Fantasy, One Shoot, SNSD, SOSHI FF

For Eternal Love [Squel, Chapter 1/?]

Jika semuanya telah berganti, apakah mereka akan mendapatkan kesempatan yang sama?

Author : Mutiara Triastuti

Cast :

        • Tiffany Hwang as Stephan Hwang
        • Kim Taeyeon as Kim Taeyeon

Additional Cast :
      • Lee Sunny
      • Choi Sooyoung
      • Etc

Rating : PG-15

Gendre : Romance

Taeyeon POV

Kring~~

Bel tanda masuk menggema di setiap sudut kampus, tertanda jam pelajaran akan dimulai, akan tetapi kelasku masih sangat berisik, dosen yang mengajar tidak hadir karena beliau mengikuti seminar di Incheon dengan rektor, hal ini lah yang selalu kami tunggu-tunggu, pasalnya jarang ada dosen yang kosong, bagi kami jam kosong tidak bedanya seperti surga sesaat, kita bisa berteriak-teriak seenaknya, berlari-lari, dan bahkan saling melempar kertas sampai kelas kami seperti tempat pembuangan sampah, bayangkan kertas berserakan di setiap sudut, bukankah itu seperti tempat pembungan sampah? Walaupun kita sudah mendapat predikat sebagai mahasiswa namun kelakuan kami tak ubahnya seperti anak TK

Seperti biasa Sunkyu masih main lempar-lemparan kertas dengan Sooyoung apakah mereka tidak lelah? Sepertinya tidak, sebenarnya dia sangat benci saat aku memanggilnya dengan nama Koreanya, nama itu terlalu kuno baginya, salah siapa telat lahir makanya di beri nama Sunkyu haha

Drap Drap Drap

Aku kenal langkah ini, langkah dari dosen killer di kampusku, langkahnya yang begitu kerasa sampai kita bisa mendengar sampai beberapa meter, aku melihat sosoknya lewat jendela, benar itu Kang sonsaengnim, dan seorang mahasiswa yang tidak ku kenal, mungkin mahasiswa baru aku tidak bisa melihat dengan jelas karena mataku yang min.

“YA! teman-teman Kang songsaengnim datang, cepat bersihkan kelas jangan sampai kita dimarahi Kang songsaengnim”, Aku berteriak kencang kepada teman-temanku, tanpa menunggu detik berlalut teman-teman satu kelasku gotong royong membersihkan kelas, mereka mulai dengan menyapu, mereka berkerja dengan cepat, secepat WiFi semua mahasiswa di kampusku tau bagimana galaknya songsaengnim Kang, bisa-bisa kita mati berdiri beberapa jam karena harus berpanas-panas terkena sinar matahari. Kelasku hampir bersih dapat kulihat Kang  Songsaengnim masih di berjalan dengan mahasiswa itu, ah selamat kita tidak akan mati berdiri.

“Wow namja itu keren sekali, apakah dia mahasiswa baru, sepertinya begitu, aku tidak pernah mengenal murid sekeren itu di lingkungan kampus, kalau seperti ini bisa dikatakan dia 4T dan 5S ”, salah satu temanku berkata seperti itu, apakah dia yang bersama Kang Songsaengnim tadi? Mungkin iya, Mungkin tidak, yah tidak pasti

“Ya Sunkyu lihat apakah murid itu benar-benar keren!”, aku mengeret tangan Sunkyu yang sedang menyapu di dekatku

“Ya sudah ku katakan milyar-milyar kali jangan memanggilku dengan nama itu Taengoo”

“Diamlah cepat periksa saja Lee Sunny”

Arra”, dia berjalan mendekat ke pintu dan melihat, kepalanya berputar melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang katanya keren sekali

“Wow Kim Taegoo, anak  baru itu bener-bener keren, mungkin sebentar lagi dia akan popular lebih popular dari pada kamu yang danshin” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya padanku dan melakukan langkah seribu

“YA kau lebih pendek dari aku kenapa kau mengataiku hah???”, Sunkyu itu kalau lari cepat sekali,  aku tidak bisa menangkapnya kalau begini, harapanku pupus sudah Sunkyu dia menghilang entah kemana, aku berjalan dengan menundukan kepalaku

BRUKKK

Aku menabrak seseorang dan jatuh tertunduk di lantai, untung saja tidak ada banyak pasang mata yang melihat kejadian ini, sementara itu aku bisa melihat beberapa pasang kaki di depanku, benar aku masih tertunduk sedari tadi terlalu takut untuk menegangkan kembali wajahku

