Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 7 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

Part 7

“Apa yang kau baca?” Yuri duduk di ranjang sebelah Jessica kemudian memiringkan kepalanya untuk membaca judul buku yang sedang dibaca oleh gadis itu. “Novel? Detektif?”

“Memangnya kenapa?” Ujar Jessica dingin.

Sebenarnya ia tidak benar – benar membaca. Ia hanya ingin mengalihkan pikirannya dari Yuri. Memang ia sudah memutuskan untuk menyerah dan mengikuti kata hatinya. Hanya saja Yuri terlihat begitu menggoda. Ia tidak ingin Yuri menganggapnya sebagai gadis agresif jika ia terlalu menuruti kata hatinya. Lagipula ia belum mengetahui bagaimana perasaan Yuri terhadapnya. Ia belum tahu apa Yuri memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

“Hari ini kau rajin sekali membaca buku.” Yuri terkekeh. “Seharian kau hanya membaca buku. Biasanya setiap ada waktu luang kau akan tidur. Tapi ini membaca? Ini bukan gayamu.”

“Aku hanya ingin membaca.” Jessica berkilah. “Apa tidak boleh? Kau tidak suka?”

“Tidak juga.” Yuri tersenyum menatap Jessica. “Aku suka melihat apapun yang kau lakukan.”

Apa – apaan ini? Apa ia tidak tahu kalau Jessica sedang mencoba untuk mengendalikan diri? Tentu saja dia tidak tahu. Yuri berhasil meruntuhkan pertahanannya dalam sekejap.

“Kalau begitu aku akan tidur saja.” Jessica menutup bukunya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Yuri.

“Baiklah, kalu begitu aku…”

“Aku akan membunuhmu jika kau berani pergi.” Ancam Jessica sadis. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Yuri dan memeluknya dengan erat. Ia benar – benar tidak akan membiarkan Yuri pergi.

Yuri tidak tinggal diam. Ia meletakkan tangannya di punggung Jessica dan menarik gadis itu semakin mendekat. “Apa yang kau inginkan? Hug? Kiss?”

Jessica mendorong Yuri menjauh. Wajahnya berubah menjadi merah. “Aku.. Aku akan tidur sendiri. Kau boleh kembali ke kamarmu.”

“Ne?” Yuri mengangkat alisnya. Kemudian ia mengangguk dan berdiri. “Baiklah. Tapi.. Apa kau yakin? Kau berani sendiri?”

“Te.. Tentu saja.” Jessica menjadi gugup saat Yuri menatapnya sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku akan pergi. Sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Yuri membungkuk mencondongkan tubuhnya pada Jessica.

“Apa yang.. “Jessica tidak bisa melanjutkan kata – katanya saat melihat Yuri semakin mendekat. Mendadak apa yang ingin dikatakannya menghilang dari kepalanya.

Yuri semakin mendekatkan wajahnya mendekati wajah Jessica secara perlahan. Semakin dan semakin mendekat. Jessica menutup matanya saat Yuri hanya berjarak satu inchi darinya. Kemudian ia mendengar Yuri membisikkan sesuatu di telinganya. “Saranghae.”

Darah Jessica berdesir mendengar kata – kata itu. Ia masih menutup matanya menunggu apapun yang akan dilakukan Yuri selanjutnya. Beberapa saat Jessica menunggu dan tidak terjadi apa – apa. Ia malah mendengar suara pintu dibuka kemudian ditutup kembali. Saat ia membuka mata, Yuri sudah tidak ada.

“Dia pergi begitu saja?” Jessica mendengus kesal. “Setelah mengatakan itu?”

Jessica menutup wajahnya dengan bantal mencoba untuk tidur. Ia berguling beberapa kali. Namun tidak bisa tidur. Ini pertama kali dalam hidupnya ia tidak bisa tidur. Kata – kata yang dibisikkan Yuri terakhir kali selalu terngiang di telinganya. Wajah Yuri berputar – putar di kepalanya dan kata – kata itu terus saja muncul.

Saranghae..

Saranghae..

Saranghae..

“Aish.. Mengapa si bodoh itu malah pergi setelah menyatakan cintanya?” Jessica bangun dan duduk di ranjangnya. Ia melihat jam dinding. Jam tiga pagi. Tadinya ia ingin menerobos ke kamar Yuri dan menghajar gadis itu karena membuatnya tidak bisa tidur. Tapi jam tiga pagi? Apa yang akan dipikirkan Yuri jika ia datang ke kamarnya jam tiga pagi?

