SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 2 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

Part 2

Sunny kembali ke kamarnya. Maksudnya adalah kamar dimana ia muncul pertama kali pagi ini. Ia meninggalkan Yuri dan Yuna di kamar Jessica. Sebelumnya ia tidak terlalu dekat dengan si kembar aneh itu. Anak – anak kampus lain menyebut mereka si kembar aneh karena mereka tidak punya orang tua dan juga tidak mirip. Selama ini Sunny dan si kembar itu hanya sebatas teman sekelas. Beberapa kali ia berada satu kelompok belajar dengan si kembar itu. Hanya sebatas itu hubungan mereka. Bukan hubungan yang baik, tapi juga bukan hubungan yang buruk juga.

Sesuatu bergetar di kantung celana jinsnya. Ia merongoh dan mengambil benda yang bergetar itu. Ia melihat ponselnya dengan wajah berkerut. Ia mendapatkan sebuah pesan.

“Kau kemana saja? Mengapa belum pulang? Aku meneleponmu beberapa kali, tapi ponselmu tidak aktif.” Sebuah pesan dari ommanya.

Ia bisa menerima pesan disini? Di tempat ini? Kalau begitu ia juga bisa menghubungi masa depan dengan ponsel ini. Mengapa ia tidak ingat sejak tadi kalau ia membawa ponsel? Dasar bodoh!

Pertama kali ia mencoba balik menghubungi ommanya. Namun ia tidak bisa melakukan panggilan. Kemudian ia mencoba mengirim pesan balasan. “Bu, ada sesuatu yang aneh terjadi di kampus. Dan tiba – tiba saja aku muncul di masa seratus tahun yang lalu.”

Terkirim! Ia langsung melompat kegirangan begitu melihat pesannya terkirim. Ia tertolong. Ommanya akan mencarikan bantuan untuknya.

Ponselnya bergetar lagi setelah cukup lama berselang. Pesan balasan dari ommanya. “Apa yang kau bicarakan? Berhentilah keluyuran dan pulang! Ayahmu sudah uring – uringan karena kau belum juga pulang.”

“Aku benar – benar berada di masa lalu. Aku tidak tahu bagaimana caranya pulang. Coba Omma cek. Sepertinya beberapa anak ikut menghilang bersamaku.” Jemari Sunny mengetik dengan cepat.

Lama berselang sebelum ommanya mengirimkan pesan balasan. Kali ini lebih dari dua jam. “Kau mengatakan kau dimana tadi?”

“Aku di kampusku. Seratus tahun yang lalu.”

***

“Apa ini?” Yuri meraih sebuah laptop yang berada di meja sebelah ranjang Yuna. Ia memutar – mutarnya dan melihat sekeliling, namun ia tidak bisa mengetahui benda apa itu. Ia kemudian memperlihatkannya pada Yuna untuk meminta pendapat.

Yuna memperlakukan benda itu dengan perlakuan yang sama seperti Yuri. Ia tidak tahu benda apa itu kemudian menggeleng.

“Itu sejenis komputer.” Celetuk Jessica dingin. “Kalian benar – benar tidak tahu?”

“Komputer?” Yuna terlihat kaget dengan jawaban itu. “Dimana layarnya. Aku pikir di jaman ini kalian masih menggunakan layar pada komputer.”

“Ck, kalian bicara seperti orang yang tidak waras.” Jessica bergumam pelan. Namun kemudian ia tetap menjelaskan pada Yuna. “Kau akan menemukan layarnya saat membukanya.”

Yuri merebut laptop itu dari tangan Yuna kemudian mencari cara untuk membukanya. “Ah! Terbuka. Waaah.. Kalian bahkan masih menggunakan keyboard. Aku seperti sedang menonton film sejarah.”

“Tidak bisakah kau kembali ke kamarmu?” Akhirnya Jessica yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Yuri di tempat itu mencoba mengusir Yuri.

“Aku akan tidur disini.” Jawab Yuri santai sambil fokus memainkan laptop di depannya. Ia begitu takjub dengan benda yang dianggapnya kuno itu.

“Kami belum pernah berpisah sebelumnya.” Yuna menambahkan.

“Tidak ada cukup tempat disini.” Jessica menatap keduanya dengan pandangan sedingin es.

“Aku akan tidur dengan Yuna, aku tidak akan mengganggumu.” Kilah Yuri.

“Tapi aku sudah merasa terganggu dengan keberadaanmu disini.” Kesabaran Jessica mulai habis. Ia tidak tahan harus terus melihat wajah Yuri. Wajah yang benar – benar dibencinya. Wajah yang akan ia benci seumur hidupnya.

“Oh, ya! Siapa namamu? Aku belum tahu namamu.” Yuri tersenyum pada Jessica seolah tidak peduli dengan Jessica yang sudah mengeluarkan tanduk.

