SNSD

TIME TRAVEL Part 1 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja 🙂 kamsahamnida ^-^

Part 1

“Yuri! Kau lihat kunci lokerku?” Yuna memeriksa semua saku di
pakaiannya dan tetap tidak menemukan apa yang ia cari. Padahal semua
barang – barangnya dan juga barang – barang Yuri ada di dalam loker
itu. Mereka sengaja menggunakan satu loker bersama tanpa alasan yang
jelas. Mereka sudah terbiasa seperti itu. Mereka sudah terbiasa
berbagi untuk segala hal. Menggunakan satu kamar bersama, memakai satu
sepeda saat pergi ke kampus, bahkan memakai satu kamar mandi di saat
yang bersamaan. Untung saja mereka tidak memakai satu sepatu bersama.
Yuna dan Yuri adalah saudara kembar. Mereka lahir dari proyek
penelitian G9. Banyak anak kembar yang lahir dari proyek tersebut.
Semua dari mereka kembar identik. Hanya Yuna dan Yuri yang berbeda.
Mereka sama sekali tidak mirip. Mereka sama sekali tidak seperti
saudara.
“Kau menghilangkan kuncinya lagi?” Yuri datang tergopoh – gopoh
mendekati Yuna. “Harusnya aku yang memegang kuncinya tadi.”
“Lalu mengapa kau menyerahkannya padaku?” Yuna yang kesal menendang
pintu loker berharap lokernya akan terbuka jika ia menendangnya.
“Bagaimana ini? Aku meletakkan ponselku di dalam!”
“Mengapa kau meletakkan ponselmu di loker? Dasar bodoh!” Yuri mencibir
mencemooh.
“Kalau begitu aku pinjam ponselmu.” Yuna mengulurkan tangannya meminta
agar Yuri menyerahkan ponselnya. “Aku akan menghubungi Gama untuk
meminta kunci cadangan.”
Yuri hanya manatap telapak tangan Yuna. Ia teringat sesuatu kemudian
tersenyum. “Aku meletakkan ponselku di dalam tas.”
“Dan tasmu di loker?” Yuna menebak. Dan dari ekspresi yang
diperlihatkan Yuri, ia yakin kalau tebakannya benar. “Lalu apa yang
harus kita lakukan sekarang? Bagaimana dengan barang – barangku?”
“Sudah kita pulang saja. Besok kita minta Gama mengeluarkan barang –
barang kita. Sekarang dia pasti sudah pulang.” Yuri mencoba tidak
terlihat panik. Memangnya mengapa ia harus panik? Barang – barangnya
tidak hilang, hanya terkunci di dalam loker. Saat kunci loker terbuka,
ia akan mendapatkan kembali barang – barang miliknya. “Ayo kita cepat
pulang! Sekarang sudah malam, dan aku lelah.”
Yuri berjalan terlebih dahulu meninggalkan lorong kampus yang sepi. Ia
kemudian menghentikan langkahnya karena Yuna tidak mengikutinya dan
masih berdiri menatap loker yang terkunci. Sepertinya Yuna masih tidak
rela meninggalkan barang – barangnya begitu saja meskipun hanya satu
malam.
“Yuuunaaaa!” Yuri memanggil Yuna agar gadis itu mengikutinya.
Dengan langkah gontai, akhirnya Yuna mengikuti Yuri meskipun ia masih
belum mau meninggalkan barang – barangnya. Ia terus menunduk dan
berjalan sambil menatap lantai.
“Mengapa kau menunduk? Ayo cepat jalan!” Yuri memegang kuduk Yuna dan
menyeretnya seperti membawa seekor anak kucing. Yuna hanya bisa pasrah
diseret seperti itu oleh Yuri.
Yuna berhenti begitu mereka keluar dari lobi kampus. Ia menyingkirkan
tangan Yuri yang masih memegangi kuduknya. Kemudian ia melihat
sekeliling. “Apa kau merasakan ada yang aneh?”
Yuri ikut memperhatikan sekitarnya. Ia juga menyadari apa yang
dimaksud oleh Yuna. “Mengapa begitu sepi?”
“Lihat itu!” Yuna menunjuk seonggok logam yang mengeluarkan kilatan –
kilatan cahaya di sekitarnya.
“Apa itu Gama?” Yuri menyipitkan matanya mencoba memastikan apa yang
dilihatnya. “Benar, itu Gama! Kenapa dia? Korslet lagi?”
“Aku akan memeriksanya!” Yuna berlari menuju Gama. Namun baru beberapa
langkah ia keluar dari gedung kampus, JLEB! Tubuhnya menghilang.
“Yuna?” Yuri melihat sekeliling mencari sosok Yuna yang tiba – tiba
menghilang tepat di depan matanya. “YUNA!!”
Tidak ada jawaban dari Yuna. Yuri yang panik mencoba mencari Yuna di
tempat gadis itu menghilang tadi. Namun begitu ia melangkahkan kaki
keluar dari gedung kampus, JLEB!

