FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 16

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)
!!

Chapter 7

“Sini..” Tiffany melarikan jari-jarinya pada punggung Taeyeon, mengaggumi hasil balutannya. Ia memijit punggung Taeyeon secara perlahan, berhati-hati agar tidak menyentuh plaster yang telah ia tempelkan. “Apa kau merasa lebih baik?”

“Mmmhh…” Taeyeon berguling, menikmati kehangatan tubuh Tiffany yang menindih pinggulnya, “kamsahae Fany-ah..”

Tiffany tersenyum, sedikit bergeser untuk melepaskan diri dari tubuh Taeyeon, namun segera dihentikan oleh gadis itu. Ia menyentakkan tangannya pada lengan Tiffany.

Taeyeon melayangkan jemarinya ke atas lengan hoodie Tiffany sebelum menangkup lehernya dan menekan tubuh gadis itu untuk berbaring diatasnya. Taeyeon dengan lembut membelai kulit mulus Tiffany dengan ibu jarinya sembari menancapkan ciuman dibawah dagu gadis tersebut.

Tiffany tersengal, merasakan tubuhnya semakin relax berada di atas kekasihnya. Ia berniat untuk mandi dan menghabiskan waktu seharian penuh untuk menjelajahi seisi gedung ini, namun saat tangan Taeyeon mulai menggerayangi punggungnya, ia menyadari kesempatan untuk melakukan hal itu semakin menipis.

Jika ini terus berlanjut, kita hanya akan berakhir dengan terjebak di tempat ini seharian lagi. Ia sadar, ia harus segera menghentikannya. Punggung Taeyeon, walau masih terluka dan ternyata itu tak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya. Meski masih belum sepenuhnya sembuh dan dia tidak ingin kembali menorehkan bekas permanen pada seluruh permukaan kulit gadis mungil tersebut. Lagipula, bagaimana cara mereka untuk menjelaskannya pada manager? Tapi Taeyeon telah menyentuhnya di tempat yang sangat tepat. Bibirnya sekarang berada tepat pada tenggorokan Tiffany, mengisap pada tempat yang ia ketahui dapat membuat Tiffany kalah telak. Semuanya ada lima dan baru kemarin ia menemukan semuanya.

Walaupun begitu, tak mudah untuk menaklukkan Tiffany dengan godaannya, seperti apa yang ia harapkan. Dengan entakkan secepat kilat Tiffany melepaskan diri dari dekapan Taeyeon lalu turun dari tempat tidur.

“Ah—!!” Taeyeon menggelengkan kepalanya, menopang tubuh mungilnya menggunakan pangkal telapak tagannya. “Aku tidak ! Aku hanya ingin berciuman.”

“Benarkah ?” Tiffany menyeringai, mengangkat kedua alisnya, “hanya itu ?”

Wajah bersinar Taeyeon sudah cukup untuk menjadi jawabannya.

Tiffany terkikik, “Aw, aku menyukai wajahmu yang kebingungan seperti itu, kau sungguh menawan,” ia mengecup pipi Taeyeon sekilas sebelum berjalan ke kamar mandi, “kita harus belajar untuk mengendalikan diri atau kita takkan pernah meinggalkan kamar ini.”

Taeyeon merajuk sebelum kembali mengenyakkan diri diatas kasur, “apakah itu hal yang sangat buruk ?” Ia bergumam, kemudian tidur tengkurap.

“Aku mendengarnya.” Sorak Tiffany, kembali memasuki kamar.

“Baik, benarkan yang kukatakan tadi ?” Rintihnya, membenamkan wajahnya ke dalam bantal.

“Taengoo…” Tiffany mencium punggung Taeyeon, “jangan menjadi ajhumma begitu.”

