Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 3 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

Part 3

“Aduh, sakit! Mengapa kau menyentuh lukaku?” Yuna protes pada Yuri yang seenaknya menyentuh luka memar di lengan Yuna dengan tangannya.

“Sakit?” Yuri berdiri kemudian mondar – mandir karena panik sambil menggumamkan sesuatu. “Harus segera di obati. Tidak! Harusnya dibersihkan dulu baru di obati. Tapi itu luka memar. Harusnya aku mengompresnya dengan es. Aah.. Apa yang harus aku lakukan?”

Sementara Yuri mondar – mandir di dalam kamar, Jessica sedang tertidur dalam posisi duduk di atas ranjangnya. Tadinya ia sedang membaca buku, tapi sekarang ia malah tidur. Sedangkan Sunny sibuk dengan ponselnya. Ia begitu serius menatap layar ponsel itu dan tidak peduli dengan keributan yang dibuat oleh Yuri.

“Kau tidak perlu mengobatinya. Bukankah sudah diobati di Balkes tadi?” Yuna menatap Yuri yang mondar mandir dengan mata sayu. Melihat sesuatu yang berseliweran di hadapannya membuat Yuna mengantuk seperti saat melihat bandul hipnotis.

“Apa benar tidak sakit lagi?” Yuri kembali memegang lengan Yuna.

“SAKIT!!” Yuna berteriak keras. “Kapan aku bilang tidak sakit lagi? Aku hanya bilang kalau lukaku sudah diobati!”

Mendengar teriakan Yuna yang cukup keras, Jessica tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada yang memperhatikannya. Kemudian ia pura – pura melanjutkan membaca.

“Lihat ini!” Sunny menarik lengan Yuna yang terluka dan menyodorkan ponselnya.

“SAKIT!!” Yuna berteriak lebih keras dari sebelumnya. Ia heran mengapa dua orang ini tidak mengerti saat ia mengatakan kalau lengannya sakit saat disentuh dan malah terus – menerus menyentuhnya dengan kasar.

“Mereka sama sekali tidak bisa mendekati Gama. Orang – orang terus saja menghilang saat mendekatinya. Sekarang sudah empat belas orang yang menghilang.” Sunny tidak peduli dengan protes keras yang dilancarkan Yuna.

“Benarkah?” Yuri yang kelihatannya tertarik datang mendekat dan duduk di sebelah Sunny.

“Kemungkinan kita tidak akan bisa pulang kalau mereka tidak bisa mendekati Gama dan menutup lubang hitam itu.” Lanjut Sunny dengan ekspresi serius. Yuna juga memperlihatkan ekspresi serius sekaligus takut. Takut kalau mereka tidak akan pernah bisa kembali.

“Apa itu?” Jessica menyela setelah ia melihat sesuatu yang dipegang oleh Sunny. Benda itu sepertinya menarik.

“Ini?” Sunny mengangkat ponselnya. “Ini ponsel.”

“Ponsel?” Jessica mendekat agar bisa melihatnya lebih jelas. “Jadi seperti ini ponsel di masa depan?”

Sebenarnya Jessica sudah percaya kalau Yuri, Yuna, dan Sunny berasal dari masa depan. Hanya saja ia belum mau mengakuinya. Ia bahkan tidak mau mengaku pada dirinya sendiri.

“Itu model kuno!” Yuri menambahkan.

“Berkat model kuno ini, kita bisa berhubungan dengan masa depan.” Sunny protes tidak terima Yuri menghina ponselnya.

“Lalu bagaimana nasib kita kalau mereka tetap tidak bisa mendekati Gama?” Yuna tetap fokus pada topik awal pembicaraan mereka. Saat ini tidak ada yang lebih penting baginya daripada kembali ke masa depan.

“Oh! Apa ini?” Tiba – tiba Yuri memegang telinga Sunny saat melihat sesuatu yang berkilauan disana. “Anting? Kau menindik telingamu?”

“Bagaimana? Bagus kan?” Sunny memamerkan anting barunya pada Yuri. “Ini sedang tren dikalangan gadis – gadis saat ini.”

Sementara Yuri dan Sunny ribut, Jessica lebih memilih memainkan ponsel Sunny. Banyak fitur di dalamnya yang menurutnya menarik.

