Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 5 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

 

Part 5

“YA!! Berhenti mengendusku seperti itu!” Yuri mendorong wajah Jessica menjauh darinya. Tiba – tiba saja gadis itu mendekat dan mengendusnya saat mereka sedang berjalan beriringan. “Kau pikir aku makanan?”

Jessica memperbaiki rambutnya yang agak berantakan akibat Yuri mendorongnya tadi. Ia kemudian melancarkan tatapan dinginnya pada Yuri membuat gadis itu membeku seketika. “Aku mencium sesuatu yang aneh.”

“Aa.. Aku.. Sudah.. Aku sudah mandi kok.” Ujar Yuri gugup. Setelah menerima tatapan dingin dari Jessica, bibirnya seolah ikut membeku dan sulit untuk bicara.

“Bukan itu maksudku!” Jessica menggandeng tangan Yuri dan menyeretnya agar kembali berjalan karena Yuri tiba – tiba diam dan tidak bergerak sedikitpun. “Tadi kau ingin jalan – jalan. Lalu tiba – tiba kau mengatakan kalau ingin pulang. Bukankah itu aneh?”

“Aku hanya ingin melihat Yuna. Aku tidak enak terus meninggalkannya sendirian.”

“Mengapa kau baru menyadarinya sekarang?”

“Entahlah…” Yuri menunduk. Memang akhir – akhir ini ia tidak terlalu memperhatikan Yuna. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia bersikap seperti ini. Ia mencoba menebak – nebak alasannya. Hanya ada satu alasan yang terpikir olehnya dan ia tidak mau kalau sampai hal itu benar – benar terjadi.

“Tanganmu dingin.” Gumam Jessica pelan.

“Ne?” Yuri tersentak mendengar suara Jessica. Ia tidak mendengarnya begitu jelas.

“Tanganmu dingin.” Jessica mengulangi kata – katanya dengan sedikit lebih keras.

“Aku kedinginan.” Jawab Yuri singkat. Dalam hati ia membatin. “Tentu saja tanganku dingin. Ada bongkahan besar es kutub selatan yang menyentuhnya.”

“YA!!” Jessica melepaskan genggamannya dari Yuri seolah tahu kalau ia yang menyebabkan tangan Yuri menjadi dingin. “Siapa suruh memakai pakaian tipis dicuaca dingin begini?”

“Aku tidak tahu kalau udaranya akan dingin. Aku hanya mengambil pakaian secara acak di dalam lemari.” Yuri memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa dingin.

“Ayo! Kita harus segera pulang sebelum kau masuk angin.”

“Tidak jadi jalan – jalan?”

“Kau berubah pikiran lagi?” Jessica meradang.

“A.. Anio.” Yuri ketakutan dan mundur beberapa langkah. “Aku hanya bercanda.”

Ekspresi marah Jessica benar – benar mengerikan. Dia yang paling mengerikan.

“Oh! Bukankah itu Sunny?” Jessica melirik di balik bahu Yuri. Ia berjinjit sedikit untuk melihat lebih jelas.

Yuri melihat ke arah yang dimaksud Jessica. “Benar, itu Sunny. SUNNY!!”

Sepertinya Sunny tidak mendengar saat Yuri memanggilnya. Ia terus saja berjalan. Karena itu Yuri mengejarnya, diikuti oleh Jessica.

“Sunny, kau dari….” Yuri menyapanya begitu tiba di depan gadis itu. Namun kata – katanya terhenti saat melihat mata Sunny bengkak dan merah. “Kau menangis?”

“Yuri? Ah.. Tidak.” Sunny buru – buru tersenyum untuk menutupi apa yang baru saja terjadi. Yuri tidak boleh tahu kalau ponselnya rusak. Tidak ada yang boleh mengetahuinya. Mereka akan kehilangan harapan sama seperti dirinya jika mengetahui satu – satunya penghubung dengan masa depan telah rusak. Ia akan membiarkan mereka terus berharap meskipun ia tidak tahu harus sampai kapan. “Tadi mataku kemasukan debu. Perih sekali.”

“Aah…” Yuri mengangguk. “Kau darimana saja?”

“Aku baru saja jalan – jalan dengan Sooyoung.”

