Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Love In 49days [Chapter 2]

“If you live to be 100… I hope I live to be 100 minus 1 daySo I never have to live without you.Tiffany Hwang

Author: Mutiara Triastuti
Editor : Syatiul Inayah
Title :Love In 49days
G
enre : Yuri (Girl X Girl), Drama, Romance
C
ast : Taeny, Yulsic, YoonHyun.
Chapter : Undecided.

-LockTI SASmith-

Tiffany POV

Sial.. Gadis ini selalu menyela ucapanku saat aku akan menjawab pertanyaanya, dia selalu saja memotongku dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Tentu saja aku dapat melihatnya, melihat wajah cantiknya yang bersinar diterpa cahaya matahari. Membuatku teringat kepada seseorang yang telah mengisi hari-hariku beberapa tahun silam. Hmm…. Seperti apakah dia sekarang ? Masihkah dia mengingatku ?

Ku lihat dia terus memandangiku, adakah yang salah pada penampilanku, dia melihatku dari pangkal kaki sampai ujung rambutku, apakah aku terlalu cantik untuk ukuran manusia, ya mungkin seperti itu, karena selama ini yang dia tau hanyalah manusia. Sebentar lagi dia akan tau aku ini siapa, sekarang ini aku harus memindahkan jarinya supaya aku bisa mengatakan padanya siapakah aku ini sebenarnya.
“Namaku adalah….”

Drap…Drap…Drapp…Drapp

Ku dengar langkah lari menuju kamar ini, mungkin mereka keluarga dari manusia ini, aku harus menghilangkan sosokku dari manusia terlebih dahulu, aku takut kalau mereka tau bahwa aku ini bukan manusia, aku sudah membuat tubuhku tidak terlihat. Kurasakan mereka sudah semakin mendekat, telingaku dapat mendengar suara mereka walau dalam jarak beberapa meter jauhnya.

“Suster, dimana rungan anak saya, pasien percobaan bunuh diri ?” Suara pria itu terdengar cemas. Mungkin saja ia ayah gadis ini.

“Saudara Kim Taeyeon, yang baru saja masuk kerumah sakit ini ?” Seorang suster menanyainya sambil mengecek buku pasien.

“Ya benar, Dimana ruangnya sekarang?”

“Dia sekarang ada di ruang UGD, di paling kiri rumah sakit ini” Melihat raut wajahnya yang kebingungan, suster itu kembali berkata.

“Dari sini belok kiri, jalan terus nanti anda akan melihat ruang UGD itu”, Ia melayangkan jarinya untuk menunjukkan arah yang tepat. Setelah mendapat jawaban yang cukup memuaskan, pria itupun berjalan cepat kearah yang dimaksudkannya.

Drap..Drapp..Drapp..Drapp..Drapp

Langkah kaki itu semakin jelas di telingaku beberapa detik lagi dia akan sampai disini
KREEKKK

“Appa…” Ia berkata appa. Dia memang appanya. Ia mencoba mendekat dan memegang tangan appanya tapi gagal. Harusnya kau sadar manusia seberapa keras kau mencoba pada akhirnya kau tetap akan gagal.

“Appa dimana eomma, dimana Jiwoong Oppa, dimana Hayeon?” Sekeras apapun ia berteriak, ia takkan mendapatkan respon. Kasihan sekali, gadis yang malang. Arwah dan manusia, dunia mereka berbeda.

“Taeyeon nak, kenapa kau seperti ini? Kenapa kau selalu memendam masalahmu sendiri? Kenapa tidak bercerita pada ayah?” Lontaran pertanyaan itu membuatku miris. Gadis ini, bodoh sekali dia menyia-nyiakan hidupnya dan melukai orang-orang disekitarnya. Tahukah ia bahwa sedetik hidup itu sangat berharga? Dia mencoba bunuh diri hanya karena seorang manusia dan melupakan semua orang-orang yang berharga lainnya, dia mengorbankan orang-orang berharga lainnya hanya untuk 1 orang manusia, Oh..God…sedangkal ini kah pikiran manusia?

“Maafkan aku appa, seharusnya aku tidak melakukan ini demi dia.” Yeah… penyesalan selalu datang diakhir, mengapa baru sekarang kau menyadarinya? Ck… dasar manusia.

“Aku ini appa tak berguna, appa yang gagal menjaga anaknya, maafkan appa nak.” Ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Sambil memegang tangan Taeyeon yang terbujur kaku dengan selang oksigen yang membantunya bernafas, miris sekali pemandangan ini. Aku benci sekaligus sedih melihat adegan seperti ini.

“Appa ini bukan salahmu, ini salah ku… Aku yang terlalu bodoh untuk melakukan semua ini.” Gadis itu bersimpuh dan tertunduk dihadapan appanya.

Tanpa mereka sadari, tangisan mereka telah menciptakan pemandangan menarik nan dramatis yang telah berhasil membuat air mataku ikut terjatuh. Seandainya pria ini tahu bahwa sekarang anak gadisnya sedang bersimpuh dan menangis dihadapannya. Bisa kubayangkan betapa hancur hatinya. Betapa mirisnya ia melihat anak gadisnya berlinang air mata dan berlutut dihadapannya. Sungguh manusia, jalan pikirannya tak dapat kuterka.

Mianhae.. Appa… Mianhae…” Aneh sekali, dia menangisi perbuatannya sendiri. Bukankah ia melakukan semua ini dengan pertimbangan yang matang. Apakah cinta dapat memporak-porandakan hati yang suci ? Semenyakitkan inikah mencintai seseorang ? Jika iya, mengapa semua manusia pasti jatuh cinta, jika pada akhirnya ia hanya akan terluka ? Sebodoh itukah manusia ?? Bukankah mereka makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna ?? Mengapa ia tak menggunakan akal sehat yang dianugerahkan kepadanya untuk berpikir secara jernih ? Ch… Dasar manusia. Tanpa terasa air mataku semakin deras menetes.

“Andai saja waktu itu aku tak bertemu dengannya, andai saja aku tidak mencintainya, andai, andai, andai saja waktu bisa ku putar kembali.” Terus saja berandai-andai. Kau yang telah mengambil keputusan ini. Mengapa kau tak berhenti menyalahkan seolah situasi yang membuatmu sedemikian rupa. Tanpa sadar dari tadi aku terus merutukinya dalam hatiku. Menyadari betapa kebodohannya hanya akan menggoreskan luka yang takkan mengering dalam hatinya.