Baiklah, ia akan menunggu pagi tiba. Hanya beberapa jam lagi. Dan itu terasa sangat lama karena dirinya sama sekali tidak bisa tidur.

Setengah enam pagi. Jessica tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bisa – bisa ia mati kalau harus menunggu lagi. Masalah ini harus segera diselesaikan. Ia harus meminta penjelasan Yuri secepatnya.

Jessica mengetuk -lebih mirip seperti mendobrak- pintu kamar Yuri. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Yuri muncul dengan rambutnya yang masih berantakan.

“Kau tidur?” Jessica melihat rambut Yuri seolah tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa tidur dalam situasi seperti ini? Jangan – jangan kata – kata yang diucapkannya semalam hanya untuk menggoda Jessica. Ia tidak serius sama sekali saat mengatakannya. Dan Jessica malah tidak tidur karena memikirkan kata – kata yang tidak serius itu.

Yuri memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata Jessica. Kemudian ia mengernyit. “Kau tidak tidur?”

“Aish!” Jessica berbalik dengan kesal. Ia tidak percaya kalau ia berhasil dipermainkan oleh Yuri.

“Masuklah!” Yuri menahan tangan Jessica agar ia tidak pergi. Ia kemudian tersenyum membuat Jessica tidak bisa berkutik.

“Mengapa ia tersenyum semanis itu?” Batin Jessica. Sesaat kemudian ia sudah mendapati dirinya duduk di dalam kamar Yuri. Memangnya kapan dia masuk?

“Apa yang kau katakan sehingga datang ke kamarku pagi – pagi begini dan nyaris merusak pintu?” Yuri duduk di depan Jessica sambil memeluk sandaran kursi.

Jessica diam. Ia hanya menunduk takut. Takut kalau ia akan menyerang Yuri jika ia melihat wajah itu.

“Kau tidak bisa tidur? Kau ketakutan?” Yuri mencoba menebak. “Aish! Lalu mengapa kau menyuruhku pergi jika kau tidak berani tidur sendiri? Aku tidak keberatan menemanimu.”

Jessica masih diam.

“Kau mimpi buruk?” Yuri menunduk mencoba melihat ekspresi Jessica. “Atau ada yang mengganggumu?”

“Benar!” Jessica mengangkat kepalanya. Namun matanya masih menatap lantai. “Ada yang menggangguku.”

“Siapa? Aku akan menghajarnya!” Yuri mengepalkan tangannya dengan geram.

“Kau!” Jessica memberanikan diri menatap Yuri yang langsung memperlihatkan ekspresi kaget. Ia penasaran dengan ini semua dan ia harus menanyakannya. Ia harus menanyakannya sekarang atau ia akan mati penasaran. “Apa maksud kata – katamu semalam?”

“Kata – kataku?” Yuri mencoba mengingat. “Yang mana?”

“Yang kau bisikkan padaku sebelum kau pergi.” Jessica mencoba lebih sabar. Bagaimana mungkin Yuri melupakannya?

“Oh.. Itu.” Yuri tertawa. “Kau tidak mengerti maksudnya?”

Jessica mengangguk.

“Saranghae.” Yuri mengulangi kata itu sambil tersenyum. “Itu artinya aku mencintaimu.”

“Kau pikir aku bodoh?” Jessica mulai mengeluarkan tanduk karena sikap Yuri yang menganggapnya seperti orang bodoh. “Tentu saja aku tahu artinya. Yang aku tidak mengerti, mengapa kau mengatakan itu padaku? Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan ini.”

“Kau tidak tidur semalaman?” Mata Yuri membesar. “Maafkan aku. Aku tidak ada maksud apapun saat mengatakannya.”

“Tidak ada maksud apapun?” Jessica mendengus. Sekarang ia tidak hanya punya tanduk, tapi juga ekor.

“Benar! Tidak ada maksud apapun.” Ujar Yuri santai tidak menyadari HellSicca yang muncul di depannya. “Aku mengatakannya hanya karena aku mencintaimu. Itu saja.”

“Itu saja?”

“Ya. Itu saja.” Yuri masih bersikap seolah tidak terjadi apapun. “Aku mencintaimu, karena itu aku mengatakannya padamu. Lalu apa masalahnya?”

“Apa masalahnya?” Jessica terus mengulang kata – kata Yuri. Ia tidak percaya Yuri menganggap semua ini begitu mudah. “Aku tidak tidur semalaman karena memikirkan ini, dan kau menganggap seolah ini masalah sepele.”