“Kau menyukainya?” Yuri merangkul bahu Sunny dan menatap jahil pada gadis itu. Sekilas Jessica melirik mereka sambil mendengus.

“Tidak!” Sunny menyingkirkan tangan Yuri darinya kemudian mendorong Yuri menjauh. Posisi seperti itu membuatnya terlihat lebih pendek. “Aku hanya bermain – main saja.”

“Benar kau tidak menyukainya?” Yuri terus menggoda Sunny.

“Sejujurnya dia sexy.” Ujar Sunny dengan memasang wajah seperti sedang membayangkan Sooyoung. Sebenarnya ia hanya berusaha bersikap biasa agar tidak ada yang mengetahui apa yang ia sembunyikan. “Tulang selangkanya sexy.”

“YA!! Mengapa kau melihat bagian itu?” Yuri memandangi Sunny seolah gadis itu menjijikkan. “Kau benar – benar mesum!”

Sunny bengong mendengar reaksi dari Yuri. Mesum? Kenapa? Tunggu! Sepertinya ia tahu maksud Yuri. Yuri salah paham.

“Selangka!” Sunny mengayunkan tangannya di sekitar bawah leher. “Bukan selangkang! Pabo!!”

Sebuah pukulan mendarat di kepala Yuri. Sunny perlu sedikit melompat untuk melakukannya. Terlahir dengan tubuh pendek tidak membuatnya putus asa untuk memukul kepala orang yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya.

“Aku mencium sesuatu yang aneh.” Jessica mengelilingi Sunny sambil mengendusnya. Sunny menelan ludah akibat ulahnya itu. Mungkinkah ia ketahuan?

“YA!! Berhenti melakukan itu!” Yuri menyeret Sunny menjauh untuk melindungi Sunny dari endusan Jessica.

“Kau menyembunyikan sesuatu!” Lanjut Jessica.

“Mengapa kau bersama gadis aneh ini?” Sunny mundur dan berlindung di balik Yuri. “Yuna terus menanyakanmu.”

“Aku ingin berkeliling dan Sicca menemaniku. Sayang jika kita datang kesini dan tidak sempat melihat – lihat.”

“Kau menganggap ini liburan?” Sunny menodong Yuri dengan pertanyaannya.

Yuri menjawab dengan anggukan polos.

“Kalian mau kemana setelah ini?” Sunny menatap Yuri dan Jessica bergantian.

“Pulang.” Jessica yang menjawab.

“Aku juga mau pulang.” Sunny memegang bahu Yuri dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang satu lagi ai lingkarkan di bahu Jessica. “Ayo kita pulang bersama.”

Jessica dan Yuri menatap pemisah di antara mereka dengan sinis. Pandangan mereka bertemu di tengah. Saat menyadarinya, mereka segera mengalihkan pandangan ke tempat lain dan sama – sama berdehem.

***

Yuna membuang muka saat Yuri datang padanya. Ia marah pada Yuri. Berhari – hari gadis itu mengacuhkannya. Ia bosan terus berada di dalam kamar ini dan butuh seseorang untuk menemaninya. Dan dimana Yuri yang selama ini selalu bersamanya? Bukannya menemaninya, ia malah sibuk jalan – jalan. Sikap Yuri yang seperti itu berhasil membuatnya patah hati.

“Yuna…” Yuri mendekat pada Yuna dan merengek seperti anak kecil. “Kau marah padaku?”

“Kau marah padaku?” Yuna mengulangi kata – kata Yuri dengan suara pelan kemudian berbalik memunggungi Yuri. Yuri selalu seperti itu. Setiap Yuna menunjukkan ekspresi marah padanya, bukannya minta maaf, ia malah mengeluarkan kata – kata itu. Meskipun ia tahu kalau Yuna marah padanya, ia tetap saja menanyakannya.

“Aku punya sesuatu untukmu.” Yuri mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Senjata andalan Yuri untuk membuat Yuna memaafkannya tanpa harus meminta maaf terlebih dahulu adalah dengan cara menyogok. Dan itulah yang akan ia lakukan saat ini. Mencoba menyogok Yuna dengan memberikan sesuatu.

Yuna tidak bergeming. Ia masih memunggungi Yuri dan tidak mau melihat gadis itu. “Usaha bagus! Tapi kali ini kau tidak akan berhasil menyogokku.”