Ia masih saja menangis, terus saja menangis, menagisi kebodohannya. Apa dia tidak lelah menangis seperti itu, huh ?? Aku saja yang sedari tadi berdiri sebagai pemirsa sudah lelah menonton pertunjukan drama ini. Hanya membuang-buang energinya saja.

“Yah !! Bisa tidak kau berhenti menangis ? Aku sudah lelah melihatnya…” Cetusku padanya. Tapi sepertinya dia tidak menghiraukannya. Ia hanya menatapku sinis dengan seringai kecil yang teraut di bibir mungilnya.

“Apa perdulimu, cih… Mengapa kau tidak mengurus urusanmu sendiri, huh ? Apakah kau tak memiliki pekerjaan lain untuk dilakukan hingga kau terus-terusan menguntitku ?” Repetnya pedas. Kata-kata itu seolah terlontar begitu saja, kata-kata yang sempat tertahan dan akhirnya dilontarkan. Apa dia tidak tahu, betapa pentingnya kehadiranku saat ini ? Seenaknya saja berkata seperti itu. Jika aku mau, aku dapat meninggalkanmu begitu saja dan membuatmu gentayangan disini tanpa tujuan yang jelas. Seperti beberapa arwah korban bunuh diri lainnya yang mengelak eksistensinya.

“Ku beritahu kau.. wahai manusia, tangisanmu itu takkan berarti apa-apa, lagipula kau sudah membuang-buang waktumu yang berharga.” Kami bertukar pandangan. Pandangan antara marah dan kekaguman, seperti ada daya listrik yang mengaliri tubuhku, aku seolah tersengat. Pancaran matanya begitu memabukkan, apakah tidak ada yeoja lain yang tepikat padanya sehingga kedua matanya itu hanya dibutakan oleh satu orang.

“MANUSIA, MANUSIA, MEMANG KAU BUKAN MANUSIA ?”, dia menangikan intonasinya lalu berjalan mendekat padaku, menyisakan jarak beberapa senti saja, aku mulai gugup, jantungku berdetak 2kali lebih keras dari biasanya, tanpa sadar aku berjalan mundur merapat pada tembok.

“KENAPA KAU TAKUT PADAKU?? KENAPA TIDAK BICARA SEDARI TADI, APA KAMU BISU HAH???” Dia marah, beruntung sekali tanduknya tidak keluar, oh iya… aku hampir saja lupa bahwa dia hanyalah seorang manusia, dan manusia tidak memiliki tanduk.
“Aku adalah…”, aku belum selesai mengucapkan kata-kataku dia sudah menginterupsiku
“AKU, AKU, DARI TADI HANYA MENGGUCAPKAN AKU, AKU SAJA.” Dia meraup daguku dengan sebelah tangannya lalu mendorong kepalaku kebelakang. Dasar… dia belum tahu saja siapa aku sebenarnya.

“Yaa !! Manusia.. bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu jika kau terus saja menyela perkataanku ?? Aku ini malaikat, malaikat yang akan mendampingi mu selama menajadi arwah, arro ??”  Raut wajahnya terlihat kebingungan.

“Apa MALAIKAT??? Hahahhahahaha konyol, kau pikir aku percaya begitu saja dengan perkataanmu, huh ?? Mana ada malaikat jaman sekarang ? Hahaha… lelucon anak bau kencur, tau..” Ne… Gadis ini sugguh… Berani sekali dia berkata seperti itu kepadaku, hah ?? Dia pikir dia siapa ? sesosok arwah yang baru berumur sebiji jagung saja sudah besar kepala seperti itu. Memangnya wajahku ini tak masuk kualifikasi untuk menjadi seorang malaikatkah ? Menyebalkan sekali !!

“Ya, aku ini benar-benar malaikat pendampingmu, mengapa kau tidak mempercayaiku ?” Kucoba meyakinkannya, namu ia justru tertatawa terbahak-bahak, seolah diriku ini hanyalah bahan leluconnya saja.

“Kalau kau malaikat, lalu dimana sayapmu? Dimana tongkat ajaibmu?”, Ya benar-benar dia mengatakan hal itu sambil menunjuk wajahku, aish harusnya kau tidak terintimidasi olehnya, aku ini malaikat harusnya aku yang mengintimidasinya.

“Ya.. apa bahan tontonanmu itu hanyalah cerita kartun yang bahkan anak seusia 5 tahunpun takkan mempercayainya, huh ? Apa kau berpikir aku membutuhkan sayap untuk terbang, atau tongkat ajaib yang dapat mengutukmu menjadi putri kodok buruk rupa?, Kami tidak membutuhkannya, semua itu hanya fiksi yang ada dikepala manusia saja”, bagaimana manusia ini hidup, bisa-bisanya dia pikir malaikat punya sayap dan tongkat ajaib, oh senior kau memberiku arwah yang sangat menyebalkan.

“Buktikan jika kau memang malaikat !!” Cih…  sombong sekali dia, lihat saja… sebentar lagi dia pasti tertegun melihatku.

“Baik, sekarang perhatikan, kuharap kau tidak terkejut karena aku sudah memberi tau mu bahwa aku—” kulangkahkan kakiku mendekat kearah meja lalu kuraih sebuah vas bunga dan memindahkan posisinya perlahan, dan seperti yang kuharapkan, ia tertegun melihat aksiku, wajah syoknya sungguh lucu. Baik… kali ini dapat dikategorikan lucu.. hehehe..

Bayangkan saja vasnya bergerak kyak gini hehehe

“….” Kelihatannya dia masih syok, pandangannya tak lepas dari vas itu.

“Ya, manusia jangan hanya diam, jawab, kau sudah percaya bahwa aku ini adalah malaikat??” Aku mendekat padanya, kugoyangkan pundaknya agar ia tersadar.

“……” Ia berjalan mendekat pada vas tersebut.

“Ya, kamu… Ajari aku memegang vas seperti itu.” Ia menatapku dengan berbinar-binar. Jika seperti ini dia benar-benar mirip anak kecil. Sangat berbeda dengannya beberapa waktu lalu yang terkesan kasar dan angkuh. Kali ini dia benar-benar imut dan… harus kuakui ia sedikit menggemaskan.

