Fantasy, SNSD, Two Shoot

DeeTae©Tiff [Death Note] [Part 1/2]

Author           : Shin Min Rin as Sasyaa95

Title               : DeeTae©Tiff [Death Note]

Genre             : Fantasy (Thriller, Murder, Suspense, Romance-Friendship)

Cast                : So Nyeo Shi Dae

Length           : 2 Shoot

Warning        : The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

1st Shoot

Tangannya dengan gugup memainkan gantungan ponsel yang segaja diletakkan di atas meja. Degup jantungnya memburu tak keruan. Seolah mengerti, angin yang berembus di tepian pantai itu menyibak helai-helai rambut mereka. Dingin tak membunuh semangatnya untuk berterus terang. Bertemankan bulan purnama dan lusinan bintang yang menyelimuti langit, Taeyeon duduk di depan meja dengan puluhan hidangan mewah khas Italia.

Mianhae…” Suara itu membuat napasnya kian tercekik, Taeyeon telah mengantisipasi apapun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. “Taeng…. Kau adalah gadis yang baik, manis, ceria dan perhatian… aku sangat menyayangimu.”

Kini Taeyeon mengangkat kepalanya yang sempat menunduk, matanya kembali memancarkan kilatan penuh harap. Berapi-api. Senyumnya yang sempat tertahan, kini kembali tersungging. “Jadi kita?”

Namun seolah ombak pantai malam itu menghempas dirinya dan menggulung tubuhnya, Taeyeon diam terpaku ditempat saat gadis di depannya kembali bersuara… “Mianhae Taeyeon-ah, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai Unnieku..”

Gadis itu tersenyum tulus, mengabaikan rasa sakit yang tersirat dibalik kilatan mata Taeyeon yang memancar dibawah sinar rembulan.

“J—Jessica??” Ia masih tercengang, merasa hubungan mereka selama ini lebih dari sekedar saudara. Namun apa daya, gadis di depannya tidak merasakan hal yang sama.

Mianhae Taeyeon-ah…” Jessica menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam rasa bersalahnya yang kian meluap.

Taeyeon tersenyum hambar, “Wae? Kurasa selama ini kau juga merasakan apa yang kurasakan.” Puluhan lilin yang sengaja ia susun sedemikian rupa dengan susah payah, seolah menjadi pajangan yang hanya akan menambah perih luka yang barusaja tertoreh di hatinya.

“Aku juga merasakan cinta,” jeda sejenak sebelum ia kembali berbicara. “Namun hanya sebatas adik pada kakaknya.”

Taeyeon mencoba untuk bersikap tenang, perlahan menggengam erat tangan Jessica yang berada diatas meja, di antara dua lilin yang mengapit pergelangan tangan mereka. “Jessica….”

“Taeyeon-ah…” Sergahnya cepat. “Jebal… kuharap kau mengerti..” Gadis itu mencoba melepas genggaman tangan Taeyeon yang kian mengerat.

“Tapi…”

“Kumohon…”

Dan kata-kata itu, mengakhiri malam mereka yang tak pernah berakhir. Perasaan yang sebelumnya menggebu, kini menguap tak tersisa. Hanya menyisihkan luka dalam yang kian terpendam. Setelah sekian lama, dengan persiapan yang benar-benar matang, hanya membuang waktu saja.

Mereka tetap tak bersuara. Menghabiskan malam dalam diam. Tak satupun dari mereka yang berani mengutarakan sepatah katapun. Biar bulan dan lusinan bintang yang menjadi saksi kecanggungan yang tercipta diantara mereka. Mulai sekarang, esok dan seterusnya… semua hal takkan lagi sama. Berbeda.

***

Sudah seminggu berlalu, namun Taeyeon tetap mengunci diri dalam kamar, merenungi apa yang telah terjadi, menyesali setiap kata yang telah terucap, merutuki kebodohannya sendiri.

“TaeTae…” Gadis berpawakan lebih tinggi darinya itu bersuara, mengguncang sahabatnya yang telah seminggu lamanya menolak untuk berbicara. Sudah berkali-kali ia menasihatnya untuk segera move on. Namun tetap saja, Taeyeon terlalu bengal untuk sekedar mendengarkan roomatenya berceramah. “Sudah dua hari ini kau tidak makan.. aku bahkan rela bolos kuliah untuk menungguimu, jadi hargailah kehadiranku disini.”

Dalam hati, Taeyeon tak peduli, dia juga tidak memintanya untuk repot-repot menungguinya. Matanya terus menerawang langit-langit yang tetap putih, tak berubah warna.

