FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 19

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 10-1

“Yuri…”

“Aku tahu…”

“Kau sudah terlalu jauh..”

“Aku tahu… aku hanya… tak pernah berpikiran… mereka…” Ketika Yuri hendak bangkit dari kursi, tangan Sooyoung menyentuh pundaknya.

“Beri mereka ruang,” Ia mengangguk, “mereka butuh waktu untuk sendiri.”

“Hay guys… ada apa ribut-ribut? Ada sesuatu yang terjadi?” Taeyeon berlarian dari anak tangga memasuki ruang tamu, “ada apa dengan wajah muram kalian?”

**

Ia meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya.

Ia keluar dari pesawat lalu berjalan menuju bangunan besar yang sudah lama ia kenal, mengikuti beberapa papan tanda untuk mendapatkan urutan kopernya. Sudah beberapa tahun sejak terakhir kali ia memasuki tempat ini, bertahun-tahun bekerja namun memiliki waktu bermain yang sangat singkat. Dia telah banyak bertumbuh saat ini, tak hanya fisik namnun juga mental.

Berada jauh dari tempat dimana ia dilahirkan, membuatnya tumbuh semakin dewasa dimana ia sudah dapat mengurus dirinya sendiri. Melangkah sendiri dengan pekerjaan dan kesehatannya.

Ia jarang pergi jalan-jalan dengan anak seusianya seperti yang biasa mereka lakukan, ia lebih memilih untuk tetap tinggal di dorm, meraih impiannya dan mengingat apa yang lebih penting untuknya. Dan siapa yang lebih penting untuknya. Ia sangat senang dapat kembali ke rumah dan bahagaia saat ia akan bertemu dengannya.

Setiap hari ia mengingat kenangan tentang dia dan Jessica, setiap hari perasaannya pada gadis itu kian membesar, bahkan dengan jarak yang terbentang diantara mereka. Mereka tidak banyak berkomunikasi sejak ia pergi, ia hanya mengirimkan beberapa surat untuknya dan melakukan satu panggilan telepon untuk mengatakan bahwa ia akan segera kembali. Ia tidak tahu mengapa dia tidak melakukan panggilan telepon lebih dari itu. Mungkin dia takut. Mungkin dia takut Jessica akan melupakannya atau mungkin gadis itu telah pindah tempat. Ia berharap degan segenap hatinya, semua itu tidak benar. Jessica adalah detak dalam jantungnya dan ia berharap gadis itu juga merasakan hal yang sama.

Hyoyeon bergabung dalam antrian untuk mengambil kopernya, tak sabar menunggu benda itu segera muncul di hadapannya. Saat itulah ia kembali melihatnya. Mereka berjanji untuk bertemu setelah Hyoyeon selesai mengurus kepulangannya. Walau begitu, Hyoyeon memutuskan untuk menghentikan langkah Jessica sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. Ia bahkan tak pernah menduga akan bertemu Jessica setelah meninggalkannya begitu saja.

Masih remaja dan tak berubah, namun lekuk tubuhnya sudah semakin membentuk, Jessica telah berubah lebih dewasa juga. Dia yang dulunya kurus dan sedikit kasar, sekarang lebih berisi dan lembut. Matanya benar-benar memikat namun masih tenang dan sabar, masih terlihat polos namun sekarang tak menyiratkan keberanian. Jika ia pernah merasa ragu dalam pikirannya tentang apa yang ia pikir dirasakannya telah menghilang sekarang. Ia sangat yakin. Ia benar-benar jatuh cinta pada Jessica Jung.

“Hyo?” Jessica menatap khawatir pada gadis berambut panjang di depannya.

“Sica…” Sangat mudah untuknya mengucapkan kata itu.

Jessica berhenti sejenak, mendengar suara Hyoyeon yang parau, bahkan sangat jelas untuknya. Bibirnya membentuk sebuah senyum yang sudah lama Hyoyeon rindukan.

