Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 4 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

Part 4

“Kau menonton film?” Mata Yuri membesar. Ia melihat laptop yang tidak sempat ia lihat sebelumnya berada di depan Jessica.

Jessica mengangguk pelan. Air matanya kembali tumpah. “Ceritanya benar – benar menyedihkan.”

“Aigoo…” Yuri berdiri kemudian memijat kepalanya yang tidak sakit. “Kau menangis seperti itu hanya karena menonton film? Kau benar – benar pandai membuat orang lain cemas.”

“Kau mencemaskanku?”

“Tentu saja aku mencemaskanmu!” Yuri berteriak pada Jessica. Kemudian ia menyadari kalau gadis itu tidak salah apa – apa dan menormalkan kembali suaranya. “Kau tidak lihat bagaimana wajahmu tadi. Terlihat seperti seorang istri yang baru ditinggal mati suaminya.”

“Aah.. Kau mencemaskanku.” Jessica mengangguk dengan polosnya. “Wae?”

“Wae?” Yuri menirukan cara Jessica bicara sehingga membuatnya terlihat aneh. “Bagaimana mungkin kau bisa menangis seperti itu hanya karena sebuah film?”

“Aku sangat mudah terbawa perasaan. Saat menonton film, aku seolah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pemerannya.” Jessica menghapus air matanya sendiri dengan tisu.

Yuri mencibir. Ia tidak menyangka seorang Jessica yang ia ketahui selalu bersikap dingin dan tidak punya ekspresi, ternyata bisa menangis dengan hebatnya ketika menonton film. Mungkin semua emosinya ia curahkan saat menonton film sehingga ia tidak punya emosi yang tersisa untuk dunia nyata.

“Mengapa kau datang kesini? Bukankah Yuna ada di kamarmu?” Tanya Jessica. Ia sudah bisa mengendalikan dirinya dan menghentikan tangisannya.

“Menyelamatkanmu.” Jawab Yuri singkat.

“Menyelamatkanku?” Jessica memiringkan kepalanya.

“Aish… Berandalan ini!” Yuri menatap Jessica dengan geram. Ia meniup dahinya untuk menahan dirinya agar tidak marah pada Jessica. Tidak seharusnya ia mencemaskan orang ini. Ia sendiri masih belum tahu mengapa ia mencemaskan Jessica tadi. Dan apa yang ia lakukan disini? Menyelamatkannya? Dari apa? Dari film sedih?

“Mengapa kau mencemaskanku? Mengapa kau ingin menyelamatkanku?” Jessica kembali menanyakan semua pertanyaan yang tidak dijawab oleh Yuri.

“Agar aku bisa melakukan ini padamu!” Yuri menyodok pelan kepala Jessica dengan tinjunya.

Sebenarnya ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mendengar Yuna mengatakan kalau Jessica berada sendirian dan banyak orang yang mengepung kamarnya, ia langsung panik. Tubuhnya seolah bergerak sendiri menuju tempat ini. Jessica menanyakan pertanyaan yang benar. Memangnya mengapa ia mencemaskan Jessica? Ia baru mengenal Jessica tiga hari yang lalu. Tidak seharusnya ia berlari menyelamatkan Jessica yang sedang menonton film sementara saudaranya, Yuna merengek minta diberi makan.

“Astaga! Yuna!” Yuri teringat pada Yuna. Gadis itu pasti sudah kurus kering saking kelaparannya dia. Bagaimana mungkin ia melupakan Yuna?

***

Sunny mengintip dari depan pintu kelas seperti mencari – cari seseorang. Satu persatu mahasiswa keluar dari dalam. Namun yang dicarinya tidak kunjung kelihatan. Ada apa ini? Mengapa dia tidak ada? Bukankah mereka berjanji akan bertemu disini pagi ini? Apa yang terjadi? Mengapa dia melanggar janjinya?

“Suuuunny!” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Gadis itu berbalik dan langsung tersenyum lebar sambil mengerutkan hidungnya.

“Sooyoung! Kau darimana saja? Kau tidak masuk kelas?” Tanya Sunny pada seorang pria jangkung dihadapannya. Matanya besar dan kulitnya halus seperti porselen. Benar – benar tampan.