Dan tetap aku masih menundukan kepala…Yeah teramat malu, sampai-sampai kepalaku terasa lebih berat dari batu yang beratnya ratusan kilo, tanpa sadar ada sebuah tangan halus menyalurkan tangannya untuk memberi bantuan kepadaku untuk berdiri, aku meraih uluran tangannya, dan tentunya aku tidak melihat dibalik sosok yang telah mengulurkan bantuannya kepada diriku

Gwencanayo?”, aku hanya bisa melihat kakinya sekarang, aku terlalu malu melihat wajahnya, ku lihat sepatunya berwarna biru dan sedikit garis putih di sepatu itu

“Aku tidak apa-apa”, jawabku cepat

“Yang benar?”,tanyanya lagi, ‘ya Kim Taeyeon karena kecerobohanmu kau bisa saja merusak citramu sebagi mahasiswa terpopuler disini’ umpatku dalam hati, tiba-tiba saja kepalanya kepalanya melongok, menatapku dari bawah wajahku, dan bisa bayangkan jarak wajah kami saat ini teramat dekat….kat…kat

Karena malu aku berlari sekencang yang kubisa dan buru-buru menuju kekelas, saat kekelas aku dapat melihat Sunkyu duduk di mejanya, bagimana bisa dia sudah di sana? Dia tadi lewat mana kenapa aku tidak bisa melihatnya sial aku kalah lagi dengan dia

Dari tadi aku sama sekali konsentrasi dengan pelajaran yang diberi dosen, semua terlewat begitu saja tanpa masuk kelingaku ibaratnya masuk telinga kanan, keluar lagi telinga kanan karena belum sempat masuk ke otak sudah mental duluan, sedari tadi aku hanya memikirkan namja yang tak sengaja ku tabrak di hall kampus, matanya indah, baru kali ini aku menumukan mata seindah itu, mata yang indah dan menyorotkan kelembutan, dalam sekejam aku merasa tatapannya tadi bisa menembus semua yang aku pikirkan hanya dengan tatapan mata, menjelejah semua yang ada di otakku dan membaca semua yang ada di dalam otakku, kenapa ada mata seperti itu? kini pipiku memerah dan wajahku menjadi memanas, kenapa dengan diriku?

Plukkk!!

Aku merasakan sebuah spidol meluncur tepat di kepalaku, sial …sekarang aku tau, sebentar lagi aku akan dihukum umpatku

“Kim Taeyeon sedari tadi saya lihat kamu tidak memperhatikan pelajaran, sekarang kamu keluar di kelas!!!”, thank god kau tidak memberiku hukuman membersihkan kamar mandi

Author POV

Stephan Hwang, adalah perwujutan lain dari Tiffany, Tiffany mengalami rengkarnasi setelah berhasil menjadi malaikat pendamping dan Tiffany yang dalam diri Stephan sendiri tidak ingat kalau dirinya pernah menjalani hidup sebelum ini, dia hanya mengira adalah manusia biasa. Hari ini adalah hari pertamanya masuk kuliah setelah cuti beberapa tahun, dalam perjalannya dia tak sengaja ada yeoja yang menabraknya, dari saat itu Stephan langsung tertarik pada yoeja, tak lain dan tak bukan adalah Taeyeon

“Gadis yang menarik”, ucap Stephan saat melihat Taeyeon berlalu

Tidak di duga-duga ternyata Stephan Hwang adalah anak yang bandel, di dalam kelaspun dia masih berani-beraninya menelfon teman-teman perempuannya, tidakannya yang sudah keterlaluan akhirnya membuat dosen geram

“Stephan Hwang, apakah anda tidak tau peraturan dalam kelas tidak boleh menaktifkan handphone”, ucap dosen hampir berteriak, sedangkan Stephan hanya melihat dosen dengan tampang tak berdosa

“Sudahku bilang jangan menelfonku saat pelajaraan”, ucap Stephan berdusta membuat dirinya tidak terlalu bersalah di depan dosen, setelah itu dia mutuskan sambungan handphonenya dan tersenyum tak berdosa lagi pada dosen

“Maaf Sonsaengnim”, yang kemudian memasukan handphonenya kedalam saku celana

“Stephan Hwang sekarang keluar dari kelas saya!!!”, kemudian senyum tipis mengembang di bibir, inilah yang sedari tadi dia harapkan, keluar kelas, sudah sangat bosan di kelas, hanya melihat pelajaran yang sudah dia mengerti, Steptan terlahir sebagi anak Jenius berbeda dengan Tiffany dulu yang terkesan sedikit tolot karena tingkah lugunya, kemudian anak pintar di kelas itu hanya mengendus kelas ‘Anak baru saja bertingkah’ pekiknya dalam hati

Setelah mendengarkan teriak dosen tanpa babibu Stephan langsung keluar dari kelas berjalan seperti tidak ada masalah apapun, melangkah dengan pasti kemudian membuka pintu dengan perlahan, seperti keluar dari penjara kemudian menghirup udara dalam-dalam dan mengepakan kedua tangannya, serasa bebas seperti burung.