“Aku memang tidak melihat ada masalah disini.” Yuri tersenyum. “Memangnya kau ingin aku melakukan apa? Tidak tidur semalaman sepertimu, dan kita berdua punya mata panda, lalu apa? Kau akan mencintaiku? Kau bahkan sudah mencintaiku meskipun aku tidak melakukan itu.”

“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku mencintaimu.”

“Sicca!” Yuri menggenggam kedua tangan Jessica dengan lembut. “Aku tidak bodoh sepertimu. Kau pikir aku tidak akan tahu kalau kau tidak mengatakannya?”

“A..apa?” Wajah Jessica merona merah. Ia bisa merasakan wajahnya mulai terasa panas.

“Kau tidak perlu mengatakannya. Aku sudah tahu.” Yuri berdiri dan menyingkirkan kursinya. Kemudian ia menunduk di hadapan Jessica dan menulis sesuatu di dahi gadis itu. “Tertulis jelas di dahimu. Sicca love Yuri.”

Jessica menarik Yuri dan merangkul leher gadis itu. Sedetik kemudian ia sudah mendapati dirinya mencium bibir Yuri.

***

“Yuri pasti menyukai ini.” Yuna mengangkat seekor ikan hidup yang sedang berenang di dalam kantong plastik transparan. “Aku tidak sabar melihat ekspresinya.”

“Sebenarnya saudara macam apa kau ini?” Sunny tergopoh – gopoh menaiki tangga asrama untuk menyamai langkah Yuna. “Dia selalu memberikan sesuatu yang kau sukai. Tapi kau malah membawakan sesuatu yang dibencinya setelah kau pulang jalan – jalan.”

Tidak terlihat anak – anak lain berseliweran di asrama itu. Ini masih terlalu pagi untuk keluar kamar. Lagipula siapa yang mau bangun pagi di akhir pekan?

“Ini kejutan!” Yuna berkilah. “Yuri menyukai kejutan.”

“Yah.. Terserah. Aku akan langsung tidur setelah ini.” Sunny terlihat benar – benar lelah. Seharian kemarin ia terus mengikuti Yuna yang berlarian kesana – kemari mengejar Profesor Seo. Meskipun Profesor Seo sedikitpun tidak mempedulikannya. Pria itu bahkan tidak menyadari keberadaannya.

Mereka berdua akhirnya sampai di depan pintu kamar Yuri. Dengan senyum mengembang Yuna membuka pintu sambil mengangkat ikan yang dipegangnya. “YUURIII!”

Yuna melepaskan ikan di tangannya sehingga jatuh kelantai dan kantungnya pecah. Yuna membatu. Ikan yang dijatuhkannya menggelepar di lantai dengan menyedihkan. Sunny maju untuk melihat apa yang terjadi sehingga Yuna terdiam seperti itu dan ia menemukan sebuah pemandangan menakjubkan. Yuri dan Jessica sedang berciuman.

“YAA! Apa yang sedang kalian lakukan?” Yuna berteriak karena dua orang itu tidak menyadari kehadirannya dan tetap melanjutkan aktifitas mereka.

“Yuna?” Yuri melepaskan Jessica. Keduanya keget mendengar suara Yuna berteriak. Kemudian Yuri melihat sesuatu yang menggelepar di lantai dan refleks melompat ke atas tempat tidur. Ia menggenggam kepala tempat tidur sekuat tenaga. Ketakutan. “Ya! Apa itu?”

Yuna menatap Jessica. “Bisa kau tinggalkan kami? Aku ingin bicara dengannya.”

Jessica mengangguk. Tanpa banyak bicara ia berjalan keluar dan menutup pintu. Sunny mengikutinya sambil tersenyum kecil. Sunny sudah menduga ini akan terjadi. Melihat bagaimana sikap mereka, bagaimana cara mereka saling memandang satu sama lain, ia tahu kalau ada sesuatu di antara mereka.

Yuna mendekati Yuri kemudian naik ke atas tempat tidur berdiri bersama Yuri. Ia memukul bahu Yuri dengan penuh kebencian. “Kau pikir apa yang kau lakukan?”

Yuri tetap fokus pada ikan yang sedang menggelepar di lantai. “Bisa kau singkirkan itu dulu?”

“Ya! Aku sedang bicara padamu.” Yuna memutar kepala Yuri agar menghadapnya. Ia menahan kepala Yuri dengan tangannya agar Yuri tetap fokus padanya. “Aku serius!”