Tanpa berpikir lagi, ia segera menarik lengan Jessica. Pelukannya sangat murni.

“Kau kembali.” Sebuah suara bergetar dari balik jaket yang dikenakan Hyoyeon.

“Apa kau pikir aku takkan kembali?” Senyum tak absen dari bibirnya, “Sica… aku takkan pergi untuk selamanya.”

“Aku tahu.. Aku hanya…” Ia menarik kembali tubuhnya untuk menatap gadis di hadapannya. Hyoyeon telah berubah, dari rambut sampai tinggi badannya. Semua tampak berbeda, semua tampak, “cantik.”

“Hm?”

Ia menggelengkan kepala, menggengam tangan Hyoyeon, “ayo kita pergi ke rumah ku. Orang tua ku sedang pergi… jadi kita dapat bersenang-senang.”

**

“Siapa?” Hyoyeon mengempaskan tubuhnya diatas kasur setelah membanting pintu dibelakangnya, “Kau menceritakannya pada siapa?”

“Apa? Aku tak pernah bercerita pada siapapun—pergi dariku!” Jessica menyentakkan lengannya dari cengkraman erat Hyoyeon, bergegas pindah ke kasur di seberangnya. Pancaran keberanian dari mata Hyoyeon membuatnya hampir tak terkendali.

“Kau pembohong! Mereka semua tahu tentang kita!” Teriaknya sambil melemparkan kepalan tangan ke udara, “mengapa kau ikut campur? Aku dapat menanganinya sendiri! Aku tak membutuhkanmu!”

Kepedihan tersirat jelas dari mata Jessica, namun Hyoyeon tak memperhatikannya. Ia terlalu sibuk, tenggelam kedalam lautan kelelahan akibat patah hati dan melawan emosinya. “Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin menghinaku, ya kan? Kau ingin membuatku tetap mengingat apa yang telah terjadi? Aku tahu—aku membuat kesalahan, okay? Aku minta maaf, mengapa kau terus menyakitiku?” Suaranya tak lagi terdengar keras.

Jessica menunggu Hyoyeon sedikit relax sebelum menjawabnya.

Ia berkata dengan lirih, merasa cemas pada gadis di depannnya, “Hyoyeon, aku tak mengatakan apapun kepada siapapun. Percayalah padaku, aku tidak pernah melakukannya.”

“Mengapa?” Raut wajahnya berusut dengan seringai ejekan yang ia sunggingkan, “aku memalukan?”

“Apa—? Aku tidak bermaksud seperti itu.” Wajah Jessica terlihat kebingungan. Ia merasa terganggu.

“Aku membuatmu malu! Dengan apa yang telah kita perbuat—akui saja..”

Anio… Berhenti meneriakiku!” Ia merasa geram, menggelengkan kepala. Ia harus tetap bersikap tenang, demi kebaikan mereka berdua. “Mianhae… tenanglah… Kurasa kau masih merasa shock.” Mereka berjarak cukup dekat untuk Jessica mendapati peluh pada mantel yang dikenakan pada lengan Hyoyeon, “atau mungkin kau masih dehidrasi, apa kau baik-baik saja?”

Namun ia tidak benar-benar tenang, lebih tepatnya tidak mendengarkan ucapan Jessica.

Hyoyeon berbalik dari hadapan Jessica, membanting pintu lemari di belakangnya dengan sangat keras. I masih terlihat murka, “mengapa kau peduli dengan perasaanku? Semua orang seperti mu sama saja.”

“Orang seperti ku?” Jessica terperanjat, “apa maksud mu?”

“Kau memikat seseorang untuk mendapatkan apa kau inginkan, namun setelah kau mendapatkannya, kau membuangnya begitu saja ketika semua keinginan mu telah terpenuhi!”

“Sudah cukup Hyoyeon!” Taeyeon berdiri di belakang Hyoyeon, diambang pintu, suaranya lirih dan terdengar memerintah. Ia tidak benar-benar mendengarnya, namun ia tahu semua harus segera diselesaikan. Semua ini tak seharusnya terjadi.

“Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri! Sociopath!”

“Hyoyeon, sudah cukup!” Ia mencengkram lengan Hyoyeon.

Ia segera menariknya kembali, “Jangan berbicara padaku seolah aku ini masih anak kecil!”

“Lalu berhentilah bersikap seperti itu! Ada apa denganmu? Bagaimana bisa kau berbicara padanya seperti itu? Jika kau sangat mencintainya, mengapa kau tak menerimanya ketika dia menyatakan perasaannya?”

“Taeye—.”

Hyoyeon melucuti, menatap Taeyeon dengan seksama, “kapan kau mengatakan padanya?”

Jessica menggelengkan kepala, sedikit melambaikan tangan didepan wajahnya, “Taeyeon.. sudah..”

Jessica… Jangan bilang… barulah ia menyadari mengapa keadaan ini dapat berjalan begitu lama.

Mengapa masalah mereka tak pernah terselesaikan.

Kau tak pernah mengatakannya.

“Kau tak mengatakan padanya.” Saat itu ia berbalik untuk menghadap Hyoyeon, namun ia sudah menghilang, tidak meninggalkan apapun, hanya kenangan pahit dan linangan air mata.

**

Tiffany  merebahkan dirinya pada tempat tidur yang besar, bersenandung pada dirinya sendiri saat ia selesai merapikan bantal di sampingnya. Mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk membicarakan makanan mereka, bahkan ia sampai tak menyadari pagi telah berlalu begitu cepat. Tiffany tak mempedulikannya, ia lebih memilih hanya berdiam, menghabiskan waktu seharian di atas kasur dengan mendekap Taeyeon, menikmati perhatian yang diberikan oleh gadis mungil itu daripada harus pergi jalan-jalan.

Lebih dari cukup. Ia terkikik sendiri. Gadis itu sungguh membuatnya tergila-gila.

Setelah sarapan, Tiffany akhirnya berganti pakaian yang lebih “pantas” ia kenakan. Sementara Taeyeon memilih pergi mandi setelah usahanya berkali-kali gagal untuk mengajak Tiffany bergabung dengannya. (ha ha ha *ketawa gugup* LOL #pasang cctv) Itu bukan berarti Tiffany tak menginginkannya. Ia tanpa sadar melirik tangannya sebelum mengalihkan pikiran itu dari kepalanya.

Dimana dia?

“Tae Tae?” Panggilnya sembari melangkahkan kaki keluar kamar.

Ia bilang, akan segera kembali. Dia berjalan menuruni tangga, menggosokkan telapak tangan pada perutnya, segera mengambil kesimpulan bahwa matahari bergerak lebih cepat daripada yang ia pikirkan. Ia mendapati salah satu pintu yang terbuka dari lantai bawah.

“Tae Tae?—Yoon?” Ia menyeringai pada gadis muda yang sedang duduk bersila diatas kasur, “jadi ini alasan mengapa kau terburu-buru pagi tadi, huh?” Yoona menjawab dengan senyuman, pandangannya tak lepas dari gadis yang sedang tertidur nyenyak disampingnya. “Aku dan Taeyeon membuat sarapan pagi tadi. Masih ada yang tersisa jika kau mau. Lagi pula, mungkin sekarang sudah mendingin.”

Yoona menatapnya dengan anggukan kecil. Bergegas mengalihkan pandangannya kembali pada sosok yang sedang tertidur di sebelahnya dengan rambut acak-acakan. Seohyun bergeser sedikit sambil merapatkan selimutnya.

Tiffany mendapati sepasang tangan yang menjuntai di pinggiran kasur, “apa kau telah memandanginya sejak pagi tadi?”

Ia kembali mengangguk, berbicara lirih agar tidak membangunkan gadis itu. “Aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat saat ia membuka mata.”