***

Seorang gadis menatap gedung kampus di depannya sambil mendesah. Ia
tidak suka harus kembali ke tempat ini. Mengapa masa liburan selalu
lebih pendek dari jangka waktu perkuliahan? Bukannya itu berarti ia
tidak suka kuliah. Ia tidak akan kembali ke tempat itu jika ia benar –
benar tidak suka kuliah. Hanya saja ada sesuatu yang menyebalkan di
kampus ini. Seseorang yang sangat dibencinya.
Gadis itu adalah Jessica. Ia adalah mahasiswa semester enam di kampus
tersebut. Selama kuliah di tempat itu, ia nyaris tidak punya teman.
Bukan hanya nyaris, ia bahkan sama sekali tidak punya teman. Itu
karena anak – anak lain menganggapnya angkuh dan arogan. Memang ia
terlihat seperti itu, namun ia sebenarnya tidak angkuh ataupun arogan.
Ia hanya tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan kata –
kata. Awalnya tidak ada yang mengerti dengan apa yang ia bicarakan
karena ia datang dari luar negeri. Itulah alasan ia terlihat seolah
bersikap arogan.
“Lihat! Siapa yang baru datang!” Yul beserta teman – temannya datang
mendekati Jessica dan mengitarinya. Yul dan gengnya adalah penguasa
kampus sekaligus alasan mengapa begitu berat baginya untuk kembali ke
kampus. Tidak ada yang berani mengganggunya, dan sebaliknya ia selalu
mengganggu anak – anak lain. Terutama mereka yang dikucilkan seperti
Jessica.
Jessica menghela nafas dan mencoba untuk tidak mengindahkan para gadis
menyebalkan itu. Kemudian ia berjalan melalui mereka tanpa menoleh
sedikitpun. Ia tidak ingin mencari masalah dengan mereka. Ia lelah
terus menerus berurusan dengan mereka.
“Kau berani mengacuhkanku?” Yul menarik tas yang sedang dibawa Jessica
membuat langkah gadis itu terhenti. Kemudian ia merebut tas tersebut
dengan kasar dan mengeluarkan isinya.
“APA YANG KAU LAKUKAN?” Jessica berteriak melihat isi tasnya yang berhamburan.
“Barang – barangmu mengotori kampus ini.” Yul menendang barang –
barang Jessica yang berserakan di tanah lalu menginjaknya. Kemudian ia
menyunggingkan senyum penuh kemenangan. “Cepat bersihkan!”
Yul pergi meninggalkan Jessica seorang diri dengan isi tas yang
berserakan. Kim, Shona, dan Mona, ketiga temannya yang lain
mengikutinya dari belakang dengan setia. Ia benar – benar seperti ratu
di kampus ini. Semua orang merasa takut padanya.
Tak lama berselang, seseorang menabrak Yul hingga membuatnya terdorong
beberapa langkah ke samping. Gadis malang bertubuh pendek tersebut
terlalu terburu – buru sehingga tidak menyadari kalau ada seorang ratu
yang lewat di depannya.
“Kau tidak punya mata?” Yul berteriak penuh kemarahan.
“Maafkan aku!” Gadis itu menunduk meminta maaf pada Yul. Ia tidak
berani mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang penuh kemarahan
