One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Once Upon a Time [One Shoot]

Author           : Shin Min Rin as Sasyaa95

Title               : Once Upon a Time

Genre             : Romance, friendship

Cast                : TaeNy

Length           : 1 Shoot

Warning        : The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

Tiffany POV

Wajahku serasa terbakar bara api. Kututup browser pada tablet berwarna pink yang sedang ku genggam. Barusaja aku selesai mengunduh beberapa video yang akhir-akhir ini kugemari. Sebenarnya, jika diingat-ingat konyol juga. Tapi aku menyukainya entah mengapa. Semua itu seolah candu yang menggerogoti pikiranku secara perlahan, menyumbat saraf sensorikku hingga yang ada dikepalaku hanya ia seorang. Membuaiku dengan momen-momen palsu yang hanya berputar dalam kepalaku. Semua yang kulakukan, semua yang kulihat dan kubaca, seolah terikat dengannya. Rasanya, takkuasa jika aku harus mengeluarkan semua isi kepalaku yang hanya terpaut satu nama.

Kutancapkan hijack earphone berwarna pink dari sakuku, perlahan jemari lentikku menggeser layar hingga tertera folder download yang barusaja kusimpan. Kuketuk dua kali dengan kukuku yang bercat merah jambu hingga menampilkan beberapa file berwarna ungu berbentuk jejak kaki dengan berbagai macam judul.

Kutekan tombol enter dan langsung menampilkan satu layar penuh kemudian berputarlah sebuah gambar dimana aku dan dia tengah beradu tatapan, berbagi sentuhan, hingga beberapa potong gambar-gambar yang di tata seolah kita tengah menjalin sebuah hubungan lebih dari seorang sahabat.

“Itu hal yang biasa kita lakukan sehari-hari.” Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku, seolah ucapannya adalah pisau yang terus menancap dalam hatiku, menghujamku dengan renjana-renjana yang terus membobardir detak jantungku untuk berhenti berpacu.

Aku ingin marah, tapi semua itu kenyataan. Aku ingin protes, namun apa daya. Apa yang akan kuprotes jika semua momen-momen manis itu hanya berputar dalam kepalaku, membuatku bergeming akan sentuhan yang seharusnya kurasa namun tak terjadi.

Dengan berat hati kupaksakan senyumku, melihat betapa fans menginginkan apa yang seharusnya tak terjadi. Iya, benar… kami hanya melakukan semua itu demi fan service, ia sendiri yang mengatakannya beberapa hari yang lalu. Ingin sekali ku tonjok wajahnya saat mengatakan hal itu di depan mukaku. Apa? Mengapa? Bagaimana? Hanya pertanyaan itu yang terus membelengguku dari kekalutan ini.

Apa yang harus kulakukan? Mengapa hatiku bisa seperti ini? Bagaimana aku harus melakukan semuanya. Apakah… Apakah aku mulai menaruh hati padamu? Hingga setiap detik membuatku haus akan buaian semu yang kau sebut dengan fan service tersebut? Menggunakanku hanya untuk kesenanganmu. Menarikku kedalam oase yang membuatku sulit untuk mengeluarkan diriku dari tatapanmu. Berada satu panggung berdua denganmu bukanlah hal yang mudah kulakukan. Apakah ini? Aku harus mengkhianati Sone, apakah ini caramu memperlakukan mereka? Memberinya konsumsi maya yang hanya tampak dimata namun lain di hati.

Agh.. semua ini membingungkanku. Momen-momen yang bertebaran di berbagai situs apakah semua itu hanya buaian belaka?

“Apa yang sedang kau lakukan?” Sebuah suara mengaggetkanku dari belakang, sontak kumasukkan kembali tablet kedalam saku hoodieku yang kebesaran, membuatku semakin terlihat bodoh.

Anio…” Jawabku singkat, memperlihatkan raut muka sedatar mungkin.

“Apa kau melihatnya kembali?” Aku mengernyitkan alisku, apa? Apa maksudnya?

“A—Apa maksudmu?” Kurasakan tubuhku gemetar, oh tuhan.. tidak.. tidak sekarang. Aku belum siap.

“Dua hari yang lalu aku menemukan tabletmu tergeletak diatas meja saat kita selesai MC-ing, aku tak sengaja membukanya dan menemukan beberapa file yang mengejutkanku. Juga….” Ia berkata seolah hal itu bukan masalah serius. Memang tidak untuknya, tapi sangat bagiku. Bagaimana, bagaimana caraku untuk bersikap normal dihadapannya?

Aku menundukkan kepalaku, menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan, sesal campur malu menyeruak dalam batinku. “Mianhae…

“Untuk apa? Kau tak perlu meminta maaf padaku…. Kau tak melakukan kesalahan apapun.” Ia menatapku lembut. “Aku takkan menyalahkanmu hanya karena hal-hal semacam itu, kau berhak untuk melakukan apapun yang kau mau, aku hanya… sedikit terkejut, karena ternyata…” Ia tak menyelesaikan ucapannya, ia tersenyum seolah menyembunyikan sipunya. “Sudahlah.. lupakan, kita harus bersiap untuk menghadiri fans sign dan beberapa acara untuk persiapan SM Town World Tour.” Ia mengeluarkan tabletnya, mengerutkan wajahnya di balik tablet yang sama denganku hanya dalam genggamnya berwarna ungu. Wajahnya yang berkedut tampak mengelikan dari balik benda itu. Menatap jajaran angka dan tag event yang sengaja ia catat dalam note yang tertera pada layar tabletnya. Aku membalasnya dengan seulas senyum, mengembangkan garis dibibirku dari telinga ke telinga. Mengagguk, hanya itu yang kulakukan sebelum bangkit dan memakai sepatuku yang sengaja kuletakan bersebelahan dengan miliknya, berharap kebetulan menghampiriku, kemudian kita memakai sepatu secara bersamaan, bersentuhan dengan kulitnya yang dibasuh susu setiap mandi, berbagi senyum dan beradu tatap, berharap aku dapat membelai pipinya seperti yang kuimajikan dalam kepalaku.

Namun, semua itu hanya angin lalu. Sama seperti saat ia berjanji padaku empat tahun yang lalu. Tepat satu tahun kita debut sebagai SNSD. Saat itu, dimana ia mengatakan padaku bertepatan dengan ulang tahunku yang ke 20. Janji yang kan selalu kuingat, yang telah terukir dan membatu dalam hatiku. Kau mengatakannya dengan begitu tulus, membuaiku dengan rayuan semu dan berjanji takkan kau ingkari. Saat kau memberiku besi untuk mengunci hatiku, memberikannya pada orang yang tepat. Saat kau berkata akan menjaga kunci itu, sampai akhirnya kelak kau akan memberikannya pada orang yang tepat, yang terbaik untukku.

Tanpa kau sadari, hal itu telah membuatku menaruh harapan sepenuhnya padamu. Tak seorangpun yang pernah kau ijinkan untuk berkencan denganku. Kau menggenggam kuat besi berkarat itu. Mengalungkannya pada lehermu, berulang kali kau berucap. Mengatakan bahwa suatu saat nanti aku akan menemukan seseorang yang tepat untukku. Tapi nyatanya, kau tak pernah berkata siapapun yang dekat denganmu, taukah kau aku begitu terluka? Sejak kapan muncul kepura-puraan diantara kita?

“Fany-ah….” Sepasang tangan hangat menyentuh pundakku, menarik pikiranku kembali dari busur memori yang melekat dalam relung langit kepalaku. Aku tersentak, menatap ujung jariku yang baru seperempat masuk kedalam sepatu. Aku menyengir, mendapatinya menyadari kebodohanku.

“Jangan terlalu kau pikirkan…” Ia tersenyum sebelum berlalu, berdiri di sisiku, memakai sepatunya dengan rupa muka menggemaskan, ingin sekali kucubit pipinya. Kulit kita bersentuhan, seperti yang setiap kali kuimajikan. Kulihat matanya tersenyum, memancar layaknya sinar mercusuar yang menerangi malam. Bibirnya yang merah delima membentuk seulas seringai, sungguh menggemaskan. Tuhan, jika kau ijinkan sekali saja untukku mengecup sepasang daging berisi yang meminta, memohon, berharap sentuhanku.