“Yuna…” Yuri tersenyum menatap saudaranya itu. Ia tahu Yuna hanya mengkhawatirkan dirinya. “Kau tidak akan mengerti!”

“Kau gila!” Yuna melepaskan Yuri. Kemudian ia duduk bersila dengan wajah tertunduk. “Seberapa jauh hubungan kalian?”

Yuri duduk di sebelah Yuna kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. “Aku mencintainya.”

“Bagaimana dengannya?”

“Kau bisa melihatnya sendiri.” Yuri tersenyum. “Dia juga mencintaiku.”

“Secepat itukah?” Suara Yuna terdengar serak. “Kalian bahkan baru mengenal selama tiga minggu.”

“Waktu tidak menjadi masalah.”

“Waktu adalah masalah utama disini.” Yuna mengingatkan. Kemudian ia kembali menunduk. “Aku benar – benar menyukainya. Profesor Seo. Kau tahu bagaimana perasaanku saat pertama kali melihatnya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan aku merasa kalau aku pernah mengenalnya. Seolah kami bersama di kehidupan sebelumnya. Wajah itu, aku mengenalnya dengan baik. Aku langsung tahu kalau aku pernah sangat mencintainya di masa lalu dan aku akan melakukannya lagi di masa ini. Tapi aku tidak mau berharap banyak. Aku tahu kalau aku tidak mungkin bersama dengannya. Dia sudah menikah. Dan yang paling penting adalah aku akan kembali ke masa depan dan tidak pernah bertemu lagi dengannya. Pada akhirnya aku sendiri yang akan merasakan sakit. Karena itu aku memutuskan untuk tidak mendekatinya. Cukup hanya melihatnya dari jauh untuk mengobati kerinduanku. Semua itu aku lakukan agar perasaanku tidak semakin dalam padanya. Kau juga harus melakukan hal yang sama pada Jessica. Bukankah kau yang pertama kali mengingatkanku untuk tidak menjalin hubungan dengan orang di masa ini? Kau hanya menyakiti dirimu sendiri dengan membiarkan dirimu berhubungan dengannya. Kau lupa kalau kita akan kembali ke masa depan?”

Yuri diam. Ia sudah memikirkan semua ini. Ia sudah memikirkannya seharian. Akan tiba saatnya dimana ia harus memilih salah satu antara Yuna dan Jessica. Dan ia sudah memutuskan pilihannya itu. “Aku tidak akan kembali. Aku akui aku yang pertama kali mengatakan padamu untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun yang ada di masa ini. Tapi aku mendapati perasaanku pada Sicca sudah terlalu dalam. Aku tidak menyadari kapan perasaan ini berkembang. Lalu aku mendapati diriku sudah terjerumus terlalu jauh oleh perasaan ini. Aku tidak bisa meninggalkan Sicca. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku akan tinggal disini.”

“Mwo?” Yuna mendorong Yuri menjauh. “Meskipun itu artinya kau akan kehilangan aku?”

“Maafkan aku!” Yuri menunduk. Dan itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Yuna.

“Tega sekali kau!” Mata Yuna berkaca – kaca.

“Yuna..” Yuri menggenggam tangan Yuna dan gadis itu menepisnya. “Kita berdua bisa tinggal disini. Kita tidak harus kembali ke masa depan. Aku yakin kita akan baik – baik saja jika kita tetap berada disini. Tidak akan ada yang berubah. Kau dan aku akan tetap bersama.”

“Jika aku mengatakan kalau aku ingin kembali, apa kau masih tetap ingin tinggal disini?”

“Yuna, Maafkan aku!” Yuri menunduk. Ia tahu kesalahannya. Ia tahu tidak seharusnya ia membuang Yuna, saudaranya sendiri. Ia tidak bermaksud membuangnya. Ia hanya tidak punya pilihan lain. “Aku tidak mampu berpisah dengannya.”

“Dan kau mampu berpisah denganku?” Yuna berdiri. Ia berjalan ke balkon untuk mencari udara segar. Sebenarnya tidak masalah buatnya untuk tetap tinggal disini. Selagi bersama Yuri, dimanapun tidak menjadi masalah. Hanya saja, mengetahui Yuri lebih memilih Jessica dibandingkan dirinya membuatnya terluka. Selama bertahun – tahun mereka selalu bersama. Bahkan sejak lahir mereka selalu bersama. Ia tidak habis pikir Yuri lebih memilih Jessica yang baru dikenalnya selama tiga minggu.

