FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

LOVE IS HARD Part 17

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)
!!

Chapter 8

“Apa itu ?”

Tiffany mengamati piring alumunium foil di tangannya sambil menggoyang-goyangkannya. “Makanan sisa, kurasa.”

“Sejak kemarin malam?” Taeyeon berjengket, mengintip melalui bahu Tiffany.

“Mungkin…” Tiffany berjalan menuju tangga spiral, “Ayo kita bawa ke atas.”

Taeyeon mengangguk, dengan cepat mengikutinya dari belakang.

“Apa kau yakin di atas ada microwave ?”

“Yeah..” Tiffany berjalan melewati meja di dapur kecil lantai kedua. Ia membuka bungkus alumunium foil dari piring tersebut sebelum meletakkannya di dalam mesin kecil berwarna putih. “Kupikir tak ada gelas di sini.” Ejeknya saat melihat Taeyeon menuangkan dua gelas air.

“Uh,” Taeyeon menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, segera ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, “Aku tidak memperhatikannya…?” (Note : Baca Chapter 2, LIH Part 11)

Ucapannya lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan.

Tiffany menyeringai, berbalik untuk bersandar pada meja dibelakangnya. Ia bersedekap, menyilangkan kedua tangan dan kakinya secara serempak, menatap heran pada gadis yang sedang berdiri di seberangnya.

Taeyeon mendesah, menggumamkan kata-kata yang ingin didengarnya secara cepat, “Aku melihatnya, tapi aku tidak memberitahumu karena aku tak ingin kau berpindah.”

“Ah, sibuk menatapku huh?” Ia membelai bulu matanya.

Taeyeon menyesap air dalam gelasnya sambil merunduk menatap lantai.

Perlahan, Tiffany melompat dari meja tinggi sambil tersenyum lebar. “Kau sungguh menawan.”

Gadis yang sedang tersipu itu mengangkat kedua bahunya, mengumpulkan potongan-potongan alumunium foil di dekat kekasihnya. Menyadari bahwa sikapnya yang “menawan” itu sedikit memalukan. Ia selalu berusaha untuk memperhatikan, menatap atau menyentuh Tiffany secara diam-diam ketika gadis itu tak melihatnya, namun Tiffany selalu mendadak mendapatinya. Ia bertanya-tanya, apakah gadis itu sedang menjalankan misi untuk melihat bagaimana ia dapat membuat Taeyeon tersipu malu setiap hari. Meskipun kenyataannya, ia tak tahu betapa perhatiannya yang sederhana seperti itu dapat melelehkan hati Tiffany.

“Bwa, ha ha!”

“Apa?”

Taeyeon berbalik dari tempat sampah menghampiri gadis yang sedang berada di atas meja “lihat !” Ia menarik selembar sticky note lalu menyerahkannya pada Tiffany.

Untuk : Fany Eomma & Taeng Appa

Dari : Sunny dan Sooyoungie → Best Daughter

“Anak ini,” ia mendesah, menatap sekilas kedua mata Tiffany, “Dia—Apa yang salah?”

Tiffany menggelengkan kepalanya, menyeka matanya yang berkaca-kaca, “Ini hanya… mereka benar-benar menerima kita.” Ia terkikik kecil, tak dapat menghentikan air matanya, “Aku minta maaf.”

Taeyeon tersenyum, membelai wajah Tiffany untuk menenangkannya, “jangan begitu..” Ia mengusapkan ibu jarinya pada pipi Tiffany, menyeka air matanya yang berkilauan.

Tiffany meletakkan kedua tangannya pada pundak Taeyeon, matanya melengkung membentuk bulan sabit, “Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai percaya bahwa semua ini nyata.”

Member kita memang amazing.

Tiffany mengangguk, sedikit merebah untuk menyambut bibir gadis didepannya, “tak hanya mereka saja,” ia berbicara disela-sela ciuman, “kau juga.” Ia mengalungkan lengannya pada leher Taeyeon, “aku masih tak ingin bangun suatu hari nanti dan menikmati semua mimpi indah ini selamanya.”

Taeyeon menarik tubuhnya mendekat, menggunakan tangan kirinya untuk menyadarkan Tiffany dengan menyentuh pahanya, “Fany-ah,” Sengalnya, bibirnya perlahan berjalan menelusuri bibir Tiffany, “aku nyata.”

