FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 23

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

 

Chapter 11-1

Sooyoung mengerang, mengangkat tangannya untuk meraih benda dingin yang menggantung di dinding. “Halo, So Nyeo Shi Dae..” Katanya dengan suara serak yang khas. “Selamat pagi, ini Lyn… Aku menelepon untuk memberitahumu bahwa kerusakan pada jaringan utama sudah diperbaiki. Kalian dapat menggunakan TV saat ini. Dan juga, sedikit berita bagus untuk kalian.” Suara feminim itu melembut saat Sooyoung menyandarkan kepalanya pada tembok. “Soal badai itu…. Dan jadwal kalian akan dimulai….. tiga jam lagi.”

“Apa itu?” Seorang gadis menghampirinya dengan terhuyung-huyung. Matanya masih terkatup. Enggan terbuka.

“Badainya telah berakhir dan jadwal CF kalian sebentar lagi akan dilaksanakan. Setidaknya kalian harus bersiap-siap sekitar…..” Genggamannya mulai mengendur saat gagang telepon itu terjatuh di atas meja dengan bunyi ‘tut’.

Mencari pelipur lara dari kesunyian di kamarnya, ia kembali terhanyut dalam tidur yang lelap, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang menerjang kepalanya. Ia tak berpikiran, rasa sakit akibat minum kemarin takkunjung hilang sampai sekarang, ia hanya bisa bertanya-tanya jenis alkohol apa yang ia minum semalam, setengah berpakaian, berbasuh keringat dan terpaku di meja dapur.

“Ohh..” Ia mengerang, mengangkat kepalanya perlahan untuk melipat kedua lengannya. Walaupun kepalanya masih terasa sakit untuk berpikir. Pertanyaannya tentang mengapa dan bagaimana dia dapat tertidur di kamar yang begitu luas harus ia tahan sampai kepalanya terasa baikan. Atau setidaknya, sampai telinganya berhenti berdengung. Saat ini, yang ingin ia lakukan hanya kembali tidur dan memulihkan tubuhnya. Sayangnya, ia masih belum sadar jika hari ini adalah hari dimana mereka memulai kembali kesibukannya.

“Siapa yang menelepon Unnie?” Seohyun muncul dari kasur Yuri menuju sebelah kirinya, menarik rambutnya yang terselip antara bantal empuk.

Perlahan, Sooyoung mengangkat kepala dari balik lengannya, cukup jelas bagi Seohyun untuk mendengarnya bergumam.

“Manager wanita itu…”

“Oh…” Ia tersenyum sebelum beranjak ke dapur, “apakah ia mengatakan tentang badai salju?” tanyanya sambil mengorek isi kulkas.

Sooyoung menjawab dengan dengkuran, menenggelamkan kepalanya lebih dalam di balik lengannya, usahanya gagal untuk menghalau sinar mentari yang menyeruak melalui jendela kamar di belakang punggungnya.

Seohyun meraih sebuah apel, kemudian berjalan menuju wastafel. Ia mengintip melalui bahunya pada gadis yang sedang merengek di atas kasur. “Kalian berdua pergi minum semalam?”

“Huh?”

Ia berbalik, merasakan Sooyoung yang kebingungan. “Yuri Unnie tertidur di sofa.” Ia berjalan mendekat pada Sooyong, bingung dengan tingkahnya. Ini memang bukan kali pertama Sooyoung minum, namun  tak pernah ia melihat kondisinya seburuk ini setelahnya. “Kepalamu terasa sakit setelah minum kemarin?”

Sooyoung mengangguk.

“Apa yang dapat kulakukan untuk membantumu?”

Sooyoung mengangkat pundaknya, tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh gadis polos itu. Seohyun menatap buah-buahan miliknya kemudian berdiri di depan Sooyoung, “apakah makan akan membantumu?” Ia meletakkan sebuah apel di hadapan Sooyoung, berharap dapat membunuh rasa sakitnya.

Gomawo…. Tapi aku tak tahu apa aku dapat memegangnya dengan benar.” Ia bergumam sambil menyelipkan lengan dari bawah kepalanya untuk memegangi perutnya. Seketika ia membuka mata, cukup jelas untuknya mendapati gadis yang berdiri tepat di sisinya, “apakah Sunny ada di sini juga?”

Anio… kau tolol!!” Sooyoung bergeser, sedikit terkejut dan bingung dengan perubahan sikap dan suara Seohyun….? “Disini bodoh!!”