“Ya, sudah ku katakan aku bukan arwah, aku ini malaikat !! Aishh….” Manusia ini benar-benar menyebalkan !! Kuhempaskan tubuhku diatas sofa empuk, bagaimana manusia ini masih tidak percaya bahwa aku ini adalah seorang malaikat? Aku benci mengakui ini, apa wajahku kurang meyakinkan untuk menjadi malaikat? Ya Tuhan… Aku tak mau tugas pertamaku sebagai malaikat gagal begitu saja..

“Apa kau hanya bisa melakukan itu saja? Seorang malaikat tak mungkin hanya bisa memindahkan vas bunga saja bukan?”, ya tuhan pertanyaan bodoh meluncur dari mulutnya itu lagi.

“Apa kau ingin lihat ayahmu pingsan karena syok dengan melihat barang berpindah tempat? Dengan sendiri PIKIRKAN itu, PIKIRKAN manusia tenggil”, aku menaikan suaraku 1 oktaf dan berdiri mendekatinya sambil mengambil memunjuk kepalanya sama aku mengucapkan kata PIKIRKAN

“Ya.. ya… ya… terserah kau sajalah… baiklah jika itu maumu, aku akan menganggapmu sebagai seorang malaikat. Kau puas sekarang, huh malaikat ??” Dia terus saja mengejekku dengan wajah menyebalkannya itu.

“YA, KAU Manusia tenggil…. Menyebalkan sekali..” Aku berlari mengejarnya.

“Hahaha… Dan kau malaikat PABO hahaha.” Aishh… dia benar-benar menyebalkan… bagaimana bisa aku ditugaskan untuk berhadapan dengan manusia seperti ini ? Aku terus berlari hingga tiba-tiba aku teringat sesuatu… PABO !! Mengapa aku harus belari jika aku bisa terbang dan menghilang ?? Whoa… apakah selama hidup didunia aku juga seperti ini ? Ceroboh sekali…

Aku menghilang, kemudian muncul dan berhenti tepat didepannya. Ia sontak kaget dengan wajah bodohnya. Sungguh… menggemaskan. Ingin segera aku mencubit kedua pipinya, beruntungnya aku masih bisa menahan emosiku, aku tidak ingin terlihat bodoh didepannya.

“Ya !! Kau ini, jangan mentang-mentang kau malaikat lalu seenaknya saja mengangetiku  dengan muncul seenaknya di hadapanku?..” Wajahnya tampak marah, tapi masih menyisakan sedikit keluguan di rautnya. Keluguan yang menyihirku, membuatku tertegun saat menatapnya. Dalam ekspresi apapun, mengapa wajahnya tetap menggemaskan. Aku tersadar. Oh !! No… Wake up, W. A. K.E U. P Fanny !!  Wajah lugu apa yang kau harapkan dari sesosok arwah yang terlalu bodoh untuk mengakhiri hidupnya hanya karena seorang manusia ??

“Memangnya kenapa ? Aku punya hak atas dirimu. Jadi, aku dapat melakukan apapun terserah aku.” Kusetel nada suaraku agar membuatnya sebal.

“Ya !! Kau ini… Malaikat bodoh yang menyebalkan !!” Aku tersentak, dia berteriak tepat didepan mukaku.

“Ya !! jangan mengagetiku seperti itu !! gendang telingaku hampir saja pecah mendengar suaramu itu”, dia berteriak kencang sekali, aku memegangi telingaku, ku harap gendang telingaku tidak rusak oh telinga ku yang yang berharga.

“Buahahaaha… Bukannya kau malaikat ? Apa gendang telinga seorang malaikat sangat sensitif sehingga mudah hancur akibat teriakan, huh ??” Aish… benar juga. Aku benci mukanya yang seperti itu. Memang masih menggemaskan, sekaligus menyebalkan. Aku jadi tampak bodoh dibuatnya. Jika para senior tahu, aku bisa dipermalukan oleh mereka. Oh.. No…No.. jangan sampai hal itu terjadi.

“Jika ku katakan padamu bahwa aku adalah malaikat yang akan mendampinginmu selama 49 hari kedepan, bagaimana ?? Apa kau akan mengubah sikapmu untuk lebih menghormatiku, nona menyebalkan ??” Kutinggikan nada suaraku satu oktaf, agar dia mengerti. Agar dia menyadari, siapa yang berkuasa dan siapa yang di kuasai saat ini.

“Memang siapa yang menyuruhmu mendampingiku ? Aku tidak menyuruhmu.. Apalagi memintamu…” Tatapan ledekannya itu sungguh membuat darahku berdesir naik. Euh.. dasar… anak manusia menyebalkan. Hari yang sungguh menyebalkan kenapa aku harus mendapatkan arwah yang sedemikian menyebalkan. Dan payahnya aku akan bersama 48 hari kedepan OMGee.

“Kau ini…” Desisku, kemudian mengalihkan pandanganku kepadanya, menyuarakan isi hatiku yang sudah meluap-luap tak tertahan lagi.

“Ya !! Kau ini mau hidup tidak ? Jika kau masih ingin hidup, kau harus mencari cinta yang tulus untuk mengembalikan arwahmu itu kembali dalam tubuhmu… bodoh !!” Amarahku sudah meledak. Manusia ini menyebalkan  menyebalkan dan menyebalkan sepertinya kata itu sangat cocok untuknya, kata itu seperti tertempel di kepalanya.

“Lagipula siapa yang mau mendampingi manusia menyebalkan sepertimu, huh ? Jika bukan karena senior usil yang mengintimidasiku, aku pasti sudah mendapatkan sesosok arwah yang tampan, gagah, cool, perhatian dan yang pasti dia lebih sopan daripada kamu.” Cibirku kesal. Akhh… Manusia menyebalkan… Senior menyebalkaaaaaannnnn….

Flasback

“TIFFAAANNNYYYY”, Ya tuhan senior itu apa tidak bisa melihatku senang sedikit apa? Sedikit-sedikit TIFFANY sedikit TIFFANY, memang aku babunya, ok ok aku kesana

“Kenapa senior? Ada kah yang bisaku bantu?” aku benci wajahnya, sok berkuasa sekali

“Ya kamu kenapa kau diberi nama Tiffany?” waw ada apa dengan senior? Kenapa dia menanyakan pertanyaan macam ini?

