FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 22

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

 

Chapter 10-4

Tidak Hyoyeon, Aku takkan bisa hidup seperti ini.

Itulah kata-kata yang ia harapkan keluar dari mulut Jessica ketika mereka memasuki lift, namun gadis itu tak melakukannya. Ia berusaha untuk menahan air mata yang melesak di pelupuk mata, namun tak ada cara lain untuk menyembunyikannya. Jessica baik-baik saja bahkan tanpanya.

“Hyoyeon… Kumohon… Jangan menangis.” Jessica menarik pergelangan tangannya, menarik tubuhnya memasuki kamar. Ia sudah terlalu lelah untuk menentang. Jessica membantu mendudukkannya di pinggiran kasur, menekuk lutut di depan dadanya. Jessica duduk di sampingnya, menatapnya jelas.

Bagaimana bisa ini terasa sangat mudah untuknya?

Apakah ini benar-benar bertepuk sebelah tangan? Jauh di lubuk hatinya, ia menaruh harapan Jessica merasakan hal yang sama, namun sekarang semua itu hanya angin lalu.

“…apa kau sudah makan hari ini?” Tanya Jessica sembari melangkah memasuki ruangan, pandangannya terfokus pada Hyoyeon, “kau harus memakan sesuatu.”

Seperti yang ia duga sebelumnya, Hyoyeon takkan menjawab pertanyaannya.

“Aku akan memesankan makanan untuk kita.” Gumamnya, perlahan melangkah keluar ruangan.

Jessica berjalan melewati koridor kosong lalu duduk di meja dapur, mengambil gagang telepon di dinding. Ia menghela napas dalam setelah memesan dan meletakkan kembali gagang telpon itu pada tempatnya. Terlihat begitu jelas bahwa ia sedang berdalih, namun ia tak tahu mengapa dia melakukannya. Mungkin ia takut bagaimana reaksi Hyoyeon nantinya jika ia sudah mengatakan segalanya, atau mungkin hal itu adalah kebiasaan yang dipaksakan, reaksi naluriah setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghindari pembicaraan itu. Di sisi lain, ia tahu bahwa ia harus menyelesaikan masalah ini. Dengan berat hati, ia bangkit dari kursi dan kembali memasuki kamarnya.

Setelah malam ini berakhir, ia tahu Hyoyeon takkan mau lagi berada sekamar dengannya.

“Mereka mengatakan makanannya akan sampai 30 menit lagi.”

Hyoyeon tetap pada posisi itu sebelum ia pergi, menekuk kedua lututnya, merapat pada tembok.

“Adakah sesuatu yang kau inginkan sembari menunggu makanannya?” Ia berjalan menghampiri tubuh Hyoyeon yang gemetaran, “atau mungkin kau ingin mandi dan yang lainnya?” Suaranya berubah tenang saat ia berjalan memutari kasur Hyoyeon.

Jessica mengernyitkan alis saat ia mulai mengamati ekspresi muram Hyoyeon. Ia mengembuskan napas lega saat berguling ke kasurnya, meraih kain untuk menyelimuti tubuh Hyoyeon.

“Setidaknya kau terlihat damai saat tertidur.”

**

“Jalan yang mana? Kanan atau kiri?”

Taeyeon melirik sobekan kertas ditangannya, “kiri.”

“Okay..” Tiffany mengintip sepanjang koridor, “sekarang apa?”

“Kurasa di sini disebutkan lurus.” Jawab Taeyeon sambil berkedip untuk membaca tulisan melencong yang tertera di atas kertas.

“Kay..” Tiffany menyentakkan tangan Taeyeon dengan cepat, memimpinnya melalui koridor panjang, seketika berhenti saat mereka kembali mendapati pertigaan, “apa yang disebutkan di situ?”

Taeyeon mencoba untuk memperjelas penglihatannya pada kertas luntur tersebut, namun percuma. “Um, aku tak yakin.”

“Hm?” Ia mengambil kertas itu dengan tangannya sendiri, “mengapa berantakan seperti ini?”

“Tanganku sedikit berkeringat.” Jawab Taeyeon sedikit bergumam.

Tiffany mencibirkan bibirnya membentuk seulas seringai, “gelisah?” Ia melipat kedua tangan di depan dadanya, bersedekap.