***

Sunny terus menatap Jessica sambil tersenyum. Mengingat bagaimana Jessica membenci Yuri dulu, dan bagaimana ia mencium gadis itu tadi, membuat Sunny tidak bisa berhenti tersenyum. Sunny tidak tahu kapan tepatnya kedua orang itu saling jatuh cinta. Tapi saat ia bertemu dengan mereka berdua beberapa hari yang lalu, ia tahu kalau ada sesuatu di antara Jessica dan Yuri.

“What?” Jessica yang menyadari tatapan aneh Sunny merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia memperbaiki posisi duduknya dan merapikan rambutnya mencoba mencari tahu apa yang salah.

“Anio..” Sunny tidak melepaskan pandangannya dari Jessica.

“Lalu mengapa kau menatapku seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Aish! Kau menyebalkan!” Jessica menghempaskan dirinya di ranjang kemudian menyembunyikan tubuh mungilnya di balik selimut.

Sunny melirik jam di dinding. Sudah hampir setengah jam ia meninggalkan Yuri dan Yuna. Sepertinya mereka sudah selesai bicara. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu. “Sepertinya mereka sudah selesai. Aku akan mengecek mereka.”

Tidak ada jawaban dari Jessica. Sepertinya dia sudah tidur.

Satu lagi yang lucu dari hari ini adalah ekspresi Yuna. Saat mendapati saudaranya berciuman dengan Jessica, wajahnya seolah ia baru saja memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Tentu saja Yuna merasa cemburu. Selama ini Yuri hanya menjadi miliknya. Tidak mudah baginya untuk menyerahkan Yuri.

“Boleh aku masuk?” Sunny membuka pintu kamar Yuri sedikit dan menemukan Yuri sedang duduk bersila di atas ranjangnya.

Yuri tersenyum kecut melihat kedatangan Sunny.

“Mana Yuna?” Sunny membuka pintu lebih lebar lalu masuk ke dalam. Saat itu ia baru melihat sosok Yuna yang sedang berdiri di balkon menatap jauh ke depan. Kemudian matanya tertuju pada Yuri. “Kalian bertengkar?”

Begitu mendengar suara Sunny, Yuna berbalik dan datang mendekat. “Oh, Sunny. Kebetulan kau datang.”

Secara bergantian Sunny menatap Yuri dan Yuna. Dari raut wajah yang mereka tunjukkan, terlihat jelas kalau mereka baru saja bertengkar. Kali ini benar – benar bertengkar. Bukan pertengkaran kecil seperti sebelumnya.

“Beritahukan pada orang – orang di masa depan kalau aku dan Yuri tidak ingin kembali.” Lanjutnya kemudian.

“Mwo?” Mata Sunny membesar. Apa – apaan ini?

“Yuna!” Yuri menatap Yuna dengan pandangan bersalah. Suaranya terdengar lirih.

“Meskipun kau bisa hidup tanpa aku, tapi aku tidak bisa hidup tanpamu.” Nada suara Yuna terdengar seperti menyindir. “Jadi, Sunny. Bisakah kau mengatakan pada orang – orang di masa depan kalau mereka cukup memulangkanmu saja? Mereka tidak perlu memulangkan kami.”

“Itu…” Sunny teringat dengan ponselnya yang sudah hancur. Bagaimana caranya ia memberitahu orang – orang di masa depan?

“Yuna, Gomawo.” Yuri tersenyum kecil. Yuna membalas senyuman itu meskipun terlihat jelas senyumana tidak tulus.

“Mengapa kau diam saja? Ayo cepat beritahu mereka sebelum mereka memulangkan kita.” Yuna mendesak Sunny.

“Aku.. Ponsel itu..” Sunny tergagap. Ia tidak ingin memberitahu kedua orang ini bahwa ponselnya sudah rusak. Tapi ia menyadari cepat atau lambat ia harus menyampaikan kebenaran ini. Ia tidak bisa menyembunyikannya terus.

“Sunny! Apa yang terjadi?” Yuri bangkit dan mendekati Sunny begitu menyadari perubahan ekspresi Sunny. Ia merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres.

“Maafkan aku!” Sunny langsung berlutut di depan keduanya. Ia tidak tahu bagaimana menyampaikan hal ini pada kedua temannya itu. Ia tahu kalau ponsel itu sangat berharga bagi mereka bertiga, tapi ia malah tidak menjaganya dengan baik. Ia pantas disalahkan. Ia pantas menerima kemarahan mereka.