“Jessica!” Jawabnya ketus.

“Aah.. Sicca.” Yuri memutuskan sepihak panggilannya untuk Jessica. “Mungkin kau punya hubungan yang buruk dengan Yul. Tapi aku Yuri. Aku berbeda dengan Yul.”

“Mungkin sebaiknya kita pergi ke tempat Sunny saja. Gadis ini menakutkan.” Yuna menarik Yuri bersiap untuk keluar.

“Tunggu!” Jessica ikut berdiri saat melihat Yuna dan Yuri tinggal selangkah lagi dari pintu keluar. “Aku tidak berani tidur sendiri.”

Yuri tertawa. “Setelah mengusir orang lain, dengan sombongnya kau mengakui kalau kau tidak berani tidur sendirian. Lucu sekali.”

“Aku benar – benar tidak berani tidur sendirian.” Kali ini Jessica terdengar seperti memohon.

“Baiklah!” Yuri memutuskan untuk mengalah. “Aku akan pergi ke tempat Sunny. Yuna, aku akan menemuimu lagi besok.”

Melihat Yuri sudah pergi, Yuna kembali ke ranjangnya dengan wajah murung. Meskipun ia tidak suka dengan keputusan yang diambil Yuri, ia tetap mematuhinya.

“Dia benar – benar mengalah padaku?” Jessica mendengus tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. “Yul mengalah?”

“Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan padamu sehingga kau bersikap begitu padanya?” Yuna melampiaskan kekesalannya pada Jessica.

“Dia selalu menggangguku setiap hari.” Jawab Jessica dingin.

“Bagaimana mungkin dia mengganggumu setiap hari?” Yuna memutar bola matanya. “Kami baru bertemu dengan hari ini!”

“Aah… Kalian datang dari masa depan. Kau pikir aku percaya itu?”

“Aku tidak memintamu untuk percaya. Aku tidak butuh kepercayaan darimu. Aku hanya ingin kau tidak bersikap seperti tadi lagi pada Yuri.”

“Mengapa aku harus melakukannya?” Jessica mendesis.

“Ayo kita bertanding!” Yuna berdiri dan menantang Jessica. “Jika kau menang, kau boleh bertindak sesuka hatimu. Tapi jika kau kalah, kau harus bersikap lebih baik pada Yuri.”

“Mengapa aku harus bertanding denganmu?”

“Kau takut kalah?” Yuna mencibir.

“Baiklah! Kau mau bertanding apa?” Jessica akhirnya menerima tantangan Yuna.

“Panco!” Jawab Yuna penuh percaya diri.

“Panco?” Jessica melihat Yuna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang Yuna lebih tinggi darinya, namun gadis itu begitu kurus. Ia yakin tidak ada kekuatan di balik tubuh kurus itu. “Siapa takut!”

Jessica mengambil sebuah meja lipat dan meletakkannya di tengah ruangan. Kemudian ia duduk dan meletakkan tangannya di atas meja siap untuk bertanding. “Ayo kita mulai!”

Yuna duduk di hadapan Jessica dan siap untuk mulai bertanding. Begitu pertandingan di mulai, tangan Jessica tumbang menyentuh meja. Yuna menang dengan mudah.

“Kau sudah berjanji akan bersikap lebih baik pada Yuri!” Yuna tersenyum bangga. Selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkannya saat bertanding Panco. Bahkan ia mampu mengalahkan Gama yang mempunyai otot baja. “Mulai besok kau harus melaksanakan janjimu!”

“Kita lihat saja.” Jawabnya dingin. Kemudian ia berdiri dan menghempaskan dirinya di ranjang. Ia masih belum percaya kalau dirinya dikalahkan dengan mudah oleh seorang gadis kurus. Dan bagaimana caranya ia bersikap baik pada Yul? Begitu melihat wajahnya saja kebenciannya langsung meluap – luap.

***

Dengan terburu – buru Jessica membereskan barang – barangnya dan segera keluar dari kelas. Sejak tadi ia merasa tidak nyaman dengan pandangan Kim, Shona, dan Mona. Ia merasa kalau mereka akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Karena itu ia begitu terburu – buru keluar sebelum mereka bertiga mendapatkannya.

“Kau mau kemana?” Mona mengejarnya dan mencegatnya saat ia sudah keluar dari kelasnya. Jessica berbalik dan menemukan Kim dan Shona sudah menghalangi jalannya yang lain.

“Kami bosan, ayo kita bermain.” Kim mendorong bahu Jessica dengan kuat sehingga gadis itu menjatuhkan tasnya.

“Aah.. Kau menjatuhkan tasmu.” Shona memijak tas Jessica yang tergeletak di lantai. “Ups! Aku tidak sengaja menginjaknya.”

