Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 8 (YulSic)

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

part 8

Yuna menatap pasangan yang sedang kasmaran di depannya dengan wajah bosan. Ia terjebak di kamar ini dengan dua orang itu dan tidak bisa kemana – mana. Sunny pergi bersama Sooyoung. Tidak ada yang bisa menemaninya. Mau tidak mau ia harus menjadi obat nyamuk melihat Yuri dan Jessica berpacaran.

“Aish.. Memuakkan!” Yuna memutar bola matanya saat melihat Yuri dan Jessica cekikikan setelah Yuri membisikkan sesuatu pada Jessica. Melihat dari wajahnya, ia lebih mirip seperti orang cemburu daripada muak.

“Kau bilang apa?” Yuri melirik Yuna setelah ia mendengar gadis itu mengatakan sesuatu.

Yuri dan Jessica duduk menyandar pada pagar balkon serta membiarkan pintu yang menghubungkan balkon dan kamar terbuka. Yuna yang menyuruh mereka tetap membukanya. Yuna ingin mengawasi apapun yang mereka lakukan agar mereka berdua tidak berani macam – macam. Sikapnya itu persis seperti seorang ayah yang sedang mengawasi putrinya pacaran.

“Anio..” Yuna menghela nafas dalam. “Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu?”

“Aku masih mau berada disini bersama Sicca.” Yuri menatap Jessica sambil tersenyum membuat Yuna semakin cemburu. Saat semua orang sibuk pacaran, mengapa hanya dia yang tidak punya pasangan?

Jessica membaringkan tubuhnya di pangkuan Yuri dan membiarkan Yuri membelai rambutnya.

“Kau ingat! Kau harus berbaikan dengan Sunny.” Yuna melakukan segala cara untuk menghentikan adegan mesra di depan matanya itu.

“Kau belum minta maaf pada Sunny? Kau sengaja mengulur – ngulur waktu?” Jessica duduk kemudian menatap Yuri dengan ekspresi marah.

“Tadi aku menghampirinya ke kamar, tapi dia tidak ada.” Yuri mencoba menjelaskan. Wajah Jessica saat marah benar – benar membuatnya ketakutan. “Yuna mengajaknya pergi makan sehingga aku tidak bertemu dengannya. Setelah itu Sunny pergi dengan Sooyoung. Aku sama sekali tidak mengulur waktu. Aku akan minta maaf padanya. Hanya saja tidak ada kesempatan untuk bertemu dengannya.”

“Pergilah! Minta maaf padanya!” Jessica bersidekap dengan wajah cemberut dan kembali menyandarkan punggungnya di pagar balkon.

“Aku tidak yakin kalau dia sudah kembali.”

“Kau mengulur waktu?” Jessica semakin terlihat mengerikan.

“Baik, aku akan menemuinya sekarang.” Yuri bangkit dengan cepat kemudian keluar sambil mendesah. Memang ia sama sekali tidak berniat mengulur waktu. Ia juga ingin segera berbaikan dengan Sunny. Hanya saja keinginannya untuk tetap bersama Jessica lebih kuat.

“Kau bisa mengendalikannya?” Yuna tersenyum pada Jessica saat Yuri sudah keluar dari kamar itu. “Sebuah keajaiban melihat si hiperaktif itu patuh pada seseorang.”

“Kau terlalu berlebihan.” Jessica bangkit kemudian berjalan ke pintu dan menguncinya. “Dia akan kembali sebentar lagi. Sebaiknya kita tidak membukakannya pintu. Hanya untuk memastikan dia benar – benar berbaikan dengan Sunny.”

“Kau jangan khawatir. Mereka akan berbaikan.”

Jessica berjalan menuju ranjangnya kemudian berbaring disana. Kemarin malam ia tidak tidur semalaman, dan sekarang ia ingin mengganti semua waktu tidur yang hilang itu.

“Sebenarnya aku tidak setuju dengan hubungan kalian.” Yuna memulai pembicaraannya membuat Jessica kembali membuka matanya.

Mendengar Yuna bicara seperti itu, Jessica sama sekali tidak kaget. Ia bisa melihat kalau Yuna tidak menyukai kalau ia menjalin hubungan dengan Yuri. Ia sadar kalau Yuri bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Seorang pria yang bisa mencintai dan melindunginya. Tapi ia ingin bersikap egois. Bagaimanapun juga ia hanya punya waktu sedikit untuk bersama Yuri. Dan ia ingin menghabiskan semua waktu yang sedikit itu dengan memiliki Yuri.