“Padahal aku susah payah mendapatkan ini.” Yuri mendesah sambil menatap hampa pada selembar foto yang dipegangnya. “Profesor Seo tidak mudah memberikan tanda tangannya.”

“Profesor Seo?” Telinga Yuna berdiri saat mendengar nama itu. Ia langsung berbalik dan melihat apa yang akan diberikan Yuri padanya dan matanya langsung membesar melihat foto Profesor Seo lengkap dengan tanda tangan. Segera ia merebut foto itu dari tangan Yuri. “Profesor Seo!”

Yuri bengong saat melihat Yuna merampas foto itu dari tangannya. “Aku pikir kau tidak menginginkannya.”

“Gomawo Yuri!!” Yuna memeluk Yuri seolah ia tidak pernah marah pada Yuri. Yuri sebenarnya sudah tahu dari awal kalau ia akan berhasil. Ia selalu berhasil.

“Kau terlalu mudah.” Celetuk Sunny.

“Oh! Sunny!” Yuna baru menyadari kehadiran Sunny setelah gadis itu bicara. Kemudian ia melihat Jessica ada di belakang Sunny dan Yuna langsung menekuk wajahnya. “Dan Jessica juga…”

“Coba tebak apa yang baru saja terjadi!” Sunny melompat duduk di sebelah Yuna. “Aku menemukan dua orang ini sedang jalan – jalan berdua.”

“Tepatnya kami yang menemukamu.” Sela Yuri.

“Kalian bersama?” Yuna membelalak. “Aku pikir hubungan kalian tidak baik.”

“Aku mau tidur.” Jessica berjalan ke ranjangnya tanpa peduli dengan pertanyaan Yuna. “Aku harap kalian tidak berisik saat aku tidur.”

“Kalian bersama?” Yuna menatap Yuri. Kali ini ia bertanya sambil berbisik.

“Benar! Aku melihat mereka bersama – sama.” Sunny juga bicara dengan suara pelan. Ia tidak ingin membuat Jessica marah dan mengusir mereka lagi. Terakhir kali gadis itu mengamuk, benar – benar mengerikan.

“Iya! Memang kenapa?” Jawab Yuri dengan santai. “Kami hanya jalan – jalan.”

“Pelankan suaramu!” Sunny menepuk lengan Yuri. “Kau ingin membuat penyihir itu mengamuk?”

“Biarkan saja dia mengamuk.” Yuri sedikitpun tidak memelankan suaranya. Ia bahkan meninggikan suaranya agar Jessica mendengarnya. “Aku akan menciumnya jika dia berani mengamuk!”

“What?” Jessica langsung duduk begitu mendengar kata – kata Yuri.

“Kenapa? Kau marah? Mau mengamuk? Kau mau aku menciummu?” Yuri menyunggingkan senyumnya.

“Aish! Kau benar – benar menyebalkan!” Jessica kembali tidur. Kali ini ia menutup wajahnya dengan bantal agar tidak mendengar keributan yang akan ditimbulkan oleh ketiga orang itu.

Yuna menatap Jessica yang sedang meringkuk dan Yuri yang tersenyum penuh kemenangan secara bergantian. “Kau menang? Semudah itu?”

“Daebak! Penyihir itu tunduk padamu.” Sunny ikut memuji Yuri.

Yuri menggaruk kepalanya sambil tersenyum lebar. “Aku keren kan?”

“Sekarang kau bisa menceritakan perkembangan di masa depan.” Yuna mengarahkan pembicaraan mereka ke topik yang lebih serius.

Deg! Sunny mengepalkan kedua tangannya yang tiba – tiba gemetar begitu mendengar kata – kata Yuna. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memberitahukan yang sebenarnya? Itu tidak mungkin. Mereka pasti akan kecewa. Mereka pasti menyalahkan karena kecerobohannya.

“Mereka butuh waktu sekitar satu minggu untuk memeriksanya.” Sunny berbohong.

“Satu minggu?” Yuna terlihat seperti kehilangan semangat hidupnya. “Selama itu?”

“‘Kenapa? Bukankah hanya satu minggu?” Yuri yang tidak tahu apa – apa mencemooh sikap berlebihan Yuna.

