tak hentinya melenggang kekiri dan kekanan menyibak beberapa dedaunan panjang yang mengaggu penglihatannya.

Ia tersenyum manis saat melihat beberapa pepohonan yang sudah tampak tak asing lagi. Diraihnya sebuah ranting kering yang ia gunakan untuk menunjuk jalan pulang sebelumnya. Ia mengangkat kepalanya keatas, mengintip dari balik pilar-pilar kayu jati yang tersusun rapi di salah satu dahan pohonnya. Tak tampak kehidupan disana, hanya beberapa ranting dan daun yang berserakan.

Tanpa pikir panjang, ia terus berjalan. Tak perduli kaki kecilnya harus tertatih menapaki jalan setapak penuh kerikil dan bebatuan. Nyeri kecil di bagian tumit tak ia hiraukan. Gaun tipisnya melambai diterpa udara pagi. Embun masih basah, terasa lembab di telapak kaki dan tangannya. Ia merapatkan bagian-bagian gaunnya yang sedikit terbuka, namun tetap saja ia masih merasa kedinginan, tubuh mungilnya menggiggil saat embus angin menerpa wajahnya yang kian memucat. Buku-buku jarinya semakin mengeras, semburat kemerahan kini tak lagi tampak.

Ia memegangi kepalanya saat rasa sakit itu kembali menerjang. Tanah yang ditapakinya tak lagi seimbang. Ia jatuh tersimpuh, menggunakan kedua telapak tangan dan lututnya sebagai tumpuan. Kepalanya menunduk dalam, tangannya mencoba meraih rating yang tadi jatuh. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pundaknya, ia mengangkat kepalanya perlahan. Gadis bercardigan itu kembali menghampirinya, mengulurkan tangannya untuk memberi pertolongan. Gadis itu mengumbar senyum hambar. Mencoba menahan rasa nyeri dikepalanya yang kian menjalar.

Perlahan ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersimpan. Senyumnya perlahan memudar saat ia merasakan cairan kental dan anyir merasuk kedalam mulutnya. Mendadak, rasa asin bercampur sensasi serbuk besi itu menyapa ujung lidahnya. Ia menyeka dan menemukan cairan merah kental tergambar di punggung tangannya. Ia tersentak, mencari sesuatu untuk menghentikan cairan tersebut.

Gadis bercardigan itu tampak panik, ia merogoh saku celana jeansnya dan menarik selembar kain kecil berwarna cream lalu menyingkirkan tangan gadis bergaun putih itu dari hidungnya. Ia menyeka sedikit demi sedikit darah yang mengalir hingga bercak kemerahan itu kini tertinggal di sapu tangannya.

Gadis bercardigan itu ikut tersenyum saat mendapati gadis didepannya tersenyum. “Kau baik-baik saja, Princess ??” Ia mendengus lega saat gadis itu mengagguk sebagai jawaban. “Katamu kau akan pergi ??”

Kali ini ia menggeleng, “Anio… Aku tak ingin pergi dari sini, seobang…

“Bukankah sudah kubilang, mungkin kedua orang tuamu punya alasan kuat untuk itu.”

“Entahlah… Aku hanya merasa… aku telah menjadi bagian dari sini, bagian dari pohon ini…… dan bagian darimu..” Senyumnya tulus. Tak tampak kebohongan dari sorot matanya dan pancaran wajahnya.

“Baiklah…” Ia mengangguk tanpa melepas sapu tangan dari hidung gadis bergaun putih itu.

Mereka berbagi senyuman, sedikit hawa dingin yang dibumbu dengan sensasi panas di kedua pipi mereka telah berhasil menggoreskan semburat kemerahan yang mewarnai sepasang wajah oriental itu.

Wajahnya yang pucat kini tampak berwarna dan terasa lebih hidup. Pancaran mata coklat itu tak lagi menggambarkan rasa sakit, melainkan mencerminkan perasaan yang meluap. Sudut bibirnya kembali melengkung naik, seirama dengan sang fajar yang terus berjalan merangkak mengejar awan.

Mendadak, awan putih diatasnya berubah menjadi monster yang hendak menerkamnya dan melahapnya bulat-bulat. Tanah tempatnya berpijak seolah bergoyang hebat, melarangnya untuk berlari menjauh. Pohon-pohon raksasa disekitarnya kini bersuara. Berseru bersahut-sahutan.. menghalau dirinya untuk berlari. Namun ia tak bisa, tangan dan kakinya seakan terpaku, pandangannya mendadak kabur. Tubuhmya kini tak lagi seimbang. Tak lama kemudian ia ambruk, kedalam dekap hangat gadis didepannya. Tepat pada saat yang sama, sebuah suara melengking memecah horizon. Saat itulah, ia tahu, cepat atau lambat, ia harus melepasnya pergi.

“SOOYEOOOONNNNN !!!”