“Kau sudah tidur?” Yuna bertanya setelah tidak mendapatkan respon dari Jessica.

“Anio..” Jessica menjawab singkat.

Yuna menghela nafas. “Maaf aku mengatakan ini padamu.”

“Gwaencana.”

“Padahal aku mulai menyukaimu.”

“What?” Jessica langsung duduk. Ia melihat Yuna yang tertunduk lesu. Ia benar – benar tidak tahu kalau Yuna juga menyukainya. Ia merasa tidak enak pada Yuna. Yuna menyukainya, dan ia malah berpacaran dengan saudara Yuna. “Aku tidak tahu kau menyukaiku.”

“Tidak masalah.” Yuna terdiam beberapa saat. Kemudian ia menyadari sesuatu dari perubahan cara Jessica menatapnya. Sepertinya ada yang salah. Ia harus menjelaskan pada Jessica. “Memang aku menyukaimu, tapi tidak seperti Yuri menyukaimu. Lebih seperti aku menyukai Sunny. Maksudku sebagai teman. Bagaimana mungkin aku seperti itu? Ha.. Ha.. Kau bercanda.”

“Aah..” Jessica mengangguk.

Hening beberapa saat sebelum Yuna melanjutkan kata – katanya. “Aku benar – benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian berdua.”

“Apa kau pernah jatuh cinta?”

“Tentu saja pernah. Kau pikir aku anak kecil?” Yuna berpikir sejenak. Apa ia pernah benar – benar jatuh cinta? “Tapi aku tidak pernah sampai segila kalian. Setiap aku menyukai seseorang, aku hanya bertepuk sebelah tangan. Yah, kau tahu aku menyukai pria yang lebih dewasa dariku dan kebanyakan dari mereka sudah menikah. Aku tidak punya pilihan selain menyerah.”

“Kau tidak jatuh cinta. Kau hanya menyukai mereka.” Jessica menatap Yuna dingin.

“Itu sama saja.” Yuna memutar bola matanya.

“Kalau kau mencintainya, kau tidak akan menyerah.”

Yuna terbatuk. “Kau ingin aku merebut Profesor Seo dari istrinya?”

“Aku tidak menyebut Profesor Seo.” Jessica menyunggingkan bibirnya sambil mendengus. “Aku juga tidak menyuruhmu merebutnya dari siapapun. Aku hanya mengatakan untuk tidak menyerah. Kalau kau benar – benar jatuh cinta, kau tidak akan pernah menyerah. Tidak peduli apapun yang terjadi, apakah dia mencintaimu atau tidak, atau dia sudah punya orang lain disisinya, kau akan tetap mencintainya.”

“Meskipun kau tidak akan pernah melihatnya lagi? Meskipun kau akan kehilangannya?”

“Aku akan tetap mencintainya.” Jessica tidak pernah merasa seyakin ini seumur hidupnya.

“Kau gila! Kalian berdua gila!” Yuna tidak percaya kalau ada orang segila mereka di dunia nyata. Mungkin ia akan menganggapnya romantis jika hanya menontonnya di drama televisi. Tapi melihat Yuri dan seseorang yang sudah dianggapnya sebagai teman terlibat langsung dalam situasi seperti ini, ia merasa benar – benar miris.

Melihat Yuna tidak lagi bicara, Jessica kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya.

“Kau tahu? Kami akan kembali ke masa depan. Yuri akan meninggalkanmu.” Yuna kembali mengusik Jessica yang berusaha untuk tidur.

“Aku tahu.” Jawab Jessica sambil memejamkan matanya.

“Lalu mengapa kau tetap melakukannya? Mengapa kau tetap berpacaran dengan Yuri? Bukankah semakin jauh hubungan kalian, maka akan semakin sulit untuk berpisah?”

Jessica membuka matanya dan menatap langit – langit sambil menghela nafas dalam. “Bagiku punya sedikit kenangan lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku bisa bertahan dengan sedikit kenangan itu.”

“Karena itulah aku mengatakan kalau kalian gila.” Yuna sebenarnya kagum dengan keteguhan Jessica. Seandainya ia yang berada di posisi itu, sudah bisa dipastikan kalau ia tidak akan mengambil keputusan seberani itu. Ia akan memilih untuk menyerah. “Aku yakin kau tidak akan bertahan tanpa Yuri. Bahkan dengan segudang kenangan sekalipun.”

“Kau meremehkanku?” Jessica tertawa.

“Aku mengatakan ini karena aku menyayangi kalian berdua. Aku tidak ingin kalian terluka.”

