Fantasy, SNSD, Two Shoot

DeeTae©Tiff [Death Note] [Part 2/2 END]

Author           : Shin Min Rin as Sasyaa95

Title               : DeeTae©Tiff [Death Note]

Genre             : Fantasy (Thriller, Murder, Suspense, Romance-Friendship)

Cast                : So Nyeo Shi Dae

Length           : 2 Shoot

Warning        : The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

2nd Shoot

Tiffany dan Taeyeon berjalan bersisian menyusuri petak-demi petak stan kecil yang di dirikan oleh beberapa pedagang kecil untuk menjajakan barang dagangannya di pasar malam. Kebetulan hari ini sabtu malam minggu, Tiffany berkesempatan mengajak Taeyeon keluar dengan alasan untuk melepas penat. Biasanya, Taeyeon akan pergi bersama Jessica. Entah perasaan apa yang sekarang ini Tiffany rasakan, sedih atau senang. Kedua perasaan itu saling berkonfrontasi dalam benaknya. Ia sedih atas kematian sahabat baiknya Jessica. Namun, ia juga tak dapat menyembunyikan rasa senangnya manakala dengan perginya Jessica, ia dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama Taeyeon seperti apa yang selama ini ia imajikan. Tanpa perlu merasa terlalu banyak berharap atau merasa bersalah seperti yang selama ini ia rasakan jika dia sedang bersama Taeyeon saat Jessica masih ada.

Tak dapat dipungkiri, sebelum Taeyeon memutuskan untuk kuliah di Seoul, dia dan Jessica adalah teman dekat yang tak terpisahkan. Mereka saling berbagi dan saling mengisi seperti Taeyeon dan Jessica. Namun, semenjak Tayeon hadir di tengah mereka. Semua berbeda. Awalnya, ia mungkin membenci gadis itu karena Tiffany merasa seolah Taeyeon merebut Jessica darinya. Namun, seiring berjalannya waktu ia merasakan hal aneh setiap kali melihat Taeyeon, saat mereka berbicang dalam kamar. Membicarakan apapun yang mereka alami saat itu.

Perasaanyapun kian membesar. Namun, saat Taeyeon pernah kelepasan mengatakan bahwa ia menyukai Jessica, Tiffany merasa seolah hatinya remuk berkeping-keping. Terlebih saat mengetahui sikap Jessica pada Taeyeon yang berbeda. Cara Jessica memperlakukan Taeyeon jauh berbeda dari julukan Ice Princess yang biasa ia terima. Hangat.

Semenjak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berharap lebih. Untuk tidak terbang terlalu tinggi dan kemudian jatuh terjembab. Kenyataan memang jauh lebih pahit. Setidaknya ia bertemu dengan Taeyeon setiap hari. Cukup melegakan baginya. Kalaupun ia harus setia mendengarkan Taeyeon yang berceloteh tentang Jessica setiap harinya, dan melihat betapa besar kepedulian Jessica terhadap gadis itu. Ia merasakan ada sesuatu yang remuk dalam hatinya, pecahan pecahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh. Membuatnya belajar untuk tidak berharap.

Namun, seolah bumi berputar, ada siang dan ada malam. Ia merasakan harinya semakin bersinar semenjak kepergian Jessica. Kepingan-kepingan yang tadinya melebur, kini kembali utuh. Menyatukan kembali harapannya. Sejahat kedengarannya memang, namun sepintar apapun ia menyembunyikan. Ia sendiri tak lagi dapat membohongi hatinya. Karena hati, punya pemikirannya sendiri.

“Sepertinya kalung itu bagus untuk kita, bagaimana menurutmu Taeyeon-ah?” Tahu-tahu Tiffany berdiri dihadapan Taeyeon yang sedang melamun, memusatkan pikirannya pada satu memori, saat ia dan Jessica menghabiskan malam-malam bersama di tempat yang sama, bersenda gurau dan berbagi cerita. Tiba-tiba saja ia teringat. Matanya mencoba mencari-cari sesuatu yang di tunjuk oleh Tiffany. Sebuah kalung perak yang di pajang dalam sebuah kotak yang terpampang di etalase toko asessoris. Stan terbesar yang ada di pasar malam itu.

Namun, Taeyeon tak merespon, menatap gelang berinisial TS yang kini melingkari pergelangan tangan kirinya. Cukup dengan menatapnya saja, ia sudah merasa segalanya terasa sempurna. Waktu seolah kembali berputar saat dirinya dan Jessica menjamah tempat ini. Jessica sangat memfavoritkan tempat asesoris ini, tiap kali mereka menyempatkan diri pergi ke pasar malam ini, ia pasti akan mengunjungi toko ini.

“Tae?” Tiffany melambaikan tangan di depan wajahnya.

N-Ne?” Taeyeon mulai gelagapan.

“Bagaimana menurutmu?”

“Emm… bagus.” Timpalnya dengan lugas.

Senyum sumringah terulas di bibir Tiffany, matanya berbinar-binar manakala mendapati jawaban yang ia harapkan keluar dari mulut Taeyeon. Sebelum Taeyeon sempat bertanya, tahu-tahu ia sudah berdiri di samping ajhumma penjaga toko itu untuk menanyakan harga sekaligus membayarnya. Tiffany terus tersenyum, membayangkan ia dan Taeyeon akan mengenakan kalung couple, berbentuk kunci dan gembok yang kini ada dalam genggamannya.

Begitu sampai di hadapan Taeyeon, mendadak Tiffany melingkarkan tangannya di leher Taeyeon dan megaitkan sesuatu. Taeyeon yang tercengang, tidak dapat berkata apa-apa. Hanya menuruti apa yang akan Tiffany lakukan padanya.

“Nah, bagus kan? Ini untukmu dan yang ini untukku.” Ia tersenyum sambil menatap kalung berbandul kunci yang kini melingkari leher mulus Taeyeon. “Bisa tolong pasangkan aku?” Tiffany menyerahkan pasangannya, yakni kalung berbandul gembok yang ia keluarkan dari saku dressnya.

Taeyeon menyanggupi. Dengan sedikit berjinjit, ia melingkarkan tangan di leher Tiffany. Mencoba untuk mensejajarkan tinggi mereka. Dengan high hells (yang entah berapa centi tingginya) yang kini terpaut di kakinya, membuat Tiffany seolah lebih tinggi dari biasanya.