“HEI! KALIAN!!” Terdengar seseroang berteriak. Semua menoleh ke arah datangnya suara dan menemukan Yuri datang mendekati mereka berempat. “APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

“Yul? Kau mau ikut bergabung?” Kim menyunggingkan senyum sambil menatap Jessica dengan tatapan “Matilah kau!”

Yuri mendekat kemudian berdiri di antara Jessica dan tiga gadis yang mengganggunya. “Berhentilah mengganggunya!”

“What? Yul membelaku?” Pikir Jessica. “Apa sebentar lagi akan kiamat?”

“Yul! Kau kenapa?” Shona menatap Yuri dengan heran.

“Maksudnya kita tidak boleh mengganggu gadis aneh ini.” Kim menimpali. “Hanya dia yang boleh mengganggunya.”

“Itu lebih masuk akal.” Batin Jessica.

“Pergilah!!” Yuri memerintah ketiga orang di depannya itu. Dan ketiganya sepertinya menurut pada Yuri.

“Baiklah, kami akan menunggumu di kantin.” Ujar Mona sebelum ia pergi.

Setelah ketiga orang itu pergi, Yuri memungut tas Jessica yang masih tergeletak di lantai kemudian menepuk – nepuknya untuk membersihkan dari debu yang menempel.

“Kau tidak apa – apa?” Yuri menyerahkan tas tersebut kembali pada pemiliknya.

Jessica menatapnya heran. Benarkah ini Yul? Mengapa Yul bersikap seperti ini padanya? Apa dia salah makan?

“Aku mengerti. Kau tidak suka melihatku.” Ujar Yuri setelah mendapatkan tatapan dingin dari Jessica. “Baiklah, aku akan pergi. Lain kali jika ada yang mengganggumu, kau harus melawannya!”

“Tunggu dulu!” Jessica menghentikan Yuri yang hendak pergi. “Terima kasih, Yuri!”

Ia sendiri masih tidak tahu mengapa ia memanggil Yul dengan sebutan Yuri. Apa mungkin ia mulai percaya kalau mereka datang dari masa depan? Tidak! Jessica meyakinkan dirinya sendiri kalau yang seperti itu tidak mungkin ada. Tapi ia juga meyakini satu hal. Gadis di depannya ini memang bukan Yul.

Yuri berbalik dan tersenyum lebar pada Jessica. Jessica mau tidak mau membalas senyuman itu. Bagaimanapun ia sudah berjanji pada Yuna untuk bersikap baik pada Yuri.

“Kau melihat Yuna?” Yuri kemudian bertanya dengan ragu. Tadinya ia ingin langsung pergi, tapi sepertinya ia tidak punya pilihan lain. Lagipula Jessica tidak terlihat terlalu mengerikan seperti kemarin. “Aku mencarinya sejak pagi. Dan.. Yah.. Aku tidak terlalu mengenal gedung ini karena sedikit berbeda dengan kampusku. Dan sekarang aku tersesat.”

“Aku tidak melihat Yuna sejak pagi.” Jessica kembali bersikap dingin. “Ayo! Aku akan menemanimu mencarinya. Lagipula aku tidak ada kelas lagi.”

***

“Oh.. Sunny!” Yuna terperanjat kaget saat ia hendak membuka pintu kamar Yuri dan tiba – tiba saja Sunny muncul dari dalam.

“Yuna!” Sunny sama kagetnya dengan Yuna. “Mengagetkan saja.”

“Mana Yuri?” Tanya Yuna pada Sunny setelah kagetnya hilang dan teringat tujuan utamanya datang ke tempat itu.

Sunny membuka pintu kamar lebar – lebar untuk memperlihatkan Yuri yang masih meringkuk di ranjangnya. “Dia masih tidur.”

“Aah..” Yuna mengangguk mengerti. “Kau sendiri mau kemana pagi – pagi begini?”

“Mencari makanan.” Jawabnya dengan senyum lebar.

“Makanan?” Wajah Yuna berubah menjadi berbinar – binar. “Aku ikut!”

Sunny memastikan menutup kembali pintu kamarnya sebelum pergi. Kemudian ia pergi menuju kantin dan Yuna mengikutinya. Mereka tidak benar – benar mengetahui letak kantin. Mereka hanya mengikuti firasat mereka dan setelah berputar – putar sebentar, mereka berhasil menemukannya.

“Seandainya aku sedikit terlambat tadi, aku pasti akan melewatkan ini.” Ujar Yuna dengan antusias. Kemudian ia menggigit burger ukuran besar miliknya.

“Waah… Sepertinya kau benar – benar lapar.” Sunny tercengang melihat cara makan Yuna. Ia melupakan makanan miliknya dan malah terbengong melihat Yuna makan.