Taeyeon menggelengkan kepala merendahkan pandangannya, berusaha untuk menyembunyuikan mukanya yang memerah, “Anio..” Ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya, “kita coba berjalan ke arah sini sebentar, jika kita tidak menemukan perempatan, kita akan kembali dan mencoba jalan lain.”

Tiffany mengangkat kedua pundaknya, “Terserah kau saja TaeTae.”

Mereka berjalan bersisian melewati lorong panjang, Tiffany mengaitkan lengannya pada Taeyeon.

Mereka telah berjalan sekian lama hingga Tiffany mendesah, mengernyitkan alisnya, “kita seharusnya kembali mengikuti jalan saat Lyn membawa kita!”

“Ini pintu keluar darurat.” Ia menyeringai pada Tiffany, menyodok pinggangnya, “kau tak senang tersesat bersamaku, huh?”

Tiffany mendengking kegelian, Taeyeon tahu Tiffany mersa geli di bagian itu, “Ah—Tae Tae, Stop!”

Jeritnya berubah tawa saat Taeyeon berhenti untuk mengambil dompet Tiffany yang terjatuh dari genggamannya.

“Ugh,” Taeyeon menyerahkan kembali dompet berwarna hitam itu pada Tiffany, “kurasa kita mengambil jalan yang salah.”

“Yeah… ayo kita coba jalan yang lain.”

“Taengo!”

Tiffany menyelipkan tangannya pada lengan Taeyeon saat ia mendengar suara lantang itu. Saat ia berbalik, Taeyeon mendapati Tiffany mengedutkan bibirnya sekilas, tiga orang gadis berjalan tergesa menghampiri mereka.

“Hey Guys… bersenang-senang?” Ia tersenyum, menyapa trio tersebut.

Yuri mengamati pasangan itu, tatapannya penuh perhatian, “Kalian baik-baik saja? Kita melihat mereka membawa kalian pergi, dan kami pikir mungkin sesuatu yang buruk akan menimpa kalian. Apa yang terjadi—apakah kalian baik-baik saja?”

“Kita baik-baik saja.” Jawab Tiffany tergesa, “tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ia menunggingkan seulas senyum, dengan hati-hati berusaha untuk menarik kembali Taeyeon ke jalan mereka datang.

“Kalian ada di restoran?” Tanya Taeyeon, bingung dengan aksi gadis di sampingnya.

Sooyong mengalihkan pertannyaan itu, mengepalkan tangan di depan wajah, menghantam telapak tangannya sendiri dengan penuh ancaman, “bagus…” Ia menggertakkan giginya, “aku akan menunjukkan pada pria itu bagaimana siksa dunia jika ia berani-beraninya mengganggu kalian.”

Sunny memukul pundak Sooyoung, tampaknya hanya ia satu-satunya gadis yang tak menyorotkan kemabukan di matanya. “Anio.. kau takkan bisa, berhenti sok menjadi pahlawan, dan jangan meninju telapak tanganmu seolah kau akan menghabisinya.” Desah Sunny, menjepit ujung hidungnya, “mereka berdua benar-benar membuatku gila.”

Taeyeon tersenyum simpati padanya saat Tiffany menariknya kembali melewati lorong. Sooyong melempar tangannya ke udara menyandang kedua pundak Taeyeon dan Tiffany, menghentikan usaha mereka untuk melarikan diri, “mau sembunyi kemana kalian?” Mereka berbagi tatapan namun belum sempat menjawab, gadis mabuk itu kembali melanjutkan ucapannya, “jika kalian ingin kembali ke kamar, kalian salah jalan.”

“Yeah..” Timpal Yuri, sorot matanya bersinar, “apa kalian tidak membawa map?” ia tersenyum kecut, mengibaskan jemarinya. “kalian harus selalu membawa map.”

“Mmmhhmm, mmhhmm!” Angguk Sooyong berkali-kali, “kita akan pergi menari.”

Dance?”

“Yup, beberapa pria Prancis, mengadakan pesta di lantai bawah. Seperti klub malam!”

“Kalian tak membaca brosurnya?”

“Mereka terlalu sibuk untuk membaca.” Goda Sooyoung, menggoyangkan kedua alisnya naik turun.

“Ah, serius guys…” Tiffany mengenyakkan kaki, wajahnya tersipu, “bagaimana bisa kalian menjadi seperti ini!”