“Taeyeon-ah…” Gadis itu mulai merengek saat tak mendapati tanda-tanda perubahan dari sahabatnya. Ia masih bergeming, tak bergerak bahkan bersuara. “Sudah kukatakan… gadis itu terlalu bodoh untuk menolakmu…” Ia kembali mengguncang tubuh mungil itu. Sambil menelan gumpalan lidah yang sedari tadi mendongkol di tenggorokannya, ia berkata. “Diluar sana, masih banyak gadis-gadis yang mau denganmu..” Ia mengembuskan napas sekali lagi. “Kau terlalu sempurna untuknya Taeyeon-ah…”

Tanpa disangka-sanga, Taeyoen menoleh. Mata mereka bertemu, seolah berkata dan berbicara dengan bahasa yang tak terbaca. Hati mereka yang saling berkata-kata. Bahkan merekapun tak mengerti dengan apa mereka bertukar bahasa.

“Berjanjilah padaku Taeyeon-ah… kau tak akan kembali menagis untuknya.”

“Aku akan berdoa semua yang terbaik untuknya Fany-ah..”

Good…” Ada sekelumit rasa sakit yang menyelubungi hatinya, namun berusaha sekuat mungkin untuk menekannya.

“Sicca… Aku bahagia… dengan apapun jalan yang kau pilih.. walau tanpaku.”

***

“Yu—yuri? Apa yang kau lakukan disini?” Taeyeon menatap gadis gugup itu dengan sorot mata tajam.

“A—aku ha—hanya ingin mengembalikan buku Si—Sicca yang ku pinjam kemarin.” Gadis itu tetap menundukkan kepalanya, tak berani membalas tatapan Taeyeon yang seolah menantangnya.

“Sicca? Ada hubungan apa kau dengannya?” Tatapannya menyelidik, Taeyeon tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.

“A—aku..”

Karena mendengar kegaduhan di depan pintu asramanya, penghuni kamar itu akhirnya keluar untuk melihat sumber keributan. “Oh.. Taeyeon-ah…” Dia tersenyum simpul sebelum menyapa gadis disebelah kirinya. “Hay Yuri…”

Dengan tangan gemetar, Yuri meyerahkan sebuah buku pada gadis itu, ia ingin berbicara namun bibirnya seolah terkunci rapat. Terlalu gugup. Detak jantungnya teus berdegup.

Taeyeon terlalu jeli untuk menangkap radar itu. Radar yang selalu membuatnya takut, tatapan Jessica. Padanya dan Yuri. Berbeda.

“Aaah.. Bukankah ini buku yang kau pinjam kemarin di kampus?” Jessica berkata tenang meskipun hatinya gugup karena sedari tadi Taeyeon masih belum menanggalkan pandangannya pada mereka berdua. Jessica mulai merasa tak nyaman.

N—Ne.. Kamsahamnida…” Ia membungkuk sebelum berlari menjauh, meninggalkan dua insan yang tengah mematung tersebut. Tenang dalam diam.

“Sica-ah..” Taeyeon buka suara. Memberanikan diri untuk memulai pembicaraan mereka. “Aku  mengerti… Semoga kau bahagia.” Taeyeon tersenyum, sebelum pergi meninggalkan Jessica yang tengah sibuk mengartikan perkataannya. Walau dalam hatinya masih tersisa sekelumit rasa sakit, namun ia tak dapat melakukan apapun kecuali, merelakannya. Bahagia.

***

“AAAARRRGGGGGHHH!!!!”

Suara teriakan itu menggemparkan seisi asrama perempuan di pinggiran ibu kota. Suaranya menggema, memantul di dinding tembok yang sudah kusam, yang dulunya putih kini berwarna kekuningan.

Tak lebih dari lima menit semua orang sudah mengerumuni sumber suara. Berkerubung seperti semut, suasana asrama tua yang berisi tak lebih dari 9 orang itupun kini terasa lain. Semua orang tengah  berkumpul mengelilingi satu kamar di ujung koridor. Air muka mereka bermacam-macam. Ada yang tercengang, ternganga, bahkan hampir muntah.

“Ada apa?” Taeyeon yang merupakan tetua di asrama itu menerobos punggung teman-temannya yang berpostur lebih tinggi.

Setelah memuaskan rasa ingin tahunya, kini ia hanya dapat berdiri tercengang. Lututnya seketika terkulai lemas, tubuhnya perlahan merosot ke lantai. Dingin yang merasuk di sela tulangnya tak ia pedulikan. Ia seolah mati rasa.

Jessica. Tengah tergeletak tak bergerak di samping tempat tidurnya dengan darah yang melumuri sebagian besar tangannya. Terdapat bekas sayatan yang hampir mengering pada pergelangan lengan kirinya. Ia, Jessica.