“Aku hargai itu.” Jessica kembali memejamkan matanya kemudian bergumam pelan. “Tapi semua sudah terlambat. Aku dan Yuri, kami tidak tertolong lagi.”

***

Tidak ada siapapun di dalam kamar saat Yuri membuka pintu. Sunny belum kembali. Sekarang baru jam lima sore, wajar kalau dia belum kembali. Kalau sudah bersama dengan Sooyoung, gadis itu selalu lupa waktu. Sama seperti dirinya yang lupa waktu saat bersama dengan Jessica. Ia yakin Sunny menyukai Sooyoung meskipun ia tidak mau mengakuinya. Ia selalu mengatakan kalau dirinya hanya main – main saja dengan Sooyoung.

“Sunny, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi.” Yuri bicara dengan guling Sunny.

Seperti yang ia katakan pada Jessica kalau ia tidak akan mengulur waktu untuk minta maaf pada Sunny. Karena itu ia langsung minta maaf selagi ada kesempatan. Meskipun ia hanya bicara dengan bantal guling.

“Mungkin menurutmu aku gila.” Yuri terkekeh. “Karena aku bicara dengan benda mati. Tapi aku harus bicara dengan seseorang. Dan aku tidak tahu harus membicarakan hal ini dengan siapa. Aku tidak mungkin mengatakannya pada Jessica ataupun Yuna. Mereka akan semakin mencemaskanku nanti. Dan Sunny.. Dia tidak ada disini.”

Yuri mendekati ranjang Sunny kemudian berlutut di dekatnya. “Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Aku benar – benar bingung sekarang. Aku tidak ingin kehilangan Jessica. Apa yang harus aku lakukan agar aku tetap bisa bersama dengannya?”

“Menurutku kau harus tetap bersama dengannya.” Terdengar suara Sunny dari belakang. Yuri menoleh dan mendapatkan Sunny berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Sejak kapan kau disitu?” Yuri berdiri kemudian salah tingkah. Ia berdiri dan bingung harus duduk dimana. Dan akhirnya ia duduk di ujung ranjang Sunny dengan posisi aneh.

“Aku baru saja terpikirkan tentang ini tadi.” Sunny tidak mempermasalahkan Yuri yang salah tingkah kemudian menuju laptopnya yang terbuka di atas meja.

“Apa itu?” Yuri yang merasa ingin tahu mendekat dan ikut melihat layar laptop Sunny.

Sunny menoleh ke belakang menyadari Yuri yang mendekat. “Oh, bukan. Aku hanya ingin mematikannya saja.”

“Lalu apa itu? Apa yang baru saja terpikirkan olehmu?”

“Kau ingat saat kita datang kesini?” Sunny memutar tubuhnya sehingga ia berhadapan langsung dengan Yuri. Wajahnya terlihat serius. Ia melepaskan pin kodok yang menempel di ujung bajunya kemudian menyodorkannya pada Yuri. “Pin ini! Ikut bersamaku kemari. Begitu juga dengan milik Yuna. Dan juga ponselku. Serta pakaian yang kita kenakan. Semua yang menempel di tubuh kita, ikut bersama kita ke tempat ini.”

“Aku juga memakai pin itu!” Yuri menunjukkan pin yang ia maksud. Sebuah pin yang sama persis dengan milik Sunny. “Lalu apa artinya itu?”

“Kau harus tetap berada di dekat Jessica. Itu satu – satunya cara agar kalian tetap bersama.” Sunny menatap lurus ke mata Yuri. “Jika kita tidak akan pernah kembali, mungkin tidak ada masalah bagimu. Tapi jika orang di masa depan berhasil mengembalikan kita, dan pada saat itu kau sedang bersama Jessica, aku rasa Jessica akan ikut ke masa depan.”

“Kau yakin?” Yuri mencoba memikirkannya. Menurutnya pendapat Sunny itu masuk akal.

“Aku tidak yakin. Ini hanya pendapatku saja.”

“Kalau begitu aku harus tetap bersama dengan Sicca.” Yuri bangkit kemudian berlari ke luar dan menuju kamar Jessica.

***

Begitu Yuna membuka pintu kamarnya pagi itu, ia menemukan tubuh Yuri melintang di depan pintu. Sepertinya tadi malam Yuri tidur di depan pintu kamarnya. Memang semalam ia mendengar Yuri menggedor pintu kamarnya, tapi Jessica melarangnya untuk membuka pintu. Dengan begitu Yuri tidak punya pilihan lain selain berbaikan dengan Sunny.