***

“Itu biasa disebut dengan Retrograde Amnesia atau Diasosiatif. Ia tidak dapat mengingat masa kecilnya, dan tiap kali ia melihat atau merasakan sesuatu yang berhubungan erat dengan masa sabelum ia menjalani opreasi, ia perlahan akan mengingatnya. Seperti kejadian flashback dan itupun berlangsung sangat singkat karena ia masih terlampau kecil. Masa lalunya yang berhubungan dengan kejadian sekarang akan mengkonstruksi masa depan. Dan hal tersebut akan membuatnya mengingat kembali masa itu melalui mimpi, ingatan acak secara tiba-tiba, ataupun ilusi dan khayalan yang seakan nyata.”

“Tapi kau bilang operasi pengangkatan itu aman dan resikonya pun tak lebih dari 30%.”

“Aku menyesal, kami sedikit terlambat. Tumor yang ada dikepalanya telah menjalar didaerah Talamus dan Temporal. Bagian yang sangat rawan terkena Amnesia saat operasi.”

“Apakah hal itu masih bisa disembuhkan, Dok ?? Mungkinkah satu saat ia dapat mengingatnya kembali ??”

“Kami masih ragu, karena setelah operasi pengangkatan tersebut selesai, pasien sempat mengalami pendarahan pada salah satu pembuluh darah di otaknya. Kemungkinan besar, hal itu akan menimbulkan rasa sakit saat kontraksi itu terjadi sewaktu-waktu.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan saat hal itu terjadi ??”

“Untuk sementara ini, akan kuberi obat penghilang rasa nyeri. Dan kusarankan kalian untuk tidak memaksanya mengingat kembali masa lalunya atau melihat sesuatu hal yang berhubungan erat dengan masa kecilnya. Karena hal itu akan menimbulkan kontraksi yang akan membawanya pada rasa sakit berkepanjangan.”

***

Kedua gadis itu sedang duduk berhadapan sambil mendengarkan penjelasan Tiffany secara intensif.

“Jadi, kau mengenal Jessica sejak kecil..” Yuri mengutarakan kata pertamanya sejak Tiffany mulai menjelaskan.

Gadis brunette itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia ingin menjelaskan bagaimana semuanya terjadi, hanya saja ia takut hal itu akan melukai hati Taeyeon. Ia tak bermaksud menutupi semua itu.

“Ceritakan bagaimana kalian bertemu…” Yuri semakin mendesaknya.

Ia tak tahu lagi harus bagaimana, jika ia tak menceritakannya, kedua gadis ini pasti akan terus mendesaknya. Jika ia menceritakannya, akankah semua masih pada posisi semula ??

“Kumohon…” Yuri begitu penasaran, ada sesuatu yang mendorongnya. Entah mengapa ia bisa begitu yakin jika Jessica pernah menjadi bagian dari masa lalunya.

Dengan ragu, gadis berambut kecoklatan itu menyetujuinya. cepat atau lambat semua pasti akan terungkap…

[Flashback]

“Daddy…” Gadis kecil bersepatu merah muda itu bersembunyi dibalik seorang pria berpawakan besar dengan jubah putih dan masker hijau yang menutupi sebagian diwajahnya.

“Tunggu sebentar Honey.. Daddy masih menangani pasien…”Ia mencoba melepaskan cengkraman gadis kecil itu dari belakang jubahnya. Namun, gadis kecil itu tetap bersikukuh pada pendiriannya.

“Aku ingin bermain bersama Daddy…”

“Tunggu disini dulu… Daddy akan segera kembali.”

Ia  menrut begitu saja, kemudian duduk disebuah bangku panjang berwarna biru. Tangannya sibuk bermain-main dengan dua buah boneka dalam genggamannya. Perhatiannya terpecah saat ia mendengar keributan kecil di depan kamar bernomor 202.

Mereka sedang beradu mulut mengenai sesuatu hal yang tak ia mengerti. Kapasitas pemikiran bocah seusianya hanya seujung kuku.

“Kurasa kita harus menetap disini.” Sang Pria berkata dengan tegas.

“Lalu bagaimana dengan keluarga di Korea ?” Si wanita memberanikan diri bertanya sambil menggendong seorang bayi kecil di lengannya.

“Akan kuurus semuanya.. kau disini… jaga mereka.” Ia tersenyum sebelum berlalu meninggalkan wanita itu. Tangisan bayi itu membuatnya gusar, Ia berjalan mondar-mandir kemudian berlalu meinggalkan kamar tersebut.

Gadis bersepatu merah muda itu kini berjalan mendekat pada pilar jendela. Isi kepalanya penuh dengan pertanyaan yang harus segera ia cari tahu jawabnya. Jarinya yang lentik, menelusup pada bilik-bilik kecil jendela yang menampakkan sesosok gadis kecil yang tengah terbaring lemah dengan balutan perban di sekitar kepalanya. Gadis bersepatu merah muda itu kini terkikik kecil. “Seperti mumi..”

Ia terus memandangi gadis itu dari celah jendela. Tak lama kemudian, ia menangkap gerakan kecil darinya. Kepalanya bergerak kekiri dan kekanan, seperti sedang mencari sesuatu. Karena merasa iba, ia pun berjalan memasuki ruangan itu. Perlahan, ia membuka pintu yang tak terkunci.