Tentu aku tau, arti dari Tiffany adalah titisan Tuhan, memang kenapa?”

“Kalau kau titisan Tuhan kerjaanmu hanya bersenang-senang saja? Kau salah mempergunakan kemampuanmu yang luar biasa ini. Aku menangkap sebuah keganjilan disini jangan, jangan aku akan di hukum? Aku hukum karena apa? Aku tidak salah? Aku tidak melanggar aturan, bahkan tertib walaupun kadang aku melupakannya

Kau lihat gadis ini, gadis ini arwahnya sedang gentayangan kau harus mendampinginya, aku sedang sibuk jadi kau harus menggatikanku dalam tugas ini, anggap saja ini sebagai tugas perdanamu menjadi malaikat pendamping. What the…kenapa senior seenaknya? Dan gadis yang di tunjukan senior lumayan, lumayan cantik, lumayan lucu, lumayan lah

Bisa kau jelaskan kenapa senior memintaku untuk menjadi malaikat pendampingnya?”

“Pertanyaan yang bagus, tapi penjelasaanya sangat penjang jadi tak usah.” aku kalah kali ini, memang kapan aku menang? Aku selalu kalah karena Senioritas. Dan jawaban kali ini benar-benar membuat darahku bergidik.

Tapi kenapa aku?

MWO??? MEMANG KAU SUDAH PINTAR?”, Omgee wajah ini menyeramkan sekali.

B..Ba..ik aku akan melakukannya”, dari pada di marahin lebih baik aku menerima perintah ini.

Flashback END

Tanpa kusadari aku merutuki diriku sendiri sambil menghentak-hentakkan kakiku dilantai. Sedikit melepas emosiku yang sudah memuncak.

“Ya !! Kau ini niat mengemban tugas atau mencari pacar sih ? Jika niatmu memang tulus untuk mengemban tugas. Setidaknya kau harus melakukannya dengan sepenuh hati, bukan malah mengeluh seperti tadi, dan kau tadi bilang apa? Senior usil? Hahaha teryata di dunia mu itu ada juga yang usilku kira hanya di dunia manusia saja, teryata di dunia malaikatpun ada yang usil, apakah ada yang tenggil juga” Katanya dengan tatapan sok tahunya dan mengejek itu. Ne ? Memangnya dia siapa ? Sok mengguruiku seperti itu ? Membuatku ingin melemparnya dengan benda apapun yang dapat kuraih. Tapi sepertinya itu bukan pilihan yang tepat untuk dilakukan. Bisa-bisa dia takkan berhenti mempermainkanku dan membuatku seperti dalam neraka selama 49 hari kedepan? Dan benar juga kenapa di dunia malaikat ada ada juga yang usil? Ahh bodoh amat kenyataannya seperti itu kan.

Ne… aku niat mengemban tugas dan tugasku adalah untuk mendampingimu mencari cinta yang tulus selama 49 hari kedepan.” Kataku bangga, bagaimana tidak ini tugas pertamaku dan aku harus membuatnya terkesan bagus dan sempurna. Harus…

Ne ?? Mencari cinta???? Cih cinta…. Bulshit !! Mengapa aku harus mencari cinta bukannya benci ?? Hatiku sudah diselimuti kebencian, tak ada lagi ruang yang tersisa untuk memasukan entah itu cinta kedalamnya. Lagipula untuk apa aku hidup ?? Manusia melakukan bunuh diri bukan untuk hidup kembali, kau mengerti ?”

Ch… ?? Manusia melakukan bunuh diri bukan untuk hidup kembali ?? Benarkah ? Bukankah banyak arwah yang menyesal melakukan hal mengerikan itu ? Dia tidak tahu saja betapa berharganya satu detik nafasnya daripada berkeliaran tidak jelas dan melihat orang-orang yang dicintainya perlahan melupakannya satu persatu. Bodoh… Manusia bodoh… Sekeras apapun aku merutukinya dalam hatiku, toh ia takkan mendengarnya.

“Apa kau suka mati dengan membawa dendam dan kebencian ? Neraka sudah menunggumu dibawah. Kau hidup karena cinta, dan kau mati juga karena cinta. Mungkin itu memang takdir manusia sepertimu. Aku juga tidak tahu mengapa kau harus mencari cinta, karena aku hanya menjalankan tugas sebagai malaikat, dan kau harus bersyukur. Tidak semua arwah seberuntung dirimu. Banyak dari mereka yang harus bersusah payah hanya untuk sekedar melihat orang yang dicintainya atau bahkan keluarganya. Dan kau terpilih untuk dapat memilih jalanmu selanjutnya. Apa kau hanya ingin menyia-nyiakannya seperti itu saja ?? Bodoh !!” Tanpa kurasa air mataku menetes, ukh… aku benci perasaan ini. Perasaan dimana aku terlihat lemah dan  bodoh. Dia pasti akan tertawa terbahak-bahak dan mengolokku selama beberapa hari kedepan. Membuat hidupku yang harusnya surga berubah menjadi neraka hanya dalam sekejap mata ? Kurasa aku salah, dia tampak menyesal dan wajahnya mendadak berubah, lembut.

“Yeah… kurasa kau benar.” Ia tersenyum. Senyuman terhangat yang pernah kulihat. Bahkan seyumku pun tak mampu menandinginya.

Taeyeon POV

Apa yang dia katakan memang ada benarnya… Jika aku mati sekarang, mungkin saja arwahku tidak diterima oleh Tuhan. Atau lebih parah lagi, aku bisa dijebloskan ke neraka ?? Kya… Aniya… Andai saja aku tak mengenal gadis sialan itu, seandainya aku bertemu dengan gadis yang lebih baik darinya. Mungkin saja sekarang aku bisa bersenang-senang dan menikmati indahnya hidup. Bukan merasakan sakit seperti ini.

“Ya.. kau mau membawaku kemana ??” Tiba-tiba saja ia menyeret lenganku dan membawaku entah kemana.

“Sudah kau diam saja….” Ikh menyebalkan.. Eh ?? Apa jangan-jangan ia membawaku ke neraka ?? Hiyaa.. Anio… aku tidak mau.

“Yaa !! Lepaskan..” Berulang kali kuhentakkan lenganku dengan keras. Namun, ia takkunjung melepaskan genggamannya.

