FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love is Hard Part 18

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 9

Taeyeon menguap, mengedip-ngedipkan matanya bersiap untuk menyambut sinar matahari yang mengintip dari balik pintu geser besar. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggul Tiffany, meremas pantatnya sejenak sebelum melandaskan ciuman pada pipinya. Sambil meregangkan tangan ia turun dari tempat tidur. Ia tersenyum, merasa kagum saat ia melihat kekasihnya berusaha untuk mendekap tubuhnya. Agar tidak membangunkannya, Taeyeon dengan cepat meraih sebuah guling dan menekannya dibelakang punggung Tiffany. Ia mencium kening gadis itu sekilas sebelum mengenakan jubah lalu berjalan menuju kamar mandi.

Dapur di lantai dua tidak benar-benar lengkap seperti yang diharapkannya, namun ia merasa bresyukur setelah tahu bahwa di lantai bawah menyediakan semua bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat sarapan yang sempurna. Ia telah memikirkan beberapa cara untuk membuat hari ini terasa sesepesial mungkin untuknya dan Tiffany, lebih singkatnya “kencan sepanjang hari” untuk menambahkan sentuhan terakhirnya dengan apa yang telah ia pertimbangkan sebagai menjadi liburan mini yang sangat mengesankan. Ia merasa semua ini akan segera berakhir sejak cuaca diluar nampaknya sudah mulai sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Kurasa, kami akan kembali bekerja sebentar lagi, setidaknya kita harus meluangkan satu hari hanya berdua saja. Sarapan di tempat tidur, lalu pergi berbelanja sebentar, kemudian malam harinya bersiap untuk… dinner.

“TaeTae, tumben pagi-pagi begini sudah bangun?” Tiffany bangkit lalu duduk di pinggiran kasur, mengucek kedua matanya sambil menguap.

“Uh?” Ia melirik pada sebutir telur dalam genggamannya, bersyukur ia tak memecahkannya karena terkejut. Ia melontarkan kembali pertanyaan kepada kekasihnya berusaha untuk mengulur waktu. “Mengapa kau bangun?” Jika Tiffany melihatnya memasak, ia pasti akan menawarkan bantuan dan Taeyeon tak menginginkannya.

Hari ini, ia tidak ingin Tiffany ikut campur dalam semua rencana briliannya.

Tapi Tiffany terlanjut mendapatinya.

Dengan seringai lebar, ia melangkah dengan enteng memasuki dapur, “Mm… sedang masak apa?”

Taeyeon mendesah, kembali berbalik menekuri wajannya, “sarapan untukmu.” Ia menatap gadis yang sekarang sudah berdiri dibelakangnya sambil bersedekap. Bahkan Tiffany yang masih setengah-tertidur benar-benar cantik dan menarik. (y) “sebenarnya… kita seharusnya sarapan di atas kasur, namun kau bangun lebih….”

“Aw..” Tiffany dengan santai menyelipkan lengannya disekitar pinggang Taeyeon, menggosok ibu jarinya pada perut Taeyeon, “aku selalu terbangun saat kau tidak berada didekatku. Itu seperti tubuhku mengerti saat kau tak berada di dekatku.” (Cyyaaaa…) Ia mencium cuping telinga Taeyeon, mendesah saat ia berbicara, “disamping itu, mengapa aku ingin tinggal di sana jika kau berada disini?”

Taeyeon tidak dapat membantahnya, memasak bersama Tiffany tak berbeda dengan berdiri dalam jarak tiga puluh kaki dari tempat longsoran tanah.

Kesadarannya membuat ia terkikik, memperdalam pelukan pada kekasihnya. “Bisakah kelak aku jatuh cinta lebih dari ini?”

“Mmh?” Tiffany mendesau, menyandarkan kepalanya kedalam cengkok leher kekasihnya. “Aku bertanya hal yang sama pada diriku setiap hari.”

**

“Waw Sicca, semua ini milikmu?”

“Yeah…” Jessica mengagguk, melirik sekilas pada gadis yang sedang duduk bersila dilantai. Hyoyeon kembali melongo melihat koleksi video games yang begitu banyak yang ditata secara rapih di rak.

“Separuhnya milik adik perempuanku.”

“Kau sudah menyelesaikan semuanya?”

Anio…” Ia selesai mengikat rambutnya sanggulnya lalu duduk disebelah Hyoyeon, “tapi aku akan mencobanya sebelum sekolah dimulai. Aku yakin aku tak memiliki waktu saat aku mulai debut—sama sekali.”