Gadis mumi itu kini tengah terduduk linglung diatas kasur sambil memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Dengan senyum merekah, gadis bersepatu merah muda itu membagi pandangannya. “Hai…” Ia berinsiatif mengambil tempat duduk tak jauh darinya.

Anehnya, gadis mumi itu justru tak merespon, hanya menatap kosong kedepan, tanpa pandangan pasti. “Can you hear me ?” Kata-katanya terdengar tentatif.

Seolah terkena bubuk imaginer, gadis mumi itu menoleh padanya dengan wajah yang sangat datar, bahkan terlalu datar. “What is your name ?” Didekatinya gadis ling-lung itu.

Ia menggeleng lemah. Mendapati raut kebingungan dari wajahnya, gadis bersepatu merah muda itu mencoba memecah suasana. “You don’t have a name, Miss ?” Sudut matanya berubah melengkung kebawah, serupa dengan bibirnya yang melengkung keatas.

Ia kembali menggeleng, gadis bersepatu merah muda itu mengerutkan alisnya. Mungkinkah candaannya terlalu garing ? Ia merasa mati kutu dibuatnya.

“Stephany…” Boneka ditangannya terjatuh. Ia tersentak kaget dan menoleh,  mendapati Appaya bersama dengan seorang pria dan wania. Orang yang sama seperti ia temui beberapa saat lalu. “Kemari..”

Ia mengannguk lalu berlari dan memeluknya. Kebiasaan yang selalu dilakukannya sampai sekarang. “Daddy…”

“Bagaimana kau bisa ada disini ?” Pria itu tersenyum sebelum membelai rambut anak gadisnya.

“Aku ingin bermain dengannya.”Ia menunjuk gadis mumi itu dengan ujung lolipopnya. Ia cemberut saat melihat ayahnya menggelengkan kepalanya. “Mengapa ?”

“Dia masih sakit…” Pria itu mengangkat tubuh mungilnya lalu mendudukkannya dalam pangkuannya. “Bermainlah dengan Daddy..

Ia menggeleng, “Aku ingin bermain dengannya…” Cengkramannya erat pada lengan pria itu lalu menghempaskannya kesamping. Melompat dari pangkuannya kemudian berlari menghampiri gadis yang duduk terpaku dengan tatapan kosong di dekat tembok. “Bolehkan aku bermain denganmu Miss..?

Gadis mumi itu mengangguk tanpa segaris pun ekspresi yang teraut diwajah pucatnya. Ia tak bersuara, berkedippun bisa dihitung dengan jari tangan, Stephany bahkan ragu ia masih bernafas. Tubuhnya kaku, tatapannya kosong, gerakkannya pun hanya seperlunya saja. Lebih terlihat seperti orang ling-lung.

“Can you at least give me a response ??” Stephany mulai geram, nada suaranya naik satu oktaf.

Honey… dia orang Korea…” Pria itu berjalan mendekati putrinya yang sedang naik pitam, membelainya lembut sambil mencoba menenangkannya.

“Ahh… Mianhae…Annyeong… Stephany imnida…” Ia berkata dengan senyum rekah dan aksen yang cukup mengelikan, uluran tangannya disambut hangat.

Gadis mumi itu akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Annyeong…” Jawabnya singkat, tak menghiraukan pertanyaan beruntun yang dilontarkan padanya.

Honey… Gadis ini masih sakit…”

“Sakit apa ? Mengapa kepalanya dibungkus begitu ?”

“Ummpp… Dia…” Pria itu tampak kebingungan mencari jawaban yang pas untuk bocah seusianya. “Kehilangan ingatannya.”

“Memangnya ingatannya hilang kemana ? Apakah ingatan bisa bersembunyi.” Otot perut pria itu hampir kaku menahan tawa yang seakan menyembur bebas.

“Emp… Ingatannya hilang dimakan moster jahat yang bersembunyi di kolong tempat tidur saat malam hari jika kau tak kunjung tidur.” Tipu muslihat yang dilontarkannya membuat dirinya sendiri tergelak.

“Benarkah ada yang seperti itu ?” Pancaran matanya berbinar.

“Hmm… jika kau tak segera tidur, kau akan dimakannya.” Tangannya dengan cekatan merapikan rambut anak gadisnya yang tengah berpikir keras. “Bagaimana ?”

Gadis penurut itu mengangguk, “Percayalah padaku Daddy..” Ia mencium pria itu sekilas sebelum akhirnya berlari kembali menghampiri gadis mumi tersebut.

“Aku berjanji akan menemukan kembali ingatanmu…” Tangan kecilnya merogoh kantong terbesar dalam tasnya yang tergeletak di atas lantai. “Dup…Dup…Dup…” Ia mengalungkan sebuah stetoskop imitasi yang terbuat dari plastik di lehernya. “Kau adalah pasien pertamaku… Jadi, siapa namamu nona ?”