“Kau tidak makan?” Tanya Yuna dengan mulut penuh karena ia melihat Sunny sedikitpun terlihat tidak berniat menyentuh makanannya. “Kau bisa memberikannya padaku kalau kau tidak mau.”

“Ah, aku lupa.” Sunny tertawa. Ia kemudian mulai menyuap makanannya.

“Kau tidak jadi memberikannya padaku.” Gumam Yuri dengan wajah sedih.

“Hah?” Sunny yang tidak mendengar dengan jelas perkataan Yuna menghentikan makannya. “Apa yang kau katakan?”

“Tidak ada. Kau bisa lanjutkan makanmu.” Kilah Yuna. Meskipun burgernya belum habis, ia menatap makanan di atas piring Sunny dengan penuh hasrat sambil menjilat bibirnya.

Untuk beberapa saat hening. Yuna dan Sunny sibuk dengan makanannya masing – masing. Terasa sedikit canggung saat duduk bersama dan makan seperti ini. Mereka tidak terlalu dekat sebelumnya.

“Oh, ya! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku sudah mengatakannya pada Yuri dan sepertinya dia tidak mengerti.” Sunny mengeluarkan sebuah benda persegi sebesar pulpen dan meletakkannya di atas meja. “Aku bisa berkomunikasi dengan masa depan dengan ini.”

“Apa ini?” Yuna yang sudah menyelesaikan makannya, melap tangannya dengan tisu sebelum meraih benda yang disodorkan Sunny itu. Begitu ia menyentuhnya, sebuah layar virtual muncul. “Ini ponsel? Mengapa kau masih memakai mondel kuno seperti ini?”

“Aku menjadi satu – satunya yang bisa dihubungi karena benda kuno ini.” Sunny mengarahkan garpunya ke wajah Yuna.

“Berapa umur pnselmu ini? Seratus tahun?” Yuna memainkan ponsel Sunny dengan mata terbuka lebar.

“Kau mengejekku?”

“Hah?” Yuna melirik Sunny sekilas kemudian menggelang. “Tidak! Aku hanya takjub.”

“Itu milik ayahku. Milikku rusak dan dia meminjamkanku ponsel lamanya sementara punyaku selesai diperbaiki.” Sunny menjelaskan.

“Ayahmu merawatnya dengan baik.” Yuna sepertinya benar – benar takjub dengan ponsel yang ada di tangannya. “Bagaimana caranya kau bisa berkomunikasi dengan masa depan? Apa ada cara khusus?”

Sunny menggeleng. “Aku hanya mengirim pesan singkat seperti biasanya. Aku hanya bisa mengirimkan pesan dan juga menerima pesan dari masa depan. Aku tidak bisa melakukan panggilan dengan ponsel itu. Pesan balasannya juga lama sekali sampai padaku. Mungkin karena masanya yang berbeda.”

“Begitu…” Yuna meletakkan ponsel itu kembali di atas meja. “Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?”

“Ya!” Sunny terlihat bersemangat. “Selain kita, ada sekitar enam orang lagi yang menghilang.”

“Enam orang?” Mata Yuna membesar. “Sebanyak itu? Lalu dimana mereka? Mengapa kita tidak bertemu dengan mereka?”

“Aku juga tidak tahu. Tapi dari semua yang menghilang itu, hanya aku yang bisa dihubungi.” Sunny menyombong. “Karena itu berterimakasihlah padaku karena aku memakai ponsel kuno.”

“Lalu bagaimana?” Yuna mencondongkan tubuhnya mendekati Sunny. “Apa kita bisa kembali?”

“Orang – orang di masa depan sedang mengusahakannya. Mereka baru menemukan alasan mengapa kita terlempar ke tempat ini. Aku rasa sebentar lagi mereka akan menemukan cara untuk mengembalikan kita.”

“Memangnya mengapa kita bisa sampai disini?” Yuna menyeruput minumannya menimbulkan suara yang keras.

“Gama disambar petir di lapangan sehingga menimbulkan lubang hitam tak kasat mata di sekitarnya. Sampai saat ini tidak ada yang bisa mendekati tubuh Gama. Mereka semua menghilang.” Sunny menjelaskan dengan serius.

“Aah..” Yuna menangguk. “Aku ingat saat itu aku sedang berjalan keluar dari gedung kampus dan mendekati Gama sebelum muncul disini.”

“Aku juga baru keluar dari kampus.” Kenang Sunny.

“Mungkinkah karena kita menghilang di tempat yang sama karena itu kita juga muncul di tempat yang sama.” Yuna menjentikkan jarinya di depan wajah Sunny. “Aku yakin Yuri juga sama. Kami sedang bersama saat itu.”

“Kalian selalu bersama.” Sunny menambahkan.

“Bagaimana kau tahu?” Mata Yuna kembali membesar.