“Tapi mengapa kau menindik telingamu?” Yuri merasa heran dengan keberanian Sunny menindik telinganya. Di masa depan orang – orang tidak lagi menindik anggota tubuh mereka. Begitu juga dengan tato. Sudah tidak ada lagi yang mau memakainya. “Primitif sekali.”

“Sudah aku katakan kalau ini sedang tren saat ini.” Sunny membela diri. “Aku hanya mencoba mengikuti tren dimanapun aku berada.”

“Kalian tidak mendengarkanku!” Yuna mendengus kesal.

“Tapi bagaimana kau mendapatkannya? Apa kau membelinya?” Yuri tetap tidak peduli pada apa yang Yuna katakan.

Saat ini bagi Yuri tidak terlalu penting untuk kembali ke masa depan. Satu – satunya orang yang paling penting baginya adalah Yuna, dan orang itu ada disini bersamanya. Ia tidak terlalu mempermasalahkan ia hidup di masa depan ataupun di masa lalu selama tetap bersama Yuna. Menurutnya keduanya sama saja.

Sedangkan Sunny sepertinya tidak terlalu merasa cemas seperti kemarin. Bukannya ia tidak mau kembali ke masa depan dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Ia hanya merasa yakin kalau tidak akan ada apapun yang terjadi padanya. Cepat atau lambat ia pasti akan kembali. Ditambah lagi ia mendapat kabar dari ommanya kalau NASA dan FBI ikut turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Lalu apa yang harus ia cemaskan. Masa depan pasti akan datang.

“Tentu saja aku membelinya! Kau pikir aku mencurinya?” Sunny mengarahkan tinjunya ke kepala Yuri, namun tidak jadi memukulnya.

“Kau punya uang?” Yuri semakin heran. “Bukankah uang masa depan tidak berlaku disini?”

“Aku membuka lemari di kamar dan menemukan dompet yang penuh berisi uang. Jadi aku memakainya.” Jawab Sunny santai.

“Kau memakai uang dirimu yang berada di masa ini?” Yuri semakin meninggikan suaranya.

“Memang apa masalahnya? Mengapa begitu heboh?” Sunny terlihat mulai bosan beradu pendapat dengan Yuri. “Lihat dirimu sendiri! Pakaian siapa yang kau pakai itu?”

“Ini?” Yuri memegang baju yang sedang dipakainya. “Ini milik Yul.”

“Berarti kau sama saja denganku.” Sunny tertawa.

“Benar juga!” Yuri mencoba memikirkannya karena ia masih merasa ada yang janggal namun ia tidak tahu apa itu.

“Apa kalian tidak bisa fokus sebentar?” Yuna yang mulai kehilangan kesabaran kembali mengingatkan.

Yuri pindah duduk di sebelah Yuna kemudian merangkul pundak gadis itu. “Jangan terlalu mencemaskannya! Masalah tidak akan selesai jika kau mencemaskannya. Kita serahkan saja semuanya pada orang – orang dimasa depan. Kau berdoa saja agar mereka segera menemukan cara untuk mengembalikan kita.”

“Oh! Bahkan ada pemutar musiknya!” Jessica berseru tiba – tiba. Tak lama terdengar suara musik dari ponsel Sunny.

“Wah.. Ini lagu kesukaanku!” Yuri secara otomatis langsung berdiri kemudian menari mengikuti alunan musiknya.

“Kenapa dia? Apa dia hiperaktif?” Jessica menatap Yuri dengan wajah speechless.

Yuri tidak peduli dan terus menari. Sunny bahkan ikut turun dan menari bersamanya.

“Mengapa kalian begitu senang saat mengetahui kalau kita tidak bisa kembali?” Yuna bicara pada dirinya sendiri. “Yuri! Aku membencimu.”

***

Begitu keluar dari kamarnya pagi itu, Yuna disambut oleh segerombolan anak perempuan yang membawa spanduk dan meneriaki namanya. Kaget karena melihat tiba – tiba begitu ramai di depan pintu kamarnya, Yuna kembali masuk dan menutup pintu rapat – rapat. Para gadis itu terlihat menakutkan. Mereka terus meneriakkan namanya seolah siap melumatnya sampai habis jika mereka berhasil mendapatkan dirinya.

“Kenapa?” Jessica yang tadinya berjalan di belakang Yuna mundur beberapa langkah saat Yuna kembali masuk ke kamar. Ia belum sempat melihat keramaian yang ada di depan kamarnya. Namun ia sudah mendengar ada suara ribut – ribut. Ia kemudian mencoba membuka pintu. “Apa itu? Mengapa berisik sekali?”