Sambil mendesah lirih, ia menekan bibirnya lebih keras, mulutnya sudah sedikit terbuka, menunggu untuk disapa. Mulut mereka saling beradu, gerakkannya yang lembut dan pelan, kini telah meluap, lebih intens dan penuh nafsu yang menggebu. Desahan singkat meluncur dari mulut Taeyeon saat Tiffany memainkan lidahnya dengan penuh kasih sayang, menghisap dan menggigit kecil kelembutan itu dengan piawai.

Terkadang, hal itu mengejutkan Taeyeon jika Tiffany dapat mengendalikan dirinya. Ia seperti pancuran air pada keran yang bocor, menekan penuh gelombang namun air yang menetes hanya sedikit. Sekali waktu, tetesan itu akan jatuh lebih deras saat Tiffany membiarkan perasaannya mengalir, meskipun begitu, tetap saja ekspresinya telah terkendali. Bahkan sekarang dan sebelumnya ketika Tiffany menorehkan tanda pada Taeyeon. Ia merasa Tiffany telah menahan emosinya. Caranya berpindah dan bergerak, caranya menjaga ciumannya cukup renggang untuk Taeyeon tetap merasakannya tapi tidak menuruti nafsunya, terasa seperti ia takut untuk melepaskan diri dari Taeyeon.

Itu ataukah ini hanyalah cara menjengkelkan lainnya untuk menggodaku?

Ia merasakan jemari Tiffany mengelus bagian belakang lehernya sebelum mengodanya sejenak kemudian melepaskannya. Barulah Taeyeon menyadari alasan utamanya.

Dia takut ia mungkin akan menyakitiku.

Tanpa sadar Taeyeon merengek, berusaha memaksa dirinya untuk mengeratkan tubuhnya pada Tiffany dengan berjengket lebih tinggi. Ia berharap Tiffany tidak mendengar bunyi memalukan itu tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Tiffany adalah air yang menetes dari keran, lalu ia merupakan sebuah cangkir dibawahnya, selalu terisi penuh namun terus berharap tetesan air darinya. Sudah meluap namun masih mengharap air tersebut untuk terus memancar padanya, meminta ujungnya berlubang sehingga ia dapat diisi kembali. (soo cheesyyy)

Taeyeon mendesah gusar ketika mesin cerewet itu terus berbunyi sampai sekarang dan menolak untuk berhenti. Ia melepaskan jinjitannya, kembali berdiri secara tegak. Sebuah erangan meluncur mulus dari mulutnya saat ia berbalik pada microwave, tapi Tiffany masih belum mau melepaskannya.

Dengan satu gerakan mulus, Tiffany melilitkan lengannya disekitar pundak Taeyeon, menarik gadis itu untuk bersandar padanya. Telinganya berada tepat di atas dada Tiffany, Taeyeon menutup kedua matanya, menikmati suara detak jantung dan dekapan hangat dari kekasihnya. Bahkan sekarang, ia berharap momen seperti ini akan bertahan selamanya.

“Fany-ah.”

Tiffany menyandarkan dagunya di atas kepala Taeyeon, ia mendapati dirinya mendesah puas, merasa tersentuh walaupun kekasihnya mungkin hanya asal-asalan menyebut namanya. Hal itu tak pernah berhenti membuat hatinya meleleh.

Microwave itu kembali berbunyi meskipun sekarang Taeyeon tidak bergerak untuk mematikannya. Ia justru berbalik dan menyelipkan tangannya diantara paha Tiffany, menariknya lebih dekat.

“Oh, Taenggo apakah baik-baik saja? Aku tidak ingin melukaimu.” Dengan mudah, ia menyaput lengannya disekitar pundak Taeyeon.

“Tidak masalah Fany-ah, aku kuat.” (?)

Tiffany mengeratkan pegangannya, menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon.

Dia mempercayainya.

Taeyeon terkikik kecil, berjalan melewati ambang pintu lalu masuk ke dalam kamar mereka.

“Apa? Apa aku berat?”

Anio, hanya saja kakimu tidak terlalu tinggi dari tanah.”

Tiffany bergeser, mengunci kedua kakinya disekitar pinggul kekasihnya, matanya terkatup, “tidak masalah.” Ia menghela nafas secara perlahan, menghirup harum Taeyeon, “aku menyukainya.”

“Aww… !!”

