FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 15

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka 신민린)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 6

Jessica duduk di meja kecil diatas balkon, mengintip matahari terbenam dari sela-sela gedung. Ia tak dapat melihat dengan jelas bintang raksasa itu dengan kedua matanya, tapi ia bisa merasakan bagaimana cahanyanya perlahan semakin terang, ia tahu bahwa fajar semakin naik. Ia menempelkan ujung cangkir itu pada bibirnya, menyesap cairan hangat untuk mengikis hawa dingin dari angin yang terus berputar mengelilingi kaca jendela yang melindungi wajahnya.

Ia mendesah, menghela nafas dalam saat seulas senyum tergurat dibibir mungilnya. Ini adalah saat terlama Hyoyeon mau berada didekatnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Baik, diluar maupun pada jam kerja. Senyumnya seketika menghilang.

Bagaimana mungkin aku membiarkan hal ini semakin memburuk ? Pikirnya seraya menutup kedua matanya. Jessica bersedekap sambil meneguk cairan hangat itu. Dia tak ingin memikirkan apapun tentang hal ini lagi. Tentang betapa mudahnya ia untuk menyerah sebelum memiliki kesempatan yang tepat untuk mengungkapkannya. Ia kembali mendesah. Hari ini terlalu indah baginya untuk termenung dipagi hari.

Tunggulah beberapa jam lagi sebelum aku benar-benar merasa tertekan.

**

“Taenggo…”

“……..”

Tiffany membelai rambut Taeyeon perlahan, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis mungil itu. Dia bersandar mendekat pada telinga Taeyeon.

“Taeyeon-ah ??” Ia mendesah berat, bibirnya menyentuh daun telinga Taeyeon.

“Hmm ??” Taeyeon bergeming, membenamkan wajahnya lebih dalam pada bantal empuk.

Tiffany mencium lembut daun telinganya, menghembuskan nafas hangat saat bibirnya mengecup lembut bagian tersebut. Ia menggiggit-giggit kecil ujungnya sebelum perlahan mengisap dan menjulurkan lidah untuk menjilat permukaan kulit lembut Taeyeon. Tangannya terselip diantara lengan Taeyeon dan menyisipkan jari-jarinya lembut dibawah kain tipis yang dikenakan gadis itu.

Taeyeon mengerang, tubuhnya merinding gemetar saat Tiffany menggambar lingkaran di bahunya. Tiffany tetap menjaga sentuhannya cukup renggang, hal itu membuat Taeyeon kecewa karena ingin menerima sentuhan lebih dari kekasihnya. Bibirnya menciumi kulit sensitif dibawah daun telinga Taeyeon, meyebabkan desahan serak meluncur dari mulutnya. Ia menggigit kecil dagu Taeyeon untuk menggodanya sebelum ciumannya berjalan perlahan menuju mulutnya. Bibir Taeyeon sudah sedikit terbuka, menunggu dengan sabar.

“Taeyeongie..” Tiffany menyelipkan beberapa helai rambut Taeyeon dibalik telinganya. Mengusap lembut bagian kulit yang sebelumnya telah ia gunakan sebagai media untuk menyalurkan hasratnya. “Kau sudah bangun sekarang ?” Taeyeon terperanjat, lalu mengalungkan lengannya dibelakang leher Tiffany, menekan bibir mereka sebelum ia memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.

Seketika, ia mendapati dirinya diambil alih oleh gadis mungil itu. Indra perasanya meningkat tajam. Sudah 6 bulan lamanya dan ia masih saja merasa ada kupu-kupu yang hinggap dalam perutnya. Ia tak peduli. Berciuman dengan Taeyeon akan selalu menjadi hal yang luar biasa untuknya. Lidah mereka tak henti membawakan tarian anggun satu-sama lain, berbagi kelembutan selama yang mereka bisa. Taeyeon menyelipkan tangannya kedalam kaus Tiffany lalu menekan perutnya perlahan, sekarang posisinya tepat berada diatas Tiffany. Mereka berdua tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ciuman itu seketika kehilangan kepolosannya.