“Kelasku di sebelah.” Sooyoung menunjuk pintu ruang kelas di sebelah ruangan tempat Sunny menunggu. Ekspresinya berubah kecewa. “Kau tidak ingat kelasku?”

“Ha..ha…” Sunny memukul lengan Sooyoung pelan sambil tertawa garing. Jangan sampai ketahuan kalau ia bukanlah Sunny yang dikenal oleh Sooyoung. Jangan sampai pria ini mengetahui kalau ia bukanlah kekasih pria itu. “Aku hanya terlalu antusias akan bertemu denganmu sehingga menunggu di kelas yang terdekat.”

“Ayo!” Sooyoung menyodorkan lengannya pada Sunny agar gadis itu menggandengnya. Tanpa ragu, Sunny langsung menggandeng Sooyoung. Kemudian mereka berjalan beriringan.

Ponsel Sunny bergetar. Ia meraihnya dan melihat pesan yang masuk. Dari ommanya. “Kau baik – baik saja disana? Mereka mencoba mendekati Gama dengan menggunakan robot lain. Semua malah rusak seperti Gama dan lubang hitamnya semakin meluas. Ini bencana…”

“Apa itu?” Sooyoung melirik dari bahunya begitu melihat Sunny sibuk dengan sesuatu.

“Anio…” Sunny menggeleng. “Hanya souvenir yang Yuri.. Maksudku Yul berikan padaku.”

“Yul memberikannya padamu?” Sooyoung menghentikan langkahnya. Ia memegang bahu Sunny dan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. “Yul memberikan sesuatu?”

Sunny diam. Ia teringat kalau seharusnya hubungan Sunny dan Yul tidak baik. Bagaimana ini? Sooyoung pasti langsung menyadari kalau ada sesuatu yang aneh.

“Bagus!” Lanjut pria itu kemudian. “Aku senang hubungan kalian mulai membaik.” Tidak terlihat raut curiga sedikitpun dari wajahnya.

***

Yuri membuka pintu kamar Yuna dan menemukan Sunny, Yuna, dan tentu saja Jessica berada di dalamnya. Sunny sedang mengerjakan sesuatu dengan kukunya kakinya, Yuna asik memakan ramen di sudut ruangan. Sejak ia menolak keluar dari kamar, katanya masih banyak fans yang mengejarnya. Meskipun sebenarnya para gadis itu tidak terlalu heboh lagi dengan dirinya karena Profesor Seo sudah benar – benar keluar dari rumah sakit sore ini. Sedangkan Jessica meringkuk di ranjangnya. Sepertinya ia sedang tidur.

“Aah.. Yuri.” Sunny menyapa Yuri begitu ia melihat kedatangan gadis itu. “Kau darimana saja? Yuna mencarimu sejak tadi.”

“Hanya berjalan – jalan sebentar.” Yuri melirik gadis yang sedang bergelung di balik selimutnya sambil mendesah. Kemudian ia mendekati Sunny dan duduk di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan? Kau mewarnai kukumu?”

“Semua gadis disini melakukannya.” Sunny tetap fokus pada pekerjaannya.

“Yuna, sampai kapan kau akan bersembunyi terus seperti ini?” Yuri menatap Yuna yang berada di sudut ruangan memakan ramennya dalam diam.

“Kau menyadari aku ada disini?” Yuna menjawab ketus. Sepertinya dia masih marah karena kejadian tadi pagi. “Aku pikir kau tidak peduli lagi padaku.”

“Kau marah padaku?” Yuri mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna ungu gelap dari sakunya. Sebenarnya inilah alasannya menghilang tadi. Ia pergi membeli sesuatu untuk diberikan pada Yuna sebagai tanda permohonan maaf. “Aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa itu?” Yuna yang sudah selesai dengan ramennya berlari menghampiri Yuri dan mengambil kotak yang Yuri tunjukkan padanya. Ia sudah tidak marah lagi pada Yuri. Ia tidak pernah benar – benar marah pada Yuri.

“Kau mau menyogoknya?” Sunny menyela sambil mencibir.

Yuna tidak peduli. Ia membuka kotak yang berada di tangannya dan mengangkat sebuah kalung dengan dua buah hati sebagai liontinnya. Terlihat ia sangat menyukai hadiahnya. Ia sampai tidak bisa menutup mulutnya saking senangnya. “Waah… Kau melamarku?”

