SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

7 Days to Remember Beautiful Love Chapter 2

7

Title : //Author : Hwang Muttiffany aka Mutiara Triastuti//

Ratting : PG-I5//Length : Chapter//Genre : Sad, Romance, Friendship//

Main cast : Tiffany Hwang and Kim Taeyeon//Art : Hwang Muttiffany aka Mutiara Triastuti

Taeyeon merobohkan dirinya pada ranjang sepulang dari rumah sakit.Ia rindu dengan Tiffany.ia rindu dengan segalanya yang berbau dengan Tiffany, senyumnya, marahnya, suaranya dan semuanya. Tiba-tiba Taeyeon memecet tombol speed dial di hpnya, 1 detik, 2 detik, 3 detik ia menunggu terus sampai suara keluar dari hp Taeyeon

“Halo ini Tiffany, maaf saya tidak bisa bisa mengangkat telfon saat ini, tinggalkan pesan setelah suara ‘beep’,” Taeyeon hampir menangis mendengar voicemail Tiffany. Hanya dengan ini ia bisa mendengar suara Tiffany, cara supaya ia bisa sedikit membunuh perasaan rindunya.

Taeyeon memeluk Hpnya seakan ia Tiffany memeluknya sangat erat.

Tiba-tiba mata Taeyeon terfokus pada handycam. Entah kenapa ia ingin melihat video didalamnya. Ia tak perduli kalau didalamnya ada videonya dengan Sunye saat ulang tahu. Ia sudah tak perduli tentang segalanya yang berbau Sunye. Tangan Taeyeon dengan segit memecet tombol on dan mencari beberapa video yang berhasil terekam dalam handycam ini. Mata Taeyeon kembali basah saat melihat video dia saat berulang tahun, karena akhirnya ia tau bahwa Tiffany benar-benar mencintainya, terlihat jelas dari cara Tiffany yang hanya merekam Taeyeon didalam handycam, Tiffany tidak menyorot Sunye sama sekali saat Taeyeon meminta Tiffany untuk merekam mereka berdua.