“Kita baru menghilang selama dua puluh satu jam dan kita melewatinya disini selama tiga minggu. Berapa lama kita harus menunggu jika itu satu minggu?” Yuna menjelaskan dengan malas. Ia yakin Yuri tidak akan mengerti.

“Mwo?” Yuri membelalakkan matanya dengan ekspresi kaget. Kemudian dengan cepat ia merubahnya menjadi ekspresi datar dalam satu detik. “Lalu apa masalahnya? Kita tinggal melewatinya saja.”

“Ha.. Ha.. Ha.. Itu benar.” Sunny tertawa garing. Ia diam begitu menyadari tidak ada yang ikut tertawa dengannya.

“Aku rasa tidak semudah itu. Bagaimana kalau kita bertemu dengan Yul, Yuna, dan Sunny yang berada di masa ini?”

“Itu tidak akan terjadi.” Sunny mengayunkan tangannya di udara. “Tiga minggu kita disini dan mengambil tempat mereka. Tapi mereka tidak pernah muncul sekalipun.”

“Sebenarnya ada suatu hal yang terus mengganggu pikiranku. Sesuatu yang benar – benar serius.” Yuri menatap Sunny dan Yuna bergantian.

“Kau lapar!” Sela Yuna.

PLAK!! Sebuah tamparan mendarat di kepala Yuna. Yuri pelakunya. Bukan tamparan yang keras. Hanya saja tamparan itu berhasil mendorong kepalanya ke samping.

“YA! Apa yang kau lakukan?” Yuna membalas Yuri dengan memukulnya balik.

“Anak – anak, ini tidak baik! Jangan bertengkar!” Sunny memisahkan keduanya dengan duduk di antara mereka. “Yuri silahkan lanjutkan. Apa yang mengganggumu?”

Yuri berdehem sebelum mulai berbicara. “Begini.. Aku merasa kalau aku mulai berubah akhir – akhir ini. Bagaimana kalau seandainya kita malah menghilang, bukannya kembali ke masa depan? Bukankah kita tidak pernah melihat Yul, Yuna, dan Sunny yang berasal dari masa ini? Bagaimana kalau tubuh yang kita tempati ini ternyata milik mereka? Tanpa sengaja kita merebutnya secara paksa dari mereka. Suatu saat mereka akan kembali dan mengusir kita dari tubuh ini. Kita yang tidak punya tubuh akhirnya menghilang secara perlahan. Bagaimana kalau itu yang terjadi?”

“Aah… Kau berpikir sangat keras! Istirahatlah!” Yuna memanjangkan tubuhnya ke arah Yuri kemudian menepuk – nepuk pundak gadis itu dengan lembut.

“Ternyata selain dia yang tidak mengerti perkataan kita, dia juga bisa mengatakan hal – hal yang tidak kita mengerti.” Sunny mengangguk penuh arti.

“Itulah kelebihan Yuri.” Yuna tersenyum.

***

Profesor Seo menuliskan rumus – rumus ajaib di papan tulis yang membuat Yuna terpesona. Bukan hanya Yuna saja. Banyak gadis – gadis lain di ruangan itu yang memasang ekspresi seolah tersihir oleh Profesor Seo. Memang Profesor Seo sangat tampan. Wajahnya terukir dengan sempurna. Tidak ada cela. Suaranya juga bagus. Saat Yuna mendengarkan pria itu menerangkan pelajaran, ia seolah mendengar Profesor Seo sedang bernyanyi. Ia benar – benar terhipnotis.

“Bukankah dia tampan?” Yuna tersenyum sendiri saat mengucapkan kalimat itu.

“Kau mengatakannya lagi.” Sunny mendengus. Selain bosan dengan apa yang dikatakan oleh Profesor Seo, Sunny juga bosan dengan yang dikatakan Yuna. Tapi ia tidak berdaya. Ia sudah berjanji akan menemani Yuna meskipun ia menyesalinya habis – habisan saat ini. “Ini sudah yang keseribu kalinya.”

“Akhir minggu ini kita akan mengadakan kuliah lapangan.” Ujar Profesor Seo setelah lelah mencoret – coret papan tulis.