Kepala mereka menoleh secara serempak, melihat ke arah pintu masuk dapur. Sooyoung berdiri diambang pintu, menggelengkan genggaman tangan dibawah dagunya lalu secara cepat mengangguk-angguk.

“So cuteeee…” Decitnya. Jika saja ia datang lebih cepat, ia pasti akan meledak. (LOL)

Tiffany tersenyum, mempererat pegangannya. Ia tahu jika Taeyeon merasa malu, gadis itu akan menjatuhkannya dan itu adalah hal terakhir yang diinginkannya, “terimakasih makanannya Sooyoung. Kita akan memakannya sekarang.”

“Apa kalian akan saling menyuapi ?” ia meloncat lebih dekat.

Tiffany tidak punya waktu untuk menjawabnya. Suara Sunny menggelegar dari lantai bawah, “Yah—Choi Sooyoung, apa yang sedang kau lakukan? Cepat turun dan cari DS ku !!”

Taeyeon mengambil kesempatan ini untuk segera memasuki kamar mereka.

Ia mendudukkan Tiffany pada pinggiran kasur, seketika kehilangan kehangatan di punggungnya, “ah! Anak itu !!”

“Dia hanya menyukai cinta.”

“Meskipun begitu, aku akan menunggu sebentar sebelum kembali untuk mengambil makanan kita.”

**

“Ia menjadi sangat keras kepala hari ini,” Hyoyeon mengamati Seohyun melangkah ke kamar kecil di restoran yang cukup mewah. Beberapa pelayan berteriak sana-sini, tempat ini benar-benar sepi.

“Ia tidak ingin berada di dekatku.” Gumam Yoona, memainkan makanannya dengan sendok. Dengan malas memisah-misahkan butiran nasi di piringnya.

Usaha yang ia lakukan untuk mempersatukan mereka perlahan tampaknya sia-sia. Bahkan sebelum mereka keluar dari hotel, Seohyun telah memberi jarak diantara mereka, entah itu berjalan selangkah di depan atau di belakang Yoona dan Hyoyeon. Sejauh yang ia tahu, mereka bahkan tak saling menatap satu sama lain.

Hyoyeon menjatuhkan tangan diatas pangkuannya, “Apa kau sudah berbicara padanya sejak kejadian di balkon pada malam itu?”

“Ia memberitahu mu?”

Hyoyeon menggelengkan kepalanya, “aku mendengar kalian saat itu. Seohyun takkan bercerita padaku atau pada siapapun.”

“Oh,” pandangannya kembali jatuh diatas meja, “um, tidak, aku jarang melihatnya sejak kejadian itu. Kurasa sekarang semuanya akan kembali seperti semula, ya kan Unnie?”

Ini adalah saat yang tepat dimana ia harus menghentikan pikiran-pikiran pesimis dan sinis dari kepala Yoona. Meskipun mereka berdua saling membenci pada akhirnya, ia harus melaluinya.

“Inikah yang kau inginkan?”

Yoona mengernyitkan kedua alisnya, “permasalahannya bukanlah apa yang kuinginkan. Aku harus bersikap realistis. Kita adalah idola… ini takkan berlangsung selamanya. Aku tidak bisa. Kita masih sangat muda. Apa yang kita ketahui?” Ia menatap Hyoyeon untuk meminta persetujuan darinya.

Namun Hyoyeon tidak melakukannya.

“Kau menciumnya lebih dulu, ya kan? Tidakkah kau menginginkannya?”

Yoona mulai merasa gusar, ia menggelengkan kepalanya, “A—Aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri,” Ia gemetar, sorot matanya tampak menyesal. “Aku melupakan hal yang penting. Aku takkan melakukannya lagi.”

“Apa ada yang lebih penting dari Seohyun?”

Ia mendongakkan kepalanya, “Bukan—..” Ia sedikit terkejut, sorot matanya berkobar. Kata-katanya tercekik di tenggorokannya, “Ini pekerjaanku—image kita, ya kan Unnie?” Hanya dengan mengatakan hal itu sudah membuat Yoona mengeluarkan air mata.

Hyoyeon menghela napas dalam, ia bersedekap, melipat kedua tangan di depan dadanya, “Yoona, aku telah menjadi Unnie yang buruk.” Ia mengembuskan napas secara perlahan sambil menutup kedua matanya, “kau datang padaku untuk meminta tolong dan aku barusaja membuatnya semakin buruk. Aku … aku telah menyakiti… Aku memberimu nasehat tanpa memikirkan situasimu yang sebenarnya, aku salah.”

