FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 21

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

Chapter 10-3

“Aku kembali.” Tiffany menyeringai, meluncur kembali ke kursinya.

Taeyeon menyambutnya dengan senyuman, seketika meraih tangannya. Senyum di wajah Tiffany kian melebar, menikmati betapa manisnya perhatian yang kekasihnya tunjukkan untuknya. Taeyeon merasa benar-benar terharu sore ini. Tidak, dia merasa seperti ini setiap saat, hanya malam ini ia tak merasa kesulitan untuk mengekspresikannya.

“Kupikir kau masih sedikit lapar, jadi aku memesankan sup untukmu.” Ia berkata dengan suara yang lembut dan lirih. Taeyeon menutup kedua matanya, menyandarkan kepala di pundak Tiffany. Gadis disampingnya tersenyum, rasa hangat menyeruak di perutnya yang berdebar. Ia dapat dengan mudah membiasakan diri dengan perhatian yang Taeyeon tunjukkan, benar-benar damai tanpa khawatir.

Ia menelusuri sela-sela jari Taeyeon, menggerakkannya ditempat yang disukai kekasihnya, terutama diantara jari telunjuk dan tengah. Taeyeon tak pernah memberitahukannya pada Tiffany, namun gadis itu tahu. Setiap kali ia melayangkan jemarinya di tempat itu, reaksi Taeyeon tetap sama, napasnya tercekat pada tenggorokanya, sedikit gemetar dan embusan napas lembut diiringi kikihan kecil, pandangan Taeyeon jatuh pada kedua tangan mereka sedangkan Tiffany tetap menatapnya dengan intens dan penuh harap.

Setiap hari dan malam ia menghabiskan waktu untuk memimpikan saat-saat seperti ini. Ia tak pernah berpikiran tindakan sesederhana itu dapat menghadirkan reaksi yang sungguh indah. Reaksi dari Taeyeon dan dirinya sendiri, ia bahkan tak sadar apa yang telah ia berikan. Tiffany takkan memberitahunya. Jika ia memberitahunya, Taeyeon mungkin akan sadar dan menghentikannya. Dan Tiffany tak ingin dia untuk berhenti.

Ia tak pernah ingin Taeyeon untuk berhenti.

Sekarang, jika ia mendapati anak-anak itu, maka takkan ada kesempatan lagi ia akan melakukannya! Gerutunya dalam hati.

Sorot matanya penuh kasih sayang saat ia melihat Taeyeon menggigiti bibir bawahnya. Ia ingin membekukan waktu, untuk menyimpan gambar itu selamanya dalam pikirannya. Dengan tangan kanannya ia melarikan jemarinya pada cincin yang menjuntai di lehernya. Pikirannya berputar, terpesona dan kabur.

“Permisi…” Pelayan pria tinggi membungkuk pada mereka, berdiri di dekat meja. Dia bukan pria yang sama seperti pria yang melayani mereka seharian tadi. Kenyataannya, seragam yang mereka kenakan berbeda. Bukan kaos merah dan celana hitam yang biasa digunakan pelayan lainnya. Celananya memang hitam, tapi teksturnya lebih lembut dengan rompi dan dasi putih di sekitar lehernya.

Tak ingin menimbulkan kekacauan, Tiffany menarik kembali tatapannya pada gadis yang sedang tenggelam dalam dunia mereka. “Ne?

“Maaf mengganggu waktu kalian, namun tidakkah kalian keberatan untuk ikut bersamaku?”

“Ada apa?” Tukas Taeyeon, suaranya terdengar sedikit kesal saat pikirannya kembali ke dunia nyata.

Manager kami akan menjelaskan semuanya.” Ia melangkah kesamping, meregangkan tangannya ke arah pintu belakang, “silahkan.”

Taeyeon menatap Tiffany, mereka berbagi pembicaraan dalam senyap dengan mata mereka. Tiffany tersenyum menjawab tatapan Taeyeon yang penuh tanda tanya.

“Ayo TaeTae..” Ia bangkit dari kursinya, “mungkin tidak akan lama.”

Pria itu memimpin mereka dari restoran menuju dapur dimana seorang wanita yang sangat mereka kenal berdiri disana. Ia berbicara melalui headset dengan papan tulis kayu kecil di depannya. Ia mengagguk, meremas-remas tangannya sendiri lalu memegangi telinganya saat ia berjalan memutar. Keliman dari jubah merahnya melambai dengan anggun pada lantai marmer. Ia terlihat sedikit lebih muda.