“Siapa yang tidak mengenal kalian?” Sunny tertawa. “Si kembar aneh.”

“Oh! Kau bahkan memberi julukan pada kami!” Yuna ikut tertawa. “Tapi mengapa harus si kembar aneh? Menurutku si kembar imut lebih cocok.”

“Mengapa aneh?” Sunny balik bertanya. “Itu karena kalian tidak mirp sama sekali. Wajah kalian tidak mirip. Sifat kalian juga tidak mirip. Yang satu hiperaktif, dan yang satunya lagi gila makan. Memangnya apa kemiripan kalian?”

“Kami lahir pada waktu yang bersamaan.” Yuna menjawab cepat kemudian tertawa. “Aku menyadari kalau aku dan Yuri tidak mirip. Tapi jika dia tidak ada, aku tidak tahu apa jadinya hidupku.”

“Yah, kalian selalu bersama. Tidak terpisahkan.”

Yuna mengangguk – angguk setuju dengan kata – kata Sunny. Memang dirinya dan Yuri tidak terpisahkan. Ia tidak bisa hidup tanpa Yuri dan begitu juga dengan Yuri yang tidak bisa hidup tanpanya. Baginya Yuri sudah seperti seorang kakak, ibu, sekaligus ayah. Yuri adalah satu – satunya keluarga Yuna sehingga bagi Yuna, Yuri adalah segalanya.

“Oh!” Yuna terpaku saat melihat seseorang berjalan di antara meja – meja kantin.

“Ada apa?” Sunny berbalik dan mengikuti arah pandangan Yuna. “Siapa itu?”

***

“Ahh.. Mengapa Yuna tidak ada dimanapun?” Yuri mendesah. Ia mulai putus asa mencari Yuna. Sejak tadi ia sudah berkeliling mencari Yuna bersama Jessica. Namun kemanapun mereka pergi, Yuna tidak ada disana.

Jessica berjalan perlahan mengikuti Yuri dari belakang. Ia terus memperhatikan gerak – gerik Yuri. Yuri terlihat jauh berbeda dengan Yul yang ia kenal. Memang ia tidak punya hubungan dekat dengan Yul, tapi Jessica kenal betul bagaimana Yu. Dan dari yang ia lihat, ia menyimpulkan kalau Yuri dan Yul adalah dua orang yang berbeda meskipun wajah mereka persis sama. Lalu dimana Yul sekarang? Ia hanya penasaran saja tentang dimana Yul saat ini. Bukan berarti ia mengharapkan Yul kembali. Memangnya siapa yang berharap orang seperti Yul kembali? Yul boleh menghilang selamanya.

“Mengapa kau tidak mencoba meneleponnya?” Jessica memberikan masukan.

“Aku tidak bisa melakukannya.” Yuri menoleh ke belakang saat bicara dengan Jessica. “Kami meninggalkan ponsel kami di loker sebelum datang kemari.”

“Aah..” Jessica mengangguk. Sepertinya ia mulai percaya kalau Yuri datang dari masa depan. “Bagaimana kalau kita mencarinya di taman? Kita belum memeriksa tempat itu. Mungkin Yuna ada disana.”

“Taman?” Yuri tahu Taman yang dimaksud oleh Jessica. Satu – satu taman yang ada di kampus mereka. Hanya saja taman itu sudah tidak terawat dan tidak ada yang mau datang kesana. Semua berawal sejak ada kabar tentang hantu yang menghuni taman itu. Entah sejak kapan kabar itu beredar. Semenjak Yuri datang ke kampus itu untuk pertama kalinya, cerita tentang taman berhantu sudah beredar. Ia pernah melihat taman itu dari jauh dulu, dan memang terlihat mengerikan. “Aku yakin Yuna tidak kesana.”

“Mengapa?” Jessica mempercepat langkahnya untuk mengejar Yuri yang semakin menjauh.

“Mengapa Yuna datang kesana? Tidak ada yang mau datang ke taman itu. Taman itu berhantu.”

“Berhantu?” Jessica mencibir. Ia mulai merasa akrab dengan Yuri. “Aku tidak percaya orang dari masa depan masih percaya pada hantu.”

“Benar – benar ada hantu disana. Tempat itu mengerikan.” Yuri bergidik mengingat saat ia datang ke taman itu dulu bersama Yuna. Yuna sama takutnya dengan dirinya saat melihat tempat itu. Karena itulah ia yakin Yuna tidak akan datang kesana. “Aku dan Yuna pernah datang ke taman itu dulu. Begitu mendekat aku merasakan bulu kudukku bergidik dan udaranya sedingin es. Memang aku tidak melihat hantu. Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan tempat itu.”

