Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 6 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^


 Part 6

Rasa kaku yang menyelimuti pundak kanannya membuat Yuri terbangun. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati Jessica berbaring di bahunya dengan memeluk erat pinggangnya. Tunggu dulu! Jessica? Jangan katakan kalau mereka tertidur semalaman dalam posisi seperti itu.

“Sicca!” Yuri mencoba membangunkan gadis itu. Bahunya sudah mati rasa. Namun gadis itu masih saja tertidur.

Yuri mengguncang tubuh Jessica agar gadis itu bangun. “Sicca!”

Tetap tidak ada respon. Jessica masih saja tertidur dengan damainya.

“Mungkin sebentar lagi. Aku akan membiarkannya tidur sebentar lagi.” Yuri membatin.

Dua jam berlalu. Jessica belum juga membuka matanya. Ia bahkan sedikitpun tidak bergerak. Ia tidur seperti orang mati. Seandainya saja Yuri tidak merasakan nafasnya, Yuri pasti mengira kalau gadis itu sudah mati.

“Sicca! Kau sudah melewatkan kuliahmu pagi ini. Apa kau mau membolos seharian?” Yuri mencoba membangunkan Jessica lagi. Dan usahanya kali ini sia – sia. Sama seperti sebelumnya.

“Aah.. Sampai kapan kau akan tidur?” Yuri menggerutu. Ia sudah tidak bisa merasakan bahunya lagi. Mungkin setelah ini ia harus mengamputasi bahunya.

“Mengapa kau tidak mau bangun?” Ujar Yuri putus asa. Kau mimpi indah? Tentu saja kau mimpi indah karena kau tidur begitu nyenyak.”

Sebenarnya Yuri bisa menyingkirkan tubuh Jessica dan membiarkannya tidur sendirian. Namun Yuri tidak ingin. Ia masih ingin berlama – lama bersama dengan Jessica yang tertidur di sisinya seperti ini. Meskipun bahunya terasa sakit, ia nyaman dengan keadaan ini. Bukankah itu aneh? Apakah ia menyukai Jessica?

Yuri membelai wajah Jessica dengan lembut. Ia bisa merasakan kulit yang begitu halus saat tangannya menyusuri wajah itu. Matanya, hidungnya, pipinya, dagunya, bibirnya. Begitu cantik. Yuri menelan ludah. Jantungnya berpacu semakin cepat menimbulkan bunyi dug dug yang berisik.

Jessica bergerak sedikit. Sebentar lagi ia akan bangun. Sepertinya jantung Yuri terlalu berisik sehingga membuat gadis itu terbangun.

Mata Jessica perlahan terbuka. Yuri berusaha mengatur nafas dan mengendalikan diri untuk menyembunyikan suara detak jantungnya yang mendentum begitu hebohnya.

“Apa yang…” Jessica bangun dan langsung duduk saat kaget mendapati dirinya begitu erat memeluk Yuri. Ia nyaris saja jatuh dari ranjang seandainya tangan Yuri tidak menyambar pinggangnya dan menariknya mendekat.

Jessica menggenggam erat kerah baju Yuri. Mata mereka bertemu. Wajah Yuri begitu dekat dengan wajahnya. Jessica bisa merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Perasaan ini. Ia sadar kalau ia tidak boleh memiliki perasaan seperti ini terhadap Yuri. Suatu saat Yuri akan kembali ke masa depan dan meninggalkan dirinya sendirian disini. Bagaimanapun juga, saat terjadi perpisahan, yang paling merasakan sakit adalah orang yang ditinggalkan.

Yuri mengeratkan pegangannya di pinggang Jessica membuat tubuh Jessica semakin dekat dengannya. Jessica tahu apa yang akan Yuri lakukan selanjutnya. Ini tidak boleh terjadi. Ia tidak akan rela melepaskan Yuri selamanya jika sampai hal itu terjadi.