“Selamat sore So Nyeo Shi Dae,” ia membungkuk. “Aku percaya kalian menikmati waktu kalian di hotel kami.”

Ye…” Tiffany tersenyum, tanpa sadar melirik kearah Taeyeon. “Sangat menganggumkan.”

Taeyeon tak bisa menghentikan senyumnya saat ia mengingat betapa indah hari-harinya belakangan ini. Ia benar-benar ingin kembali duduk dan menikmati sore indahnya yang sempat terhenti, “Maaf Lyn-shi, tapi apa yang kau butuhkan dari kami?”

“Ah, ya…” Wanita itu kembali mendorong kacamata dari ujung hidungnya, “langsung pada intinya.” Ia memasukkan tangan kedalam sakunya, dan mengisyaratkan mereka berdua untuk mengikutinya.

Bersama, mereka bergegas mengikuti wanita itu dari belakang. Mereka merasa heran dengan sikap Lyn, namun tetap mengikutinya. Wanita itu membuka pintu dapur besar berayun, lalu berjalan menuju tangga memasuki jalan sempit yang sepi dan remang. Di sisi kanan dan kirinya hanya ada ruangan kosong.

Lengkingan suara dengung menggema dari lampu halogen yang menggantung diatas mereka. Berkedip dengan cepat menimbulkan irama yang tidak beraturan, memantul dan menggema pada dinding dan pipa-pipa besar.

Tiffany tidak menyukainya.

Suasananya benar-benar mengerikan, ia bahkan sulit untuk mempercayai tempat ini adalah bagian dari hotel semewah ini.

Setelah berjalan sepanjang entah tempat apa ini, Taeyeon tampak tak sabar untuk segera kembali pada kencannya, mereka sampai pada pintu besar berwarna hitam. Hampir sama seperti yang mereka lewati tadi, namun kali ini ada aksen logam yang dilengkapi dengan berbagai gembok dan kunci besar.

Tiffany merapatkan jarak diantara mereka, secara naluriah berjalan selangkah untuk mensejajarkan langkah mereka. Ia menyelipkan tangannya pada genggaman Taeyeon, suaranya gemetar, “Lyn?”

**

“Bagaimana kau menemukanku?”

“Tidak sulit.” Jessica berdiri di ambang pintu dalam ruangan kosong, menatap gadis yang sedang duduk menghadap tembok di atas lantai kayu. Ia mendesah, berdiri dengan suara isak yang terdengar jelas. Melepas dekap tangannya, menghampiri gadis yang sedang memeluk lututnya ke dalam dekapan hangat. Suaranya melembut, “sebenarnya, sangat sulit. Aku harus mencari security guard dan memintanya untuk memperbolehkanku melihat monitor demi melacak keberadaanmu.” Jessica berjongkok di sampingnya. “Ia juga tak memperbolehkannya.”

Hyoyeon membenamkan wajah di sela lututnya, mencoba untuk menyembunyikan air matanya. Tapi faktanya terlalu jelas untuk dapat disembunyikan, terlalu jelas untuk tak di perhatikan. “Hyoyeon.” Panggil Jessica. Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. Suaranya bergetar, “kita harus berbicara.”

“Mengapa?” Dengan kasar Hyoyeon mengusap kedua matanya yang sudah memerah, menyeka air mata yang tertinggal di pipinya. “Apa yang harus dikatakan?” Ia berbalik pada Jessica, menatapnya, “Semuanya sudah terlambat untuk dibicarakan.” Ia bertahan melawan keparauan di tenggorokannya. Beberapa saat yang lalu isaknya sudah mulai mereda. “Aku jatuh cinta padamu…. Aku menyatakannya padamu… dan kau menjauhiku.” Ia kembali tenggelam dalam rasa sakit, matanya mulai berair saat suaranya kembali pecah, “kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya, kau tak pernah memberiku kesempatan….” Kepalanya kembali jatuh dalam pangkuannya, meredam suaranya yang mulai pecah. “Jadi, apa lagi yang dapat kita bicarakan sekarang?”