“Aku sering kesana dan tidak ada hantu.” Ujar Jessica dengan ekspresi datar. “Lagipula ini masih siang. Mana ada hantu di siang hari begini?”

“Kau sering kesana? Untuk apa? Tempat itu mengerikan!” Yuri menghentikan langkahnya dan menatap Jessica dengan ekspresi heran.

“Entahlah!” Jessica mengangkat kedua bahunya. “Tidak ada yang mau berteman denganku. Aku suka menyendiri di tempat itu.”

“Menyendiri? Di tempat mengerikan seperti itu?” Yuri semakin heran. “Waah.. Mendadak kau ikut terlihat menyeramkan. Mengapa harus menyendiri di tempat yang begitu mengerikan?”

“Disana tidak mengerikan.” Ujar Jessica dingin. “Sangat indah malah. Mungkin dimasamu tempat itu kurang terawat hingga terlihat menyeramkan.”

“Mungkin…”

Jessica kembali berjalan. Ia tidak tahu lagi harus kemana mencari Yuna. Ia dan Yuri sudah mencari nyaris ke segala tempat kecuali taman dan ruang kelas. Yuri tidak mau pergi ke taman karena dia pengecut dan mereka tidak mungkin memeriksa ruang kelas satu persatu mengingat begitu banyak kelas di kampus ini. Selain itu menurut Yuri tidak mungkin Yuna berada di ruang kelas. Memangnya untuk apa dia kesana? Belajar?

“Tunggu!” Yuri mengejar Jessica. Setelah dekat ia melingkarkan lengannya di bahu Jessica. “Kau bilang kau tidak punya teman. Kalau begitu aku akan menjadi temanmu.”

“Apa?” Jessica menatap Yuri dengan tatapan dinginnya.

“Oke! Oke!” Yuri segera melepaskan tangannya dari Jessica. “Tidak masalah kalau kau tidak mau.”

“Tidak! Aku tidak keberatan.” Jessica buru – buru mengoreksi. “Tadi aku hanya kaget saja.”

***

“Bukankah dia tampan?” Yuna menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja. Matanya terus menatap ke depan kelas tanpa berkedip. Dia seperti terhipnotis.

“Aish! Kenapa aku malah mengikutinya kesini?” Sungut Sunny yang duduk di sebelah Yuna.

Saat di kantin tadi, Yuna melihat seorang pria yang menurutnya sangat tampan. Otomatis Yuna langsung berdiri dan mengikutinya. Sunny yang tidak tahu apa – apa ikut mengikuti pria itu hingga ke dalam kelas. Ternyata pria itu adalah seorang dosen. Tanpa pikir panjang Yuna langsung masuk dan mengikuti kelasnya.

Sebenarnya Yuna tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu di depan kelas. Pria itu terus menyebut tentang angka pori, tekanan lateral, plastisitas, dan berbagai macam kata – kata aneh lainnya. Namum menurutnya justru pria itu semakin tampan saat mengatakan hal – hal yang ia tidak mengerti.

“Aaah… Kapan ini akan berakhir?” Sunny terlihat benar – benar bosan.

“Kenapa denganmu? Bukankah dia sangat tampan?” Entah sudah yang keberapa kali Yuna mengatakan kalau pria itu tampan.

“Aku akui dia memang tampan.” Sunny menatap Yuna seolah ia tidak punya semangat hidup lagi. “Tapi ini benar – benar membosankan.”

“Siapa nama orang ini?” Yuna tidak mempedulikan Sunny dan berbicara dengan anak laki – laki yang berada di sebelahnya.

“Aku mengenalmu?” Anak laki – laki yang di ajak bicara oleh Yuna mengerutkan dahinya tanda heran.

“Tidak!” Yuna menggelang dengan polosnya. “Cepat beritahu! Siapa nama dosen itu!”

“Profesor Seo? Seo Jung Hyun.”

“Aaah… Seo Jung Hyun.” Yuna tersenyum sendiri saat menyebutkan nama itu.

Sunny menggeleng melihat tingkah Yuna. Apa gadis itu selalu bersikap seperti ini? Begitu terhipnotis pada seorang pria tampan meskipun ia baru pertama kali melihatnya.

“Aku rasa cukup untuk hari ini.” Profeser Seo menyelesaikan kuliahnya kemudian membereskan barang – barangnya dan keluar dari kelas.

“Sudah selesai? Begitu saja?” Wajah Yuna terlihat kecewa.

“Begitu saja? Aku nyaris mati karena bosan.” Sunny berdiri dan bersiap keluar dari kelas. Para mahasiswa lain sudah keluar saat Profesor Seo keluar tadi. “Ayo kita pergi!”

Mau tidak mau Yuna beranjak dan mengikuti Sunny. Berkat melihat Profesor Seo tadi ia melupakan Yuri. Sampai sekarangpun ia masih belum ingat pada Yuri. Kepalanya hanya dipenuhi oleh Profesor Seo.