Tiffany terkikik, membekap mulutnya dengan kedua tangannya. “Ia sedang tidak dalam keadaan koma.” Ia mengedipkan sebelah mata pada Yoona. Membuat gerakan menjendul kepala gadis itu dengan ibu jarinya sebelum keluar dari ruangan itu secara pelan-pelan.

**

“Jangan melihatku seperti itu..”

“Tapi kau bilang….”

“Apa yang harus kukatakan? Aku berusaha untuk membantumu bersama Tiffany. Apakah kau akan mendengarkanku jika kau tahu betapa munafiknya diriku?” Jessica tersenyum mengejek, “Hey Taeyeon.. kau harus mendengarkan kata hatimu dan nyatakan pada Tiffany. Apa? Apa ini yang aku lakukan dengan Hyoyeon? Tidak… Aku terlalu pengecut. Aku tidak mengikuti nasehatku sendiri.” Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan kasur di belakangnya dengan tatapan penuh kekalahan. “Terdengar bagus untuk bersilat lidah, bukankah begitu huh?” Sebelum Taeyeon dapat menjawabnya, ia mengempaskan kepalan tangannya ke udara seraya menghela nafas berat. “Aku minta maaf, aku sama sekali tak membantumu.”

“Taeyeon? Ah, disini kau rupanya.” Tiffany dengan riang menepukkan kedua telapak tangannya. Taeyeon berbalik untuk menatapnya, “Aku sedang membuat sandwich sebelum kita pergi.” Ia tersenyum, “apa kau sudah siap?”

“Um?” Taeyeon menatap Jessica sebelum kembali pada kekasihnya, “Fany-ah, kurasa kita harus—.”

“—yeah.. Ia sudah hampir siap.” Suaranya kembali tenang. “Ia akan menemuimu di ruang tamu.” Tiffany memiringkan sedikit kepalanya kesamping saat ia mengamati tatapan Jessica kemudian mengangguk dan keluar sebelum menutup pintu di belakangnya.

“Apa kau akan baik-baik saja?”

Jessica menggelengkan kepalanya, bukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan padanya, semua itu sudah menjadi kebiasaannya. “Kau tahu…” Ia bangkit berdiri, pandangannya tertuju pada pintu di hadapannya. “Aku selalu berharap situasi semacam ini akan terjadi. Tidakkah itu terasa aneh? Aku selalu berusaha mencari alasan dan menjelaskannya pada diriku sendiri.” Ia kembali mengembuskan desahan. “Aku tidak bisa bilang aku tak merasa sedikit lega.” Bibirnya membentuk sebuah senyuman. “Aku senang semua berakhir seperti ini.”

Taeyeon mengulanginya kembali, tak yakin jika Jessica mendengarnya. Gadis merengut itu berjalan dua langkah sebelum ia keluar dari kamar itu sambil mengangguk, “Aku tak mau kau melewatkan waktumu bersama Tiffany demi aku.”

“Ia akan mengerti. Ia tahu bahwa kau selalu ada untukku, untuk membantuku.” Ia terkikik untuk mencairkan suasana, “bahkan ketika aku tidak mau kau membantuku. Dia tahu seberapa besar kau membantu kita untuk bersatu.”

Kali ini, ia menggelengkan kepala sebagai jawaban setelah menyunggingkan seulas senyuman. “Kau tak membutuhkanku. Bahkan Maknae juga tidak membutuhkanku. Pikirkan ini. Seberapapun aku membantumu bersama Tiffany, kalian juga akan bersatu pada akhirnya. Ia tetap akan berkencan dengan Taecyeon, kau akan terus mengabaikannya sampai akhirnya ia menyatakan perasaanya kepadamu. Dan Maknae, ia sudah mencintai Yoona sejak lama bahkan sebelum ia datang padaku dan membantumu. Kalian tak pernah membutuhkanku…. Aku yang membutuhkan kalian.” Senyumnya pudar saat ia hendak membuka pintu kamarnya dan mengungkapkan sebuah kebenaran. “Kurasa aku harus tahu bagaimana akhir dari semua ini. Bahkan sebagai seorang idola, kita berhak untuk bahagia…” ia memutar kenop dengan genggaman tangannya, pikirannya seolah membuatnya tersadar, “Bahwa aku dapat bahagia.”