Dengan hati-hati, Tiffany menundukkan kepala agar Taeyeon tak terlalu bersusah payah berjengket.

DEG !

Entah apa yang ada dalam pikirannya. Jantung Taeyeon seolah berhenti sejenak. Wajah Tiffany yang hanya berjarak beberapa centi darinya membuat pikirannya melayang. Tatapannya tersesat jauh dalam kedua bola mata Tiffany. Aroma parfum khas yang menguar dari tubuhnya seolah memabukkan. Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Taeyeon, perasaan yang begitu kuat. Sama seperti saat ia menatap kedua mata Jessica. Rasa itu muncul kembali. Dan bodoh, ia sangat membencinya.

Di lain pihak, Tiffany yang merasa jantungnya seakan mau jebol. Lusinan manusia yang berlalu-lalang seolah hanya background TV baginya. Semua yang dapat ia dengar hanyalah detak jantungnya yang kian berpacu, semua yang dapat ia lihat hanya kedua mata jernih Taeyeon yang dalam. Sekalipun ia tak mampu berkedip. Dan sungguh, ia tak tahu harus berbuat apa-berkata apa. Sorot mata Taeyeon seolah menyedot semua perbendaharaan kata dalam benaknya. Sedetik kemudian, ia memutuskan untuk menunduk. Atau jika tidak, ia dapat memastikan akan ada liang besar berwarna merah yang melubangi kedua pipinya.

“Ah…”

“Uhm…”

Keduanya merasa salah tingkah.

“Kurasa…”

“Kupikir..”

“Kau dulu…” Sela Taeyeon pada akhirnya, menghentikan telepathy battle yang tengah berlangsung dalam benak mereka.

“Em… bagaimana jika kita makan di kedai itu.” Tiffany langsung menunjuk satu kedai yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri, tidak besar namun lumayan untuk mencairkan suasana canggung yang melingkupi mereka.

Taeyeon hanya mengangguk dan tersenyum.

***

Midget!” Taeyeon menoleh saat ada yang memanggilnya, lebih tepatnya mengatainya. Dari ekor matanya, dia dapat melihat seorang gadis cantik dengan rambut coklat terurai tanpa poni. Dengan sepatu nike putih model terbaru dan hoodie hijau yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang kurus, gadis itu berjalan mendekat. Makin lama, ia dapat mengenali wajahnya. Kim Hyoyeon, selain teman kecilnya dan Jessica, ia juga satu kampus dengan mereka. Satu-satunya penghuni asrama yang mengenalnya sejak kecil.

Ne?” Taeyeon tahu-tahu meninju lengannya sampai dia mengernyih kesakitan.

“Ya! Kau ini kecil-kecil tenaganya besar juga ya.. ckckckc..” Hyoyeon berdecak pinggang, merasa geli melihat Taeyeon yang cemberut karena panggilan Midget yang ia dapatkan.

“Kau memanggilku apa tadi?” Taeyeon bersidekap, merasa kesal.

“Hahaha.. Midget.” Tukasnya enteng.

“Ada apa kau memanggilku?” Dari wajahnya yang dibuat kesal, masih tersisa keimutan yang membuat Hyoyeon meledakkan tawanya semakin keras. Dan hal itu berujung dengn Taeyeon yang semakin memonyongkan bibirnya. Cemberut.

“Jangan marah dong… hehe.. Aku ingin meminta tolong padamu, bolehkan?” Hyoyeon menyodorkan sebatang es krim vanila yang langsung membuat wajah Taeyeon kembali berseri-seri.

“Kau mau minta tolong apa?” Taeyeon mulai membuka lapisan yang membungkusi es krim batangannya. Seperti anak-anak, ia membukanya secara perlahan seolah ia takut es krim itu akan dicuri oleh orang lain.

“Dasar Kiddo.” Hyoyeon akhirnya meledakkan tawanya melihat Taeyeon yang melahap es krim itu hingga mulutnya belepotan. “Kau lucu sekali.”

“Jadi, kau mau minta tolong apa?”

“Ah… aku hampir lupa.” Hyoyeon memijat-mijat dagunya. “Bisakah kau mengantarku ke asrama ‘Putih?’

Mendengar kata itu Taeyeon langsung tersedak, seolah sesuatu tidak sengaja memasuki kerongkongannya. “Asrama Putih? Bukankah..”

“Aku hanya ingin bertemu dengan Nicolle.” Jawabnya lugas, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Taeyeon.

“Untuk apa kau menemuinya?” Air muka Taeyeon tampak serius, ia tak ingin membuka kembali lembaran lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Mengenang kembali kenangan yang tak ingin ia kenang.

“Hanya ingin bertemu dengannya, aku janji hanya bertemu dengannya setelah itu langsung pulang.” Hyoyeon menjelaskan tenang, ia tahu apa yang terjadi, ia pun tak ingin membuat gadis itu teringat.

“Baiklah.” Jawabnya lugas dan mantap. Masa lalu hanyalah sebuah kenangan yang tak dapat kembali ia sentuh.

Jinjja?” Seolah tak percaya, Hyoyeon pun mencoba meyakinkan.

Kali ini Taeyeon hanya mengangguk sebagai balasan, iya untuk Hyoyeon dan untuk dirinya sendiri. Merekapun melanjutkan perjalanan pulang dalam kegamangan, tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan Taeyeon yang masih melanjutkan es krimnya yang masih tersisa seperempat.

***

Tiffany membolak-balik daftar menu yang ada di mejanya. Sedari tadi yang ia lakukan hanya menatap jajaran menu yang tersedia di restoran Italia ini. Dia ingin memesan sesuatu, namun masih ragu. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat dinner berdua bersama Taeyeon malam ini. Gugup.

“Apa kau sudah memutuskan sesuatu?” Taeyeon bertanya sambil tersenyum.

Tiffany menggeleng, “pesankan aku apa yang kau pesan.” Tuturnya.

Dia menatap Tiffany lekat, sangat dekat sampai ia dapat membau aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Strawberry. Mengingatkannya pada sesuatu yang dengan susaha payah ia coba lupakan.