“Tapi siapa yang tahu, kapan lagi kita mendapatkan kesempatan seperti ini.” Ia meregangkan punggungnya, menyandarkannya pada Tiffany, “kita akan kembali bekerja dan disibukkan dengan aktivitas lainnya, kita hanya akan bertemu saat berpapasan atau pada jam kerja disamping aktivitas individu.” Ia gemetar saat tangan Tiffany mendadak meremas pahanya, “kita seharusnya berada di sini dan bersantai.”

Tiffany cemberut, melangkah mundur dari Taeyeon, “Tae-Tae..”

Arasso… Arasso…” Taeyeon medesah, ia kembali bangkit, menyadari bahwa ia takkan pernah bisa mengecewakan Tiffany, seringai kecil tergurat dibibirnya, berusaha untuk meyakinkan Tiffany, “kau ingin pergi kemana ?”

Ia mengangkat kedua bahunya, “Sooyoung bilang, banyak toko bagus disekitar sini.”

“Mungkin mahal.”

Ia kembali mengangkat kedua pundaknya, “Hotel bintang lima, toko bintang lima.” Ia berjalan menuju kamar mandi. “Aku akan selesai sebentar lagi.”

**

“Mengapa kamu suka disini?”

Hyoyeon terus mengayun ayunannya, membelit lengannya pada rantai sedangkan tangannya berada dalam kantongnya. Dia mengangkat kedua bahunya “di sini tenang.”

“Yeah… tapi dingin!” Jessica menggosok kedua telapak tangannya, mencoba untuk menghangatkan tubuhnya.

“Kau harus mengenakan pakaian yang lebih hangat.” Ia tersenyum, rambut kuncir kudanya berayun disekitar pundaknya saat ia bermain ayunan. Matanya menelusuri tubuh Jessica.

Jessica mengenakan rok mini berwarna hitam dan blus putih dengan rompi berwarna merah marun. Hampir sama dengan pakaian yang ia kenakan saat kali pertama mereka bertemu, namun sekarang kebalikannya. Ini bukanlah musim dingin yang terlalu buruk, namun udara dingin yang mengempas wajah Jessica membuatnya menggigil kedinginan.

Jangan mengenakan pakaian yang lebih hangat, pikirnya dengan seulas seringai yang tergambar diwajahnya. Sedikit pengecualian, dengan pilihan pakaian yang Jessica kenakan dan ia memang bertujuan untuk mengajak gadis itu pergi ke taman. Jadi, dia memiliki alasan untuk dapat mendekapnya. Meskipun sejak tadi ia hanya duduk dengan kaki berayun dibawah, ia sadar Jessica tak menunjukkan pertanda ia akan melakukan itu, lagipula Hyoyeon tidak punya keberanian untuk bertanya.

Hyoyeon menggigit sudut bibir bagian bawahnya, merasakan perutnya bergetar. Segera, ia mengucek kedua matanya. Ia yakin ia telah terbiasa dengan perasaan aneh itu mulai dari sekarang. Namun, bukannya malah menjadi lazim, perasaan itu justru tumbuh semakin intens setiap harinya.

Baik, tidak setiap hari. Pikirnya. Hanya ketika mereka sedang bersama atau ketika ia sedang memikirkan Jessica.

“Ini setiap hari.” Gumamnya, ia bersyukur karena Jessica tak mendengarnya.

Jessica cemberut, tubuhnya tetap gemetaran. “Bisakah kita pergi ke tempat yang lebih hangat ?”

“Kau ingin pergi kemana ?”

Jessica mengangkat kedua bahunya, “aku tak tahu. Ayo kita mencari sesuatu untuk dimakan.”

**

“Hey,” Hyoyeon menyeringai, menatap gadis yang sedang merenung sambil menyesap tehnya di meja dapur.

“Kau tahu, kau telah duduk disitu sejak aku lewat sejam yang lalu.”

“Tidak banyak yang bisa dilakukan saat ini.” Seohyun menyesap cairan yang sudah mendingin. Tidak terlalu hangat.