Sunny mendesah sesal, mengikuti keempat gadis itu dari belakang. Ia dapat merasakan Tiffany membersut padanya, walaupun ia tak sedang menatap wajah gadis itu. “Kita sedang makan malam dan anak ini memesan minum.” Ia menunjuk Yuri, “mereka mulai bermain permainan minum bodoh itu.”

“Kita berusaha untuk mengajaknya bersenang-senang.”

“Kau membutuhkan seseorang untuk menjagamu.” Ia menggelengkan kepalanya, “aku merasa seperti baby sitter mu.”

“Hey!” Sooyoung cemberut, mengintip melalui bahunya untuk melirik Sunny sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada kedua gadis di bawah lengannya, “kalian harus ikut bersama kami!”

“Aku tidak tahu…” Tiffany berlagak menguap, “kita sedikit lelah, ya kan Taeyeon?”

“Oh, tapi apa yang lebih romantis daripada dinner dan dancing?”

“Yeah..” Yuri tersenyum, “kalian sudah melaksanakan bagian dinner. Hanya menghabiskan waktu sedikit lebih lama!” Mood-nya berubah saat ia cemberut, melipat krdua tangan di depan dadanya, “kita jarang berpergian bersama-sama lagi.”

Tiffany mendesah saat mendapati sorot sedih di matanya. Ia tahu ada sesuatu yang lebih di balik itu. Dengan kecewa, ia mengerang lalu mengangguk, mengeratkan kedua bibirnya, “baik…” ia mengalihkan tatapanya, dari Sooyoung menuju kekasihnya, “kau tidak keberatan kan TaeTae?”

Taeyeon tersenyum, tatapan matanya hangat, “tidak sama sekali Fany-ah,” tangannya menggerayangi pinggang Tiffany melalui Sooyoung, “aku akan sangat senang dapat berbagi tarian bersamamu.”

Tiffany mengulurkan tangannya melalui punggung Sooyoung, tindakannya melembut.

“Ah.. So sweet..” Sooyoung melompat-lompat di sekitar lorong, “kuharap suatu hari nanti aku mendapatkan apa yang kalian miliki.”

“Sudah kukatakan, berhenti memikirkan hal itu terlalu sering, mungkin suatu hari nanti, hal itu akan segera menjadi kenyataan.” Sunny menyeringai, menyaksikan adegan di hadapannya, sepasang tangan berusaha untuk mencari pasangannya, sampai pada akhirnya saling terkunci pada genggaman satu-sama lain.

**

“Unnie, apakah kau berpikiran untuk duduk di situ semalaman?”

Yoona mengangguk, tersenyum pada sosok yang meringkuk di balik selimut di sampingnya, “yeah…”

“Apa kau tidak keram?”

“Ah,” Ia mengabaikan rasa sakit kecil di punggungnya, “Hanya sedikit.”

Seohyun menghela napas berat sebelum menguap, “berebahlah.”

Yoona tak yakin apa dia benar-benar mendengar hal itu, namun ia tak ingin mempermasalahkannya. Ia berbalik sambil menahan napas, kemudian merebahkan dirinya hingga berada tepat di samping Seohyun. Ia menepukkan tangannya di atas dada untuk menenangkan dirinya.

**

“Jadi…” Yuri menyesap gelas minuman bewarna merah di tangannya. Menyandarkan kepala di atas meja logam kecil untuk menjaga keseimbangannya. “Jessica dan Hyoyeon…”

“Ugh..” Sooyoung menyeringai, bersandar pada kursinya, “bisakah kau berhenti membicarakan mereka?” Nada bicaranya tak lebih baik dari Yuri. “sepanjang hari kau terus berbicara—Jessica ini Hyoyeon itu.”

“Aku hanya tak dapat mempercayainya.” Ia bergumam, menyandarkan kepala diatas tangannya.

“Kau harus menerimanya, memang sedikit mengejutkan.” Timpal Sunny, menyeruput minumannya yang berkilauan, “dengan cara mereka bersikap satu-sama lain. Sulit untuk dipercaya bahwa mereka berhubungan?”

“Mereka tidak berhubungan,” Sela Taeyeon seraya menggelengkan kepala, “mereka hanya punya masa lalu.”

“Kurasa, kita semua dapat menarik kesimpulan bahwa hubungan mereka tidak berakhir dengan baik.”