Tiga kata yang keluar dari mulut Taeyeon, seolah mematikan fungsi logika Fanny. Sangat lirih, namun cukup keras untuk dapat ia dengar. Tiga kata yang melumerkan hatinya, seperti coklat.

Tiffany tersenyum, kata-kata itu memabukkan pikirannya. Membuatnya seolah melayang. Terasa biasa jika orang lain yang mengatakannya, namun saat Taeyeon yang mengucapkannya, semua seolah berbeda. Membuatnya terbang. “Kamsahae…” Hanya itu yang dapat terlontar dari mulutnya. Dia tak tahu lagi harus menjawab apa.

“Pesan sphageti dua, yang satu tanpa acar mentimun.” Kata Taeyeon pada pelayan yang sudah menunggu di samping mejanya. Seketika Taeyeon menyadari sesuatu. Dia kelepasan.

Air muka Tiffany tampak terkejut. Sesuatu yang mengingatkannya kembali. Jessica benci mentimun. Akhirnya Tiffany menyadari semuanya. Selama ini ia hanya menjadi sebuah bayangan. Penyeling kekosongan dalam hidup Taeyeon.

Dadanya terasa sesak, matanya mulai memanas. Tapi dia berusaha untuk tidak pecah di depan Taeyeon. Dia tidak bisa. Ia hanya terlalu banyak berharap. Sekelumit rasa sakit menyesapi hatinya. Namun, ia harus tetap bertahan.

Ia sadar, selama ini dia hanyalah menjadi sebuah bayang-bayang. Bayangan tanpa nama. Bayangan dari seseorang yang tak ingin ia ketahui. Bayangan yang mengejar sebuah bayangan.

Semua sudah jelas, diapun belajar, untuk tidak berharap.

***

Tiffany merapatkan jaketnya, udara malam ini cukup dingin hingga buku-buku jarinya memutih. Ia terus berjalan walaupun dinginnya angin seolah menusuk sendi-sendi kakinya. Dia sudah memesan taksi selepas jam pulang kampus, namun setelah satu jam menunggu taksi itu takkunjung datang dan hari semakin gelap. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan transportasi seadanya. Jalan kaki. Toh, kalaupun ia harus menunggu lebih lama, ia tak tahu apakah masih ada kendaraan umum atau tidak.

Untuk kesekian kalinya Tiffany melirik jam merah muda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, 09:00 pm. Sebenarnya, ia tak terlalu suka pulang selarut ini. Selain tidak ada kendaraan umum yang lewat, juga suasana malam yang membuatnya bergidik setiap kali melewati jalan yang hanya diterangi lampu-lampu jalanan yang berdaya tak lebih dari 70 watt.

Setelah berjalan beberapa meter dari kampus, Tiffany mendengar suara mobil yang kian mendekat kearahnya. Dia mulai berpikir sesuatu yang negatif. Setapak demi setapak ia melangkah merapat di tepi jalan, berharap semoga dirinya tidak terlihat. Namun terlambat, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapannya. Dengan panik, Tiffany menoleh ke kanan dan kiri, berancang-ancang jika terjadi sesuatu yang mengancamnya, membahayakan hidupnya. Namun tak ada tanda-tanda bantuan. Setidaknya ia masih bisa berlari. Setelah beberapa kejadian mengerikan di asrama akhir-akhir ini, ia sering merasa was-was.

Dirinya sedikit terkejut mendapati sesosok gadis yang berpostur tak jauh berbeda darinya keluar dengan anggun dari mobil itu. Dengan pakaian serba hitam, ia berjalan mendekati Tiffany.

Tiffany berhenti sejenak, memfokuskan pikirannya pada wajah gadis itu. Tampak familiar baginya, namun dengan hanya diterangi sorot lampu yang berada tepat diatasnya. Sedikit sulit bagi Tiffany untuk dapat mengenalinya.

“Unnie..” Gadis itu memanggilnya.

Saat itulah akhirnya Tiffany menyadari, bahwa gadis itu tak lain adalah teman satu asramanya. Yoona.

“Oh… Yoong… Kau membuatku terkejut.” Tiffany merasa sedikit lega, akhirnya tersenyum pada Yoona.

Mianhae Unn jika aku membuatmu takut. Tadi aku melihatmu berjalan sendirian dari kampus, namun aku tidak yakin itu kau. Namun, setelah melihat tas itu.” Yoona menunjuk tas pink yang sering digunakan Tiffany saat pergi ke kampus. “Aku sangat yakin itu kau.”

Tiffany tersenyum, dilihatnya wajah Yoona yang tampak kelelahan. “Kau baru pulang syuting Yoong?” Adik kelasnya itu, berprofesi seorang artis papan atas yang sering membintangi berbagai judul serial drama yang booming di masyarakat.

“Yeah… aku barusaja menyelesaikan dua episode hari ini, jadi besok aku bisa beristirahat. Setidaknya satu hari.”

Terkadang, Tiffany merasa kasihan dengan adik kelasnya itu. Setiap kali ia melihatnya  pulang, wajahnya selalu tampak kelelahan. Mungkin seperti itu profesi public figure. Padahal jika Tiffany melihatnya di layar kaca, ia selalu tampak fresh dan ceria. Sangat kontras.

“Kau harus banyak beristirahat Yoong, badanmu semakin mengecil.” Ujar Tiffany mengingatkan, yang ia ingat beberapa tahun yang lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Yoona. Gadis itu masih tampak lincah dan segar.

Kamsahamnida Unnie, apa kau menunggu seseorang untuk menjemputmu?” Yoona bertanya dengan sopan.

Anio… tadi aku memesan taksi, namun setelah satu jam aku menunggu, taksi itu tidak datang juga.” Tiffany menghela napas panjang.

“Ah, kalau begitu pulanglah bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian selarut ini Unnie, kau ingat. Akhir-akhir ini dunia sangat mengerikan.” Ujarnya sambil bergidik.

“Benarkah tidak merepotkan?” Tanyanya sekali lagi.

Anio.. Lagipula aku juga hendak pulang ke asrama.”

“Baiklah,” Tiffany tersenyum lalu berjalan mendekati Yoona.