“Bodoh, Kim Taeyeon kau benar benar bodoh”, ia memeluk erat handycamnya

~~~~~~

Taeyeon POV

Satu bulan kemudian

Aku sudah mulai terbiasa mencium Aroma rumah sakit ini, bau karbol atau beberapa jenis obat – obat yang dapat dengan mudah ditemui.Entah sejak kapan akumulai akrab dengan bau-bau seperti ini, mungkin sejak Tiffany di rumah sakit.Kamar – kamar itu tersekat setiap aku mengunjunginya akumenyadari kehampaan dan keputusasaan disana. Mereka hidup tapi mereka mati, tak ada kebahagiaan sedikitpun disini bahkan aku mulai terbiasa dengan suara tangisan dan jeritan orang-orang yang ditinggalkan, mungkinkah aku nanti seperti mereka?Menangis berteriak saat mengetaui Tiffany pergi meninggalkanku?

Tiffany masih memejamkan matanya, masker non rebreathingbahkan menutupi separuh wajahnya. Detak jantungnya berdetak dengan lemah, dan ini terjadi sudah satu bulan lebih dan Tiffany belum menunjukan gejala membaik.Aku kembali rindu pada suaranya, aku rindu senyumnya dan aku juga rindu genggaman tangannya.

“Tiffany apakah kau tidak lelah seperti ini?” pertanyaan itu meluncur dari bibirku, dan semuapun tau bahwa Tiffany tak akan menjawab pertanyaanku. Sunyi dan sangat tenang.

“Apakah kau akan terus seperti ini?aku rindu padamu, SANGAT” lututku terasa lemas, ini sudah satu bulan lebih dan kau sama sekali taka da kemajuan. Tiffany selama ini terpujur di tempat tidur ini-UGD.

“Fany~ah, tolong tunjukan padaku bahwa kau mendengarku” Aku masih tak bergerak, menatap setiap inci tubuh Tiffany.Aku berdoa dalam hati supaya Tuhan memberikan keajaiban.Air yang bersumber dari ujung mataku terjatuh, Air mata Tiffany juga terjatuh.tanganya bergerak pelan, ujung – ujung jemari lentik.

“Fany~ah kau bergerak? ”Teriakku kegirangan. Terima kasih Tuhan atas keajaibannya yang kau berikan, walaupun ini hanya sepele tapi ini sangat berharga untukku.

“Terima kasih Fany~ah”

Tiga Bulam bulan kemudian

“Fany aku datang” ucapku.Aku berjalan mendekat dan membelai rambut Tiffany dengan lembut. Kemudian tersenyum lembut pada Tiffany dan segera duduk dan menggenggam tangan Tiffany, membelai pipi Tiffany yang sangat dingin

“Apakah kau tak ingat? Hari ini hari ulang tahunmu” air mataku hampir saja terjatuh saking sedihnya seharusnya kami merayakan ulang tahunnya dengan bahagia kalau kejadian itu tidak datang.

“Aku membelikan hadiahmu untukmu, sebuah hadiah yang akan membuatmu kegirangan, apa itu? Mari kita lihat” kemudian aku mengambil hadiah yang aku maksud

“Jeng Jeng! Ice Cream” kutunjukan Ice cream yang tadi baru kubeli saat akan berangkat kerumah sakit, Ice cream rasa strowbery kesukaaanya

“Ok akan kubukakan kalau kau tidak bisa membukanya” kubuka Ice Cream milikinya dengan hati yang semakin tak tertahan sakitnya, kemudian kubuka Ice cream miliku sendiri. Sedikit demi sedikit Ice Cream miliku sudah mulai habis sedangkan milik Tiffany kubiarkan mencair begitu saja

“Fany….apa kau tahu?”tanyaku terbata sambil memakan Ice Cream miliku. “Setiap kali aku membuka pintu ruangan ini…aku selalu berharap kau sudah membuka mata dan menungguku sambil tersenyum… aku selalu berharap….kau bahagia saat aku memberikan hadiah ulang tahunmu…. “Taetae, kau datang?” aku….selalu menanti ucapan itu darimu Fany~ah…dan aku akan segera berlari dan memelukmu. Aku akan memelukmu dan tidak akan pernah melepaskanmu lagi Fany~ah..aku akan selalu menjagamu…” aku menundukkan wajahku karena sudah tidak kuasa menahan air mata. Setelah beberapa saat aku menangis kini menyeka air mataku.

“Aigoo…mianhae…aku harusnya menghiburmu supaya kau cepat bangun…aku malah menangis…aku bukan sahabat yang baik…aku kan berusaha supaya tidak menangis lagi”

“Kau juga harus berusaha cepat sembuh Fany~ah”

“Tadi…aku ingin membuatmu malu saat kau sadar nanti Fany~ah.Aku ingin kau melihat betapa buruknya wajahmu di saat seperti ini.”kataku sambil menunjukan hpku dan memencet icon kamera.Kemudian akuberdiri dan mendekatkan wajahku pada Tiffany.KLIK.Suara tombol yang kupencet bersuara dan diringi oleh lampu flash.Kemudian aku melihat hasil dari jepretanku tersebut dan menunjukkannya pada Tiffany.

“Lihat Fany….aku terlihat lucu bukan??”tanyaku pada Tiffany yang masih menutup matanya. kumelihat sekilas foto tersebut dan menunjukkannya kembali pada Tiffany.

“Dan kau…kau terlihat sangat buruk.Ishh….mana ada yang mau mendekat padamu kalau kau jelek seperti ini…paling hanya aku yang mau dekat-dekat bersamamu, kau sangat beruntung memiliki sahabat sepertiku.”

Aku kembali mengambil beberapa foto bersama dengan Tiffany hingga akhirnya aku menyadari bahwa hari sudah semakin malam, waktu sudah menunjukkan pukul 9pm. kumemasukkan hpke dalam tas dan berbenah. kemudian mencium kening Tiffany dan tersenyum padanya.

“Jaga baik-baik jantungmu” ucapku menggenggam tangan Tiffany dan menciumnya.

“Sampai jumpa jumpa besok”

~~~~~~

Author POV

Lima bulan kemudian

Taeyeon membuka pintu ruangan dimana Tiffany dirawat dan menarik bibirnya untuk tersenyum pada Tiffany meskipun dia tahu bahwa Tiffany belum membuka matanya dan ia selalu berharap Tiffany cepat sadar dan terbuka kembali. Hanya berharap dan berharap bahwa esok Tiffany akan membuka kedua matanya dan bisa menyapa namanya seperti biasanya

Iam Coming, are you happy?”,Taeyeon berjalan mendekat dan membelai rambut Tiffany dengan lembut. Taeyeon tersenyum lembut pada Tiffany dan duduk di kursi dan menggenggam tangan Tiffany, membelai pipi Tiffany yang sangat dingin.