“Unnie…” Bisik Soehyun, “Jangan terlalu keras…” jelasnya sebelum berjalan menaiki tangga, “Ia sedang sakit kepala akibat minum semalam.”

“Aku bertaruh ia merasakannya!” Sunny menyeringai sambil menyodok kepala Sooyoung, “caramu menghabiskan waktu semalam, aku terkejut kau jika kau tak benar-benar mabuk.”

“Sunny…” rengek Sooyoung, membenamkan wajahnya lebih dalam pada lengan di atas meja. “kumohon… tenanglah…”

Sunny melihat Seohyun dari ekor matanya, menunggunya sampai benar-benar pergi sebelum memfokuskan kembali perhatiannya pada gadis di sampingnya. Sooyoung terlihat sangat berantakan. Dibalut pakaian tipis yang selaras dengan celana pendek hitam. Pandangannya tertuju pada rambut Sooyoung yang benar-benar kusut, ditambah seluruh tubuhnya yang dibasuh keringat dingin. Tak ada hal lain yang dapat Sunny lakukan, kecuali merasa simpatik padanya.

Sunny menyandarkan kepalanya, “Kau ingat apa yang terjadi kemarin malam?”

Sooyoung mendesah, “anio…

Jinjja?” suaranya melembut. Melipat kedua tangan di depan dadanya,  “tidak sama sekali?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya, “tak satupun…”

Sunny yang geram memukul Sooyoung dengan sangat keras tepat pada lengannya.

Ow!” Sooyoung beringsut membuka kedua matanya sembari mengusap lengannya, “Apa yang salah?”

“Karena kau tak mengingatnya!”

“Ah…” Sooyoung mendesis akibat sensasi dari kombinasi hebat antara rasa sakit yang berdenyut pada telinga, mata, lengan dan perutnya, “itu sakit!!”

“Diam!” Sunny cemberut, berbalik ke penggorengan. “Aku akan membuatkanmu sesuatu untuk dimakan, bodoh!”

“Ada apa berteriak-teriak seperti itu? Dan siapa yang mengangkat telepon tadi?” Jessica mendorong pintu kamar mandi kemudian menghampiri kedua gadis yang sedang berkecimpung di dapur, memandang gadis berantakan yang tengah meringkuk di balik selimut di sofa saat ia berjalan melewati ruang tamu.

“Bukan apa-apa..” keluh Sunny membanting kasar panci di atas kompor.

“Aku yang melakukannya.”

“Siapa itu?”

“Sesuatu tentang badai.” Ia mengangkat bahunya, “oh.. dan kabelnya…”

“Hanya itu?” Jessica segera meraih gelas dari kabinet. Berusaha sekuat tenaga untuk tak menarik perhatian dari Sunny yang sedang murka, namun sepertinya usahanya tak cukup keras. “Ku tebak, mereka sudah mengatur jadwal syuting kita—tsk!” Ia mengernyitkan alis, mengalihkan pandangannya pada pada gadis yang telah membuatnya terperanjat dan hampir menumpahkan air dalam gelasnya.

“Jadwal syuting?” Sooyoung mengerising saat mencoba untuk mengingat apa yang Lyn katakan di telpon tadi, “kurasa tiga atau beberapa jam lagi.”

“Tiga jam untuk apa?” Jessica menyesap minumannya perlahan, tegang saat memikirkan kata-kata lirih yang keluar dari mulut gadis di belakang Sunny yang sedang sibuk dengan bunyi gemerising dan letupan kecil dari panci dan penggorengan. “Sampai mereka memanggil kita, atau lama waktu yang mereka tetapkan untuk syuting kita.”

“Aku tidak yakin..” Ia kembali mengangkat pundaknya, “kurasa, sampai mereka memanggil kita.”

“Apa kau menuliskannya?” Ia mendesah, merasa iritasi pada Sooyoung yang dapat terlihat begitu tenang sedangkan Sunny sedang memfokuskan perhatiannya.

Jessica mendesah, kembali melangkah mundur dari jalur Sunny, “baik… kalau begitu, bangunkan Taeyeon dan Tiffany, lalu beritahu mereka untuk segera bersiap-siap.” Ia harus meninggikan nada suaranya agar terdengar diantara telur masak buatan Sunny yang berdesis di atas panci. “dan jangan lupa dengan yang satu itu.” Ia menunjuk gundukan di balik selimut sofa.  “siapa itu, Yuri atau Yoona?”