Gadis itu membukakan pintu mobilnya untuk Tiffany sebelum duduk di jok kemudi. Dia memastikan segalanya aman, sebelum memutar kunci dan menyalakan mesin mobil. Sepanjang perjalanan pulang, mereka habiskan dengan berbagi cerita. Mulai keseharian Yoona sebagai artis sampai Tiffany yang menceritakan hari-harinya di kampus. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat tawa Yoona yang tampak lepas, seolah tanpa beban.

***

“Mengapa baru datang selarut ini? Siapa yang pulang bersamamu?” Sergah Taeyeon begitu Tiffany membuka pintu kamarnya. Rasa khawatir menyelimuti hatinya.

“Tadi aku harus menyelesaikan beberapa mata kuliah yang belum beres. Aku pulang bersama Yoona.” Tiffany menjelaskan dengan tersenyum, dalam hati ia senang karena secara gambalng Taeyeon menunjukkan perhatiannya. Namun, segera ia menegaskan pada dirinya sendiri untuk tak banyak berharap. Untuk tak lagi memberi dirinya sendiri mimpi yang takkunjung menjadi kenyataan.

“Yoona?” Taeyeon mengangkat kepalanya sejenak dari layar laptopnya yang sedang menyala terang.

“Yeah, tadi aku bertemu dengannya di jalan. Sebelumnya, aku berjalan sendirian dan ia menawariku untuk pulang bersamanya. Dia baik sekali, kupikir semua artis terkenal akan bersikap angkuh. Tapi Yoona berbeda. Dia artis terbaik yang pernah kutemui. ” Terang Fanny sebelum meletakkan tas dan sepatunya di rak lalu merebahkan tubuhnya di samping Taeyeon. “Ahh…. Aku lelah sekali.”

Taeyeon menutup laptopnya, memutar tubuhnya untuk melihat Tiffany lebih dekat. Dia menatapnya lekat-lekat. Pertarungan yang berlangsung tak lebih dari 5 menit itu berhasil meluluhkan hati Tiffany, meruntuhkan pertahanan yang selama ini ia bangun, meluruhkan harapannya untuk tidak lagi berharap. “Kau harus beristirahat, kau kelihatan lelah sekali.” Taeyeon berkata tenang.

Tiffany terkesiap, tidak tahu harus berkata apa. Terjadi konfrontasi dalam benaknya, apakah ia harus merasa senang? Ataukah menahan dirinya untuk tak lagi mengejar bayangan? Ia sudah lelah menjadi bayang-bayang orang lain. Di mata Taeyeon, sudah tak ada lagi ruang untuknya. Dalam hati Taeyeon, hanya terisi satu nama, Jessica. Dan samapai sekarang, ia masih belum tahu. Kapan ia dapat menggantikan nama itu dari hati Taeyeon.

Tanpa menunggu reaksi lebih lama lagi dari Taeyeon, ia segera mengalihkan pandangannya. Menghadap tembok. Bahkan untuk berkedip saja, terasa berat. Matanya terasa panas. Dalam diam, ia termangu. Terlintas jelas di kepalanya saat-saat mereka sedang bersenang-senang di pasar malam. Tanpa sadar, tangannya meremas kalung yang masih melingkari lehernya yang jenjang. Teringat jelas kata-kata yang Taeyeon bisikkan malam itu….

Tiffany menggeleng, barangkali saat itu ia salah mendengar. Teringat kembali saat Taeyeon menatapnya lekat. Kembali ia menggeleng, barangkali ia salah mengartikan. Dan bisikan itu… barangkali ia salah berharap. Waktu itu ia salah. Selama ini ia salah.

Nomu… Yeppuda… Jigeum…

***

“Kau ingat ini?” Sooyoung memainkan gelang berwarna lime berkilauan yang sudah putus pengaitnya.

“Huh?” Tiffany melihat Sooyoung meletakkan benda itu di atas meja didepannya. Raut mukanya berubah serius. Dia tengah menimang-nimang, terasa familiar. Tiffany ingat ia pernah melihatnya, namun dimana? “Darimana kau menemukan benda itu?”

“Di dekat tempat tidur Sunny, pasti ada hubungannya dengan pembunuh itu.” Sooyoung memijat-mijat dagunya, tampak berpikir keras. Ia harus menemukan pelaku dibalik ini semua.

“Jika benar pemilik gelang itu pelakunya, pasti aku mengenalnya. Karena aku pernah melihat gelang itu sebelumnya, tapi entah dimana dan milik siapa.” Tiffany memaksakan otaknya untuk berpikir keras. Menghubungkan berbagai macam kejadian yang mungkin saja memiliki keterkaitan dengan gelang tersebut.

Seketika suatu peristiwa menyusupi pikirannya, serupa kereta yang berjalan mundur. Dua bulan yang lalu, kematian Jessica.

Matanya tajam menatap gadis yang sedang berdiri di sudut ruangan, tampak gelisah dan ketakutan, sedari tadi ia hanya bungkam. Tak mengeluarkan suara, hanya tampak memainkan butiran-butiran mutiara berwarna limau yang melingkari tangannya. Tiffany terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal lain yang menenangkan Taeyeon, jadi ia membiarkan pikirannya melayang, menguap bersama bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya.

“YURI!!!” Teriaknya seketika. Sekilas memori mengampiri pikirannya. “Dia… Iya.. aku ingat betul… saat mayat Jessica ditemukan, Yuri memakainya.” Sergah Tiffany kalang-kabut.

“Kau yakin?” Tanya Sooyong meyakinkan.

“Sangat.. Ayo.. aku punya feeling buruk, sebelum korban lain berjatuhan.” Seketika Tiffany menarik tangan Sooyoung dan menyeretnya berlari menuju lantai dua koridor tiga, paling ujung.

Semoga dia baik-baik saja, batinnya. Sejak pagi ia tak menemukan Taeyeon. Saat ia mencoba menelponnya, justru terdengar deringan di atas tempat tidurnya. Mungkin Taeyeon lupa membawa ponselnya.

Rasa khawatir itu tak urung masih membayanginya. Rasanya, ingin sekali Tiffany segera menemuinya, setidaknya memastikan keberadaannya. Setiap langkah terasa seribu baginya. Tiffany mengeraskan rahangnya, mengeratkan kepalan tangannya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Taeyeon baik-baik saja.

