FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 20

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 10-2

Taeyeon mendesah, menarik plester terakhir dari punggungnya. Sebenarnya, beberapa luka tak perlu penanganan berlebih karena luka sekecil itu cepat sembuhnya dan tidak membekas, kecuali jika lukannya sangat dalam. Ia menatap cermin diatas wastafel, “kurasa sudah cukup.” Gumamnya, meyakinkan untuk kesekian kalinya bahwa gelungan rambutnya sudah terkunci secara sempurna. Ketika ia sudah yakin semua sudah sempurna ia menatap sekali lagi seluruh tubuhnya pada cermin di kamar mandi lalu berjalan keluar ruangan.

Merapikan sekali lagi gaun ketat yang ia kenakan saat ia hendak menuruni tangga. Ia ingin terlihat sempurna di hadapan Tiffany.

“Hey…” Panggil Taeyeon saat memasuki ruang tamu, “adakah dari kalian yang melihat Fany?”

Sooyoung mendongak dari chess match yang sedang ia mainkan, menatap gadis di depannya “Anio… bukankah ia bersamamu?”

Taeyeon menggelengkan kepala, menunggu jawaban dari Sunny yang sedang melamun. “Kita memutuskan untuk berpisah. Ia pikir akan lebih menyenangkan dengan cara itu.”

Sunny melihat Taeyeon menyentakkan keliman gaunnya, “wow Taeyeon.. kau terlihat sangat hot!” Ia memindahkan kepingan chess match-nyasetelah giliran Sooyoung, “kau mau pergi kemana?”

“Aku dan Fany akan pergi makan malam.”

“Benarkah?” Ejek Sooyoung, “Good luck, harga di restoran sekitar sini sungguh terlalu!”

“Meskipun enak.” Timpal lawannya sambil mengangguk, perhatiannya fokus pada kepingan chess match di depannya.

“Mengapa kalian membayarnya? Kita mendapat semuanya gratis di sini.”

“Apa maksudmu?”

“Lyn-shi mengatakan padaku, jika kita bisa menggunakan semua fasilitas di sini secara gratis.” Sooyoung bangkit dari kursinya, secara tidak sengaja terantuk dan menjatuhkan papan chess match dengan perutnya, “kau bermaksud untuk memberitahuku jika kami dapat makan di restoran dan spa bintang lima secara gratis daripada bermain permainan konyol ini?!”

Taeyeon terkikik, suaranya melembut, “Maaf, tak memberitahumu lebih awal. Aku melupakannya.”

“Ayo Sunny, lupakan tentang itu! Ayo kita pergi! Kita tak memiliki banyak waktu lagi untuk menikmati tempat ini!”

Dia menarik lengan Sunny, menghentikan gadis yang sedang merapikan kekacauan itu.

“Gaun yang bagus,” Yuri tersenyum pada Taeyeon yang berjalan dengan menyeret kakinya menuju sofa.

Gomawo… Apa kau melihat Tiffany?” Ia mengecek kembali layar jam yang menyala pada DVD player di bawah TV.

“Menghawatirkanku?”

Taeyeon berbalik pada sumber suara. Napasnya tercekat, rahangnya terbuka lebar. Tiffany berdiri dengan rambut terurai disekitar wajahnya. Ia mengenakan gaun hitam dengan aksen putih. Meskipun sedikit kebesaran, gaun itu tetap menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. Melekuk dan mencembung di tempat yang sempurna. Kain satin dan pita yang melekat pada dadanya membuat penampilannya semakin bersinar.

Tiffany mengangkat sedikit ujung rok gaunnya sambil tersenyum mempertunjukan lekuk bulan sabit pada kedua matanya, Taeyeon menatapnya dengan mulut mengaga. (hahaha LOL) “Sudah siap?”

“…..” Kedua matanya meneliti setiap inchi dari tubuh Tiffany, perlahan menelusuri secara menyeluruh pada pemandangan yang menarik perhatiannya (?)