itu. Ia tahu siapa yang ia tabrak dan ia benar – benar menyesalinya.
“Tunggu dulu! Sepertinya aku mengenalimu.” Yul mendekat pada gadis itu
kemudian menyentuh wajahnya dan mendongakkannya ke atas. “Aku sering
melihat wajah ini! Tapi dimana?”
“Aku Sunny! Aku sekamar denganmu hampir tiga tahun.” Gadis itu
tersenyum. Ia tersenyum bukan karena merasa senang. Ia selalu
memperlihatkan senyum itu pada orang – orang. Tidak peduli ia sedang
sedih ataupun ketakutan.
“Kita sekamar?” Yul mencoba mengingat. Ia kemudian menjentikkan
jarinya begitu teringat sesuatu. “Kau yang sering mencuci pakaianku?”
Sunny mengumpat di dalam hati. Memang ia yang selalu mencuci pakaian
Yul. Namun apa itu penting di umumkan di depan banyak orang seperti
ini? Selama ini ia melakukannya karena takut pada Yul. Yul selalu
bersama – sama dengan temannya. Mereka hanya berani main keroyokan.
“Pergilah! Kau aku maafkan!” Yul mengayunkan pergelangan tangannya
menyuruh Sunny menjauh. Dan tentu saja Sunny langsung mematuhinya.
Memangnya siapa yang berani berlama – lama di dekat Yul. Gadis itu
benar – benar mengerikan.
“Kau tidak apa – apa?” Yuna datang mendekati Sunny begitu Sunny
menjauh dari Yul.
“Kau darimana saja? Mengapa baru datang sekarang? Harusnya kau
menolongku tadi.” Sunny meluapkan kekesalannya. “Dan bagaimana aku
tidak apa – apa? Aku nyaris mati di keroyok oleh para penyihir itu!”
Yuna mengernyit setelah mendapatkan respon seperti itu dari Sunny. Ia
sebenarnya tidak terlalu kenal dekat dengan Sunny. Ia hanya sebatas
mengetahui gadis itu saja karena mereka berada di fakultas yang sama.
Tadi ia kebetulan lewat saat Sunny sedang di ganggu oleh Yul. Ia
sebenarnya tidak takut pada Yul sekaligus tidak suka dengan sikap Yul
yang suka mengganggu anak lain. Karena itu ia menghampiri Sunny dan
menanyakan keadaannya. Lalu mengapa ia malah mendapatkan omelan?
“Maaf! Aku terbawa emosi.” Sunny menghela nafas dan mencoba
mengendalikan dirinya. Ia kemudian melihat ke belakang dengan cepat
dan mengumpati Yul yang semakin menjauh. “Lihat saja! Suatu hari aku
akan membalasmu!”
Sunny kemudian berlalu meninggalkannya. Yuna melirik Jessica yang
masih mengumpulkan barang – barangnya yang berserakan. Seandainya
orang lain yang mengalami hal itu, ia pasti akan membantunya. Tapi ini
Jessica. Ia tidak suka gadis itu. Wajah gadis itu tidak terlihat
ramah. Apalagi selama mereka berbagi kamar yang sama selama beberapa
tahun terakhir ini, Jessica selalu menunjukkan ekspresi kurang
bersahabatnya.
Alih – alih membantu Jessica, Yuna malah pergi meninggalkan tempat
itu. Memang ia tidak menyukai setiap Yul mengganggu orang lain. Tapi
ia juga tidak menyukai Jessica. Gadis itu terlihat begitu arogan.
Pantas saja dia tidak punya teman.