“Lihat bibir mungilnya itu saat dia sedang bicara.” Yuna menerawang saat menatap wajah Profesor Seo. Wajahnya bersemu merah. “Benar – benar menggemaskan. Membuatku ingin menciumnya.”

“Kalau begitu cium saja.” Sunny menanggapi dengan asal.

“YA! Kau pikir aku seagresif itu? Aku masih bisa berpikir logis!” Yuna berteriak dengan keras di depan wajah Sunny. Rona merah semakin memenuhi pipinya.

“Kau yakin tidak ingin mencobanya? Kau akan menyesal nanti.” Sunny berusaha mempengaruhi.

“Kau kira aku dibutakan oleh cinta? Aku tahu kalau dia sudah menikah. Tidak mungkin aku merebutnya.” Yuna mengomel.

“Kau sempat memikirkan itu walaupun sesaat.”

“Anio!!” Yuna memukul meja.

“Aku tahu kau..” Sunny tertawa jahil.

“Aku bilang tidak!! Mengapa kau tidak percaya padaku?” Yuna mengipasi wajahnya yang semakin terasa panas.

“Lalu mengapa wajahmu berubah jadi merah begitu?” Sunny semakin bersemangat menggoda Yuna.

“Mwo??” Yuna berteriak.

“Ehem…” Terdengar suara seseorang berdehem di dekat mereka. Refleks keduanya melirik ke samping tempat suara itu berasal dan menemukan Profesor Seo berdiri sambil bersidekap menatap mereka berdua.

“Pro..fesor?” Yuna tergagap. Melihat Profesor Seo yang begitu tampan berdiri sangat dekat dengannya seperti ini membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Aku yakin kalian tidak mengambil kelasku.” Ujar Profesor Seo dengan suaranya yang menawan. Bahkan Sunny ikut terpesona olehnya.

“Tidak.. Tidak.. Kami benar – benar mengambil kelasmu.” Sunny menjawab dengan cepat sebelum mereka ketahuan menyusup ke kelas ini meskipun pada kenyataannya mereka sudah ketahuan.

“Benarkah?” Profesor Seo berbalik. Ia kemudian kembali ke depan kelas dan mengambil absensi mahasiswa. Ia melihat daftar nama yang ada di dalamnya dan hanya menemukan sepuluh nama. Ia kemudian melihat kelasnya yang penuh dan sebagian besar adalah anak perempuan dengan tersenyum. “Sepertinya banyak yang mengambil kelasku. Apa kuliahku begitu menarik?”

Beberapa anak perempuan yang kemungkinan besar penyusup seperti Yuna dan Sunny mulai berbisik menimbulkan suara dengungan lebah di ruangan tertutup itu. Mereka menatap Yuna dan Sunny dengan sinis. Berkat dua orang yang berisik itu, mereka ketahuan menyusup ke kelas ini dan mereka tidak akan diizinkan masuk ke kelas ini nantinya.

“Baiklah, kalian semua boleh ikut kuliah lapangan.” Profesor Seo tersenyum membuat luluh para gadis – gadis itu. “Yang sudah terdaftar di kelasku, ataupun tidak. Semuanya boleh ikut. Aku tidak keberatan jika kalian ingin belajar.”

“Jinjja??” Mata Yuna membesar saking antusiasnya. “Dia mengajakku kencan?”

“Bukan hanya kau, tapi semua yang ada disini.” Sunny mengoreksi. “Lagipula bukan kencan, tapi kuliah lapangan.”

“Kau akan pergi kan?” Yuna menatap Sunny dengan penuh harap. “Kau akan menemaniku?”

“Aku tidak bisa.” Sunny langsung menolak tanpa sempat memikirkannya. “Aku hanya berjanji untuk menemanimu masuk ke kelas ini. Kalau pergi kuliah lapangan, aku tidak bisa.”

“Kalau begitu aku akan mengajak Sooyoung.” Yuna cemberut.

“Nugu?” Kalau tidak salah dengar Sunny mendengar Yuna menyebut nama Sooyoung. Mengapa harus Sooyoung? Mengapa bukan Yuri atau Jessica? Mengapa ia harus mengajak Sooyoung? Apa tidak ada orang lain? Bukannya ia cemburu Yuna mengajak Sooyoung. Ia hanya takut Sooyoung akan mengatakan pada Yuna kalau ponselnya telah hancur. Yuna akan mengetahui kebohongannya. Bagaimana ini?