“Aku suka udara luar”, ucapnya dengan mata tertutup

Sedangkan di saat yang sama juga Taeyeon keluar dengan dari kelas, seperti takdir yang kemudian mempertemukan mereka dalam lingkaran yang sama, berbeda dengan Stephan, Taeyeon keluar dengan kepala tertunduk merutuki kesalahannya sendiri dilamunannya yang kemudian memukul-mukul kepalanya sendiri untuk menghukum kesalahannya, aktifitasnya berhenti saat sebuah tangan hangat menghentikan aktivitasnya

“Jangan memukuli kepalamu seperti itu”, ucap Stephan yang masih memegang tangan Taeyeon, entah kekuatan apa tapi yang jelas kini Taeyeon merasakan tangannya sangat lemas, Taeyeon kembali tak berdaya melihat Stephan, jantungnya berdetak tak karuan,  dan bibirnya menganga dalam hati Taeyeon berkata ‘Ini posisi yang benar-benar jelek’

“Kalian berdua cepat bersihkan  seluruh kamar mandi dilantai”, teriak dosen yang muncul tiba-tiba dari balik pintu, sepertinya nasib sial sedang melanda keduanya saat ini

Saat itu pikiran Taeyeon kembali kedunianya seteleh melayang-layang kedunia fatamorgana, kemudian mencoba melepaskan pegangan tangan Stephan, dan melakukan langkah seribu, dia takut Stephan tak tau perasaan apa yang menerpanya, namun walau bagimanapun  berbedaan gender tetap terlihat disini jelas, Stephan mampu mengerjar Taeyeon karena dia seorang namja, dalam beberapa detik dia sudah berhasil menyamai langkahnya, hingga mereka berlari beriringan

“Ternyata larimu cepat juga ya”, ucap Stephan tetap berlari dengan santai, sedangkan Taeyeon sudah kehabisan udara dan berhenti untuk beristirahat, kemudian membungkuk sambil mencari udara sekitar, dan memegangi kedua lulutnya supaya tetap bisa berdiri

Menyadari hal itu Stephan kemudian mengelus-elus punggung Taeyeon “Kau tak apa-apa?”, ucapnya khawatir

“…….”, Taeyeon tak bersuara hanya ngos-ngosan, setelah hampir 5 menit ngos-ngosan akhirnya kondisi Taeyeon sudah kembali kesedia kala, kemudian membenarkan posisinya dan saat itu dengan jelas dia bisa melihat sepasang mata sedang memperhatikannya dengan khawatir, jantung  Taeyeon serasa copot, walaupun dalam sorot mata yang khawatir matanya tetap keren tuturnya dalam hati karena terlalu tepesona dengan ketampanan Stephan akhirnya Taeyeon Cuma melongok,  alis tebal namun lembut Stephan tampak mengerut, bingung dengan sikap Taeyeon yang hanya melihat kedua pasang matanya tajam, Stephan yang gemes akhirnya mengibas-ngibaskan kedua tanganya di depan wajah Taeyeon, spontan saja Taeyeon kaget

Taeyeon POV

“Kau ini sebenarnya kenapa?”, God ….tolong aku, jangan sampai dia tau perasaanku yang sebenarnya

“Jangan bilang kau suka padaku?”, Aku memekik kaget, Sial baru saja aku berdoa supaya dia tidak tau perasaanku, kenapa dia bisa tau secepat ini, apakah terlihat jelas di wajahku jangan-jangan di di kepalaku terdapat tulisan ‘I Love U’

“An…i”, jawabku cepat lengkap dengan dustaku padanya

“Hahahahaha kau lihat wajahmu tadi? Tadi kau sangat lucu, menjawab ‘An..i’ dengan gemetaran itu sungguh hiburan”, tawanya keras, baru kali ini juga aku bingung apakah aku ini harus tertawa atau marah, akhirnya kupaksakan bibirku mengeulas senyum walaupun dengan terpaksa.

Kenapa juga aku harus segugup ini?, aku memang biasa gugup tapi gugupnya lain berbeda dengan biasa, dan please jangan tunjukan matamu, aku tidak siap dengan tatapan dalammu, baru kali ini juga aku melihat mata sepertimu, mata yang bisa membuatku ingin pergi jauh supaya aku tak perlu berhadapan dengan kedua manik matamu, aku tidak mampu melihat binar-binar jernihnya yang seakan siap memelelehkan hatiku.