“Tapi—!”

“Lupakan semua perkataanku. Aku membuat kesalahan. Aku tidak memikirkan perasaanmu. Aku hanya ingin seseorang untuk mendengarkanku.”

“Tapi kau bilang—,”

“Yoona, jika kau menyukainya… jika kau mencintainya kau harus bersama dengannya. Semua itu yang harus kau pikirkan. Jangan memikirkan apa yang barusaja kukatakan, hanya fokus pada apa yang kau inginkan. Jujurlah pada dirimu sendiri.”

“Tapi, bagaimana jika itu tidak berhasil?”

“Bagaimana jika berhasil? Kau tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Dia mencintaimu dan aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama, ya kan? Dapatkah kau benar-benar menatapku dan mengatakan padaku kau tidak mencintainya?” Matanya perlahan naik, dari telapak tangannya kini menatap gadis yang sedang mencengkram erat tas belanjaannya.

Ini tak seharusnya terjadi, bukan seperti ini. “Seohyun?”

“Jadi, itu alasannya..” Suaranya lirih dan tampak terkendali.

“Seo..” Hyoyeon tergagap. Ia tak baik dalam hal ini. Akan lebih baik jika ia membiarkan Jessica meng-handle mereka sejak gadis itu tampak punya cara tersendiri untuk mempersatukan sepasang kekasih.

“Kau alasan mengapa dia bersikap seperti itu?”

“….” Hyoyeon bergeming, gemetar saat ia menerima tatapan Seohyun yang terluka.

“Apa yang kau katakan padanya?” Suaranya terlalu lemah—terlalu lirih untuk Hyoyeon menjawabnya.

“……”

“Unnie?” Ia berkata sambil menggertakkan giginya, “Katakan sesuatu Hyoyeon.”

Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Me… Mengapa kau menyakitiku seperti ini? Menyakiti Yoona seperti ini?”

“Aku hanya…” intonasinya membuat dirinya sendiri terperanjat, “Aku tahu aku tak berhak, aku hanya ingin memperbaiki semuanya.”

Seohyun membuka mulutnya untuk berbicara, namun yang keluar hanya sebuah desauan. Ia menggelengkan kepalanya dengan putus asa.

“Mungkin ini yang terbaik.” Untuk pertama kalinya dalam seharian ini, ia melihat Yoona tampak ketakutan, “Bagaimana bisa aku bersama seseorang yang tak dapat berpikir tentang dirinya sendiri.”

Seohyun berputar dengan kedua tumitnya, membaur dalam lautan manusia pada deretan pusat perbelanjaan. Separuh dalam dirinya menolak untuk kembali melihat wajah Yoona, namun separuhnya lagi menunggu Yoona untuk menarik tangannya, menghentikannya melangkah lebih jauh, menyentakkan lengannya dan menariknya dalam dekapannya kemudian meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun semua itu hanya ilusi.

Akhirnya ia mendapatkan jawabannya, Yoona takkan berlari mengejarnya. Gadis itu sedang sibuk, menangisi kepergiannya.

**

[-> Hey]

[-> Apa kau sudah tidur?]

Hyoyeon mengerang, meraih mesin bergetar itu di tengah malam.

[<- Anio… belum, ada apa?]

……

[<- Sica?]

……

[<- Sica?]

[-> Aku ingin berbicara sesuatu padamu]

[<- Apa?]

[-> Pertama, aku ingin bertanya padamu]
[<- Ok]

……

[-> Kau sahabatku, kan?]

[<- Ne!]

[-> Dan aku sahabatmu, kan?]

[<- Tentu Sicca! Jezz, pertanyaanmu sangat mudah! 🙂 ]

[-> Sebenarnya bukan itu pertanyaanku 🙂 ]

[-> … aku hanya ingin memastikan]

[<- Apa yang ingin kau katakan padaku?]

[<- zzzz…zzzzz…]

[-> I ♥ U]

[-> Forever]

[<- I ♥ U 2 Sica]

[-> Hyoyeonie?]

[<-?]

[-> Lupakan]

[<- Apa yang ingin kau katakan?]

