FF Terjemahan, Love is Hard, SNSD, SOSHI FF

Love Is Hard Part 24 [END]

LOVE IS HARD [ACT 3]

Author     : Roykilljoy
Indo Trans : Sasyaa95 (Shin Min Rin aka sasyaa95)
Title       : Love is Hard (Love Love Honey Bebe)
Genre      : Romance
Main cast  : TaeNy, YoonHyun, HyoSicca, and other SNSD Member.
Warning    : The Genre is YuRi (Girl x Girl)

 

Chapter 11-2

“Baik.. ini menjelaskan segalanya.” Gumam Taeyeon, muncul dari lautan selimut yang berserakan di atas kasur. Ia bangkit. Menyandarkan kepalanya pada bantalan kasur. “Apa kau berpikiran dia akan mengatakan padanya?”

Tiffany mengangkat bahunya sebelum melakukan hal yang sama. “Aku tidak tahu. Ku harap dia benar-benar melakukannya, namun sekarang dengan apa yang telah terjadi.. kurasa itu bukanlah cara yang bijaksana.”

“Apa kau memberitahukannya tentang hal itu?”

Tiffany menggelengkan kepalanya sambil menguap. “Aku tidak perlu melakukannya, dia sudah mengetahuinya.”

Ia mengikuti gerakan kekasihnya dengan membiarkan kepalanya bersandar pada pangkuan Tiffany sebelum menguap. Ia mendesah gusar saat tangan Tiffany membelai rambutnya yang kusut dan berantakan.

“Aku tahu…” Tiffany membungkuk, mencium kening kekasihnya. “Aku tahu itu membuatmu frustasi. Tapi kita harus bersabar.. Aku akan menggunakan 4 hari kedepan untuk membereskan masalah mereka.”

**

“Umur… Umur tak jadi penghalang. Aku jatuh cinta padamu saat kali pertama kau menatapku.”

**

Ini mungkin pertama kalinya ia melihat Jessica, namun ini bukan kali pertama Jessica melihatnya, gadis pendiam dengan rambut hitam panjang dan mata coklat tua. Sampai sekarang itu masih menjadi sebuah misteri. Menjadi sesuatu yang tak dapat ia raba hanya bisa Jessica amati dari kejauhan.

Ia hanya mengisi pagi ini dengan hal itu. Layaknya hari-hari sebelumnya, ia berencana untuk menjalani kembali aktivitas sehari-harinya. Ia datang pagi-pagi sekali, menunggu di depan gedung studio latihan mereka bersama, kemudian menyambalewa di sekitar mesin otomatis pada waktu istirahat lalu akhirnya bersemangat untuk segera mengakhiri kelas baletnya secepat mungkin, berharap ia melihat gadis itu lewat di depannya, memandang gadis mempesona yang tak pernah menyadari keberadaannya.

Sampai sekarang…

Hatinya berpacu saat ia mengingat kembali saat itu. Ini masih tidak lebih dari lima detik, bahkan mungkin kurang dari itu, namun tetap saja terasa selamanya. Di sana ia berada, berlatih balet di aula, menunggu instrukturnya datang ketika itu terjadi.

Jessica memekik, menghentikan aktivitasnya, “Ia melihat kearahku!” Telinganya terbakar saat ia mengatakannya. Segera, ia mengedarkan pandang untuk menyakinkan bahwa tak ada yang mendengar teriakannya yang mendadaka. Tak ada seorangpun disana. Setidaknya belum ada.

Hyoyeon kembali berdiri di depan mesin otomatis. Ia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Menempatkan beberapa koin pada mesin yang berderu. Waktu istirahatnya sudah hampir berakhir, namun ia tak peduli. Ia dapat menunggu sedikit lebih lama lagi.

Sebentar lagi. Pikirnya, mengamati sepanjang koridor gedung. Ia tahu itu hanya sesaat sebelum gadis misterius itu berjalan kearahnya. Ia selalu suka membeli minuman saat waktu istirahatnya, umumnya sesuatu dengan gula penuh yang benar-benar tidak menyehatkan. Biasanya, Jessica akan menghilang jauh sebelum Hyoyeon datang, yakin bahwa gadis itu takkan mau berbicara dengannya.

Setelah semua itu, ia hanya akan menghabiskan waktunya untuk mengamati Hyoyeon. Gadis yang tak pernah ia lihat mau berbicara dengan siapapun yang bukan pengajarnya.