“Choi Sooyoung.” Yuna mengulanginya. “Kau akan ikutkan kalau Sooyoung ikut?”

Ternyata itu alasan mengapa Yuna mengajak Sooyoung. Agar Sunny mau ikut dengannya. Tapi ia tidak bisa ikut. Bagaimanapun juga itu adalah kuliah lapangan bersama Profesor Seo. Pasti sangat membosankan. Lalu apa yang akan terjadi jika Sooyoung benar – benar menerima ajakan Yuna dan pergi bersama gadis itu? Di satu sisi ia tidak ingin pergi karena tahu itu akan membosankan. Di sisi lain ia harus ikut untuk menutup mulut Sooyoung.

“Entahlah…” Sunny mendesah. Ia masih belum bisa memutuskan.

“Aku harap kau mau ikut. Kau tidak akan membiarkan Sooyoungiemu pergi bersamaku kan?” Yuna menatap Sunny jahil.

***

Yuri meringkuk menghadap dinding di ranjangnya sambil memeriksa ponsel Yul. Sampai saat ini ia masih penasaran dimana Yul dan yang lainnya berada. Apa mungkin Yul berada di masa depan menggantikan posisi dirinya seperti yang ia lakukan saat ini. Menggantikan posisi Yul. Senemarnya ia tidak sepenuhnya menggantikan posisi Yul. Ia bahkan tidak melakukan aktifitas seperti yang Yul lakukan. Ia tidak pergi kuliah ataupun bergaul bersama teman – teman Yul. Yang ia lakukan hanya bermain dan berjalan – jalan.

Sebenarnya Yuna mengajaknya untuk ikut kuliah lapangan Profesor Seo bersamanya. Namun ia dengan tegas menolaknya. Siapa yang mau mengikuti kuliah membosankan seperti itu. Bahkan Sunny yang selama ini setia menemani Yuna menyusup ke kelas Profesor Seo, menolak untuk ikut.

Untuk mencari tahu tentang Yul lebih banyak lagi, ia memeriksa ponsel Yul. Bukannya bermaksud tidak sopan dengan memeriksa barang – barang orang lain. Ia bahkan sudah memakai semua barang milik Yul. Ia hanya bermaksud mencari tahu seperti apa Yul sebenarnya. Selama ini orang – orang selalu menatapnya dengan tatapan aneh dan itu membuatnya tidak nyaman. Pasti ada sesuatu tentang Yul yang tidak ia ketahui.

Dari apa yang Yuri dapatkan setelah memeriksa ponsel Yul selama beberapa menit, ia hanya menyimpulkan kalau Yul adalah tukang gosip. Yul hanya membicarakan tentang orang lain dengan teman – temannya lalu menjelek – jelekkan mereka. Selain itu Yul juga kejam. Ia membenci beberapa orang mahasiswa dan merencanakan untuk mengganggu mereka bersama dengan teman – temannya. Sepertinya setiap hari Yul selalu mengganggu anak lain. Pantas saja Jessica begitu membencinya.

Terdengar suara pintu terbuka di susul oleh langkah kaki mendekat. Ini sudah larut malam. Sunny begitu sibuk pacaran hingga lupa waktu dan pulang larut malam seperti ini.

“Aku pikir kau tidak akan pulang.” Yuri menyindir Sunny yang baru masuk tanpa melihatnya sedikitpun. Ia tetap menghadap tembok dan sibuk memeriksa ponsel Yul.

Sunny tidak menjawab. Ia malah duduk di sisi ranjang Yuri sehingga membuat bunyi berdecit. Kemudian Yuri merasakan gadis itu berbaring di ranjangnya. Tunggu dulu! Aroma khas ini, ia mengenal aroma ini. Gadis itu bukan Sunny.

Tadinya Yuri ingin duduk untuk memastikan kalau dugaannya benar. Namun sebuah tangan menyentuh bahunya dan memaksanya untuk kembali berbaring.

“Sicca?” Yuri mencoba memutar kepalanya ke belakang dan hanya bisa rambut pirang yang bersembunyi di balik punggungnya. “Aku kira kau Sunny.”