“Jessica… namanya Jessica Jung…” Seorang wanita muda yang menggendong bayi mungil itu menyahutinya sambil tersenyum. Wanita yang ia temui beberapa saat yang lalu di depan pintu kamar 202.

“Ah… jadi Jessica… perkenalkan, aku dokter Hwang yang akan merawatmu sekarag.” Dia tertawa karena mendapati senyum kecil di bibir mungilnya. Walaupun ia tak bersuara, setidaknya seutas senyum itu membuat perasaaannya lega.

Sedikit gerakan tentatif menarik kembali pehatiannya, Jessica mencoba meraih selembar kertas yang tergeletak di atas meja dekat selang infus. Hwang Hospital Ia mencoba mengeja tulisan yang tertera di bagian atas kertas tersebut. Terbiasa membaca Hangul membuatnya kesulitan dengan Alphabet. Senyum di bibirnya kembali muncul saat sebuah lolipop tiba-tiba terjulur dihadapannya.

“Makanlah, kata Daddy.. ini dapat membantumu merasa bahagia.”

[Flashback End]

“Jadi, kau bertemu dengannya saat ia berada dirumah sakit.” Yuri mengerutkan keningnya sambil sesekali melirik kecil kearah Jessica yang terbaring lemah dengan selang infus di pergelangan kirinya, wajahnya kini sudah mulai tenang, tak tampak gelisah seperti beberapa waktu lalu. “Tunggu… apa kau tahu tentang masa lalunya ?”

“Aku tak begitu yakin, tapi kurasa ia mempunyai sesuatu hal yang belum terselesaikan di sini dan itu membuatnya seolah merasa terbebani. Meskipun ia tak sepenuhnya ingat, namun potongan-potongan memori itu seakan beruntun menghampirinya. Mungkin sesuatu yang penting, tapi entah apa.”

“Jadi dia punya masa lalu di sini.”

“Yeah… dia memang berasal dari sini.” Pandangannya terfokus pada gadis mungil yang sedang duduk membeku disebelahnya, ia tampak tenang, hampir tak berekspresi. Ia juga tak bersuara, hanya menatap kosong ujung sepatunya dan terlihat sedang berpikir keras.

“Apa kau punya foto masa kecilnya, bersamamu mungkin ?”

“Tentu.. tapi aku tak membawanya.” Pikiran Tiffany kembali terpecah, ia khawatir, atau mungkin sedikit takut, entah.. campuran dari keduanya.

“Apa dia seperti ini ?” Yuri mengeluarkan selembar foto dari dompet yang barusaja ia ambil dari saku celananya.

“Uh… ?? Neh…. Ini dia… Ini… gadis ini mirip Jessica dulu… atau memang Jessica ?”

Violet || Kim TaeNy Hwang || To be honest…

Bukan, aku tak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya belum siap. Jika kau tahu siapa jati diriku sebenarnya, mungkin saja hubungan kita takkan seperti ini. Mungkin saja kau  takkan senyaman ini berada didekatku. Seandainya kau tahu sejak awal… Mungkin saja, malam itu takkan pernah terjadi.

“Tae…” Lututnya sudah melemas, sepatu high hells dua belas senti itu sama sekali tak membantunya berlari lebih cepat. “Mianhae… Aku tak bermaksud—..”

Taeyeon tertawa sceptic, “Kau tak perlu meminta maaf seperti itu..” Ia berbalik sambil mengumbar senyum hambar. “Kau tak bersalah… tak ada  siapapun yang harus dimaafkan.” Kali ini senyum itu berubah dipaksakan.

Anio…” Tiffany menggeleng sambil memegangi kedua lututnya yang sudah terasa memanas. “Kau marah padaku…”

“Aku tidak marah padamu… hanya saja—..”

“Kau kecewa padaku…” Ia mencoba mengatur nafasnya yang panjang-pendek akibat berlari. Ia bertanya setelah menunggu dan tak mendapat jawaban. “Benar, kan ?”

“Kau tak perlu mengkhawatirkanku seperti itu..” Taeyeon berinisiatif membantunya berdiri tegak. Tetap diam dan membeku bukanlah hal terbaik untuk dilakukan. “Aku baik-baik saja, dan aku tidak marah padamu…”

“Lalu ?”

“Hanya….” Ia menatap lurus kedua mata indah Tiffany, pancaran matanya penuh pengharapan. Seakan bersuara dan berteriak padanya untuk tetap tinggal. Taeyeon menggelengkan kepalanya saat ia merasa akan hanyut kedalamnya jika staring battle ini tak segera dihentikan. “Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu.”

“Untuk apa ?”

“Kumohon, beri aku ruang…” Wajahnya seakan bersinar diterpa matahari pagi. “Untuk berpikir.” Ia menatap ujung sepatunya yang tampak lusuh. “Aku butuh waktu untuk sendiri.”

“Kau tak berpikir akan meninggalkanku kan ??” Tiffany sontak menggenggam erat kedua tangan Taeyeon. “Kumohon… aku bisa menjelaskan semuanya..”