Jessica mengecek kembali jamnya. Waktu berputar  dengan cepat. Ia mendesah, berbelok untuk kembali mengambil botol minuman dari mulut mesin itu. Sudah biasa untuknya mendapatkan dua botol daripada satu. Tak hanya karena mesinnya yang sudah tua, tapi juga karena serentetan tombol rumit yang ia tekan dan ia pukul, karena ia terbiasa menghabiskan kesehariannya bermain video game.

Memandang dua botol saat ia mengayunkan kedua lengannya, sebuah ide muncul di kepalanya. Ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, namun ini tampak nyata. Jessica bergeser ke samping saat ia hanyut ke dalam pikirannya.

Apapun yang ia katakan pasti harus sempurna.

Apa kau kau menyukai ini?

Mesin ini memberiku dua, apa kau ingin berbagi denganku?

Hey.. aku melihatmu lewat di depan ruanganku dan….

Decitan irama sepatu karet menggema di telingannya, menghidupkan kembali semangatnya. Sepatu tersebut dengan bunyi musik itu, ia langsung tahu siapa gadis itu. Hyoyeon berputar menyimpang, menggesek CD playernya, seperti biasa perhatiannya hanya terpusat pada dunianya sendiri.

Jessica harusnya dapat berkata sesuatu. Ia harusnya dapat menarik perhatian gadis itu namun sensasi yang menyeruak di perutnya terlalu hebat, sangat kuat daripada saat ia melangkah di atas lantai dan memikirkannya beberapa menit yang lalu. Jika inilah yang ia rasakan ketika berada di dekat gadis itu, ia tahu berbicara dengannya adalah hal yang mustahil, setidaknya untuk sekarang ini.

Aku masih punya satu kesempatan lagi untuk menemuinya setelah latihan. Jessica mencari alasan, menempatkan botol-botol itu di keranjang sebelah mesin otomatis. Aku akan berbicara dengannya nanti. Dengan anggukan segan ia bergegas menyusuri gedung, mencoba untuk menepati ucapannya.

**

“Saat aku bertemu denganmu sore itu di pemberhentian bus aku tahu apa yang kulakukan. Semua logika, semua rasional yang ada dalam diriku mengatakan bahwa semua akan berakhir dengan buruk. Namun aku tetap saja menemuimu.” Ia menutupi wajah dengan telapak tangannya, menghindari tatapan gadis yang sedang duduk membeku di muka tembok. Ia ingin Hyoyeon memperhatikannya, namun tidak. Ia sudah menunggu sekian lama untuk mengatakan ini semua. “Aku tahu apa yang telah aku lakukan dan aku tak peduli. Aku percaya bahwa aku dapat mengontrol diriku dan mengenalmu tanpa membiarkan semuanya berjalan terlalu jauh. Jadi, seiring berjalannya waktu….” Ia menghela napas. “kita menjadi teman, sahabat karib.” Ia mendapati Hyoyeon mengeraskan kepalan tangan dalam pangkuannya, “namun…. Ku pikir kau dan aku menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.”

**

Hyoyeon menyerbu bibir Jessica, tindakannya penuh dengan intensitas hangat dan dahsyat yang menyebabkan Jessica terjatuh di kasurnya. Tanpa ragu, Hyoyeon merangkak tepat di atasnya. Menyelimuti Jessica dengan tubuhnya. Jessica tak merasa keberatan, ia telah menunggu saat-saat seperti ini, mempimpikan hal ini.

Hyoyeon melarikan jemarinya untuk membelai rambut Jessica sedangkan tangan yang lainnya mencengkram sisi Jessica, ibu jarinya dengan lembut mengusap pinggul Jessica melalui keliman bajunya. Dengan tangan orang lain, itu mungkin hanya terasa sentuhan sederhana, namun saat Hyoyoen menyentuhnya itu menjadi luar biasa. Sentuhan manja yang hampir menghancurkan pikiran Jessica dengan berton-ton kebahagiaan. Ia telah mengantisipasi apa yang akan Hyoyeon lakukan selanjutnya. Apakah ia akan melakukannya secara perlahan atau cepat? Apakah ia berani untuk menysuri tubuhnya lebih rendah?

Jessica mendesah, matanya tak henti berdenyut di bawah pelupuknya saat sebuah pikiran memenuhi kepalanya. Ia merasakan dirinya semakin kalut saat tubuh Hyoyeon bergeser di atasnya. Pikirannya berlimpahan, bercabang ke segala arah. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan, banyak tempat yang ingin ia sentuh. Banyak area yang ingin ia jelajahi. Ia tak ingin menghentikannya, dengan desahan dalam ia membiarkan dirinya dikuasai gadis itu. Membebaskan tangan-tangan itu untuk menelusuri tubuhnya.