Taeyeon tersimpuh tepat di depan tubuh Jessica yang sudah tak bernapas, jantungnya pun tak lagi berdetak, ia tergeletak tak bernyawa di kamarnya. Melihat kejadian itu, tangis Hyoyeon yang merupakan roomate Jessica pun pecah.

Kini semua orang hanya dapat mengerumuni mayat Jessica yang sudah mulai membiru. Tak satupun dari mereka yang berani bersuara, hanya isak dan sesengguk yang keluar dari mulut mereka. Begitu pula dengan Taeyeon, ia bahkan tak dapat bersuara. Otaknya masih menolak bekerja, lututnya yang sudah lemas sama-sekali tak membantunya, hanya memperburuk suasana. Tak satupun dari mereka yang berani bergerak, hanya menatap jasad itu dengan tatapan sendu.

Perlahan, gadis mungil itu merasakan hangat yang meresap di kulit punggungnya. Menciptakan kehangatan tersendiri disela dinginnya sendi-sendi tulangnya. Kepalanya seolah kehilangan tenga untuk bergerak. Meskipun otaknya mati suri, ia masih dapat mengenali pemilik kehangatan tersebut. Suara desisan yang mengalun lembut di telinganya terdengar mengerikan.

Tiffany dengan hangat mengusap pundaknya dan merangkulnya. Seolah menangkannya agar tidak kalut. Ia tahu, cobaan apa yang kini tengah mendera sahabatnya. Ia tak ingin bertanya, takut hatinya semakin terluka. Tapi ia juga takkan membiarkannya bersama ketakutan dan kesedihan yang berlarut lama. Namun sekarang, yang dapat ia lakukan hanya merengkuhnya, menenangkannya dan menangis bersamanya.

Matanya tajam menatap gadis yang sedang berdiri di sudut ruangan, tampak gelisah dan ketakutan, sedari tadi ia hanya bungkam. Tak mengeluarkan suara, hanya tampak memainkan butiran-butiran mutiara berwarna limau yang melingkari tangannya. Tiffany terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal lain yang menenangkan Taeyeon, jadi ia membiarkan pikirannya melayang, menguap bersama bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya.

Air mata yang mengalir membasahi wajah mereka ditemani dengan rinai hujan yang mulai membasahi aspal. Menciptakan bebauan khas yang menguar, bercampur dengan isak yang memenuhi asrama tua itu. Seolah mengerti, angin dingin yang mengempas tubuh mereka menjadi saksi kebisuan akibat kejadian tragis malam ini. Dinding-dinding kusam bercorak sawang dan lukisan-lukisan tua dengan mata tajam itu juga menjadi saksi betapa pilunya kebungkaman malam ini.

***

Taeyeon tidur telentang di atas kasur birunya, pikirannya mencoba menerawang langit-langit putih di atas kepalanya. Setelah seharian penuh berkelut dengan pemakaman Jessica, begitu sampai di asrama Ia langsung mengurung dirinya kembali dalam kamar.

Pikirannya seolah kembali memutar rekaman kejadian yang menggemparkan seisi asrama itu. Saat Sunny berteriak ketika mendapati tubuh Jessica tengah bersimbah darah dalam kamarnya, kemudian serangkaian prosesi pemakaman yang menguras habis seluruh energi dan air matanya. Betapa kejadian memilukan itu menyayat hatinya. Belum genap satu bulan ia menyatakan perasaanya pada Jessica, tiba-tiba gadis itu pergi begitu saja untuk selama-lamanya.

Tetes demi tetes air mata yang dari tadi tak berhenti mengalir, kini membasahi kerah kemejanya yang berwarna hitam. Ia belum sempat berganti pakaian, kekalutan menyelimuti pikirannya. Sekeras apapun ia mencoba mengikhlaskan, ia tetap saja terngiang bayang-bayang saat mereka menghabiskan waktu bersama walau hanya sesaat.

Tiba-tiba ia memicingkan mata saat sekelebatan pikiran mengusiknya. Seketika itu ia teringat, selama prosesi pemakaman Jessica, ia sama sekali tak melihat keberadaan gadis aneh itu.  Yuri. Benar, ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda kehidupan darinya. Beribu pikiran membanjiri kepalanya, mengapa. Bukankah sepertinya Yuri menaruh hati pada Jessica, namun mengapa ia tak hadir untuk melihat orang yang dicintainya sekali lagi sebelum pergi. Entahlah. Namun radarnya tak pernah salah.

***

Taeyeon berjalan menyusuri koridor sepi, tempat dimana seharusnya Jessica berada. Ia tersenyum, mengingat saat-saat mereka bersama dahulu. Tak ada yang mengerti dia, tak ada yang memahaminya kecuali Jessica. Mereka tumbuh bersama-sama. Namun, tak ada yang tahu betapa besar cinta Taeyeon untuknya.