“TaeTae?”

Taeyeon seketika melirik paha mulus Tiffany, kagum dengan kemulusan kulit susunya yang terekspos.

“Jezz Taenggo…” Sooyoung terkekeh, menjendul kepala Taeyeon dari belakang, “Tutup mulutmu. Air liurmu menetes dimana-mana.”

Ia pasti sudah menatap Tiffany sekian lama, karena saat tersadar, Sunny dan Sooyoung sudah berganti pakaian dan Yuri sudah tak lagi berada di sofa. (=v=) Ia menggigit bagian bawah bibirnya, berusaha untuk tidak merusak make up nya. Sooyoung terlalu berlebihan mengoloknya.

Taeyeon berdeham, kembali menatap Tiffany sambil mengangguk, “Y—yeah.. aku siap!”

Tiffany menyelipkan tangannya pada lengan Taeyeon, menariknya keluar melalui pintu utama, senyum tak absen dari bibirnya. “Bagus…” ia melambaikan tangan pada member yang ada, “Kami akan kembali nanti.”

**

“Kau bukan aktor. Ini bukan panggung, ini kehidupan nyata. Kita nyata dan aku minta maaf karena telah melukaimu untuk menyadarinya. Aku justru meminta nasehat pada yang lainnya—aku justru bertanya apa yang harus aku perbuat dan bagaimana aku bersikap. Aku seharusnya mengikuti kata hatiku. Aku seharusnya bertanya padamu. Aku harusnya mengatakan padamu bagaimana perasaanku. Sebenarnya… Seohyun… Juhyun… Saranghae.

**

“Apa itu?” Tiffany bergeser dari pandangan Taeyeon saat ia bersandar pada dinding lift yang kosong, “kau telah melamun selama aku dapat mengingatnya.”

Taeyeon terus menatap gadis didepannya, “Bukankah ini gaun yang kau lihat saat belanja bersamaku.”

“Yeah..” Ia tersenyum lebar, “kurasa ini lebih cantik,” Tiffany berputar-putar membuat ujung gaunnya melambai. Ia memiringkan kepalanya kesamping, senyumnya memudar, “kau tak suka?”

“Ti—tidak.. Aku menyukainya… ini terlihat sangat pas untukmu.” Taeyeon menggelengkan kepalanya. Ia dapat melakukan lebih dari itu, “kau terlihat sangat cantik.” Ia merapatkan jarak diantara mereka, “kau sungguh cantik,” ia merasakan dada Tiffany menyentuh miliknya (?). Ia menarik gadis tersipu itu kedalam pelukan lembutnya. “kau sangat menawan Fany-ah..”

Tepat pada saat itu juga, Tiffany menekan bibirnya pada Taeyeon, tak bergerak. Ia merasakan gelombang listrik mengaliri seluruh tubuhnya. Itu takkan pernah terasa familiar, Taeyeon mempercayainya. Ia meyelipkan tangannya kemudian mengangkat gaun Tiffany secara perlahan. (O.O #pasang cctv) kerah gaun yang dikenakan Tiffany cukup rendah untuk Taeyeon merasakan kelembutan kulit yang tersembunyi di bawah helai rambutnya. Ia mengerang dalam mulut Tiffany, merasakan lidah gadis itu menyentuh miliknya dengan gerakan menggoda.

Tidak malam ini. Ia berpikir untuk menggerakkan tangannya pada pinggul Tiffany. Tak ada lagi godaan malam ini. Ia tak bisa menahannya. Tidak dengan ia tampak sangat…

Otaknya kembali berputar saat ia merasakan Tiffany bergeliang melepaskan pegangannya. Ia menyeringai pada Taeyeon yang kebingungan.

Tiffany meluruskan gaunnya, “kita sedang berada dalam lift.”