“A—..” Tiffany mengunci mulut Taeyeon sebelum ia dapat menjawab lontaran pertanyaan darinya. Ia takut, gadis mungil itu tak memberikan jawaban sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ia takut apa yang ditakutinya akan benar-benar terjadi.

Taeyeon memejamkan kedua matanya, perlahan ia merasakan rasa asin yang menggetirkan lidahnya. Ia tahu rasa apa itu. Ia tak mau membuka kedua matanya, tak ingin mendapati apa yang telah ia rasakan. Mungkin rasa itu, rasa terindah yang pernah ia dapatkan. Rasa terhebat yang telah berhasil meluluhkan dinding batu yang membentengi hatinya. Mungkinkah rasa itu akan menghilang? Jalinan kasih yang sudah terajut dengan sempurna, helaian cinta yang menunggu dipintal untuk menjadikan sebuah kostum yang sempurna.

“Fanny-ah…” Akhirnya Taeyeon melepaskan ciuman basah itu. “Jangan takut… aku takkan melakukan hal itu… Percayalah..”

“Jinjja ??” Sesengguknya tak lagi terdengar, hanya hentakan pudak seirama dengan hela nafasnya.

“Neh… Yaksok..” Jari kecilnya membelai lembut pipi Tiffany, menyeka bulir air mata yang masih menempel di rahangnya.

“Saranghae…” Lengannya melingkar sempurna dipinggang Taeyeon. Membawa sensasi kehagatan yang tak ingin ia lepaskan. “Kumohon… jangan pernah tinggalkan aku…”

Taeyeon mengangguk sebagai balasan. Tangannya menghilang disela helai rambut kecoklatan Tiffany.

Orange || Kwon YulSica Jung || Make you love me again

[Flashback]

Tulisan dikertas merah itu kini menggantung di ujung dahan tertinggi. Bergoyang kekanan dan kekiri diembus angin. Gerakannya menggugah gadis bercardigan itu untuk sedikit mengintipnya. Rasa ingin tahunya sudah memuncak. “Boleh aku melihatnya ??”

“Anio…” Gadis bergaun putih itu menggeleng kecil. Tersenyum saat mendapati raut cemberut yang membuatnya ingin tertawa.

“Wae ??” Ujung bibirnya semakin condong kedepan.

“Kau bilang ini rahasia, kan ?” Ia melirik dengan tatapan bangga. “Jadi yang tahu hanya aku dan Tuhan..” Diselesaikannya kertas kedua lalu meraih seutas benang yang tersimpan di laci. Tangannya menggeser-geser ujung gunting diatas benang tersebut kemudian mengira-ngira dan memotongnya sekitar 10 cm.

“Memamgnya mengapa kau kabur saat ini ?”

Senyum rekahnya perlahan memudar, berganti senyum hambar yang tak berasa. Meski tersenyum, matanya tak menyipit, melainkan membulat. “Kedua orang tuaku memaksa membawaku pergi. Padahal, aku masih ingin berada disini.” Ia menyelipkan ujung benang putih itu kedalam lubang di ujung kertas berbentuk hati tersebut kemudian menimbang-nimbang agar tepat ditengah, setelah ia merasa kertas itu sudah seimbang, ia berjalan mendekati dahan pohon tersebut dan mengalungkan satu kertas yang baru ia tulis kedalam akarnya.

Gadis bercardigan itu megamati gerak-geriknya sambil menunggu kelanjutan dari ceritanya. Ia tak mau bertanya, lebih tepatnya tak ingin. Sepertinya menunggu merupakan pilihan yang paling tepat dalam situasi seperti ini. Bola matanya bergerak seirama dan serupa dengan gerakan yang diciptakan oleh gadis bergaun putih tersebut.

“Aku tak tahu mengapa, setiap kali bertanya mereka hanya memberikan jawaban semu yang tak mampu ku telaah. Tak sanggup ku nalar dengan kemampuanku yang masih terbatas.” Tangannya menggali kecil tanah yang menutupi ujung akarnya. “Kau percaya ini ? hahaha.” Ia mengumbar tawa hambar. “Mereka hanya menjawab, ingin bersenang-senang dan tinggal disana sementara waktu.”

“Itu artinya kau pasti kembali lagi.” Nada suaranya penuh pengharapan. “Benar, kan ??”

“Mungkin saja.. aku sendiri tak begitu yakin… Umma memang bilang kita akan kembali.” Ia menyelesaikan tahap terakhir, yaitu menali kecil ujung tali tersebut disela-sela akar yang menjalar dan mencuat setelah tanah tak lagi menimbunnya. “Entah mengapa… perasaanku mengatakan aku takkan lagi kembali kemari.”Ia menungguingkan seutas senyum begitu menyadari pekerjaannya telah selesai dengan sempurna.

“Lalu… kau akan terus berlari ? Menghindari mereka ??” Kata-katanya penuh penekanan.

“Entahlah… meurutmu apa yang harus kulakukan ?” Matanya kini menatap gadis bercardigan itu penuh harap. Sorot matanya nampak kebingungan.

“Mungkin kau harus kembali, aku yakin mereka pasti khawatir.” Tatapannya kembali melembut.