“Kita tak pernah mengetahui bagaimana mereka sebelum kita bertemu dengan mereka jadi kita tak punya alasan untuk berpikiran ada perang dingin diantara mereka.”

“Tunggu, kau tahu tentang mereka?” Tanya Tiffany, meletakkan cocktail-nya di atas meja.

Taeyeon mengangkat bahu,  “Itu hanya firasatku. Aku tak benar-benar yakin sampai sekarang.”

“Aku ingin mengambil beberapa buah chery, kau ingin?”

Tiffany menggelengkan kepala, merasakan tangan Taeyeon terselip pada lengannya, “tidak, terimakasih.”

“Hmmm….” Sooyoung menghela napas perlahan, mengedarkan pandang pada gadis-gadis di sekitarnya. “Well…” ia menepukkan tangannya bersamaan, “perbincangan ini merusak suasana kita malam ini.” Ia bangkit dari kursinya. “Kita seharusnya bersenang-senang malam ini! Ayo, kita nge-dance.”

“Ah… anak ini..” Gerutu Sunny, berbalik. “Bagaimana dengan kalian, guys?”

“Aku akan menunggu Taeyeon,” Tiffany menepukkan tangan pada pahanya sambil tersenyum.

“Dan kau?” Sooyoung menoleh pada sosok yang sedang merosot di mejanya.

Yuri membungkuk di depan meja sambil menggelengkan kepala, “aku akan bergabung sebentar lagi.”

“Baik…” Ia mengangkat kedua pundaknya, berjalan menuju lantai dansa, “Ayo Bunny…”

“Yah! Jangan memanggilku seperti itu!” Teriaknya, berjalan mengekor di belakang Sooyoung.

“Tak ingin menggerakkan badanmu?” Tiffany berbalik pada gadis di sebelahya.

Yuri menggelengkan kepala, menggerutu tentang sesuatu di sela-sela napasnya.

“Kau tak ingin aku membawakan sesuatu untukmu? Atau kita dapat kembali ke kamar jika kau mau, kau tak harus berada di sini.”

“Pffttttt…..” Ia terkikik, berayun di kursinya, “aku tidak mabuk Tipphany…”

Tiffany mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Yuri, “tak perlu dipikirkan, kau harus beristirahat malam ini.”

Yuri mengernyit, kembali bersandar di atas meja, menutupi wajahnya yang memerah akibat pengaruh alkohol. “Kurasa aku hanya satu-satunya.”

Desahan kecil meluncur mulus dari mulut Tiffany saat ia mengerutkan dahinya. “Aku tahu..” Ia mengusap punggung Yuri, “aku tahu, tapi kau tidak.. jadi semuanya baik-baik saja, Ok…” Ia mengedarkan pandangannya pada club dengan penchayaan yang remang-remang.

Sooyoung dan Sunny menghilang bersama kerumunan orang, sedangkan Taeyeon belum kembali sampai sekarang. Ia memandang gadis yang sekarang sedang mengistirahatkan kepala pada lengannya, “aku ingin ke kamar mandi, kau baik-baik saja?”

Ia memberi anggukan berulang dan terhenti saat dagunya menyentuh dadanya. Tiffany kembali melihat sekilas gadis mabuk untuk terakhir kalinya sebelum bangkit dan tergesa menemukan kamar kecil.

Segera setelah ia selesai, ia berencana untuk membawa Yuri kembali ke hotel tak peduli dia mau atau tidak.

**

“Seo?” Yoona melirik gadis di sebelahnya. Ia berguling ke sampingnya untuk mendapatkan penglihatan yang lebih baik. Ini sudah lebih dari satu jam. Ia menggoncang tubuhnya hingga tak ada lagi jarak yang tersisa diantara mereka, “Seohyun…” Yoona yang sudah mulai letih, menekan tangannya pada bahu Seohyun sambil menguap, “Aku minta maaf. Aku harusnya bertanya padamu, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku tak pernah berkelut dengan masalah seperti ini sebelumnya.” Ia menutup matanya, perlahan menggigit bibir bagian bawahnya, “saat kau menciumnku, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku telah berciuman dengan orang lain sebelumnya, namun tak pernah seperti ini. Tak pernah terasa begitu…. Aneh.”