Taeyeon melirik pada layar di atas pintu silver, “tapi masih 30 lantai lagi.” Tiffany mengangkat sebelah alisnya mendengar alasan Taeyeon, “Aku tak bermaksud seperti itu,” Taeyeon kembali mendekap gadis itu, suaranya melirih, “kita bisa….” Ia menggambar lingkaran pada lengan Tiffany, “tetap berciuman.”

“Kau tak bisa melakukan hal itu padaku, Taeyeon.” Ia menertawai usaha Taeyeon menirukan kebiasaan yang selalu ia lakukan, “kau takkan berhasil.”

Taeyeon mendorong tubuhnya sambil cemberut, “mengapa kau selalu melakukannya?”

“Apa?” Tiffany mengedipkan matanya lalu tersenyum.

“Mengapa kau tak henti menggodaku?”

Tiffany mengangkat kedua bahu sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.”

“Kau tahu!” Taeyeon menggembungkan pipinya, “aku membencinya, kau tahu!”

Tiffany menyeringai, menyelipkan lengan di belakang punggung Taeyeon, “begitukah?”

“Y—yeah…” Taeyeon berusaha untuk terlihat marah saat Tiffany mendekatinya, “sama-sekali tidak lucu.”

“Oh yeah?” Ia berdiri disamping Taeyeon, menyudutkan gadis itu.

“Yeah…” Bahkan itu terdengar seperti bisikan.

Taeyeon menutup kedua matanya, mengantisipasi ciuman selanjutnya, namun tak kunjung ia rasakan. Lift itu tiba-tiba saja berhenti dan beberapa orang berpakaian formal masuk kedalamnya. (kesiaaann) Kekecewaan tergambar jelas diwajahnya saat ia mengutuk kerumunan orang tersebut dalam hatinya. Itu tak berlangsung lama, saat ia merasakan jemari Tiffany menggerayangi punggungnya.

Tiffany menangkupkan kedua tangannya pada telinga Taeyeon seperti hendak membisikan sesuatu padanya, namun ia tak mendengar apapun. Hanya sensasi panas dan basah dari lidah Tiffany dengan lembut menari di sekitar cuping telinganya. Itu berakhir saat mereka semua keluar dari lift lalu Tiffany membisikan sesuatu padanya, “Apa yang akan kau lakukan dengan ini ?”

**

Mmmmhh…” Suara rengekan meluncur dari mulut gadis yang sedang berbaring di kasur, meregangkan kedua tangannya.

Yoona menggigit bibir bawahnya, menghentikan pandangannya sejenak pada gadis yang sedang tertidur lelap sebelum berbaring di sebelahnya.

“Hmm?” Ia kembali mengerang, “ada apa?”

Yoona memasang wajah polosnya, menepukkan kedua tangannya secara serempak pada pahanya, “oh, kau sudah bangun!” Seohyun mendesah, matanya tetap terkatup, “kau telah mengabaikanku selama tiga puluh menit dari sekarang.”

Seohyun berbalik menghadap tembok, merasa terganggu, “ada apa? Apa yang kau inginkan?”

Yoona tersenyum, menjatuhkan pandangannya pada kedua tangannya. “Kau.”

“Untuk apa?” Ia masih tak mengerti, “aku yakin, apapun itu kau masih dapat mencari orang lain untuk membantumu.”

“Hanya ada kita berdua disini, lagipula bukan itu yang ku maksudkan.” Ia menggengam tangan Seohyun.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Seohyun, terkejut dengan sikap Yoona yang tiba-tiba.

“Aku minta maaf,” Mata mereka akhirnya saling bertemu, ia telah memandangi Seohyun seharian, senyumnya tulus.

Namun Seohyun tak membalas senyumnya.

“Masih terlalu pagi.”Gumamnya, kembali menghadap tembok.

“Sudah jam enam lebih.” Yoona kembali melirik jam tangannya. Setidaknya Seohyun tak mengusirnya. “Ini sudah terlalu malam.” Seohyun dapat mendengar suara Yoona mulai melirih namun ia tak berbalik menghadapnya. Ia tak ingin Yoona melihatnya seperti ini.