Hyoyeon menunggu balasan, tapi tidak ada. Ia ingin tahu, apa yang ada di pikiran Jessica. Tidak perduli besar atau kecil pikiran tersebut. Ia ingin mendengarnya. Jessica selalu berbicara sangat lirih padanya, tapi semua itu terlihat seperti, semakin dekat Hyoyeon dengannya rasa gugupnya semakin meningkat. Semua itu bukan berarti Jessica mengabaikannya, hanya saja apapun yang ia katakan tampaknya penuh dengan pertimbangan. Sama seperti jika ia hanya ingin Hyoyeon untuk mendengar yang terbaik dari apa yang akan ia katakan. Itu ataukah ia hanya ingin menyelidikinya saja.

“Sica?” panggil Hyoyeon, “Sica?”ia mengintip dari pinggir kasur, “Sica, apa yang ingin kau katakan padaku?”

Butuh waktu untuknya menjawab pertanyaan itu, “bukan apa-apa.” Jessica bergeser pada kantung tidurnya.

“Jessica…” ia bangkit dari tempat tidurnya, merapatkan selimutnya pada sekitar pundaknya. “kumohon..”

Dengan gusar, Jessica mengangkat tubuhnya dari lantai, “Sungguh Hyoyeon, bukan apa-apa. Aku sudah lupa apa yang ingin ku katakan, kembali tidur. Mamamu akan marah jika kita tetap terjaga.”

Dengan cemberut, Hyoyeon merebahkan dirinya kembali pada kasurnya, bergumam di balik selimutnya, “Satu bulan sebelum aku pergi, ini adalah saat yang tepat untuk mulai bermain rahasia-rahasiaan.” Tidak lama setelah itu, ia kembali tertidur lelap, jika saja ia belum tertidur saat itu, ia pasti akan mendengar pertanyaan lirih yang telah lama ia harapkan dari gadis gelisah yang sedang berbaring di lantai.

“Jika kau men… jika kau mencintai seseorang, tapi kau tidak tahu apakah dia juga mencintaimu… haruskah kau mengatakannya?”

**

“Mmhh… makanan ini..”

“Mmhmm..” Taeyeon mengangguk, memotong persegi ravioli terakhir dengan garpunya, “Meskipun ini sisa, tapi masih enak.”

“Aku ragu, apa lagi yang mereka sediakan, mungkin kue-kue kering yang lezat…” Mata Tiffany menerawang langit-langit, “kita harus mencobanya besok.”

Taeyeon kembali mengangguk, “Mm!” dia menggelengkan kepala sembari menjentikkan jarinya. Taeyeon dengan cepat menelan kunyahannya, jadi ia dapat berbicara dengan jelas. “Ayo pergi kesana.”

Tiffany menahan nafasnya, wajahnya berseri-seri saat ia menepukkan kedua tangannya. “Seperti kencan?”

“Yeah…” ia tersenyum, menikmati pancaran mata Tiffany yang bersinar kegirangan, “Kencan.”

“Wow..” Tiffany mendesah, mengapit dagu dengan jarinya, “Aku hampir lupa kapan terakhir kali kita pergi berkencan.” Ia bangkit dari kursi kayu dekat pintu geser, lalu duduk di kasur Taeyeon.

“Dua bulan yang lalu.” Taeyeon mengangguk, “Tanggal 15, kita berjalan-jalan di toko buku, lalu makan malam di restoran.” Ia tertawa saat mengingat masa-masa itu, “Hari itu sangat jarang, saat kita memiliki waktu lebih dari tiga jam untuk dihabiskan bersama.”

Taeyeon mengumpulkan sisa-sisa makanan dari piring mereka, menikmati tatapan intens dari kekasihnya, “apa ?” Ia mengintip melalui bahunya.

Tiffany melemparkan tangan diatas kepalanya, lalu kembali merebah pada kasurnya, “Aku memiliki kekasih yang sangat mengaggumkan!”

Taeyeon bersadar pada Tiffany, menjatuhkan tangannya pada kepala Tiffany, “Oh, kau juga?”

Pfft.” Tiffany tidak dapat menahan tawanya, “Cheesy” Ia melepaskan diri dari dekapan Taeyeon lalu berguling.

“Kau yang memulainya!” Taeyeon mengelitiki pinggang Tiffany, membuatnya memekik geli.

“Stop! Taeyeon—!” Tiffany sedikit cemberut saat Taeyeon menarik kembali tangannya. “Ah..” segera berganti senyuman singkat, “Aku lelah. Menurutmu, jam berapa sekarang?”