Kancing-kancing di kemejanya terlepas dengan mudah, hampir semudah saat ia membuka resleting hoodie Hyoyeon. Rengekan lembut keluar dari mulut Jessica saat matanya dengan malas menelusuri langit-langit. “Hyo…”ia bernapas di sela getaran tubuhnya saat Hyoyeon membiarkan bibirnya masuk dan tenggelam dalam pundak sampai tulang klavikulanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu ia harus menghentikannya namun ia tak berdaya. Sudah lama ia menginginkannya. Terlalu lama. Bahkan sebelum malam itu saat mereka berbagi ciuman hangat. Jessica merindukannya. Meskipun ia tak pernah berpikiran untuk pergi sejauh ini.

Hyoyeon melingkarkan ibu jarinya di bawah keliman tank top Jessica. Perlahan, menekannya di pertengahan, cukup baginya untuk dapat melihat pusar gadis itu. Jarinya menyusuri dada Jessica bagian atas. Mengurik kulit mulus itu dengan kecupan kecil di sana sini, meleburkan hasrat yang terpendam sekian lama, satu-persatu masih belum memuaskan nafsunya. Ia dapat merasakan gerakannya berontak semakin gila, masih terheran mengapa ia dapat membiarkan dirinya tenggelam terlalu jauh.

Walaupun terasa gila ia masih sedikit ragu jika Jessica menginginkannya atau tidak. Ini membuatnya bingung bahwa kemungkinannya dapat menjadi kenyataan. Jessica tak dapat merasakan hal yang sama sepertinya. Mungkin ia hanya sedang mengajaknya bercanda. Saat Jessica mendorong kepalanya, mengisyaratkannya untuk menghisap lehernya lebih dalam, semua keraguannya telah pergi, ia yakin. Keduanya sangat yakin.

Pertemuan itu bukanlah suatu kebetulan antara sahabat atau karena waktu yang telah lama terbuang. Ini bahkan bukan kenangan taji. Semua ini sengaja di rencanakan, fluktuatif dan inevitable.

Secara tak sadar, Jessica merengek saat Hyoyeon bangkit kemudian mengangkanginya, telapak tangannya yang hangat perlahan menekan lembut perut Jessica. Gadis itu dapat merasakan sepasang tangan dengan polos mengelus abs nya. Ia merasakan tubuhnya menggelenyar saat tangan Hyoyeon terselip di bawah kemejanya.

Hyoyeon mendongak kearah Jessica, meminta ijin padanya, tangannya sudah menunggu di area yang telah meminta dan memohon sentuhannya, tujuannya. Jika ia pikir ia pergi terlalu jauh saat pikiran mereka bertentangan, maka semua akan menjadi berantakan. Gerakan mereka tak cukup cepat. Jessica mendorong punggungnya mendekat pada tubuh Hyoyeon, haus akan sentuhnannya. Sensasi yang ia rasakan membuat tubunya bergetar dengan kepuasan tiada tara, ia mengerang saat merasakan tangan Hyoyeon yang memanjakannya, “Mm…” desahnya sambil menutup mata, bibirnya membentuk senyum penuh pengharapan. Ia meregangkan lengannya, menarik perhatian Hyoyeon. Jadi mereka dapat terhanyut dalam janji di siang bolong.

Itu tak berlangsung lama…

“Sooyeon!”

Jessica menendang kakinya, melepaskan diri dari Hyoyeon. “N—Ne?” Ia bangkit untuk menyentakkan kemeja dan roknya secara bersamaan. Melemparkan celana Hyoyeon saat ia berjalan sambil merapikan rambutnya kemudian tersandung di dekat pintu. Suara langkah kaki perlahan mendekati ujung tangga. “Maukah kau membantu Appamu dengan barang belanjaannya?”

Jessica melirik Hyoyeon sambil berdeham, “Uh..” Hyoyeon menjungkirbalikkan tempat tidurnya dengan putus asa mencoba mencari hoodie atau kaos dalam yang telah ia lempar ke sembarang tempat beberapa waktu lalu. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak sempat melihat dimana ia melempar di sekitar kepalanya.

Disekitar kepala?

Jessica sudah berada di belakang TV untuk meraih pakaiannya, gerakannya tentatif. “Sooyeon?”Suara feminim itu terdengar lagi.