“Jika aku tak kembali lagi, lalu apa yang harus aku lakukan ?”

“Mari kita membuat janji…” Gadis bercardigan itu bangkit dari kursinya. “Jika mereka membawamu kembali… tunggu dan temui aku kembali ditempat ini.” Selangkah-demi selangkah ia menghampirinya.

“Dan jika tidak ??”

“Jika tidak…” Ia berhenti sejenak, menghirup udara dingin hingga menusuk rongga paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan. “Takdir akan mempertemukan kita kembali disini.”

Mereka berbagi senyum hangat, satu senyum yang dapat melunturkan dinding-dinding kekakuan dalam hatinya. Lututnya seakan meleleh saat ia merasakan seolah ada seekor kupu-kupu yang hinggap di perutnya. “Janji kita akan bertemu lagi dikemudian hari ??” Terdengar seperti sebuah kalimat pertanyaan permohonan ketimbang pernyataan.

“Aku berjanji… akan menunggumu…” Gadis bercardigan itu menggenggam lembut tangannya. “Sampai kau kembali…”

[Flashback End]

Gadis blonde itu perlahan membuka kedua matanya saat ia merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya. Pandangannya masih kabur, telingannya mendengar bunyi yang tak seharusnya ia dengar. Ia menoleh, selang infus di punggung tangannya masih melekat sempurna. Cairan bening yang menetes dalam kantong melalui selang itupun juga masih terlihat baru. “Ehhmm…” Ia mencoba duduk dari tempat tidurnya. Namun, tubuhnnya masih lemah, tulang-tulangnya masih terlalu lemas untuk ditegakkan. Alhasil, setelah berhasil bangkit sekitar 15 cm, tubuh rampingnya itu kini kembali menghempas kapuk-kapuk yang telah disusun dan dikemas secara rapi tersebut.

“Berbaringlah dulu..” Yuri memberinya senyuman hangat sebelum meraih gelas berisi air putih di sudut meja sebelah utara. “Kau masih lemah..”

“Yuri, aku…”

“Sshh…” Yuri meletakkan ujung jari telunjuk tepat dibibir mungilnya. Ia bahkan dapat melihat pantulan ungu yang merefleksikan cat kukunya. “Kau pikirkan dulu kondisimu.”

Ia mengangguk tanpa bersuara. Merasakan cairan itu perlahan membasahi kerongkongannya yang sudah mengering. Keheningan itu menmenuhi ruangan, bahkan detak jam pun seolah terdengar seperti deru drum yang ditabuh saat carnaval.

“Aku mengingatnya..” Lengkingan itu memecah keheningan. Matanya menerawang keluar jendela, menatap hamparan pepohonan berskala kecil yang terlihat dari lantai 9 kamarnya. “Hanya sebagian kecil, tidak semua..” Senyumnya terlihat dipaksakan. “Dimana Tiffany ?” Matanya mengitari ruangan, mencari sosok penyelamatnya.

“Sepertinya tadi dia pergi bersama Taeyeon.” Yuri meletakkan gelas kosong itu ketempat semula kemudian meraih semangkuk bubur yang masih hangat. “Makanlah dulu..”

“What ? Kau bilang Tiffany pergi ??” Jessica tak menghiraukan tawaran itu. Ia malah sedang sibuk dengan pikirannya.

“Yeah…” Yuri kembali mengaduk bubur yang masih berbau khas rumah sakit itu. “Ini.. makanlah..” Ia meraup sesendok makanan kental itu kemudian menyodorkannya didepan mulut Jessica.

“Akh !! Bagaimana bisa dia meninggalkanku dalam kondisi seperti ini ?” Ia tetap mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Yuri menghela nafas dalam. “Tadi dia kemari, tapi pergi setelah itu.” Ia kembali menyodorkan sendok itu. “Ini… Sekalipun Tiffany itu dokter pribadimu, ia tak bisa selalu ada disisimu selama 24 jam untuk menjaga dan menungguimu. Dia juga punya hal lain untuk dilakukan.”

Jessica mendengus pelan. “Lalu kau sendiri ? Buat apa kemari ? Apa kau tak punya hal lain untuk dilakukan, Kwon Yuri Sajangnim ??” Tukasnya sinis. Nada suaranya penuh penekanan. Seolah bertanya dengan sindiran yang dapat mematikan lawannya dalam sekali ucap.

Dan hal itu berhasil membuat Yuri kehabisan kata-kata untuk membalas, ia tampak berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku akan memberitahumu setelah kau diperbolehkan keluar dari sini.”

“Apa maksudmu ?”

“Sudahlah, makan saja.” Ia terkikik sejenak. “Dasar Ice Princess.

“What ??”

Anio, lupakan..”