***

Yuna tersentak dan terbangun di sebuah kamar yang terlihat asing
olehnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing sambil
bergumam. “Dimana ini?”
Terakhir kali Yuna mengingat kalau ia dan Yuri baru pulang dari kampus
mereka. Kemudian mereka melihat Gama, robot penjaga kampus tergeletak
di tengah lapangan. Ia berniat untuk menghampiri Gama. Lalu mengapa
tiba – tiba berada di tempat ini?
Di sisi ruangan yang lain Yuna melihat sebuah ranjang lain dengan
seorang gadis berambut pirang tidur di atasnya. Wajah gadis itu terasa
asing, ia tidak mengenalnya. Ia kemudian berdiri dan melihat ruangan
tempatnya berada dengan seksama. Ia juga tidak mengenali ruangan ini.
Lalu dimana Yuri? Bukankah ia baru saja bersama Yuri? Dan dimana gadis
itu sekarang? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Ini benar – benar
membuatnya bingung.
Yuna membuka salah satu pintu di ruangan itu. Ia tadinya berencana
untuk mencari Yuri. Namun pintu tersebut mengarah ke kamar mandi.
“Hh, apa – apaan ini?” Yuna heran begitu melihat kamar mandi tersebut.
“Mereka masih menggunakan shower? Kuno sekali!”
Setelah selesai melihat – lihat kamar mandi, Yuna keluar dan menutup
pintu tersebut. Begitu ia keluar dari kamar mandi, gadis pirang yang
tadinya tidur sudah bangun. Gadis itu duduk di sisi ranjangnya dengan
mata sembab. Mungkin ia bisa menanyakan sesuatu padanya.
“Maaf, boleh aku tahu ini dimana?” Yuna bertanya pada gadis itu.
Mendengar Yuna bicara, gadis itu tersentak. Ia celingukan melihat ke
kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu. Kemudian ia menunjuk
hidungnya sendiri. “Kau bicara denganku?”
“Ya, aku bicara denganmu.” Yuna mendekati gadis itu dan duduk di sebelahnya.
“Kau tidak pernah bicara padaku.” Gadis itu menjauh saat Yuna duduk di dekatnya.
Tentu saja Yuna tidak pernah bicara dengannya. Ini pertama kalinya
mereka bertemu. Bagaimana mungkin ia pernah bicara pada seseorang yang
belum pernah ia temui?
“Yuna! Mengapa kau tiba – tiba mengajakku bicara?” Gadis itu menatap
Yuna dengan tatapan heran dan waspada.
Gadis itu mengetahui namanya. Gadis itu mengenalnya? Ini terasa
semakin aneh. “Kau tahu namaku? Sebenarnya siapa kau?”
“Ch, tentu saja aku tahu namamu.” Ujar gadis itu dingin. Ia kemudian
menatap Yuna dengan tatapan aneh. “Aku Jessica, teman sekamarmu,
meskipun kita tidak pernah bicara sebelumnya. Kau tidak ingat?”
Teman sekamar? Ini gila! Mengapa ia tiba – tiba punya teman sekamar?
Selama ini yang berbagi kamar dengannya hanyalah Yuri. Mengapa gadis
ini tiba – tiba mengaku sebagai teman sekamarnya? Dan mengapa gadis
ini mengenalnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia bermimpi?
Yuna keluar dari kamar itu. Ia harus mencari Yuri. Ia harus segera
menemukan Yuri. Namun begitu keluar, ia menemukan dirinya berada di
sebuah gedung. Ia tahu gedung itu dan merasa semakin aneh dengan itu.
Gedung tempatnya berpijak adalah sebuah asrama mahasiswa yang sudah