Ia membantu Hyoyeon memakai kausnya, sedangkan Hyoyeon memutar rok Jessica ke arah yang semestinya.

“Jessica?”

Ne Mom…”

Pintu kamar Jessica perlahan berdecit. Umma Jessica berdiri di ambang pintu dengan raut datar, pandangannya tertuju pada sepasang gadis gelisah yang tengah duduk di kasur berantakan.

“Maukah kau membantu ayahmu?”

Jessica mengeratkan bibirnya mencoba untuk menutupi napasnya yang tak beraturan. “Mmhmm..” Angguknya, berharap rona merah di wajahnya perlahan mulai memudar.

Sedikit, namun masih terlihat.

Meskipun jika kulitnya sudah berubah normal, namun tetap saja tak membuat perbedaan. Mrs. Jung telah melihat semua yang harusnya ia ketahui dari apa yang kedua gadis itu lakukan selama ia pergi. Bukan, semua itu bukan karena kasur yang jungkir balik atau bercak merah misterius di kulit mulus putrinya. Bukan… Tapi ia curiga dari cara Hyoyeon mengenakan kaus dengan PD nya walaupun pakaiannya memutar dan terbalik. Seharusnya ia memakainya dengan lebih pantas lagipula mestinya ia tahu.

Semua adegan yang mengancamnya itu berulang kali berputar di kepalanya, namun dengan cepat ia singkirkan. Jika Jessica tak menyuruh Hyoyeon masuk ke dalam kamarnya. Jika saja putrinya tak segegabah itu. Jika saja Jessica menutup semua pintunya. Jika saja Jessica tidak terlalu sibuk mengerang, mendesah dengan kenikmatan untuk melihatnya tengah berdiri di ambang pintu.

Mrs. Jung berdeham, memilih untuk tak mengeksplor kemarahannya. Ia tak ingin meledak di hadapan mereka. Ia bukan tipe wanita seperti itu. Ia dapat menahan emosinya. Pembawaan yang sepertinya gagal untuk ia turunkan pada putri sulungnya.

Jessica menyelipkan kaki pada sepatunya sambil menghela napas berat. “Bilang Hai…” gumamnya di sela bernapas.

“H—Halo..” Hyoyeon yang tengah kebingungan akhirnya membungkuk. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Oh, halo Hyoyeon..” Ia memaksakan senyumnya, “barusaja kembali hari ini?”

Ne mam..”

“Aku yakin kau ingin segera bertemu orang tuamu di rumah. Setelah suamiku menyelesaikan barang belanjaannya, aku akan menyuruhnya untuk mengantarmu pulang ke rumah.”

“Um.. sebenarnya aku berharap ia dapat menginap di sini malam ini.” Jessica bangkit dari tempatnya. “Aku akan membereskan rumah dan menyelesaikan semua tugasku minggu ini.”

Wanita itu menelan salivanya dengan sangat keras, rahangnya mengerat. “Dalam waktu sesingkat itu? Mianhae Sooyeon tapi ada banyak hal yang harus kita lakukan besok. Disamping itu, aku yakin orang tuanya pasti sudah merindukannya. Kau belum pulang dan menemui mereka, kan?”

“Belum mam…”

“Aku akan menyuruhnya untuk mengantarmu.. Ayo kalian…”

**

“Dia melihat kita?”

Jessica mengangguk, mukanya memerah. “Mmhmm..”

“Ketika ia menasehatiku, aku merasa diriku mengerikan.” Jessica mengalihkan pandangannya dari pahanya. “Ia sangat tenang…. Aku dapat merasakan sesuatu yang salah.”

Hening…

“…Jadi..?”  Dengan mata berkaca-kaca Hyoyeon menatap Jessica, tulus. “Jadi kenapa?”

Jessica menggelengkan kepala sambil mendesah, “Anio…” Ia mendekap lengan disekitar pinggangnya, “maksudku.. bagian dari itu.. tapi bukan hanya dia. Tapi kau.. Aku akan membuang semua itu untukmu dengan sepenuh hati. Namun, saat aku melihatmu melakukan hal yang sama, aku jadi panik. Aku sangat yakin di situ aman—bahwa semua itu akan menjadi cinta yang timpang sebelah. Satu-satunya cara agar aku dapat mencintaimu tanpa ketahuan. Namun, aku membiarkan semuanya berjalan terlalu jauh.. dan saat kau menyatakan cintamu padaku.”

**

Hyoyoen sedang menunggu di bawah—…”

**

Anio…” Hyoyeon meringis, melambaikan tangan untuk membuyarkan pikirannya. “Stop… aku tak lagi ingin memikirkan tentang itu.”