“Kau pasti dapat menyelesaikannya, aku tahu itu.” Hyoyeon tersenyum sebelum akhirnya memilih salah satu video game untuk mereka mainkan.

“Aku harap kita dapat memainkan semua ini bersama-sama. Ini akan menjadi liburan musim panas yang gila…”

“Yeah, itu akan sangat menyenangkan. Tidur bersama setiap malam… Gomawo sudah mengundangku ke rumahmu, ngomong-ngomong, aku tak yakin dapat menyelesaikan semua ini sebelum aku pergi.” Ia melirik sekilas pada tempat tidur besar sebelum mengedarkan pandangannya mengitari seisi rumah. “Ini sangat rapi dan kamarmu sungguh besar!”

“Kita bisa tidur di sana berdua, jadi kau tak harus tidur di lantai.”

Gomawo…” Gumam Hyoyeon, merasakan wajahnya tersipu saat ia berpikir tentang tidur bersama Jessica.

Ia mengangguk kemudian menyalakan TV. Ia menyerahkan stick pada Hyoyeon lalu mengambil miliknya. Mereka duduk dalam diam, menatap layar video game yang berwarna-warni dan besar.

Hyoyeon mencuri pandang pada gadis yang duduk disampingnya. Jessica sedang mengenakan celana piyama kebesaran dan kaus putih. Rambutnya masih menjuntai beberapa helai menutupi wajahnya walaupun sudah diikat ke belakang.

Ia berpikir untuk merapikannya namun terhenti saat pikirannya mendadak ling-lung. Ia tidak memiliki kesempatan untuk menyadari bahwa ia telah menatap gadis itu sekian lama.

“Kau benar-benar akan pergi?”

“Yeah…” Ia berdeham, “tiga hari lagi.”

Keheningan kembali menyelubungi mereka, keduanya sedang berpikir dalam.

Jessica berbicara lebih dulu.

“Mungkin kau tak harus pergi…”

“Hmm…”Bibir Jessica berubah menjadi seulas senyum saat Hyoyeon tetap terdiam, “aku hanya bercanda, aku tahu kau harus melakukannya.” Senyumnya memudar, pandangannya kembali pada layar video game. “…… untuk beberapa detik, kupikir kau benar-benar sedang mempertimbangkannya.”

Tentu saja aku mempertimbangkannya, aku akan mempertimbangkannya. Aku mencintaimu. Ia pikir ia telah mengatakannya terlalu keras saat ia menyadari dirinya tersipu. Lalu membuang pikiran itu menjauh saat ia menyadari tak ada reaksi apapun dari Jessica. Jangan sekarang Hyo, mungkin nanti malam, kau harus mengatakannya. Kau tak dapat meninggalkannya tanpa berkata apapun.

“Jessica, makan malam sudah siap!” Seorang gadis kecil menghambur memasuki ruangan dan melompat pada kasur kakaknya. “Apa yang sedang kalian lakukan, oh… bisakah aku ikut bermain bersama kalian?”

“Tidak dan pergi dari kasurku!”Ia bangkit berdiri, membentak adiknya. Itu benar-benar bekerja, Jung kecil berjalan keluar dari ruangan, “mengapa tidak? Aku menyuruhmu.”

“Jeez…” Jessica berjalan menuju ambang pintu, “apakah saudara laki-lakimu juga menyebalkan sepertinya? Ayo kita makan!”

“Jadi, Hyoyeon…” Mr. Jung menyeringai dari balik meja sambil menuangkan air kedalam gelasnya, “apa kau senang akan sekolah di luar negeri?”

Ne Tuan, ini adalah kesempatan yang besar.”

“Aku tidak tahu apa yang akan Sooyeon lakukan tanpamu.” Ia terkikik kecil. “Kalian berdua telah bergabung dalam latihan. Dan dalam waktu yang singkat juga! Benarkan sayang?”

Mrs. Jung yang berada disampingnya juga ikut mengangguk, bibirnya tersenyum sambil mengunyah makanannya. “Kau akan merindukannya, ya kan Sooyeon?”

“Yeah..” Jessica mengangkat kedua pundaknya, pandangannya jatuh ke lantai. “Kurasa..” Wajahnya berubah sedikit menggelikan.

“Ah, aku membuatmu malu.”Ia menjawil lengan Jessica sambil melirik ke arah Hyoyeon. “Heh, heh.. dia merasa malu.”

Appa!!”