“Mengapa kau tidak pergi berbelanja saja ?” ia meraih gelas dari rak piring lalu berjalan menuju lemari es, “ada banyak mall di sekitar hotel ini.”

“Jadi, ini hotel all in one ?”

“Mmmh..”

“Kita tak seharusnya keluyuran di luar sana.”

“Ada jembatan penyebrangan. Aku mendapatkan sebuah peta dari salah seorang staff.” Ia menelungkapkan gelas itu sebelum mengisinya kembali.

“Disini juga ada pusat kebugaran dan ruang untuk rekreasi. Kita bisa mencobanya. Aku menemukan sebuah ruangan dengan musik akustik yang sangat bagus.”

“Hyoyeon Unnie! Apa tadi kau mengatakan ada mall di sekitar sini?” Yoona berlari dari dengan cepat keluar kamarnya menghampiri dua gadis yang sedang berkecimpung dalam dapur. Ia sudah lebih dulu menarik sebuah kursi dari meja sebelum menyadari keberadaan Seohyun.

Hyoyeon menatap bolak-balik antara kedua gadis itu. Ia tidak mengecualikan salah satu dari mereka. Tapi, jika ia dapat membawa mereka bersama dengannya, akan lebih mudah untuknya menghibur keduanya, meskipun ia tidak yakin untuk siapa sebenarnya. “Yeah, aku dan Seohyun akan pergi sebentar lagi, kau bisa bergabung bersama kami.”

Seohyun akhirnya menatap Hyoyeon, “Unnie, aku tidak keberatan jika—,”

“Oh.. ayolah, kau sudah hampir mati mengurung diri di dalam sini selamanya. Yoona ingin pergi, aku juga, jadi ayo kita pergi bersama-sama. Kau tak ingin mengecewakan Unnie mu, kan ?” Ia tahu Seohyun takkan protes dan Yoona. Ia tidak akan menolak jika ia pintar.

**

“Wow Taeyeongie.” Tiffany mengeratkan lengan Taeyeon, menariknya mendekat di dadanya. Jarinya menunjuk pada syal putih, lalu dengan anggun mencopotnya dari leher patung peraga.

“Sangat cantik bukan ?”

Taeyeon mengangguk, membiarkan Tiffany menuntunnya memasuki toko.

Tiffany disambut oleh pramuniaga, kemudian berjalan menuju rak syal dengan berbagai varian warna yang berbeda.

“Apa yang salah ?” Ia mencari ukurannya dengan warna pink dan putih.

Taeyeon menggelengkan kepala, memberi seulas senyuman. Dia tidak benar-benar merasa kesal. Pada kenyataannya, meskipun ia tidak ingin mengakuinya, ia masih sedikit lelah dari kemarin. Tubuhnya memberi isyarat saat ia tak sengaja menguap, walaupun ia sudah berusaha keras untuk menahannya. Tiffany mendapatinya, meliriknya dari sudut mata saat ia membayar untuk asesoris barunya. Seketika ia tertangkap basah. Jujur, dirinya sendiri juga masih lelah. Dengan banyak kantong ditangannya, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Taeyeon lalu menuntunnya keluar area pertokoan, “kau masih lelah.” Angguknya, menyelipkan jemarinya pada Taeyeon.

Anio… aku baik-baik saja,” ia kembali menguap, mengambil beberapa tas dari tangan Tiffany lalu membawanya bersama kantong-kantong belanjaan yang sebelumnya ia pegang.

Tiffany terkikik kecil, menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon, “kalau begitu, mari kita berjalan-jalan sedikit lebih lama.” Suaranya melembut, “lalu kita akan pulang dan tidur bersama.”

Taeyeon yakin mukanya tidak bersembur semakin merah. Ia melihat jemari Tiffany menyentuh lembut tangan kirinya. Sebentar lagi, saat mereka sudah kembali ke kamar mereka, jemari itu akan menggambar lingkaran pada punggungnya, atau memijat lehernya, atau menghilang disela-sela helai rambutnya. Mungkin juga tangan mereka hanya akan bermain satu-sama lain, menelusuri sela-sela diantara jari-jari mereka, atau hal lain yang disukai Tiffany.