Memang Jessica ada benarnya, tapi sepertinya usaha mereka untuk membuat Yuri dan Sunny berbaikan gagal. Terbukti Yuri tidak tidur di kamarnya. Mungkin Yuri dan Sunny bertengkar lagi kemarin sehingga Yuri tidak mau kembali ke kamarnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan disini?” Yuna menendang pelan bokong Yuri sehingga membuat saudaranya itu terbangun.

Yuri menggeliat sebelum akhirnya benar – benar bangun. Ia melihat Yuna yang membuka pintu kemudian tersenyum lebar. “Mengapa kau lama sekali membuka pintunya? Disini dingin sekali.” Yuri melihat sekeliling. “Eh, ini sudah pagi? Tega sekali kau!”

“Kau belum berbaikan dengan Sunny?” Yuna melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau lebih memilih tidur disini daripada berbaikan dengan Sunny? Aku benar – benar…..”

“Mana Sicca?” Yuri menerobos masuk tanpa membiarkan Yuna menyelesaikan kata – katanya.

“Dia masih tidur.” Yuna menjawab meskipun ia terlambat. Yuri sudah menemukan Jessica yang masih sibuk berkutat dengan alam mimpinya.

“Yeppeo!” Yuri berlutut di sisi ranjang Jessica sambil bertopang dagu. Ia tersenyum melihat Jessica yang masih tertidur pulas.

“Kau kemari untuk mencari Jessica atau karena kau belum berbaikan dengan Sunny?” Yuna berdiri di ambang pintu menunggu jawaban dari Yuri.

Yuri tidak menjawab. Ia lebih suka terus menatap Jessica sambil tersenyum. Ia lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Jessica dengan lembut kemudian terkekeh.

“Kau tidak peduli padaku.” Yuna menutup pintu dan meninggalkan kedua orang itu. “Kau bahkan tidak menyadari kalau aku ada.”

Yuna menghela nafas. Semenjak ada Jessica, Yuri tidak mempedulikannya lagi. Tidak masalah buatnya. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Jika Yuri sudah tertarik dengan satu hal, ia hanya akan fokus pada hal itu dan tidak mempedulikan yang lainnya.

Sebenarnya Yuna mempunyai misi penting hari ini. Ia akan menemui Profesor Seo dan mengungkapkan perasaannya pada pria itu. Berkat pembicaraanya dengn Jessica kemarin, Yuna terinspirasi untuk melakukan hal ini. Namun ia belum segila Jessica untuk menjadikan Profesor Seo miliknya. Ia hanya ingin Profesor Seo mengetahui apa yang ia rasakan. Tidak ada maksud lain di balik itu semua. Setidaknya sebelum ia pergi, ia ingin Profesor Seo mengetahuinya.

Dengan ragu Yuna membuka pintu laboratorium mekanika tanah. Biasanya Profesor Seo ada disana. Tempat yang sama saat Yuna menyelamatkannya saat kebakaran dulu. Mudah – mudahan Profesor Seo sudah datang pagi ini dan dosen lainnya belum datang. Para dosen di laboratorium mekanika tanah terkenal killer dan mengerikan. Tidak termasuk Profesor Seo tentu saja.

Begitu pintu terbuka, bau cat menyeruak. Tempat itu memang sedang dalam proses renovasi setelah terjadi kebakaran beberapa minggu lalu. Yuna melihat ke arah ruangan Profesor Seo yang berada di bagian paling kanan. Lampunya menyala menandakan kalau ada orang di dalamnya. Terlebih tidak terlihat keberadaan orang lainnya disana. Ia langsung bersemangat saat mengetahui Profesor Seo ada di ruangannya. Ia tidak akan menyia – nyiakan kesempatan ini. Ia harus cepat sebelum dosen lain datang.

“Profesor Seo?” Yuna melongokkan kepalanya di depan pintu dan menemukan Profesor Seo sedang sibuk di balik laptopnya dengan wajah kusut dan rambut acak – acakan. Sepertinya dia belum tidur semalaman. “Anda sibuk? Apa aku mengganggu?”

Profesor Seo melepaskan kacamatanya dan memperhatikan Yuna dengan seksama. Kemudian matanya terhenti pada pin kodok dengan topi kuning yang Yuna sematkan di ujung bajunya. “Yuna? Ah.. Kau boleh masuk.”