Ne?” Pria itu memberikan tatapan polos sebelum kembali memandang Hyoyeon. “Kau tahu, aku biasanya tak mengijinkan anak gadisku untuk membawa seseorang ke rumah, namun Sooyeon menyanggupi untuk membersihkan seisi rumah untuk membawamu kemari, dan ia benar-benar melakukannya. Ia tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Kau pasti orang yang spesial untuknya.” Ia mendapati Jessica bergeser tidak nyaman di kursinya, “Ha, ha, dia sangat malu. Ia bahkan tidak berbicara lagi.”

“Sica?” Hyoyeon menyandarkan punggungnya sambil menatap gadis disebelahnya. Selepas makan malam, Jessica menjadi tidak banyak bicara. Ia berpikir Jessica akan kembali pada dirinya seperti biasa saat mereka berdua sudah sendirian. Namun gadis itu tetap diam.

Dengkuran kecil trdengar dari balik selimut, “Hm?”

“Apakah ada yang salah? Kau tampak kecewa?”

“Dalam tiga hari, sahabatku akan pergi.” Kata-katanya benar-benar tajam dan penuh penekanan seperti dia sedang melakukan penghianatan besar dengan ‘pergi’

“Aku akan kembali.”

Ia berguling sambil mendesah gusar, “Yeah… tapi bagaimnana jika aku tak lagi disini? Bagaimana jika sesuatu terjadi?” Ia menggelengkan kepalanya, “Aku bahkan tidak tahu berapa lama kau akan berada disana.” Jessica kembali berguling menatapnya, “Bagaimana jika kau melupakanku?”

Hyoyeon menopang kepala dengan lengannya, “ini gila dan aku harus mengatakan bahwa aku takkan pernah melupakanmu.”

“Kau berjanji?”

Ne…” Ia memeluk lengan Jessica, mungkin sebagai usaha untuk menenangkan gadis itu atau ia hanya ingin menyentuhnya, “aku berjanji, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi.”

Jessica duduk dengan desauan berat, menempatkan tangan Hyoyeon dalam genggamannya, Ia berbalik untuk menatap wajah gadis dibelakangnya, “Hyoyeon?”

Ne?” Ia mencari mata Jessica dalam kegelapan.

Kata-katanya terdengar malu-malu dan lirih, “aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”

**

“Kau akan menggosongkan segalanya.”

“Tidak.” Taeyeon megerutkan keningnya, mencoba memfokuskan perhatiannya pada adonan menghitam pada wajan yang mendesis. Beberapa menit yang lalu itu masih berupa danging sapi yang diasinkan dan dikukus, namun sekarang ia tak lagi yakin.

“Apa kau yakin, kau tak ingin aku membantumu?” Tiffany menyilangkan kaki sambil duduk manis pada meja makan di samping Taeyeon, dengan cekatan mengupas jeruk.

“Aku yakin.” Ia menambahkan beberapa iris daging sapi dari kulkas, mambuang setumpuk masakan gosong dan pancinya kedalam bak cuci piring. “Aku akan melakukannya.”

Tiffany menyelipkan beberapa helai rambut dibelakang daun telinganya, melihat gadis kebingungan itu bolak-balik mencari panci yang baru, “kau tampak sangat gugup.” Ia membelah jeruk itu menjadi beberapa bagian, “apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada.” Taeyeon menggelengkan kepala, dengan hati-hati melirik kearah Tiffany, segera ia menyesalinya.

Matanya meleleh melihat pemandangan indah di depannya, kulit mulus Tiffany yang terekspos secara gamblang, pucat dan menggairahkan, sangat jelas dibalik jubah bertali transparannya. Dengan penuh pertimbangan, ia berusaha mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang membuanya berdebar. Bermaksud untuk tidak kembali merusak tumpukan daging di wajannya, “mungkin kau harus memakai baju yang lebih pantas.”

“Terganggu?” Tiffany menyeringai, melahap seiris jeruk kedalam mulutnya.

“Anio..” suaranya bimbang, “hanya saja, bagaimana jika Yoona bangun dan melihatmu?”

“Ia pergi..”

“Kapan?”

Tiffany mengangkat kedua bahunya, mata coklatnya bersinar. “Saat aku selesai mandi, ia sudah pergi.”

Ia bangkit dari tempat duduknya, melepas ikatan pada jubahnya lalu berjalan menghampiri Taeyeon, “kau tak melihatnya lewat?” (gulp LOL)

Taeyeon menggelengkan kepalanya, merasakan aura kehangatan berjalan mendekat.