Bersamanya seperti ini aku bisa mendapati diriku yang tolol, untuk pertama kali dalam hidupku, aku berlari hanya karena malu bisa-bisanya ini terjadi, mana Taeyeon dengan julukan si Poker Face? Rasanya topeng itu hanyut berbarengan dengan dirinya yang tiba-tiba datang dalam hidupku, membawa segundang hal yang bisa saja melelahkan hatiku yang sudah beku karena sakit hati dikhianati oleh cinta, sejak pertemuan tadi pagi aku sudah tak mampu berkata sepatah katapun rasanya tenggorokanku tersumpal, lidahku kelu, dan bibirk pun beku, kau seperti memiliki matra special yang menyatu dengan setiap aliran auramu, aku merasakan menemukan kembali rasa yang dulu hilang ditelan oleh alam, seperti menemukan jarum di dalam tumpukan jerami, yang kini kusadari itu namanya ‘Cinta’

Kenapa aku merasakan bahwa hari ini bukanlah hari pertama aku mengenalnya, aku seperti sudah mengenalnya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang lalu ketika aku belum mengenal sosok  Jessica dalam kehidupanku, kalau caranya seperti ini aku bisa emosi jiwa.

Kini karena ulahku sendiri kaki kananku terkilir yang membuatku tak mampu berjalan dengan benar, saat aku baru melangkah beberapa jangkah tiba-tiba saja dia menunjukan kaki kirinya padaku dan berucap “Letakan kaki kananmu di atas kaki kananku”, dan tentu saja karena auranya (Lagi) aku tidak mampu menolak apa yang dia katakan padaku, aku yang saat ini di dekatnya hanya bisa mengindahkan perkataannya tanpa sepotong penolakan, setelah itu kami berjalan bersama dan bergandengan tangan sambil berkata ‘Kanan, kiri’ untuk menyeiramakan langkah kita, caranya yang berbeda dalam menangani masalah membuat cintaku padanya lebih dalam karena orang biasanya langsung mengendong pasangannya saat terkilir, ‘Sempurna’ ucapku dalam hati.

Ternyata langkah kami berhenti di kantin kampus, aku melihatnya dengan tatapan heran karena seharusnya saat kini kita berada di kamar mandi untuk melaksanakan hukuman, kemudian dia menatapku dengan mata itu lagi

“aku lapar”, rengeknya sambil mengelus-elus perutnya, aish kenapa juga wajahnya jadi selucu ini?

“aku jamin dosen tidak akan mengecek kita membersihkan kamar mandi atau tidak, mereka sibuk lebih tepatnya sok sibuk”,  timpalnya lagi

Kupikir kau malaikat tapi ternyata kau juga manusia yang punya rasa lapar, kau terlalu sempurna untuk manusia.

Author POV

Kenapa kau pelit sekali berbicara?tanya Stephan sambil melahap makanan yang berada di meja

Taeyeon menatap sosok Stephan, saat kedua matanya mereka beradu dengan cepat dia menunduk, takut bila Stephan tau pancaran cinta di matanya, sambil memakan perlahan makanan yang dia pesan bersama dengan Stephan “Kondisi tengorokanku sedang tidak baik”, jawabnya gemetaran

Sedikit mengangkat wajah, Stephan memperhatikan Taeyeon yang hari ini terlihat cantik dengan baju casualnya, sesekali Taeyeon menyeruput minumanya sambil memakan makanannya, dibalik tingkahnya yang terlihat biasa di depan Taeyeon, sebenarnya dia juga menyimpan rasa untuk Taeyeon sejak pertemuan mereka, Stephan merasakan perutnya sedang melakukan kontraksi berlebihan yang membuat dia merasa ada yang mengaduk-aduk perutnya, hanya saja tidak tau nama perasaanya saat ini.

Kling

Kalung kunci Taeyeon terjatuh ketanah, dan secara reflex keduanya mengambil kalung itu, secara tidak sengaja Stephan memegang tangan Taeyeon, Taeyeon langsung menarik tangannya menjauhkan tangannya dari sentuhan tangan Stephan dan memegang erat kalung yang entah sejak kapan menjadi barang berharga miliknya yang harus dijaga baik-baik, walaupun dia tidak tau asal muasal kunci dari kalung itu, tapi dia merasa perlu menjaganya karena mungkin kunci ini akan menguak sesuatu yang tidak dia ketauin selama ini, Stephan yang melihat reaksi dari Taeyeon kemudian menarik bibirnya sedikit dan membentuk senyum tipis.