tidak dipakai lagi. Gedung itu sudah terlalu tua dan berbahaya untuk
digunakan. Karena itu pihak universitas memutuskan untuk menutupnya
dua puluh tahun yang lalu. Ia sering melihat gedung itu setiap pulang
dari kampus. Hanya saja gedung itu terlihat sedikit berbeda dari yang
berada di dalam ingatannya. Gedung itu masih terlihat baru. Tidak
seperti gedung tua.
Ia menyusuri lorong demi lorong dari bangunan itu. Apa benar ini
gedung yang sama? Dari gedung itu ia bisa melihat bangunan kampusnya.
Posisi yang sama, hanya saja bentuk bangunan yang berbeda. Ia yakin
itu kampusnya. Ia pernah melihat foto bangunan itu saat masa orientasi
dulu. Hanya saja kampusnya tidak seperti itu sekarang. Foto yang
dilihatnya itu adalah foto bangunan kampusnya seratus tahun yang lalu.
Lalu mengapa kampusnya terlihat seperti seratus tahun yang lalu? Apa
mungkin mereka merubahnya dalam satu malam?
Mahasiswa lain mulai berseliweran untuk memulai aktifitas mereka pagi
itu. Yuna memperhatikan mereka satu persatu. Wajah – wajah itu. Ia
tidak mengenal satupun dari mereka.
“Yuna!” Seseorang memegang bahunya. Yuna refleks berbalik dan melihat
orang itu. Itu Yuri. Nafasnya tersengal seperti baru saja selesai
berlari. Sambil mengatur nafas, ia melanjutkan kata – katanya. “Aku
mencarimu dari tadi.”
“Yuri?” Yuna tersenyum lebar begitu melihat Yuri. Ia senang akhirnya
bisa menemukan seseorang yang dikenalnya di tempat asing seperti ini.
“Tempat ini aneh.” Yuri melihat sekelilingnya dengan kalut. “Orang –
orang terus memanggilku dengan sebutan Yul. Sebenarnya dimana ini?
Mengapa kita bisa berada disini?”
“Kita berada di kampus.” Yuna memegang kedua bahu Yuri dan menatapnya
dengan serius. “Aku rasa kita kembali ke seratus tahun yang lalu.”
“Kau bercanda?” Mata Yuri melebar mendengar perkataan Yuna. Ia
kemudian melihat sekitarnya. Sepertinya apa yang Yuna katakan itu
masuk akal. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana kita
kembali?”
“Kalian disini juga?” Seorang gadis bertubuh kecil tiba – tiba muncul
di antara mereka. Ia kemudian menatap Yuri dan Yuna seperti tidak
yakin. “Yuri? Yuna?”
“Sunny?” Ujar Yuri dan Yuna di saat yang nyaris bersamaan.
“Syukurlah ini memang benar kalian. Aku nyaris gila berada disini.
Tempat ini benar – benar aneh!” Sunny kemudian maju dan bersembunyi di
antara Yuri dan Yuna saat beberapa orang mahasiswa lain lewat dan
menatap mereka dengan tatapan aneh.
“Bukankah itu Yul?” Terdengar suara orang – orang itu berbisik saat
melihat mereka bertiga. “Mengapa dia tidak bersama gengnya?’
Kemudian mahasiswa lainnya lewat dan juga berbisik saat melihat
mereka. “Yul? Bersama Sunny dan Yuna?”
Ini terasa semakin aneh saja. Orang – orang itu sepertinya mengenali
mereka bertiga. Jika memang mereka kembali ke seratus tahun yang lalu,
seharusnya orang – orang tidak mengenali mereka.
“Kita cari tempat lain untuk bicara. Disini terlalu ramai.” Yuna
menarik tenagn Yuri dan Sunny menuju tempat yang dimaksudnya.