“Anda ingat padaku?” Wajah Yuna bersemu merah setelah Profesor Seo menyebut namanya dengan tepat. Benar – benar keajaiban Profesor Seo mengetahui namanya. Seingatnya ia tidak pernah memperkenalkan diri pada Profesor Seo sebelumnya. Apa Profesor Seo juga tertarik padanya sehingga pria itu mencari tahu tentang dirinya? Tidak! Yuna menekankan pada dirinya kalau itu tidak boleh terjadi. Profesor Seo sudah menikah. Profesor Seo tidak akan terlihat keren lagi jika ia menghianati istrinya.

“Bagaimana aku bisa melupakan orang yang sudah menyelamatkanku?” Profesor Seo tertawa renyah membuatnya terlihat semakin manis. Saat pria itu tertawa, ia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Sekarang ia lebih mirip seorang mahasiswa daripada Profesor. “Duduklah! Kau ingin membicarakan sesuatu, atau ingin mengobrol?”

Yuna melangkah mendekati Profesor Seo kemudian duduk di sebuah kursi yang berada di seberang meja Pria itu. Profesor Seo menutup laptopnya dan menyingkirkannya ke pinggir meja begitu Yuna sudah duduk.

“Apa tidak apa – apa? Sepertinya anda sangat sibuk.” Yuna melirik laptop Profesor Seo yang berada di pinggir meja.

“Gwaenchanayo.” Profesor Seo mengikuti arah pandangan Yuna kemudian tersenyum membuat Yuna meleleh karena senyuman itu. “Aku sudah mengerjakannya semalaman. Sekarang waktunya aku beristirahat.”

“Jadi aku mengganggu waktu istirahatmu?” Yuna menunduk lesu. Sepertinya ia datang di waktu yang salah.

“Sudah aku bilang tidak apa – apa.”

Yuna diam. Setelah berhadapan langsung dengan Profesor Seo mendadak keberaniannya menghilang. Padahal ia sudah sangat yakin tadi.

“Kau hanya akan diam disana?” Profesor Seo mengaitkan kedua tangannya kemudian menempelkannya di dagu. “Kau tidak keberatan kalau aku tidur sebentar sementara kau memutuskan akan mengatakan padaku atau tidak?”

“Bagaimana anda tahu…” Yuna menutup mulut dengan kedua tangannya. Bagaimana Profesor Seo tahu kalau ia akan mengatakan sesuatu? Apa terlihat jelas di wajahnya.

“Maaf! Aku tidak bermaksud menakutimu.” Profesor Seo terkekeh. “Kau sampai pucat begitu. Memang banyak mahasiswa yang takut masuk ke tempat ini. Dan kau pasti juga begitu.”

“Aa.. Aku…” Yuna tergagap. Ia tidak tahu akan sesulit ini untuk mengungkapkan perasaannya. Ini pertama kali untuknya. Selama ini ia hanya memendamnya saja tanpa memberi tahu orang yang ia sukai. Itu karena ia tahu kalau dirinya hanya bertepuk sebelah tangan.

“Katakan saja.” Profesor Seo terus tersenyum sehingga membuat Yuna semakin gugup. “Bagian mana yang kau tidak mengerti?”

“Ne?”

“Tentang kuliahku. Kau datang kesini karena ada yang kau tidak mengerti kan?”

“Benar juga. Memangnya apa lagi yang bisa terpikirkan olehmu?” Yuna bergumam pelan.

“Kau mengatakan sesuatu?”

“Anio..” Yuna mencoba membalas senyuman Profesor Seo, namun malah terlihat aneh. “Aku kemari bukan karena ingin menanyakan tentang kuliahmu.”

“Lalu?” Profesor Seo memasang wajah polos membuat Yuna ingin membungkusnya dan membawanya pulang.

“Aku…” Yuna kembali mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya. Sekarang atau tidak sama sekali. “Aku hanya ingin tahu keadaan kakimu. Apa sudah baikan?”

Dan akhirnya Yuna tidak berani mengatakannya. Ia tidak tahu mengapa ia sebodoh ini. Entah ini namanya bodoh atau pengecut. Tapi ia mengutuk dirinya yang tidak berkutik di hadapan Profesor Seo.

“Kau mencemaskanku?” Profesor Seo tertawa. Meskipun tawanya kali ini cukup keras, ia tetap terlihat berwibawa dan tampan. Mungkin ia sering melatihnya di depan cermin untuk menjaga imagenya sebagai idola kampus. “Bukankah kau sudah melihat kalau aku baik – baik saja? Kau bahkan ikut pergi kuliah lapangan. Apa aku terlihat sakit? Mungkin aku hanya kelelahan saja. Banyak hal yang harus aku kerjakan. Tapi aku bisa pastikan kalau kakiku baik – baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu.”