“Sunny pergi bersama Yuna.” Terdengar suara lirih dari belakangnya. “Kau lupa?”

“Sunny pergi bersama Yuna? Katanya dia tidak pergi.”

“Yuna menyeretnya.” Jessica menjawab dengan nada dingin.

“Ah..” Yuri mengerti bagaimana perasaan Sunny saat ini. Ia sangat mengenal Yuna. Beruntung Sunny yang Yuna seret, bukan dirinya. “Lalu apa yang kau lakukan disini?”

“Aku tidak berani tidur sendirian.” Jessica semakin membenamkan wajahnya di punggung Yuri membuat gadis itu menelan ludah. “Bolehkan aku tidur disini?”

“Kau bisa memakai ranjang Sunny.”

“Aku tidak boleh tidur disini?” Jessica menyandarkan wajahnya di bahu Yuri.

Untuk sesaat Yuri hanya diam dan menatap sepreinya. Jessica berhasil membuatnya salah tingkah.

“Aku tidak boleh tidur disini?” Jessica mengulangi pertanyaannya karena Yuri tidak menjawab.

Jessica begitu dekat dengannya hingga Yuri bisa merasakan nafas Jessica menyapu lehernya.

“Bu.. Bukan begitu.” Jawab Yuri gugup. Ia sendiri tidak tahu mengapa berubah gugup seperti ini saat Jessica begitu dekat dengannya?

“Berarti aku boleh tidur disini.” Jessica kembali berbaring. Ia memindahkan tangannya perlahan dari bahu Yuri menuju pinggang. Yuri semakin tercekat dan tidak bisa bernafas. Jessica semakin mengeratkan pelukannya. “Yuri! Aku menyukaimu.”

“Mwo?” Tidak ada suara yang keluar dari bibir Yuri. Apa yang baru saja Jessica katakan? Apa dia bercanda?

“Kau orang pertama yang bersikap baik padaku.” Jessica menarik nafas dalam – dalam. “Kau orang pertama yang memperhatikanku.”

Yuri bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat. Semoga saja Jessica tidak mendengarnya. Ia masih tidak mengerti mengapa ia jadi seperti ini. Yuna sering memeluknya. Yuna sering tidur bersamanya. Tapi dia tidak pernah merasakan yang seperti ini. Sebuah perasaan aneh yang membuatnya tidak ingin Jessica melepaskan pelukannya.

“Sicca…” Yuri berusaha keras untuk bicara dengan Jessica meskipun membuat suaranya terdengar aneh. “Tentu saja kau boleh tidur disini. Hanya saja ranjang ini terlalu sempit untuk kita berdua. Kau bisa pindah ke tempat Sunny agar bisa lebih leluasa.”

Hening. Tidak ada respon dari Jessica.

“Sicca?” Yuri memanggil Jessica karena gadis itu tidak menjawabnya. Namun tetap saja tidak ada jawaban. “Bagus! Kau sudah tidur.”

-TBC-

Sedikit ucapan selamat tahun baru dari Sasya ^_<

Mungkin, jika FF ini sudah publish, sasya lagi ada di tanah antah berantah.. hahaha…

01.01.13 00.00

“that’s what New Year’s is all about getting another chance , a chance to forgive, to do better, to do more, to give more, to love more.”

“The water from the vessel washes away the past, leaving room for a fresh, new start.”

daaannn.. jeng-jeeeengg… paporit dari saya sendiri adalaaahh…

“Today I will smile and let others in on the secret” 😉

Iklan

26 thoughts on “TIME TRAVEL Part 5 (YulSic)”

  1. semakin menarik….
    itu pernyataan sicca serius atau mimpi ya????
    penasaran ma selanjutnya, mereka bisa kembali ke masa depan atau terjebak dengan masa lalu…..
    tunggu next chaptnya z deh…

  2. happy new year!!!! *tiup terompet*
    Hahaha senangnya liat Yulsic yg udh mulai deket.. Yul jgn deg2an gtu dong nyantai aja..
    Yuna juga lucu bgt haha 😀
    Tp ada satu hal yg masih mengganjal.. Thor dimana kau sembunyikan Yul yg asli?? penasaran..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s