“Apakah kalung itu sangat berharga”, Sahut Stephan penasaraan dengan benda yang Taeyeon genggam sangat erat

“Sangat”, Ucap Taeyeon singakat

“Ah, kalau kau punya kalung kunci sebaliknya aku memiliki kalung gembok”, tambah Stephan yang kemudian mengeluarkan kalungnya yang tersembunyi di balik bajunya yang berkancing, Taeyeon yang penasaaran menarikkan kepalanya sedikit, kini bisa melihat kalung Stephan, seperti pernah melihat kalung itu bantin Taeyeon, mencoba mengingat kumpulan memori yang sudah terpendam ratusan tahun tapi akhirnya Taeyeon tak mengingat sedikitpun tentang kalung itu hanya saja hatinya mengatakan bahwa dia pernah melihat kalung itu.

“Dari mana kau mendapatkan kalung itu?”, tanya Taeyeon yang ingin tau lebih tentang benda itu, saat itu juga expressi wajah Stephan berubah manjadi dingin dan suram tidak seperti dirinya tadi, auranya begitu gelap.

“Aku tak tau, tiba-tiba saja aku kalung ini sudah berada di tanganku saat aku bangun dari operasi jantungku beberapa bulan yang lalu, aku merasa aku tidak mengenal dunia ini, aku takut dengan…dunia dan aku juga merasa dunia ini takut padaku, aku merasa tidak menginginkan dunia ini…dan juga dunia juga tidak menginginkanku, seperti ada yang hilang di sini” kemudian menunjuk jantungnya, dan meremasnya gemetar.

“Bahkan aku bisa menangis tanpa alasan yang jelas, semua terasa menyakitkan setiap malam memimpikan hal yang sama, bermimpi ada orang yang menginggalkanku terus menurus, bahkan tidak saja dalam mimpi, saat sadarpun bayangan-bayangan itu selalu muncul dan menyerap setiap energi dalam tubuhku membuat diriku menjadi tak bertenaga”, entah kenapa Stephan berani mengungkapkan sisi gelapnya kepada Taeyeon, selama ini dia tak pernah mencurahkan perasaannya pada siapapun bahkan pada kedua orang tuanya, dia hanya memendamnya sendiri, sambil terus mencari apa yang terjadi pada dirinya, semua memorinya seakan terkunci rapi dalam kotak Pandora yang tidak akan pernah bisa terbuka.

“Chaa seperti itulah”, yang kemudian menyulap wajahnya yang tadinya muram menjadi ceria kembali, benar-benar pintar menggunakan topeng, sangat pintar memainkan expresssi wajahnya.

Taeyeon yang mendengar hal itu hanya mencerling,  dia menjadi ingat dengan dirinya sendiri karena dia juga mengalami kejadian serupa dengan Stephan, hanya berbeda sedikit tentang bagaimana bayangan-bayangan itu datang, bayangan itu seakan-akan menyiksa Stephan setiap detiknya berbeda dengan dirinya yang hanya melihat bayangan dalam mimpi tanpa merasa tersiksa

“Ada sisa makanan di bibirmu” Stephan membuka pembicaraan setelah sekitar seperempat jam berada dalam keheningan, Stephan menunjukan jari telunjukanya ke bibirnya untuk membantu Taeyeon

Taeyeon yang sedari hanya berdiam diri akhirnya mengangkat tangannya dan mengusap-usap ujung bibirnya sebelah kanan, “Ottae?”, ia bertanya pada Stephan yang sedari tadi matanya tidak jauh-jauh dari wajah Taeyeon, dan ternyata Stephan malah tertawa karena sisa makanan yang tidak berpindah dari tempatnya

“Masih ada”, Jawab Stepan di sela-sela tawanya

Wajah Taeyeon terlihat sangat lucu yang lengkap bercampur dengan rasa malu dan gugupya. Saking paniknya malah mengotori pipinya yang mulus.

Tidak kuat menahan akhirnya Stephan tertawa terbahak-bahak melihat sosok di depan yang begitu lugu “Masih” ucapnya yang terpingkal-pingkal dan memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa karena semakin di bersihkan wajah Taeyeon makin belepotan.

Akhirnya Taeyeon tersenyum hambar karena terlalu malu, yang akhirnya membuatnya semakin lucu saja. Masih mencoba membersihkan kotoran namun tak kunjung berhasil juga.

“Payah”, ucap Stephan mengeluarkan sapu tangan yang terdapat gambar daun semanggi berdaun 4, “Jangan banyak gerak”gumamnya namja itu sambil mendekatkan posisinya panda Taeyeon, membersihkan sisa makan dengan perlahan.