“Kau harus bahagia”, ucap Taeyeon dengan nada sedih

“Fany~ah irona”, panggil Taeyeon, Taeyeon itu menatap tubuh Tiffany yang masih tak berdaya

“Aku ingin mengatakan sesuatu yang sedari duluku pendam, mungkin kau akan menyesal karena kalau kau tidak bangun saat ini”, Taeyeon duduk di kursi di samping ranjang Tiffany dan menggengam tangan Tiffany

“Aku mencintaimu Tiffany Hwang, bukan sebagai sahabat tapi perasaan cinta yang sesungguhnya”

“Maaf karena aku baru memberi tau tentang perasaanku yang sebenarnya, because you know when I Choosing a lover means losing a friend, tapi saat ini aku tak memperdulikan itu. Jadi maukah kau menjadi kekasihku?, Taeyeon itu melihat wajah Tiffany yang tak menunjukkan respon sama sekali. Wajahnya yang pucat, wajah tanpa senyuman yang paling disukainya, wajah menderita.

“Baiklah aku akan memberikan waktu padamu sampai besok, kalau kau tidak menjawab besok maka anggap saja pernyataan cintaku hari ini hangus”

Sesaat kesunyian terjadi akhirnya Taeyeon membuka mulutnya kembali dan mengajak Tiffany bicara walaupun ia tau Tiffany tidak akan menjawab pertanyaannya

“Hari ini aku membawakan sebuah bunga untukmu, bunga Hawthorn tau kah kau arti dari bunga ini?”, tanya Taeyeon kepada Tiffany kemudian menunjukan bunga yang sudah ia letakan pada vas dekat ranjang Tiffany

“Pasti kau tak kan, kau kan tidak tau tentang bunga, arti dari bunga Hawthorn adalah…Harapan, aku berharap dengan bunga ini kau bisa segera bangun, dan kau bisa memarahiku sesukamu, kau boleh mengatauiku manusia kerdil, manusia bodoh, apapun yang bisa membuatmu tersenyum, aku rela melakukannya demi dirimu,…Fany~ah”

Tit….tit…..tit….. suara pendeteksi detak jantung kembali mengusik pendengaran Taeyeon yang sedang mengajak bicara Tiffany. Mata Taeyeon membulat saat ia mulai sadar bahwa semakin lama suara tersebut semakin lemah dan semakin lemah Mengetahui hal tersebut. Taeyeon melepaskan genggaman tangannya dan segera berlari keluar ruang rawat Tiffany.

“Dokter Tolong!!”teriak Taeyeon sambil berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tangan yang bergetar. Taeyeon secara abstrak meminta siapapun dokter yang ia temu dan meminta memeriksa keadaan Tiffany

“Dokter tolong teman saya”,Tangan Taeyeon masih bergetar saat akhirnya menemukan dokter yang merawat Tiffany, setelah mendengarkan apa yang dikatakan Taeyeon akhirnya dokter itu segera berlari menuju ruang rawat Tiffany dan memeriksanya, sedangkan Taeyeon berdiri di depan pintu dan hanya bisa menatap ke dalam ruangan dengan hati yang was-was. Lututnya bergetar, tangannya berkeringat dan matanya masih membulat. Tak tau apa yang terjadi pada Tiffany ia hanya bisa berdoa supaya keadaan Tiffany baik-baik saja

Hampir setengah jam Tiffany di periksa oleh dokter, akhirnya dokter itu keluar juga, namun bukan hal baik yang di katakan dokter tapi malah sebaliknya yang akhirnya membuat Taeyeon semakin takut kehilangan Tiffany

“Keadaan Tiffany semakin memburuk…semoga saja ia bisa bertahan, malam ini adalah malam penentuan, kalau ia tak bangun sampai fajar maka harapan hidup Tiffany sangat kecil”, begitulah yang di katakan dokter pada Taeyeon. Saat itu air mata Taeyeon yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga semua air mata itu keluar tanpa bisa dikendalikan lagi