**

Ingat, saat kita hampir saja berciuman dan adikmu berjalan menghampiri kita…? Terkadang, aku masih memikirkannya. Bagaimana jika kita melakukannya kembali? Kau tahu, demi waktu yang telah terbuang?

Ia berencana untuk mengatakan hal seperti itu dan sekarang adalah kesempatannya. Ia hanya perlu mengatakan apa yang baru saja ia praktekkan dan menunggu jawaban dari Jessica. Ia mengatakannya dengan nada bercanda jadi ia mengira, semua itu hanya kelakar yang keluar dari mulutnya saja.

Hyoyeon berdiri di tengah kamar yang sangat besar, ia mengingatnya dengan baik. Sama sekali tidak berubah. Kedua orang tuanya pergi untuk berbelanja kemudian setelah itu mereka akan menghadiri pertunjukan piano yang dimainkan oleh Krystal. Hanya tinggal mereka berdua dan mungkin selama beberapa jam kedepan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa itu akan menjadi hal pertama yang ia lakukan saat ia bertemu dengan Jessica lagi dan sepertinya saat ini tidak tepat. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Sica?”

“Hm?” Jessica berdiri di depan meja rias, membelakangi Hyoyeon.

Tetap tenang, “Ingat saat kita hampir saja berciuman dan kemudian adikmu berjalan menghampiri kita?”

“Yeah…” Ia mengangguk, seulas seringai tersungging di bibirnya. Hyoyeon menyadari semuanya, termasuk lengkungan bulan sabit yang tergurat di bibirnya.

Jessica mengangkat kedua pundaknya, berbalik menghadapnya, “Okay…”

Hyoyeon berdiri membeku. Walau ia telah memikirkannya ribuan kali, ia tak menyangka akan berjalan sejauh ini. Kenyataannya, ia tak pernah memikirkan apa yang ia katakan. Jessica berjalan menghampirinya, mendapati raut terkejut pada mukanya. Ia tersenyum kemudian duduk di pinggiran kasur, “Apa yang salah?” Ia menepuk tempat di sampingnya, “tidakkah kau menginginkannya?”

Anio…” Hyoyeon mengalihkan pikirannya, “Anio.. maksudku, Ne… aku menginginkannya.” Ia duduk disamping Jessica, membiarkan kakinya menjuntai di pinggir kasur, sama seperti Jessica.

Keduanya memutuskan untuk tak membuang kesempatan itu begitu saja, “kurasa kita akan baik-baik saja seperti ini, huh?” Jessica terdiam, menunggu balasan.

“Um…” Mata Hyoyeon menelusuri lantai, memainkan tangannya dengan gelisah di atas pahanya, “yeah…”

“Oh..” Ia mendesah, menyesal telah menanyakan hal itu padanya, “jadi, kau sudah mencium seseorang sebelumnya.”

Anio…” Hyoyoen merasakan wajahnya semakin memanas, “kurasa itu kau..”

Jessica menggelengkan kepala sambil tersenyum, “ini untuk seseorang yang spesial, ingat?”

“Oh…” Pandangnnya kembali jatuh pada pangkuannya.

Jessica menggenggam tangan Hyoyeon, senyum tak absen dari bibirnya, “siap?”

Hyoyeon mengangguk. Merasakan tubuhnya kaku karena sentuhan Jessica.

“Tutup matamu…”

Dia menuruti perintahnya, menunggu bibir Jessica untuk menyentuh bibirnya.

Ia dapat membayangkan betapa hangat, lembut, mungil dan lembabnya bibir itu. Telinganya memanas akibat sensasinya. Dekapannya tidak berlangsung lama, sebelum mereka berdua melepaskan pelukannya. Ekspresi aneh yang tergurat pada kedua wajah mereka menggambarkan kebingungan dan terkejut, sama-sama mencerminkan satu dengan yang lainnya. Ini benar-benar bukan karena waktu.