Beku dan patuh. Taeyeon seperti patung yang tak bergerak sama sekali, nafasnya tertahan ditenggorokan dan jantungnya berdebar 2 kali lebih cepat karena tekanan darahnya yang meningkat hingga 20-30mmHg, sementara membersihkan wajah yeoja itu, keduanya menyukai saat-saat ini, Sangat lucu, begitulah pikiran Stephan melayang sambil memandangi wajah yang telah tak pernah luput dari perhatiannya. Tiba-tiba saja tatapan mereka bertemu, sebelum Taeyeon mengalihkan pandanganya ke beberapa mahasiswa yang hilir mudik.

Setelah selesai membersihkan kotoran di wajah Taeyeon, akhirnya tangannya dengan gesit mengambil kalung yang sedari tadi Taeyeon pegang dan berniat memasangkannya di lehernya kembali, setelah berhasil mengambil kini kedua tangannya sudah lincah memasangkan kalung Taeyeon di lehernya dengan posisi ini Taeyeon jelas merasakan hembusan nafas Stephan, saat ini Taeyeon sedang mengalami Totally speechless.

Tiba-tiba saja tangan Stepan menyisihkan helai-helai rambut Taeyeon yang tertiup hembusan angin. Keduanya membisu, hanya saling tertatap mata dengan jarak yang terbilang sangatlah dekat, kemudian Stepan menyelipkan rambut Taeyeon kebelakang telinga yeoja itu, Taeyeon hanya diam, dan tiba tiba saja ada seorang yang menabrak punggung Stephan yang kemudian membuat bibir mereka bertemu, mata keduanya membelak-lalak dan secepat kilat menjauhkan posisi, Taeyeon yang teramat malu akhirnya mengusap-ucap bibirnya keras, berharap bekas ciuaman tadi bisa hilang.

Mianhae”, ucap Stephan yang mencoba minta maaf

Ani… itu bukan salahmu”, jawab Taeyeon yang kemudian berbalik dan berlari menjauh dari Stephan

“Tadi di kantin…”, sahut Stephan minta maaf kepada Taeyeon di depan kelasnya

Aniyo…lupakan saja”, jawab Taeyeon menunduk, Stepan menarik lengan Taeyeon, tersenyum malu namun penuh arti, berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya mereka berada di depan lift, Taeyeon bingung kenapa dia di ajak ke lift, sedangkan Stephan tersenyum melihat Taeyeon yang kebingungan, setelah hampir setengah menit menuggu di lift, akhirnya setelah menuggu beberapa detik lift terbuka, tanpa menunggu detik berlalu keduanya langsung masuk bersama sambil bergandengan tangan, entah sejak kapan pula rasa sakit dan rasa sesak saat berada di dekat Stephan itu hilang dan berganti dengan rasa nyaman dan bahagia.

“Apakah kau pernah terbang?”, tanya Stephan menatap Taeyeon

Ani”, sahutnya singkat
“Hemm, kalau begitu aku akan membuatmu terbang” Stephan membalik tubuhnya dan mengeret Taeyeon mendekat ke dinding, dan menaikan tangan kanan dan menempelkan ke dinding lift

Igo mboya?”, tanya Taeyeon pada Stehpan

“Supermen…..”, teriak Stephan dan lihat sekarang keduanya  bisa lihat pemandangan luar melalui dinding lift yang transparent, Taeyeon menyinggung senyum, seperti mengulang hal yang dulu mereka lakukan dulu sebelum ingatan mereka menghilang

“Ini benar-benar mengasikan”, jawab Taeyeon yang berlanjut memeluk pinggang Stephan dengan tangan kirinya, terlihat nyaman bersama karena tidak ada orang lain selain mereka berdua

“Kau telah merebut ciuman pertama ku”, ucap Taeyeon yang sudah berani menatap mata coklat jernih Stephan

“Yang tadi itu bukan ciuman, bagaimana bisa hal seperti itu di katakan berciuman” mata Taeyeon membelalak, karena bagi seorang Stephan tadi pagi itu bukan ciuman melainkan bibirnya bertemu dengan bibir Taeyeon bertemu secara tidak sengaja, kecuali kalau mereka melakukannya dengan cinta maka itu baru di namakan ciuman. Wajah Stephan mendekat kepada Taeyeon, melihat bibir sexy Taeyeon dan saat ini mereka berciuman dengan sebenarnya bukan karena ketidak sangajaan tapi dengan perasaan, Taeyeon yang awalnya syok  akhirnya mulai menikmati ciuman mereka, mulai menjelajah lidah mereka dan saling bertukar cairan dan mengeluarkan seroton yang membuat detak jantung mereka berdetak lebih cepat dan lebih cepat dari biasanya, saat Stephan menelepaskan ciuman mereka untuk mencari udara, tiba-tiba expressi wajah Taeyeon berubah kecewa.