“Bisa tolong hubungi keluarganya? Keadaanya semakin parah mungkin saja dengan kehadiran keluarganya keadaan bisa memberi motivasi untuknya”, ucap Dokter pada Taeyeon yang sedari tadi hanya diam tak berkata, dalam hati ia hanya bisa terus berdoa

“Keluarganya sudah meninggal semua karena kecelakan pesawat, hanya dia satu-satunya yang selama dari kecelakaan pesawat itu”, papar Taeyeon kepada Dokter

“Kasian sekali dirinya, semua keluarga semua sudah meninggal. Dan satu lagi, tolong singkirkan bunga yang ada di kamar itu! Itu tidak baik untuk pernafasannya. Itu akan mengganggu proses pemulihan. ”kata Dokter tersebut sebelum pergi meninggalkan Taeyeon

Taeyeon terdiam dan hanya bisa menundukkan wajahnya, kembali menghadapi kenyataan yang selalu ditampiknya belakangan ini. Taeyeon segera masuk ke dalam dan mengambil tas serta bunga Hawthorn yang tadi dibawa olehnya.

“Fany~ah…beristirahatlah..lalu kau harus segera bangun. Ne?”kata Taeyeon kemudian langsung pergi dan membiarkan Tiffany untuk beristirahat tanpa mengganggu proses pemulihan.

~~~~~~~

Kini Tiffany berada di dunianya sendiri, dunia yang hanya dipenuhi dengan warna putih. Tak ada orang lain disana hanya dirinya sendiri tanpa orang lain disisinya. Beberapa detik kemudian muncul banyak jendela disekitarnya.Tiffany terkaget-kaget, dari mana munculnya jendela-jendela ini batin Tiffany.Tangan Tiffany tergelitik melihati jendela itu satu persatu. Saat membuka jendela itu Tiffany semakin kaget saja karena di dalam jendela itu terdapat semua kejadian selama hidupnya, tentang ia dan keluarganya, tentang ia dan juga Taeyeon.

Beberapa-beberapa sosok muncul. Tiffany mencoba membuka lebar mata, memperjelas pandangan, ia ingin tau siapa orang lain yang bersama dengannya. Mata Tiffany terbelalak saat menyadari bahwa mereka adalah keluarga ia, dengan bahagia ia memeluk keluarganya, air matanya kemudian tumpah saking bahagianya, begitu juga keluarganya, hanya ada suara isakan disana, tak ada ucapan yang keluarga dari mulut mereka masing-masing sampai akhirnya Ibu Tiffany bertanya pada Tiffany.

“Fany~ah mau kah? Kau ikut dengan kami?”, semua keluarga Tiffany menatap Tiffany dengan harapan Tiffany akan menjawab ‘Iya’, kemudian sebuah senyum muncul dari bibir Tiffany namun tanpa anggukan

“Ne, tapi aku ingin membahagiakan orang yang kucintai terlebih dahulu”,

“Siapakah orang lain yang kau cintai selain kami Fany~ah”, tanya Ibu Tiffany lagi

“Kim Taeyeon, Mommy”

“Apakah ia begitu penting?”, sekali lagi Ibu Tiffany bertanya kepada Tiffany memperjelas apa yang sebenarnya diinginkan anaknya

“Ne Mommy”, jawab Tiffany dan mengangguk

“Kalau begitu kembalilah, buat dia bahagia, kemudian setelah itu datanglah pada kami”, kata daddy Tiffany yang sedari tadi hanya diam memperhatikan anak bungsunya

~~~~~

Taeyeon melangkahkan kakinya dengan lemas. Bahunya seperti sedang membawa beban berat sekalipun pada kenyataannya ia tak membawa apa-apa.Ia sudah lelah dengan yang terjadi pada hidupnya. Apakah ia harus menyerah saat ini? menyerah pada cintanya dan menyerah pada Tiffany. Sudah lima bulan dari kecelakan itu dan Tiffany tidak sadar dari tidur panjangnya

Saat sampai di kamarnya ia tak sengaja menemukan sebuah CD. CD yang dulu diberikan Taeyeon saat ulang tahunya dua tahun yang lalu.Taeyeon tak pernah mendengarkannya sampai habis selama ini. Entah anginapa tiba-tiba ia ingin mendengarkan CD yang tak pernah ia sentuh selama beberapa bulan ini. Ia kira CD di dalamnya hanya berisi lagu-lagu yang ia sukai. Taeyeon hampir tertidur saat mendengarkan setiap lagu dalam CD itu.Sampai akhirnya mata Taeyeon terbelalak karena di akhir lagu itu terdapat suara yang familiar di telinganya, suara Tiffany.