Sensasinya seolah sesuatu sedang terbakar dalam perutnya, mengalirkan kehangatan pada seluruh tubuhnya. Ia tak dapat memikirkan cara lagi untuk menjelaskannya selain menari-nari dalam pikirannya. Ia pikir semua itu hanya dia yang melakukannya, namun saat mata mereka bertemu, ia tahu Jessica juga merasakan hal yang sama sepertinya.

Apa yang ia rasakan, Jessica juga merasakannya.

Tanpa aba-aba mereka menyerbu satu-sama lain, dengan cepat terhanyut kedalam perasaan aneh dan gerakan yang membuat mereka kikuk.

Momen itu berlangsung sangat singkat.

“Sooyeon!”

**

Yuri berdiri menyandar pada tembok dapur. Pandangannya terpaku pada temannya yang sedang menyulap berbagai macam bahan untuk membuat sandwich. Sunny dan Sooyoung tak terlalu sulit untuk menenagkan pikiran mereka setelah kejadian memalukan beberapa waktu yang lalu. Bukan berarti mereka tak peduli, hanya saja mungkin lebih baik jika semua itu tak semakin di besar-besarkan.

“Jika kau hanya akan berdiri disana, bisakah setidaknya kau membantuku?”

Yuri memaksakan senyumnya, “Hay…”

“Hey…” Tiffany memfokuskan perhatiannya pada pekerjaannya, ia tak tampak marah, namun Yuri dapat melihatnya.

“Kutebak kau telah mendengar apa yang sedang terjadi.”

Tiffany mengangguk, berhati-hati menuangkan mayonnaise pada setumpuk irisan roti. “Taeyeon menceritakannya padaku.” Ia mendesah lirih, menempatkan kedua tangan pada pinggulnya, berdecak kesal. “Aku tak percaya kalian dapat menyerbunya seperti itu. Kau tahu, dia sangat sensitif.”

“Lebih tepatnya aku….” Ia mengaku, menyandarkan kepala pada counter.

Tiffany menggelengkan kepala, sadar akan penyesalan gadis itu. Ia tak bertujuan untuk mengomelinya.

“Ini bukan kesalahanmu. Apapun yang terjadi pada mereka, semua itu sudah berlalu sangat lama.  Aku harap mereka menggunakan kesempatan ini untuk membuang semuanya.”

“Tetap saja..” Yuri melipat kedua tangan didepan dada sambil mengerutkan alisnya, “aku merasa sangat bersalah.”

“Hey… lebih baik semua terjadi sekarang daripada saat kita bekerja, benar kan?” Ia berbalik untuk menghadap Yuri, menatap gadis yang tak henti mendumel dibelakangnya. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri, terkadang kita semua juga melakukan kesalahan.”

“Yeah.. kurasa…” Pandangannya jatuh pada rantai yang berkilau di leher Tiffany, bandulnya membuat pikian dan ucapannya tak sejalan, “…. Ada banyak yang ingin kubicarakan saat ini.”

Tiffany tersenyum pada gadis yang sedang termenung sebelum kembali menekuri makanannya, “kita dapat berbicara sekarang.”

-TBC-

Iklan

101 thoughts on “Love Is Hard Part 19”

  1. Hyo nakutin klo udh marah…
    masalah hyo sm sica knpa jd rumit begini ??
    gua kasian sma sica, giliran orang butuh dia, dia selalu ada. tapi giliran sica butuh orang untuk berbagi keluh kesah mereka gak ada…
    rumitt euyy..

  2. aduh hyo emosinya beeeehhhhh, tahan hyo sica jg mencintaimu
    aduh yoona udh berani curi2 start duluan hahahaaaa

  3. Hyosic knp mlah tmbah parah gini 😦
    Tp seneng yoonhyunie kliatanya udah mulai ada titik terang and yoong ngikutin saran ppany 🙂 yeah!!

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s