***

Jessica duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya. Ia sedang
bersiap – siap untuk pergi ke kampus. Ia ada kelas pagi ini.
Sebenarnya ia sudah sedikit terlambat, tapi ia malah sempat –
sempatnya melamun. Ia terpikir kembali dengan sikap Yuna tadi. Mengapa
gadis itu tiba – tiba bicara dengannya? Padahal selama ini jangankan
bicara, ia bahkan memperlakukan Jessica seolah gadis itu tidak pernah
ada.
Pintu kamar terbuka. Jessica tersentak dan langsung berdiri begitu
melihat siapa yang datang. “Oh my God! Yul?”
Sebenarnya bukan hanya Yuri -yang dikira Jessica adalah Yul- yang
masuk ke kamarnya. Tapi juga Yuna dan Sunny. Ia tidak heran dengan
Yuna yang masuk ke kamar secara tiba – tiba. Ini juga kamarnya. Sunny
juga sudah biasa datang. Sunny memang sering masuk ke kamar orang lain
secara sembarangan meskipun ia tidak akrab dengan orang itu. Tapi ini
Yul? Gadis yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya. Gadis yang
selalu ia hindari sebisa mungkin. Gadis yang selalu mendatangkan
masalah untuknya.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Lanjut Jessica kemudian. Otomatis
tangannya meraih botol parfum untuk melindungi diri siapa tahu Yul
datang untuk menyakitinya. Dan memang setiap kali ia bertemu Yul,
gadis itu selalu menyakitinya. Seperti kemarin. Ia harus mencuci
kembali semua pakaiannya berkat ulah Yul.
“Hai!” Yuri melambaikan tangannya pada Jessica bersikap sok akrab
karena ia melihat Jessica sepertinya mengenalnya. Lebih aman baginya
juga berpura – pura mengenal Jessica mengingat ia tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi pada dirinya, Yuna, dan juga Sunny. Ia kemudian
tersenyum pada Jessica agar gadis itu tidak curiga. “Aku hanya datang
berkunjung. Yuna yang mengajakku.”
Jessica mundur beberapa langkah. Ia semakin erat menggenggam botol
parfum yang dipegangnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia
lihat. Yul tersenyum padanya? Yul bahkan bersikap ramah padanya. Pasti
Yul sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang benar – benar jahat.
Yuna, berjalan mendekati ranjang tempatnya terbangun tadi kemudian
duduk disana. Sunny dan Yuri mengikutinya. Mereka duduk berdekatan
kemudian berbicara sambil berbisik sehingga Jessica tidak bisa
mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Yuna dan Sunny bergabung dengan geng Yul? Dan mereka sekarang berada
di kamarku? Tamatlah riwayatku kali ini.” Pikir Jessica. Ia semakin
mundur hingga ke sudut ruangan. Ia bersiap mengambil ancang – ancang
untuk melawan jika ia mendapatkan serangan mendadak.
Sementara itu Yuri, Yuna, dan Sunny tidak mempedulikan Jessica. Mereka
bahkan tidak menyadari ekspresi ketakutan dari gadis itu. Ada masalah
yang lebih penting saat ini.
“Bagaimana kau bisa disini?” Yuri bertanya pada Sunny sambil berbisik.
“Aku juga tidak tahu.” Bisik Sunny. “Saat itu aku baru saja selesai
kuliah. Saat aku keluar dari kampus, aku melihat Gama tergeletak di
lapangan. Saat aku ingin melihatnya, tiba – tiba saja aku sudah di
tempat ini.”
“Sama persis denganku.” Yuna lebih mirip bergumam daripada berbisik.
“Menurut Yuna, kita berada di masa lalu. Tepatnya seratus tahun yang
lalu.” Yuri memberitahukan Sunny apa yang dikatakan Yuna padanya tadi.
“Apa?” Sunny sedikit berteriak saking kagetnya. Kemudian ia kembali
berbisik. “Bagaimana mungkin kita bisa kembali ke masa seratus tahun
yang lalu? Dan bagaimana dengan orang – orang yang mengenal kita itu?
Kalau memang ini adalah masa lalu, orang – orang itu seharusnya tidak