“Ah…. Taeyeon..” Desah Tiffany, tangannya menekan lengan Taeyeon saat ia merasakan jemari gadis itu perlahan berjalan menggerayangi pinggangnya hingga menelusup kedalam celana merah mudanya. Seketika Tiffany mulai menyukai sisi lain darinya. Taeyeon yang penuh gairah dan haus akan sentuhan lembutnya. Ia barusaja menemukan pesona ini beberapa hari yang lalu. Sementara dia mencintai pesona Taeyeon yang manis, lembut dan penuh perhatian, Taeyeon yang seperti ini membawanya kedalam sensasi yang luar biasa. Dengan Taeyeon yang seperti ini, dia tidak perlu khawatir tentang siapa yang mungkin akan melihat mereka. Dia tidak harus menahan perasaannya walaupun mereka sudah bersama, ia masih harus melakukan banyak hal dalam sisa hidupnya. Dengan Taeyeon yang seperti ini dia dapat menumpahkan semua emosinya dan membiarkan dirinya pergi mengalirkan semua perasaannya yang sudah meluap-luap. Tiba-tiba sesuatu menarik pikirannya kembali.

“TaeTae..” Tiffany terkesiap saat Taeyeon menancapkan ciuman ditenggorokannya. Taeyeon tahu itu adalah bagian paling sensitif.

“T-Tae-y-yeon tunggu !!” Ia meraih lengan Taeyeon, menghentikan tangannya yang hendak menelusuri tubuhnya lebih rendah.

“Tidak, ah! Tidak diluar sini…” Sengalnya.

“Mmh?” Namun ia terus menggigiti leher Tiffany.

“Tidak… Tidak…. diluar sini.” Dia menarik kepala Taeyeon.

Taeyeon mengedarkan pandangannya, ia terperanjat begitu melihat pemandangan yang sudah tak asing lagi baginya. “Mengapa kita ada disini ?” Matanya mengitari seluruh sudut ruang tamu dengan posisi tubuh yang tak berubah.

“Kita tertidur disini semalam. Sangat sempit di sofa, dan aku tak sanggup menggendongmu menaiki tangga. Jadi aku merapatkan meja kedinding lalu menidurkanmu disini.”

“Ah…” Taeyeon tersenyum pada gadis yang berada tepat dibawahnya. “Kau bisa membangunkanku.”

Tiffany menggeleng lemah. “Kau tampak begitu nyenyak.”

Taeyeon tersipu mendengar kejujurannya. Perhatian yang Tiffany berikan selalu berhasil membuat dadanya berdebar hebat. Ia bahkan dapat merasakan jantungnya seakan keluar dari tulang rusuknya. Ia menutup kedua matanya, merasakan nafas Tiffany yang naik-turun dibawah telapak tagannya. Menikmati sensasinya, ditambah kehangatan cahaya matahari yang menerpa wajah mereka. Sekelebat pikirannya membuat semburat diwajahnya semakin merah padam bahkan sebelum ia mulai berbicara.

“Apa…” Ia mendapati dirinya mengamati tubuh Tiffany. “Apakah kau… ingin…”

“Hmm ?” Tiffany tersenyum, memiringkan kepalanya kesamping. “Apa itu Tae ?”

“Ayo… um… Ayo kita pergi ke kamar.”

“Oh…” Ia berbisik ditelinga Taeyeon, menciumi daun telinganya. “Untuk melakukan apa, sebenarnya?” suaranya penuh harap dengan nada menggoda, melarikan jemarinya pada tulang belakang Taeyeon.

Tiba-tiba saja Taeyon mengerang dan berguling kesamping.

“Ada apa ?” Tiffany terduduk. Menatap penuh perhatian pada kekasihnya yang kini tengah meregang kesakitan.

“Ah !!” Ia kembali berguling. “Bukan apa-apa.”

“Katakan padaku.”

Taeyeon merasa sedikit rileks. “Punggungku hanya sedikit sakit.”

“Hm..” Tiffany mengangguk. “Mungkin karena tidur dilantai.”

Taeyeon mengagguk ragu, “….Yeah.”

Kedua alis Tiffany berkerut, ia memiringkan kepalanya kesamping, kemudian meraih kemeja Taeyeon. “Sini biar kulihat.”

Taeyeon menyandarkan kepalanya diatas lengan saat Tiffany memiringkan badannya lalu perlahan mengangkat kausnya. “Kurasa kau mencakar punggungku kemarin.”