Aku hanya dapat menatap punggungnya, menjauh, semakin menjauh dariku. Mungkin semua ini hanya efek sesaat. Kedekatan kita yang kau anggap tak lebih dari biasa. Aku tak ingin berharap, meski hatiku mengiba. Apapun yang terjadi antara kita, kumohon kau untuk tak memberiku secercah harapan. Yang hanya akan membawaku dalam kepura-puraan belaka.

*-*Tae♥Ny*o*

Taeyeon POV

Kueja sekali lagi jajaran huruf yang berderet di layar tabletku, memastikan indra penglihatanku masih berfungsi dengan normal. Tiffany dan Shiwon. CF di Thailand. Minggu depan. Pesan singkat yang dikirim Oppa begitu ringkas, namun tak dapat menggambarkan begitu meluapnya emosiku. Kucoba tetap tersenyum, walaupun sedikit dipaksa. Aku tak ingin egoku membebankan rasa bersalah padanya. Aku tahu, tak seharusnya kurasakan perasaan ini. Aku terlalu pengecut. Hanya menariknya kedalam duniaku, mencari kesempatan sebelum kembali melepasnya. Membuatku gila…

“Ehm…” Aku mendentingkan sendokku diatas piring sambil berdeham, menatap satu persatu memberku dengan wajah serius. Kuamati gesture mereka tak lebih baik dariku. Maknae yang tengah serius memilah-milah batang sayur di pinggiran piringnya pun ikut mendongakkan  kepala. Aku menelan salivaku sekali lagi, menata kembali kata-kata yang sudah kurangkai sedemikian apik. “Aku ingin memberitahukan tentang jadwal kita minggu ini dan depan.” Kupastikan kata-kataku tenang tanpa emosi.

“Bisakah kita tidak membicarakan pekerjaan di meja makan?” Sica menatapku dengan ice glare-nya. Menyisihkan bulatan yang kurasa sejenis timun-timunan dengan sumpitnya sambil menyumpal hidung dan menunjukkan raut mengerikan. “Siapa yang memasak pagi ini?” Ia menatap member satu persatu kemudian berakhir tepat didepanku dengan tatapan menuduh.

Aku mengangkat bahu sebagai respon sebelum kembali melanjutkan ucapanku yang sempat terpotong. “Aku harus membicarakannya sekarang, karena setelah ini aku tidak ada waktu.” Ujarku singkat sebelum megeluarkan tablet dari pajama keroro kebesaran yang di hadiahkan Seohyun untukku.

“Memangnya kau mau kemana?” Tiffany angkat bicara, mencoba mencermati pikiran dan gesture tubuhku. Hal yang selalu ia lakukan saat berada di dekatku.

“Kurasa, itu bukan urusanmu nona manis, yang harus kau lakukan hanyalah duduk dan bersiaplah dengan jadwal padatmu.” Tukasku sarkastis. Bodoh.. kata-kata itu mengalir begitu saja tapa terbesit di pikiranku. Rancu.. semua terasa begitu elusif.

Ia mengernyitkan alis sambil melihatku dengan tatapan tentatif. Kurasa, dia sedang mencoba mencerna perkataan pedas yang kulontarkan tanpa alasan yang jelas. Tak hanya dia kurasa, kini semua member melakukan hal yang sama. Segera kulayangkan seulas senyum untuk mengikis udara yang terkontaminasi pagi ini. “Tae…..Tae?” Ia memiringkan kepalanya dengan sudut 45 derajat.

“Lupakan… sekarang kembali ke topik awal, aku akan membacakan jadwal kita.” Sambungku sebelum mereka mengorek informasi lebih dalam lagi. “Sehubungan dengan SM Town yang akan menggelar World Tour-nya, kita bersiap melangsungkan sesi pemotretan bersama SM Artists yang lainnya.”

Onjae?” Yoona tiba-tiba menyela ucapanku. Sejurus kemudian, ia merundukkan kepala saat menyadari kelacangannya.

“Besok… dilanjutkan Fan Meeting untuk meyambut 5th Aniversary So Nyeo Shi Dae dan 24th Tiffany’s birthday… kemudian…” Ku coba tersenyum sejenak, kembali mengatur kata-kataku agar tidak terdengar rancu.

“Kemudian?” Hyoyeon menatapku sungguh-sungguh.

“Kemudian… Tiffany akan melanjutkan syuting CF di Thailand…” Aku seolah kehabisan kata-kata untuk melanjutkannya.

Na?” Ia menunjuk dirinya sendiri, terkejut.

“Apakah hanya Tiffany?” Yuri buka suara. Diikuti Sunny yang melepaskan earphone dari telingannya, tampak lebih serius mendengarkan.

“Hanya aku Tae?” Tiffany merundukkan kepala, mungkin ia merasa bersalah dengan member yang lainnya, pasti sebentar lagi ia akan memintaku untuk membatalkannya demi menjaga perasaan member lainnya, seperti yang biasa ia lakukan.

Aku tak menjawab, lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa. Ceplosanku tadi secara tak langsung sudah menegaskan semuanya.

“Yeah… Setidaknya aku tidak perlu mengurangi jatah tidurku.” Jessica menyandarkan kepala di atas meja, kembali tertidur tanpa berpikir untuk melanjutkan makannya yang baru seperempat.

“Kurasa aku—…”

“Tiffany sebagai perwakilan SNSD.” Potongku sebelum ia merajuk.

“Huh, jadi maksudmu ada perwakilan girlband lain begitu?” Shikshin pun ikut-ikutan meninggalkan kesenangannya.

“Lebih tepatnya boyband, SuJu Oppa…” Aku kembali meraih sendok dan garpu yang kuletakkan di samping piringku. Mencoba menghindari tatapan kontemporer mereka yang penuh tanda tanya besar.

Nugu?” Ya Tuhan, ijinkan aku untuk tak menjawabnya. Aku tak ingin pecah di depan mereka. Aku takut suaraku akan terlalu pelan atau terlalu keras untuk menyiratkan emosi yang kupendam. Aku hanya tersenyum, senyum termanis yang pernah ku suguhkan.

“Taeyeon Unnie?” Yoona menarik pikiranku kemabali dari dunia fantasiku. “Tiffany Unnie bertanya padamu…” Ia memberiku isyarat dengan anggukan dagunya pada Tiffany.

Mata kita saling bertatapan dengan pancaran mata yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Entah, ragu, takut juga gelisah. “Ne? Um…” Segera ku putuskan eye-battle yang takkan berujung jika di teruskan. Ku buka lagi tablet yang tadinya sempat ku letakkan di samping piringku. Membuka kembali pesan singkat yang kuyakini takkan berubah, tak peduli berapa kalipun kubuka. Nama itu tetap sama. “Shiwon…” Sahutku dengan antipati.

Ne??” Ia terperanjat dari kursinya. Pisau ditangannya pun perlahan merosot dan menyebabkan dentingan yang melengking nyaring beradu dengan lantai marmer. “Sh—Shiwon Oppa?” Ia bertanya setengah terkejut.

Aku kembali tak menjawab, hanya mengangguk sebagai balasan. “Unnie, hati-hati dengan benda itu…” Aku dapat melihat Maknae yang kewalahan meraih pisau itu dari sudut mataku. Namun Tiffany tak menghiraukannya, sepertinya dia masih sibuk dengan pikirannya. Mungkinkah?

[Flashback]

“Dimana Tiffany? Bukankah seharusnya ia sudah berada disini?” Aku bertanya pada Maknae yang sedang membantu merapikan kembali tatanan property MC yang akan ia gunakan.

“Tadi dia berpamitan padaku keluar sebentar untuk menemui seseorang.”