“Pagi Unniee…” Sungguh suatu kebetulan saat Yoona tiba-tiba muncul di ambang pintu, Ia meregangkan kepalanya sebelum mengamati seisi ruangan. “Apakah kalian melihat Seo?”

“Aku belum melihatnya.” Jawab Jessica, meletakkan gelas pada wastafel. Ia masih haus, namun berusaha untuk tak berada di sekitar bunny yang sedang murka. Biasanya, ia akan tetap berada di situ untuk mencari tahu, apa penyebab Yoona mendadak bersikap seperti ini, namun ia dapat menahannya lain waktu, lagipula ia harus pergi ke suatu tempat. Jessica menatap note kecil di tangannya, “aku akan segera kembali.”

Yoona mengangguk, berbalik pada kedua gadis di belakangnnya. “bagaimana dengan kalian? Apa kalian melihatnya?”

Sunny tidak menjawab, terlalu sibuk bergumam dengan dirinya sendiri sedangkan Sooyoung menunjuk kearah tangga, kembali menyandarkan kepalanya di atas meja. Ia ingin bangun, namun sadar apa yang ia lakukan hanya akan memperburuk semua keadaan, baik sakit di kepalanya ataupun Sunny.

Gomawo…”  Yoona melonjak kegirangan sebelum beranjak, seketika terlupa pada suasana tegang yang membaur di sekitarnya.

Sooyong sedikit mendongakkan kepala untuk melirik gadis di hadapannya sebelum ia benar-benar menghilang. “Yah! Yoona, karena kau sudah bangun, kau harus membangunkan mereka berdua..”

Awe…” Cemberutnya, “mengapa tidak kau saja yang melakukannya?”

Sooyoung melingkarkan lengan di sekitar perutnya sebelum kembali pada posisi semula, “aku…. Sakit….”

“Sakit?” Ejek Sunny sambil mengiris potongan besar bawang pada tatakan, “yeah.. kau benar..”

“Tapi—.”

“—Takut?”

Anio!” Rengeknya sambil menggembungkan pipi, “aku tidak takut..”

“Kalau begitu, dengarkan Unnie-mu, Okay..?”

Yoona memberengut, berjalan cepat menaiki tangga, ia menjadi orang ke tiga yang tanpa sengaja telah merasa kesal akibat ulah Sooyoung.

**

Yoona mengamati Seohyun yang sedang sibuk mencari pakaian dalam ransel besar berwarna hitamnya. Dengan seringai kecil ia berjalan memasuki kamar, melangkah mendekati Seohyun lalu mendekapnya dari belakang.

“Ah.. Unnie..”

Yoona terkekeh melihat reaksi terkejut dari Seohyun, “Selamat pagi…”

Seohyun berbalik dalam dekapan Yoona, menggenggam tangannya. “Apa yang sedang kau lakukan?”

Yoona mengernyitkan alis, tersirat rasa ingin tahu dalam sorot matanya yang berkilau di tengah pagi ini. “uh—.”

Seohyun melepaskan genggaman Yoona dari lengannya kemudian mengangkat tangan di depan mulut Yoona, “Tunggu….” Ia membuka mulut untuk berbicara, namun hanya desahan kecil yang mampu keluar dari mulutnya, “…aku tak ingin kau berpikiran salah.” Seohyun mengerising, berguling kembali di atas kasurnya. Jeda sejenak sebelum ia kembali buka suara. “Begitu kau datang padaku kemarin malam, hal terakhir yang ada di kepalaku hanya, aku ingin menciummu. Aku ingin menjadi dingin dan keras kepala. Aku ingin jadi gadis plin-plan di depanmu, namun aku tak bisa.” Ia mendesah, melemparkan penutup kopernya di lantai. “Bahkan sekarang, aku dapat… Jika aku berbalik…” Seohyun mengintip dari bahunya, sadar akan mata yang menatapnya dengan intens, “kau membuat aku tak dapat mengontrol diriku.”

“Apa itu hal yang buruk?” Yoona melangkah mendekat.

Anio…” Ia berbalik, berusaha yang terbaik untuk tetap merundukkan kepala. “Setidaknya, tak terasa seperti ini.”