Bekas gigitan dan memar akibat cakaran tersebar di berbagai tempat pada seluruh permukaan kulit di punggungnya. Bekas gigitan kecil berbentuk bulan sabit tertoreh di bahunya. Tiffany telah melakukan lebih dari sekedar mencakarnya. Ia meninggalkan jejak di seluruh tubuhnya.

Melihat kulit kekasihnya yang tak lagi mulus, membuatnya tersipu malu karena telah membiarkan kehendaknya untuk meluapkan hasrat yang telah ia pendam selama bertahun-tahun.

“Oh-TaeTae.. Aku minta maaf ! A-Aku tak dapat mengendalikan diriku.” Ujarnya jujur, dia tidak bisa menahan dirinya sendiri.

Taeyeon berguling kesisi gadis yang sedang duduk mengangkanginya, “tak masalah Fanny-ah, aku baik-baik saja.” Ia tertawa kecil menutupi ketidak nyamanannya.

“Apa sakit ?” Tiffany mengamati sekat rongga badan Taeyeon. Terdapat juga beberapa bekas gigitan disana.

Taeyeon menggeleng, meraup dagu Tiffany saat ia meneteskan air mata, “hanya sedikit.” Mendekapnya kedalam pelukan, “aku baik-baik saja, aku berjanji.”

Tiffany menahan dirinya untuk tidak mencium Taeyeon sebagai hukuman karena telah melukainya. Meskipun sekarang ia ingin sekali menjamah tubuh Taeyeon [Ps. Kata aslinya memperkosa, tapi sasya enggak tega (?) nulisnya, haha] seperti apa yang ia lakukan sebelumnya. Atau mungkin lebih dari itu.

“Tunggu.. biar ku obati.” Pintanya, tak sedikitpun menunjukkan tanda perlawanan.

Taeyeon hanya mengangguk saat Tiffany mendekat padanya.

“Di ruang tamu juga ?!” Sunny tiba-tiba saja muncul dibelakangnya. “Adakah tempat lain yang lebih aman ?” Ia menahan tawa saat melihat Tiffany tergesa-gesa melepaskan diri dari tubuh Taeyeon.

“Sunny kita tidak—..”

“Santai.. Aku hanya bercanda.” Ia kembali berjalan menuju dapur, “kalian lapar ?”

Taeyeon mendesah saat melihat Tiffany bergegas melipat selimut mereka, “aku akan mengembalikannya di lantai atas.”

Tiffany bergumam sambil mengangkat lipatan selimut dihadapannya. Ia bangkit dengan kesal, “aku kelaparan.”

Taeyeon kembali mengerang, lalu berjalan ke dapur. Ia tahu, jika ia ikut menemaninya, perutnya akan kembali berteriak-teriak minta diisi.

“Pagi..” Sunny membalas dengan senyum rekah, “tidurmu nyenyak ?”

Taeyeon mengangguk.

“Bagus..”

“—ow !!” Taeyeon mengusap bahunya dari pukulan keras yang ia terima dari Sunny.

“Kau tolol !!”

Ia tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. “Aku tak percaya, apa aku salah bicara ?”

“Aku tidak pernah berpikiran kedua temanku akan berhubungan seperti ini, tapi kau telah melakukan hal yang lebih buruk dari itu !! Gadis ceroboh !! Tolol !! Pernahkah kau mendengar kata KUNCI ?”

“Kupikir tadi itu… Sunny—ow !! Berhenti memukulku !!”

“Urgh !!” Ia melemparkan tangannya keatas dengan gusar, “ini lebih buruk ketika aku berjalan masuk— lupakan !!” God aku bahkan tidak dapat mengeluarkan bayangan itu dari kepalaku. Kau dan dia… ugh !!” Ia gemetar. (Poor Sunny)

“Aku minta maaf, aku benar-benar.. Aku.. tidak…aw— jangan punggungku !!” Taeyeon merintih kesakitan saat tubuhnya terjatuh didekat lemari counter, punggungnya menggigil sambil tertekuk.

“Taeyeon, kau baik-baik saja ?”

“Aku baik-baik saja.” Ia menjawab dengan manis sambil terus menggertakkan giginya, “hey..” ia menggunakan lengannya untuk menghalau sebelah sisinya sedangkan tangannya meraih bahu Sunny. “Kau benar, aku memang ceroboh. Aku harus memastikan pintunya terkunci dengan baik. Jika kau marah padaku, aku akan menerimanya, pukul aku sesukamu, tapi jangan melibatkan Tiffany. Ia masih belum siap dengan keadaan ini.” Ia melirik kearah undakan tangga, “aku akan menjelaskannya.”