Yuna ikut berlutut di hadapan Sunny. Ia heran mengapa Sunny tiba – tiba bersikap seperti ini. Apa mungkin ada kata – katanya yang salah dan menyinggung Sunny? “Sunny! Maafkan kami. Kami tidak bermaksud meninggalkanmu. Kau sahabat terbaik yang kami miliki.”

Yuri juga berlutut dan mengelus punggung Sunny dengan lembut.

“Jangan! Jangan katakan itu.” Sunny mulai menangis. “Aku tidak pantas menjadi sahabat kalian.”

“Tentu saja kau pantas.” Yuri menyela. “Sebenarnya kami yang tidak pantas menjadi sahabatmu. Kami tidak memikirkan perasaanmu.”

“Bukan begitu!” Air mata Sunny semakin deras mengalir.

“Maafkan aku Sunny. Ini semua salahku.” Yuri menghapus air mata dari wajah Sunny.

“AKU MERUSAK PONSELNYA!” Sunny berteriak. “Aku tidak berguna.. Aku merusak ponsel itu.”

“Mwo?” Yuri langsung melepaskan tangannya dari wajah Sunny dan berdiri. “Kau merusak ponsel itu? Satu – satunya alat komunikasi kita dengan masa depan?”

“Yuri! Dia pasti tidak sengaja.” Yuna mencoba membela Sunny. Tidak mungkin ia tidak membela Sunny jika ia bisa melihat kalau Sunny benar – benar merasa bersalah.

“Semuanya kacau!” Yuri terduduk di atas ranjangnya. Mendadak seluruh tubuhnya terasa lemas.

Jika mereka tidak bisa berkomunikasi dengan masa depan, hanya ada dua kemungkinan. Mereka semua akan pulang, atau mereka semua tidak akan pulang. Yuri tentu saja berharap kemungkinan kedua yang terjadi. Yaitu mereka bertiga tetap di tempat ini. Tapi bagaimana dengan Sunny? Ia pasti ingin berkumpul dengan keluarganya. Ia tidak bisa bersikap egois dengan mengharapkan mereka bertiga tidak akan pernah kembali ke masa depan meskipun ia sangat mengharapkannya. Tidak ada alasan untuk Sunny tetap tinggal disini. Tidak seperti dirinya dan Yuna.

Lalu bagaimana jika kemungkinan pertama yang terjadi? Mereka semua tanpa kecuali akan kembali ke masa depan. Ia belum siap untuk berpisah dengan Jessica. Mereka baru saja bersama. Ia masih ingin bertemu dengan gadis itu. Ia tidak ingin meninggalkan Jessica.

“Yuri! Maafkan aku!” Ujar Sunny dengan suara serak. Sebelum Yuna memintanya untuk menghubungi masa depan, Sunny sama sekali tidak terpikir kalau ia sudah membuat masalah serumit ini. Ia melupakan kalau mereka bertiga berasal dari waktu yang berbeda. Ia hanya memikirkan bagaimana lucunya Jessica, Yuri, dan Yuna. Sedikitpun ia tidak terpikirkan dengan masalah yang serius seperti ini.

“Bagaimana kejadiannya? Mengapa bisa rusak?” Yuna bertanya dengan lembut takut Sunny menangis semakin parah.

“Aku menjatuhkannya, lalu sebuah mobil lewat dan melindasnya. Benar – benar hancur.” Sunny tidak menceritakan keseluruhan ceritanya. Ia tidak ingin melibatkan Sooyoung. Ia tidak tahu – menahu tentang masalah ini.

Yuri hanya diam. Apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini? Mereka akan pulang atau tidak? Setiap hari ia akan terus dihantui dengan ketidak pastian nasib mereka. Bagaimana jika suatu saat ia tiba – tiba kembali meskipun ia tidak siap dengan itu. Ia tidak akan pernah siap untuk kembali.

“Sunny tidak bersalah.” Yuna menatap Yuri berharap saudaranya itu sedikit melunak. Ia bisa melihat kemarahan di mata Yuri. Di satu sisi ia mengerti alasan Yuri marah. Namun di sisi lain ia tidak bisa menyakiti Sunny dengan ikut menyalahkannya. Selama ini, jika Yuri tidak ada, Sunnylah yang selalu menemaninya.

“Mungkin bagi kalian ini hanya masalah sepele.” Yuri berdiri. Sedikitpun ia tidak mau melihat Sunny yang masih saja berlutut. Kemudian ia berjalan ke pintu. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”

“Aku benar – benar tidak berguna.” Sunny kembali menagis. “Yuri benar – benar marah padaku. Kau juga harusnya marah padaku.”