BRAK! Tubuh Jessica pada akhirnya terjatuh dengan mulus di lantai setelah ia mendorong Yuri menjauh. “YA! Apa yang kau lakukan?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu.” Yuri tertawa kecil. Kemudian duduk di sisi ranjang dengan menyilangkan kakinya sambil menatap Jessica yang masih terduduk di lantai. “Apa yang kau lakukan di lantai? Mengepel?”

“Aish..” Jessica berdiri dan menepuk pakaiannya yang tidak kotor. “Aku tidak akan jatuh jika kau tidak menarikku mendekat seperti itu. Memangnya apa yang akan kau lakukan? Menciumku?”

“Mwo? Menciummu?” Yuri tertawa keras sambil menepuk – nepuk kedua tangannya. “Sebenarnya apa yang kau mimpikan tadi? Baru bangun sudah berpikiran mesum. Aku menarikmu mendekat supaya kau tidak jatuh. Mengapa kau berpikiran yang bukan – bukan?”

“Jam berapa sekarang?” Jessica mengalihkan pembicaraan.

Yuri melirik jam kecil di atas meja. “Jam sembilan.”

“Mwo? Mengapa kau tidak membangunkanku?”

“Aku sudah mencoba membangunkanmu.” Yuri tertawa. Ia tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah Jessica yang berubah dari malu menjadi panik. Ia tidak tahu kalau Jessica punya begitu banyak ekspresi. “Ternyata kebiasaan tidurmu seperti itu.. Lucu sekali.”

“Seperti apa? Memangnya apa yang aku lakukan?”

“Mendengkur.. Mengeluarkan air liur.. Bahkan bergumam.”

“Aku melakukan itu?” Mata Jessica membesar.

“Tidak, aku hanya bercanda.” Yuri terkekeh setelah berhasil menggoda Jessica. “Tapi kau benar – benar sulit dibangunkan.”

Wajah Jessica merona merah. Meskipun begitu ia berusaha agar tampak dingin seperti biasanya. Dan itu membuatnya terlihat lucu. “Aku akan kembali ke kamarku.”

“Aku akan mengantarmu.” Yuri bangkit dari tempat tidur dan bersiap mengantar Jessica.

“Aku bisa pergi sendiri. Kamarku hanya satu lantai di bawah.”

“Aku akan mengantarmu!” Yuri bersikeras.

“Terserah.”

Jessica berjalan keluar dari kamar Yuri. Ia membiarkan Yuri mengikutinya dari belakang. Gadis keras kepala itu tidak akan peduli Jessica menolak untuk diantar. Yuri hanya mengikuti keinginannya saja.

“Kita kemana hari ini?” Yuri melingkarkan lengannya di bahu Jessica.

“Aku lelah jalan – jalan. Kau pergi sendiri saja.” Jawab Jessica dingin. “Aku akan membaca buku di taman.”

“Di taman?” Yuri membelalakkan matanya. “Mengapa harus di taman? Tempat itu mengerikan! Kau bisa membaca buku di perpustakaan atau di kamarmu. Kau juga boleh membaca buku di kamarku.”

“Aku lebih suka di taman.”

“Ya! Kau monster mengerikan. Tidak ada yang berani datang kesana. Dan kau malah menyukai tempat itu.”

“Aku tidak memaksamu untuk ikut.”

Jessica memang tidak ingin Yuri ikut. Ia sengaja menyebut taman karena ia tahu Yuri takut dengan tempat itu. Ia hanya ingin mengendalikan perasaannya. Ia tidak ingin terlalu jauh terjerumus pada perasaannya. Ia tahu ia akan merasa sakit nantinya. Karena itu ia memutuskan untuk mengakhiri ini semua sebelum terlambat.

“Tapi aku ingin ikut.” Yuri tetap keras kepala.

“Aku yang tidak ingin kau ikut.”

“Wae?” Yuri berdiri di depan Jessica dan berjalan mundur. Ia tersenyum jahil. “Kau takut dekat – dekat denganku? Kau takut akan terpesona padaku?”