Sunny melembut saat melihat pancaran mata Taeyeon yang seolah melindungi Tiffany. Ia tidak bertujuan untuk menyakiti Tiffany. Di matanya, Taeyeon adalah pihak yang patut untuk dipersalahkan. Ia menyeringai sebelum kembali menekuri masakannya. “Jangan khawatir.”

“Taeyeon-ah, apa yang terjadi ?” Tiffany berlari melompat menuruni anak tangga. Ia hampir saja tersandung saat melihat Taeyeon sedang berusaha memegangi pundaknya, “apakah aku—..” Suaranya merendah saat ia melayangkan lirikan kecil pada Sunny. Ia berjalan mendekat, “apa aku melukai bahumu juga ?”

“Tidak—aku ..”

“Ia terjatuh di depan kulkas.”

“Ah..” Tiffany mendesah lega, “Taengoo..” ia melingkarkan lengannya pada pinggang Taeyeon, “Kau harus lebih berhati-hati lagi.” Ditariknya sebuah kursi, “duduklah, aku akan membuatkanmu sesuatu—apa kau membutuhkan bantal untuk punggungmu ?”

Taeyeon menggeleng, “tidak perlu… aku baik-baik saja.”

**

“Siapa yang mengira ini akan selesai begitu cepat ?”

“Mmm..” Hyoyeon mengangguk, melihat sekilas kearah jam tangannya.

“Apa kau benar-benar harus pulang sekarang ?”

“Apa lagi yang bisa kulakukan disini jika aku sudah selesai berlatih ?”

“Kita bisa pergi bersenang-senang.” Jessica menendang kerikil didekat kakinya.

“Pergi bersenang-senang ?”

“Yeah.. Jika kau tidak keberatan, maksudku.. Aku tidak ingin pulang sekarang dan aku tidak suka berjalan-jalan disekitar sini sendirian.”

“Baiklah..”

“Benarkah ?”

Hyoyeon mengangguk, “mmmm..”

**

Gomawo…” Tiffany menerima semangka dari Sunny lalu menempatkannya pada talenan, “apa ada anggur juga didalam ?”

“Hijau atau merah ?” Sunny mengintip kedalam lemari es.

Tiffany menatap kearah Taeyeon yang sedang menyalakan TV di ruang tamu, “hijau,” ia mengangguk, “ia lebih menyukai anggur hijau.”

Sunny menyerahkan sekotak anggur pada Tiffany sebelum kembali memasak telurnya.

Pada awalnya, ia merasa canggung berada di dapur berdua hingga Sunny memeluknya dan meyakinkannya bahwa ia tidak marah. Tiffany tetap membisu hingga perlahan ia mulai kembali pada sikap normalnya yang ceria.

“Kurasa kabelnya terputus.” Taeyeon bergumam, berulang kali mengganti saluran yang tetap blank.

“Apa ?? Disini juga ? Aw—man !” Sooyoung berdiri di bawah tangga sambil menggelengkan kepalanya, “kupikir hanya di kamarku saja.” Rasa kecewanya seketika lenyap saat ia mencium aroma pancake diatas meja. “Mmm…” ia berjalan mendekati Sunny, “kau sedang masak apa ?”

Sunny melirik sekilas pada gadis jakung itu kemudian mendesah, “Kurasa aku harus memasak untuk semuanya semenjak semua orang sudah mulai bangun.”

“Tentu !!” Sooyoung tersenyum lalu mengambil tempat duduk disebelah Seohyun yang sedang duduk diujung sambil menyesap secangkir teh, “Jangan ikut berdiet juga, kurasa aku dapat makan setumpuk itu sendirian.”

Unnie…” Seohyun meletakkan cangkirnya diatas meja. “Kau tak perlu memasak untukku, terlalu merepotkanmu, aku dapat membuatnya sendiri.”

Sunny menggelengkan kepalanya pada maknae sambil tersenyum, “tidak masalah, aku hanya sedang merasa sebal.”