“Itu ciuman pertama kita _”, ucap Stephan, belum sempat melanjutkan tiba-tiba saja Taeyeon memegang wajah Stephan dengan kedua tangannya yang mungil, dan kemudian menyatukan bibir mereka lagi, melalukan ciuman yang tadi terhenti karena kehabisan udara, Taeyeon seperti sudah menemukan euphoria yang tidak ingin di lepaskan, ciuman mereka semakin dan semakin dalam, sampai akhirnya mereka tidak sadar mereka menjadi bahan tontonan mahasiswa karena liftnya terbuka dan sampai ke lantai yang mereka tuju.

“Aku akan mengantarkanmu pulang, Tidak boleh ada kata penolakan!”. Taeyeon meringis pelan ketika Stephan mendudukkan gadis itu pada jok mobilnya. Stephan menarik seatbelt jok Taeyeon perlahan, Taeyeon sedang berusaha menahan nafasnya sejenak ketika menyadari betapa dekat mereka sekarang. Wajah mereka sungguh dekat, bahkan keduanya bisa mencium bau napas masing-masing—Taeyeon sempat mengernyit saat mencium bau makanan dari mulut Stephan-.kini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dahi sempurna Stephan dengan mengunakan kedua manik matanya dan anak-anak rambut Stephan yang menyentuh bahunya intim.

KLIK!

Stephan menekan kunci elektronik yang lantas membuat pintu mobilnya terkunci otomatis , entah sejak kapan Stephan masuk ke mobil, Taeyeon sama sekali tidak sadar mengingat ia masih terkejut dengan mesranya posisi mereka tadi. Berada dalam satu mobil dengan Stephan membuat jantung Taeyeon menjadi tak karuan, sejak kejadian kepergok berciuaman di lift mereka hanya membisu.

Taeyeon sendiri hanya bertanya-tanya, mengapa dirinya terbawa oleh nafsu saat berciuaman dengan Stephan, merasa sangat tolol hingga mereka jadi bahan tontonan mahasiswa yang hendak masuk ke dalam lift, namun sejujurnya dia sangat menikmati ciuman panas dengan Stephan, rasanya seperti candu yang tidak bisa di lepas begitu saja.

Diam-diam Taeyeon melirik Stephan yang fokus mengemudi dan beberapa kali mengetuk roda stir mobil yang sedang menikmati alunan lagu yang sedang mereka dengarkan –The Boy-, dalam hati Taeyeon tertawa sepertinya lagu ini sangat cocok untuk mereka saat ini hanya saja liriknya sedikit di rubah untuk beberapa bagian seperti ini “Boy Bring The Girl Out!” karena sekarang dirinya merasa bahwa dirinya lah yang teramat tertarik dengan Stephan.

Seolah perutnya tergetik, melirik rupa Stephan, garis hidungnya yang elok, rahang yang yang begitu sempurna. Kali ini dia tak dapat menghindar lagi karena perutnya seperti sedang mengalami gempa, seperti pertama kali pertemuan mereka di hall kampus, jantungnya berdetak lebih cepat mengingat semua kejadian dirinya dengan Stephan, semuanya seperti rekaman video yang berkualitas HD dan berputar begitu lancar di otaknya.

“Kita lewat jalan yang mana?”, tanya Stephan pelan, dirinya tidak tau harus kemana melajukan mobilnya karena di depan mereka ada persimpan jalan.

Taeyeon menoleh cepat. Teramat kaget. Ia tidak siap dengan pertanyaan Stepan yang begitu mendadak.

“Ahh pilih jalan yang kanan”, sahut Taeyeon, Stephan mengangguk, kemudian menjalankan mobilnya kembali.

“Kenapa kau begitu baik padaku”, Taeyeon ganti bertanya, Stephan menarik bibirnya dan mengulas senyum tipis yang mengetarkan hati Taeyeon kembali

“Tidak alasannya”, ucapnya singat

“Mana bisa seperti tidak ada api yang tidak berasap”, tegas Taeyeon

“Memang, ini sama halnya saat aku mencintai seseorang, aku tak butuh yang namanya alasan, karena aku tak mau bila alasan itu menghilang maka aku juga tidak akan mencintainya lagi”, suara Stephan yang menjawab dengan suara seraknya semakin membuat Taeyeon jadi tergila-gila dengan sosok di sampingnya, laki-laki yang di sampingnya ini benar-benar lain, baru kali ini dia menganggap seorang namja sebagai seorang pangeran, karena dia kira selama ini dia berpikir bahwa lelaki itu jahat semua-kecuali oppa dan appanya-, sekarang dia telah menemukan sosok pangeran itu.