Jessica dan Taeyeon sudah seperti saudara, dari kecil mereka terbiasa bersama-sama. Hanya Jessica yang tahu bagaimana masa kecil Taeyeon, begitu juga sebaliknya. Jessica adalah harta yang paling berharga untuknya. Ia bahkan rela pergi ke Seoul dan berkuliah di tempat yang sama dengan Jessica hanya untuk bertemu dengannya. Dari sinilah ia akhirnya bertemu dengan Tiffany, teman sekamar yang entah mengapa sangat menyayanginya, seperti Jessica.

Taeyeon berdiri tepat di depan pintu kamarnya, masih bercat sama. Tag name yang tergantung pada paku di atasnya juga tak berubah. Taeyeon kembali tersenyum, namun kali ini terasa hambar. Hanya beberapa memori yang masih tersisa.

[Flashback]

Itu adalah malam pertamanya menginjakkan kaki di Seoul, ia dan Jessica memutuskan pasar malam sebagai objek hiburan pertama yang akan mereka jajal. Mereka bermain layaknya anak-anak. Disini, di depan Taeyeon, Jessica tak lagi menjadi sosok dingin yang menyebalkan. Namun sebaliknya, ia hanya akan hangat jika bersama Taeyeon. Mereka pasangan yang serasi, saling mengisi dan melengkapi. Berbagi apapun yang mereka punyai. Tak seorangpun dari mereka sampai hati untuk saling menghianati. Mereka telah membuat janji suci, yang sampai matipun takkan mereka ingkari. Sahabat sejati sampai mati. (eaeaea… kok gue jadi berpuisi gini ya… #plak #lupakan)

Di ujung jalan petak-petak pedagang kaki lima, Taeyeon berhenti sejenak. Mengamati seorang ajhusshi yang sedang berkelut dengan balok kayu berukuran tak lebih dari kepalan tangan, ditambah dengan pisau kecil tajam yang dipegangnya dengan hati-hati dan cekatan. Tangannya dengan piawai memahat goresan-demi goresan hingga ampas kayu sisa pahatan perlahan beterbangan menyapu ujung-ujung sepatunya. “Maafkan saya nona… saya telah merepotkan…” Kata Ajusshi itu sambil menyondongkan sedikit tubunya untuk membersihkan sepatu Taeyeon yang terkena bulir-bulir kayu yang tak terpakai.

Gwaenchana Ajusshi… Apa yang kau buat?” Karena penasaran, Taeyeon berjongkok di depannya, ia terkagum saat melihat jajaran pahatan yang meruah bersama sisa-sisa amplas yang berserakan disana-sini, ia hampir tidak dapat membedakan antara ampas dan bongkahan kayu. “Semua ini buatan Ajusshi?” Ia memberanikan diri bertanya, mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih sebuah hiasan dinding yang sudah hampir sempurna. Ukirannya begitu halus, Taeyeon dapat merasakannya. Tangannya seolah mengusap sehelai sutera.

Ajusshi itu mengangguk tanpa bersuara, melanjutkan apa yang sebelumnya ia tekuri.

“Kau menjualnya?” Kedua mata Taeyeon berbinar saat mengucapkannya, seolah ia menemukan sebuah harta karun yang telah sekian lama terpendam.

Ia mengangguk lagi, seulas senyum terukir di bibirnya sebelum ia meniup ujung ukiran yang barusaja ia selesaikan. “Yeah… bisa dibilang begitu.” Kali ini ia menatap Taeyeon, hangat.

Taeyeon mengedarkan pandangannya, stan-stan lainnya sudah pada ramai dikerumuni pembeli. Namun tidak di tempatnya berdiri. Hanya ada dia dan Ajusshi itu. Ia tak heran karena letaknya yang berada paling ujung. Terkucilkan. Matanya meyipit saat ia mendapati sosok yang ia duga adalah Jessica sedang berdiri di sebuah stan accecories.

“Ajusshi, boleh aku pesan satu? Akan kuambil satu jam lagi.” Taeyeon tersenyum sambil menuliskan sebuah nama di selembar kertas lalu diberikannya pada Ajusshi tersebut. Ia mengadahkan kepala, langit yang tadinya senja keemasan, kini sudah berubah gelap. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Lima menit sebelum jam 7 malam. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang pada ajusshi itu, Taeyeon beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Jessica yang tengah sibuk mencoba bandana di kepalanya.