Nugu?” Kulirik kembali jam di pergelangan tanganku, tiga puluh menit lagi atau kita akan terlambat syuting dan pihak stasiun TV akan menuntut kami. Ku antukkan ujung sepatuku dengan lantai. Menunggu, satu hal yang kubenci.

“Entahlah, dia tak memberitahukannya padaku.” Seohyun tersenyum setelah berhasil mengikat box besar berisi benda-benda MC-ing dengan pita merah muda. “Mengapa kau tak mencoba menghubunginya saja.”

Matta!! Kenapa tak terpikir olehku? Aku mengangguk kemudian meraih tabletku yang tergeletak di samping meja rias lalu menekan speed dial nomer 2. Menempelkan layar benda itu di telingaku, menunggu dengung itu berubah menjadi suara yang lembut.

One, two nae maemi three, four sumkyori five, six ommoni.. neoman bomyeo keoro

Du nuneul karilsurong niga deo jalb0yeo (its you… its you)

Nae du kwireul mageulsurog jongil neoman deullyeo

Ne nunbit ilgeonaegi eoryowo…

Aku mengernyitkan alis saat kudengar lantunan lagu kita yang semakin meredam. “Unnie, ku rasa Tiffany Unnie meninggalkan Ponselnya dalam tas.” Maknae datang menghampiriku dengan tas Tiffany yang di kalungkan pada lengannya. “Ini…” Ia menyerahkan benda persegi berwarna pink itu padaku.

Ku buka resleting tas itu kemudian mengambil tablet dengan warna senada. Tersenyum saat namaku tak berubah di layar ponselnya sampai sekarang. YwifeyY

Ada sesuatu yang menarik perhatianku saat jemariku tak sengaja menyentuh menu inbox.

Ku tunggu di depan gedung MBC. –Shiwon Oppa-

Hal itu memancing rasa penasaranku. Dengan tergopoh, kupercepat langkahku menuju auditorium. Ponselnya masih berada dalam genggamanku. Ku eratkan bibir saat ujung kakiku sudah menyentuh lantai dingin. Menghela napas dalam sebagai antisipasi tentang apapun yang kan kulihat nantinya.

Sebelum langkahku semakin menjauh, kulihat dua figur saling beradu tatap dari tempatku berdiri. Aku menyembunyikan tubuh mungilku di balik tembok balok raksasa yang berdiri kokoh di lantai dua. Dari luar auditorium aku dapat melihat dengan jelas pemandangan di tempat parkir mobil.

Entah mengapa hatiku semakin sesak, melihat jarak di antara mereka yang semakin dekat. Shiwon maju selangkah mendekati Tiffany, sudah dapat kuduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berbalik, mengeratkan genggaman ipadnya yang ku tekankan pada dadaku, mencoba meredam rasa sakit yang sudah menyeruak, meminta untuk berteriak.

Kedua lututku sudah melemas, hingga tak lagi kurasakan tulang yang melekatinya. Tubuhku merosot, meringkuk di balik pilar raksasa. Mendekap kedua lututku dengan mata nanar, sudah tak sanggup lagi ku bendung cairan kristal yang sudah menyembul di pelupuk mata. Ku benamkan wajahku tenggelam di antara pahaku, menyembunyikan amarahku yang sudah memuncak, perasaanku bak dicampur aduk. Bingung, marah, kecewa, semua melebur jadi satu hingga tak lagi kurasakan detak jantungku. Semua terasa begitu berat, bahkan untuk menarik napaspun dadaku terasa sesak. Baju yang kukenakan mendadak semakin menyempit, hingga tak menyisakan ruang untukku memasukkan udara, seolah tak mengijinkan molekul oksigen itu menempati ruang vital dalam tubuhku.

Kuseret langkahku memasuki ruang ganti MC saat ponselku bergetar, satu pesan singkat dari Maknae yang menyuruhku bergesa menemukan Tiffany lantaran waktu yang kami miliki hanya tersisa 5 menit lagi. Bimbang. Haruskah aku menemuinya, dan yang artinya aku harus bertatap muka pada mereka dengan mata nanar?

Kuputuskan untuk menghampirinya. Saat aku berbalik, kulihat Tiffany melambaikan tangan ketika pria itu memasuki mobil dan pergi. Seketika itu aku tahu apa yang akan dia lakukan. Aku harus kembali sebelum ia mendapatiku berada disini dan tengah memata-matai mereka. Sebelum Tiffany sempat berbalik dan memasuki gedung. Kaki mungilku sudah terlebih dulu menemukan jalannya untuk menyelinap dalam pintu samping auditorium yang berhubungan langsung dengan ruang utama gedung itu. Aku berlari secepat kilat, tak ingin kedahuluan olehnya dan mendapati mataku yang masih memerah.

[Flashback End]

“Kapan jadwal pemotretan kita?” Hyoyeon tiba-tiba muncul dari dapur, membereskan sisa-sisa kotoran yang masih tersisa di meja. Kurasa aku telah termenung sekian lama, hingga tak kusadari sekarang meja makan begitu bersih tanpa noda.

“Setelah ini. Kalian bersiaplah.” Kulayangkan seulas senyum sebelum bangkit kemudian berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian.

“Bagaimana dengan Shooting IY ku?”

“Dan drama baruku?” Sooyoung menimpali.

“Presedir sudah membicarakannya padaku dan kalian di ijinkan untuk menyelesaikan pemotretan setelah itu baru melakukan kegiatan individu.” Terangku sebelum menutup kenop pintu. Menghela napas dalam sebelum menguncinya dan mulai melepaskan pakaianku satu-persatu.

*-*Tae♥Ny*o*

Author POV

“Sedikit condong ke kiri.” Kru pemotretan itu terus saja memerintah untuk memperbaiki posisi mereka demi mendapatkan angle yang terbaik. “Bagus… sekali lagi…. Dan…”

Cklik…

Setelah memastikan hasil jepretannya sempurna, ia membungkuk sebelum mengucapkan terimakasih pada bintang-bintang dan kru yang telah membantunya.

Taeyeon merogoh kantong tas selempang yang ia letakkan di sofa tak jauh dari tempat pemotretan. Satu pesan singkat yang ia terima dari Tiffany membuatnya gamang. Ia mengeja sekali lagi jajaran huruf itu, berharap kata-kata itu berubah makna.

Aku pergi sebentar bersama manager untuk membicarakan syuting CF ku di Thailand.

“Taeyeon-ssi…” Ponsel dalam genggamannya seketika melicin, merosot kembali masuk ke dalam tasnya. “Maaf membuatmu kaget.” Leeteuk berdiri tepat di sampingnya sambil terseyum hangat, memamerkan giginya yang rapi dan terawat.

“Ah… Oppa…” Taeyeon membungkuk lalu tersenyum, dalam jarak sedekat ini dapat ia rasakan aroma mint yang menguar dari tubuh pria itu. Tampak sempurna dalam balutan jas hitam yang menunjukkan ketampanannya, hanya saja Taeyeon terlalu konfrontatif untuk dapat kembali tenggelam dalam luka yang masih tertenggan.

Oraemanida? Taeyeon-ah, apa kabarmu?” Ujarnya lembut, seolah mengabaikan defensi Taeyeon yang sudah di ambang.

Taeyeon menarik napas dalam, mengirup sisa-sisa oksigen yang dapat ia peroleh, berharap aroma mint yang dulu ia suka perlahan mengikis. Membuatnya harus kembali mengenang aroma yang kini ia benci. “Baik…” Ia menjawab seadanya, tak tertarik untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Sudah cukup dalam luka yang dulu ia rasakan.

Namun Leeteuk tak menyiakan kesempatan untuk dapat berbicara pada wanita rapuh itu. “Apakah setelah ini kau ada schedule?” Senyumnya menawan, hanya saja Taeyeon sudah terlalu dingin untuk merasakannya.

“Bukan urusanmu Oppa.” Ujarnya sarkastis. “Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?” Ia berkata masih dengan nada yang sama. Mengetuk-ngetukkan jari pada slide ponsel yang kini berputar dalam genggamnya, seketika ia teringat pesan singkat yang barusaja ia terima dari Tiffany.