“Sudah, jangan kau pikirkan lagi.” Yuna memegang lengan Sunny dan membantunya berdiri. Lalu ia menggiring Sunny duduk dan mencoba menghiburnya. “Dia tidak marah padamu. Dia hanya merasa bingung. Kami baru saja bertengkar tadi. Dan masalah ini pasti membuatnya bertambah bingung.”

“Jika suatu saat Yuri dan Jessica benar – benar terpisah, itu semua salahku.” Sunny masih terisak.

“Tidak ada yang menyalahkanmu.” Yuna mengusap punggung Sunny agar gadis itu lebih tenang.

“Meskipun tidak ada yang menyalahkanku, tetap saja aku yang salah.”

“Tidak! Jangan berpikir seperti itu.”

“Kau yang bersikap begini semakin membuatku merasa bersalah. Harusnya kau marah padaku. Akan lebih mudah bagiku jika kau marah padaku.” Sunny meninggikan suaranya.

“Aku tidak marah padamu.”

“Karena itulah aku merasa semakin buruk.” Ujar Sunny lirih.

***

Yuri berkeliling mencari tempat sepi dimana ia bisa berpikir dengan tenang. Awalnya ia berencana pergi ke balkon lantai lima. Ia mengira tempat itu pasti sepi. Memang sepi. Hanya ada dua orang disana. Dan masalahnya dua orang itu adalah Taeny couple. Taeyeon dan Fany. Siapa yang tidak mengenal mereka? Pasangan paling mesum di kampus. Karena itu ia mau tidak mau harus menyingkir dari tempat itu. Yuri tidak mau menjadi saksi dari adegan mesum yang mereka lakukan.

Akhirnya disinilah ia terdampar. Di perpustakaan membaca sebuah buku tua setebal lima inchi. Matanya tekun mengikuti setiap baris kalimat yang tertulis di lembaran yang mulai berubah warna. Tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam kepalanya. Ia tidak bisa berkonsentrasi.

“Aish! Mengapa aku harus membaca buku bodoh ini?” Yuri menutup buku itu dan mendorongnya menjauh. Saat ini ia sedang kesal dan ia melampiaskan kekesalannya pada buku tua yang tidak bersalah. Ia sendiri tidak tahu mengapa membaca buku itu. Ia melihat buku itu tergeletak di atas meja dan tiba – tiba saja ia mendapati dirinya membaca buku tersebut.

Ia menutup matanya mencoba menenangkan pikirannya. Anehnya ia malah bisa mendengar setiap suara yang berada di sekitarnya. Ia bahkan bisa mendengar suara kecil sekalipun. Saat ini ia hanya butuh ketenangan. Mengapa suara itu malah terdengar semakin keras? Membuat kepalanya terasa sakit.

“Kau disini?” Yuri merasakan sebuah sentuhan lembut di bahunya. Ia membuka matanya dan menemukan Jessica berdiri di sisinya sambil tersenyum. Senyuman yang sangat jarang terlihat di wajah itu.

“Bagaimana kau tahu aku ada disini?” Yuri menggenggam tangan Jessica lalu menyandarkan kepalanya di tangan itu. Ia merasa nyaman seperti itu.

“Aku mengikuti baumu.” Jessica melepaskan bahu Yuri kemudian duduk di sebelah gadis itu.

“Ya! Apa kau sebenarnya? Anjing pelacak?” Yuri tertawa. Saat melihat Jessica, ia merasa seolah semua masalahnya menghilang. Jessica ada disini. Bersama dengannya. Apa yang lebih membahagiakan dari itu?

Jessica ikut tertawa. Tawa yang untuk pertama kalinya dilihat oleh Yuri. Sebenarnya Jessica pernah tertawa sekali dulu. Hanya saja waktunya terlalu singkat. Yuri tidak puas melihatnya. “Kau belum mandi. Kau ingat?”

“Apa sebau itu? Sampai kau bisa mengendusku dari jauh?” Yuri menggenggam tangan Jessica dan menyelipkan setiap jari – jarinya di antara jemari gadis itu. “Atau kau begitu mencintaiku hingga kau bisa mencium bauku dari jauh?”

“Hmm…” Jessica mengangguk. “Keduanya.”

“Kapan kau mulai menyukaiku?” Yuri mendekatkan wajahnya pada Jessica.

“Waktu kau mengatakan kalau kau mau menjadi temanku. Aku benar – benar terharu saat itu. Kau orang pertama yang mau menjadi temanku.”