“Baguslah kalau begitu.” Yuna menghela nafas. Bukan karena ia lega mendengar Profesor Seo baik – baik saja. Tentu saja ia tahu pria itu baik – baik saja. Ia tidak buta. Ia menghela nafas karena menyesali kebodohannya. Ia tahu kalau ia tidak akan berani mengatakan apapun pada Profesor Seo, namun tetap saja nekat datang menemui pria itu.

Yuna kembali diam ia tidak tahu apalagi yang akan ia katakan sementara Profesor Seo masih menunggu kata – kata selanjutnya yang akan ia ucapkan. Profesor Seo terus menatapnya membuatnya salah tingkah. Ia merasakan panas di wajahnya. Ia berani bertaruh kalau wajahnya saat ini sudah berubah merah.

“Kau menyukaiku?” Ujar Profesor Seo tepat pada sasaran.

Yuna terbatuk. Ia mencoba menghindari tatapan Profesor Seo. “Aa.. Apa maksud Profesor?”

“Tidak apa – apa. Banyak anak perempuan yang menyukaiku. Tapi kau harus ingat satu hal.” Profesor Seo mengangkat tangannya untuk memeperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. “Aku sudah menikah. Tidak masalah kalau kau menyukaiku. Namun jangan melewati batas. Kau hanya boleh menyukaiku sebagai seorang mahasiswa yang menyukai dosennya. Bagus untuk meningkatkan semangat belajarmu.”

“Aku juga tidak berharap lebih.” Yuna berkata dengan suara pelan. Ia tidak yakin Profesor Seo bisa mendengarnya.

“Kau gadis yang baik.” Profesor Seo tersenyum lagi. Senyuman yang terasa begitu hangat. “Kau juga cantik. Pasti banyak anak sebayamu yang menyukaimu. Kau harusnya mulai melihat mereka, jangan hanya pria tua sepertiku.”

Bagaimana dia tahu kalau Yuna hanya menyukai pria tua? Bukan pria tua. Maksudnya pria yang lebih dewasa darinya. Apa ada tulisan di dahinya “Aku menyukai Profesor Seo dan selama ini aku hanya suka pria tua.” Sehingga Profesor Seo bisa mengetehui segalanya.

“Anda bukan pria tua.” Yuna masih menunduk tidak berani melihat Profesor Seo. “Anda masih terlihat muda Profesor. Bahkan anda yang paling muda di antara dosen lainnya.”

“Tetap saja aku lebih tua darimu.” Profesor Seo terkekeh. “Berjanjilah padaku kau tidak akan mengejar pria yang sudah menikah lagi.”

“Aku tidak pernah mengejar pria yang sudah menikah.” Pada akhirnya mengangkat kepalanya. Pria itu benar – benar mengetahui segalanya.

“Araso..” Profesor Seo melambaikan tangannya di depan wajahnya sendiri. “Tapi tetap saja kau harus berjanji padaku. Aku yakin di luar sana ada seseorang yang seumuran denganmu yang benar – benar tulus menyukaimu.”

“Tidak ada yang seperti itu.”

“Kau hanya tidak melihatnya.”

Semakin lama Yuna merasa sedang bicara dengan ayahnya, bukan dengan seseorang yang akan ia nyatakan cinta. Meskipun Yuna tidak pernah merasakan punya ayah, tapi ia merasa seperti sedang bicara dengan ayahnya. Semua berkat kharisma yang dipancarkan oleh Profesor Seo.

“Baiklah, aku berjanji.” Yuna akhirnya menyerah. Jika ia menolak, ia akan merasa seperti seorang anak yang durhaka kepada orangtuanya.

Profesor Seo berdiri kemudian berjalan mendekati Yuna. Ia menepuk bahu Yuna dengan lembut. “Kau anak baik.”

“Profesor!” Yuna ikut berdiri di hadapan Profesor Seo. “Boleh aku mendapat pelukan?”

“Sebaiknya jangan.” Profesor Seo mundur beberapa langkah.

Yuna tertunduk lesu. “Aku tidak pernah punya ayah sebelumnya. Namun saat aku mendengar anda menasehatiku, aku bisa merasakan bagaimana rasanya punya ayah. Aku hanya ingin merasakan pelukan seorang ayah. Itu saja.”