Taeyeon meletakkan remote disampingnya, “kurasa aku mengingat Lyn-sshi mengatakan sesuatu tentang itu—kabelnya atau listriknya sedang padam atau yang lain…”

“Benarkah ? Kapan ?”

“Kemarin pagi kurasa…” Ia mengangkat bahunya.

“Apakah dia berkata sesuatu tentang badai ?”

“Kurasa tidak..”

Seohyun berjalan mendekat pada pintu geser didekat tangga spiral, “tidak terlalu buruk hari ini.”

“Hmm..” Sooyoung memmijat dagunya, “mungkin kita sedang berada dipusatnya. Kau tahu, seperti mata badai.”

“Mmm..” Seohyun mengangguk lalu kembali menyesap tehnya.

“Ini.. untukmu,” Tiffany menyerahkan sepiring buah-buahan dihadapan Taeyeon. Potongan semangka yang disusun secara unik berbentuk hati besar dengan butiran anggur yang memenuhi bagian tengahnya. Taeyeon tidak dapat menyembunyikan pipinya yang memerah atau senyum lebarnya. (LOL, gak bayangkin kalo aku jadi Tae, aku bakalan lari sembunyi dibawah kolong kasur, LOL. Sasya bukan orang yang mudah dengan hal2 seperti ini *curcol*). Sebelum Tiffany kembali pergi, ia meraih lengan gadis itu dan menariknya untuk duduk disebelahnya, “makanlah bersamaku.”

Tiffany membalas senyumnya dan mengangguk, menempati tempat duduknya disamping gadis itu. Tayeon menusuk sepotong semangka dan menyodorkannya didepan mulut Tiffany, “Ah…” (OMG.. LOL..arkh… pengen sembunyi di suatu tempat yang tak terlihat, im not a romantic person, and can’t be the one. T^T)

Tiffany dengan anggun melakukan hal yang sama seperti Taeyeon, seketika terhanyut kedalam dunia mereka. (LOL) Seohyun tidak tampak memperhatikan hal itu, pandangannya terpaku keluar jendela. Disisi lain, Sooyoung berpangku tangan dengan kedua kelopak mata yang hendak keluar, menatap penuh rahmat pada dua sejoli dihadapannya.

Jemari Tiffany membelai lembut rambut Taeyeon lalu menguncinya dibelakang telinganya sebelum menyisir beberapa helai anak-anak rambut Taeyeon diatas kepalanya. Tangannya menelusuri cengkok leher Taeyeon, tempat dimana ia melingkarkan lengannya disekitar pundak gadis itu, ia menyandarkan sedikit kepalanya untuk kembali melahap potongan semangka. Secara naluriah, Taeyeon menyodorkan sepotong semangka kedalam mulut kekasihnya. Tiffany menggigit kecil sisinya kemudian memberikan sisanya pada Taeyeon. Ia mengecup sekilas pipi Taeyeon sebelum menyandarkan kepalanya pada pundak gadis itu.

“Aw…” Desah Sooyoung. (LOL Soo…) Tersenyum lebar pada pasangan didepannya.

Taeyeon berdeham, seketika ia teringat bahwa masih ada member lain dalam ruangan itu. Ia meletakkan kedua tangannya diatas paha, menatap canggung kearah Sooyoung.

“Mengapa berhenti ?” Erang Sooyong, pancaran matanya mengisyaratkan ingin menyaksikan lebih banyak kemesraan yang mereka tunjukkan sebelumnya.

“Um… sedikit aneh jika kau memandang dengan tatapan seperti itu.”

“Ah.. kau tahu, ia tak bisa menahannya.” Sunny menempatkan dua piring pancake diatas meja, “Ia gadis romantis yang kehilangan harapan lagi dan lagi.”

*

“Jadi, apa yang harus kita lakukan ?” Jessica menyelipkan ibu jarinya dibawah tali selempang tas ranselnya, rambut kuncir kudanya berayun dengan riang saat dia berjalan menyilang-nyilang di sepanjang jalan. Dari ekor matanya, ia mendapati Hyoyeon mencoba untuk menirukannya. “Tunggu… jika kau melakukannya, itu tidak akan—..”

Tali selempang Hyoyeon bertambah longgar hingga tas ranselnya terjatuh dari punggungnya. Ia tersipu saat Jessica terkikik.