Terdengar suara tawa meledak dari seorang gadis di belakang mereka.

“Mengapa aku harus melamarmu?” Yuri tersenyum manis. “Bukankah aku sudah memilikimu?”

“Ooh…” Yuna mengulurkan tangannya dan memeluk Yuri.

“So sweet…” Celetuk Sunny. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi geli dari wajahnya. Ini pertama kalinya ia melihat dua orang saudara bertengkar hebat karena masalah makanan, kemudian berbaikan seperti sebuah adegan drama romantis.

“Aku juga masih punya yang lain.” Yuri melepaskan pelukan Yuna, lalu mengeluarkan kotak lainnya. “Go-Stop!”

Mata Yuna melebar. “Disini juga ada?”

“Tepat!” Yuri mengarahkan telunjuknya ke wajah Yuna. “Wajahku juga seperti itu saat pertama kali melihatnya.”

“Ayo kita main!” Sunny menghentikan aktifitas sebelumnya kemudian duduk di lantai diikuti oleh Yuna dan Yuri.

Ketiga gadis itu seperti kesetanan saat bermain Go-Stop. Mereka begitu heboh dan membuat suara – suara berisik. Berteriak, tertawa keras, bahkan saling mengejek untuk menjatuhkan mental lawannya. Yuri yang malang tidak menyadari kalau Yuna dan Sunny bersekongkol untuk membuatnya kalah. Akibatnya Yuri menjadi orang yang paling banyak menerima hukuman karena dia selalu saja kalah. Saat Yuri tidak menyadari, Sunny dan Yuna cekikikan menertawakan kebodohannya.

“YA!” Jessica yang merasa terganggu dengan keributan disekitarnya, bangun dan menatap dingin ketiga gadis yang sedang duduk di lantai. “Apa harus kalian selalu berkumpul di kamarku dan membuat keributan?”

Semuanya menunduk. Tidak ada yang berani menatapnya. Jessica terlihat benar – benar mengerikan. Mereka membuat kesalahan besar dengan membangunkan raksasa yang sedang tidur. Sekarang mereka harus menerima konsekuensinya karena raksasa itu akan memakan mereka semua.

“Mengapa kalian tidak berkumpul di kamar kalian saja? Aku tidak suka kalian disini.” Lanjut Jessica sama dinginnya dengan tadi.

Yuri berdiri dan memberanikan dirinya menghadapi Jessica. Ia tahu kalau ini sama saja dengan bunuh diri. “Kau hanya tidak suka aku disini.”

“Choi Soebang….” Sunny tiba – tiba bicara di teleponnya meskipun ponselnya sama sekali tidak berdering. Ia hanya mencoba kabur dari tatapan Jessica yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia kemudian bangkit dan berjalan keluar. “Ne! Aku segera kesana.”

“Kau hanya tidak suka padaku kan?” Yuri mengulangi kata – katanya. “Kau masih membenciku, karena itu kau ingin kami pergi.”

“Kalian semua.” Jessica mengoreksi. “Kalian begitu berisik di saat aku sedang ingin tidur.”

“Jessica! Kau sudah berjanji akan bersikap baik padanya.” Yuna menyela.

“Hah?” Jessica memundurkan kepalanya sedikit ke belakang. “Kalian tidak sadar kalau aku memarahi kalian semua? Dan kau malah menumpahkan semua pada Yuri.”

“Kau tadi tidak seperti ini saat aku dan Sunny disini. Kau tidak seperti ini sebelum Yuri datang.” Yuna memperburuk suasana meskipun ia tidak bermaksud demikian.

“Kau benar.” Jessica mengangguk. Entah mengapa ia merasa Yuna menyudutkannya. “Itu karena kalian sangat tenang sebelumnya dan kemudian dia datang dan membuat keributan.”

“Berarti benar aku masalahnya?” Yuri menggigit bibir bawahnya.

“Bukan itu maksudku!” Jessica tadinya hanya ingin membuat mereka sedikit lebih tenang. Ia sama sekali tidak bermaksud benar – benar mengusir mereka. Ia hanya tidak tahu bagaimana mengatakan kalimat yang tepat. Ini yang paling ia benci. Tidak ada yang mengerti maksud perkataannya yang sebenarnya. “Terserah! Aku akan tidur di tempat lain.”