“Ah.. kepalamu berawan hari ini.” Ia menyandarkan kepalanya pada punggung Taeyeon, “ayolah Tae, biarkan aku membantumu. Telurnya sudah mendingin.”

Taeyeon berbalik menghadap wajah tanpa dosa yang sedang berusaha untuk menggodanya, “apa yang merasukimu hari ini? Apa yang terjadi dengan ‘tidak sampai punggungku membaik’ dan yang lainnya?”

Tiffany kembali mengangkat bahunya, seulas seringai tergambar diwajahnya, “aku tidak ingin melakukan apapun.” Ia membelah sepotong jeruk dan memasukkannya kedalam mulut Taeyeon yang sedikit ternganga, “hanya memberimu sepotong jeruk.”

Taeyeon merasakan gelora panas yang membara dalam tubuhnya, pikirannya terjatuh.

“Kau tampak kecewa.” Tiffany berjalan menjauh, kemudian duduk di atas meja kecil berwarna putih.

“Tidak.” Ia kembali menekuri makanannya, mencoba untuk menyembunyikan cemberutnya.

Tiffany terkikik, menyangga dagu dengan telapak tangannya, “okay.”

**

“Kita mendapat panggilan hari ini, badai nampaknya sudah lewat. Mereka bilang kita akan menyelesaikannya dalam satu atau dua hari lagi.”

“Yah, jangan mengalihkan pembicaraan—lihat kemari !!”

“Ah,” Sooyoung menggelengkan kepala, meraih remote, “itu gaya rambut terbaru!”

“Ini sangat besar!” Sunny melayangkan jemarinya diatas goresan pada layar DS untuk ketiga kalinya dalam hari ini, berharap itu hanya debu yang dapat digosok, “ini untuk terakhir kalinya aku mengizinkanmu—!!”

“’Meminjam barang-barangku…’, aku tahu, aku tahu, jeez! Itu tidak seperti kau tak punya yang lain lagi.”

“Setiap pemain DS yang baik, memiliki dua DS.”

Sooyoung mengerang, melemparkan remote pada ujung sofa, “ini masih tidak mau menyala!”

“Hey…” Yuri menutup pintu dibelakangnya, lalu berhambur ke dalam ruang tamu.

“Hey,” Sunny melirik melalui bahunya pada gadis yang sedang bertengger di dekat meja kopi, “aku tak melihatmu belakangan ini.”

“Yeah..” Ia mengambil tempat duduk disebelah Sooyoung.

“Kemana kau kemarin?”

“Tidur..”

“Sepanjang hari?”

Ia mengangguk sambil menguap, “kurasa aku tak istirahat dengan cukup sejak pindah kamar..”

“Apa yang salah?” Sooyoung berjalan menuju dapur, “Im Choding mengganggumu?”

“Tidak..” Ia mendesah, membelai rambutnya yang berwarna hitam legam, “sebaliknya, ada sesuatu yang mengganggunya. Sepertinya itu benar-benar mengganggunya. Setiap malam ia berbalik dan berguling—merintih dan menangis. Aku menghabiskan waktuku sepanjang malam untuk mendekapnya jadi ia bisa tenang.”

“Lalu, apa yang terjadi tadi malam?”Sunny mengalihkan perhatiannya dari DS, meletakkan benda itu tepat di sampingnya.

Yuri mengangkat pundaknya, “aku mendengarnya bangun dan pergi, namun aku tak melihatnya kembali setelah itu.” Ia melipat kedua tangan didepan dadanya, “aku terus menanyainya ada apa, tapi ia selalu saja menjawab tak terjadi apapun.”

“Hmm..” Sunny menggosok dagunya, melayangkan pandangannya pada langit-langit.

“Yeah..” Suara Sooyoung terdengar tenang, kembali ke sofa dengan sebungkus keripik ditangannya, “kurasa ada hubungannya dengan Seohyun.”

“Yeah…” Sunny menganggukkan kepala.

“Dia juga bertingkah aneh?” Yuri bergeser dari tempat duduknya, menekan punggunggnya pada sandaran lengan sofa.

“Mmm….” Sunny mengedarkan pandangannya pada kedua gadis di hadapannya, “ada yang tidak beres degnan mereka akhir-akhir ini.”

“Sejak break terakhir kita, kurasa.” Tambah Sooyoung disertai anggukan.

“Wow, selama itu?”

“Yeah.. terkadang, Seo juga menangis. Awalnya, kupikir ia gagal ujian atau yang lain, namun sekarang aku yakin bukan karena itu. Kurasa Maknae kita sedang bertengkar.”