Mianhae…” Jessica merundukkan kepala, menatap pahanya.

Ia menggelengkan kepala, menarik kakinya. “Aku masih mengingatnya kata demi kata. Semua yang kau katakan.” Ia tak membutuhkan pengingat, “mengapa kau tak berterus terang padaku?”

“Aku masih sangat muda, kita berdua. Aku tak berpikiran kau akan mengerti. Kita berasal dari dunia yang begitu berbeda… Aku tak mau kau membuang hidupmu begitu saja… mimpi-mimpimu… masa depanmu.. ini untuk kebaikan kita.”

Hyoyeon berusaha menahan tangisnya, “kau adalah yang pertama dan segalanya untukku Jessica, ciuman pertamaku, sahabat karib pertamaku, pertama…. Satu satunya yang menjadikan masalah.”

“Kau juga pertamaku.” Ia menyeringai, suaranya melembut. “Aku minta maaf karena mempersulit semua ini. Tak seorangpun yang harusnya melalui ini semua. Tidak dengan usia semuda itu.”

“….itu bukan salahmu..” Gumam Hyoyeon, menggelengkan kepalanya. “Setelah kupikir kembali.. aku ingin semua ini terjadi jadi aku dapat melepaskan rasa sakitku—amarahku.. dan sekarang kau menjelaskan semuanya.” Ia kembali menggelengkan kepalanya. “Kau sama payahnya denganku.”

Jessica mendesah, melilitkan jari pada rambutnya, “Saat kita berakhir di So Nyeo Shi Dae aku menangis sepanjang hari. Harus bertatap muka denganmu setelah memaksa diriku untuk menghindarimu sekian lama…. Apa yang harus kulakukan? Tapi aku sadar, setidaknya dengan cara ini aku dapat berada di dekatmu. Aku dapat melihatmu dan tak ada orang lain yang mengetahuinya. Dan aku menyadari, bahwa cinta yang dulunya kau beri kini berubah menjadi dengki dan kebencian.” Setetes air mata menyusuri pipinya, menggetarkan tubuhnya. “Aku mulai merindukan sesuatu yang penting dari diriku sesuatu yang lebih penting dari semua ini. Aku merindukanmu dan tak ada pilihan lain untukku merubah semua ini….” Saat ini giliran Hyoyeon yang mengulurkan sapu tangannya.

Jessica menerimanya dengan kikikan kecil, “Melihat Taeyeon dan bagaimana dia jika berada di dekat Tiffany itu sama seperti masa laluku yang menari-nari di pelupuk mataku. Aku tahu aku harus membantunya. Jadi, aku fokus dengan mereka daripada mempedulikan hatiku sendiri. Ku pikir itu akan membuatku merasa lebih baik, “ suaranya merembes. “dan sesaat itu berhasil.” Sebelum kembali hening, “tapi sekarang aku justru merasa iri dan bodoh.” Ia mendesah malu. “Sangat bodoh… Bahkan mamaku..” Jessica menyeringai, menggelengkan kepala saat kenangan itu muncul di kepalanya, “bahkan ia menyesal menyuruhku menjauhimu. Ia berkata bahkan saat ia melihat kita malam itu, ia tahu aku membutuhkannya—kalau aku membutuhkanmu. Tapi terlalu banyak waktu yang terbuang dan pada akhirnya kau membenciku. Aku tak tahu bagaimana cara memperbaiki semua ini atau jika kau ingin kembali bersamaku. Jika bahkan kau peduli.”

“Aku selalu peduli.”

Hening…

“Jika aku dapat kembali dan menjalankan semua itu lagi, aku akan melakukannya.”

Hyoyeon mengernyitkan alis saat ia meletakkan siku pada lututnya, menopang dagu dengan telapak tangannya, tenggelam dalam pikirannya. “Aku tidak akan melakukannya.”

“Huh?”

Ia mendesah, pandangannya fokus pada gadis di sebelahnya. “apa yang telah kita lalui selama ini… kita menjadi siapa kita sekarang karena ini semua.” Paparnya. “Apakah kau benar-benar ingin mengubahnya?”

“Tapi… kita akan bersatu.. Bukankah…” Pandangannya jatuh pada pangkuannya, “bukankah ini yang kau mau?”