“Kau ini bisa diam tidak sih ?”

“Jangan seret aku ke neraka..” Rajukku dengan mimik muka menyedihkan. Tapi. Tiba-tiba saja dia berhenti dan tertawa terbahak-bahak. Apakah ada yang aneh ??

“Bwahahaha… Memangnya, siapa yang mau membawamu ke neraka ? Kau ini lucu sekali… Hahaha…” Dia tertawa sambil meneppukkan kedua tangannya. “Dasar bodoh… Hahaha..” Aiissshh… Aku termakan olehnya. Ini.. sungguh memalukan.

“Terus saja meledekku seperti itu..” Kucibirkan bibirku kesamping. Membuat raut cemberutku semakin menjadi.

“Kyaaa…. Kyeowo…” Dia berhenti tertawa lalu menatapku, terpaku sedetik kemudian wajahnya berubah normal. “Ah… Ayo pergi..” Dia berjalan mendahuluiku. Menyebalkan sekali.. Sekarang aku yang harus mengikuti malaikat aneh ini.

Ia membawaku kesebuah rumah yang cukup sederhana. Tidak begitu mewah, tapi setidaknya rumah ini lebih rapi daripada rumah-rumah disekitarnya yang tampak lusuh dan tak terawat. Semua perabot disini sangat sederhana sekali, tak ada satupun benda yang mewah didalamnya. Atau bisa kusebut minim perabotan, hanya beberapa yang diperlukan saja.

“Namanya Seo Ju Hyun, dia di campakan kekasihnya beberapa bulan lalu, ia bernasib sama sepertimu, tapi bedanya dia tidak bunuh diri, dia hanya diam sepeti itu, kau akan menggunakan tubuh gadis ini selama 49 hari kedepan, mengerti?” Aku mengamati tubuh gadis ini dari ujung rambut sampai pangkal kaki. Dia ? Sama sekali bukan tipeku.

“Ya !! Mengapa kau tidak mencarikan gadis lain yang lebih cantik, menarik dengan tubuh yang sexy ? Bukan yang flat seperti ini..” Gerutuku padanya dengan muka kesal.

“Ya !! Mengapa kau cerewet sekali sih ?? Sudah untung kau kuberi tubuh untuk digunakan selama 49 hari kedepan.” Omelnya sambil berdecak.

“Dia tidak sexy..” Desisku sambil berjalan mengitarinya.

“Ne ??” Hmm.. sepertinya menggoda malaikat ini menarik juga. Aku meliriknya dengan senyum jahil.

“Bagaimaa kalau aku menggunakan tubuhmu saja.. hm… malaikat pendamping… sepertinya dirimu masuk kualifikasi yang kusebutkan tadi.” Aku menyeringai lebar.

“N—Ne ? M—Mwo ?” Bwahahaaha.. ia tampak gugup. Sepertinya dia menarik juga, tidak semenyebalkan tadi. Setidaknya tidak saat kugoda seperti ini.

“Tubuhmu sexy juga untuk ukuran seorang malaikat..” Aku menatap tubuhnya lekat-lekat. Menelusurinya dengan sangat detil, cukup … menggoda. Lucu sekali dia memeluk tubuhnya dengan kedua tanganya haha lucu

Ya !! Mwo hago ?” Aku melangkah satu kali kedepan, dan binggo.. dia mundur selangkah kebelakang dengan tatapan ketakutan yang konyol.

“Hmm…” Aku memijat-mijat daguku, tampak menilai dirinya..

“Kurasa…. Kau…” Aku berjalan mengitarinya. Memiringkan kepalaku kekanan dan kekiri dengan tenang.

“A—Ada apa dengaku ?” Ia merapatkan tubuhnya. Mungkin saja dia berpikiran aku akan menyentuhnya atau apalah.

“Kauuu…….” Tatapanku jahil dengan intonasi yang menggoda. Aku semakin menyukainya saat dia terlihat ketakutan seperti ini. Tampak bodoh…

“Bwahahaahaha…. Malaikat bodoh… hahaha… Kau pikir aku akan melakukan apa ?” Aku melayangkan tawa ajhuma sambil memegangi perutku yang terasa kaku.

“Yaaaaa….” Kulihat wajahnya memerah sebal. Kurasa dia marah. Bodoh amat… Aku merasa puas dapat menggodanya seperti ini. Lelucon yang cukup menghibur. Lihatlah wajahnya yang konyol tadi. Hahaha…

“Wajahmu konyol sekali.” Tak hentinya kuedarkan senyumku. Tanpa sadar, aku sudah mulai melupakan Jessica dan rasa sakitku. Kurasa, ide ini cukup menarik untuk dicoba.

“Ah… sudah… Sekarang kau masuk ke tubunnya !!” Pintanya dengan nada memerintah.“Kau bisa menggunakan tubuh itu dari jam 9 pagi sampai 9 malam, dan kau akan menggunakan kalung gembok ini untuk menemukan kunci, dan kunci itu akan muncul jika kau sudah menemukan orang yang benar-benar mencintaimu secara tulus.” Ia menggantungkan kalung itu di jari telunjuknya sambil menimang-nimang.

“Gembok itu dapat berubah warna sesuai dengan perasaanmu, semacam aura ditubuhmu. Ini adalah refleksi dari pancaran auramu. Fungsinya adalah untuk mengingatkanmu jika sewaktu-waktu kau melanggar aturan, warnanya akan berubah merah menyala dan kau akan merasa kepanasan. Gembok ini juga dapat pecah jika kau sudah diberi perigatan tiga kali dan kau tetap melanggarnya.” Jelasnya panjang lebar hingga aku tak dapat mencernanya satu persatu. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Oh Begitu….”

“Dan ingat…. Jangan sekali-kali kau mencampuri urusan gadis ini. Atau membuat tubuhnya tergores sedikitpun. Kau hanya boleh memakai tubuhnya, bukan merubahnya dan kau bila melanggar aturan itu siap-siap saja, U DIE.” Wajahnya berubah serius. Sepertinya dia siap menercamku sekarang

“Wae ?” Aku mengerutkan kening. Memangnya kenapa ? Apakah aku harus mencari cinta dengan tubuh yang seperti itu ? Mana ada yang mau denganku ??