“Tunggu!” Yuri menahan tangan Jessica. “Aku saja yang pergi. Bukankah aku masalahnya?”

“Kau berjanji padaku untuk bersikap baik padanya!” Ujar Yuna setelah Yuri pergi meninggalkan kamar itu.

“Terserah..” Jessica kembali ke ranjangnya kemudian tenggelam di balik selimut.

“Kau berjanji untuk bersikap baik padanya!” Yuna merengek. Ia membuaka selimut yang menutupi tubuh Jessica.

“YA!!” Jessica berteriak. “Aku hanya ingin menyuruh kalian tenang. Aku tidak bermaksud bersikap buruk padanya. Memangnya apa yang aku lakukan? Mengapa malah menyalahkanku?”

“Itu…” Yuna ragu untuk melanjutkan kata – katanya. “Kau punya makanan?”

“Apa?” Jessica mengernyit heran. Matanya langsung tertuju pada mangkuk ramen kosong yang belum sempat dibersihkan. “Bukankah kau baru makan ramen?”

“Aku lapar lagi.” Yuna menyeringai.

***

“Aaah… Ini sudah tiga minggu.” Yuna berbaring telentang di atas ranjangnya sambil menatap langit – langit kamar. Ia kemudian melirik gadis kecil di sebelahnya yang sedang sibuk menatap layar laptop. “Sunny! Menurutmu kapan kita akan kembali?”

“Sebenarnya kita baru pergi selama dua puluh satu jam. Bukan tiga minggu.” Sunny mengetik sesuatu.

“Dua puluh satu jam?” Yuna duduk tiba – tiba.

“Aku belum memberitahumu? Waktu disini berjalan lebih cepat dari masa depan.”

Gadis itu menggeleng. “Kau sibuk dengan pacarmu.”

“Ha..ha..dia pacar Sunny.” Sunny itu tertawa. “Aku hanya menggantikannya sebentar.”

Yuna mendesah panjang menatap ruang kosong di depannya. Semenjak kejadian beberapa minggu yang lalu, Yuri tidak datang lagi ke kamar itu. Kata Sunny, gadis itu juga jarang berada di kamarnya. Entah kemana sebenarnya Yuri pergi akhir – akhir ini. Ia tidak memberitahukannya pada Yuna. Sedangkan Jessica tidak jauh berbeda dengan Yuri. Biasanya saat tidak sedang kuliah Jessica akan tidur di kamarnya. Sekarang ia pergi pagi – pagi sekali dan pulang larut malam. Terlihat jelas kalau ia menghindari Yuri. Ia sering tidak berada di kamarnya karena mengira Yuri pasti disana.

“Aku merindukan Yuri.” Gumamnya pelan.

“Kau bertemu dengannya tadi pagi.” Meskipun Yuna berbicara sangat pelan, Sunny masih bisa mendengarnya. Disana hanya ada mereka berdua dan sangat sepi. Suara sekecil apapun bisa terdengar dengan jelas.

“Kami hanya bertemu sebentar. Itu tidak sama. Kau tahu kan biasanya kami selalu bersama kemana – mana.” Yuna cemberut. “Sebenarnya kemana dia pergi? Apa dia tidak tahu kalau aku tidak bisa pergi kemanapun?”

“Tidak ada lagi yang mengejarmu.” Sunny terkekeh. “Gadis – gadis itu bahkan mungkin sudah lupa padamu.”

“Aku hanya berjaga – jaga saja.” Yuna menunduk memainkan telunjuknya pada seprei tempat tidur. “Pokoknya sampai kita kembali, aku tidak akan keluar dari tempat ini.”

“Kau yakin?” Sunny mencoba meruntuhkan pertahanan Yuna. “Bagaimana jika orang – orang di masa depan membutuhkan waktu satu minggu atau bahkan lebih untuk memulangkan kita? Coba kau bayangkan berapa lama kita harus berada disini. Lagipula… Profesor Seo semakin tampan akhir – akhir ini?”