mengenal kita yang datang dari masa depan.”
“Itu…” Yuna berpikir keras. “Mereka tidak mengenal kita. Mereka
hanya mengira kalau mereka mengenal kita.”
“Maksudmu?” Yuri tidak mengerti dengan perkataan Yuna.
“Begini…” Yuna memperbaiki posisi duduknya sebelum menjelaskan.
“Mereka tidak benar – benar mengenali kita. Mereka hanya mengenali
orang lain yang mirip dengan kita yang hidup di masa ini. Mungkin diri
kita di masa lalu.”
“Diri kita di masa lalu?” Yuri kembali menyela karena dia tidak mengerti.
“Seperti reinkarnasi. Diri kita di masa lalu yang sudah meninggal
kemudian bereinkarnasi menjadi diri kita yang sekarang.” Sunny
menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti Yuri.
Yuna mengangguk membenarkan sementara Yuri membentuk huruf O dengan
bibirnya menandakan kalau ia mengerti.
“Mereka merencanakan sesuatu! Apa yang harus aku lakukan? Melarikan
diri? Tidak! Aku tidak boleh melarikan diri. Mereka akan melakukan
sesuatu dengan barang – barangku nanti.” Pikiran Jessica berkecamuk
sementara ia mengawasi ketiga gadis di hadapannya mendiskusikan
sesuatu.
Ketakutan Jessica bukannya tidak beralasan. Yul memang selalu
mengganggunya. Jika ia tidak bisa menyentuh Jessica, ia akan mulai
mengusik barang – barang milik Jessica. Pernah suatu kali Yul
menggantung pakaian dalam Jessica -yang entah bagaimana cara ia
mendapatkannya- di depan kelas. Tentu saja Jessica sangat malu sejak
kejadian tersebut. Karena itulah ia overprotektif terhadap barang –
barang miliknya saat ini setelah ia melihat Yul berada di kamarnya. Ia
tidak akan pergi. Ia akan melindunginya sampai mati.
“Lalu jika memang ada diri kita yang lain, dimana mereka saat ini? Apa
yang terjadi jika kita bertemu dengan mereka?” Yuri bertanya lagi.
“Benar!” Sunny menatap Yuna meminta jawaban diikuti oleh Yuri.
“Mengapa kalian menatapku? Aku sama tidak tahunya dengan kalian!” Yuna
protes. Dalam situasi seperti ini, mereka sama – sama bingung. Tidak
ada satu petunjukpun yang bisa memastikan apa yang sebenarnya yang
sedang terjadi.
Yuri melirik Jessica sekilas. Sejak tadi ia menyadari gadis itu terus
menatapnya sambil meremas botol parfum. Yuri kemudian mendekatkan
kepalanya pada Sunny dan Yuna kemudian bicara dengan lebih pelan lagi.
“Lihat gadis itu! Dia sejak tadi terus melihat ke arah kita. Bukankah
itu aneh? Aku merasa seolah dia siap membunuh kita dengan botol parfum
itu.”
“Benar juga!” Yuna menjentikkan jarinya begitu teringat sesuatu. “Aku
tahu sekarang!”
“Apa?” Ujar Sunny dan Yuri serempak.
“Kita harusnya memikirkan bagaimana caranya kembali ke masa depan.”
Yuna menjawab dengan penuh percaya diri.
“Bagaimana?” Tanya Yuri.
“Itulah yang harus kita pikirkan!” Yuna menatap Sunny dan Yuri
bergantian berharap salah satu dari mereka mempunyai ide.
“Aish! Kalau begitu aku juga tahu!” Sunny berteriak. Kali ini berhasil
membuat Jessica kaget dan terduduk di ranjangnya. “Aku pikir kau sudah
menemukan caranya.”
“Bagaimana aku tahu?” Yuna mencoba membela diri. “Aku sendiri masih
bingung mengapa bisa berada disini.”
Yuri mendesah. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kita tidak punya pilihan lain. Kita jalani saja.” Sunny menjawab
enteng seolah ia tidak pernah panik tadi.
“Maksudmu?” Yuri mengernyit. “Kita tinggal disini?”
“Hanya sementara. Sampai kita menemukan jalan pulang.” Sebenarnya
Sunny hanya mencoba menghibur dirinya sendiri.
“Bagaimana kalau kita tidak pernah bisa pulang?” Kata – kata Yuna
berhasil meruntuhkan semua usaha Sunny.
“Kau mau mati?” Sunny berteriak sambil memukul bahu Yuna. “Mengapa kau