“Bodoh… kalau begitu dia bisa curiga dan mencari tahu… Dan jika kau sampai ketahuan… maka kau akan didiskualifikasi.”

Ne ??” Diskualifikasi ? Aku benar-benar blank dengan penjelasannya yang tak dapat dibilang singkat itu.

“Yep.. itu artinya kau akan gugur.” Katanya dengan tatapan peringatan.

“Ya… tidak adil..” Bagaimana bisa begitu. Benar-benar gila.

“Ini sudah peraturan dan kau harus menepatinya. Jika tidak, kau akan menanggung resiko yang sudah dientukan.” Ia memainkan kalung itu dengan jemarinya. Menyebalkan… ini sih namanya bukan mencari cinta, bagaimana aku dapat mendapatkan cinta jika identitasku saja tak boleh diumbar ?

“Baik-baik… malaikat cerewet..” Gerutuku. Walau bagaimanapun juga aku tetap berjalan mendekatinya, kupasang kalung pemberian darinya lalu merebahkan tubuhku dengan posisi yang sama seperti gadis ini. Kupejamkan mataku perlahan, lalu tubuhku seolah ditarik oleh gaya magnet yang sangat kuat.

“Sekarang.. buka kedua matamu..” Aku menruti kata-katanya. Tubuhku terasa dua kali lebih berat dari sebelumnya. Aku juga dapat merasakan kelembaban disekitarku. Kukedipkan perlahan lalu bangkit berdiri menghadapnya. “Prefect.” Ia menjentikkan kedua jarinya lalu menunjuk cermin yang berplester di sudut ruangan.

“Lihatlah.” Karena penasaran, aku mengikutinya saja, kulangkahkan kakiku mendekat pada cermin itu. Kulihat bayangan tubuhku yang tak lagi sama. Bukan wajahku yang dulu dikagumi semua orang karena menurut mereka masuk dalam kategori imut. Wajah ini, cukup cantik sebemarnya. Hanya kurang terawat. Kulihat goresan luka pelipisnya yang sudah mengering, rambutnya yang kusut dan kantong mata yang menghitam. Kurasakan sesuatu menyengat rongga hidungku. Aku mencium pakaiannya. Kyaa… Sudah berapa lama gadis ini tidak mandi ?? Seminggu ?? Sebulan ?? Setahun ?? Ya Tuhan.. padahal jika dilihat-lihat dia cantik juga.

“Ya !! Aku mandi dulu, tubuh ini sangat bau.” Aku berlari menuju kamar mandi diujung ruangan. Tidak layak disebut kamar mandi, kondisinya sungguh memprihatinkan. Kubuka bajunya perlahan. Kurasakan mukaku memerah. Omana… Tubuh gadis ini lumayan juga, posturnya yang tinggi, pinggangnya yang ramping. Tapi walau bagaimanapun tubuh Jessica masih lebih sexy. Akh… Apa yang kupikirkan ?? Gadis sialan itu lagi ?? Kyaa… Aku mengacak-ngacak rambutku lalu menyalakan shower. Perlahan, kurasakan air mulai membasuh wajahku. Kurasa… aku akan lebih lama berada disini.

Tiffany POV

Aku ragu jika dia masih hidup di dalam sana. Apa yang ia lakukan ? Apakah dia sudah lupa bagaimana cara mandi dengan baik dan benar padahal baru sehari dia menjadi roh? Apakah aku perlu mengajarinya ? Baiklah.

Aku berjalan mendekat pada pintu yang sudah menguning, suara gemericik air terdegar dalam jarak beberapa meter saja. Saat hendak kubuka pintu tersebut, kurasakan wajahku memanas. Oh My God… Apa yang aku pikirkan ? Sekelebatan bayang tubuhnya terlintas dikepalaku. Ani… mengapa yang ku pikirkan justru tubuhnya ? Yang kumaksudkan disini adalah, dia yang sebenarnya. Bukan dirinya dalam tubuh Seohyun. Ada apa denganku ? Pikiran rancu ini begitu mematikan sistem kerja otakku.

Suara decitan membawa kembali pikiranku yang tersesat dalam bayang semu. Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari arah pintu.

“Seohyun…. Ini makanannya, nak.” Aigo… Apa yang harus kulakukan ? Tanpa pikir panjang, aku mengambil langkah inisiatif. Semoga apa yang kulakukan kali ini tidak menimbulkan kekeliruan. Segera kubuka pintu kamar mandi itu lalu bergegas masuk kedalamnya.

“YAAAAAA!!!!!” Aku menutup kedua gendang telingaku, berharap kali ini masih dapat terselamatkan dari teriakan maut yang dapat memecahkan indera pendengaran dalam sekejap.

“YAAA!!” Tanpa sadar aku juga berteriak mengikutinya.

“Diaaammm…” Teriaknya dengan nada memerintah. Mengapa dia menyuruhku untuk diam ? Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan ??

“Yah !! Bodoh… sekarang di luar ada Umma Seohyun, berhubung sekarang kau sedang menempati tubuhnya, kau harus mengambil alih perannya sementara waktu, Understand ?” Dia hanya mengangguk-angguk sambil membasuh tubuhnya.

“Tunggu… kau bilang tadi aku tidak boleh mencampuri urusannya ? Sekarang kau menyuruhku untuk menggantikan perannya, dasar plin-plan.. merepotkan saja.” Cibirnya dengan gaya kekanakan. Dia yang kutemui pagi tadi sangat berbeda dengan dia yang ada dihadapanku saat ini. Kurasa… aku harus mengubah pandanganku terhadapnya. Gadis ini menarik juga. Aissshh… Apa lagi yang kupikirkan ??

“Seohyun nak kau di situ ?? Apa tadi kau berteriak?” Terdengar suara ketukan dari pintu.

Anio… Aku sedang mandi.” Jawabnya singkat dengan raut muka yang masih sama.

Author POV

(Ps. Mulai sekarang, saat arwah Taeyeon ada dalam tubuh Seohyun akan ditulis ‘SeoTae’)

Umma Seohyun berdiri terpaku didepan pintu kamar mandi. Ia sedikit terkejut, sudah hampir beberapa bulan Seohyun berperilaku seperti patung. Ia menolak berbicara, mandi pun sangat jarang. Layaknya mayat hidup, ia hanya berbaring dengan mata terbuka, menerawang yang tak seharusnya ia kenang. Mengingat peristiwa pahit yang telah meluluh-lantarkan hatinya.