“Hey..” Sorak Hyoyeon dengan senyum di bibirnya saat ia memasuki ruangan itu, lalu berjalan menuju dapur. Ia mengusap punggung tangan pada keningnya, merasa kelelahan. Setelah membantu Yoona yang kebingungan semalam, ia segera menuju gym, berharap dengan itu ia dapat memikirkan cara untuk memperbaiki kesalahannya, juga memberi sedikit tempat untuk melepaskan emosinya. Meskipun seiring berjalannya waktu ia tak lagi menangis untuk memikirkan situasinya, ini masih pagi dan tubuhnya sudah sangat lelah. Semua yang ingin ia lakukan hari ini adalah mendengar beberapa celotehan dari teman-temannya dan tidur.

“Siang…” Yuri tersenyum.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Ia mengambil tempat duduk di sofa paling ujung.

Maknae bertengkar.” Ulang Sunny, mengambil segenggam keripik dari Sooyoung.

“Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?” Yuri menekuk lututnya lalu merapatkan di depan dadanya, bermain dengan keliman celananya.

“Tidak ada, kalian tidak perlu melakukan apa-apa. Mereka baik-baik saja.”

Sooyoung mengalihkan pandangannya pada Hyoyeon sambil bersedekap, “kau tahu sesuatu?”

“Apa—?”

“—katakan pada kami…” Desak Sunny.

Ia tidak bisa mengatakannya. Tidak sekarang, ini masih terlalu awal, tubuhnya masih lelah dan pikirannya masih lemah. “tak ada yang perlu diceritakan, mereka baik-baik saja.”

“Benarkah? Menangis sepanjang malam, apakah menurutmu baik-baik saja?”

“Jika terjadi sesuatu pada anggota kita, kau harus menceritakannya.”

“Yeah, kau tak harus bersekongkol dengan mereka.” Kata Yuri sambil menggelengkan kepala, “apa menurutmu ini adil?”

“Kita hanya ingin membantu.” Timpal Sooyoung, “kau harus tahu itu.”

Mungkin mereka dapat membantu, dan ia tak dapat melakukan apapun pada kedua pasangan muda itu. Ia sudah menyebabkan banyak masalah. Bagaimana jika mereka tidak ingin semua orang mengetahuinya? Bagaimana jika semua ini sama sekali tidak membantu mereka dan bertingkah seolah tidak terjadi apapun diantara mereka? Ia tak mau menjadi seseorang yang mendaulat mereka berdua. “Serius guys… semua baik-baik saja.” Hyoyeon menggelengkan kepala, merapatkan dirinya lebih dekat, “aku akan segera menyelesaikannya.”

“Ah!” Sooyoung menepuk kedua telapak tangannya, “jadi ada sesuatu yang salah dengan mereka?”

“Apa—.” Ia masih terlalu letih untuk menyadari kekeliruannya, “tidak—maksudku—..”

“—kau barusaja bilang akan menyelesaikannya? Wajah Seohyun sangat bengkak pagi ini, ia hampir saja tidak dapat melihat jalan. Kau telah mengerjakan pekerjaanmu dengan sangat baik.”

“Aku lelah degnan semua rahasia-rahasia ini,” Sooyoung mendesah, suaranya serak. “Maksudku, kita berhak memilikinya, namun jika hal itu sudah berimbas pada yang lain—saat mereka sudah membuat kita semua khawatir, apakah mereka masih harus menyembunyikannya?”

Guys.. tinggalkan dia sendiri.” Jessica berdiri di ambang pintu sambil bersedekap. Mereka semua terlalu sibuk untuk berdebat sampai tak memperhatikan kehadirannya, “mungkin ia telah bersumpah untuk merahasiakannya.” Suaranya terdengar tenang dan terkendali. Ia selalu dapat mengendalikan perkataannya. “kalian tak mau ia melanggarnya, ya kan? Bagaimana jika mereka mempercayakannya pada salah satu dari kalian? Apakah kalian akan menceritakannya?”

Jika ia tidak mengatakan apapun, jika ia terus bersikap seperti biasanya saat Jessica sedang berada di dekatnya, ia mungkin dapat meninggalkan tempat itu dengan damai. Namun pikiran dan mulutnya tidak sejalan dengan hatinya saat ini. “Thanks Sica.” Gumam Hyoyeon, pandangannya jatuh ke lantai. Sunny terlalu sigap untuk memperhatikannya, “Thanks Sica? Oh, aku tahu sesuatu tengah terjadi. Kau tak pernah memanggilnya Sica, sama sekali tidak.”