Dengan sigap Yuna menghalangi Jessica. Firasatnya mengatakan kalau hidupnya akan berakhir jika pintu terbuka. Ia tidak akan membiarkan pintu itu terbuka. Ia akan berlindung di dalam kamar ini. Selamanya!

“Apa yang mereka lakukan di depan kamarku?” Jessica mendorong Yuna ke samping dan langsung membuka pintu. Sia – sia sudah usaha Yuna untuk menghalanginya.

Saat pintu terbuka, Jessica terkejut melihat begitu banyak gadis – gadis yang meneriakkan nama Yuna di depan sana. Otomatis Jessica kembali masuk dan menutup pintu kamarnya.

“Kau jadi terkenal sekarang?” Tanya Jessica pada Yuna sambil terus memegangi gagang pintu meskipun ia sudah menutupnya. “Mereka fansmu?”

“Aku? Fans?” Yuna menunjuk hidungnya sendiri. “Aku pikir mereka akan membunuhku tadi. Mengapa mereka tiba – tiba menjadi fansku?”

“Mereka semua fansnya Profesor Seo. Dan sepertinya sekarang mereka menjadi fansmu juga. Aku rasa karena kau menyelamatkannya kemarin. Profesor Seo adalah bintang di kampus ini. Dengan menyelamatkannya, kau sama saja dengan menyelamatkan negara ini.” Ujar Jessica datar.

“Mengapa semuanya anak perempuan? Mengapa tidak ada anak lelaki tampan yang menjadi fansku?”

“Mereka Fans Profesor Seo. Menurutmu mengapa harus ada anak laki – laki yang menjadi fansnya?”

“Lalu bagaimana aku keluar? Aku harus ketempat Yuri.” Yuna terlihat panik.

“Aku juga harus keluar. Aku ada kelas pagi ini.” Jessica sama sekali tidak terlihat panik. Bahkan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Yuna mondar – mandir sambil mencoba memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat itu. Apa mereka harus menunggu? Menunggu sampai para gadis itu lelah berdiri dan meneriakkan namanya. Tapi harus sampai kapan?

“Sepertinya kamar Yuri tepat di atas sini. Benar kan?” Begitu teringat, Yuna menanyakannya pada Jessica untuk memastikannya.

“Entahlah, aku tidak pernah memperhatikannya.” Jessica berjalan kembali ke ranjangnya seolah tidak terjadi apa – apa. Kemudian ia berbaring dan tidur.

“Aku yakin kamar Yuri pasti di atas.” Gumam Yuna.

Ia kemudian keluar menuju balkon dan melihat ke balkon atas. Yuna benar – benar yakin kalau kamar Yuri tepat di atas kamarnya. Kamar Yuri berada di lantai tiga, kamar ketiga dari tangga. Sedangkan kamarnya berada di lantai dua, juga ketiga dari tangga. Karena itu ia yakin kalau dugaannya benar.

Sepertinya ia bisa memanjat ke lantai tiga. Tidak terlalu sulit jika hanya memanjat satu lantai. Dulu saat kecil ia sering memanjat bersama Yuri. Meskipun hanya memanjat meja dapur.

“Yuri! Kau di dalam?” Yuna menggedor pintu kamar Yuri begitu ia sampai di balkon.

Sunny yang membukakannya pintu. Dan tentu saja ia terkejut saat melihat Yuna berada di balkon. “Yuna? Bagaimana kau bisa…”

“Mana Yuri?” Yuna menerobos masuk tanpa membiarkan Sunny menyelesaikan kalimatnya.

“Yuri? Dia di kamar mandi.” Sunny menunjuk kamar mandi dengan ekspresi bingung.

Mendengar Yuri berada di kamar mandi, Yuna langsung menuju kamar mandi dan menemukan Yuri sedang menyikat giginya.

“Yuri!” Yuna berseru pada Yuri membuat gadis itu terperanjat.

“Apa yang…” Yuri segera berkumur dan membersihkan wajahnya dengan handuk.

“Teganya kau menyikat gigi di saat genting seperti ini.” Yuna terlihat benar – benar kecewa pada Yuri.