“Sini…” Jessica tersenyum, “biar kupasangkan.” Dia berdiri dihadapan Hyoyeon dan menyelipkan kembali tali selempang itu. Menyimpul bagian bawah talinya begitu ia sudah selesai. “ini.. sekarang, tak akan jatuh seperti tadi…” Mereka melanjutkan perjalanannya.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan  ?” tanyannya kembali.

“Aku tidak tahu,” Hyoyeon mengangkat bahunya dengan gugup, menyelipkan rambutnya yang panjang dibalik telingannya. “Apa kau lapar ?”

“Tidak juga..” Mereka berhenti di perempatan jalan. Jessica mengedarkan pandangannya, ia melihat saat Hyoyeon menatap mobil yang berlalu-lalang.

“Yeah, aku juga…”

Hyoyeon yang sedang kelaparan, melilitkan kedua lengannya disekitar perutnya yang keroncongan mencoba untuk meredam suaranya. Dia merasa berhasil saat ia kira Jessica tidak memperhatikannya.

“Kaupikir aku akan membiarkanmu mati ?” Ia berucap datar, matanya menerawang gedung-gedung dipinggir jalan.

“Huh ?”

Meskipun kata-katanya terdengar dingin, namun wajahnya tidak. Dia berbalik menatap Hyoyeon, seulas senyum mengembang di bibirnya, “jika kau lapar, bilang saja..”Hyoyeon merasakan rasa gugupnya semakin memuncak. Selama sebulan ini, semua ini sudah menjadi kebiasaan baginya. Suara lembut Jessica membuatnya meleleh, “katakan yang sebenarnya padaku.”

Hyoyeon hanya dapat mengangguk, ia mati kutu saat menerima tatapan lembut Jessica.

**

“Selamat pagi…” Seohyun menyeringai pada gadis yang sedang berjalan melewati dapur.

Hyoyeon mencuci tangannya diwastafel sebelum mengambil tempat duduk didepan meja. “Pagi…” Ia menjawab sambil menguap, “kau yang membuatnya ?”

Anio…” Seohyun menggeleng, “Sunny Unnie.”

“Ah..” Hyoyeon mengangguk, meraih piring dalam tumpukan diatas meja. Saat ini, mereka adalah satu-satunya yang berkecimpung di dalam dapur, momen yang jarang terjadi. Ia merasa kali ini adalah saat yang tepat untuk membicarakannya. Untuk mulai memperbaiki apa yang telah rusak.

“Kau tampak sedang patah hati.” Hyoyeon membuka perbincangan, ia yakin dengan kata-katanya.

“Hm ?” Seohyun tidak membalas tatapannya.

“Aku mengerti, aku telah mera—melihat itu sebelumnya.”

“Aku tahu…” Seohyun tidak mendesah atau menunjukkan raut perubahan. Ia hanya mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Seohyun… Aku…” Ia tak dapat melanjutkannya. Tidak karena Seohyun yang tak menatapnya. Itu terasa agaak aneh.

Hyoyeon bergumam kecil sebelum kembali duduk dikursinya, “Bagaimana kau bisa mengatasi semua ini sendiri ?”

Seohyun meletakkan cangkirnya diatas meja, matanya menelusuri pekarangan dibelakang hotel, “itu tidak mustahil. Aku tidak ingin mengganggu yang lainnya.” Ia akhirnya menatap kedua mata Hyoyeon. “Taeyeon dan Tiffany Unnie sedang bahagia sekarang dan Jessica Unnie…. Dia selalu berusaha untuk membantu orang lain, tapi siapa yang ada disana untuk membantunya ? Dia mempunyai permasalahan sendiri untuk diselesaikan..” Ia bermaksud untuk berhenti sampai disitu tapi tidak jadi saat ia mendapati betapa Hyoyeon tampak ingin mendengar lebih banyak lagi.

“Aku merasa bersalah padanya. Ia selalu tampak terluka setiap saat namun ia tak pernah ingin menunjukkannya. Kurasa ia tidak bisa. Apapun itu, pasti telah menjadi beban pikiran untuknya.” Hyoyeon membuka mulutnya untuk berbicara dan bermaksud menanyakan pada Seohyun seberapa banyak ia tahu tentang masa lalunya namun terhenti saat Seohyun kembali menatap keluar jendela. Ia tidak nafsu makan saat ini, walau bagaimanapun, ia tetap duduk terdiam di kursinya dan melanjutkan makannya, khawatir jika ia meninggalkannya akan terasa mencurigakan. Ia tidak ingin semua itu terlihat begitu jelas.