Taeyeon mengangkat kedua pundaknya, menyeringai saat ia melirik rambut Tiffany yang acak-acakan, “delapan… mungkin sembilan.”

“Hm..”dia membereskan piring mereka, “Kita harus segera tidur, jadi kita dapat beristirahat untuk kencan kita besok.”

Taeyeon berdiri disamping Tiffany, “Ingin kubantu ?”

“Aku akan melakukannya.” Ia memberi kecupan singkat pada gadis yang membukakan pintu utnuknya, “Mandilah..”

**

“Bagaimana bisa aku bersama seseorang yang tak dapat berpikir tentang dirinya sendiri.”

Ia berbicara tentangnya seperti ia tak pernah berada disana.

Yoona berdiri di depan pintu kamar besar sambil memijat keningnya yang berdenyut. Akhirnya, setelah ia berjalan kembali dari ruang ganti ia dapat mengempaskan tubuh pada kasur dan memaksa dirinya untuk tertidur. Ia tak dapat menjaga kedua matanya terkatup. Setiap detik, bayangan Seohyun selalu berputar di kepalanya. Wajahnya terlihat seperti ia tak bertemu dengan gadis itu setelah sekian lama. Seketika, ia menyadari bahwa keresahannya hanya akan mengganggu teman sekamarnya, ia berjalan keluar dari kamar, nekat mencari pelipur lara pada siapa saja yang mau mendengarkannya. Hanya ada satu lampu di kamar yang masih menyala di tengah malam seperti ini. Tetap saja, ia masih harus melalui perdebatan panjang sebelum memutuskan untuk mengetuk pintunya. Jawaban yang ia terima juga sangat cepat.

“Masuk…” Tiffany mengeratkan kacamata yang sedang ia kenakan di hidungnya, tersenyum dari balik layar yang menyala di sisi meja tempat tidur, “Oh Yoona, apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

Yoona melangkah setapak demi setapak memasuki kamar dengan cahaya samar-samar, ia memaksakan senyumnya.

Segera, Tiffany menyadari perubahan sifat dari gadis yang berdiri tak jauh darinya, wajahnya terlihat gelisah, “ada apa?”

Yoona menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang bengkak, “apa yang sedang kau kerjakan?”

Namun Tiffany adalah orang yang berkawakan dengan sikap semacam ini, pipi yang bengkak, mata yang merah dan pandangan yang kosong, semua itu sangat familiar baginya. Ia tau, ia tak bisa menekannya sekarang. Jika Yoona ingin menceritakannya, mungkin ia akan membantu meringankannya.

Tiffany menutup Laptopnya perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan pemiliknya yang sedang tertidur dalam pangkuannya, “tidak ada, hanya sedang melihat sesuatu yang telah Taeyeon selesaikan utnukku.”

“Tengah malam begini?”

“Aku suka membacanya sebelum aku pergi tidur.”

“Oh..” Ia mengangguk, pandangannya jemu, “seperti sebuah dongeng?”

Tiffany melipat kacamatanya kemudian meletakkan benda itu di atas Laptop, “seperti itu.”

“Aku harus pergi,” Ia merunduk menatap lantai, “aku tak ingin membuatmu terbangun.”

Tiffany menggelengkan kepala, mengistirahatkan kedua tangannya pada punggung Taeyeon, “Tidak masalah, lagipula aku terlalu bahagia untuk tidur.” Ia menyilangkan kedua kakinya saat ia merasakan lengan Taeyeon menyelinap disekitar pinggangnya, “kita akan berkencan besok.”

“Kedengarannya menyenangkan, Unnie..” Ia tersenyum ragu, tidak yakin apa yang membuatnya berpikiran masuk ke kamar orang lain pada tengah malam begini adalah ide yang bagus.

Tiffany dengan cepat mengatasi tatapan Yoona yang terlihat tidak pasti, mengisyaratkannya untuk duduk di tempat kosong di sampingnya. Senyumnya yang hangat terlihat bijaksana. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Yoona segera membuka mulutnya untuk bercerita, meskipun ucapannya sungguh campur aduk seperti pikirannya.

“Seohyun…. Dia, baik… aku juga—maksudku, kita bersama—tidak, um… aku… aku bangun dan dia—..”

“Whoa….” Tiffany menepuk bahunya, “tarik nafas Yoong..”

Ia menurutinya, mengutuk lidahnya yang terselip.