Suara Hyoyeon yang menggema di seluruh ruangan, terlalu memilukan dan menyayat hati untuk didengar, membuatnya semakin terasa menyakitkan. Jika mereka harus membicarakan masalah ini, dia harus meyakinkan tak ada seorangpun yang lewat atau memasuki ruangan ini saat mereka tenggelam ke dalam pembicaraan yang sudah lama terpendam.

“Ayo kita bicarakan di kamar kita” Gumamnya, bangkit berdiri. “akan lebih mudah jika berbicara disana. Aku…. Aku akan memberitahukanmu segalanya….”

Hyoyeon ingin menentang perkataan Jessica. Ia selalu ingin tahu apa yang akan Jessica katakan. Alasan apa yang menyebabkan mereka berakhir sedemikian rupa? Terpisah dan jauh dalam dunia masing-masing.

Dengan kaki gemetar, ia menyeret langkahnya mengikuti Jessica dari belakang, menghentikannya secara tiba-tiba saat Jessica hendak meraih kenop pintu. Jessica memahami keraguan Hyeoyeon.

Hyoyeon tak pernah mau menunjukkan pada siapapun bahwa ia sedang menangis.

“Ini.” Jessica mengulurkan saputangan dari kantongnya, ia ingat untuk menyiapkannya sebelum menemui gadis itu. Hyoyeon sebenarnya enggan menerimanya, namun pada akhirnya ia melakukannya.

Gomawo.” Gumamnya di sela-sela kain lembut itu, terkesiap saat merasakan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan kembali menyeruak dalam tubuhnya. Pikirannya menggelnyar saat mereka kembali terbangun dari tidur lelap mereka. Ia kembali menghela nafas dalam. Meremas kain itu semakin erat.

Ia suka baunya, sangat enak.

Sangat cantik

Sangat indah

Seperti Jessica

**

Ini adalah saat yang paling menakutkan dalam sepertiga hidupnya.

Ia tak dapat mengelaknya, ia tak dapat lagi bersembunyi. Mereka telah mengetahuinya. Kata-kata Lyn terus berputar di kepalanya, menyapu pikirannya bersama tornado saat ia melihat wanita itu berkelut dengan berbagai macam kunci di depan pintu.

“Pihak keamanan kami menyaksikan adegan di lift tadi sore. Aku yakin kalian tahu apa yang kumaksudkan.”

Taeyeon berusaha untuk menelan ludah yang sudah mengering di tenggorokannya, memacu otaknya untuk merangkai kata-kata yang dapat menyelamatkan mereka dan memperbaiki situasi ini. Situasi yang dapat menghancurkan dunia yang baru saja mulai mereka tapaki. Ia dapat merasakan tangan Tiffany gemetar dalam genggamgannya.

Atau mungkin tangan mereka berdua, ia tak dapat merasakannya lagi, tubuhnya seakan mati rasa, lidahnya bahkan kelu untuk sekedar menenangkan gadis di sebelahnya.

Hal ini tak seharusnya terjadi. Ini bukan jalan yang ia pikir, kencan mereka akan berakhir.

Bersembunyi di suatu tempat dimana tak seorangpun dapat mendengar atau tahu keberadaan mereka. Ia bahkan tak membawa ponsel ataupun dompetnya. Ia merasa tak memerlukannya, karena satu-satunya orang yang akan menelponnya tengah bersamanya.

Otaknya memutar berbagai ide dan sekenario yang mungkin akan menunggu mereka di belakang pintu besar dan menyeramkan itu. Takdir apa yang akan menemui mereka. Sebuah ruangan kedap suara untuk bernegosiasi atau bahkan memeras mereka. Lusinan reporter dengan cepat akan membombardir mereka dengan beribu pertanyaan tentang apapun itu hubungan mereka atau yang lebih buruk, manager dan keluarga mereka akan murka dan bersiap untuk memungkiri mereka… Ia mempererat genggamannya pada tangan Tiffany, bahkan meremasnya.

Tak peduli apapun yang sedang menunggu mereka, ia takkan pernah melepasnya.

Ia takkan pernah membiarkannya pergi.