“Bagaimana kau tahu?” Jessica keceplosan. Ia langsung membungkam mulutnya rapat – rapat.

“Kau mengatakannya semalam padaku. Kalau kau menyukaiku.” Yuri kembali berjalan di samping Jessica. “Kau tidak ingat?”

“Tidak! Aku tidak ingat.”

Tentu saja Jessica ingat. Ia sepenuhnya sadar saat mengatakannya. Hanya saja ia tidak ingin mengakuinya. Itu terlalu memalukan.

“Kau tidak ingat? Aku sudah merasa ada yang aneh denganmu semalam. Ternyata kau hanya mengigau. Pantas saja kau langsung tertidur beberapa detik kemudian.”

Sebenarnya Jessica hanya pura – pura tidur. Jika ia menjawab saat itu, Yuri akan menyuruhnya pindah ke ranjang Sunny. Ia tidak mau itu terjadi. Ia hanya ingin berada di dekat Yuri.

“Nah, kita sudah sampai.” Yuri menghentikan langkahnya.

Jessica melihat sekeliling. Ia tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan pintu kamarnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya.

“Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Lalu kita pergi jalan – jalan.” Yuri mengacak – acak rambut Jessica kemudian berlalu pergi. Ia bahkan tidak menunggu Jessica memberikan jawaban. Ia selalu memutuskan apapun sendiri.

***

Sebelum Yuri kembali, Jessica buru – buru keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Yuri. Mungkin untuk sementara waktu ia tidak perlu bertemu dengan Yuri. Jessica mengutuk dirinya sendiri yang datang ke kamar Yuri malam – malam dan tidur disana. Masalah semakin besar sejak kejadian itu. Harusnya ia bisa mengendalikan rasa takutnya dan tidur sendiri di kamar. Rasa takut tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang akan ia terima nantinya.

Jessica melangkahkan kakinya menuju taman. Yuri tidak akan datang mencarinya ke tempat ini. Gadis itu terlalu takut untuk datang ke taman. Sebenarnya taman itu tidak terlalu mengerikan. Tidak mengerikan malah. Taman itu tidak ada bedanya dengan taman yang lain. Sebuah kolam dengan bunga teratai di atasnya, udara yang sejuk, pepohonan yang rindang, tidak ada yang mengerikan. Mungkin taman ini berubah setelah seratus tahun tidak terawat. Bagaimanapun juga seratus tahun adalah waktu yang sangat lama.

Ia duduk di sebuah bangku taman yang terletak di bawah pohon besar. Jessica selalu memilih tempat itu. Dari tempat itu ia bisa melihat kolam dengan pemandangan yang paling bagus. Tidak ada tempat yang lebih bagu dari sini.

Bayangan Yuri langsung muncul saat Jessica membuka buku dan mulai membaca. Yuri seolah menari – nari di kepalanya dan tidak mau pergi. Ia selalu memikirkan gadis itu. Bayangan itu tidak mau pergi dari pikirannya.

“Sicca! Sudah kuduga kau disini.” Terdengar sebuah suara di kepala Jessica. Sekarang bahkan bukan hanya bayangannya saja yang muncul, tapi juga suaranya.

“Tidak! Ini tidak benar. Irona! Irona!” Jessica menepuk pipinya sendiri untuk membuatnya sadar dan kembali kedunia nyata.

Yuri duduk di sebelahnya sambil tertawa. Bayangan gadis itu semakin jelas saja. “Mengapa kau memukuli dirimu sendiri?”

“Yuri?” Jessica begitu terpesona dengan wajah itu. Mengapa bayangannya begitu jelas? Seolah ini nyata.

“Tentu saja aku Yuri. Memangnya kau pikir siapa? Yul?” Yuri terkekeh kemudian menyodok dahi Jessica dengan telunjuknya.