Setelah menaiki anak tangga dan melalui dua koridor, sampailah mereka di pintu bernomor 23. Tepat di ujung. Sambil mengembuskan napas panjang, Sooyoung menyentuh kenop pintunya. Membaca sesuatu untuk menenangkan hatinya sebelum benar-benar membuka pintu itu.

Dalam hatinya, ia berdoa semoga pintu itu tidak terkunci. Dua detik kemudian, doanya terkabul. Perlahan pintu itu mulai terbuka. Didalamnya tak terlihat seperti kamar-kamar mereka. Hanya sebuah lemari, tempat tidur, meja belajar dan sebuah teve. Sederhana. Namun bukan itu yang seharusnya mereka pikirkan sekarang. Barang bukti yang harus mereka cari saat ini.

Mereka bersyukur, karena selain pintunya tidak terkunci, pemiliknyapun pergi entah kemana.

Keberuntungan ada ditangan kita, pikir Tiffany. Segera mereka mengubrak-abrik seisi kamarnya. Tidak tampak

Tiffany mulai putus asa, ditatapnya kembali gelang mutiara lime yang kini berada dalam genggamannya. Kemudian ia teringat satu nama, Taeyeon. Keyakinannya kembali menyala. Ia harus bisa menemukan barang bukti lainnya. Demi Taeyeon.

Dia pun beringsut ke satu tempat yang belum mereka jamah. Meja belajar. Saat ia mencoba untuk mencari sesuatu dibalik tumpukan buku tebal yang berjajar rapi di rak, sebuah buku tipis berukuran A4 menarik perhatiannya, bersampul hitam dengan tulisan bercetak emas diatasnya. Tiffany mencoba mengejanya dalam penerangan seadanya. ‘Death Note’

Secara naluriah, ia meraihnya. Membukannya secara perlahan. Hanya buku biasa, tak berbeda dengan buku-buku berukuran sama lainnya. Namun, begitu ia membuka lembar pertama, ia dibuat terkejut oleh jajaran nama asing yang tak ia kenal. Disamping nama, terdapat tanggal dan… cara kematian. CARA KEMATIAN?!! Ia mengejanya lagi.

Mulai dari gantung diri, minum racun, sampai tusukan di perut. Tak ketinggalan tanggal dan waktu kejadian. Semakin penasaaran, ia membuka lagi buku itu hingga lembar ke 6.

Suara lembaran kertas yang dibuka terdengar mengerikan ditelinganya hingga membuat Tiffany bergidik kengerian. Air matanya seketika merembesi pipinya ketika Tiffany menemukan beberapa nama yang ia kenal dengan jelas.

Jung SoYeon à Bunuh diri menyayat nadi à Selasa, 7 Agustus 2012 : 07:00 pm

Lee SonKyu à Bunuh diri menyayat leher à Jumat, 7 September 2012 : 07:00 pm

Kim Hyoyeon à Minum racun à Minggu, 7 Oktober 2012 : 07:00 pm

Tiffany menatap jam di tangannya 07:35 pm

Dia terperanjat, bagaimana bisa?

Mereka beringsut pergi ke kamar Hyoyeon. Detak jantungnya tak karuan, napasnya memburu. Ia tahu dirinya sudah terlambat, namun ia hanya ingin memastikan. Walaupun perasaanya sudah memastikannya.

Buku itu pun terjatuh, hanya berisi sebuah nama. Namun sangat jelas.

Page 7 : Im Yoona

Tiffany berlari menuju balkon atas, seisi asrama telah ia kelilingi. Yoona. Yang ada dalam kepalanya hanya gadis itu.

Dan Yuri, semua bukti mengarah padanya.

***

 “Tae—Tae—Tae??”

Gadis itu menoleh, menatap Tiffany dengan seringai. Kedua matanya menyala merah dengan wajah pucat pasi. Seketika itu pemukul baseball di tangan Tiffany terjatuh, ia bergeming. Tak menyangka orang di balik semua ini tak lain adalah gadis yang ia cintai. Lidahnya terkelu.

Ne, Fany-ah?” Ia perlahan-lahan melangkah, meninggalkan begitu saja mayat yang masih bersimbah lumuran darah, pisau masih dalam genggamannya. Taeyeon berjalan dengan tenang, mendekati Tiffany yang tengah berdiri dengan kaki gemetar.

Tiffany yang ketakutan perlahan mundur, suaranya parau. Ia memaksakan mulutnya untuk berbicara walau bibirnya seolah terkunci rapat. Namun ia harus bertanya, beribu pertanyaan telah menghujami pikirannya. “Wae Taeyeon-ah?”

Wae? Kau terkejut, huh? Menurutmu, siapa orang di balik semua ini heh? Yuri?? Hahaha…” Ia tertawa hambar. “Aku….” Ia menimang-nimang pisau dengan tangannya kemudian menggoreskan sedikit pada rahangnya hingga meneteskan darah. “Kau masih tak memercayainya, huh?” Taeyeon menyeringai saat ia melihat Tiffany yang masih menggeleng-gelengkan kepala. “Biar kutunjukkan padamu bagaimana caraku bekerja.”

Taeyeon mengayunkan pisau itu didepan hidungnya. “Ingin tahu bagaimana rasanya jika benda ini menyentuhmu, sayang?”

“Tae—Tae… A—Anio… Je—Jebal…” Tiffany semakin melangkah mundur, hingga punggungnya menatap tembok. Ia tak dapat lagi bergerak. “J—Jebal Taeyeon-ah, ireona!” Ia berteriak, namun sia-sia. Suaranya terlalu parau. Rasa takut menyelimutinya.

“Huh? Ireona? Jika aku tertidur, tak mungkin aku dapat melakukan semua itu!” Taeyeon melemparkan mukanya pada sosok yang bersimbah darah di belakang punggungnya. “Kau pikir aku terlalu polos untuk melakukan semua itu? Hah? Semua orang di dunia ini Freak!!! Mereka semua menganggapku anak kecil yang tak bisa apa-apa. Yang tak dapat berbuat banyak..” Matanya nanar. Merah. Seluruh akal sehatnya telah dikerumuni kebencian. “Apa karena wajahku yang terlalu imut? Perlukah aku memermaknya…..” Dengan piawai ia mengasah pisau di wajahnya kemudian menggoreskannya tepat di tulang pipinya. Sangat tenang seolah tak terasa. “Seperti ini?”