Lyn selesai membuka pintu. Ia memasukkan cincin besar dengan berbagai rentengan kunci itu kembali ke dalam sakunya. “Setelah mendengar tentang kalian berdua—oh my, kalian tampak ketakutan!” Ia mengamati sepasang sosok yang gemetaran di belakangnya, menunjukkan seulas senyum saat ia berpikir ia telah menakuti mereka berdua. Ia telah terbiasa dengan hal semacam ini sebelumnya, bahkan ia sampai tak dapat menghitungnya, “Kumohon jangan takut. Semuanya baik-baik saja. Aku minta maaf jika aku membuatmu takut.” Ia membuka pintu dengan tenang. “Aku merasa akan lebih baik jika memindahkan kalian ke tempat yang lebih privat, jadi kalian dapat menikmati makanan kalian dengan aman dan nyaman, tanpa khawatir.”

Lyn mengantar mereka kedalam ruangan kosong di balik pintu. “Kami di sini, di hotel ini menyediakan khusus untuk mereka yang terkemuka di depan publik, namun tak ingin kehidupan mereka dipaparkan di muka umum.” Ia mengikuti mereka kedalam lalu memutar dan keluar, menarik pagar logam dari depan pintu utama. Ia menekan beberapa digit angka pada dial pad kuno yang menempel pada pintu pagar.

“di lift..”

Wanita paruh baya itu berbalik untuk menghadap pasangan tersebut. “Kami telah dilindungi oleh keamanan yang sangat ketat demi kenyamanan dan privasi pengunjung. Tak ada jurnalis atau anggota dari media manapun yang diperbolehkan memasuki area pegunungan, dan semua pegawai yang bekerja disini telah sepenuhnya terikat dengan kontrak.” Ia mendesah, kikikan kecil meluncur dari mulutnya, “Aku yakin kalian tak ingin mendengar semua secara detil, hanya percaya padaku jika aku mengatakan bahwa di sini, di hotel kami telah aman dan bebas, kalian dapat melakukan apapun sesuka hati. Kita telah menjaga rahasia diplomat dan idol dari seluruh dunia selama bertahun-tahun.” Ia memegang telinganya, tersenyum menyesal, “tunggu sebentar..” Ia membawa walkman nya dan berbicara pada seseorang di seberang sana.

Mereka berbagi tatapan, keduanya terkikik setelah mendesah lega.

Tiffany mengernyitkan alisnya, jemarinya perlahan mengusap punggung tangan Taeyeon dengan lembut, “Apa kau…” suaranya berubah membisik, “apa kau pikir ini nyata?”

Taeyeon meyakinkannya dengan seulas seringai, mencoba yang terbaik untuk terlihat tenang. Ia membelai beberapa helai rambut yang terjatuh di wajah kekasihnya, “kuharap seperti itu, tempat seperti ini harus ada, kan? Semua ini masuk akal.”

Tiffany mendesah sebelum mengangguk. Ia percaya apa yang Taeyeon katakan padanya. Ia harus mempercayainya.

Pembicaraan Lyn selesai saat lift berhenti. Tak ada layar yang menyebutkan seperapa jauh mereka berada sekarang, namun dengan seberapa dingin suhu udara disekitarnya, Taeyeon dapat menerka mereka berada di gedung teratas.

Disini?

“Ah, kita sudah sampai..” Lyn menendang pintu sebelum mengangkatnya sedikit kemudian membiarkan mereka keluar, “Kita berada di lantai 300, restoran pribadi terfavorit. Berada di puncak gedung paling atas, kalian mungkin hanya tahu ini hotel dengan mall.” Ia mendorong kaca matanya kembali dari ujung hidungnya. “Ini di bangun dengan arsitektur lebih seperti rumah kaca daripada restoran, jadi kalian dapat menikmati pemandangan pegunungan dan tiga gedung lain dari hotel ini.”

Ia mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya saat ia melanjutkan ocehannya tentang restoran modern itu. Semuanya bertemakan hitam mempesona, putih dan biru pucat. Ini sebenarnya lebih kecil dari restoran sebelumnya, namun entah mengapa terlihat lebih luas.

Mungkin karena jauh dari keramaian. Taeyeon mengamati sekitar, mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru restoran.

Ada sebuah pintu di sudut ruangan yanga menggabungkan dapur, dengan persediaan penuh bar yang di pajang di sepanjang dinding dimana seorang pria memutar sebuah botol di tangannya. Persis di seberang lift ada sebuah kolam renang kecil dengan platform putih di  tengahnya dimana terdapat seorang pianis dengan berbagai instrumen. Juga beberapa baris meja yang di tata melingkar memenuhi ruangan dengan baris yang lain merepet pada tembok di dekat mereka.