“Jinjja??” Wajah Yuna berubah cerah dalam sesaat, namun sedetik kemudian ia kembali murung. “Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

“Kau mau melihatnya? Aku akan menemanimu masuk kelasnya besok.” Sunny berusaha untuk membuat Yuna keluar. Gadis itu sudah berubah pucat seperti mayat hidup karena lama tidak terkena sinar matahari. Yang Yuna butuhkan saat ini hanyalah keluar dan menghirup udara segar.

“Aku tidak bisa keluar.”

“Sudah aku katakan kalau tidak akan ada yang mengejarmu lagi! Mereka sudah melupakanmu!” Sunny terus mencoba meyakinkan.

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

“Kau benar – benar akan menemaniku masuk kelasnya?” Akhirnya Yuna menyerah. “Kau tidak bosan?”

Untuk beberapa saat Sunny sempat meragukan apa ia mampu bertahan mengikuti kelas yang membosankan itu. Namun setelah melihat bagaimana kondisi Yuna, ia benar – benar kasihan. Ditambah lagi Yuri tidak ada di sisi gadis itu. Yuna seperti kehilangan separuh jiwanya. Jadi apa salahnya ia berkorban sedikit untuk membuat Yuna kembali ceria?

“Aku akan menemanimu!” Jawab Sunny mantap.

“Sunny, gomawo! Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau tidak ada.” Yuna menggenggam kedua tangan Sunny sambil tersenyum lebar.

***

Yuri berjalan menyusuri trotoar dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Udara sudah mulai dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim gugur dan ia hanya memakai pakaian yang tipis sehingga membuatnya bergidik beberapa kali. Ia tidak tahu kalau di masa lalu masih ada empat musim sehingga ia keluar dengan pakaian musim panas.

Setelah sampai di sebuah cafe, ia berbelok dan masuk ke dalamnya. Ia seperti mencari – cari sesuatu dan kemudian tersenyum saat melihat seorang gadis berambut pirang yang duduk di salah satu kursi. Ia berjalan mendekati gadis itu dan duduk di depannya.

“Kau sudah lama?” Tanya Yuri saat ia meletakkan pantatnya di atas kursi.

“Anio…” Jessica melihat jam tangannya. “Sekitar tiga puluh menit yang lalu. Dan aku sudah memesan untukmu.”

“Mianhe..” Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tersesat tadi.”

“Mengapa kau tidak mau pergi denganku? Kita bisa berangkat dari kampus bersama – sama.”

“Tadi aku pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.”

“Kemana?”

Yuri mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. Lengkap dengan tanda tangan.

“Sejak kapan kau menjadi fansnya Profesor Seo?” Jessica tertawa lebar.

“Kau tertawa?” Mata Yuri membesar melihat pemandangan langka di depannya. “Aku tidak pernah melihatmu tertawa sebelumnya.”

Jessica berdehem. Tawanya lenyap seketika. “Aku tidak tertawa. Aku hanya kaget mengetahui kau juga fansnya Profesor Seo.”

“Ini untuk Yuna.” Yuri menjawab singkat.

“Oh…”

“Dia pasti akan senang jika aku memberikan ini padanya.”

“Mengapa kau tidak sekalian mengajaknya menemui Profesor Seo?”

“Dia tidak akan mau. Kau tahu dia tidak mau keluar dari kamarnya. Kalau aku jadi dia, aku akan mati bosan karena terus menerus berada di dalam kamar.”

“Itu juga alasanmu memilih keluar denganku.” Jessica bergumam pelan. “Karena Yuna tidak mau diajak keluar.”

“Ne..!” Yuri memainkan minuman di gelasnya dengan menggunakan sedotan. “Ne? Kau bilang apa?”

“Nothing..” Jessica menyelipkan rambutnya di belakang telinga. “Kita mau kemana hari ini?”

“Hmm..” Yuri berpikir. “Tempat mana yang belum kita kunjungi?”

“Banyak.” Jessica menyeruput minumannya. “Tapi.. Mengapa aku harus menemanimu? Kau bisa pergi sendiri. Bukankah di masa depan kau juga tinggal di kota ini? Harusnya kau mengenal kota ini dengan baik.”