Leeteuk tertawa renyah, menyadari gesture wanita di hadapannya itu kini sudah berubah sejak sedetik yang lalu, ia sudah terlalu ingat untuk dapat menghapalnya. “Aku dan Kang Sora sudah tak ada hubungan apapun lagi. Hanya sebatas rekan bisnis sesama artis.” Ia menjawab sangat tenang, masih sama dalam ingatan Taeyeon, tak berubah. Cara ia bertutur kata seolah tanpa beban. “Dan aku masih membuka hatiku untuk orang lain. Tak menutup kemungkinan untukku menerima lowongan dari gadis yang dulu pernah mengisi hatiku.” Tatapannya benar-benar menggoda.

Taeyeon mengeratkan kepalan tangan kirinya, memandangnya dengan kilatan penuh kebencian, giginya bergemeretak, rahangnya mengeras, amarahnya sudah memuncak. Ia harus segera mengakhiri perbincangan ini atau ia tak lagi dapat mengontrol emosinya. Sepertinya pria di hadapannya ini hanya ingin bermain-main dengannya. “Mianhae Oppa, aku masih ada pekerjaan.”

“Oiya, pekerjaan apa yang kau maksud? Kurasa membermu sedang tidak berkelut dalam kesibukan.” Leeteuk mengangkat sebelah alisnya, menatap semua orang kini tengah asik berpesta selepas pemotretan.

Ucapan pria itu berhasil menyentil ingatannya kembali. “Oppa, apa Shiwon Oppa bersamamu sejak tadi?” Ia melenggokkan kepalanya, mencari sosok familiar berpawakan tinggi gagah dengan tubuh atetis yang dapat dengan mudah ia kenali.

Wae? Mengapa kau menanyakannya? Kurasa ia tidak termasuk dalam tipe pria idealmu.” Pria itu masih mengajaknya melakukan perdebatan, ia sudah lelah. Sudah muak dengan perbincangan kecil yang jika terus dipupuk akan meledak.

Taeyeon menggigiti bibirnya, mencoba meredam amarah yang mungkin akan menyergahnya. “Aku sedang tidak ingin bercanda Oppa, aku menanyakan keberadaannya untuk memastikan…..” Taeyeon menghentikan kata-katanya saat mulutnya hampir saja keceplosan mengatakan hal yang sebenarnya.

“Apa yang ingin kau pastikan?”

“Apakah… Dia… baik-baik saja…?” Nadanya terdengar tidak meyakinkan.

“Siapa yang baik-baik saja?” Ujarnya semakin menggoda. “Kurasa aku sangat baik-baik saja disini.” Seringai itu semakin membuat Taeyeon muak, dengan dentuman keras di ujung sepatunya hingga menyebabkan manik-manik merah yang tersemat diantara garis hitam di sepatu highelss marunnya terlepas dan menggelinding di bawah tumpukan gelas-gelas berkaki yang disusun rapi, Taeyeon melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Menghindari laki-laki bangsat yang sudah lama mengusik hidupnya. Sifat mereka yang serupa di layar kaca, dengan berbagai tulisan karangan fans yang merajai blog pribadi mereka dalam sentuhan imajinasi yang membuatnya ingin muntah. Kedekatan mereka yang selama ini disalah artikan oleh fans, tak gagal membuat fantasi itu kian memuakkan.

Taeyeon berjalan meninggalkan Leeteuk yang tengah tersenyum sarkastis padanya. Biarlah, buat apa Taeyeon memedulikannya, baginya semua sudah berakhir. Walaupun masih menyisakan perih yang berbekas pada ceruk hatinya, Taeyeon mencoba berpikir dengan logika. Realitas tak sejalan dengan akal sehat.

*-*Tae♥Ny*o*

Tiffany Pov

“Oppa… tidak bisakah kau memberikan tender ini pada member yang lain saja, haruskah aku melakukannya? Bagaimana dengan Yoong?” Tanyaku saat kami sudah sampai di sebuah tempat sepi di tengah pesta yang berderam. Kupingku terasa sakit mendengar dentuman-dentuman musik yang membayang dalam gelap-gelap diantara remang lampu yang berputar di ambang langit-langit hall.

“Tidak Tiffany, manager produk tersebut sudah memilihmu dan Shiwon sebagai bintang utama mereka. Lagipula dengan ini namamu akan semakin melambung, jika perusahaan asal Thailand itu puas dengan kinerja kalian, otomatis tender-tender lain akan segera berdatangan dan mengantre untuk menggunakan wajah kalian. Kurasa dengan Shiwon tidak ada masalah, karena dialah yang merajai CF di SuJu, sementara SNSD masih ada di tangan Yoona. Kau tidak ingin menggeser keberadaanya?” Oppa menatapku jahil, mencoba meracuni kepalaku dengan paradigma-paradigma persuatifnya yang menurutku cukup manipulatif dengan menggunakan berbagai alasan yang implisit.

“Oppa…” Ujung-ujung jemariku yang bercat ungu perlahan menyusuri puncak kepala hingga keningku, semua apa yang dikatakannya seakan berputar dalam pikiranku. Serupa burung nuri yang berkicau dan mengelilingi kepalaku. Membuatku semakin merasa pening. “Apa yang membuatku harus menggeser posisinya?” Aku tidak menemukan alasan yang tepat mengapa dan bagaimana lagi aku harus menolaknya selain melontarkan pertanyaan-pertanyaan membingungkan dengan hasil sama yang kudapatkan. Paradoks.

“Aku hanya menjalankan perintah, Tiffany.. jadi kumohon mengertilah..” Dengan itu Manager Oppa meninggalkanku yang tengah tafakur merenungi kata-katanya. Ditengah gegap gempita pesta perayaan malam ini, aku berada di ambang kebimbangan. Sejujurnya, aku tak ingin melakukannya, hanya saja. Mungkin aku butuh waktu sejenak untuk memikirkannya. Bukan dengan CF ini maksudku, namun entah mengapa otakku menghubungkan semua kejadian hari ini dengan Taeyeon. Yang kumaksudkan adalah, hey… apakah kau tidak melihat betapa berbedanya sikap dia akhir-akhir ini? Aku curiga sesuatu telah terjadi dengannya. Yeah.. mungkin saja.. Dan entah mengapa feelingku berkata demikian, bahwa aku termasuk dalam serangkaian yang membuat sikapnya berbeda.

Saat aku akan berjalan menuju tempat pemotretan, tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Membuat keseimbanganku dengan higheels 12 cm ini goyah. Aku terjatuh dengan memutar, tidak jatuh.. tapi hampir… setidaknya sebelum seseorang memegangiku dari belakang. Sepertinya dia orang yang sama seperti yang menarik tanganku sebelumnya.

Dengan posisi sedemikian rupa (coba bayangkan Taeyeon memegangi punggungku sambil berjongkok menopang berat tubuhku dengan wajah kita yang hanya berjarak beberapa centi dan tangannya yang dengan sempurna melingkar di sekitar leherku. Menatapku dalam selama beberapa menit atau sebenarnya beberapa detik dengan adegan cheesy seperti yang akhir-akhir ini menjamur di serial drama. Menghujam jantungku, membuatku meleleh seperti coklat dalam dekapan dan tatapan matanya yang teramat dalam lalu perlahan bibir mungilnya serupa delima itu mengulum lembut bibirku, tidak dengan penuh gairah ataupun hasrat, namun lembut dan murni, seperti cerita yang akhir-akhir ini sering kubaca—) dan wajah memerah aku mencoba membayangkan, perlu ditekankan dengan kata membayangkan. Tiba-tiba genggaman itu menarik pikiranku kembali dari dunia fantasi dalam kepalaku. Kubuka lebar-lebar kedua kelopak mataku yang semula tertutup. Semua bayangan akan aku dan Tayeoen, dan ciuman itu. Semuanya mendadak lenyap dan berganti sosok maskulin dan atletis yang tengah menopang tubuhku, melindungiku agar tidak terjatuh.