“Bagaimana yang ini? Lucu tidak?” Ia berkata pada refleksi Taeyeon sebelum mengagumi wajahnya di depan cermin besar yang terpampang di pinggir stan.

“Cantik.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia tidak berhipokrisi. Namun Jessica memang sangat cantik baginya, dengan apapun yang ia kenakan.

[Flashback End]

Sebulir air mata kini menghiasi pipinya saat ia kembali mengeja masa lalunya. Ukiran di depan pintu itu masih bertuliskan sama. TaengSic.

Sebulan disana, apa kau merasa kesepian? Bisiknya untuk Jessica, dan  untuk dirinya sendiri.

***

“AAAAAAAAAAKKKKKKHHHHH !!!!!” Teriakan kembali menggema di penjuru asrama.

Lima menit sebelum semua berkumpul di ruangan ujung koridor dua dengan mulut menganga. Sudah kali kedua. Dua nyawa melayang dalam asrama.

Ada sekelumit perasaan sakit yang membelenggu hati Taeyeon, setelah orang yang ia cintai. Kini giliran teman sekampusnya yang pergi. Lee Son Kyu, atau yang akrab di juluki Sunny, ditemukan tak bernyawa di atas meja belajarnya. Tak jauh berbeda seperti sebelumnya, hanya saja kali ini luka di lehernya dengan sebilah pisau dalam genggaman lemahnya.

Tak ada yang berani bersuara, semua terdiam. Taeyeon memicingkan mata saat mendapati gadis itu untuk kedua kalinya. Gemetaran di ujung koridor. Menatap kerumunan manusia yang tengah tercengang mendapati sosok yang sebelumnya ceria kini terbujur kaku tak bernyawa di depan mata.

Tak lama kemudian, terdengar isak tangis yang perlahan pecah, menyayat hati Taeyeon. Isakannya terdengar familiar. Ia pasti merasakan sakit yang sama. Seperti dirinya beberapa hari yang lalu, ketika mendapati Jessica yang tak bernyawa.

Seketika rasa itu kembali, badai yang menghempas hatinya kini meluluhkan kembali pertahannya yang telah susah payah ia bangun. Mencoba berdiri tegak dengan semua perasaan yang berkecamuk di hatinya. Rasa itu kembali singgah.

Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang bergejolak di kepalanya. Mengganggu pikirannya.

Taeyeon mengamati gerak-geriknya, tak nyaman, tak tenang. Bermain-main dengan keliman kemejanya. Gadis itu masih berdiri di ujung koridor, terlihat sekali ia tampak ketakutan.

Seketika kehangatan menelusup di sela-sela jarinya. Taeyeon merindukan kehangatan semacam ini. Hangat yang sudah lama ia lepaskan. Nyaman. Seolah Taeyeon kembali menemukan oasenya. Menyejukkan.

Tiffany mengeratkan genggamannya pada Taeyeon, merapatkan tubuh mereka. Merasakan kehangatan telapak tangan Taeyoen yang bersentuhan dengannya. Lembut. Menenangkan kembali hatinya yang kalut. Taeyeon seolah oasis baginya. “Aku takut,” bisiknya hangat di telinga Taeyeon, sekalipun ia tidak berbohong mengenai ketakutannya, ia tetap tidak dapat menyembunyikan degup jantungnya yang seolah mencuat keluar.

“Jangan takut, aku disini.” Empat kata yang membuat hati Tiffany melumer seperti coklat. Begitu tenang dan menenangkan. Genggamannya semakin erat, seolah tak ingin melepasnya. Setelah sekian lama.

***

“Sepertinya aku tidak melihat gadis aneh itu seharian ini?” Tiffany tiba-tiba saja menyandarkan kepala di pundak Taeyeon, “bagaimana denganmu?”

“Hmm? Siapa?” Ia mengangkat alisnya sejenak sebelum kembali merileks. “Kwon Yuri?” Ia menunggu Tiffany sebelum akhirnya gadis itu mengangguk. “Aah… aku juga, beberapa hari ini dia menghilang.” Taeyeon secara tidak sadar ikut menyandarkan kepalanya pada Tiffany. Ia tak menyadari senyum yang mengembang di bibir gadis itu, tersipu atas perlakuan kecil yang Taeyeon berikan padanya.

“Nyaman…” Tiffany bergumam sambil menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada caruk leher Taeyeon, menghirup aroma khas yang menguar dari tubuhnya. Memabukkan.

Ne?” Namun sayangnya, suara itu tidak cukup keras untuk dapat didengar oleh Taeyeon.