“Yuri!” Jessica tersadar. Gadis yang berada di hadapannya benar – benar Yuri. Apa yang ia lakukan disini? Bukankah ia takut pada taman?

“Bukankah aku bilang akan menjemputmu? Mengapa kau pergi sendiri?” Yuri meletakkan sebuah bungkusan di sebelah Jessica. “Kau belum sarapan kan? Aku membawakanmu sarapan.”

“Mengapa kau kemari? Kau bilang taman ini menyeramkan.” Jessica tidak melepaskan pandangannya dari Yuri. Bisakah ia terus menghindari gadis ini? Bisakah ia menyangkal perasaannya sendiri?

“Kau bilang kau akan datang kesini. Makanya aku mencarimu kemari.” Yuri melihat sekeliling memperhatikan suasana taman. “Mungkin kau benar. Taman ini hanya kurang terawat saja makanya terlihat mengerikan di masa depan. Lagipula taman ini berumur lebih dari seratus tahun. Tempat setua itu selalu menyeramkan.”

“Tidak ada yang menyeramkan disini.” Jessica kembali menatap bukunya. Hanya berpura – pura membaca. Lebih baik daripada ia terus menatap wajah Yuri.

“Aku tidak akan menanggapnya menyeramkan jika taman ini hanya tidak terpelihara.” Yuri tersenyum pada Jessica. Senyuman yang benar – benar menawan. “Ada sebuah cerita mengerikan di balik itu semua.”

“Kau mencoba menakut – nakutiku?” Jessica mendengus. Ia mencoba tidak berpaling dari bukunya.

“Aku tidak berbohong. Ini benar – benar terjadi.” Yuri memutar tubuhnya dan duduk bersila menghadap Jessica. “Kisah ini terjadi bertahun – tahun yang lalu. Maksudku beberapa tahun dari sekarang.”

“Kau bahkan tidak bisa memutuskan waktunya.”

“Aku dari masa depan! Kau ingat?”

“Tentu saja aku ingat.” Jessica berkata dalam pikirannya. “Karena itulah ini menjadi masalah besar.”

“Ada dua orang saudara.” Yuri melanjutkan ceritanya. “Awalnya mereka sangat dekat dan saling menyayangi. Kemudian terjadi sesuatu. Mereka bertengkar hebat. Si adik marah besar pada si kakak kemudian membenamkan kakaknya ke dalam kolam. Saat itu musim dingin. Si kakak yang masuk ke dalam kolam langsung, membeku dan terkurung di bawah lapisan es. Menurut orang – orang, sampai saat ini.. Ehm maksudku pada masaku, tubuhnya masih berada di sana. Menunggu si adik membebaskannya. Saat malam tiba, orang – orang akan mendengar dia merintih. Dingiin… Dingiin.. Lalu saat orang itu mendekati kolam untuk mencari sumber suara, si kakak akan langsung menarik tubuh orang itu untuk menemaninya di kolam.”

“Lalu siapa yang menceritakan itu jika semuanya ikut masuk ke dalam kolam?” Sela Jessica dan berhasil meruntuhkan cerita Yuri.

“Ya! Itu hanya cerita.” Yuri tidak terima Jessica merusak ceritanya yang begitu sempurna. Ia kemudian menyodok kepala Jessica dengan tinjunya.

“Aish!” Jessica mengusap kepalanya yang tidak sakit. “Kau benar! Itu hanya cerita. Lalu mengapa kau ketakutan?”

“Aku tidak ketakutan!” Kilah Yuri.

“Araso.. Araso..” Jessica mencibir. Kemudian ia bergumam pelan. “Kau langsung pucat saat aku menyebut kata taman.”

“Apa yang kau katakan barusan?” Yuri mendekatkan telinganya pada Jessica karena ia tidak bisa mendengarnya.

“Kau cantik.” Jawab Jessica asal.