“Apa yang terjadi?” Yuri yang tidak tahu apa – apa, kebingungan karena tidak mengerti maksud perkataan Yuna. Ia melirik Sunny dari balik bahu Yuna untuk meminta penjelasan. Namun Sunny malah mengangkat bahunya dan menggeleng.

“Aku tahu kau tidak peduli padaku.” Yuni berjalan gontai keluar dari kamar mandi. Ia berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh karena tubuhnya mendadak menjadi lemah. Ia tidak percaya Yuri tega melakukan hal ini padanya setelah semua yang ia lakukan untuk Yuri. Ia bahkan rela melakukan hal yang bisa membahayakan nyawanya untuk Yuri. Ia memanjat balkon hanya untuk bertemu dengan Yuri.

Sunny mundur dengan teratur. Ia merasakan atmosfer yang aneh di kamar ini. Dua saudara ini. Mereka pasti sedang bertengkar.

“Kau kenapa?” Yuri menghampiri Yuna yang terduduk lemas dikursi. Tatapannya terlihat kosong dan tak bersemangat. Yuna memejamkan matanya kemudian mengangkat tangannya dan mulai memijat kepalanya yang tiba – tiba saja terasa sakit.

Sekali lagi Yuri menatap Sunny meminta jawaban. Kali ini Sunny malah tidak menyadarinya. Yuri tahu kalau Yuna selalu bersikap begitu kalau ia melakukan kesalahan. Tapi apa? Ia tidak ingat melakukan kesalahan apapun. Ia baru saja bangun pagi ini. Pergi ke kamar mandi, dan tiba – tiba saja Yuna muncul seperti itu.

“Yuna! Kau marah padaku?” Yuri berlutut di depan gadis itu dan memegang kedua tangannya.

“Aku marah padamu?” Yuna mendengus. “Tentu saja aku marah padamu!”

“Tapi kenapa?”

“Kenapa?” Yuna terus mengulang – ngulang pertanyaan yang Yuri ajukan. “Kau menyikat gigi! Mengapa kau menyikat gigi? Kau baru saja selesai makan kan? Mengapa kau tidak mengajakku? Aku bahkan belum sarapan. Kau sudah mulai melupakanku? Kau tidak ingat lagi padaku kan? Makanya kau makan sendirian.” Akhirnya Yuna meluapkan isi hatinya.

“Ck, karena itu? Aku kira ada masalah apa.” Gumam Sunny yang sejak tadi menonton mereka di belakang.

“Aku belum sarapan! Kau pikir aku dirimu yang pergi makan sendiri?” Yuri balas menghakimu Yuna. “Tadi aku ingin mandi saat kau masuk. Untung saja aku baru menyikat gigi dan belum menanggalkan semua pakaianku.”

“Kau tidak membohongiku kan?” Yuna menatap lurus ke mata Yuri mencari tahu apa gadis itu berbohong padanya atau tidak. Dan sepertinya Yuri tidak berbohong.

“Aku akan keluar menemui Choi Sooyoung.” Sunny mengambil tasnya yang berada di atas meja kemudian berlalu keluar tanpa menunggu respon dari kedua temannya. Ia memang terlihat sudah siap untuk pergi keluar hari ini.

“Choi Sooyoung?” Yuna menaikkan alisnya menatap Yuri.

“Pacar Sunny.” Jawab Yuri singkat.

“Kita baru tiga hari disini dan Sunny sudah punya pacar?” Mata Yuna melebar.

“Maksudku pacar Sunny di masa ini.” Yuri mengoreksi. “Aku belum pernah melihatnya. Tapi Sunny bilang dia benar – benar tampan. Karena itu ia memutuskan untuk memacarinya juga. Lagipula tidak ada yang tahu.”

“Tiba – tiba aku merindukan Profesor Seo?” Yuna mendesah.

“Profesor Seo?” Yuri mengambil segelas air dan meminumnya. Kemudian ia ingat siapa yang dimaksud oleh Yuna. “Aah.. Profesor Seo.”

“Katanya dia masih di rawat di rumah sakit.” Yuna menambahkan.

“Aku akui dia tampan, tapi Sicca bilang dia sudah menikah.” Yuri kembali mendekat pada Yuna dan menyentuh bahu saudaranya itu dengan lembut. “Lagipula kita berasal dari masa yang berbeda. Sebaiknya kau tidak menjalin hubungan dengan orang yang ada di masa ini.”