“Baiklah, aku akan pergi sendiri.” Yuri cemberut. Ia terus mengaduk – aduk minumannya tanpa berminat meminumnya sedikitpun. “Tempat ini terlihat berbeda dengan masa depan. Aku akan tersesat jika pergi sendirian.  Dan jika aku pergi sendiri, butuh waktu setahun untuk menemukan jalan pulang. Sunny sibuk pacaran. Yuna tidak mau keluar dari kamar dan aku tidak mau mati bosan karena menemaninya seharian. Lagipula mereka berdua tidak mengenal tempat ini. Satu – satunya pilihan yang tersisa hanya kau.”

“Satu – satunya pilihan yang tersisa.” Jessica bergumam lagi lebih pelan dari sebelumnya.

“Kalau kau tidak mau menemaniku, tidak masalah buatku pergi sendirian. Aku sudah terbiasa tersesat. Aku bahkan tersesat tadi.”

Jessica menghela nafas panjang. “Mengapa aku terlibat masalah seperti ini?”

“Aku masalah buatmu?”

“Bu.. Bukan itu maksudku!”

“Gwaenchana..” Yuri tersenyum. “Orang – orang biasanya akan terus memikirkan masalah mereka.”

***

“Mengapa kau melakukannya!!” Sunny memukul bahu Sooyoung berkali – kali.

“Aku tidak sengaja..” Sooyoung mencoba membela diri, namun ia membiarkan Sunny memukulinya. Memang ia yang bersalah dalam hal ini. Karena itu ia pantas mendapatkan pukulan.

Dengan mata berkaca – kaca Sunny meraih ponselnya yang sudah terbelah menjadi dua. Ini satu – satunya benda yang bisa membuatnya terhubung dengan masa depan. Satu – satunya benda yang membuatnya bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan sementara ia terjebak di tempat ini. Satu – satunya yang bisa membuatnya berkomunikasi dengan keluarganya. Dan sekarang benda itu sudah hancur akibat tergilas roda mobil.

“Tadi aku melihatmu menjatuhkannya.” Sooyoung melanjutkan kata – katanya. “Aku ingin mengambilkannya untukmu. Tapi aku terkejut saat melihat ada cahaya muncul tiba – tiba dan benda itu terlempar begitu saja ke jalan. Aku benar – benar minta maaf.”

Sunny tidak menjawab. Ia tidak benar – benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sooyoung. Pikirannya sedang simpang siur saat ini. Di tangannya ada serpihan ponselnya yang sudah hancur. Ia hanya menatap ponsel itu dan merasa kalau ia tidak akan pernah kembali ke masa depan lagi. Tadinya ia masih punya harapan untuk bisa kembali karena keberadaan ponsel ini. Namun setelah melihat bagaimana ponsel itu hancur di depan matanya sendiri, mendadak semua harapan itu sirna. Satu – satunya penghubung dengan masa depan sudah rusak. Ia tidak punya koneksi apapun dengan masa depan. Ia akan berada disini selamanya. Ia tidak akan pernah melihat keluarganya lagi.

Tanpa sadar air matanya menetes. Memikirkan kalau ia tidak akan bertemu lagi dengan keluarga yang sangat dicintainya, membuat dadanya terasa sesak. Ia merasa hancur seolah ia yang digilas, bukan ponselnya.

“Kau menangis?” Sooyoung menyentuh bahu Sunny dengan lembut. Melihat Sunny menangis membuatnya benar – benar buruk. Ia yang membuat Sunny menangis. Seharusnya dirinya melindungi Sunny, bukan malah membuatnya menangis seperti ini.

Sunny terus menangis.

“Aku benar – benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau benda itu sangat berharga buatmu.” Sooyoung menghapus air mata Sunny dengan jemarinya.

“Sudah! Lupakan saja!” Dengan kasar Sunny menyingkirkan tangan Sooyoung dari wajahnya. Ia menyimpan serpihan ponselnya ke dalam tas berharap suatu saat benda itu bisa di perbaiki. Kemudian ia berjalan meninggalkan Sooyoung dengan kepala tertunduk.

-TBC-

Iklan

22 thoughts on “TIME TRAVEL Part 4 (YulSic)”

  1. haha aku kira sica eh ternyata krna flm toh dasar sica..
    Sica jgn di ganggu lw lg tidur tuh akibat nyakan.wkwkwk
    sica suka yuri kaya nya.hahaha
    okesip like thor

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s