Tiffany hanya dapat menggeleng sambil tersenyum, “anio…

“Ah…” Taeyeon memijat dagunya, tubuhnya tak dapat menolak kehangatan Tiffany yang sedang bersandar di sampingnya. Sungguh membuatnya nyaman. Mereka berdiam seperti itu selama beberapa menit sebelum kembali memulai pembicaraan. Menikmati kenyamanan yang saling mengisi tubuh mereka.

“Aku curiga padanya.” Taeyeon menjadi orang pertama yang angkat bicara.

“Huh?” Ia mengernyit, “nugu?”

“Kwon Yuri, semenjak kematian Jessica dan Sunny, ia tampak berubah. Semakin aneh, yeah… walaupun memang dari dulu dia sudah aneh.” Jawabnya sedikit ngasal, namun masih menunjukkan keseriusan.

“Kupikir hanya aku yang mencurigainya.” Tiffany menanggapinya dengan terang-terangan.

“Kau juga?” Taeyeon membelakkan mata. Tidak percaya.

Tiffany mengangguk di atas pundak Taeyeon. “Ada yang ganjil dengan dirinya beberapa hari terakhir, terlebih setelah kematian Jessica.”

“Aku juga merasa demikian.”

“Aha…” Tiffany seketika meluruskan posisi duduknya, menatap kedua mata Taeyeon dengan intens. Ia berhenti sejenak, darahnya seolah berhenti mengalir saat kedua mata mereka saling bertatap. Ia bahkan tak berkedip selama beberapa detik sebelum Taeyeon melambaikan tangan didepan wajahnya.

“Tiffany?”

“Ahh…” Tiffany menggelengkan kepala sebelum menepukkan kedua tangannya secara bersamaan. “Sebelumnya, aku telah membicarakan hal ini dengan Sooyoung, kau tahu.. Gadis jakung yang ada di ujung lorong. Teman sekamar Sunny.” Ia berbicara dengan berapi-api.

Taeyeon mengangguk, mendengar nama Sunny yang merupakan teman sekelasnya disebut-sebut.

“Dia juga mencurigai gadis bernama Kwon Yuri itu. Awanya aku tidak memercayainya, tapi sekarang aku sangat yakin setelah tahu bahwa kau juga berada dipihaknya. Aku percaya padamu.” Ia menjelaskan dengan semringah, padahal apa yang mereka bicarakan bukanlah hal yang menyenangkan.

Taeyeon menatapnya ragu, “jinjja?” Namun tatapannya melembut saat Tiffany mengagguk dengan mantap.

Sedangkan di lain pihak, waktu seolah berhenti saat Taeyeon menatap tepat di kedua matanya. Seolah salah tingkah, Tiffany menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Uhh… Umm…” Matanya melihat apapun kecuali Taeyeon, hal terakhir yang ingin ia lakukan. Menatapnya. “A… Aku akan melihatnya.. Umm.. maksudku menemuinya..” Tiffany menepukkan tangannya, “Iya.. Choi Sooyoung, aku akan membawanya kemari.”

Secepat degup jantungnya, Tiffany melesat keluar kamar. Berlari dengan perasaan yang membuncah, antara senang dan gugup. Sepanang perjalanan menyusuri koridor hanya seulas senyum dan rona merah yang menemaninya. Meninggalkan Taeyeon yang kebingungan dalam kamar. Berpikir.

***

“Jadi Taeyeon, kau juga menaruh curiga padanya?” Gadis berpawakan tinggi itu berdiri membelakanginya, berjalan bolak-balik layaknya setrikaan. Sedari tadi yang ia lakukan hanya berjalan mengitari penjuru kamar.

“Em….”

“Sooyoung.” Tukasnya tanggap dan lugas.

“Jadi Sooyoung ssi, mengapa kau mencurigainya?” Taeyeon mulai bertanya dengan sangat hati-hati sekali.

Namun gadis itu justru tertawa terbahak-bahak seolah apa yang ia dengar adalah hal yang asik untuk di tertawakan. “Jangan berbicara terlalu formal denganku, aku bahkan tak yakin kau lebih muda dariku.” Kali ini dia terpingkal-pingkal.

Jinjja?” Taeyeon mengerjap tak percaya. Semakin heran ketika Tiffany juga ikut cekikikan di sebelahnya. “Dia masih baru semester dua.” Tiffany menjelaskan.

“Pantas..”

Okay, back to the topic.” Tegas Sooyoung, “aku mengamati perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Sebenarnya aku sudah curiga padanya semenjak kematian Jessica.” Sooyoung bersedekap sambil memijat dagunya perlahan.

“Kau dekat dengannya?” Tiffany menatap Sooyoung lekat.

“Tidak juga, kami hanya beberapa kali bertemu, itupun tanpa di sengaja. Dia orangnya, sedikit aneh dan… sulit ditebak. Seperti berkepribadian ganda.” Nada bicara Sooyoung mulai berubah. Serius.