Tiffany yang melihat itupun mengernyih, setetes air mata bening mengalir melalui sudut mata kirinya. “Hajima….” Suaranya sangat parau seperti hatinya yang berkecamuk. “Hajima Taeyeon-ah…” Ia hendak menghentikannya, namun kedua tangannya seolah tercekat.

“Hahaha… Tak ada yang mau denganku karena aku anak yang aneh, tidakkah itu menyakitkan Tippany? Huh?” Matanya berkaca-kaca. “Semua orang itu, semuanya orang yang mengabaikanku, menolakku dan membuatku marah!!” Ia tertawa masam. “Mereka semua bangsat! Tak ada satupun yang mau menerimaku apa adanya. Tidakkah itu menyakitkan…. Pany-ah…” Setetes air mata turun di pipinya, bercampur dengan luka yang masih menganga itu, kemudian membuatnya mengernyih karena perih. “Tak ada yang mau mencintaiku…” Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam rasa perih itu. “Bahkan kau… Maka sebelum kau menolakku aku akan membuatmu seperti mereka.”

Tiffany melebarkan sudut matanya. Tak percaya dengan apa yang barusaja ia dengar. “Taeyeon?” Ia merunduk sambil menutup kedua matanya. Jantungnya berdegup kecang, tak keruan. “Saranghae…

Taeyeon tampak sedikit terkejut, namun ia masih dapat mengendalikan emosinya. Otaknya kembali bekerja. “Ne? Micheoso…” Ia mendesah getir “Kau pikir aku bodoh Tiffany, huh? Kau mengatakannya karena kau tak ingin mati. Iya kan?”

“Taeyeon-ah, saranghae….” Ia memberanikan diri membuka mata, menatap gadis itu dengan tatapan menantang. “Jeongmal saranghae…

“Sayangnya sudah terlambat Tiffany… Kau sudah tahu semuanya dan kini kau takut padaku… Iya kan?” Tak mendengar reaksi, Taeyeon pun mendekatkan ujung pisaunya pada leher Tiffany. “JAWAB!! Kau takut kan?”

Tiffany tersudutkan, “A—anio..” Lututnya melemas, secara naluriah ia merosot kebawah. Mendekap kedua lututnya dengan buku di selanya. Ia masih terlalu takut untuk percaya, hatinya berharap semua hanya mimpi belaka. Begitu ia terbangun, ia akan ada di samping Taeyeon dan mendekapnya erat. Ketakutan itu mematikan seluruh fungsi logikanya hingga ia tak sadar dengan siapa ia berhadapan sekarang.

“Huh…” Taeyeon berjongkok, menyamakan tinggi mereka. Menantang ke depan hingga mata mereka saling menatap. Tiffany dapat melihat sakit dan penderitaan dari sepasang mata yang dulunya murni itu. “Mianhae Pany-ah… Saranghae.” Tiffany menutup kedua matanya, ia masih belum siap, kemudian ia merasakan sepasang bibir yang menyentuhnya. Mengecup bibirnya perlahan lalu menyesapnya. Ia terkesiap, matanya terbuka. Menatap sosok mungil itu mencium bibirnya. Ia ingin bereaksi namun tubuhnya seolah tak sejalan dengan pikirannya. Ia tak dapat bergerak, hanya bergeming. Membiarkan bibir Taeyeon menelusuri mulutnya.

Melihat tak ada reaksi, Taeyeon pun mendongakkan kepalanya. Menatap Tiffany dengan nanar. “See?” Taeyeon mencengkram lengan Tiffany kuat. “Kau hanya takut padaku kan Hwang Mi Young? Menyedihkan…” Dari ekor matanya, ia menangkap sebuah buku yang di dekap erat oleh Tiffany. “Ige Mwoya!” Dengan tangkas ia merampas buku itu dari tangan Tiffany, tertegun selama beberapa saat kemudian tersenyum hampa. “Kenapa benda ini ada padamu?”

“A—aku…” Tiffany tak sanggup berkata-kata. Lidahnya terkelu saat ia menatap pisau di depan hidungnya. Ia mengeratkan katupan matanya saat ia merasakan Taeyeon mengacungkan pisau itu.

“Kau mengambil barangku.” Taeyeon mengayunkan pisau itu, lalu perlahan menggoreskannya pada pipi Tiffany dengan putus asa. Akal sehatnya sudah mati, hatinya sudah mati. Dia sudah gila.

Tiffany memekik pedih. Rasa sakit menjalari pipi kirinya. Seketika darah segar keluar dengan luka yang menganga bercampur dengan air mata dari sudut matanya. Menambah perih lukanya. Sengguk isaknya memecah keheningan malam di balkon asrama.

Taeyeon mengayunkan pisaunya tinggi-tinggi, bersiap untuk menancapkan pisau itu pada Tiffany. Otaknya sudah tak mampu bekerja. Ia tak lagi mengenali siapa orang yang di cintainya. Di matanya hanya ada dendam dan kebencian.

Tiffany mempererat katupan matanya, ia sudah pasrah. Kalaupun ia harus mati di tangan orang yang dicintainya. Ia rela. Taeyeon adalah cinta pertamanya, setidaknya ia sudah merasakan ciumannya. Walaupun tak sepenuhnya dapat disebut ciuman. Tiffany menggigit bibir bawahnya keras, mempersiapkan diri dengan tubuh gemetaran. Sebentar lagi, ia akan mati seperti keempat temannya. Ia sudah siap untuk menyusul mereka. Walaupun masih mengejutkan. Lama ia menutup mata, namun takkunjung merasa sakit yang seharusnya ia rasakan. Ataukah ia sudah mati, ia tak sanggup lagi berpikir. Tubuhnya tidak merasakan apapun.

Perlahan, ia membuka kedua matanya. Memperjelas pandagan yang masih kabur. Ia terperanjat. Membelakkan mata saat ia mendapati tubuh Taeyeon tengah terkulai lemas di lantai. Ia melihat sepasang kaki didepannya dan Yuri tengah berdiri dengan pemukul baseball di tangannya. Tiffany menatapnya masih tak percaya. Ia menatap tubuh Taeyeon. Menggoncangnya namun tak bergerak. “Micheoso!!” Teriaknya.