Hyoyeon menggelengkan kepalanya, mengamati Jessica. “Aku tak mau berbohong. Semua itu sudah lama terjadi. Tapi, disuatu tempat entah dimana garis perasaanku perlahan memudar. Aku mulai marah padamu karena menjauhiku.” Ia menyeringai bersandar dengan menopang tubuhnya menggunakan pangkal telapak tangannya. “terdengar menyedihkan sekarang.”

Jessica menggigit bibirnya, matanya mengitari ruangan. Sangat hampa, kosong. Hanya empat dinding, dua jendela dan lantai kayu. “kita masih dapat memulainya jika kau mau.”

Hyoyeon tersenyum tulus, meraih tangan gadis itu. “Jessica… tidak masalah.. Kau tak perlu merasa kau harus memperbaiki apa yang telah terjadi. Aku tahu, itu bukanlah yang kau mau.” Hyoyeon mendesah, mendongakkan kepalanya untuk menatap langit-langit, “yeah… bukan masalah..” Ia mengangguk pada dirinya sendiri. “Kurasa, aku hanya perlu mengakhiri ini semua. Maksudku… dengarkan aku—semua kebencian ini dan kemarahan… aku sedang tidak berada pada titik dimana aku ingin bersama orang lai saat ini.” Ia menggelengkan kepala, lebih kepada dirinya daripada Jessica. Seolah ia tengah mengangguk mendengar ucapannya sendiri. “Tidak.. masih ada banyak hal yang harus ku perbaiki. Aku masih harus belajar untuk kembali percaya pada apa itu cinta.” Ia menyeringai, rasa sakit tersirat dalam desahannya. “Dan kau harus menemukan seseorang yang dapat mencintaimu dua kali—tidak.. tiga kali lebih dari cintaku padamu.” Hyoyeon terkikik, mencoba untuk menutupi kesalahannya. “Jangan menjadikan aku sebagai alasanmu tak dapat melangkah kedepan. Jangan hanya karena aku adalah cinta pertamamu, bukan berarti aku harus menjadi yang terakhir untukmu.”

Senyum mengembang di bibir Jessica, mempercayai ucapan Hyoyeon. Semua itu benar. Ia tak lagi mencintai Hyoyeon, setidaknya tidak seperti layaknya sepasang kekasih. Tapi dia sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan apapun demi memperbaiki kesalahannya bahkan jika itu berarti dia harus bersandiwara cinta. Jessica mendesah lega, merasakan tubuhnya merileks, “Gomawo…

“Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Jessica. Kau—.”

Sebuah ketukan tiba-tiba saja menggemuruh, menggema di seluruh ruangan, “Jessica-ssi? Hyoyeon ssi?” deru sebuah suara. “Apa kau di dalam?”

Ne!.” Timpal Hyoyeon.

Jessica menjentikkan jarinya, bergumam di sela-sela napasnya. Sudah berapa lama mereka berada di dalam sini?

Tak mungkin lebih dari satu jam.

Pintu itu terbuka dengan letupan keras. Seorang pria gemuk membungkuk mengisyaratkan padanya. “Kita sudah mencari kalian kemana-mana. Hyoyeon kau harus bergegas untuk memakai make up dan Jessica, mereka mencarimu untuk mencoba kostum.”

“Oh…” Hyoyeon bangkit dari tempatnya, merasa terkejut dan sedikit sebal.

Setidaknya mereka harus memberitahukan jika kita sudah mulai bekerja hari ini. “Okay.. aku harus pergi ke kamarku dulu.”

Pria itu mendesah, menulis sesuatu pada catatan mungil di tanganya. “Ini..” Dengan kasar ia menyobek halaman itu dan memberinya pada gadis yang berjalan menghampirinya, “ini jalan menuju ruangannya. Segeralah kembali.”

Ia mengangguk, “tentu saja, terimakasih..”

Pria itu masih berdiri disana seolah menunggu sesuatu. Ia tak mendapatkan apapun itu yang ia inginkan. Dengan gusar ia berbalik lalu tergesa menuruni tangga menuju gedung.

Hyoyeon memasukkan catatan itu ke dalam sakunya, mengintip melalui pundaknya pada gadis yang saat ini tengah berdiri tepat di sampingnya. “kurasa liburan kecil kita telah usai.”

Jessica mengangguk, “yeah…” ia mengusap debu yang menempel di celananya, berdiri tegak. “kurasa begitu.”

Hyoyeon tersenyum, matanya bersinar penuh harap. “…. Ingin jalan denganku?”

Jessica tersenyum, menyanggupi permintaan gadis itu, “tentu…”

Bersama mereka berjalan keluar ruangan dengan bergandengan tangan, dengan ragu saling mencuri pandang, “Rambutmu terlihat bagus seperti itu..  membuatku teringat saat kita masih kecil.”