Namun Yoona telah mendapatinya beberapa jam yang lalu, “Menangis?” Ujarnya, “Matamu tampak bengkak.”

Seohyun tetap bergeming.

“Karenaku?”

Tetap tak ada jawaban.

“…Kau pasti sangat marah padaku…” Ia dengan sengaja meremas tangan Seohyun, “Daripada berbicara padamu atau berusaha untuk mencari sendiri semua penyebabnya aku justru bertanya pada orang lain tanpa memikirkan tentang apa yang mereka rasakan, bagaimana perasaan mereka… aku sangat bodoh—!”

“—Yoona,” Seohyun menatapnya sekali lagi, matanya memohon, “Aku tahu kau ingin bercerita banyak hal, tapi aku sangat lelah. Dapatkah kita melakukannya setelah aku bangun? Aku janji, hanya satu jam… jadi….” Suaranya berubah kuap.

Ia pasti benar-benar menangis kemarin malam.

Yoona mengangguk, merasakan genggaman Seohyun semakin merenggang. Ia bisa menunggu lebih lama lagi.

Ia akan menunggu sampai besok pagi kalau perlu. Selama Seohyun mau mendengarkannya semua itu tak jadi masalah. Ia membenarkan kain tebal yang menyelimuti Seohyun, kemudian merapikan helai rambut yang menutupi wajahnya sebelum kembali pada posisinya semula. Menunggu dengan sabar.

**

“Waw Fany-ah, tempat ini sangat cantik.” Taeyeon mengedarkan pandangannya mengitari seluruh sudut restoran. Dekorasi, suasana, musik, semua berbintang lima dan sungguh menawan.

Tiffany tersenyum, duduk pada kursi yang sudah Taeyeon siapkan untuknya, “kupikir kau menyukainya.” Ia menyandarkan kepala saat Taeyeon duduk di kursinya. “Ini membuatku memikirkanmu.”

Taeyeon merasakan dirinya tersenyum, “benarkah?”

Tiffany mengangguk, menyesap minumannya dengan perlahan, “Mmm… suasananya benar-benar sama sepertimu, kalem tapi menyenangkan dan hangat.”

Ia tersenyum saat Taeyeon mulai tersipu. Ia berpikiran sama, tempat ini benar-benar mencerminkan dirinya, sungguh aneh jika dipikir kembali. Tiffany melanjutkan bicaranya, “Ada banyak restoran disini, namun tempat ini mempunyai udara yang spesial.” (btw, sasya juga punya kekuatan semacam ini, sasya selalu mengingat seseorang berdasarkan bau dan suasana, terutama parfum, kadang kalo nyium parfum yang sama, suka keingetan, hehe.. kadang suka nyesek kalo keingetan orang yang kita sayang tapi udah pergi jauh, hehe…)

Taeyeon meregangkan serbetnya, wajahnya berseri-seri, “kau tak perlu memesan tempat, aku dapat melakukannya.”

“Aku tahu, tapi aku ingin melakukan sesuatu sebagai balasan untukmu.”

Taeyeon mencengkram serbet pada genggamannya. Ia berpikir singkat sebelum mengedarkan pandangannya. Tak terdapat banyak orang di restoran itu dan tak satupun dari mereka yang melihatnya. Taeyeon meletakkan serbet di atas meja kemudian bangkit secara perlahan.

Tiffany hanya dapat menatapnya kebingungan, ia memiringkan kepalanya sedikit saat kekasihnya menarik sebuah kursi dari meja.