Wajahnya juga tidak sejalan hari ini.

“Apa kau tersipu malu?”

“Kau tak pernah tersipu sebelumnya.”

Keheningan singkat memenuhi ruangan, namun Sooyoung terlalu cepat untuk mematahkannya, “Jeez.. cara mereka bersikap, kau akan berpikir mereka juga sedang menyembunyikan hubungan gelap…” katanya setengah bercanda, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, namun itu justru memperkeruh keadaan.

Yuri terkesiap, tangannya menutupi mulutnya yang menganga, “apa kalian menjalin sebuah hubungan?”

“—Apa?”

“—Tidak!!”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, reaksi mereka kembali menyembur.

“—mengapa kau bisa?”

“—mengapa kau bisa?”

……………

“—bagaimana bisa kau?”

“—bagaimana bisa kau?”

“Wow…” Sunny yang pertama kali angkat bicara tanpa gema, “ini aneh..” Suaranya bergetar saat ia menatap mereka secara bergiliran. Satu dari mereka sangat tenang, satunya lagi sudah berada di ambang, tangisnya hendak pecah.

“Kalian berdua juga berpacaran?” Ucapan Yuri terdengar menegangkan, mencoba meyakinkan pikirannya. Ia tidak memperhatikan Hyoyeon yang sudah berkaca-kaca, pandangannya fokus pada Jessica.

Anio…” Gadis yang sedang gemetar itu menggelengkan kepalanya, wajahnya masih bersinar, “tidak pernah..”

“Oh…” Sooyoung mendongakkan kepala, mendapati rasa sakit dari ucapannya, “jadi, bertepuk sebelah tangan,”

“Tidak !!” Teriak Hyoyeon, “Diam!!” Ia berusaha untuk mengancam, namun air mata sudah terlanjur membanjiri pipinya.

“Jadi ini mengapa kau selalu bertingkah aneh saat seseorang tengah berbicara tentang cinta?”

“Oh…” Yuri mengangguk, lalu menatap Hyoyeon. “kau merasa tidak nyaman karena kau tak menyukainya.”

“Aku bilang diam!!”

“—kau tidak nyaman karena kau cemburu..” Ia mengedarkan pandangannya pada kedua gadis dihadapannya, tatapannya kosong. “Mungkin kau harus menyembunyikannya.”

Hyoyeon mengepalkan tangannya dengan gemetar, kemudian menutup kedua telingannya dengan geram untuk menghalau pendengarannya. Setiap hari ia berusaha untuk menahan kejadian seperti ini, namun bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Terjebak dalam situasi dimana ia harus menyangkal atau mengakuinya, keduanya tidak ada bedanya. Semua ketakutannya telah membuat dirinya sendiri menjadi gila. Mereka semua telah mengetahuinya. Entah bagaimana… mereka semua mengetahuinya.

**

“Apa kau yakin?”

“Mmmhh…”

“Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.”

“Aku juga..”

………………

“Kau tak mau menunggu untuk seseorang yang spesial?”

“Tidak ada yang spesial selain dirimu.” (Ehmm..)

Hening…

Ia berkata kembali, “Kita tidak perlu melakukannya, jika kau tak mau. Aku hanya… aku hanya setidaknya bertanya sebelum kau pergi… Semua ini hanya sebatas teman, jadi kau tak perlu khawatir…” ia tertawa lirih.

“Ini tidak berarti apa-apa, ya kan?”

-TBC-

Iklan

84 thoughts on “Love is Hard Part 18”

  1. Taeny makin mesra, banyak yg cemburu tuh, heheh
    hyo sica , keras kpla, apa yg ngebuat hubunga mrk renggang
    aneh, ia klo cinta tinggal nyatain aja ia kn, urusan blkngan klo diterima apa gak, yg penting lega n gak bikin pusing, hadehhhhhh 😦

  2. taeny emng always mesra ya dimanapun tempatnya kekekkkk
    itu yuri ngomong ke hyo nancep bgt sih
    hyosica hwaiting

  3. Taeny mesra abis huwa ppany ngegodain taeng mluk ah mangknya tuh jd byun akut appa ku ^o^
    Jessjung omonganya singkat pdat tp penuh dg makna mantep dah empok ku yg atu ini 😉
    Soosunyul sprtinya yg kgak pnya mslah dlam idup nih krjaanya mkan main game ama tdur doang -_-“

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s