**

OST : Jessica – Almost

“Ah.. Aku akan mendapatkanmu lain kali !” Sorak Jessica, mengibaskan jemarinya di udara.

Hyoyeon menyeringai, memandang sekilas gadis yang sedang berjalan disampingnnya, “kau membiarkanku menang.”

Anio..” Protes Jessica, matanya menatap lampu neon yang menerangi lantai di sepanjang gang sempit, “kau sungguh hebat.”

“tak sehebat dirimu Sicca.”

Gadis yang lebih tinggi itu terpaku, membeku, menatap gadis disampingnya. “Kau tadi memanggilku apa ?”

Hyoyeon mengusap bagian belakang lehernya, ucapannya ragu, “Bu—bukan apa-apa.”

“Katakan sekali lagi,”Desak Jessica, berjalan mendekat, “panggil aku Sicca.”

“Um,” Ia merasa gugup. Setiap saat ia selalu berpikir dia akan terbiasa dengan perasaan itu, Jessica selalu melakukan hal-hal yang dapat membuat perutnya seolah terkoyak. “Si…sicca… begitu ?”

Jessica menutup kedua matanya, “Hm..” Ia menghela napas, kepalanya miring kesamping, “bagus..”

Hyoyeon mendesah lega saat Jessica melangkah menjauh. “Jadi, permainan apa lagi yang kau sukai ?”

“Hmm…” Jessica melayangkan pandangannya mengitari seluruh tempat hiburan itu, “Ah !” Ia terperanjat, menarik lengan Hyoyeon membawanya ke interaktif unit. Hyoyeon tidak keberatan, akan tetapi ia mendapati dirinya sendiri berengut saat gadis hiper itu melepaskan genggamannya. “Aku suka memainkan ini.” Jarinya menunjuk pada konsol Pump it Up.

“Benarkah ?”

Jessica mengangguk, “Ayo… uangku masih sisa,”

“Baiklah…” Hyoyeon tersenyum, mengambil tempat disebelah temannya.

Permainan itu dimulai. Seketika Jessica mulai bergerak mengikuti irama musik, menghentak semua langkah yang tepat pada saat yang tepat pula. Ia mulai terhanyut pada bunyi gebukan yang mengalun dari sepeaker besar namun ia kembali tersadar saat ia mendapati temannya sedang mengalami kesulitan. Seketika score yang Hyoyeon dapatkan menurun dan ia melangkah mundur dari arena permainan, kepalaya tertunduk lesu.

“Maaf..” Ia bergumam pada Jessica yang seketika ikut menghentikan permainannya. Jessica menatap Hyoyeon dengan raut datar tanpa emosi, hal itu menyebabkan Hyoyeon semakin merasa malu. Ia telah membiarkan Jessica kalah meskipun ini hanya permainan bagi mereka.

“Sini..” Jessica membiarkan rambutnya terurai dan berpindah dihadapan Hyoyeon. Ia menyisirkan jarinya pada rambut Hyoyeon, menyibak helai-helai rambutnya kebelakang. Hyoyoen secara naluriah menutup matanya saat ia merasakan sesuatu yang kental dan cair menyentuh permukaan kulitnya. Ia dapat merasakan semuanya, jari-jari Jessica yang membelai rambutnya, harum lotion Jessica terasa dilehernya, embus napas Jessica seketika mendekat. Sejenak, ia mengira Jessica hendak memeluknya, secara naluriah ia mengangkat kedua lengannya dibelakang punggung Jessica. Mereka hanya berpelukan dua kali sebelumnya. Hyoyeon sangat mengingatnya, sama seperti saat kali pertama ia bertemu Jessica, ia memutar kenangan itu terus menerus dalam kepalanya sampai-sampai hal itu terukir sempurna dalam memorinya.

Kali pertama terjadi ketika ia sedang beristirahat saat latihan. Ia sedang berdiri didepan mesin vending, memutuskan untuk membeli air mineral atau soda saat sepasang telapak tangan menutup kedua matanya. Pada awalnya, ia terperangah sampai pada akhirnya Jessica bertanya, “guess who ?” ia seketika tahu siapa itu, sekalipun ia mengucapkannya dalam bahasa inggris.