Aku berhenti sebentar, merasa kebingungan diantara pikiranku yang masih setengah mengambang dalam imajinasiku bersama Taeyeon sebelumnya dengan tubuhku yang kini berada dalam pelukannya.

SHIWON !!

Aku mencoba mencerna. Yeah, sebelumnya aku dan Taeyeon hanya imajinasi. Aku hampir merutuki diriku sendiri gara-gara fanfics dan FMV yang akhir-akhir ini ku ranjingi.

Sedetik, dua detik aku masih diam terpaku, mematung. Sebelum dia berdeham dan kemudian membantuku kembali berdiri.

“Apa yang kau lakukan di sini Tiffany-ssi?” Dia mencoba bertanya dengan sopan. Jujur kuakui, pesona yang dia miliki sangat kuat. Hanya gadis bodoh yang menolak di dekati olehnya, mungkin aku termasuk salah satu dari sekumpulan gadis bodoh itu. Dalam catatan yang ada dalam diary-ku, sudah terhitung tiga kali dia menyatakan perasaannya kepadaku. Lewat pesan singkat, dan dua lainnya berbicara secara langsung. Namun, sampai sekarangpun aku masih tidak merasakan ketertarikan padanya. Selain hanya sebatas rekan kerja.

“Terimakasih sebelumnya. A—aku mau kembali ke tempat pemotretan, dimana anggotaku yang lain berada.”

“Begitu rupanya.” Pria itu mengenakan kemeja casual dengan garis biru langit vertikal ditambah celana jeans hitam. Kemeja yang sedikit kekecilan itu menurutku menggambarkan betapa sempurnanya Abs yang ia miliki. Sayang sekali, aku sama sekali tidak tertarik dengannya. “Semua orang sudah berada di Hall.” Dentuman-dentuman speaker yang melantunkan lagu Hip Hop itu kini semakin meraung-raung di telingaku, membuat jaringan pembuluh dalam pelipisku seakan mau pecah. Kurasakan nyut-nyutan yang luar biasa menjalari seisi kepalaku. Namun setidaknya aku masih dapat memaksakan senyumku.

“Begitu… Terimakasih sebelumnya telah menolongku.” Kucoba untuk berbasa-basi sejenak dengannya.

“Tentusaja. Apa kau mau kesana bersamaku?” Kulihat senyumnya menawan, namun semakin mengerikan. Aku tahu apa yang dia maksudkan bukanlah hanya sekedar berjalan bersisian memasuki ruangan di gelarnya pesta dengan senyum munafik yang terplester sempurna dan gaun  elegan ditambah riasan wajah serupa wanita-wanita yang hendak pergi berbelanja di mall. Setelah lagu yang mengalun di telingaku berubah melamban, aku tahu apa yang sebenarya ia tawarkan. Sebuah pesta dansa.

“Em, mianhae oppa tapi aku sedang menunggu seseorang.” Tolakku halus, sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Aku sedang menunggu Taeyeon, lebih tepatnya mencari.

“Ah, baiklah.. Oh iya, mengenai syuting itu apa kau bersedia?”

Ne..” Jawabku lugas, tak mau memperpanjang arah pembicaraan ini. Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang. Tidak, sebelum aku berhasil membicarakannya dengan Taeyeon dan meminta pendapatnya mengenai hal ini.

Great… Aku tidak tahu lagi, jika aku harus di pasangkan dengan orang lain yang tidak ku kenal baik.” Dia berkata seolah kita telah membina hubungan spesial selama bertahun-tahun lamanya. Menyebalkan.

Aku hanya tersenyum tanpa menunjukkan wajah ketertarikan. Kuharap dia segera enyah dari pandanganku. Entah mengapa yang ada dalam pikiranku akhir-akhir ini hanya Taeyeon. Aku ingin segera bertemu dengannya dan menceritakan semua kejadian hari ini. Tentusaja bagian aku merindukannya tidak perlu diikutkan.

Untungnya, dia mengerti dan segera berpamitan untuk berpesta mendahuluiku. Jika tidak, aku mungkin akan terjebak dalam pembicaraan menyebalkan selama berjam-jam karena ketidak beranianku untuk menolak secara terang-terangan padanya.

Taeyeon-ah, mengapa kau selalu hadir dalam kepalaku?

*-*Tae♥Ny*o*

Taeyeon POV

Setelah berkonfrontasi dengan mantan kekasihku sejak dua tahun silam, aku bergegas mencari gadis cantik berambut merah yang dicat dengan gaun berwarna senada di tengah riuh perayaan pesta malam ini. Sudah dua kali aku bertemu dengan rekan sesama artis untuk berbincang-bincang sejenak. Tak menarik, perbincangan bodoh penuh pretensi. Topik membosankan tentang pekerjaan yang tiada habisnya itu membuatku muak. Tak satupun dari mereka mengutukku secara terang-terangan atas keberhasilanku membawahi kedelapan memberku hingga sampai ke muka dunia. Kebanyakan mereka hanya memberi selamat, tersenyum atas keberhasilan kami atau justru memberi semangat karena jadwal kami yang akan semakin padat. Mereka semua hanyalah manusia-manusia hipokrisi.

Dengan senyum sarkastis pada diriku sendiri, aku melangkah kecil-kecil. Melintasi beberapa gelintir orang yang masih berada diluar pesta untuk sekedar bersantai mencari angin di tengah kepenatan riuh pesta atau memang sengaja mencari sepi, entahlah.

Gadis berambut merah itu takkunjung kutemukan, entah dimana siluetnya bersembunyi. Seirama dengan gemercak bunyi high heels yang maniknya lepas sebelah, aku beranjak dari satu ruangan-ke ruangan yang lain. Seolah mengikuti intuisiku yang berkata aku harus berjalan ke arah timur dan terus ke timur. Aku menemukan sebuah gelang yang terjatuh di sudut meja, berwarna merah menyala. Berkilatan saat cahaya lampu membiaskan sinarnya melalui kalung yang melingkari leherku ketika aku tengah merunduk hendak meraihnya. Kutatap lekat-lekat, terasa begitu familiar, goresan-goresan kecil diantara pengaitnya membuatku mengingat saat aku tengah mencengkram erat pergelangan tangannya di tengah deru angin yang membisik di atas balkon dorm. Ini pasti milik Tiffany.

Ketika aku sudah sampai di ujung koridor, tak sengaja aku berpapasan dengan Manager Oppa. Tak lupa kutanyakan keberadaan Tiffany. Ia berkata barusaja selesai menemuinya di ruangan seberang koridor. Aku mengangguk dan berterimakasih sebelum menujukan kakiku menyebrangi lantai berkarpet hijau dengan nuansa peach yang mengimbanginya. Sempat terlintas di kepalaku mengapa mereka bertemu di ruangan yang terletak di ujung tersebut. Namun segera kubuang pikiran mengerikan itu sebelum semakin meliar. Untuk apa Oppa memberitahukan keberadaanya jika mereka barusaja melakukan perbuatan menjijikkan? Aku tak dapat membayangkan hal itu terjadi pada Tiffany. Fannyku.

Setelah menyusuri koridor utama, aku berdiri tepat di depan pintu ruangan yang terhimpit di antara sepasang koridor kembar yang meraung bersisian. Entah mengapa kakiku jadi gemetaran. Dejavu.

Dingin pintu terasa merasuki buku-buku jariku saat tanganku menyentuh kenopnya. Gelang itu tersimpan dalam genggam eratku. Semakin erat hingga aku dapat merasakan tanganku berbekas caruknya. Memutih.

Napasku tercekik saat kedua mataku mendapati adegan mengerikan yang terpampang jelas di hadapanku. Tiffany dan Shiwon.. Mereka…. Berpelukan.