Ia menggelengkan kepala sambil mendesah, “bahkan sekarang, aku tak dapat menjelaskan bagaimana. Itu seperti tubuhku terbuat dari kaca dan kau telah memecahkannya—menghancurkanku menjadi kepingan-kepingan kecil.” Perlahan, ia membuka kedua matanya sambil menguap, “dan kau menyatakannya padaku juga.. Oh, aku merassa kebingungan. Kau bilang semua itu penuh dengan ketentraman, seolah semua ini terasa biasa untukmu. Seperti yang sudah pernah kau bilang ribuan kali sebelumnya. Aku selalu bermimpi bahwa suatu saat nanti seseorang akan mengatakan padaku bahwa ia mencintaiku—kurasa semua gadis berpikiran seperti itu…” Ia kembali menutup matanya, “namun aku tak pernah menyangka, semua kata-kata itu akan keluar dari mulut sahabatku sendiri. So Nyeo Shi Dae Seohyun…” Ia membenamkan wajahnya lebih dalam pada bantal empuk, membiarkan tubuhnya me-relax. Mungkin, Seohyun tak mendengarnya, namun ia tak mau berhenti berbicara sebelum Ia telah mengatakan semuanya.

Yoona kembali bangkit dari posisinya, membereskan semua ucapannya, “Aku tak dapat menyelesaikannya. Pikiranku, tubuhku, semuanya terasa aneh. Seolah sesuatu telah berubah dalam diriku. Atau sesuatu telah membangunkanku. Aku telah mencoba untuk memaksakan diriku bersikap biasa jika berada di dekatmu dan bertingkah seolah tak terjadi apapun.” Ia mendesah malu, “kupikir jika aku tak mengetahui masalah ini, semua itu akan pergi begitu saja dan aku dapat memilikimu sebagai teman, seperti sebelumnya, namun semua tak berjalan seperti apa yang kuharapkan. Kegundahan ini justru semakin memburuk. Aku mulai menganalisis semuanya—caraku bertingkah di dekatmu, perasaanku ketika aku berada di dekatmu, dan membandingkan bagaimana perasaanku ketika berada di dekat mu dengan orang lain. Aku seharusya mendengarkan semua kata hatiku, namun aku bahkan tak pernah berpikiran bahwa aku telah jatuh cinta padamu.”

Kata-katanya semakin meredam, wajahnya kian tenggelam kedalam bantalan lembut. “Kurasa, selama ini aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa semua itu adalah hal yang lazim dilakukan sesama teman, kemudian aku berpikir bahwa sesuatu yang ada dalam diriku tahu bahwa semua itu berbeda…. Aku seharusnya mendengarkan apa yang tubuhku coba untuk ungkapkan padaku. Semua itu bahkan terjadi sebelum kau menciumku malam itu, aku telah tertarik padamu…” Ucapannya telah menenggelamkan dirinya kembali. Kali ini, Yoona tak lagi dapat menghentikan luapan air yang berlomba menggenangi pipinya.

**

“Dimana Yuri?”

Taeyeon mendongakkan kepala sejenak, menatap gadis di depannya. “Hmm? Oh, Sooyoung menyeretnya.”

Taeyeon mengambil tempat duduk saat perhatian Tiffany kembali pada mejanya. Ia mengamati kekasihnya bermain dengan buah di dasar gelasnya. “Apa kau baik-baik saja?”

“Yeah…” Ia menghela napas, menyandarkan kepala di atas meja.

Tiffany menyelipkan tangan pada paha Taeyeon, mengisyaratkan gadis itu untuk menatapnya, “ada apa?”

Taeyeon kembali mendesah, kali ini lebih berat, “malam ini seharusnya milik kita berdua….” (?)

“Aku tahu..” Ia tersenyum kecil, menangkup pipi Taeyeon dengan tangannya.

Taeyeon benar-benar ingin tenggelam dalam pelukan lembut Tiffany namun, “Aku tahu, ini egois.. tapi aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu.” Pandangannya kembali terpaku pada meja saat ia semakin mengmpiskan tubuhnya, “mungkin ini seharusnya giliran kita.”

“Oh..” Tiffany merayu, menariknya kedalam pelukan, “ini tidak buruk. Aku minta maaf, malam ini tak seperti apa yang kita inginkan.” Ia mendorong kursinya ke belakang, “Ayo menari bersamaku..”

Teyeon tetap bergeming.