“Kenapa ?” Tiffany meluruskan posisinya, mendapati tatapan Taeyeon pada kedua tangan mereka, “haruskah aku tak melakukannya di sini ?”

“Tidak masalah Fany-ah..” Ia menggelengkan kepalanya. “Aku menyukainya, lagipula tidak banyak orang disini dan tampaknya mereka tidak terlalu memperhatikan keberadaan kita.”

“Okay..” Ia  tersenyum, menyandarkan kembali kepalanya pada cengkok leher Taeyeon.

**

“Ah! kelihatannya lezat.”

“Dan murah…”

Dengan anggun Jessica meneguk  perlahan semangkuk sup didepannya, menjilat sedikit ujung bibirnya saat ia sudah selesai, “jadi, apa lagi yang kau suka selain dance ?”

Mereka sudah menjadi sahabat sampai sekarang, namun hubungan mereka hanya sebatas sesuatu yang berhubungan dengan latihan dan pergi berjalan-jalan setelahnya jika diijinkan.

Hyoyeon mengangkat kedua pundaknya, “terkadang aku mengoleksi sesuatu.”

“Seperti apa ?”

“Stiker, perangko,” suaranya semakin lirih, “terdengar membosankan, huh ?”

Jessica menggelengkan kepalanya, bibirnya membentuk seulas senyuman. “tak satupun dari yang kau sebutkan tadi terdengar membosankan.

Matanya selalu memancarkan sinar yang tak bisa dielaknya. Kehangatan yang menyelimuti kulitnya membuatnya menoleh, perhatiannya kembali pada supnya.

“Kau melakukan hal itu ketika berada didekatku.”

“Apa ?”

“Tersipu,” ia selalu mudah dalam berbicara, “Apa kau merasa tidak nyaman ?”

Anio…” Ia memaksa pandangannya untuk menatap kedua mata Jessica, “Aku tidak begitu.”

“Lalu mengapa kau melakukannya ?” Jessica kembali menyesap supnya, kedua pupil besarnya menelusuri gerak-gerik gadis didepannya.

“Aku tidak tahu.”

“Hmm…” Keheningan memenuhi ruangan saat pandangannya kembali jatuh pada mangkuk supnya.

Hyoyeon merasakan kaki Jessica menyentuh pahanya saat ia bergeser dari tempat duduknya. Kulitnya terasa dingin walaupun didalam restoran kecil itu sudah diberi penghangat ruangan.

“Apa yang kau pikirkan?” Hyoyeon akhirnya angkat bicara untuk menghentikan pikirannya yang terus bertanya-tanya.

“Kau…” Ia berkata seolah itu adalah jawaban yang sangat jelas dan nyata.

Ia kembali tersipu, suaranya bahkan hampir tidak terdengar, “ada apa dengan ku?”

“Kapan kau akan pergi?” Pertanyaannya tetap sama.

“Beberapa bulan kedepan. Aku akan belajar disana untuk sementara waktu.”

“Hmm…” Jessica mengangguk, memijat dagunya. Kepalanya merunduk terlalu dalam untuk Hyoyeon dapat menatap kedua matanya, “Kita harus semakin sering menghabiskan waktu bersama sebelum kau pergi.”

Okay…

Ia menyelipkan tangannya pada Hyoyeon, “Berjanjilah padaku Hyoyeon,” sorot matanya berubah, menyiraktan suatu ekspresi yang tak dapat ia ketahui.

Hyoyeon tersenyum hangat, jarinya mengusap lembut punggung tangan Jessica, “Aku janji Jessica…”

**

Iklan

84 thoughts on “LOVE IS HARD Part 16”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s