“Aku tahu! Aku tidak bodoh.” Yuna menggerutu.

“Aku mau mandi dulu.” Yuri teringat kalau ia harusnya sedang mandi sekarang seandainya Yuna tidak menerobos masuk ke kamar mandi. Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Yuna seorang diri disana.

Sementara Yuri berada di kamar mandi, Yuna melihat – lihat kamar itu dan memeriksa semua tempat. Ia membuka lemari dan menemukan sederet pakaian. Berdasarkan ukurannya, sepertinya itu milik Sunny. Gaya berpakaian orang – orang di masa ini tidak jauh berbeda dengan masa depan. Kebanyakan hanya memakai kaos dan Jins. Yah, meskipun mereka akan memakai pakaian berbeda untuk acara tertentu.

Setelah puas memeriksa lemari, Yuna membongkar laci meja. Disana ia menemukan sebuah ponsel. Ia membukanya dan menemukan foto Yuri bersama tiga orang gadis yang tidak dikenalnya. “Ini pasti Yul.”

Ada beberapa pesan yang masuk. Yuna meletakkan kembali ponsel itu di dalam laci tanpa memeriksa pesan – pesan itu. Ia tidak terlalu ingin tahu sehingga membongkar ponsel orang lain. Memang ia saat ini sedang membongkar barang milik orang lain. Hanya saja ia melakukan itu bukan karena ingin tahu. Ia hanya mencari sesuatu yang bisa dimakan. Siapa tahu mereka menyimpan makanan di dalam sana.

Pada akhirnya Yuna tidak menemukan makanan sedikitpun. Ia benar – benar lapar. Seandainya saja tidak ada segerombolan fans yang mengerubungi pintu kamarnya pagi ini, ia pasti sudah di kantin sekarang dan menikmati sarapannya. Sebenarnya ia bisa saja langsung pergi sekarang, tapi mengingat para fans itu, ia mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau mereka menemukan dirinya? Lebih baik ia menunggu Yuri selesai mandi. Ia kan menyuruh Yuri membelikan makanan untuknya.

“Yuri! Cepat mandinya! Aku lapar!!” Yuna menggedor pintu kamar mandi. Tadinya ia ingin langsung masuk saja, tapi Yuri menguncinya dari dalam.

Terdengar suara air yang berhenti. “Kau bilang apa?” Yuri berteriak dari dalam.

“Cepat mandinya! Aku lapar!” Ulang Yuna sekali lagi.

“Kau duluan saja. Nanti aku menyusul.” Terdengar suara air yang kembali menyala. Yuri melanjutkan mandinya.

“Kalau aku bisa, aku tidak akan mengajakmu.” Yuna bersungut – sungut di depan pintu.

Yuri tidak peduli. Ia bahkan tidak mendengar perkataan Yuna.

Yuna kembali duduk di kursi dan menunggu dengan sabar. Satu jam… Dua jam.. Satu tahun.. Sepuluh tahun.. Dan akhirnya setelah tiga puluh tahun, -sebenarnya hanya lima belas menit. Yuna merasa waktu begitu lambat karena ia sangat lapar- Yuri akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia terkejut saat melihat Yuna masih berada disana.

“Kau masih disini?” Dahi Yuri berkerut. Ia kemudian duduk di sisi ranjang dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan menyusul.”

“Aku tidak bisa keluar.” Ujar Yuna tanpa tenaga sedikitpun. Ia benar – benar lemas. Sudah tiga puluh tahun ia tidak makan.

“Mengapa? Kau tinggal keluar saja kan?”

“Tidak bisa! Para fans akan mengejarku.” Yuna menjelaskan dengan suara lemah.

“Fans?” Tawa Yuri meledak. Ia menepuk – nepukkan ke dua tangannya di depan wajahnya saat ia tertawa. “Sejak kapan kau punya fans? Apa kau belum sepenuhnya bangun?”

“Aku serius! Kata Jessica mereka fansnya Profesore Seo. Setelah aku menyelamatkan Profesor Seo kemarin, mereka resmi menjadi fansku hari ini.” Yuna menghela nafas panjang. “Pagi – pagi sekali mereka sudah berkumpul di depan pintu kamarku sambil membawa spanduk dan meneriakkan namaku. Mereka membuat aku dan Jessica tidak bisa keluar dari kamar. Mereka benar – benar beringas dan membuat kami takut.”