“Kita barusaja membukanya kembali beberapa jam yang lalu, sejak cuaca mulai kembali normal.” Ia berhenti di depan meja yang sangat besar dengan gelas kaca diatasnya. Sangat bersinar seperti sebuah ukiran buatan tangan. Kursinya sendiri berwarna biru dan dibuat menyerupai berbingkai kayu coklat tua. Wanita itu melangkah kesamping untuk mempersilahkan mereka duduk, “ini mungkin masih sedikit dingin, tapi aku yakin kalian akan menemukan kursi dengan pemanas yang cukup untuk menghangatkan kalian.” Lyn melambaikan tangannya di udara, memanggil pelayan di sampingnya. Saat dia berjalan mendekat, Taeyeon ingat bahwa itu pria yang sama seperti sebelumnya. Dia memberikan masing-masing dari mereka menu sambil membungkuk.

Lyn tersenyum pada mereka sebelum melirik jam di pergelangan tangannya, “aku akan meninggalkan kalian untuk menikmati waktu kalian, dan aku meminta maaf sekali lagi jika aku membuat kalian takut atau menggaggu waktu kalian. Kami di hotel ini hanya ingin membuat kalian merasa nyaman. Jika kalian berpikiran untuk berekreasi disini, kami menyediakan couple package yang sangat menyenangkan juga aktivitas untuk bersantai. Selamat menikmati sore yang indah.”

**

“Itu bakhan bukan kau tak mencintaiku.”

Jessica menyentak, terperanjat dengan suara gadis yang berdiri disampingnya dalam lift. Ia tak mengatakan apapun sejak mereka meninggalkan ruangan beberapa waktu yang lalu.

“Jika sendiri, mungkin aku dapat mengatasinya.” Suaranya kembali normal sekarang, sangat jauh berbeda saat ia berusaha menyembunyikan isaknya beberapa saat yang lalu, “tapi kau mengabaikanku. Kau adalah temanku, dan kau mulai berhenti berbicara denganku. Kau hidup dengan caramu sendiri seakan kita tak pernah bertemu dan saling mengenal. Seolah aku tak pernah ada.”

Jessica berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang. Semua yang Hyoyeon katakan itu benar. Ia tak dapat mengelaknya. Ia tak dapat mengelak semuanya.

“Jika bukan karena So Nyeo Shi Dae, aku takkan pernah melihatmu lagi. Dan kau dapat hidup seperti itu. Kau baik-baik saja dengan itu, iya kan?”

Ia membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaannya, walaupun sebenarnya ia tak ingin berbohong, “…ne..”

**

OST : SNSD-How Great Is Your Love

“Kau harus melihat wajahmu tadi!” Tiffany terbahak, menarik lengan dari bawah meja untuk mengisi kembali gelasnya, “kau sangat ketakutan!”

“Kau juga!” Tukas Taeyeon, mengunyah sepotong kue yang telah ia suapkan pada Tiffany sebelumnya.

“Yeah,” Tiffany mengangguk, menyandarkan punggung pada bantalan hangat kursi yang sedikit berdengung dibelakangnya, “aku terus berpikir, ‘tidak lagi, tolong jangan hadapkan Taenggoku dalam situasi seperti ini lagi.’.”

Akhirnya, setelah menyesuaikan dengan lingkungan baru disekitar mereka, mereka mempelajari bahwa semua restoran dan menu disini hanya menyediakan desert sejak menu yang lain tidak memenuhi standar hotel setelah ditutup beberapa hari yang lalu. Tak satupun dari mereka tampak peduli karena mereka sudah kenyang setelah menghabiskan makan malam di restoran bawah, selain itu juga mereka terlalu mabuk oleh kehadiran satu sama-lain untuk mempedulikan hal itu.

Taeyeon memilih sepotong marble raspberry cheesecake untuk desert sedangkan Tiffany memilih sepotong besar rich chocolate cake meski tak satupun dari mereka yang bermaksud untuk memakannya sendiri.

Berdua, mereka duduk saling bersandar di balik selimut, bersuapan segigit demi segigit dari makanan yang mereka dapatkan secara gratis.