“Dia yang gila!! Aku tahu kalian semua mencurigaiku? Wae? Harusnya kau curiga padanya!! Orang yang kau cintai, bukan aku..” Jeda sejenak sebelum ia kembali melanjutkan. “Aku selalu membuntutinya.. Aku mencintai Jessica, dan dia membunuhnya. Jessica tak berdosa. WAE??” Dia tersenyum kecut saat tak ada balasan yang keluar dari mulut Taeyeon.

Yuri mengacungkan pisau, hendak menusuk tubuh Taeyeon, amarahnya meluap. Sudah bertahun-tahun ia menyukai Jessica. Ia bahkan rela pindah ke asrama itu demi Jessica. Namun ia menemukan tubuh Jessica terbunuh di tangan Taeyeon tepat sehari sebelum ia sempat mengungkapkan perasaannya. Saat pisau itu hampir mengenai tubuh Tayeon, sepasang tangan menghalaunya. “Hajima… Jebal…” Suara parau itu meronta, terisak. Memohon belas kasihannya. Tiffany mencengkram lengan Yuri dengan erat. Matanya mengiba. Ia tak sampai hati melihat orang yang sangat ia cintai terbunuh di depan matanya. Ia tak sanggup. “Jebal Yuri-ah…” Sengguknya sambil terisak. “Hajima…

Yuri menatap kedua mata Tiffany, melemah. Ia melihat sosok Jessica dalam mata itu. Mengiba. Tangannya melemas, ia memalingkan muka.

Saat ia sudah tak lagi merasakan tenaga pada tangan Yuri, Tiffany akhirnya melepas tangan itu. Tangis Tiffany kemudian pecah, ia masih tak merelakan jika Taeyeon harus pergi meninggalkannya. Menggoyangkan tubuh itu dengan tak keruan. Setelah tak mendapat respon, ia pun memeluk tubuh itu erat. Menangis pada cengkok leher Taeyeon. “Taeyeeooooonnnn!!” Pekiknya diiringi isak tangis memilukan.

Yuri memalingkan muka dari adegan dramatis itu. Setelah menatap kedua mata Tiffany, seketika ia teringat pada Jessica. Seolah gadis itu adalah Tiffany. Kepalanya memutar adegan mengerikan saat gadis yang di cintainya itu terbunuh. Ia melihat semuanya. Bagaimana Taeyeon dengan tega membunuh gadis tak berdosa itu.

“Fany-ah!!” Sooyoung berlari di belakang mereka, hendak memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Namun ia terlambat. Ia terperanjat saat melihat mayat Yoona bersimbah darah dan Tiffany yang menangis sambil memeluk tubuh Taeyeon yang tengah terkulai lemas,  sedang Yuri tengah berdiri di depan mereka dengan menggenggam pemukul baseball. Lalu pisau berlumur darah di tangan Taeyeon. Sudah menjelaskan semuanya. Dengan napas terengah akibat berlarian, ia jatuh bersimpuh. Otaknya menolak bekerja. Pemandangan tragis di hadapannya sudah cukup baginya. Ia hanya sanggup menangis hening. Air mata terus mengalir melalui kedua matanya membasahi pipinya. Hanya isak tangis kepedihan Tiffany yang memecah keheningan dari atmosfer mengerikan di sekitar mereka. Duka. Luka. Semua berawal dari kebencian. Dan kini, hanya isak tangis yang menemani mereka. Tak ada yang patut di salahkan. Mungkin semua sudah takdir Tuhan. Hanya mereka bertiga dan tembok-tembok bisu yang menjadi saksinya. Betapa pedihnya kehilangan orang yang dicintainya. Tak banyak yang dapat mereka lakukan. Hanya menangisi semua yang telah terjadi. Membiarkan semua emosi meluap. Saat nyawa yang menjadi taruhannya.

***

2 Years latter.

Harum bebauan khas obat-obatan itu menguar di hidungnya. Tembok-tembok putih dengan pintu bening telah familiar baginya. Tiffany berjalan dengan menenteng rantang biru bergambar dookong kesayangan Taeyeon. Ia menatap sekali lagi dirinya di depan kaca bening, meluruskan pakaiannya dan merapikan rambutnya. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Ia melangkah dengan tegap menuju kamar bernomor 27. Di persimpangan koridor, ia bertemu sesorang yang sudah ia kenal 2 tahun lamanya.

“Bagaimana kondisinya?” Tiffany membungkuk dan menatapnya sambil tersenyum.

Pria berjas putih itu mendesah. “Sama seperti sebelumnya…” Tiffany sudah terbiasa mendengar jawaban itu. Setiap kali mereka bertemu kalimat itu tak pernah absen di telinganya. Namun ia selalu berusaha tegar. Memaksakan diri untuk tersenyum dan kembali membungkuk.

Pria itu mengangguk dan tersenyum, menepuk bahu Tiffany sebelum kembali berjalan menyusuri koridor. Tiffany mengeratkan katupan bibirnya, berusaha untuk menahan air mata kering yang sudah meluap di pelupuk matanya. Menatap langit-langit untuk memasukkan kembali cairan itu. Ia harus tegar, harus kuat. Selama dua tahun ia tak pernah menyerah.

Setelah dirasa cukup, ia kembali melangkah melewati tiga ruangan di samping kirinya. Menghela napas dalam sebelum membuka ruangan itu, masih rapi, masih putih. Tak berubah. Semua perabotan tak berpindah tempat. Perlahan, ia menutup pintu di belakangnya, kemudian meletakkan rantang di meja dekat jendela, dimana seorang gadis mungil tengah merenung menatap jalanan luar. Gadis itu masih bergeming, menolak untuk berkata, menolehpun ia enggan. Tiffany kembali mendesah, ia sudah terbiasa. Setelah meletakan rantang, Tiffany membuka tasnya. Mengambil satu buket bunga lily yang masih segar. Kemudian meraih vas bunga layu yang berisi bunga serupa. Membuang bunga layu itu di tempat sampah kemudian menggantinya dengan yang masih segar. Ungu. Ia menyukainya. Tiffany tersenyum saat ia mengingatnya. Matanya menatap kalender duduk yang tergeletak di sudut meja, sudah lewat akhir bulan. Tiffany meraihnya lalu membalik kalender bulanan sebelum kembali meletakannya di tempat semula.