“Sekarang, mulai lagi dari awal,” Tangannya kembali ke punggung Taeyeon. “Sesuatu terjadi antara kau dan Seohyun?”

Yoona mengangguk, mencoba menghilangkan rasa gugupnya.

“Dan apapun itu, membuatmu bertanya-tanya tentang perasaanmu padanya?”

Anggukannya sedikit lebih kecil saat ini.

“Dan sekarang kau bingung karena kau takut kau mungkin akan kehilangannya tak perduli apapun yang kau lakukan?”

Yoona mengerutkan kedua alisnya, bertanya-tanya mengapa gadis di sampingnya bisa tahu situasi yang sedang ia hadapi saat ini.

“Aku tahu apa yang kau takutkan,” tangannya membelai lembut  rambut Taeyeon.

Ia mengeratkan pelukannya saat merasakan sentuhan lembut dari kekasihnya.

“Aku pernah ada di posisi itu.” Rambutnya berayun, “aku pernah merasakannya.”

“Apa…” ia mengambil kesempatan itu untuk bertanya, “Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu bagaimana aku harus memikirkan semua ini. Aku punya banyak keraguan… banyak pertanyaan… aku telah mendengar banyak hal…” bahunya merosot saat pandangannya jatuh pada telapak tangannya, “aku tak pernah merasakan hidupku begitu berantakan seperti ini. Itu seperti semua yang kupikir kuinginkan segalanya telah terganti oleh sesuatu yang lain. Namun, saat aku memikirkan tentang semua ini, aku sadar bahwa apa yang kuinginkan sama sekali bukan apa yang aku pikirkan.”

“Kau ingin nasehat?”

“Mmmhh…” Sorot matanya terlihat putus asa.

“Berhenti meminta nasehat. Caramu memperlakukan Seohyun, adalah pilihanmu sendiri. Hentikan semua yang dapat memperkeruh pikiranmu. Pengalaman seseorang tentang cinta itu berbeda, kita hanya dapat membantumu berdasarkan apa yang kita rasakan, apa yang pernah kita alami. Kau harus membuat sebuah keputusan, jadi tidakkah kau ingin semua jawabannya berdasarkan apa yang kau pikirkan bukan apa yang kami pikirkan?” tangannya masih membelai rambut Taeyeon saat ia berpikir sejenak tentang apa yang akan ia katakan selanjutnya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama.

“Kau tak bisa pergi begitu saja dan membohongi dirimu sendiri bahkan jika kau bermaksud baik. Itu hanya akan berakhir dengan menyakiti dirimu sendiri. Dulu, ketika aku berkencan dengan Taecyeon semua yang ada dalam pikiranku adalah bersama Taeyeon. Aku pulang ke rumah setelah seharian menghabiskan waktu bersamanya lalu melakukan apapun untuk bersama Taeyeon. Hanya antisipasi dan itu membuat jantungku berpacu.

“Sebelum kami bersama malam itu, ketika aku pulang kerumah dan kami bertengkar. Aku tak mengerti mengapa ia marah, tapi aku tahu semua itu karenaku.” Taeyeon membenamkan wajahnya pada lipatan piyama Tiffany yang kebesaran. Mengisyaratkan tangannya yang lain untuk melanjutkan gerakan yang menyejukkannya.

“Mendekapnya saat ia menangis, aku tahu aku harus memperbaikinya.” Jemarinya tak henti menyisir anak-anak rambut Taeyeon.

“Ketika aku berpikir sepanjang malam, yang kupikirkan hanya bersama Taeyeon namun aku terlalu takut untuk memberitahunya bagaimana perasaanku yang sebenarnya, aku menyesal. Jika aku jujur padanya lebih awal…. Jika aku memiliki kepercayaan diri yang lebih, kita mungkin akan bersatu sejak lama. Tapi kau tahu, semua yang telah kami lalui selama ini membuat kami semakin kuat. Aku tidak meragukan cintanya terhadapku. Aku tahu apa yang kami rasakan benar-benar nyata.” Seperti sudah di isyaratkan, tangan Taeyeon menekan keras punggung Tiffany, melarikan ibu jarinya dibawah keliman celana piyamanya. (?) Tiffany tersipu, melanjutkan ucapannya sambil tersenyum.