“Hmm.. apa kau yakin dia?” Tembak Taeyeon pada akhirnya, dia masih menerka-nerka kebenaran dalam ucapan Sooyoung.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” Tanyanya dengan air muka serius.

“Baik.. tapi apa alasan kita cukup kuat untuk menuduhnya?” Tiffany mulai merasa tidak nyaman. Naluri kemanusiawiannya masih belum mau menyerah. Ia masih belum yakin benar.

“Kita butuh bukti konkrit.” Taeyeon menggembungkan pipinya. Satu kebiasaan uniknya saat sedang berpikir.

“Benar… dan yang perlu kita lakukan sekarang adalah.. mengumpulkan barang bukti yang bisa kita jadikan landasan atas statement kita.” Sooyoung mengamati perubahan pada raut muka Taeyeon. “Ada yang salah?”

Anio… Tapi apa?” Taeyeon melanjutkan sebelum menselonjorkan kakinya di atas tempat tidur.

“Aku baru menyadari…” Sooyoung mendekatkan wajahnya pada Taeyeon.

Semua mata kini tertuju padanya, menunggu apa yang akan keluar dari mulutnya. “Kau…” Ia mendramatisir suasana. “Ternyata pendek sekali ya.” Celetuknya sambil tertawa terpingkal-pingkal. “Jangan terlalu di ambil serius.” Ia akhirnya berbicara saat melihat raut masam kedua temannya (atau yang baru resmi menjadi teman).

“Apa kau tidak merasa kehilangan?” Tanya Taeyeon setengah penasaran. “Banyak yang bilang kalian sangat dekat.” Taeyeon akhirnya membuang napas yang sedari tadi tercekat, bertanya mengapa gadis itu bisa begitu tenang.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Meratapi kepergian Sunny selamanya? Mengurung diri dalam kamar berminggu-minggu dan menolak berbicara? Dunia ini memang kejam. Namun, apakah Sunny senang melihatku seperti itu? Anio… dia pasti akan sangat marah jika aku terus-terusan meratapinya. I have to move on. I bet, she’s right happy now.” Ia berkata dengan senyum samar. Meskipun saat mengucapkannya seolah ada sebongkah kayu yang mendesak dalam hatinya, namun ia berusaha terlihat tegar, demi Sunny.

“Kurasa… kau benar.” Taeyeon mengembuskan napas berat, sesuatu yang mengganjal hatinya seolah terlepas.

“Seperti teori evolusi Charles Darwin, semua pasti berubah.” Ia berkata tenang.

Keheningan memenuhi ruangan, ketiga penghuninya sibuk tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Taeyeon merasa tak sanggup lagi berbicara, ia takut suaranya terlalu keras atau justru terlalu lemah. Ia terenyak, pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi masih ia tahan.

Tiffany yang menyadari hal tersebut seketika menggenggam tangannya, meremasnya pelan sebelum berdiri mencairkan suasana. “Kurasa… kita bisa pergi keluar bersama dan… makan-makan?” Tiffany tidak terlalu memperhatikan perkataanya, ia bahkan tidak sadar bahwa kini mereka sedang berhadapan dengan shikshin alias siluman makanan di kampus sekomplotan dengan Im Yoona, partnernya.

Fokusnya hanya tertuju pada satu hal. Pandangan serta hatinya masih berada di satu tempat yang bahkan tak dapat ia raih. Semu. Kim Taeyeon.

Mendengar kata makan, Sooyoung pun merespon secara berlebihan. Ia melompat kegirangan, mengelus perutnya yang sedari tadi berteriak-teriak. “Anakonda peliharaanku sudah mulai melakukan aksi huru-hara nih, kau pengertian sekali Tiffany Unnie..”

Tiffany yang sebelumnya selalu meluncurkan aksi protes saat Sooyoung mulai bertingkah kekanakan, kini hanya terdiam seribu bahasa. Tatapannya terpaku pada gadis yang sedang tertegun di hadapannya. Tenggelam dalam pikirannya, tak bergerak. Tiffany selalu tahu, jika Taeyeon sedang sibuk dalam lamunannya, ia akan jadi sangat pendiam dan tidak ingin melakukan apa-apa. Oleh karena itu, Tiffany langsung menariknya tanpa banyak bicara. Tanpa berkata-kata, mereka berjalan menyusuri koridor kemudian menuruni tangga dalam diam. Sooyoung menyadari perubahan atmosfer diantara mereka, tapi menyimpannya rapat-rapat dalam hatinya. Tak mau bertanya sebelum saat yang tepat. Ia tahu, ada sesuatu dibalik tatapan Tiffany pada gadis pendek itu.