“Jinjja?” Yuri meletakkan tangannya di bawah dagu membentuk bunga mekar. “Sebenarnya aku sudah tahu itu. Aku memang terlahir cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari Yuna.”

“Apa yang kau lakukan disini?” Tiga orang gadis berdiri bersidekap tepat di depan mereka berdua. Mereka tidak menyadari kedatangan ketiga orang itu karena asik mengobrol.

“Bersama si aneh ini?” Kim menatap Jessica dengan jijik.

“Tadinya aku mendengar gosip aneh tentang dirimu. Anak – anak lain mengatakan kalau kau sering terlihat bersama Jessica. Awalnya aku tidak percaya meskipun kau tidak lagi bermain bersama kami akhir – akhir ini. Kau juga tidak menjawab telepon dan pesan kami. Tapi setelah melihatnya sendiri.. Ini benar – benar mengerikan!” Mona berjalan mendekati Jessica dan menariknya mendekat. “Apa yang kau lakukan pada Yul hingga dia berubah seperti ini?”

“Tunggu dulu!” Yuri melepaskan Jessica dari tangan Mona kemudian menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya. “Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua.”

“Ch.. Tidak ada hubungan apanya?” Kim melotot pada Jessica dari balik bahu Yuri. “Jelas – jelas kalian bersama.”

“Apa ini? Makanan?” Shona mengambil bungkusan yang tergeletak di atas bangku taman. “Kalian datang ke taman dengan membawa bekal? Kalian pikir sedang piknik? Kampungan sekali!”

“Sicca, pergilah! Aku akan menghadapi orang – orang ini!” Yuri berbisik memberi intruksi pada Jessica. Namun Jessica menggeleng menolak instruksi tersebut.

“Sicca?” Kim tertawa menghina. Mona dan Shona ikut tertawa bersamanya. “Sicca baby?”

“Aku rasa makanan ini akan segera basi. Sebaiknya kau segera menghabiskannya!” Shona membuka bungkusan itu dan siap menuangkan isinya ke atas kepala Jessica.

Yul segera menghentikannya dengan menahan tangan Shona. “Jangan ganggu dia!”

“Wooooo….!” Kim bertepuk tangan. “Yul membela Sicca babynya!! Menarik!”

“Bukankah mereka serasi?” Mona memandang keduanya dengan tatapan menghina. “Si penghianat dan si pirang aneh.”

“Aku mohon! Jangan ganggu dia!” Yuri menurunkan nada suaranya berharap ketiga orang itu akan melepaskan mereka.

Jessica memegang lengan Yuri dengan erat.

“Kami tidak akan mengganggunya. Dengan satu Syarat.” Shona mengangkat kotak makanan yang sudah terbuka ke depan wajah Yuri. “Kau harus menghabiskan semua makanan ini.”

“Baiklah! Aku setuju.” Yuri mengangkat tangannya siap meraih kotak yang Shona sodorkan padanya. Namun belum sempat ia menyentuh kotak itu, Shona sudah membalikkan kotak itu di atas kepalanya sehingga semua isinya tumpah dan mengotori wajah Yuri.

Kim, Shona, dan Mona tertawa puas melihat Yuri hanya diam mematung saat makanan itu memenuhi wajahnya. Ia tidak melawan. Ia tidak marah.

“Yul, kau menyedihkan!” Shona menyunggingkan bibirnya. “Ayo kita pergi! Mereka membosankan.”

Shona berjalan meninggalkan Yuri dan Jessica. Kim dan Mona mengikutinya dari belakang. Sepertinya setelah Yul menghilang, posisi ketua diambil alih olehnya.

“Apa yang sudah mereka lakukan padamu?” Jessica membersihkan wajah Yuri dengan menggunakan ujung lengan bajunya. Yuri bisa melihat air mata Jessica yang mulai tumpah. Entah sejak kapan gadis itu menangis. Mungkin ia begitu ketakutan dengan ketiga orang itu sehingga menangis.