Kebingungan itu segera menghilang berubah ekspresi kekaguman setelah ia melihat Taeyeon dengan hati-hati mencoba untuk memindahkan kursi di sampingnya. Ia merasakan wajahnya bersemu kemerahan, sama seperti Taeyeon saat ia duduk di sebelah Tiffany. Meskipun begitu, ia tak menyadarinya. Fokus pada tangannya, dengan malu-malu ia menyelipkan tangannya pada pangkuan Tiffany, mencari pasangannya. Menyelipkan jemari mereka di bawah meja sebelum mulai memainkan permainan nakal yang biasa mereka mainkan. (ikutan dong #pasang tampang polos o.O )

**

-Trio Stalker-

“Gah…” Yuri menyandarkan punggung pada kursinya, meletakkan gelas di atas meja, “mereka benar-benar saling mencintai.”

“Sshh..” Sooyoung membuyarkan perhatiannya dari pemandangan di hadapannya beralih menatap gadis di sampingnya, “jangan berbicara terlalu keras!”

“Tenang…” Yuri menopang sikutnya di atas meja, “tak ada yang mendengarku, lagipula aku tidak menyebutkan nama.”

“Tetap saja..” Sooyoung memandangi segerumbulan orang berlalu-lalang melewati meja mereka, sibuk dengan obrolan masing-masing. “Aku tak ingin ketahuan.” Sooyoung mendesah sambil bersedekap, melipat kedua tangan didepan dadanya. “man.. jika kau terus sembrono seperti ini, mungkin lebih baik aku memasukkanmu kembali dalam kamar.”

“Tenang, jezz, kau jadi sangat bengal ketika sedang minum.” Yuri mengisi kembali gelasnya pada botol wine di atas meja. Ia tetap bertanya tentang hal-hal aneh sehingga pelayan tak kunjung kembali ke meja mereka. Meskipun begitu, ia tampak tak begitu mempedulikannya, “Bisakah kita pergi ke restoran yang lain? Aku merasa tidak enak memata-matai mereka seperti ini.”

Anio… ini baru langkah pertama. Aku tidak tahu jika mereka juga berada disini. Ini benar-benar kebetulan.”

“Kita benar-benar memata-matai mereka.” Gumam Yuri, melambaikan tangannya di depan wajah Sunny, “Sadarlah…”

“Lihat!” Pandangan Sunny tetap tak berubah, terpaku pada sepasang kekasih yang berada di ujung ruangan. Ia mendapat pemandangan yang terbaik.

**

Tiffany mulai mengiris daging ayam panggang di hadapannya menjadi potongan-potongan kecil segera setelah ia menerimanya. Ia tersenyum saat Taeyeon membentangkan serbet dan menyaputkannya pada paha Tiffany sebelum melakukan untuk dirinya sendiri. Ini adalah salah satu aspek favorit dalam hubungan mereka. Ia menyukai bahwa mereka telah bertumbuh pada titik dimana mereka merasa cukup nyaman satu-sama lain walau hanya duduk dalam diam. Hati dan tindakan mereka-lah yang berbicara.

Taeyeon tidak perlu meminta ijin untuk menyibak beberapa helai rambut dari wajah gadis itu, jadi sama seperti ketika ia mencoba untuk memotong daging pedas dan Tiffany tahu ia tak perlu meminta ijin untuk menawarkan pada Taeyeon gigitan pertamanya. Semuanya diterima dengan senang hati.

Tiffany menyodorkan sepotong garpu daging panggang itu pada mulut Taeyeon lalu mulutnya sendiri. Sebelum ia menyadarinya, ibu jari Taeyeon telah menyeka saus pada bibir bagian bawahnya. Ia mengangkat jarinya pada mulutnya, bersiap untuk menjilatnya namun terhenti saat Tiffany menggelengkan kepala.

Ini akan terlihat mencurigakan. Pikirnya, menyeka jarinya pada serbet di pangkuannya. Ia memandang ke sekeliling ruangan.

Restoran itu kini mulai sedikit ramai, terlalu banyak untuk dapat ia hitung. Ia bertanya-tanya kapan mereka datang.

Mungkin saat aku terhanyut dalam Tiffanyku. Detak jantungya membuat pipinya merona saat ia berpikir tentang betapa jujur perhatian yang mereka berikan.