bicara seperti itu? Membuatku takut saja!”
“Tidak! Sunny, Ini serius! Bagaimana kalau kita benar – benar tidak
bisa pulang?” Yuri ikut membuat Sunny kembali panik.
“Kau pikir apa yang kau katakan?” Sunny memukul kepala Yuri dan gadis
itu hanya nyengir.
“Tidak! Ini tidak benar!” Pikiran Jessica berkemelut.
Semakin lama Jessica memperhatikan ketiga gadis itu, ia semakin merasa
ada yang berbeda dari mereka. Sejak kapan Yuna mau berteman dengan
Yul? Meskipun mereka jarang bicara, ia tahu kalau Yuna tidak menyukai
Yul. Dan Sunny. Mengapa ia memukul Yuna dan Yul? Biasanya Sunny hanya
diam jika ada yang mengganggunya. Malah ia yang meminta maaf. Dan yang
paling aneh adalah Yul. Sunny memukulnya dan dia hanya cengengesan.
Yul tidak pernah memaafkan orang yang memukulnya. Ia bahkan mengganggu
orang yang tidak sengaja menghalangi jalannya. Dan sekarang ia hanya
diam saat ada yang sengaja memukulnya. Terlebih lagi orang itu adalah
Sunny. Orang yang selalu diperlakukannya sebagai budak.
“Sebenarnya siapa kalian?” Jessica memberanikan diri mendekat dan
bertanya pada ketiga orang itu.
“Kau tidak mengenal kami?” Yuri tersenyum. Ia kemudian menunjuk
dirinya, Yuna, dan Sunny secara bergantian. “Yul, Yuna, Sunny. Kau
benar – benar tidak mengenal kami? Kami ini selebritis di kampus ini.”
Yuna mencubit pantat Yuri yang asal bicara. Sebenarnya Yuri tidak asal
bicara. Ia hanya mencoba menangkap apa yang ia dengar saat para
mahasiswa membicarakan mereka. Dan yang bisa ia simpulkan dari itu
semua adalah Yul, Yuna, dan Sunny sangat terkenal di kampus mereka.
“Kau tidak pernah tersenyum padaku.” Ujar Jessica pada Yuri dingin dan
berhasil membuat senyuman di wajah Yuri lenyap. “Yuna tidak pernah mau
bicara denganmu seperti ia tidak mau bicara denganku. Dan Sunny tidak
akan berani memukulmu.”
Kata – kata Jessica berhasil membuat ketiganya terdiam. Secepat inikah
mereka ketahuan? Mereka bahkan belum melakukan apapun.
“Katakan siapa sebenarnya kalian.” Jessica memberikan tatapan sedingin
es pada Yuri, Yuna, dan Sunny.
“Bagaimana ini?” Yuna menatap Yuri. “Kita beritahu dia?”
“Sebenarnya aku bukan Yul.” Akhirnya Yuri mengaku. Sekaligus menjawab
pertanyaan Yuna. Tidak ada pilihan lain. Toh mereka sudah ketahuan.
“Aku Yuri.”
“Kalian kembar?” Jessica menaikkan alisnya.
“Bagaimana kau tahu?” Yuna terlihat kaget. Ini pertama kalinya ada
orang menebak kalau ia dan Yuri adalah kembar. Itu karena wajah mereka
tidak mirip sehingga tidak ada yang menyangka kalau mereka kembar.
“Apa sangat mirip?”
Jessica mengangguk.
Yuri diam sesaat memikirkan sesuatu. Sepertinya ada yang salah. “Yuna
kau salah paham! Yang dimaksudnya kembar adalah aku dan Yul. Bukan kau
dan aku.”
“Kalian kembar?” Alis jessica terangkat semakin tinggi. Ia melihat
bergantian Yuna dan Yuri mencoba mencari kemiripan mereka.
“Kau tidak perlu percaya.” Sunny menyela. “Aku juga tidak percaya
kalau mereka kembar. Mereka berdua hanya mengarang cerita kalau mereka
itu kembar. Ha..ha.. Selama ini kalian pikir ada yang percaya pada
kalian?”
“Aku tidak mengerti.” Jessica masih terlihat dingin seperti sebelumnya.
“Kami bukan Yul, Yuna, dan Sunny yang kau kenal.” Yuna yang memberikan
penjelasan. “Kami datang dari masa depan.”
“Kalian sedang mengerjaiku kan?” Ujar Jessica sinis.

***

TBC

Ps.

Seperti yang sudah saya bilang di atas..

Sasya bukan penulis FF ini, hehehe… saya hanya membantu publikasi saja.. hope you like it 🙂

regrads,

Sasyaa95

Iklan

28 thoughts on “TIME TRAVEL Part 1 (YulSic)”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s