Terbesit sedikit rasa curiga dalam benaknya, namun sedetik kemudian ia tersenyum. Setidaknya ada setitik harapan untuknya kembali melihat anak gadisnya seperti dulu. Sebelum peristiwa itu terjadi. Sebelum kenangan pahit itu terekam dalam memorinya. Bukan Seohyun yang menjadi manusia tanpa rasa dengan tatapan kosong. Bukan Seohyun yang tak bersuara meskipun hatinya berteriak kencang. Seohyun yang ceria walaupun pemalu. Seohyun yang tersenyum bagaimanapun dirinya dulu.

SeoTae keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk mungil di tubuhnya.

“Nak apakah tadi kau berbicara, ataukah Umma yang salah dengar ?” Wanita itu bertanya dengan tatapan tak percaya, namun penuh harap.

Ne, tadi aku menjawab panggilan Umma dari dalam, apa aku salah bicara ?” Jawab SeoTae penuh tanya. Ia terhenyak saat melihat wanita itu menatapnya dengan berderai air mata.

Wae Umma ?” SeoTae  yang tak tega, akhirnya mengusap air matanya.

“Syukurlah nak kau sudah mau berbicara, Umma sangat senang, setidaknya sekarang kau mau menjawab pertanyaan Umma.” Wanita itu tersenyum haru lalu menarik tubuh SeoTae dalam dekapannya.

SeoTae sedikit terhenyak. Refleks ia membalas pelukan wanita itu, terbesit kerinduan pada Ummanya saat ia merasakan kehangatan yang mengalir dalam tubuhnya begitu ia menerima pelukan tersebut. Tanpa sadar, ia juga menitikkan air matanya.

Umma merindukanmu Juhyun-ah..” Keduanya saling menitikkan air mata. Menangis penuh keharuan. Dari jiwa yang saling merindu akan kehangatan dan belaian kasih sayang yang biasa mereka dapat. Tontonan emosional itu mendramatisir keadaan yang sebelumnya sudah dramatis.

Tiffany POV

“Bagaimana? Apakah sekarang aku terlihat lebih cantik ?” Ia bertanya sambil berputar-putar memperlihatkan dress birunya yang mengembang diterpa angin.

“Yeah… gadis ini memang sangat cantik.” Jawabku seadanya, tak ingin berdebat dengannya lebih lama.

“Apa maksudmu dengan ‘gadis ini’?” Tanyanya dengan wajah polos. Sebenarnya dia ini sadar tidak sih ? Haruskah aku mengulangnya dua kali ? Aku benci mengulang perkataanku.

Dengan santai aku berjalan selangkah didepannya, mengabaikannya yang tengah bergeming kebingungan.

“Bagaimana sempurna tidak?”

“Sempurna, kaki ada, telinga ada, hidung ada tidak ada yang terlewatkan.” Aku membuah lelucon di sela-sela percakapanku dengannya

“Ya, kau malaikat bodoh tidak punya selera busana. Tunggu dulu… Jawab pertanyaanku tadi.” Wow kenapa sekarang dia yang marah harusnya aku, bukan dia. Ia berdecak kesal lalu berlari menyusulku, berjalan mengiringiku.

Yah ! Arwah menyebalkan… Kurasa, kau ingat jika sekarang kau hanya sedang menyewa tubuhnya saja ?” Tukasku dengan raut sebal.

“Menyewa ?”

“Yeah… bukankah tadi kubilang kau harus menjaga tubuhnya baik-baik selama kau berada didalamnya ?” Aku berbalik menghadapnya. “Setimpal kan ?” Melontarkan pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan yang seharusnya ia jawab dengan gelengan atau anggukan, bukan malah melemparkannya kembali.

Anio… Kau tak pernah mengatakan hal itu kepadaku sebelumnya.” Ia berkata tenang, atau jangan-jangan ia memang tidak mengingatnya.

“Mungkin kau lupa mengingatnya.” Jawabku singkat, tak ingin memperpanjang urusan dengan makhluk menyebalkan seperti dia. Bahan pembicaraan sesederhana ini tak seharusnya diperpanjang dengan perdebatan yang tak berujung.

Ya !! Aku tidak lupa mengingatnya. Mungkin saja kau yang lupa memberitahukannya.” Tukasnya dengan intonasi lebih tinggi.

Ne ? Aniya… Tadi aku benar-benar mengatakannya dan kau yang melupakannya.” Aku terpancing emosiku yang sudah memuncak. Arwah ini benar-benar menyebalkan. Sudah benar, aku tak ingin memperpanjang masalah, eh.. ia malah memperkeruh keadaan.

Yaa !!” Ia mendesis kemudian menghela nafas dalam. “Yasudah.. terserah… Anggap saja seperti itu.” Ia berjalan pelan sambil merunduk, menatap kerikil kecil yang berserakan diatas aspal sambil menendang-nendang kecil bebatuan itu dengan ujung sepatunya.

Wae ?” Aku berjalan mendekatinya, melihat sikapnya yang seketika berubah membuatku sedikit penasaran.

Anio…” Pandangannya masih sama. “Hanya sedang berpikir tentang bagaimana caraku menghabiskan 49 hari itu.” Ia tersenyum, menendang botol bekas minuman kesamping hingga plastik itu kini melayang dan tepat masuk dalam bak sampah berwarna kuning yang terdapat disebelah halte bus.

“Hmm…” Kulayangkan pandanganku kesegala arah hingga ekor mataku mendapati toko yang menjual alat-alat musik yang tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Bernyanyi !!” Sorakku sambil menjentikkan jari didepan mukaku. Berkata riang dengan ide brilian yang seketika muncul di kepalaku.

Ia mengerutkan kedua alisnya, tatapannya tampak ragu. “Bernyanyi ?”

Aku mengangguk cepat. “Dengan bernyanyi, kau dapat menarik perhatian banyak orang, mungkin saja ada salah satu yang benar-benar tulus jatuh cinta padamu.” Otak ku ini benar-benar wonderfull bisamenemukan ide sebrilian ini

“Bagaimana caraku mendapatkan cinta yang tulus, jika aku tak boleh mengungkapkan identitasku sebenarnya ? Jika aku menggunakan tubuh ini, berarti dia mencintainya bukan aku.”