Mm…” Taeyeon merapatkan tubuhnya pada gadis di sampingnya, menikmati dekapan hangat kekasihnya dari balik selimut. Sebenarnya mereka mendapat dua, namun mereka hanya menggunakan satu untuk berdua, sementara selimut yang lain masih terlipat di ujung meja, tak tersentuh dan tak terpakai, “kau juga berada disana waktu itu.”

“Yeah…” Tiffany menyesap gelas berisi champagne, “tapi aku diam saja. Bahkan sebelum dengan para member, aku tertidur saat kau menjelaskan semua pada mereka.” Sorot matanya berkilau, mencium punggung tangan yang sedang terselip dengan jari-jarinya, “kau sungguh kuat TaeTae.”

Jantung Taeyeon berhenti berdetak saat sebelah tangannya membingkai pipi Tiffany. Kedua matanya membulat dengan sorot intens, penuh dengan renjana. “Aku kuat karenamu, Tiffany..” Ia mengangkat genggaman tangan mereka untuk membingkai kedua pipi Tiffany, “Karena ini..” Ibu jarinya perlahan menelusuri rahang Tiffany, dengan lembut mengelus kulit mulus di bawah telapak tangannya, “Karena cintamu.” Sudut mata Tiffany berubah menjadi lengkung bulan sabit, embusan napas yang dikeluarkan dengan sepenuh hati membuat tubuhnya kembali relax.

Saling bersandar sudah menjadi hal yang natural.

Ia membiarkan bibirnya melandas mulus di pipi Taeyeon sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh sudut restoran. Disamping beberapa pelayan disini, mereka hanya berdua. Taeyeon melihat ke penjuru ruangan, meninjau apakah semua benar-benar aman. Tak seorangpun yang tampak memperhatikan mereka, kecuali satu pelayan, tapi perhatiannya terfokus pada wanita di balik piano itu. Tetap saja, ciuman yang ia landaskan di pipi Tiffany masih dibarengi rasa khawatir, kecil dan malu-malu dengan cemas. Ia masih sedikit ragu jika tempat ini seaman seperti yang Lyn katakan padanya. Ia masih takut, akan membiarkan mereka terjebak dalam publik, bahkan mungkin hanya ada tak lebih dari lima orang di tempat itu.

Ia dapat merasakan Tiffany menginginkan lebih dari itu, tapi ia tahu Tiffany takkan mengambil inisiatif. Dia bahkan memikirkan hal yang sama. Tempat ini terlalu indah untuk benar-benar nyata. Tiffany tidak memerlukannya. Ia tak perlu mendekap Taeyeon disini jika itu berarti membahayakan mereka.

Tetap saja.

Di suasana seperti ini dengan mood yang romantis dan bintang-bintang yang bersinar terang dari balik dinding kaca yang membentengi mereka, sangat sulit walau hanya sekedar memeluk, menggandengnya, mendekap, menegelus pipinya atau bahkan menciumnya. Pada kenyataannya ada banyak hal yang membuatnya tak melakukan hal itu.

Tiffany menarik tangan Taeyeon dari pipinya menuju mulutnya. Dengan embusan napas berat, Tiffany menciumi punggung tangan Taeyeon, dengan nafsu yang semakin menggebu daripada sebelumnya. Ia tersenyum disela-sela ciumannya, berharap jika dengan menunjukan rasa kasih sayangnya yang benar-benar besar pada kekasihnya akan membantu mengurangi detak jantungnya yang semakin menggebu.

Taeyeon menatap dalam kedua mata Tiffany, terhanyut dalam sepasang pupil kecoklatan itu. Hal itu selalu membawa ketentraman pada dirinya. Memanggil melalui tatapan matanya dan hanya mereka berdua yang dapat mengartikannya. Ia sudah tak berdaya jika harus bertahan dengan tatapan itu. Ia dapat melenyapkan dirinya dalam tatapan Tiffany selamanya dan takkan merasa puas. Taeyeon tahu itu.

Ia merebahkan kepalanya pada bantalan mewah, kedua matanya terkatup. “Mmm,” ia menghela napas, menarik kaki dari tempat duduknya. Sedikit rasa malu membasuh wajahnya saat ia membuka kembali kedua matanya. Ia selalu merasa tersipu ketika tubuhnya bertingkah seperti ini, tapi ia tak dapat menahannya. Tiffany dapat membuatnya merasa sangat kuat dan lemah pada saat yang sama, bahwa perasaan yang bertentangan dapat berimbas dan meruntuhkan pertahanannya.