Gomawo…

….

“Hey.. setelah kita bert—berteman saat ini…”

“Yeah?”

“Aku bertanya apakah kau dapat membantuku dengan sesuatu..”

“Apa itu?”

“Kurasa aku telah mengacaukan Maknaes…”

Epilogue

Season’s latter

“Maukah kau berhenti membacanya?” Taeyeon menyandarkan punggung pada sandaran kursi sambil mengerutkan dahi. “Itu memalukan.”

Tiffany memukulnya dengan sorot mata mencambuk. “Mengapa kau membuatkannya untukku jika aku tak dapat membacanya?”

“Aku tidak berpikir kau memilikinya juga.” Ia melirik buku tebal berwarna pink di pangkuan Tiffany.

“Kenapa tidak?” Tiffany tersenyum manis, “ini sungguh menawan..” Ia melarikan ibu jarinya pada sampul buku tersebut, membelai halaman berlabel dari novel Favoritnya. “Aku bertanya-tanya apakah fans kita akan mendukung seperti yang kau bilang dalam ceritamu ‘Waiting’ jika mereka tahu TaeNy is Real?” (Sangat… Seratus perseeeeenn… *angkat spanduk*)

Taeyeon mengangkat bahunya, mendongakkan kepala dari halaman yang tengah ia baca. “Aku tidak tahu.” Tiffany menyukai bagian itu. “Apakah itu mengganggumu jika kita mungkin takkan pernah ketahuan?”

“Tidak sama sekali.” Tiffany menggelengkan kepala lalu mendongak dari chapter kesukannya, “aku tak pernah berpikir semua ini nyata atau aku akan punya keberanian untuk menyatakan perasaanku padamu. Dan aku benar-benar tak berpikiran kau akan membalas cintaku—setidaknya tidak dengan intensitas cinta yang saat ini kau berikan padaku, tapi kau melakukannya.” Ia mengusutkan jemarinya pada garis tangan Taeyeon, suaranya melembut saat pramugari lewat di di sebelah mereka. “Kita benar-benar real. Kau adalah kekasihku, cintaku, hatiku. Karena aku tahu itu, aku tak pernah memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita nantinya. Selama aku masih dapat bersamamu, kau menyempurnakanku dan aku tidak membutuhkan sesuatu yang lain lagi.” Ia memberikan kecupan kecil pada gadis di sebelahnya. Dengan hembusan napas lega, ia menenggelamkan kepalanya pada cengkok leher Taeyeon. Mengaitkan jemari mereka.

Taeyeon tersenyum, tubuhnya diselimuti luapan dan pancaran kebahagiaan, “kau selalu tahu apa yang harus kau katakan.”

“Kau harus menggenggam tangannya seperti ini.” Yoona mengajarinya, menangkupkan tangannya pada Seohyun, “atau mengaitkan lengannya seperti ini.”

Seohyun mengangguk, menatap lengan mereka yang berkaitan, “O-Okay…”

“Jika kau ingin melakukan yang lebih baik lagi, orang-orang harus menikmati hubunganmu dengannya.” Ia menarik kembali lengan pada pangkuannya. “Dia pria yang baik, ya kan?” (Clue:WGM)

Seohyun mengangguk, bermain dengan jarinya. “Mmmhmm…”

“Lalu, apa yang jadi masalah?” Yoona memiringkan kepalanya, jadi ia dapat menatap mata Seohyun yang sedang termenung.

Ia mengangkat pundak, mengintip melalui sela-sela jarinya, “hanya saja sedikit aneh jika aku tidak melakukannya denganmu.”

Yoona tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. “Kalau begitu, anggaplah dia itu aku.”

Seohyun mendekap mulut Yoona menggunakan tangannya, mencoba untuk membuatnya diam sebelum gadis di seberang mereka merasa terganggu dengan suaranya.

Sooyoung mengerang, setengah terganggu dalam posisinya, tidur telentang pada sebaris kursi. Mencoba untuk mengikis efek dingin yang menghempas tubuhnya.

Seohyun menunggu gerakan Sooyoung perlahan merileks sebelum kembali berbicara, menutup matanya, menyeringai dengan usulan yang Yoona berikan. “Aku akan…aahh…”

Yoona terkikik, mulutnya akhirnya terbebas. “Mianhae…aku tak menyadari kau kegelian.”