Yuri memegang bahu Jessica kemudian menghapus airmata gadis itu dengan jemarinya. “Kau menangis? Apa mereka sempat menyakitimu tadi? Dimana yang sakit?”

“Aku tidak sakit.” Jessica terisak sambil menundukkan kepalanya. “Aku menangis karena aku marah.”

“Mereka membuatmu marah?” Yuri menunduk agar bisa melihat wajah Jessica lebih jelas.

“Aku marah padamu.” Jessica mendorong Yuri menjauh. “Pabo!”

“Nega?” Yuri menunjuk hidungnya sendiri.

“Kau yang mengatakan padaku untuk melawan jika ada yang menggangguku. Lalu mengapa kau diam saja saat ada yang mengganggumu?” Jessica berteriak sambil tetap terisak. Air matanya semakin deras mengalir. “Terlebih mereka mengganggumu karena aku.”

“Sicca..” Yuri mendekati Jessica kemudian menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. “Aku baik – baik saja. Ini bukan apa – apa bagiku. Yang penting kau tidak terluka.”

Mata itu. Jessica menatap lurus ke mata Yuri. Mata yang penuh dengan ketulusan. Ia ingin terus melihat mata itu. Meskipun suatu saat ia tidak bisa lagi melihat mata itu, saat ini ia ingin melihat mata itu sebanyak yang ia inginkan.

“Aku tidak akan menyangkal lagi.” Jessica bergumam lirih.

“Ne?” Yuri terlihat bingung. Ia tidak mengerti dengan maksud Jessica.

Jessica tersenyum lebar. “I’ll follow my heart.”

***

“Kapan kau membereskan barang – barangku?” Sunny menatap sebuah tas ransel di depannya yang berisi barang miliknya. Ia tidak percaya Yuna begitu gigih mengajaknya pergi. Memang Yuna berhasil. Tapi ia masih belum percaya kalau ada orang di dunia ini yang begitu gigihnya.

Yuna menatap ke luar jendela bus sambil tersenyum cerah. Hari ini ia merasa sangat senang. Seharian ia akan selalu melihat Profesor Seo. Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya merona merah.

“YA! Apa yang kau pikirkan? Mengapa kau tidak menjawab?” Sunny mengguncang tubuh Yuna membuat gadis itu terombang – ambing.

“Ne?” Yuna menatap Sunny. Senyuman belum menghilang dari wajahnya.

“Kapan kau mengepak barang – barangku?” Sunny mengulangi pertanyaannya.

“Wae? Joha?” Senyuman Yuna semakin melebar membuat kedua matanya menghilang.

“Yah, kau begitu gigih. Kau bahkan menipuku dengan mengatakan akan mengajak Sooyoung.”

“Mengapa aku harus mengajaknya? Aku tidak mengenalnya.” Ujar Yuna santai.

Dia benar. Sunny yang terlalu bodoh dan percaya begitu saja kalau Yuna mengajak Sooyoung sehingga bimbang setengah mati ia akan ikut atau tidak. Meskipun keputusan akhirnya ia tidak ikut pergi dengan Yuna, ia tetap pergi karena Yuna memaksanya. Gadis itu bahkan menyeretnya masuk ke dalam bis.

“Masalahnya…” Sunny menatap Yuna dengan ekspresi akan menangis. “Mengapa kau melakukan ini padaku? Mengapa kau tidak memaksa Yuri saja? Mengapa harus aku?”

“Entahlah..” Yuna tidak begitu peduli pada Sunny. Sekarang ia sibuk mencuri pandang dengan Profesor Seo yang duduk di deretan depan. Tepat di depan tempatnya duduk saat ini. Meskipun hanya bisa melihat punggungnya sedikit, ia sudah senang.

“Aish! Kau menyebalkan!” Sunny sekali lagi mengguncang – guncang tubuh Yuna dengan penuh kemarahan. Ia tidak percaya Yuna tega melakukan ini padanya. Memangnya apa salahnya pada Yuna? Mengapa Yuna begitu kejam?