Tangan mereka saling bertemu secara perlahan, tak satupun dari mereka yang menyadari tangan siapa yang memulainya. “Bahkan sekarang aku tak lagi mempedulikannya.” Seohyun menggelengkan kepala sambil mendesah, “lihat… apa kataku? Sejak kapan aku mulai gegabah seperti ini…” Ia menatap dalam kedua mata Yoona, mencari pencerahan dibalik lautan pancaran mata itu. “Hanya kau yang mampu membuatku merasa seperti ini.” Pandangannya tak lepas, “Dan terus membuatku takut, betapa aku menginginkannya. Betapa aku suka ketika aku tak lagi dapat mengontrol diriku.”

Kesunyian menyelimuti dua sosok itu saat mereka menatap satu sama lain. Mata Seohyun memancarkan keyakinan yang kuat dan bijaksana sedangkan Yoona tampak ragu dan naif. Mereka berdua saling berlainan, satu adalah setengah dari mereka, pertanyaan dan jawaban. Mereka sangat unik, keduanya berbeda dan saling membutuhkan. Meski, tak satupun dari mereka yang tahu cara untuk mengekspresikannya.

Seohyun menahan dirinya untuk tak jatuh dalam pelukan Yoona. “Aku tak ingin merusak semua ini dengan bertindak terlalu cepat, terutama jika kau tak tahu apa yang kau inginkan.”

“Tapi aku melakukan—!”

“Yoong…” Seohyun tersenyum lembut, tangannya berada di pundak Yoona, seketika memotong perkataannya. “Aku tahu, kau membuat keputusan ini tidak mudah. Dan bahkan jika kau melakukannya, kau tak harus selalu bergantung pada keputusan itu…” Ia membiarkan tangannya terjatuh kembali pada lengan Yoona, “Jika kita terburu-buru kedalam ini… dan tidakkah kau mau mungkin seseorang akan terluka nantinya… salah satu dari kita akan terluka… aku.. aku akan terluka…”

Seohyun melepaskan dirinya, kemudian duduk di pinggiran kasur. Ia tak dapat berbuat apa-apa, merasa sedikit malu karena merasa telah menjadi overprotective dengan rasa egoisnya, “Aku tak yakin aku dapat melaluinya Yoona. Aku hanya…” ia melipat tangan di pangkuannya sambil menggelengkan kepala, “aku tak sekuat itu.” Ia mengamati gerak-gerik Yoona, melihatnya duduk di atas lantai sambil mendengarkan penjelasannya dengan sepenuh hati. “Aku tak yakin aku dapat menatapmu..” Pandangannya jatuh pada pahanya. “Jadi kumohon… yakinlah dengan perasaanmu terhadapku…”

“Aku mengerti..” Yoona mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu. Setelah sekian lama membiarkan Seohyun terjebak dalam luka dan pilu, wajar bila Seohyun masih meragukan perasaan Yoona terhadapnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena ketidak mampuannya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan sebelum seseorang menyentilnya, namun ia takkan selamanya terkubur dalam rasa bersalah tersebut. Ia dapat meyakinkan kembali dirinya nanti. Sekarang ini, permasalahan yang ada di depan mata adalah si gelisah Seohyun yang sedang menumpahkan perasaan cemasnya pada Yoona.

Yoona tak bisa berbuat apa-apa, hanya tersenyum. Kapanpun Seohyun bersikap seperti ini, Yoona secara instinktif akan tersenyum cerah, berusaha untuk meringankan pikirannya. Ia tahu hanya itu yang dibutuhkan Seohyun. Yoona pun membutuhkan Seohyun menyempurnakan hidupnya, untuk mendorongnya membuat keputusan, sedangkan Seohyun membutuhkan Yoona untuk membuatnya rileks dengan senyum dan pancaran hangat di mata Yoona. Ia tahu apa yang ia lakukan selalu dapat membantu meredamkan kegelisahannya dan membuatnya dapat berpikir lebih jernih, hanya saja ia tak pernah tahu bahwa cuma ia yang dapat melakukannya pada Seohyun.

Yoona menempatkan jari telunjuk di dagunya, memikirkan semua perkataan Seohyun. Sontak, ia menepukkan kedua tangannya secara bersamaan, senyumnya memesonakan. “Jadi, kau ingin aku untuk membuktikannya padamu?”

Anio… maksudku…”

“Aku akan melakukannya!” Ia mengangguk sambil mengangkat kepalan tangannya di udara.

Seohyun terkekeh, emosinya mereda. “Kau seperti anak kecil..”