“Yuna? Apa yang kau lakukan disini? Sunny juga?” Yuri terlihat kaget saat melihat Yuna dan Sunny keluar dari sebuah ruang kelas. Ia dan Jessica sedang mencari Yuna dan kebetulan bertemu Yuna saat gadis itu keluar dari ruang kelas.

“Yuri? Dan… Jessica?” Yuna terlihat sama kagernya dengan Yuri. Kemudian ia tersenyum sambil menatap Jessica. “Bagus kalau kalian sudah baikan.”

“Sejak kapan kalian jadi mahasiswa teknik?” Tanya Jessica dingin.

“Teknik? Jadi ini kelas anak teknik?” Sunny membelalakkan matanya. “Pantas begitu mengerikan di dalam sana.”

“Aku mencarimu kemana – mana dan kau malah bersembunyi di dalam sana.” Yuri melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Yuna meminta penjelasan.

“Aku tidak bersembunyi.” Yuna membela diri. Kemudian ia menunduk dan tersenyum malu – malu. “Aku bertemu dengan seseorang. Profesor Seo.”

“Profesor Seo?” Jessica menaikkan sebelah alisnya.

“Kau mengenalnya?” Mata Yuna membesar karena antusias.

“Siapa yang tidak mengenalnya? Dia yang dosen yang paling tampan di kampus ini.” Jawab Jessica tetap dingin. “Bahkan dia yang paling tampan di kampus ini.”

“Kau meninggalkanku hanya karena seorang pria?” Yuri merasa seolah ia baru saja dikhianati oleh Yuna. “Tega sekali kau!”

“Memang tampan.” Sunny menyela. “Sekaligus membosankan.”

“Dan juga sudah menikah.” Jessica menambahkan.

“Apa?” Yuna mundur beberapa langkah hingga menabrak tembok. Mendadak tubuhnya terasa lemas.

Yuri tertawa melihat Yuna yang patah hati. “Sepertinya sudah takdirmu jatuh cinta pada pria yang sudah menikah. Aku jadi teringat pada Tiff. Kau sangat tergila – gila padanya. Dan saat mengetahui kalau dia sudah menikah, ekspresimu sama persis seperti sekarang ini.”

“Kau senang melihatku patah hati?” Yuna terlihat benar – benar terluka.

“Sudah lupakan dia! Lagipula pria itu jauh lebih tua darimu.” Yuri menepuk – nepuk pundak Yuna untuk menghiburnya. “Lebih dari seratus tahun.”

“Kau sudah menemukan Yuna. Aku akan kembali ke asrama.” Jessica pamit sebelum pergi.

“Thanks!” Yuri tersenyum pada Jessica membuat mahasiswa lain yang berada disana melihat ke arahnya. Kemudian ia berdehem karena merasa tidak nyaman dengan pandangan orang – orang itu.

“Apa yang akan kita lakukan disini? Lebih baik kita ikut dengannya.” Sunny menunjuk Jessica yang mulai menjauh dengan dagunya. “Terlalu banyak orang disini. Aku merasa tidak nyaman.”

“Dia benar.” Yuna berusaha bangkit dari keterpurukan. “Ayo!”

TRIRIRIRIRIRIIING!!! Terdengar suara yang keras di seluruh penjuru gedung. Semua orang berlarian keluar. Sepertinya ada sesuatu yang membuat orang – orang itu berlarian dengan panik. Hanya Yuri, Yuna, dan Sunny yang tidak bergerak selangkahpun. Mereka masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.

“Suara apa itu?” Yuna melihat sekeliling mencoba mencari letak sumber suara.

“Berisik sekali.” Yuri menambahkan.

“Sepertinya bunyi alarm kebakaran.” Sunny mencoba menebak.

“Kebakaran?” Yuri tertawa. “Mengapa begitu heboh kalau hanya kebakaran. Hanya tinggal memadamkan apinya saja kan? Tidak perlu lari – larian seperti itu.”

“Kau harus ingat kalau kita berada di masa lalu. Gedung tidak bisa memadamkan api sendiri seperti di masa depan.” Sunny mencoba mengingatkan Yuri. “Kau tidak pernah menonton film sejarah ya? Disini, kebakaran itu sangat berbahaya. Makanya mereka semua berlari menyelamatkan diri.”

“Maksudmu kita harus lari juga?” Yuna menunjukkan ekspresi kalau ia tidak suka itu.

“Ayo!” Yuri berlari terlebih dahulu meskipun ia masih merasa tidak ada yang begitu serius dengan kebakaran ini. Menyusul Sunny dan juga Yuna yang berlari paling belakang.