Violet || Kim TaeNy Hwang || I Will be…

OST : Avril Lavigne-I will be [Avril I will be]

There’s nothing I could say to you

Nothing I could ever do to make you see what you mean to me

All the pain, the tears I cried

Still you never said goodbye and now I know

How far you’d go

I know I let you down

But it’s not like that now

This time I’ll never let you go

Lantunan suara itu mengalun lembut dari bibirnya, busa hitam yang menyaring suara pada microfon itu menggambarkan betapa perasaannya seakan ingin meluap. Ia tak berbohong, lagu itu memang khusus dinyanyikan untuk gadis mungil yang sedang duduk tenang di sofa yang merapat pada tembok dengan peredam suara maksimal.

I will be, all that you want

And get myself together

Coz you keep me from falling appart

All my life,  I’ll be with you forever

To get you through the day

And make everything okay

“Taeyeon-ah… Kumohon…” Ia memegang kedua tangan gadis mungil itu, menunjukkan padanya betapa ia benar-benar tulus memohon padanya. “Aku tak memberitahumu lebih dulu, karena aku tak ingin kau menjauhiku jika kau tahu bahwa aku ini adalah..”

“Anak dari pemilik rumah sakit ternama di US, yang sekarang berprofesi sebagai dokter pribadi dari salah seorang pasien yang mengidap amnesia.” Potongnya.

I thought that I had everything

I didn’t know what life could bring

But now I see, honestly

You’re the only one thing I got right

The only one I let inside

Now I can breathe, coz you’re here with me

And if I let you down

I’ll turn it all around

Coz I will never let you go

“Aku akan melakukan apapun, jika berhenti akan membuatmu tak meninggalkanku.”

“Fanny-ah… Aku tak memintamu membuang impianmu begitu saja.” Taeyeon bangkit dari sofa. “Hanya saja, mungkin kau terlalu sempurna untuk kumiliki.” Kepalanya tunduk kebawah menatap kosong ujung sepatunya. “Maaf, aku tak bisa menjadi sempurna seperti yang kau inginkan.” Ia tersenyum, senyum terhambar yang pernah tergurat diwajahnya.

“Kau sudah lebih dari sempurna.” Tiffany menggenggam kedua tangan Taeyeon lalu meletakkannya tepat didadanya. “Aku menyukai dirimu apa adanya.”

“Kau mungkin akan malu memiliki kekasih yang hanya bekerja sebagai pe—..”

“Ssshh.. Jangan berbicara seperti itu lagi..” Ia meletakkan ujung jari telunjuknya tepat pada bibir Taeyeon. “Aku selalu takut kau akan merasa seperti itu dan aku tak mau…” Sorot matanya mengiba. “Aku menyukaimu… apa adanya dirimu Kim Taeyeon..” Nuansa hangat menyeruak disekitar tubuhnya saat sepasang lengan melingkar sempurna pada pinggang rampingnya. “Aku menyukaimu, benar dan sangat mencintaimu..”

“Na do saranghae Tiffany Hwang..”

Coz without you I can’t sleep

I’m not gonna ever, ever let you leave

You’re all I’ve got, you’te all I want Yeah…

And without you I don’t know what I’d do

I can never, ever live a day without you

Here with me, do you see

You’re all I need

“Ehm… Mianhae… Mengganggu.” Yoona mengintip dari balik pintu, kepalanya yang tiba-tiba muncul membuat penghuni didalamnya tersentak kaget. “Taeyeon Unnie, ada yang ingin bertemu denganmu.”

Seohyun yang berada dibelakangnya, kini maju satu langkah dan memproklamirkan pidatonya sambil berdemo didepan Taeyeon akibat ulahnya yang takkunjung sembuh.“Yah.. Unnie… bagaimana bisa kau melakukan lagi kebiasaanmu itu, huh ?? “Kau—.”

Merasa mengetahui apa yang akan dibicarakan adik tercintanya, sontak Taeyeon berlari dan membekap mulutnya. “Ahh… Seohyun-ah.. Mwo ? Kau salah lihat.”

Gadis jakung itu tetap kukuh berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. “Anio… benar benar dengan inisial KT dan sekarang aku menemukannya di rak bukuku, apa yang kau lakukan di situ Unnie ??”

“Ahaha… Bukan apa-apa..” Taeyeon tertawa gugup.

“Dulu Ponsel masuk kulkas, sekarang celana dalam nyasar di rak buku, besok apa lagi Unnie ?? Barangkali jika hidungmu tidak menempel pasti akan tertinggal di wastafel.” Tukas Seohyun membuat kakak tetuanya itu kini mati kutu.

Ne ??” Tiffany yang sedari tadi berdiri tepat dibelakangnya ikut tertawa “Bwahahahaha.. Kau lucu sekali.” Kedua telapak tangannya beradu, seirama dengan sembur tawanya yang membahana, suaranya yang nyaring melengking dan menggema diseluruh ruang kedap suara tersebut.

Unnie… Dua hari yang lalu aku mendapatimu tidur sambil berjalan lagi.” Yoona berkata dengan muka polosnya yang tampak dibuat-buat. “Semoga kau bisa menangani kebiasaan tidurnya yang aneh, Tiffany Unnie… hehehe.”