“Aku tak tahu bagaimana perasaanmu pada Seohyun, tapi apapun itu kau harus memberinya jawaban. Berhenti meminta nasehat lainnya. Berhenti menghawatirkan tentang bagaimana jika, bagaimana jika ia pergi meninggalkanmu, bagaimana jika kau tak dapat membalas cintanya secara utuh? Pada akhirnya semua pikiran itu akan menjadi kenyataan jika kau terus memikirkannya. Lakukan semuanya tepat pada saat itu juga. Jujur pada dirimu sendiri dan bahagialah.. Okay?”

Yoona tersenyum lega saat denyutan di keningnya perlahan sudah mulai menyurut. Kehangatan menyeruak keseluruh tubuhnya yang bergetar. Ujung jarinya secara naluriah mengusap bibir bawahnya saat pikiran tentang menyatakan perasaannya pada Seohyun berputar di kepalanya. Gerak-geriknya sudah lebih dari cukup memberikan petunjuk pada Tiffany untuk menebak apa yang telah terjadi diantara kedua Maknae mereka.

Tiffany menyeringai pada sikap yang ditunjukkan oleh Yoona. Ia merasa lega karena tampaknya Yoona tengah mempertimbangkan apa yang telah ia katakan. Ia menguap sebelum berbagi tawa dengan Yoona.

“Ini mungkin sudah terlalu malam, huh?” Ia mendapati Yoona bersandar pada pangkal telapak tangannya, kepalanya sedikit tertunduk. “Jika kau mau, kau boleh tidur disini.” Terkikik kecil saat ia menyadari sesuatu. “Kami tidak—…” Ia mendapati Yoona sudah meringkuk dibalik selimut sambil mendekap guling sebelum ia dapat melanjutkan kata-katanya.

Gomawo Fany Unnie….Besooooookkkk aku akaaaaannn—……” Gumamnya.

Tiffany mengangguk sambil memandanginya. Ia menunggu sampai Yoona benar-benar tertidur sebelum ia memadamkan lampu di sebelahnya, meletakkan laptop ditempat yang aman, kemudian menyelipkan tubuhnya dibawah selimut, mencium kening Taeyeon sebelum mendekapnya. Taeyeon menyaputkan lengannya pada pinggul Tiffany, perlahan menciumi cuping telinganya. “Kamu sangat baik dalam hal tidak memberikan nasehat.”

Tiffany mengeratkan dekapannya pada Taeyeon, mengunci salah satu paha Taeyeon dengan kakinya. “Kuharap aku dapat membantunya.”

“Aku yakin kau telah melakukannya.”

“Kupikir kau masih terjaga.” Ia menyeringai, kembali menugap. “Mencoba menggodaku di depan Maknae…. Memalukan.” Ia berguling, menekan bibirnya pada bibir Taeyeon sebelum gadis itu dapat menjawabnya. Ciumannya benar-benar murni tanpa emosi. Taeyeon dapat merasakannya. Itu mencerminkan sedikit rasa putus asa bercampur dengan kesedihan dan penyesalan, seperti saat jika ia sedang meminta permohonan maaf. Ia tidak sepenuhnya mendengar apa yang telah Tiffany katakan pada Yoona, tapi ia tahu bahwa gadis itu pasti telah memberikan contoh dari pengalaman masa lalu mereka. Tiffany benci untuk mengakui apa yang telah ia lakukan sebagai upaya untuk menyembunyikan rasa bersalahnya. Ia kembali berguling menekan hingga punggungnya benar-benar menempel pada tubuh Taeyeon, aman dalam posisi favoritnya.

Dengan embusan nafas kecil, ia membuang jauh kenangan yang mengerikan itu dari pikirannya sebelum kembali pada tidur nyenyaknya. “Saranghae Kim Taeyeon.” (melt)

-TBC-

Iklan

78 thoughts on “LOVE IS HARD Part 17”

  1. haha panny ketularan bijaksananya dri sicca kayannya
    ya ampun yoong smpe mnta nasehat bgtu sm panny, semoga bsa nyelesahin masalhnya ya sm seo and nyataiin jga persaanmu ke seo

  2. Udah yoong dngerin omongan empok ppany tu asli pnglaman pribadi dia wktu msih surem hbunganya sma taeng and now tak terpisahkan 😉 aish Soo sllu dtang dsaat taeny brmesraan bner2 locksmith shipper akut tuh kyak gue 😀 hohoho^ tp omongan ppany emang bner2 (y)JJjO☺º°˚¨˚°º☺OsS(y)

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s