Jessica membiarkan lengannya tergantung di bahu Hyoyeon saat gadis itu menjawab dengan benar dan melandai mendekat di telinganya. “Beli air mineral saja, itu baik untukmu,” hanya itu yang ia katakan sebelum kembali memasuki ruangannya. Hyoyeon memaksa dirinya untuk tidak menatap Jessica yang berjalan menjauh, kaus ketat yang ia kenakan selaras dengan stocking tipis itu terlihat sempurna saat ia melangkahkan kakinya.

Yang kedua lebih singkat namun tepat. Mereka sedang berdiri di depan halte bus selepas latihan, menunggu pemberhentian bus selanjutnya ketika embusan angin itu mengempas tubuh mereka. Jessica menggigil sambil mengutuk dirinya sendiri karena memilih untuk tidak membawa jaket hari ini. Di sisi lain, Hyoyeon merasa baik-baik saja. Ia mendapati Jessica sedang memeluk lengannya sendiri dan seketika ia berpikir bagaimana cara untuk menghangatkan temannya yang kedinginan. Jarak mereka berdiri begitu dekat hingga ia dapat merasakan tubuh Jessica yang gemetaran disampingnnya.

Aku dapat mendekapnya dengan lenganku, Ia membayangkan lengannya melingkar di pundak Jessica. Anio… Ia menghentikan dirinya sendiri. Aku harus bertanya terlebih dahulu.

Gadis pemalu itu menelan ludahnya sebelum berdeham. Ia tidak melakukannya untuk menarik perhatian Jessica, tapi entah… ia melakukan itu pada akhirnya. Dengan sepasang mata yang menatapnya, semakin membuat lidahnya kelu, “Apa kau..”

Ia tak perlu mengatakannya, Jessica tahu apa yang ia pikirkan, segera ia menyandarkan dirinya pada gadis yang lebih muda, tubuhnya yang tadi menggigil kedinginan seketika terasa hangat dalam dekapan Hyoyeon. Sedetik kemudian, suara desisan bus didepannya membuyarkan mereka. Jessica tersenyum, melintasi undakan tangga. “Akhirnya !!”

Hyoyeon mendesah, mengikutinya dari belakang, kekecewaan  gamblang diwajahnya. Untuk kedua kalinya ia merasakan kegelian yang sama seperti sebelumnya, kegelian yang membuat tubuhnya bergetar dengan antisipasi. Biarpun begitu, ketika Jessica berjalan menjauh ia tahu pelukan itu takkan terjadi kembali.

“Nah, sekarang kau bisa melihatnya.” Jessica tersenyum, kembali ke podiumnya. “Kau terlihat manis dengan rambutmu yang dikuncir kebelakang.” Ia menarik kembali tangannya dari rambut Hyoyeon, “ingin mencoba lagi?”

Hyoyeon mengangguk, ia lebih memilih menggandeng tangannya daripada pelukan semu, sejauh ia dapat berada didekat Jessica, ia tidak peduli apapun yang mereka lakukan.

“Yah !!” Jessica kembali tersadar, menyadari tatapan gadis yang sedang berdiri di depan pintu. Suara Hyoyeon terdengar serak, bahkan ia sedikit bergumam, “apa yang kau lakukan didepan sini? Masuk kedalam, kau akan membeku kedinginan.”

Menyadari kenyataannya takkan semudah bertahun-tahun yang lalu. Perasaan hampa tetap sama. Tak ada lagi dimana ia menghabiskan waktu luang hanya untuk sekedar bersenang-senang di taman hiburan, tak ada lagi malam dimana ia bermain game kuno dan membeli jajanan dipinggir jalan.

Tak ada lagi Hyoyeon

Dan sekarang dimana dulunya ada tawa dan kebahagiaan kini hanya tinggal jarak dan penyesalan yang tersisa.

-TBC-

Iklan

109 thoughts on “LOVE IS HARD Part 15”

  1. Lok aku da disitu mngkin ku kan nglakuin hal yg sma sprti soo unnie mnikmati kmesraan taeny yg taktrpisahkan kkk ni couple bner2 bkin envy bngit druang tmu ja msih brmesraan pa lgi dlam kmar jgn dtnya deh hohoho~

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s