Apa yang terjadi dengan dunia ini, kemarin mereka melakukannya di parkiran dan sekarang.. di ruangan. Ujung. Gelap. Dingin dan berpelukan. Sejauh itukah hubungan mereka? Aku tak dapat mengimajikan apa yang sedang atau akan mereka lakukan. Setelah bergeming sejenak aku melangkahkan kakiku yang terasa semakin berat meninggalkan ruangan itu. Dengan amarah yang meluap, kepalan tanganku semakin mengerat. Butiran mutiara yang menghiasi gelang itu pun terlepas. Pecah. Seirama dengan bulir air mataku yang berjatuhan membias lantai, butiran mutiara itu pun berceceran mengitari sepatuku, beberapa memagut diantara manik-manik beberapa lagi menggelinding dan memantul di dinding.

*-*Tae♥Ny*o*

Tiffany POV

Sudah seharian ini aku tak melihat siluetnya. Bertemankan dinginnya angin malam, kutujukan langkahku pergi mengelilingi dorm dengan sebuah passpor yang ada di genggaman kiriku. Besok pagi-pagi sekali aku harus segera pergi. Malam ini aku begitu gelisah, mau dikata apa. Yoona dan Jessica sudah ada schedule dan walau sekeras apapun aku bersikukuh, manager Oppa tetap akan menyuruhku untuk pergi. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk menolak. Bukankah ini cita-cita yang kuinginkan sejak dulu. Begitu kata manager yang berhasil memengaruhiku.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Bukankah besok kau ada jadwal? Di luar negeri pula.” Jessica dengan wajah setengah mengantuknya tahu-tahu berjalan menghampiriku. Pajamanya yang sedikit kelonggaran membuat tubuhnya tampak mengecil. Aku berusaha menahan tawa. “Apa yang lucu?” Seketika aku merasa kedinginan melihat tatapannya.

Ani… Kau hanya lucu sekali.” Aku terkikik.

“Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya.” Dia menunjukku dengan jari telunjuknya sambil cemberut.

“Darimana kau tahu?” Aku kembali menanyainya.

“Jawab dulu pertanyaanku!” Ia tetap kekeh, dan membuatku menyerah.

“Mencari Taeyeon.” Jawabku lugas. Dia tersenyum mengerikan, seolah tahu apa yang kupikirkan. Dan langsung membuat pipiku merah merona.

“Apa yang kau inginkan darinya.” Dapat kulihat wajahnya sedikit menggoda, walau sebisa mungkin dia berkata dengan emotionless. Namun seringai kecil itu tetap tak dapat ia sembunyikan. Wajahku mendidih.

Otakku memutar beribu alasan yang dapat kugunakan untuk menghindari pertanyaan (dan tatapannya). Gadis dingin mengerikan ini memang sedikit menyebalkan, dapat membuat orang mati kutu hanya dalam sekejap. “Hanya… Aku…. Em… Aku tidak melihatnya seharian ini, hanya khawatir.” Terangku cepat sebelum aku kehabisan perbendaharaan kata yang dapat kugunakan untuk menutupi rasa gugupku.

“Dia ada di kamarku.” Katanya sambil menyeret kaki menuju kulkas di dekat meja makan, tangannya yang ramping meraih sebotol air mineral yang sudah setengah beku. Sekumpulan uap berkerumun keluar dari mulutnya saat ia kembali berbicara. “Setelah pesta, tiba-tiba saja dia meminta mengungsi di kamarku dan mengusir Sooyoung untuk tidur dengan Sunny dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Ia menatapku lekat, seolah hendak memberitahukanku sesuatu yang sangat rahasia ada di tangannya. “Tapi sampai sekarang, ia tak juga bercerita dan malah ketiduran.” Dia melanjutkan dengan tawa renyah. Aku mengerjap.

“Sangat penting?” Ia mengangguk. “Apakah ada hubungannya denganku?” Kali ini dia mengangkat kedua pundakkya berbarengan.

“Entahlah, dia langsung tertidur begitu saja tanpa sempat bercerita.” Ia tersenyum sejenak, “tanyakan saja padanya jika kau benar-benar ingin tahu.” Kata-kata terakhirnya sebelum Jessica melangkahkan kaki menaiki tangga. Meninggalkan sebuah tanda tanya besar yang belum sempat ia utarakan. Aku tahu ia mengetahui sesuatu, tatapannya berkata demikian. Namun aku terlalu takut untuk bertanya. Takut untuk mendengar jawabannya kalau-kalau tak seperti apa yang kuharapkan.

Jessica berjalan memasuki kamar, meninggalkan aku yang masih mematung di meja makan dengan beribu pertanyaan yang menghantuiku malam ini. Satu dari sekian hari, aku kembali di buat insomnia oleh orang yang sama.

TaeTae-ah… Annyeong….

*-*Tae♥Ny*o*

Author POV

Dilihatnya sejenak layar yang tak berubah warna. Tak sedikitpun juga berubah artinya. Taeyeon kemudian memandang langit sejuta bintang yang berkilauan, berkelap-kelip mengaggungkan kuasanya. Ia tak dapat berdusta pada bintang perkara wajah murungnya, tak pula dengan bulan yang bersinar bulat penuh merefleksikan cahaya sang bintang perkasa.

Sambil tersenyum ia seolah berkata pada lingkaran gugusan bintang yang menggantung di horizon. Mengatakan pada mereka bahwa ia baik-baik saja. Namun sekalipun ia tidak dapat berdusta, setidaknya pada dirinya sendiri.

Gambar itu, serupa malam tanpa bintang. Sangat kontras. Gelap. Dalam gambar di tabletnya, ia dapat melihat dengan jelas dua orang sedang duduk bersisian dengan balutan gaun dan jas elegan. Senyum terplester di wajah keduanya. Dari dalam matanya tersirat ketulusan. Foto itu tersenyum dan gadis yang memandangnya meluruh.

“Panny-ah.. mengapa kau tega sekali padaku.” Bisiknya dalam hati. “Tidakkah kau melihatku yang begitu mencintaimu? Menginginkanmu? Dirimu. Cuma kamu.” Batinnya seolah menjerit histeris. “Mungkin ini saatnya aku menyerah. Sudah lelah aku berharap. Kau.. hanya ada dalam mimpiku dan selamanya akan menempati ruang dalam hatiku..” Ibu jarinya dengan enggan menyusuri sudut matanya yang sudah basah. “Yeah, malam ini sudah kuputuskan. Aku akan melepasmu untuk memilih apapun yang menjadi pilihanmu.” Ia tersenyum kembali. “Beruntung sekali pria yang makan malam bersamamu malam itu.”

“Apa yang kau lakukan sendiri disini?” Jessica tahu-tahu mengambil tempat di samping Taeyeon. Gadis itu menyibakkan rambutnya yang terkena semilir angin.

Anio… Hanya sedang memikirkan sesuatu.”

“Kau tahu, kau dapat bercerita apapun kepadaku.” Hening sejenak, angin yang semakin dingin seolah membekukan persendiannya.

Diam-diam Jessica menujukan tatapannya pada tablet yang tergeletak di samping Taeyeon. Ia memalingkan muka untuk menyembunyikan senyumnya. “Jujurlah…”

Taeyeon menatapnya kebingungan, keningnya berkerut.

“Kau harus berkata yang sebenarnya.” Jawabnya lagi.

Taeyeon akhirnya mengerti saat tatapan Jessica jatuh pada tabletnya. “Aku tak bisa.”

“Kau menyerah?”

“Mungkin saja.” Katanya sebelum kembali memandang langit.

“Masih belum terlambat Taeyeon-ah, kau masih bisa… berjuanglah..”

“Apa yang membuatmu begitu yakin.”

“Kau…” Jawabnya tegas.

“Aku?” Taeyeon balik bertanya, masih tidak menemukan inti dari pembicaraan mereka. Namun Jessica malah berdiri dan bersiap untuk melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Ia tersenyum sebelum akhirnya berkata. “Just follow your heart.” Bisiknya lirih, namun cukup keras untuk dapat Taeyeon dengar.

*-*Tae♥Ny*o*

Tiffany POV

Terbayang dalam pikiranku wajah mereka saat aku berdiri di depan pintu dorm dengan kantong-kantong palastik besar yang memenuhi tanganku. Sejenak aku berpikir untuk memberikan kejutan kecil pada mereka, sekedar untuk merayakan ulang tahunku dan SNSD yang sudah terlewat. Aku merasa bersalah karena tidak dapat merayakan hari bersejarahku bersama mereka.