Tiffany menggosokkan kakinya pada Taeyeon kemudian beringsut mendekatinya, tak sadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengotori pikiran gadis di sampingnya.(?) Ia meletakkan tangan kirinya pada paha Taeyeon, tak bermaksud lain, ia hanya ingin kekasihnya lebih mendekat padanya. Taeyeon tersentak dengan sentuhan Tiffany yang mendadak, otaknya telah melebihi kapasitas. Ia tersedak makanan yang susah payah ia telan. Sebuah tangan dengan lembut menepuk punggungnya, sementara tangan yang lain, mengangkat gelas tepat pada bibirnya.

“Kau baik-baik saja?” Tiffany menggosok punggungnya membentuk sebuah sentuhan lingkaran kemudian menarik tangannya kembali dan meletakkannya pada pundak Taeyeon.

Ia mengangguk, memberi seulas senyuman, “yeah, kurasa aku mengunyah terlalu cepat.” (tidak meyakinkan *smirk*)

“Pelan-pelan.” Tiffany meraih gelasnya yang sudah kosong. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, “TaeTae, apa kau melihat pelayan?”

“Hm?” Taeyeon meletakkan botol itu ditempat semula setelah mengisi penuh kedua gelas mereka, “tadi kau mengatakan apa Fany-ah?”

Tiffany menarik bibir bagian bawah kedalam mulutnya, ia yakin bahwa suara detak jantungnya berdebar dengan sangat kencang sehingga seisi restoran dapat mendengarnya, “Gomawo.” Ia tersenyum.

Taeyeon mulai kembali memakan makanannya, “Untuk apa?” Ia bahkan tak menyadarinya.

Semua itu kian terasa natural bagi mereka.

Tiffany mendesah, menggelengkan kepala. Ia selalu merasa takjub bahwa orang yang dicintainya selalu dapat membuat perasaannya kian meledak-ledak. Ia hanya dapat berharap bahwa ia telah membuat Taeyeon merasakan apa yang ia rasakan, namun ia tak pernah meragukannya. Taeyeon telah meyakinkannya. Tiffany menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinganya, walaupun sebenarnya ia tak perlu melakukannya karena Taeyeon sudah melakukan hal itu untuknya. Tiffany mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.

“Taeyeon?” Ia menggosok sesuatu di pangkuannya.

“Hm?” Mata coklat Taeyeon memandangnya, menatapnya lekat.

Ia tak benar-benar memikirkan cara romantis untuk  melakukannya. Bukan sesuatu yang menyentuh seperti apa yang telah Taeyeon katakan padanya. Pikirannya berpacu.

“Lihat kesana—menurutmu itu jenis piano apa?”

“Hm?” Ia menoleh kearah yang ditunjuk oleh Tiffany, menatap pada white grand piano yang berada di tengah ruangan. “Aku tak tahu, Seohyun mungkin da—apa yang—?” Tiffany melingkarkan lengannya pada bahu Taeyeon, ia terkikik pada tindakan Tiffany yang membingungkannya, “apa kau mencoba untuk mencekikku? Kita sudah melakukan bagian ini, kau ingat?”

Taeyeon tertawa kecil lalu kembali duduk di kursinya. Ia merasakan sensasi dingin yang mengejutkan pada kulit di bawah tulang selangkanya, membawa perhatiannya pada arah tatapan Tiffany, “aku melihatnya saat kita sedang berjalan-jalan.”  Suaranya sangat lirih, mengintip melalui kelopak matanya, dagunya berkerut, “Tidak sama tapi mirip.” Ia memainkan kalung miliknya.

Mulut Taeyeon kembali ternganga, pandangannya tertuju pada gadis disampingnya kumudian kalung yang melingkar sempurna di lehernya sendiri. Ia memegang cincin dengan sebelah tangannya, kemudian tangan yang lainnya berada tepat pada hatinya untuk meredam detak jantungnya yang tak beraturan. “Oh Tiffany…. Ini sangat cantik…” Ia berjuang untuk menghentikan dirinya ketika ia merasakan tubuhnya menyandar pada gadis di sampingnya. Tiffany juga melakukan hal yang sama.