Tak terasa kini mereka sudah berada di depan rumah Taeyeon, setelah mobil berhenti Taeyeon langsung keluar dari mobil Stephan, memberi lambaian kepada Stephan, berharap nanti malam ada bintang jatuh, maka dia akan berdoa supaya bisa bertemu dengan namja itu, sekedar mengobrol, atau sekedar memperdalam hubungan…hanya sekedar ingin bertemu dengannya….

Ketika sudah di depan pintu rumahnya, tiba-tiba Stephan memanggil Taeyeon dengan suara seraknya, sambil melambi-lambai supaya mendekat padanya, Taeyeon yang hendak membuka pintu rumahnya mengurungkan niatnya dan memasukan kunci pada tasnya, berjalan kembali ke mobil Stephan harap-harap cemas, apa ada barang yang ketinggalan atau yang lainnya? Melihat Taeyeon yang semakin dekat membuka jendela mobilnya, “Igo” , ucap Stephan yang memberi Taeyeon sebuah kancing bajunya yang kedua dari atas.

“Kenapa kau memberi kancing ini padaku?”, tanya Taeyeon kebingungan

“Karena kancing kedua itu letaknya paling dekat dengan jantung, dan apa bila aku memberinya maka aku menyerahkan hatiku pada orang yang menerimanya”, ucapan cinta Stephan secara tak langsung, kalau orang tak peka maka dia tidak sadar kalau Stephan sedang menembak Taeyeon, cara menembak yang tidak pernah ada yang menyamai, itulah Stephan begitu sempurna dengan sosoknya yang rupawan dan sikapnya yang manis.

Taeyeon tottaly speechless, pikirannya melayang ke dalam dunianya, kemudian ia sadar saat Stephan saat menciumnya cepat lewat jendela mobil, Stephan melepaskan ciuman mereka akan tetapi Taeyeon masih saja terpejam, melihat expressi yang Taeyeon yang teramat lucu akhirnya Stephan mengacak-acak  rambut Taeyeon.

Kyepotta”, Taeyeon membelalakan matanya karena dia tidak sadar kalau ciuman mereka sudah berhenti sedari tadi, serasa malu namun bahagia saat mengalami hal tolol lagi bersama dengan Stephan.

Setelah selesai mengacak-acak rambut Taeyeon, Stephan duduk kembali, setelah itu menutup jendela mobilnya dan memberi lambian kepada Taeyeon karena hari ini pertemuan mereka sudah berakhir dan di lanjutkan dengan besok yang lebih indah

Taeyeon POV

Yang tadi mimpikan? Kenapa terasa begitu indah? Aku tak yakin ini kenyataan, Taeyeon irona, irona, IRONAAAA…………….

Kenapa susah sekali terbangun dari mimpi indah ini? kenapa mimpi ini terus berlanjut tanpa berhenti, kenapa aku terus melanjutkan mimpi ini?

Kucubit pipiku dan “Aw” sakit, ternyata ini bukan mimpi dan ini NYATA!!!

Kyaaa Stepahan menambakku Kyaaaaa Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

“STEPHAN HWANG KAU MILIKIKU!”, teriak ku loncat-loncat

THE END

Curcol Author : Eyakkk siapa yang menangka kalau ni ff Cuma 1shoot???

Hahahaha q dah bilang akan ada kejutan disini yah ini dia kejutannya cma oneshoot, mungkin bnyak yang ngira chapter karena ada intro n teasernya segala XD

Say sorry karena q gak bisa merubah gander taeny, knpa?? Masak tae di 49days itu cewek tiba2 jadi cowok, g mungkin bgt kan???

Dan aku juga ingin keluar dari zona nyaman Locksmith yang selalu menjadikan tae menjadi namja dan pany jadi yeoja, walaupun q tau resikonya bakal bnyk LS yang gak tertarik dengan ff, but q gak masalah karena katanya guru q waktu SMA, org sukses adalah orang yang berani keluar dari zona nyamannya,

So gmn tanggapannya???

Iklan

71 thoughts on “For Eternal Love [Squel, Chapter 1/?]”

  1. Sebenernya emg agak absurd sih thor kalo baca dan membayangkan tiffany yg jadi namjanya rasax gak pas bgt gitu jadi baca ini ttp membayangkan taeyeon yg namjax hehehe xD

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s