Yoona mendorong tubuhnya, kemudian bertekuk lutut di hadapan Seohyun. Ia mengambil tangan Seohyun ke dalam genggamannya. “Bocah ini tahu bagaimana ia harus bersikap serius. Aku takkan kembali menyakitimu.” Tatapannya sungguh-sungguh, ia sepenuhnya yakin atas dirinya, ucapannya, dan semuanya. “Aku akan membuatmu mempercayainya.” Ia melingkarkan lengannya di pinggang Seohyun, mencuri pelukan sebelum kembali berdiri tegak. Dengan senyum tulus dan yakin dalam sorotan matanya, Yoona berjalan menuju pintu, kembali berbalik saat ia sudah berada di ambangnya. “Seo Juhyun… bersiaplah untuk bersikap ramah..”

**

Yoona beranjak dari kamar tidur, meninggalkan Seohyun yang sedang bersiap-siap. Bau masakan Sunny dari dapur tercium sampai lantai atas, mengisyaratkan tubuhnya untuk datang dan bergabung bersamanya. Baru separuh jalan menuruni tangga spiral, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan decakan kecil, ia menjentikkan jari lalu bergegas kembali menaiki tangga menghampiri sebuah pintu yang terhubung dengan dapur kecil.

“Unnie…” Panggilnya sambil mengetuk pintu besar. Ia menunggu jawaban selama beberapa saat. Namun tak terdengar apapun.

Yoona mengetuk kembali, kali ini lebih keras, “Unnie! Taeyeon Tiffany, sudah waktunya untuk bangun!”

Ia menempelkan daun telinganya pada pintu itu, mencoba untuk mendengar jika mungkin ada jawaban dari mereka.

“Fany-ah… tidak lagi, kau bilang aku dapat beristrahat sekarang.”

“Unnie?” Ia membekap mulutnya, berharap jika tadi mereka tidak mendengar suaranya.

Suara dari seprai yang berdesir merembes beradu dengan kayu yang berdecit. (Poor Yoong)

“……Baik… hanya saja kali ini lebih cepat, okay? Matahari mungkin sudah terbit sekarang.” (LOL)

Mwo?Matahari  sudah terbit berjam-jam yang lalu.

Yoona tidak menunggu untuk mendengar lebih banyak lagi. Ia tak yakin jika Taeyeon sedang tidur sambil berbicara atau tidak, tapi ia tak ingin berada lebih lama lagi untuk mencari tahu. Ia telah mendengar terlalu banyak, pipinya yang bersemu sebagai buktinya.

**

“Apa kau melihat catatanku?” Hyoyeon menyeringai, mengamati lantai kayu di bawahnya, “bagus… aku tak yakin kau mau melihatnya.”

Jessica memandang sekilas pada secarik kertas di genggamannya, matanya mengitari jajaran kata yang tertulis di atasnya.

Aku tak berlari. Aku hanya sangat menyukai kamar ini-Hyo-

Ia mengambil tempat duduk di samping Hyoyeon, menyadari bahwa mereka hanya akan duduk dalam diam, seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kali ini Hyoyeon tidak menangis. “Kurasa aku tak harus menghabiskan waktuku lebih banyak lagi.” Ia melarikan jari membelai rambutnya, menarik kakinya di samping gadis itu. Jaessica terkikik gugup, mengetuk ujung jarinya pada lantai yang dingin. “aku tak tahu harus mulai dari mana.”

“Bagaimana dengan bagian dimana kau berkata kau mampu hidup tanpaku.” Ujarnya sambil menyeringai, tanpa dengki dalam ucapannya.

Jessica berhenti sejenak sebelum menyadari bahwa Hyoyeon hanya menganggap semua itu sebagai bahan lelucon, ia mencoba mencairkan suasana. Tetap saja, sama sekali tak membantu, “Aku tahu ini terdengar sangat buruk,” pandangannya beredar ke seluruh ruangan, “tapi kau tak mengerti. Aku tak bisa berada di dekatmu.” Pada akhirnya, mereka hanya terpaku pada ucapan Hyoyeon, “aku takkan membuang semua ini…”

-TBC-

Iklan

75 thoughts on “Love Is Hard Part 23”

  1. Knp tuh sunny marh sm soyoung?ada apa ia?
    fany sm tae gak keliatan?
    Akhirnya seo n yoong mau menjalin hubungan?
    Jessi n hyo, tetep berjuang ia n yuri*poor alone hahaha. :p

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s