Kini mereka berdua telah menghilang dari pandangan tanpa Taeyeon sadari. “Ya !! Aigo… mereka berdua…”

Epilog

Pepohonan itu masih sama, tak berubah. Dahan-dahannya tetap berwarna kecoklatan. Ujung-ujung rantingnya pun masih retak, lapuk dimakan usia yang semakin menua. Nuansa gugur tetap melekat, musim semi masih enggan datang. Ia bersembunyi, mengintip dari balik awan.

“Untuk apa kau membawaku kemari ??” Gadis itu mengedarkan pandanganya ke segala arah. Rambutnya yang keemasan melambai diembus angin yang menelusup disela-selanya. “Tempat apa ini ?”

“Dulu kita pernah kemari.” Yuri mengambil sebuah ranting yang digunakan untuk menyibak beberapa daun yang berserakan di atas rerumputan lalu mendudukinya. “Kau ingat?”

“Benarkah ?” Ia menyerngit sejenak, kedua alisnya saling menyatu. “Sepertinya tempat ini sudah tidak asing lagi.”

“Mungkin kau pernah melihatnya dalam mimpimu.” Yuri mengisyaratkan Jessica untuk duduk disampingnya.

“Yeah… mungkin saja.. Aku seringkali bermimpi sesuatu yang sama dan berulang-ulang.” Pandangannya tertuju pada sesuatu yang menyembul dari dalam lubang pohon itu. “Apa itu ?”

“Ah…” Yuri beranjak kemudian berjalan mendekati benda tersebut. “Kau ingat ini ?” Tangannya meraih selembar kertas berbentuk hati yang dilipat menjadi dua bagian dan digantungkan di ujung dahan menggunakan tali kecil.

“Apa ini ?” Jessica membuka lipatan kertas tersebut. Aku ingin dapat bertemu lagi dengan My Seobang. Ia mengedipkan matanya berulang-ulang. “Aggghh…” Tiba-tiba saja rasa nyeri menjalar dikepalanya.

“Wae ?” Yuri berlari menghampirinya. “Jangan dipaksakan jika kau tak bisa.” Tangannya merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan sebuah kantong berisi puluhan kapsul penghilang rasa nyeri yang diberikan oleh Tiffany. “Ini… Minumlah.”

Jessica mengangguk, mengambil sebotol air mineral dalam tas jinjingnya. Ditelannya kapsul itu perlahan dengan air yang segera mengguyur kerongkongannya. “Aneh.. mengapa aku merasa tak sesakit biasanya ??”

“Haha.. mungkin saja karena kau telah memenuhi janjimu.”

“Janji ??” Ia mengerutkan kedua alisnya.

“Kau tidak ingat ??”

“Ya !! Aku mengingatnya…” Jessica memukul pelan pundak Yuri, hal itu justru membuat Yuri tergelak.

“Hahaha…” Yuri memegangi tangan Jessica yang sedari tadi tak berhenti memukuli pundaknya. Tanpa sengaja, ia menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja. Hembus nafas terasa hangat diwajahnya. Pancaran mata dari dua pasang pupil yang saling menatap. Kian lama kian mendekat hingga sepasang bibir itu saling bersinggungan. Dua sejoli itu menutup matanya perlahan, menikmati sensasi sejuk yang menerpa tubuh mereka dipadu dengan nuansa hangat yang mereka ciptakan dalam dunianya.

“Sudah puas, My Princess ??” Yuri tersenyum jahil sambil sesekali melirik nakal kearah Jessica.

“Mwo ya ?? My ??”

“Kau kan sudah resmi menjadi kekasihku..”

“Ne ??” Ia membelakkan kedua matanya lebar-lebar. “Kapan aku pernah mengatakannya ?”

“Cinta tak perlu diungkapkan lewat perkataan.. dengan tindakan kecil seperti yang tadi kau lakukan… cukup menggambarkan rasa cintamu padaku.” Seringai kecil yang terukir di wajah yuri cukup membuat Jessica sebal.

“Kau….”

“Mwo ??”

Mereka berlarian mengitari pepohonan, pohon yang menjadi saksi dimana mereka dipertemukan, dimana mereka dipisahkan, dan dimana mereka kembali dipersatukan. Mereka tak pernah merencanakannya, Tuhan telah mengatur segalanya.

Apakah kau percaya adanya mukjijat? Mungkin inilah yang sedang mereka rasakan. Kau takkan pernah tahu sebelum kau mempercayainya.

Semua kisah memiliki akhir, tapi dalam hidup, setiap akhir hanyalah sebagai awal dari yang baru.

 

-END-

Iklan

86 thoughts on “A LOVE UNDER AN OAK TREE [Chapter 5/END]”

  1. Taeng kbiasaanya emng ekstrim hahaha 😀 tippany jd dokter dsni mau dong dpriksa sma ppany 😉
    Sica msih amnesia tp udah sdkit demi sdkit inget sma msa lalunya yul tetep setia menanti sooyeon dan skrang udah bhagia yulsic sma taeny yeah!! Kata2nya di epep ni bgitu puitis jd makin ngfeel bcanya daebak!!

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s