Pin kodok berwarna hijau yang dipakai Yuna tarjatuh dan terguling di lantai bis saking kuatnya guncangan Sunny.

“Omo! Kau menjatuhkan sesuatu!” Sunny melepaskan Yuna kemudian mencari ke mana arah jatuhnya benda itu.

“Kau yang menjatuhkannya, bukan aku!” Yuna memukul kepala Sunny pelan.

“Bagaimana ini?” Sunny terlihat merasa bersalah pada Yuna. “Bukankah kau sangat menyukai pin itu? Aku malah menghilangkannya.”

“Gwaencana..” Meskipun Yuna mengatakan tidak apa – apa tapi ia terlihat kecewa.

“Bagaimana kalau aku menggantinya dengan milikku?” Sunny melepaskan pin yang sama dan memberikannya pada Yuna.

“Jangan! Bukankah kau juga menyukainya? Makanya kau memintaku untuk membelikannya untukmu saat melihat aku dan Yuri memakainya.” Yuna mengambil pin tersebut dari tangan Sunny, lalu memakaikannya kembali pada Sunny.

“Ehm..” Seseorang di bangku depan berdehem.

Yuna melihat arah datangnya suara dan matanya langsung membesar saat melihat Profesor Seo mengulurkan sebuah pin kodok berwarna hijau.

“Ini milikmu?” Tanyanya sambil tersenyum.

“Gomawo..” Yuna meraih pin itu dengan malu – malu dari tangan Profesor Seo.

“Lain kali hati – hati. Jangan sampai kau menghilangkannya.” Profesor Seo memberikan senyumannya yang paling manis sebelum kembali duduk di kursinya.

“Dia benar – benar tampan.” Yuna terhipnotis oleh Profesor Seo yang tersenyum padanya. Kebahagian tampak jelas di sorot matanya. Jika ia mati hari ini, ia tidak akan punya penyesalan apapun.

Sementara itu di bangku depan, Profesor Seo mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah benda persegi sebesar pulpen. Saat ia menggenggamnya, sebuah layar virtual muncul. Sangat mirip dengan ponsel Sunny yang jatuh terlindas mobil. Hanya saja warnanya berbeda. Milik Sunny berwarna hitam sedangkan milik Profesor Seo berwarna hijau.

Profesor Seo melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Kemudian ia mengetik sesuatu di ponsel itu. Sebuah pesan.

Mereka ada tiga? Mengapa kau tidak memberitahuku? Kau bilang hanya satu orang.

Setengah jam kemudian, Profesor Seo menerima pesan balasannya.

Maafkan aku tidak memberitahukanmu sebelumnya. Aku hanya ingin memastikan dia memakai pin itu. Aku janji tidak akan ada masalah dengan hal ini. Semuanya akan baik – baik saja. Kau tidak perlu mencemaskannya.

Bagaimana dengan rencana kita? Apa dia sudah menunjukkan tanda – tandanya?

Profesor Seo segera membalas pesan itu.

Entahlah…

Aku tidak terlalu ahli dalam hal ini.

Cukup lama Profesor Seo menunggu sebelum pesan balasan tiba.

It’s okay.

Aku percaya padamu.

Kabari aku jika misi kita berhasil agar aku bisa segera memulangkan mereka. Dan jangan bertindak terlalu jauh. Aku takut dia akan terluka.

Maaf aku sudah merepotkanmu, dan juga terima kasih sudah mau membantu.

Profesor Seo membalas pesan itu.

Aku senang membantumu.

-TBC-

 

Iklan

26 thoughts on “TIME TRAVEL Part 6 (YulSic)”

  1. kasian sica ya menyankal perasaan nya hanya tkt skt entar nya tp sekarang mau jujur mengakui ceileh bahasa gue..
    Eh profesor seo itu siapa?mkn penasaran wae. 🙂

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s