Profesor Seo terdiam. Senyuman yang sejak tadi ia pamerkan lenyap dari wajahnya. Awalnya ia hanya ingin menyadarkan gadis yang berada di hadapannya itu. Ia sama sekali tidak menyangka Yuna akan menganggapnya sebagai ayahnya. Apa ia terlihat setua itu?

“Maafkan aku sudah mengganggu anda.” Yuna melap pipinya meskipun tidak ada air mata yang menetes. Ia kemudian bersiap untuk pergi.

“Baiklah.” Profesor Seo merentangkan kedua tangannya siap untuk menerima pelukan. “Kau boleh memelukku, tapi sebentar saja.”

Yuna tersenyum senang kemudian ia langsung menyerbu ke pelukan Profesor Seo sebelum pria itu berubah pikiran. Tepat seperti yang ia janjikan. Hanya sebentar. Kira – kira sekitar tiga detik dan Profesor Seo sudah melepaskan pelukannya. Namun tepat saat Profesor Seo melepaskan pelukannya, Yuna mencium pipinya.

“Ya! Aku mendapatkanmu!” Yuna tertawa senang kemudian kabur dan menghilang di balik pintu.

“Anak ini!” Profesor Seo menggertakkan giginya melihat tingkah Yuna yang kekanak – kanakan. Bagaimana mungkin dirinya yang seorang profesor bisa tertipu oleh anak kecil seperti itu?

Profesor Seo menghela nafas untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu disana.

Kau bisa memulangkan mereka.

***

Saat Jessica membuka matanya, ia menemukan Yuri duduk di lantai sambil menggenggam tangannya dan tersenyum padanya. “Kau? Sejak kapan kau disini?”

“Sudah seratus tahun.” Yuri menyandarkan kepalanya di tangan Jessica kemudian memejamkan matanya. “Mengapa kau bangun? Aku masih mau melihatmu tidur.”

Jessica hanya tertawa menanggapinya. Menyenangkan rasanya saat membuka mata di pagi hari dan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Yuri. Seandainya setiap hari bisa seperti ini, ia rela berubah menjadi gadis cantik asalkan Yuri tetap berada sisinya. Ia tidak peduli harus hidup selamanya dan tetap cantik selama Yuri bersama dengannya. Ia bahkan rela mengorban kehidupannya selama ini yang menyedihkan dan menukarnya dengan kehidupan bahagia bersama Yuri.

“Jam berapa sekarang?” Jessica duduk dan melepaskan genggaman tangan Yuri.

Yuri segera meraih tangan Jessica kembali dan tidak membiarkan gadis itu lepas darinya. “Jangan dilepas. Aku ingin terus memegang tanganmu.”

“Aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar. Kau boleh memegang tanganku lagi nanti.” Jessica tersenyum melihat tingkah Yuri yang kekanakan. Memang selama ini Yuri selalu bersikap kekanakan. Hanya saja saat ia bersikeras menggenggam tangannya seperti ini, ia terlihat sangat manis.

“Kau boleh pergi ke kamar mandi, tapi jangan lepaskan tanganku.” Yuri merengek.

“Bagaimana caranya? Haruskah aku tinggalkan tanganku disini?”

“Ide bagus.”

“Sebentar saja, aku janji tidak akan lama.”

“Lima menit?”

“Bagaimana bisa aku mandi dalam lima menit?” Jessica memutar bola matanya. Yuri terlihat semakin manis saja saat sedang keras kepala seperti itu. Bahkan lebih manis daripada garam.

“Kau mau mandi?” Yuri membelalakkan matanya. Kemudian ia menyunggingkan senyuman jahil. “Aku juga belum mandi. Mau mandi bersama?”

“Aku bisa mandi sendiri!” Jessica mendorong Yuri menjauh kemudian berlari ke kamar mandi secepatnya sebelum Yuri berhasil menangkapnya lagi.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Yuri menggedor pintu kamar mandi dengan kalut. Tidak ada Jawaban dari dalam. Ia kemudian terduduk lesu di depan pintu kamar mandi. “Aku sudah menunggumu semalaman di depan pintu kamarmu. Mengapa kau membuatku menunggu lagi? Bagaimana jika aku kembali ke masa depan saat kau mandi? Aku tidak bisa membawamu bersamaku. Apa tidak masalah buatmu jika kau tidak pernah melihatku lagi?”

Terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Jessica tidak mendengar apa yang Yuri katakan.

“Sicca!” Yuri mengeraskan suaranya agar Jessica mendengarnya, namun tetap tidak ada jawaban. “Aku takut kehilanganmu.”