Yuna berlari tanpa semangat sedikitpun membuatnya tertinggal jauh dari Yuri dan Sunny. Ia sedang patah hati sekarang. Mengapa ia harus ikut berlari dalam keadaan seperti ini?

Pintu keluar semakin dekat. Namun Yuna justru menghentikan langkahnya. Ia teringat sesuatu. Profesor Seo. Tadi saat keluar dari kelas Profesor Seo pergi ke arah yang berlawanan. Ia juga belum melihat pria itu ikut berlari bersama yang lainnya. Karena itu Yuna memutuskan kalau ia harus kembali. Memang Profesor Seo sudah menikah. Memang Profesor Seo sudah membuatnya patah hati. Tapi ia tetap ingin menyelamatkan pria itu.

“Gila! Asapnya banyak sekali.” Yuri terbatuk saat keluar dari gedung yang terbakar itu. Sunny yang muncul beberapa detik kemudian juga terbatuk akibat asap yang mulai memenuhi gedung.

Beberapa detik berlalu. Beberapa menit. Yuna belum juga keluar. Yuri mulai cemas karena Yuna belum terlihat. Harusnya Yuna lebih dulu sampai daripada Sunny yang mempunyai kaki lebih pendek darinya. Tapi mengapa dia belum kelihatan?

“Dimana Yuna?” Yuri mencari – cari sosok Yuna di balik asap tebal. Ia memperhatikan setiap orang yang keluar dari gedung berharap kalau itu adalah Yuna. Namun Yuna tetap tidak muncul.

“Entahlah!” Jawab Sunny yang masih mencoba mengatur nafasnya. Berlari membuat nafasnya tersengal. Ditambah lagi ia harus menghirup asap tebal membuatnya semakin sesak nafas.

“Aku akan mencarinya!” Yuri berlari kembali menuju gedung untuk mencari Yuna. Namun pihak keamanan yang mulai datang dan berjaga di depan pintu masuk menghalanginya.

“Maaf nona, anda tidak boleh masuk. Berbahaya di dalam sana.” Ujar seorang pria paruh baya yang memakai seragam tim keamanan.

“Tidak! Aku harus masuk. Adikku masih di dalam.” Yuri tetap mencoba menerobos masuk namun gagal karena tenaganya kalah kuat dibandingkan pria itu.

“Tapi kami tidak bisa membiarkan anda masuk.” Pria itu terus mencoba menghalangi Yuri masuk.

“Aku harus masuk! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?” Yuri berteriak kalut. Ia harus segera masuk. Yuna membutuhkannya.

“Kami juga tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada anda, nona.” Pria itu bersikeras.

Pada saat itu Yuna muncul dari balik asap tebal. Ia memapah seorang pria tinggi yang sepertinya terluka. Melihat Yuna yang muncul, Yuri langsung berlari mendekati gadis itu.

“Menurutmu apa yang kau lakukan? Aku nyaris mati ketakutan karena mencemaskanmu!” Yuri berteriak sambil memukuli Yuna pelan.

Sunny ikut datang dan menghampiri Yuna. “Yuna! Kau baik – baik saja?”

Yuna terbatuk beberapa kali. “Aku baik – baik saja. Tapi Profesor Seo tidak. Dia tertimpa reruntuhan. Tolong dia!”

“Kau terluka!” Yuri memeriksa lengan kanan Yuna yang memerah.

“Aku tidak apa – apa. Ini hanya memar kecil. Cepat tolong Profesor Seo!” Yuna merengek.

Pihak keamanan yang berdiri tak jauh dari tempat itu langsung menghampiri mereka berempat kemudian membawa Profesor Seo yang terluka cukup parah. Kakinya mengeluarkan banyak darah membuatnya tidak bisa berjalan dan harus dipapah.

“Kau yakin tidak apa – apa?” Tanya Yuri setalah Profesor Seo dibawa oleh pihak keamanan.

Yuna mengangguk sambil tersenyum lebar untuk meyakinkan Yuri.

*TBC*

Iklan

30 thoughts on “TIME TRAVEL Part 2 (YulSic)”

  1. Wew mulai seru nih!
    Btw 6 anak lain siapa aja kah?
    Itu “hantu” di taman kyaknya si sica deh
    dari hawa2 udah tau (?) kkkkk
    *melipir ke next chapt*

  2. yuri n yuna lucu ya hahaha.
    Yul jht yuri baik weh entar sica suka sm yul deh.keke nebak2.
    Suka penasaran sama ceritanya..
    Like this 🙂

  3. Waah.. Telat bnget diriqu..
    Nie ff mkin seru nih,, tpi ada yg aneh dh,, smnjak yunyulsun yg d msa dpan dtg,, yunyulsun yg d msa lalu kmana nih??
    See u next chap.. Ttp smangat yo sya.. 😉

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s