***

“Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?” Sooyoung bersedekap, menatap lekat Taeyeon dan Tiffany yang tengah duduk menghadapnya.

“Em… Aku masih belum tahu, bagaimana menurutmu Taeyeon-ah?” Tiffany melemparkan pertanyaan itu begitu saja pada gadis yang tengah tenggelam dalam pikirannya berjam-jam yang lalu.

Taeyeon yang merasa namanya disebut-sebut seketika langsung gelagapan menanggapi tembakan itu. “Ah… Uhm?”

Wae geurae?” Tiffany menyadari hal itu. Jika Taeyeon tak berfokus pada sesuatu, ia pasti sedang memikirkan sesuatu, entah apa itu tapi dirinya yakin pasti berhubungan dengan Jessica.

Anio… apa yang kalian bicarakan tadi?” Taeyeon mencoba untuk tersenyum, walau terlihat dipaksakan, namun masih terkendali.

Sooyoung mengembuskan napas panjang, “jadi dari tadi kita berbicara pada tembok? Sungguh sulit dipercaya.” Tukasnya dengan senyum jahil sebelum kembali memainkan sendok di atas mangkuknya yang sudah kosong.

Taeyeon mengangkat kepalanya dari sup bulgoginya yang masih berkurang seperempat. “Mianhae…” Taeyeon mengerjap bingung. Sekarang ia harus memutar otak untuk mencari jawaban dari entah apa yang mereka bicarakan.

Gwaenchana.. Apa kau lelah? Ingin beristirahat sejenak?” Tiffany menyisihkan piringnya di pinggir meja, menatap Taeyeon dengan perasaan khawatir.

“Mungkin, kepalaku sedikit pusing. Tapi aku bisa pulang sendiri, kalian bisa melanjutkan. Maaf telah merepotkan.” Taeyeon beranjak dari kursinya, tersenyum sebelum melangkahkan kakinya kembali menuju asrama. Hanya dua hal yang ia inginkan sekarang, pulang dan tidur. Namun, sebelum ia sempat pergi dari tempat itu, ia merasakan tangannya ditarik dari belakang.

“Aku akan pulang bersamamu.” Ujar Tiffany sambil tersenyum. Ia takkan membiarkan gadis itu pulang sendiri. Tidak, menghabiskan waktu bersamanya dalam diam akan jauh lebih baik ketimbang menjebol kantongnya untuk mentraktir Sooyoung makan di restoran ini.

“Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu.” Taeyeon berkata tenang, mencoba mengalihkan pikirannya. Ia tak ingin digangu siapa-siapa. Setidaknya, dengan absennya Tiffany selama beberapa saat akan membantunya melangsungkan ritual. Menyepi.

Tanpa berkata-kata lagi, Tiffany menyeret lengannya keluar dari restoran tersebut dan meninggalkan Sooyoung yang tengah tersenyum lebar, seolah-olah mengerti.

***

Angin sore kali ini terasa berbeda. Walaupun sepanjang hari ia habiskan dengan orang yang ia inginkan saat ini, tapi Tiffany tetap merasa ada yang ganjil dari hari itu. Namun ia tak mau mempermasalahkannya. Baginya, dapat menghabiskan waktu dengan Taeyeon seharian penuh mungkin hanya akan ada dalam dunia fantasinya. Namun kali ini tidak. Semua nyata.

“Kau masih memikirkannya?” Tiffany menyodorkan segelas soft drink pada Taeyeon yang tengah duduk di bangku panjang taman kampus mereka.

“Cepat sekali.” Taeyeon menghela napas, walaupun sebenarnya ia tahu dan sangat menyadari apa yang dimaksudkan oleh Tiffany.

“Aku tidak ingin kau menunggu dan kehausan.” Tiffany dengan enteng menjawab pertanyaan (atau yang lebih tepat disebut pernyataan) Taeyeon. Dia hanya tersenyum, menyadari betapa bodohnya pertanyaan tak terjawab yang ia lontarkan sebelumnya. Dia sadar, walaupun tak mendengarkan jawaban sepatah katapun dari mulut Taeyeon, mata gadis itu telah menjawab semua yang tak terjawab.

Mungkin suatu saat nanti, kau akan membuka hatimu, untukku.

Next Part 2 [END] →

Iklan

31 thoughts on “DeeTae©Tiff [Death Note] [Part 1/2]”

  1. Sica sunny mninggal..??? Tewas bunuh diri..?? Aigooo.. Yuri minggat kmna..??

    Hahaha part sooyoung bikin ngakak…jadi soo melihara anakonda diperutnya..?? Wkwkwkwkwk

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s