Dan benar, kepulanganku disambut dengan hangat oleh member-memberku. Mereka semua memberi selamat, kecupan dan do’a, bahkan beberapa dari mereka membawakanku hadiah. Dengan sumringah, aku membagi satu-persatu oleh-oleh dari Thailand pada mereka tanpa terlewat. Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Dan satu yang spesial untuk orang yang paling spesial. Sejurus kutatap bingkisan itu sambil tersenyum sebelum menyusuri dorm untuk mencari siluetnya yang belum kutemukan keberadaanya.

Aku merasa ada keganjalan dalam dirinya. Taeyeon berubah total. Tadi dia bersama kita, ikut memeriahkan pesta dan sempat mengucapkan selamat. Namun ada yang berbeda, tatapannya tak lagi sama.

Setelah memberiku selamat, ia menghilang begitu saja. Sudah kutanyakan pada ketujuh memberku dan merekapun tak mendapati sosoknya. Aku berdiri tafakur di depan kamarnya dengan mendekap sebuah bingkisan yang hendak kuberikan padanya. Tuhan, kuharap dia menyukainya. Saat aku hendak mengetuk pintunya, sesuatu menarik kembali niatku.

“Kau bisa menemuinya di balkon atas.” Aku menoleh, Jessica sambil tersenyum menatapku. “Seharusnya kau tahu, bukankah di situ tempat biasa kalian menghabiskan waktu?” Darimana dia tahu? Apakah diam-diam dia selalu memerhatikanku? Kami. Jujur aku masih ragu.

“Kau harus bicara yang sebenarnya Tiff..” Dan pernyataannya membuatku bertanya-tanya, apa yang ia sebut dengan ‘sebenarnya’? aku masih belum mendapat jawaban atas apa yang ia utarakan. Bahkan untuk sebelum-sebelumnya.

“Sebenarnya? Apa yang harus kukatakan?” Tanyaku begitu saja. Mungkin aku sudah lelah, setelah sekian lama bermain kata dengannya. Semuanya berporos pada satu titik yang tak dapat ku telaah. Ambigu.

“Bukan kau, tapi hatimu.” Matanya menyiratkan sesuatu yang tak terbaca olehku. Ia kembali pergi begitu saja, membuatku kembali berpikir atas kata-katanya yang jelas, namun membingungkan. Aku mencoba memikirkan relasi antara aku, hatiku, Taeyeon dan apa yang sebenarnya dengan hatiku dan Taeyeon. Rasa? Mungkin saja.

Aku kembali menggenggam bingkisan itu, kalung gembok yang masih melingkari leherku. Semua itu membawaku kembali ke masa silam. Dia seumpama gravitasi. Gaya yang menarikku dalam pusaran pesonanya. Kita sepasang magnet dari kutub yang berlainan, tarik menarik dalam medan perasaan. Akhirnya aku meyakini perasaanku. Sebelum terlambat dan aku menyesal, aku memutuskan untuk mengikuti kata Jessica.

Dia sedang termangu memandangi langit berjuta bintang, tenggelam dalam dunianya. Entah apa yang mengganggu pikirannya. Ia tampak sedih dan murung.

Aku memberanikan diri untuk duduk disampingnya. Dengan canggung ku landaskan pantatku di spot kosong sebelahnya. Dia tampak sedikit terkejut namun kembali tenang, ia tersenyum simpul padaku sebelum kembali sibuk dalam pikirannya.

Aku memandanginya ragu, wajahnya sungguh memesona. Kuikuti arah pandangnya. Langit tampak sedang berpesta. Berjuta bintang turut serta memeriahkannya. Malam ini, Seoul tampak berwarna.

“Aku berpikir apa yang Sone lakukan sekarang?” Tanyaku sedikit rancu.

“Memikirkan kita.” Ia tersenyum. “Mengapa kau bertanya seperti itu?” Ia kembali bertanya.

Aku bingung hendak menjawab apa. Akhirnya kulontarkan saja apa adanya. “Hanya penasaran.” Jawabku seadanya.

“Oh…” Kami kembali terdiam. Terasa canggung. Aku tidak menyukai suasana seperti ini, membuatku gelisah.

“Taeyeon-ah… Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?” Tanyaku memecah atmosfer kekakuan yang melingkupi kita.

“Apapun.”

“Apa?”

“Kau tak perlu tahu.” Kurasakan kata-katanya dingin. Lebih dingin dari Jessica.

“Malhaebwa.”

Dia menggeleng seperti anak kecil. Lucu. Ingin sekali kucubit pipinya karena gemas.

Jebaaalll…” Aku mengeluarkan puppy eyesku.

“Aniaaa….”

Waeee? Kau berubah… Aku membencimu..” Tukasku sambil bersedekap dan cemberut.

Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. “Aku tidak berubah, mungkin kau.”

Aniaaa… Katakan saja, apa salahku.. aku akan memperbaikinya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki kesalahanku TaeTae-ah… Katakan sajaa… Apa yang membuatmu menjauhiku..” Pintaku. Yeah, karena aku merasa demikian. Keganjilan.

“Aku tidak menjauhimu Fany-ah…” Ia tersenyum, namun aku dapat melihat makna di balik senyumnya.

“Lalu, sikapmu akhir-akhir ini padaku apa? Kau menganggapku seolah aku tidak ada, atau memperlakukanku seperti member lainnya. Bagaimana dengan itu?”

“Bukankah memang begitu kenyatannya. Kau dan lainnya adalah satu, SNSD. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk memperlakukan salah satu dari kalian dengan cara yang berbeda.”

“Namun….” Aku memutar otak, mencoba mengingat kata-kata yang selalu berhasil membuatku melayang. “Bukankah kita selalu berbeda, bukankan kau bilang aku spesial bagimu?”

“Sudahlah, aku sudah terlalu lelah untuk kembali berharap.” Ia mengangkat kedua kaki mendekat di depan dadanya dan memeluknya erat.

“Apa? Apa yang kau harapkan dariku? Pasti akan kulakukan untukmu.”

“Tidak ada.”

“Katakan saja!”

“Sudahlah Tiffany, jagan lagi memberiku harapan yang nantinya hanya akan membuatku terambang di ambang kebimbangan.”

“Apa yang membuatmu bimbang?”

“Kau.”

“Apa yang harus kulakukan kalau begitu.”

“Berhenti…. Memaksaku”

“Tidak… sampai kau mau memberitahuku.”

“Tiffany Hwang Mi Young….”

“Kim Taeyeon!”

“Baiklah…”

Aku menatapnya dengan intens, tidak ingin terlewat sepenggal katapun yang keluar dari mulutnya.

“Kurasa… tidak.. kupikir… tidak.” Ia menggelengkan kepalanya. “Aku menyukai—ani mencintaimu. Kau boleh berkata aku bodoh, tolol, konyol dan kata-kata mengerikan lainnya yang dapat kau gunakan untuk menggambarkan betapa menyedihkannya diriku. Tapi aku tidak dapat mengelaknya, aku selalu memikirkanmu, memimpikanmu dalam setiap tidurku. Membayangkanmu dalam setiap lamunanku. Kau telah meggerogoti otakku Mi Young-ah. Namun aku salah berharap, aku salah mengartikan. Aku tahu kemustahilan yang kuhadapi sekarang. Tapi aku.. tidak bisa… melupakanmu begitu saja, sekeras apapun aku mecoba, sekuat apapun aku berusaha, aku tidak dapat melepaskanmu.” Ucapnya cepat dan tepat mengenai hatiku. Aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu. TaeTae-ah..

“Apa yang membuatmu harus melupakanku? Mengapa kau harus melepaskanku?” Tukasku kehabisan akal untuk berpikir. Otakku terasa berat untuk kembali memikirkan kata-kata lain.