“Aku menyukainya.” Ia mendesah, melepaskan tangan dari dadanya untuk menggenggam Tiffany, “Gomawo…” ia meremas tangan gadis itu, tatapannya semakin melembut, “Gomawo…

Ia berharap dapat mencium bibirnya, tapi ia tahu semua itu mustahil.

Taeyeon mengamati kalung yang menggantung di lehernya, mengaggumi modelnya. Bandul berwarna silver dengan ukiran yang sangat indah.

“Kau benar-benar menyukainya?”

Ne…” Suaranya semakin lirih, lebih seperti bisikan daripada suara. Ia kembali menatapnya dengan kagum. Terpesona dengan polanya yang rumit, “Ini sangat bagus Tiffany, apa ini pola ombak?”

Tiffany terkikik, menutup mulut dengan tangan kirinya, “itu kata-kata.”

Jinjja?” Taeyeon membelakkan kedua matanya, pola dan desain dari bandul cincin itu benar sebuah kata-kata. Pas dengan ukuran dan jenis huruf latin.

“Itu ukiran, tapi aku punya banyak kata untuk dituliskan dan mereka tetap membuat ukuran hurufnya kecil-kecil agar cukup.” Ia mendesah, mengernyitkan kedua alisnya, “bodoh.. bahkan kaupun tak dapat membacanya sekarang, huh?”

“Bukan masalah.”  Ia mencoba untuk mengeja tulisan Inggris itu. “Lagipula sepertinya aku tak bisa membacanya.” Ia kembali meremas tangan Tiffany, “beritahu aku apa artinya ini Fany-ah, dengan cara yang kumengerti.”

Tiffany mengangkat kedua pundaknya, merasa malu. “Itu bodoh…”

“Jangan berkata seperti itu. Aku tahu ini pasti sangat bagus sejak kau memberikannya hanya untukku…” Ia bersandar lebih dekat, menyelipkan lengannya pada Tiffany. Ia mengerti kenapa Tiffany bertingkah seperti sekarang ini, Taeyeon ingin membuatnya nyaman mengungkapkan perasaanya. Ia menutup kedua matanya, “katakan padaku.”

Tiffany bergumam sesuatu yang tak dapat ia mengerti.

“Hm?” Taeyeon menyandarkan kepalanya lebih dalam di pundak Tiffany.

“’If I am your heartbeart’,” Tiffany menutup kedua matanya, “’you are my soul’.” Lalu menyandarkan kepala pada Taeyeon yang sedang bersandar di bahunya.

“Tiffany…” Gadis kasmaran itu mendesah, perasaanya terhanyut dalam euphoria.

“How wish I could kiss you?”

Tiffany berlagak tak mendengarnya. Bukan ia sengaja melakukannya, namun jika ia mengakuinya. Ia pasti akan mengabulkan apa yang mereka berdua ingin lakukan.

Tiffany mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, “aku akan segera kembali TaeTae.” Ia dengan malas bangkit dari kursinya, melepaskan dekapan hangat kekasihnya, “kamar mandi.”

Taeyeon mengangguk, menyandarkan punggugnya pada sandaran kursi, pandangannya masih tersesat entah kemana. (gak jauh-jauh dari situ keknya… LOL)

**

-Back to Trio Stalker-

“Yah! Sooyoung, kau baik-baik saja?” Sunny menepuk pundak Sooyoung dari belakang. Ia telah berpindah-pindah tempat selama beberapa kali sampai sekarang, “jangan melamun.” Ia menyodorkan makanan di hadapan Sooyoung, “dan jangan menatapanya seperti itu, lehermu akan kram.”