Tetap saja, ia tak dapat menahannya justru merasa sedikit memalukan ketika Tiffany mendengar suara aneh dari dadanya, berpikiran bahwa Tiffany akan mendapatinya dan membuatnya semakin merasa malu. Tapi, jauh dari alasan tersebut. Nyatanya, itu adalah kelemahannya. Tiffany hidup dan haus akan belai dan kasih sayang Taeyeon. Meskipun ia tak pernah memberitahukannya.

Jika Taeyeon tahu, betapa ingin Tiffany mendengarnya, ia akan hanyut kedalam apapun pengaruh kecil yang telah ia sembunyikan dari gadis mungil itu. Dan itu tak baik untuk mereka berdua. Setelah semuanya, salah satu dari mereka harus dapat melepaskan diri jadi mereka bisa menikmati aktivitas lainnya seperti bekerja dan makan.

….Fany-ah..” Getaran suara Taeyeon jatuh pada pundak Tiffany, saat ia bersandar pada sosok langsing itu. “Mm…..!” Ia terkesiap saat Tiffany menggigit kecil punggung tangannya.

Tiffany membiarkan kedua matanya terbuka, “Oh!” Ia menggengam tangan Taeyeon yang lain kedalam pangkuannya.

Mianhae… aku terbawa suasana….”

“Jangan begitu, itu tidak sakit, aku hanya sedikit terkejut.”

Tiffany  mengangguk, sedikit merasa heran.

Ia benar-benar terbawa suasana. Taeyeon menyeringai, menoleh sedikit untuk mengamati gadis yang sedang ia sandari. Ia tak yakin, kapan mejanya telah memutar. Mungkin memang seperti ini. Ia meyakinkan, merasa wajahnya bersemu memerah saat Tiffany menggigit bagian bawah bibirnya, mata coklat Tiffany menatapnya dengan intens. Atau itu hanya dia. Tiffany menelan ludahnya, menjilat bibirnya untuk antisipasi. Belum sampai satu menit kemudian, Taeyeon mendapati dirinya melakukan hal yang sama.

Taeyeon menempatkan tangannya di wajah Tiffany saat bibir mereka bertemu, saling menyapa. Sedikit terbuka, jadi Taeyeon dapat melepaskan desahan puas dan lega sebelum meruntuhkan pertahannannya pada kekasihnya. Tiffany merasa sedikit terperanjat dengan kenekatan Taeyeon dan tindakannya yang penuh gairah, lidahnya berusaha untuk menelusuri setiap inchi mulutnya saat tangan Taeyeon dengan lembut mengayun kepalanya. Tiffany berpikiran hanya ia yang menginginkannya, namun pikiran itu tampaknya semakin terasa tak masuk akal.

Ia melepaskan genggamannya dari Taeyeon untuk menarik lengan Taeyeon dan membawanya mendekat. Ia merasakan denyutan di bawah pelupuk matanya saat sensasi dari dada Taeyeon merapat dengan miliknya.(?) Bernafsu. Ia mengerang dalam mulut kekasihnya, merasa pikirannya bercampur-aduk. Ia menginginkan hal ini setiap malam.

Ia menyandu.

Tiffany melepaskan ciuman mereka, memiringkan kepalanya dengan sensasi ekstasi. “TaeTae.” Panggilnya, sorot matanya penuh dengan harapan, suaranya lebih parau dari biasanya.

“Hng?” Taeyeon mendesah, menenggelamkan kepalanya kedalam lekuk leher Tiffany.

“Ayo pergi!”

-TBC-

Iklan

89 thoughts on “Love Is Hard Part 21”

  1. Jiahhh mulai lagi dah taeny..
    lepas kontrol..hormon yg menggebu..
    Sumpah kirain gua taeny bakaln kepergok lg, malah ini klo kepergok bsa kacau.. cctv lift di hotel..
    ternyata nih hotel bkan sembarng hotel..hahaa
    apa ada dsni hotel kya bgtu?? lantai 300 ?? gak rubuh tuh??
    kalau ada pun pasti laris manis tuh hotel..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s