“Ayolah…” Ia menyentakkan tangan Taeyeon, “hanya menari bersamaku sekali dan kita akan pergi..” Ia melayangkan kerlingan mata pada gadis itu.

Bahkan ketika mabuk, Taeyeon tak berdaya untuk menolaknya. Dengan desahan ia membiakan Tiffany menuntunnya menuju lantai dansa. Ini benar-benar bukanlah jalan yang ia pikirkan, kencan mereka akan menjadi begini.

**

“…aku tak bermaksud untuk menakutimu…” Gumam suara lirih, “aku hanya tak ingin berakhir seperti Tiffany dan Taeyeon Unnie. Mereka telah menghadapi banyak cobaan dan semua itu membuatku takut. Melihat betapa merananya Taeyeon karena ia telah menyembunyikan perasaannya dari Tiffany setelah sekian lama.. Aku tak ingin seperti itu denganmu. Mungkin seharusnya lebih baik aku mengatakan bahwa aku menyukaimu daripada aku mencintaimu. Mungkin setelah itu kau takkan pernah takut dan kau kan mencoba untuk memahaminya, aku telah merasakan perasaan ini sekian lama.” Seohyun mendesah, berguling kesamping. “Kurasa, suatu tempat entah dimana sepanjang garis ini, aku mulai berpikir bahwa kau tahu apa yang kurasakan. Kupikir kau akan sepenuhnya menerimaku. Aku tak sadar bahwa ini telah berubah layaknya sebuah kebebasan dalam menentukan pilihan.”

Yoona berguling ke samping, bersandar pada tubuh Seohyun, “apa yang akan terjadi dengan kita?”

Suaranya sungguh lembut walaupun gelombang energi baru telah mengempas dirinya.

Seohyun menatap lekat gadis di sampingnya dengan rasa ingin tahu, “apa yang kau inginkan akan terjadi?”

**

Taeyeon bergoyang seirama dentum musik dari speaker yang berteriak di sekitarnya, tak henti menatap sosok montok di hadapannya. Ia mengeluarkan sejurus seringai licik. Terpesona oleh pemandangan gadis bertubuh indah itu bergerak seirama dengan tubuhnya. Rambutnya berayun dari sisi ke sisi. Bergoyang manis dengan ruang melodi. Dengan sebelah tangannya, Tiffany menarik ujung gaunnya, tindakan yang telah ia lakukan berkali-kali sejak mereka menapaki lantai dansa. Pakaian semacam itu, bukan dibuat untuk jenis gerakan yang sedang ia lakukan sekarang. Ia melihat ke arah Taeyeon, bertanya-tanya mengapa ia tak melakukan hal yang sama.

Ia menatap gadis yang sedang bergeming di depannya. “Apa kau ingin duduk?”

Taeyeon tak merespon, ia terlalu sibuk mengganyang tubuh Tiffany dengan tatapannya daripada memperhatikan hal lain.

Semenjak ia melihat Tiffany mengenakan gaun ini, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. (?)

Gaun itu benar-benar menghipnotisnya. Mengencang dan mengendur pada bagian yang cekung dan cembung, mengelus dan membelai tubuhnya di tempat yang paling sempurna. (?) memohon sentuhan Taeyeon.

“TaeTae?”

Track musik mengalun bercampur bersama melodi lembut yang memabukkan dengan suara seorang gadis mempesona yang berbicara kata-kata yang tak dapat ia mengerti. Dengan gerakan yang tak berubah ia berbalik, menekan punggungya pada tubuh kekasihnya. Kedekatan, lagu yang mengalun, alkohol, semua terlalu berlimpah.

Sensasi mengerikan membakarnya, memacu pikiran dan tubuhnya.

Ia ingin bersenang-senang.

Taeyeon melepas jemari mereka yang berkaitan, menuntun tangan Tiffany beristirahat pada pinggulnya, ia mendorong tubuhnya mendekat pada gadis yang berdiri dibalik punggungnya sampai tak tersisa gap di diantara mereka.

“Fany-ah?” Erangnya, membiarkan kepalanya menyandar pada bahu Tiffany, mengangkat sebelah tangannya di sela rambut Tiffany, “Mm…”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Yeah.. tentusaja…” Ia tersenyum, suaranya membisik serak. Ia menutup matanya, menikmati sensasi dari pinggulnya yang menggerinda pada panggul Tiffany.