Sooyoung kembali berbalik menghadap kedua temannya, lalu menerawang ke langit-langit, “ah… cinta sejati…” Ia membayangkan dirinya sendiri juga mendapatkan kalung seperti mereka. “Kuharap mereka akan terus seperti itu selamanya.”

“Aku yakin mereka akan seperti itu.” Gumam Yuri, kembali mengisi gelasnya, “aku tak membayangkan, aku harus bertemu dengan mantan kekasihku setiap hari.”

“Mm…” Sunny mengangguk sebelum menggelengkan kepalanya. “Aku tak berpikiran anggota kita harus menghadapi hal seperti itu. Mereka takkan pernah berpisah satu sama-lain.”

“Mungkin saja jika ia mendapatiku membunuh kalian semua!”

Mereka bertiga terperanjat mendengar suara serak di belakang Sunny.

“Waa!” Sooyoung hampir saja membalikkan meja dengan lututnya karena kaget, “dari mana kau datang?”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Serius guys.. memata-matai kami?”

“Kami tidak!” Protes Sooyoung, “ini hanya kebetulan!”

Tiffany melipat kedua tangan didepan dadanya, menaikkan sebelah alisnya saat mendengar alasan konyol Sooyoung, ia tak benar-benar mempercayainya.

Sunny menggelengkan kepala, melambaikan tangan didepan mukanya, “ia mengatakan yang sebenarnya, ia ingin  mengunjungi setiap restoran malam ini dan ia memutuskan restoran ini yang pertama ia datangi. Kita lewat sini beberapa hari yang lalu dan membayar, namun sekarang ia ingin makan gratis disini.”

Tiffany mendesah, berjalan selangkah mendekati mereka. Ia tak mau marah-marah di malam penting seperti ini.

“Okay.. tapi…” Suaranya melembut sekarang, ia menggesekkan kedua tangannya, “bisakah kalian pergi sekarang?” Ia memohon, “jika TaeTae melihat kalian, ia akan merasa canggung dan gugup.” Tiffany tersenyum saat ia mengingat rasanya ketika Taeyeon menyandarkan kepalanya pada bahunya, sedangkan tangan mereka bermain dalam pangkuannya. (mainan apaan sih, sasya boleh ngikut gak yaa.. #plakk) “kami sedang menikmati sore yang indah, dan aku tak ingin segera berakhir.”

Mereka bertiga saling berbagi pandang, menatap satu sama lain dengan senyum di wajahnya. Mereka tak pernah melihat Tiffany sebahagia ini sebelumnya. Bahkan mungkin terlalu bahagia, “Tentu Fany-ah, kita akan meninggalkan tempat ini.”

“Kau membawa kuncimu, kan? Karena kita mengunci pintunya.”

“Yeah.. aku membawanya,” Tiffany mengangguk sebelum melirik ke mejanya, “gomawo..”

Sooyoung mengedipkan sebelah mata pada gadis di depannya, “kita akan memastikan untuk kembali ke hotel sangat-sangaaaat malam.”

Tiffany menepuki pundak Sooyoung sebelum berjalan kembali ke mejanya tanpa berucap sepatah katapun.

Ia tak yakin ia dapat mengelak apa yang Sooyoung maksudkan secara tak langsung.

-TBC-

 

Iklan

89 thoughts on “Love Is Hard Part 20”

  1. btw itu resto rame kan ??
    soalnya taeny terhanyut bnget sma dinnernya haha smpe lupa dengan sekitarnya..
    njirr yulsoosun jd stalker kurng handal nih..
    msa ketahuan -_-
    yoonhyun sm hyosic blm akur jga??

  2. wkwkwk taeny dinner di tempat yg rame aja masih romantis bgt ckckck
    and then trio stalker kyknya beneran kgk ada kerjaan lg deh kekekekkkk
    soo syokkkk bgt wkt ketaun kekekkkk
    sweet story….

  3. Jiah yulsoosun kyak kgak prnah liat orang pcran aja and sprtinya yg pling antusias soo deh ni orang bner2 shipper akut ye -_-“

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s