“Kau mungkin tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu, ani setidaknya menyukai. Kau pantas mendapatkan orang lain yang lebih segala-galanya dariku, yang dapat menjagamu dan memberikan apapun yang kau mau. Yang dapat melindungimu dari segala sesuatu yang membahayakan dirimu, dan aku berharap orang itu adalah orang yang selama ini kau inginkan untuk bersamamu.”

“Bagaimana jika orang itu adalah kau?” Dia terkejut bukan main, wajahnya tampak kaku dan lucu. Aku menyukainya, tidak.. aku mencintainya.

“Kau bercanda.” Ucapnya sebelum tertawa.

“Bagaimana jika tidak?”

“Aku akan menciummu saat itu juga.”

“Baiklah, sekarang kau boleh menciumku.” Aku memejamkan mata, namun tak kurasakan apapun yang menyentuh permukaan bibirku. Kubuka sedikit mataku, aku mendapatinya tampak tercengang, membuatku ingin tertawa. Sebelum aku merusak momen ini, aku memberanikan diri mendekati wajahnya, menyentuh bibirnya dibawah jutaan bintang. Melekatkan simbol perasaanku padanya, aku tak mau mengatakannya, biar dia yang mengartikan. Betapa benar apa yang dia katakan. Dia adalah orang yang selama ini aku inginkan untuk mendampingiku, melangkah bersamaku. Saranghae TaeTae…

To Be Continued

Chapter 9

“Bagaimana kalau kita makan es krim saja?” Taeyeon yang tengah membaca di sampingku membuatku kaget. Dapat kulihat kecanggungan di wajahnya setelah membaca fanfics itu.

“Ide bagus…” Kuletakkan begitu saja tabletku di atas sofa.

Aku menatapnya sejenak, terlihat wajahnya yang memerah lantaran menahan malu, akupun demikian. Seperti semut yang mengelitik ujung-ujung pinggangku, aku merasa geli. Bukan karena jijik atau semacamnya, sensasi luar biasa setelah membaca cerita seperti ini, di tambah dengan Taeyeon yang duduk tepat di sisiku, membaca cerita bersamaku, mengimajikan apa yang kuimajikan.  Bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk tidak merasakan kecanggungan.

Tentu saja, walau aku tahu itu hanyalah sebuah cerita dari serangkaian kata yang dikawinkan dengan satu persatu kata, menyetubuhkan kalimat demi kalimat untuk menghasilkan sebuah paragraf dengan sejuta makna yang tersirat dalam setiap untaiannya sebelum dievolusiakan dalam bentuk yang lebih sempurna seumpama sebuah naskah cerita yang mengandung pesan moral. Akupun tak menyalahkanya jika suatu ketika aku merasa moralku mulai terdegradasi. Serupa sel yang menyusup dalam tubuhku, kata-kata indah tersebut menghantarkan berjuta makna untuk kusimpan dalam diam.

Sensasi fantasi yang dihasilkan serupa ekstasi yang perlahan mengelanjar dalam perutku, membuatku ingin tertawa hingga terpingkal-pingkal. Imajinasi yang membayangi setiap napas yang kuembuskan, membawa kehangatan tersendiri dalam ceruk kepalaku.

“Apakah…” Aku menatapnya kegelian. Mungkin ini sensasi membaca cerita dengan main castnya adalah dirimu dan sahabat terbaikmu. Dia melanjutkan kata-katanya sebelum aku mulai berbicara. “Kau ingin makan es krim bersamaku di ba—di dapur?” Dengan cepat ia menutupi kecerobohannya. Namun aku tahu, akan sangat terlihat jelas beribu gambar yang menyusupi pikiran kotornya. Aku tahu, siapa yang mengira gadis bertampang polos ini mempunyai pikiran yang begitu kotor? Aku terkekeh saat mengingatnya. Mungkin untuk beberapa hari kedepan balkon akan menjadi tempat yang sangat sakral bagi kita berdua. Setelah sebelum-sebelumnya, kami banyak menghabiskan waktu bersama di atas sana bertemankan bunga-bunga anggrek yang ditanam dalam pot dan digantungkan di dekat tali jemuran. Oh, aku masih sangat mengingatnya, saat kami berdua bersenda gurau mengenai instruktur killer yang hampir membuat kami ketakutan hingga kencing di celana. Terkekeh-kekeh hingga merobohkan pilar tali jemuran itu dan dengan susah payah kembali meletakkannya dengan benar.

Taeyeon-ah… mungkin perasaanku tak sedalam apa yang dikisahkan dalam cerita itu, namun kuharap kau dapat merasakan apasaja yang mungkin akan kurasakan dalam beberapa tahun kedepan. Untuk sekarang, sebaiknya kita jalani saja apa yang sepatutnya kita jalani saat ini. Karena sampai kapanpun, perasaanku padamu takkan pernah berubah, serupa kisah kita yang akan menjadi bahan perbincangan serangga-serangga dan daun-daun bunga anggrek jika mereka dapat berbicara. Menjadi tontonan gratis dinding-dinding dan pilar jemuran yang hampir ambruk karena condong 450 ke depan. Semua itu tidak jadi masalah, jika sama seperti aku, perasaanmu padakupun takkan pernah berubah.

Jigeum…. Apeurodo…. Yeongwonhi….

Author POV

Gadis berkaki jenjang dengan kaus bergambar hati besar itu berjalan dengan hati-hati menuju sofa, tempat dimana sebuah tablet berwarna merah muda tergeletak tanpa pemiliknya. Tangan usilnya begitu piawai memencet jajaran sandi yang di gunakan untuk pengaman. Cukup dengan dua kali mencoba ia sudah terhubung dengan layar terang yang memaparkan beberapa jendela web yang masih terbuka dengan jelas. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya manakala apa yang ia harapkan berjalan dengan sempurna. Kau boleh mengatakan ia sudah gila karena keranjingan. Namun itulah kenyataannya.

Setelah memastikan semua sempurna, ia kembali meletakkan benda itu ke tempat semula sebelum merogoh saku kausnya yang kebesaran dan mengambil benda serupa dengan warna berbeda. Sebuah tablet berwarna biru tua kini ada dalam genggamannya. Dengan gesit, jemarinya melayang menekuri sebaris angka, lalu memusatkannya pada satu tujuan yang ia tahu apa.

Senyum kemenangan itu kini berganti senyuman jahil, kedua jempol yang ia gunakan mengetik beberapa kode pun mungkin akan tertawa jika mereka bisa.

Ia melakukannya dengan gerakan pelan dan hati-hati seolah membanggakan kemenangannya untuk kesekian kali.

Satu demi satu huruf membentuk sebuah kata sandi, yang mungkin saja dapat mengakhiri hidupnya sekarang juga jika ia ketahuan.

Ia kembali mengeja untuk memastikan semua benar sebelum mengklik tulisan berbingkai persegi berwarna hijau di sudut kiri ibu jari kanannya.

Tampaklah…

Username : Aquarianus

Password : Ima9iner

[Sign In]

: Your Story :

Once Upon a time

by: Aquarianus

 END

Iklan

65 thoughts on “Once Upon a Time [One Shoot]”

  1. O.O Fanfics yg ditulis dlm fanfics..Great sasya..GREAT..!! XD

    Kalau cerita ini dijadiin novel..pasti bakal kotor sama coretan2 garis bawah krn sbnarnya gw masi ngga ngeh sama arti kata2 ini : Elusif, tatapan tentatif-kontemporer, konfrontatif, persuatif, manipulatif, implisit, paradoks, pretensi, hipokrisi & tafakur..
    Lbih bagus lagi kalo dikasi ket. Bwahnya biar reader yg kurang ngerti arti dr kata2 sastra itu jadi lbih paham..jadi kita ngga cuma baca FF tapi jg sekalian dpt ilmu baru dr kata2 yg jarang didngar..
    *cuma saran sya* 🙂

  2. Ternyata TaeNy baca ff O_O #yagaksih? #sotil
    Bagusnya.. TaeNy PHP ke satu sama lain kekeke..
    Lanjut terus thor ^^ (‘^’)9

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s