“Taeyeon-ah… Bagaimana keadaanmu?” Tangan Tiffany dengan cekatan merangkai tangkai-tangkai bunga itu hingga tersusun sempurna. Cantik. Ia tersenyum saat tak mendapat balasan.

Tiffany berbalik, menatap sosok yang tengah mematung di tepi jendela. Ia menatapnya, menggenggam tanganya dan menangkup wajahnya hingga mata mereka saling bertemu tatap. “Taeyeon-ah… Jeongmal bogoshipo…” Ia tersenyum, mengusap lembut pipi itu.

Taeyeon tak merespon, pandangannya kosong. Tak bergerak, tak berkata, tak tersenyum, layaknya patung. Tiffany mendekatkan wajah mereka, mencium kening Taeyeon dengan lembut kemudian mendekapnya. “Kau ingin aku memandikanmu lagi, huh?” Tiffany melepaskan dekapannya, kembali menatap matanya. “Taeyeon-ah… dengar… aku… akan menunggu, sampai kau sembuh, sampai kau mau berbicara lagi padaku, sampai kau keluar dari sini. Aku akan tetap menunggumu, sampai kapanpun.” Sekuat tenaga Tiffany mencoba untuk menahan rasa sesak di dadanya. Ia ingin menangis, tapi tidak di sini. Tidak di depan Taeyeon, ia sudah berjanji. Takkan menangis di depan gadis itu, dan menyebabkan lukanya semakin dalam. Tiffany mencoba tersenyum, meyakinkan Taeyeon bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dengan itu, perlahan Taeyeon akan mau melepaskan semua luka batinnya dan memulai hidupnya bersama Tiffany. Setidaknya ia telah mencoba.

Setetes air mata hening mengalir dari pipi Taeyeon, pandangannya masih kosong. Ingin sekali ia bersuara, namun pita suaranya seakan menghilang. Seluruh tubuhnya seolah membatu. Ia tak dapat bergerak, di depan Tiffany ia sangat lemah. Bahkan untuk menggerakkan tanganpun, ia takkuasa.

Uljima Taeyeon-ah…” Tiffany kembali berdiri kemudian mendekapnya. Mencium ujung kepalanya, mencium bau shampo lily yang masih baru, menguar di rongga hidungnya. “Uljima…” Ia masih berusaha tegar, namun suara yang keluar dari tenggorokannya kian parau. “Percayalah… aku takkan pernah meninggalkanmu.” Ujarnya tulus, lebut dan murni tanpa pretensi, hipokrisi. Ia menggesekkan pipinya pada rambut Taeyeon yang sudah semakin panjang. “Saranghae…” Ia tak lagi dapat menahannya, air matanya yang sempat tertahan, kini akhirnya tumpah. Setelah dua tahun berjuang menekan perasaannya di depan Taeyeon. Seketika tangisnya pecah. Ia tak lagi berkata, meredam isaknya yang sudah tak sanggup lagi ia sembunyikan diam-diam. Tiffany membiarkan air matanya mengalir begitu saja tanpa suara. Tangis hening.

Tanpa mereka tahu, sepasang mata mengamati mereka di balik pintu. Mengamati adegan dramatis itu dengan senyum kecut. Ia hanya dapat melihat dari balik pintu, tak ingin membuka kembali luka lama yang masih belum mengering. Sakit di hatinya masih menganga, ia tak sanggup untuk mengingat ataupun melupakannya. Terlalu menyakitkan. Ia memalingkan muka, melangkah tanpa suara meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan adegan memilukan tersebut.

“Taeyeon-ah…” Tiffany kembali berjongkok dan menggengam erat kedua tangan Taeyeon. “Mianhae, tapi aku harus pergi sekarang. Jika pekerjaanku selesai lebih cepat aku akan mengunjungimu minggu depan. Tapi jika tidak, aku akan kemari lagi bulan depan.” Ia mengusap pipinya yang masih lembab bekas air matanya. “Jaga dirimu baik-baik…” Dengan lembut, ia mencium sudut bibir Taeyeon. Perlahan mengecup kecil bibir yang kini telah memerah itu. Walaupun tanpa balasan Tiffany tetap melanjutkan. Mengisap bibir bawah Taeyeon dan medorong lidahnya tepat di sela bibir Taeyeon membuat gadis itu membuka sedikit mulutnya sehingga Tiffany dapat menjelajahi apa yang terdapat di dalamnya. Taeyeon tetap tak bereaksi, hanya membeku. Namun Tiffany sudah terbiasa dengan itu, melakukannya sendiri. Menelusuri mulut Taeyeon tanpa henti. Dengan gigitan kecil pada bibir atas Taeyeon, Tiffany melepaskan ciumannya. “Aku janji… akan kembali.” Ia tersenyum simpul.

Taeyeon bersandar di tempat favoritnya. Tepi jendela. Matanya menatap kosong kearah lusinan manusia yang berlalu lalang, tersenyum, marah, menangis, kecewa. Banyak hal yang tak dapat ia lakukan. Sedetik kemudian matanya menangkap pemandangan yang membuat ngilu hatinya. Dari ekor matanya, ia melihat Tiffany tengah berjalan bersama Yuri. Gadis itu tengah terisak, dengan Yuri yang melingkarkan tangannya pada bahu Tiffany, mencoba menenangkan di tengah senguknya yang tak beraturan.

Dengan geram, Taeyeon meremas selembar kertas yang Tiffany berikan padanya. Meremasnya hingga menjadi gumpalan yang sangat kecil, seolah semua kemarahan ada dalam gumpalan kertas itu. Dengan lunglai, ia menjatuhkan tangannya. Kepalan kertas itu menggelinding di bawah kolong tempat tidurnya hingga menatap pada sebuah buku berwarna coklat. Seolah mengerti, angin berembus melalui jendela menghempas dan melayangkan rambut Taeyeon hingga berantakan. Kertas itupun semakin menggelinding oleh terpaan angin. Secara bersamaan, buku yang tengah tergeletak itu terempas angin dan terbuka. Selembar demi selembar hingga membuka sempurna pada satu halaman.

Death Note :

Page 9-Kwon Yuri

♥END♥

 

Iklan

84 thoughts on “DeeTae©Tiff [Death Note] [Part 2/2 END]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s