Tiffany mendapati nada bicara kekasihnya yang mulai melantur. Taeyeon tak pernah bagus dalam menyembunyikan pengaruh alkohol yang menyelimutinya, “Darimana kau belajar menari seperti ini?” Ia terpesona oleh pinggul Taeyeon yang berputar tanpa henti.

Taeyeon cemberut, berputar dalam pelukan kekasihnya, “Aku tak harus selalu bersikap manis.” Ia melayangkan jemarinya perlahan naik keatas punggung Tiffany, kulit paha mulus Taeyeon beradu dengan pahanya. Gaunnya cukup pendek, Tiffany tahu itu. Ia hanya tak menyadari seberapa pendek itu sampai sekarang.

“Aku tahu..” Ia bergumam, suaranya teredam di balik rambut Tayeon.

“Atau Dorky..” Taeyen melarikan jemarinya disekitar paha Tiffany (?) sampai keliman gaunnya.

“A—Aku tahu..” Ia gemetar saat tangan Taeyeon dengan mantap bermain dengan kain yang dikenakannya seolah ia tak menyadari bahwa tindakannya telah membuat jemari gadis itu secara tidak sengaja menyentuh pahanya. (Sengaja tak sengaja tetap satu tujuan.)

Apa yang ia lakukan? Ditegah lantai dansa? Suara hatinya berteriak melontarkan pertanyaan yang ia sendiri belum menemukan jawabannya.

“Taeyeon, apa yang kau pikirkan?” Ia melepaskan diri, kembali meluruskan gaunnya, “apa kau baik-baik saja?” Ia ingin mengecek suhu tubuh gadis itu namun terhenti, takut jika itu dapat menjeratnya.

Taeyeon memandangnya dengan tatapan muram, kelembutan yang kontras dengan hasrat meggebu memancar dari matanya. “Tidak… mungkin kita harus kembali ke kamaar….?”

Tiffany mengangguk, mengedarkan pandangannya. Tempat ini terlihat lebih ramai sekarang, “baik… aku akan memberitahu yang lainnya,” Ia berbalik untuk mencari mereka, namun terhenti saat Taeyeon melingkarkan erat lengannya pada pinggang Tiffany.

Anio…” Rengeknya, menyandarkan kepala pada bahu Tiffany, “jangan… mereka akan baik-baik saja.”

“Mereka mungkin akan mencari kita.”

“Aku yakin mereka akan mengerti. Disamping itu, kita membutuhkan waktu untuk…. Sendiri..” Pelukannya mengendur saat ia menarik gadis itu menuju pintu keluar, “Kumohon Fany-ah..”

**

“Tunggu!” Pekik Seohyun, mendorong Yoona menjauh darinya.

Mwo?

“Ini tidak benar..” Desahnya, mencoba menstabilkan napasnya yang tercekat.

Yoona berguling ke samping, melepaskan gadis di bawahnya. “Aku mengerti…” Desahnya sambil bersedekap melipat kedua tangan didepan dadanya.

Seohyun menopang tubuhnya dengan pangkal telapak tangannya, “Anio.. maksudku kita harus memulainya perlahan… Aku tak ingin kembali menghancurkan semua ini dengan kesalahan kecil.”

Yoona menyeringai, sedikit terkejut dengan tindakannya yang tergopoh. Ini sama seperti apa yang telah ia uraikan. Sensasi merinding tiada banding, tak pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. “Rasanya begitu indah..”

Seohyun mengenyakkan tubuhnya sambil tersenyum, “yeah….” Ia menutup mata sambil mendesah.

“Kau sangat baik dalam hal ini.”

Ia mendapati dirinya mengendap pada gadis di sampingnya, “kita harus mengawalinya secara perlahan.”

“mm…” Desah Yoona, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya, pikirannya melayang.

“Cara ini, akan terasa lebih amazing bahkan lebih dari ketika kita kembali berciuman.”

“Lakukan…” Ia memecah keheningan.

“Hm?”

“Apa kau pikir kita dapat melakukannya sekali lagi?”

“Aku tak berpikiran kita harus melakukannya. Setidaknya tidak sekarang, Berciuman adalah hal pertama yang membawa kita dalam kekacauan ini.

-TBC-

Iklan

69 thoughts on “Love Is Hard Part 22”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s