“Kunci itu akan muncul, jika ada seseorang yang benar-benar mencintai dirimu, pribadimu yang sesungguhnya, bukan mencintai dirimu dalam tubuhnya.” Aku mencoba mengingat-ingat penjelasan senior beberapa waktu yang lalu.

“Huh ?? Pribadiku ?”

“Hmm…” Aku mengangguk tanpa ragu.

“Apakah gadis ini dapat bernyanyi dengan baik ?”

Aku mengeluarkan tablet yang kudapatkan dari senior, mengecek sekali lagi data yang ku simpan beberapa hari yang lalu.

Neh… Disini disebutkan dia mempunyai suara yang indah. Lagipula bukankah kau cukup piawai dalam memainkan beberapa alat musik ?”

Ia tertegun beberapa saat sebelum melontarkan pertanyaan aneh padaku. “Ya !! Apa semua malaikat memiliki itu?” Ia menunjuk tabletku dengan tatapan tak percaya.

“Yeah… Kita mendapatkannya jika sudah cukup matang untuk ditugaskan.” Jawabku apa adanya.

“Whoa… Sungguh sulit dipercaya…. Dunia malaikat lebih canggih dari manusia.” Ia menatapku penuh kekaguman. “Apa jangan-jangan kalian mencuri semua teknologi yang kami miliki ?”

Ya !! Tentusaja tidak…. Kami punya segalanya sendiri, bahkan jauh lebih baik dari yang kalian miliki.” Hardikku padanya. “Jadi, jangan sesekali kau berani meremehkan dunia kami.”

Arraso…” Ia masih saja menatap tablet ini. “Aku bahkan sudah menginginkannya sejak bulan lalu.” Ia beralih menatapku. “Bolehkah aku memilikinya satu ?”

Mwo?? Anio… ini bukan benda sembarangan yang dapat diberikan pada siapa saja.”Senyumnya berubah cemberut.

Arraso..” Ia kembali berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Oiya… jika kau melanggar peraturan… maka gembok itu akan berubah warna merah menyala.” Aku menghilang dan berhenti tepat didepannya. Membuatnya sedikit terlonjak kaget.

Yah !!” Teriaknya tepat didepan mukaku. “Arasso… tadi kau sudah mengatakannya padaku, apa kau lupa lagi, huh ?” Ia mencibir.

Ne…. Tapi aku lupa memberitahumu, jika kau melakukan satu pelanggaran itu, maka kau akan kehilangan 1 hari dari jumlah yang tersisa.” Sedetik kemudian ia menatapku seolah tak percaya.

Ya … Peraturan macam apa itu ?” Sudut matanya membulat.

“Mengapa kau tak memberitahuku dari awal ?” Aku menggaruk belakang telingaku yang tak gatal, mencoba menarikku keluar dari tudingannya yang seakan memojokkanku.

“Bukankah sudah kubilang, aku lupa.”

Aisshh… Bagaimana bisa mereka merekrut malaikat bodoh sepertimu ?”

Ne ?” Apa yang dia katakan ? Menyebalkan.. Jika tadi ia tidak terus mengolokku dari awal, aku pasti mengingatnya.

“Malaikat bodoh..” Teriaknya lalu berjalan menjauh.

Mworago ?” Aku menghilang lalu kembali muncul tepat dihadapannya. Ia tersentak kaget.

Yaaaaaaa !!!!” Ia membuka mulutnya, hendak melontarkan beberapa kata yang kurasa dapat menjatuhkan harga diri dan eksistensiku. Namun terhenti, ia medesis lalu menghela nafas berat, mengedarkan pandangannya kesegala arah kemudian merunduk dalam, berjalan cepat mendahuluiku.

Wae ??” Teriakku. Tapi ia tak bergeming, terus berjalan tanpa berpikir untuk menoleh sedikitpun padaku.

Kumiringkan sedikit kepalaku sambil berpikir sejenak, mengikuti arah pandangannya kemudian tersadar saat mendapati beberapa pasang mata sedang memperhatikannya dengan gumaman kecil yang sudah kuketahui apa maksudnya. Aku menatap benda yang melingkar sempurna di pergelangan tanganku lalu melihat tombol unvisible yang menyala berwarna merah. Aku tertawa sejenak sebelum menyadari perkataannya tadi cukup mengena.

Ya.. kau memiliki 48 hari lagi untuk berpikir dan melakukan semua, arraso ??” Teriakku. Ia kembali mengacuhkanku sambil terus berjalan lurus. Hmm… kurasa 48 hari kedepan akan menjadi hari yang sangat melelahkan….

TBC

Cap cip cup author : TBC sodara-sodara hahaha penyakit ini memang masih saya populer walaupun tomket sudah merebah tetap aja ni penyakit lebih populer,

gimana-gimana apakah chapter ini memuaskan? Akhirnya kalian taukan siapa yang bisa lihat tae, hampir semua tebakannya bener, klian emang reader JJANG n Dae and Bakk alias DAEBAKK, masih ada sebuah rahasia disini mari-mari siapa yang bisa tebak tar aku kasih celana bolong#plakk, celana kalau gak bolong mana mungkin bisa di masukin kakinya ya gak??? YAAAAA#jawab reader hahaha,

oya makasih buat kritik dan sarannya, dan buat reader yang setia setiap saat#plaakkk kyk parfum aja haha, aku akan berusaha membuat ff ini menarik semenarik yang ku bisa, sekali lagi tak henti-hentinya aku berterima kasih sama Sasya karena kalau gak ada dia mungkin ff ni gak akan semenarik ini, n biar reader I Lop u pull lah

Iklan

91 thoughts on “Love In 49days [Chapter 2]”

  1. ohoho.. lucu ceritanyaa..~
    debat mulu tuhh anak bdua.. ckckck..
    kira2 siapa yha yg bkl mncintai taeyeon dgn spnuh hati.. penasaran euy..
    lajut dlu dehh yahh..^^

  2. Drama 49days tu mirip2 sama film indo yg love is cinta dh..bedanya mungkin klo 49days blm mati alias masi koma sdngkan love is cinta udh mati trs reinkarnasi ketubuh yg lain,gitu yah..ahh bingung tp seruu ni critanya..lanjut duyu ahh.. 😀

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s