***

“Yuna! Apa yang kau lakukan disini?” Sunny menepuk pundak Yuna yang sedang mengintip dari balik pintu Laboratorium Mekanika Tanah. “Kau menguntit Profesor Seo?”

“Aah.. Sunny!” Yuna tersenyum lebar begitu melihat Sunny. Kemudian ia berputar – putar dan menyeret Sunny bersamanya. “Kau tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi.”

“Ya, aku tidak akan percaya.” Sunny melepaskan diri dari Yuna kemudian terhuyung pusing.

“Aku baru saja mencium Profesor Seo!” Ujarnya bangga.

“Mwo?” Sunny melihat ke dalam ruangan dan melihat banyak dosen lain di ruangan itu. “Kau menciumnya? Di depan mereka semua?”

“Anio..” Yuna melambaikan tangannya di depan wajahnya. “Itu terjadi tadi pagi, sebelum semuanya datang.”

“Berapa lama kau disini?” Sunny menyipitkan matanya melihat Yuna.

“Tiga jam.” Yuna tersenyum kemudian tersipu begitu mengingat kejadian tiga jam yang lalu.

“Aigoo.. Kau benar – benar gigih.”

“Terima kasih.” Yuna kembali mengintip melalui celah pintu.

“Lalu apa yang kau lakukan disini?” Tanya Sunny membuat Yuna menghentikan aktifitasnya sejenak untuk meladeni Sunny yang mengajaknya mengobrol.

“Menunggunya keluar.” Yuna tertawa dan wajahnya berubah merah. “Aku ingin lihat ekspresinya saat ia melihatku masih berada disini.”

“Kau kurang kerjaan.” Sunny mencibir. “Ngomong – ngomong apa kau melihat Yuri? Sejak tadi aku mencarinya. Dia tidak kembali ke kamar semalam. Aku jadi khawatir padanya.”

“Dia ada di kamar Jessica.”

“Aku sudah kesana, tapi mereka berdua tidak ada.”

“Kalau begitu kau tidak perlu mencemaskannya. Mereka pasti berada di suatu tempat sedang bermesraan.”

“Yah, kau benar.” Sunny mengangguk. “Lalu, apa kau melihat Sooyoung?”

“Kau pikir aku apa?” Yuna melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menatap Sunny dengan sudut matanya. “Mengapa aku harus tahu dimana semua orang?”

“Aishh, aku kan hanya bertanya padamu.” Sunny mendesis. “Baiklah, aku akan mencarinya sendiri.”

Sunny berjalan meninggalkan Yuna, namun belum sempat ia berjalan jauh, tiba – tiba JLEB!

Sunny menghilang tepat di hadapan Yuna. Tubuhnya menghilang begitu saja seolah tidak pernah berada di tempat itu sebelumnya. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda – tanda keberadaannya lagi. Sunny benar – benar menghilang.

Yuna mundur beberapa langkah hingga ia menabrak dinding. Ia sangat kaget begitu melihat Sunny yang tiba – tiba menghilang. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang menghilang seperti itu. Apa mungkin Sunny bukan manusia sehingga ia bisa menghilang? Atau jangan – jangan Sunny telah kembali ke masa depan. Benar! Itu lebih masuk akal. Sunny telah kembali ke masa depan.

Tidak ada orang lain disana. Tempat itu sepi. Lorong tersebut selalu sepi. Hanya ada Yuna seorang diri yang menatap kosong di tempat Sunny menghilang beberapa detik yang lalu. Tidak ada yang melihat kejadian barusan selain dirinya. Yuna satu – satunya orang yang melihat Sunny menghilang.

“Aku harus memberitahu Yuri.” Yuna yang masih kebingungan memutuskan untuk mengatakan pada Yuri tentang hal ini. Ia begitu kebingungan sehingga tidak tahu harus kemana. Alhasil ia hanya mondar – mandir di depan pintu laboratorium.

Beberapa saat kemudian, JLEB!

Yuna menghilang.

 -TBC-

Iklan

42 thoughts on “TIME TRAVEL Part 8 (YulSic)”

  1. Entah kenapa gw ngakak pas baca “Seandainya setiap hari bisa seperti ini, ia rela berubah menjadi gadis cantik asalkan Yuri tetap berada sisinya. Ia tidak peduli harus hidup selamanya dan tetap cantik selama Yuri bersama dengannya”
    Siccaaa –‘
    Omo omo!! Yuna n sunny udah kembali! Lah yulsic???!! Kan sica nya lagi mandi ><
    *run run small ke next chapt*

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s