Seohyun merengut, mengusap pinggangnya, “Please jangan lakukan itu lagi—ah Unnie…”

Yoona kembali mendongakkan kepalanya, menertawai gerakan kekasihnya yang berlenggak-lenggok kegelian. “kau terlihat seperti ragdoll.”

“Yah!! Im Chooding, Stop!” Kata-katanya sama sekali tak menghentikan tawa gadis itu. Mereka mendadak berhenti terkekeh saat kaki Seohyun secara tidak sengaja menyentuh kursi di depannya. Reaksinya begitu pelan namun tetap saja, jendulan itu mengintimidasinya.

Sooyoung berguling kemudian bangkit dan berbalik dari kursinya, menatap dua gadis yang duduk di belakangnya. Yoona melepaskan genggaman Seohyun kemudian kembali pada kursinya, senyum timpang terukir pada wajahnya yang ketakutan. Tatapan Sooyoung seolah hendak melahapnya bulat-bulat sebagai santap makan malam. Ia menggigit lidahnya untuk meredam tawa ataupun teriakan yang hendak keluar dari mulutnya.

“Seohyun..” Sooyoung berkata dengan suara parau, “jangan biarkan bocah ini memengaruhimu. Kau selalu menjadi maknae yang sangat baik.” Matanya menyempit saat pandangannya jatuh pada gadis bandel yang merosot dari kursinya. “Dan kau… HENTIKAN HAL KONYOL ITU!!”

“Mereka berdua sangat manis…”

Jessica mengangguk, meregangkan tubuh di kursinya. Ia juga terbangun akibat ulah ketiga Maknae itu.

Yuri membalik majalah yang disediakan oleh penerbangan mereka, “sangat memalukan saat mereka pikir tak satupun orang yang tahu tentang mereka.”

“Kita semua memutuskan untuk tak menekankan masalah ini. Memaksakan sesuatu takkan mendapatkan reaksi yang sebanding.”

Yuri mendesah, menyandarkan punggung pada kursi nyamannya. “Apakah kau menyesal tak pernah bersatu dengannya.”

“Siapa?”

Yuri menyentakkan dagunya pada gadis yang duduk beberapa baris di depan Sunny yang sedang sibuk bermain dengan DS nya.

“Aku dan Hyo?”

Ia mengangguk, menyaput rambut dengan jemarinya, menatap lembut mata sahabatnya.

Jessica tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bantalan yang membingkai jendela pesawat. “Aku bahagia untuknya.” Jessica perlahan membetulkan posisi selimutnya. “Tentusaja, ada saat dimana aku marah atau cemburu atau mungkin menangis seharian tapi itu tak lagi terjadi sekarang. Ketika kita masih muda, kita adalah orang yang berbeda. Kita hidup rukun. Jika kita pernah bersatu dulu dan tak mengalami semua yang telah kita lalui sampai saat ini, aku yakin kita akan terus bersama sampai saat ini. Namun, bukan itu yang terjadi, tetap saja.” Ia tersenyum. “Tapi aku baik-baik saja dengan semua ini, karena apa yang telah kita lalui sekian lama telah membentuk siapa kita saat ini. Kita lebih berpengalaman dan bijaksana. Dalam sebuah hubungan, kita semakin mendewasa, sangat sulit untuk mencintai seseorang setelah sekian lama ia melukaimu. Namun kita belajar untuk kembali berteman. Dan semua itu sudah lebih dari cukup untukku.” (aaaaaaaaaahhhhh cium Siccaaaaa…. Lo gue banget sih sicaaa… :* #dibacok Yuri)

Ia berbalik menatap Yuri, memberinya kikikan kecil sebelum kembali menikmati pemandangan gelap dari luar jendela, “Tentu saja menemukan seseorang setelah semua itu adalah hal yang baik juga. Aku merasa seperti aku telah berpendapat seperti ini, kau tahu?” Ia memandang Yuri sekilas sebelum menutup matanya dan terkikik kecil, “terdengar sedikit egois, huh?”

“Sama sekali tidak.” Timpal Yuri, menempatkan tangan Jessica dalam genggamannya, menyelipkan jemari mereka. “Sica.. suatu saat nanti, ketika setidaknya kau berharap untuk berubah dan mencari orang lain untuk menjagamu…” Ia mendengar Jessica tertawa mengejek namun ia masih terus melanjutkan ucapannya, senyum hangat tergurat di wajah tenagnya, “Jessica?”

“Hm?”

“Lihat aku!”

~Fin~

Spoon

 
Iklan

85 thoughts on “Love Is Hard Part 24 [END]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s