“Lalu bagaimana kau kemari?”

“Aku memanjat balkon.” Yuna menunjuk arah dimana dia datang tadi dengan ujung dagunya.

“Kau memanjat?” Yuri terlihat kaget. “Lalu dimana Jessica?”

“Dia masih di kamarnya.”

“Kau meninggalkannya sendiri?” Ujar Yuri dengan nada yang lebih tinggi. Kali ini ia bahkan lebih kaget dari sebelumnya.

Beberapa detik kemudian Yuri berdiri dan membuang handuknya ke lantai. Dengan terburu – buru ia berlari keluar dan meninggalkan Yuna sendirian di dalam kamar.

Yuri berlari menyusuri lorong dengan rambutnya yang masih acak – acakan. Ia tidak mengurangi kecepatannya saat menuruni tangga. Ia mencemaskan Jessica saat ini. Gadis itu tidak mau melawan saat ada yang mengganggunya. Itulah yang membuat Yuri mencemaskannya saat ini.

Begitu tiba di depan kamar Jessica, Yuri menemukan keramaian yang disebutkan oleh Yuna tadi. Begitu banyak anak perempuan berkumpul di depan pintu. Mereka membawa spanduk seperti sedang melakukan demo. Yuri melihat pintu kamar Jessica. Masih tertutup. Mereka ternyata fans yang cukup baik.

“Mengapa kalian berkumpul disini?” Yuri bertanya dengan sopan pada gadis – gadis itu.

“Oh.. Itu Yul. Mau apa dia?” Terdengar salah seorang dari mereka berbisik.

“Aku dengar Profesor Seo sudah keluar dari rumah sakit. Mengapa kalian masih disini?” Ujar Yuri berbohong.

“Benarkah?” Tanya gadis yang lainnya. “Mengapa kami tidak tahu? Kami selalu menjadi yang pertama mengetahui apapun tentang Profesor Seo.”

“Uhm….” Yuri mencoba memikirkan alasan lain. Namun ia tidak menemukannya. “Aku hanya mendengarnya dari anak – anak lain.”

Terdengar mereka saling berbisik satu sama lain. Kemudian salah satunya bicara. “Ayo kita lihat. Kita tidak boleh melewatkan ini.”

Akhirnya gadis – gadis itu pergi. Yuri mengehela nafas lega begitu mereka semua pergi. Jujur saja ia takut kalau – kalau mereka mengetahui kebohongannya. Mereka begitu banyak sedangkan dia hanya sendirian. Bisa – bisa ia dikeroyok oleh mereka semua.

Yuri mendekati pintu kamar Jessica dan membukanya. Saat pintu terbuka, ia langsung menemukan Jessica sedang duduk bersila di atas ranjangnya. Yuri bisa melihat bulir – bulir air mengalir di pipi gadis itu.

“Sicca?”

“Yuri!!” Jessica menutup mulut dengan kedua tangannya saat ia melihat Yuri. Matanya merah dan air matanya mengalir dengan deras. Ia menangis.

“Sicca? Apa yang terjadi?” Yuri melangkah ragu saat memasuki kamar Jessica. Apa yang membuatnya menangis? Apa gadis – gadis di depan tadi mengganggunya?

Jessica tidak menjawab pertanyaan Yuri. Ia masih saja menangis. Bahunya naik turun karena terisak. Ia terlihat benar – benar sedih.

“Mengapa kau menangis?” Yuri bertanya lagi. Jessica tetap tidak menjawabnya. Yuri mendekat kemudian duduk di sebelah Jessica. Ia melihat gadis di depannya begitu sedih hingga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Kemudian ia mengulurkan tangannya menyentuh bahu Jessica dan menarik gadis itu ke pelukannya. Ia menepuk – nepuk punggung Jessica dengan lembut berusaha untuk menghibur gadis itu. “Tidak apa – apa. Mereka sudah pergi.”

Jessica membenamkan wajahnya di bahu Yuri. Ia semakin tenggelam dalam tangisnya. Yuri membiarkannya seperti itu. Meskipun ia ingin tahu apa yang membuat Jessica menangis, namun ia tidak lagi menanyakannya. Jessica terlihat seperti tidak ingin memberitahukan apapun padanya.

-TBC-

 

Iklan

26 thoughts on “TIME TRAVEL Part 3 (YulSic)”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s