“Aah…” Yuri mengangguk menandakan ia mengingat kejadian itu dengan baik. “Berarti aku lebih dulu menyukaimu.”

“Benarkah?” Jessica menaikkan alisnya. “Memangnya kapan kau mulai menyukaiku?”

“Waktu kau mengucapkan terima kasih padaku. Kau tahu? Itu sangat berharga bagiku.” Yuri tersenyum mengenang masa lalu. “Mengingat bagaimana sikapmu sebelumnya, selalu dingin dan sinis. Mendapatkan ucapan terima kasih dari orang seperti itu benar – benar berharga.”

“Aku? Dingin dan sinis?” Jessica mendengus. “Apa kau sedang mencoba merayuku?”

“Benar! Aku sedang merayumu.” Yuri terkekeh. “My Ice Princess.”

“Aku pikir aku lebih mirip Putri Tidur.”

“Tepat sekali!” Yuri menjentikkan jarinya.

“Jadi siapa sebenarnya aku? Ice Princess? Atau Putri Tidur?” Jessica memiringkan kepalanya saat menunggu jawaban dari Yuri.

“Anjing pelacak!” Jawab Yuri dengan wajah polos dan mendapatkan pukulan di perut berkat kepolosannya itu.

“Mengapa anjing pelacak? Menurutmu aku mirip anjing?” Jessica melotot dan ia terlihat mengerikan.

“Benar – benar mirip.” Sekali lagi Yuri mendapatkan pukulan. Namun ia tidak menyerah mengolok – olok Jessica. “Kau selalu mengendus kesana – kemari. Bukankah itu mirip dengan anjing pelacak?”

“Kau ingin kita putus?” Jessica mengancam.

“Putus?” Yuri tertawa semakin keras. “Apa kita pacaran?”

“Ya! Kau menyebalkan! Kau mau mati?” Jessica berteriak. Anak – anak lain melihat ke arah mereka karena suara berisik yang mereka timbulkan. Bahkan ada yang menyuruh mereka diam.

Yuri menyandarkan kepalanya di bahu Jessica. Ia menghela nafas dalam. “Aku lelah sekali.”

“Kenapa? Kau bertengkar dengan Yuna?”

“Anio..” Yuri mendesah. “Tapi Sunny.”

“Sunny?”

“Yeah..” Suara Yuri terdengar melemah.

“Sebaiknya kau minta maaf padanya.” Ujar Jessica tegas. “Aku tidak tahu apa masalah kalian. Aku juga tidak tahu siapa yang salah. Tapi sebaiknya kau lebih dulu minta maaf padanya. Aku tidak pernah punya teman sebelumnya. Dan aku tidak ingin kau kehilangan temanmu karena perbedaan pendapat.”

“Kami bertengkar bukan karena berbeda pendapat.” Yuri semakin mengeratkan genggamannya pada Jessica. “Mungkin aku terlalu berlebihan padanya. Kau benar! Aku harus minta maaf pada Sunny.”

“Kalau begitu cepatlah minta maaf padanya.” Jessica mengguncang tangan Yuri agar gadis itu segera beranjak.

“Jika aku pergi sekarang, apa kau akan memberiku ciuman?”

“Tidak sebelum kau berbaikan dengan Sunny.”

“Kalau begitu nanti saja. Aku masih mau berada disini bersamamu.” Yuri membenamkan wajahnya di leher Jessica.

“Hei! Semua orang melihat ke arah kita!” Jessica berbisik. “Kau ingin kita menggantikan posisi Taeny couple?”

Sontak Yuri melepaskan tangan Jessica dan menjaga jarak. Ia ingat betapa mesumnya Taeny couple. Mereka selalu berbuat mesum dimanapun dan kapanpun tanpa mempedulikan orang di sekitar mereka. Yuri tidak ingin menjadi seperti itu. Yuri tidak ingin menggantikan posisi mereka. Biarlah gelar pasangan paling mesum di kampus tetap menjadi milik mereka.

“Aku akan minta maaf pada Sunny.” Yuri berdiri kemudian berjalan cepat keluar dari perpustakaan.

-TBC-

Iklan

37 thoughts on “TIME TRAVEL Part 7 (YulSic)”

  1. wkwkwkwk yuri takut ikan segitunya.
    Kaya aku liat kecoa aja.wkwk*gak ada yg nanya*
    ternyata ada taeny lw gak di ceritain haha tetep psngan mesum ya..
    Haduh.
    Gw suka ff ini lucu hahaha.

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s