Kim Taeyeon, Selamat ulang tahun.semoga panjang umur

Semoga saja dengan hadiah ini kau bahagia. Aku juga ingin mengungkapkan perasaanku padamu, perasaan yang selama ini kupendam, maaf karena aku hanya bisa mengatakannya lewat CD ini, aku tak bisa mengungkapnya secara langsung, aku terlalu pengecut untuk mengatakan di depanmu.

Aku mencintaimu Kim Taeyeon

Aku mencintaimu sejak dulu, setiap saat rasa ini tumbuh dengan liar dan aku tak bisa mengendalikannya.

Dan apakah kau mencintaiku?

Aku menunggu jawabanmu….

Taeyeon kembali terisak. Jadi selama ini Tiffany sudah memendam cinta untuknya dan di hari Tiffany ingin memdengarkan jawaban atas pernyataan cintanya Taeyeon sama sekali tidak menjawabnya, ini semua karena kebodohannya. Taeyeon ingin berteriak, berteriak karena kebodohnya, seharusnya sedari dulu kenapa baru saat ini…kenapa…kenapa…kenapa…

“Mungkin saja ini balasan dari Tuhan untukku, aku telah membuatmu menunggu saat lama maka sekarang aku harus menunggumu Fany~ah”

1st Day To Remember

Tiffany POV

Tadi itu apa? Kenapa aku berada di ruangan seberba putih dengan beberapa juta jendela disana, kenapa keluargaku semua disana?

Kini semua cahaya putih berubah menjadi hitam kelam. Dari kejauhan aku melihat cahaya terang, kuikuti cahaya itu tiba-tiba muncul seorang balik siluent lagi, kali ini hanya seorang dari, ia mengulurkan tangannya sambil meneriaki namaku, saat aku sudah semakin dengan dirinya tiba-tiba saja ia berlari menjauh dariku, kenapa? Kenapa dia berlari?Apakah dia ingin aku mengejarnya?Saat aku sudah sampai pada ujung sinar itu tiba-tiba aku mulai merasakan kain menempel pada pada diriku.ku gerakkan tanganku, mencari- mencari sesuatu. Entah apa yang kucari, aku pun tak tau juga. Kubuka mataku lagi, entah sudah keberapa kali aku membuka mata hari ini mungkin dua kali saat tadi di ruangan serba putih dan yang kedua adalah saat ini.Pandanganku kabur.

Tiba-tiba bayangan lain datangan dikepalaku, bayangan yang hanya beberapa detik tapi berhasil membuat seluruh tubuhku merinding ketakutan, apa itu tadi? bayangan kecelakan itu sungguh menyeramkan, tadi itu seperti kenyataan. Kupijat pelipisku.Kurasakan keringat membanjiri seluruh tubuhku, juga baju tidurku.Seluruh tubuhku basah dan napasku masih saja memburu seakan lari ratusan karena bayangan tadi.

Kuraba seluruh tubuhku dan memeriksa setiap jengkalnya, memeriksa apakah ada luka di tubuhku, berharap tidak menemukan lecet atau luka apa lagi darah. Bagaimana kalau bayangan itu terjadi?

Aku menarik nafas panjang, berusaha mengontrol napasku yang tersengkal.Jantungku masih saja berdetak karuan karena bayangan tadi, ku pegangan erat jantungku berusaha membuatnya normal lagi tapi akhirnya tak berhasil juga.Tanganku meraba meja, mencari gelas minuman yang yang kuletakan disana.Dimana gelasnya? Something’s wrong. Dimana ini?Kenapa aku baru sadar kalau ini bukan kamarku, mataku menyusuri tiap sudut kuruangan mencoba menebak dimana sebenarnya aku ini.

Mungkinkah aku berada di rumah sakit?Apakah mungkin semua bayangan itu nyata? Ah semua ini membuatku semakin pusing, rasanya kepalaku semakin berat saja dan berputar.

Krekk

Kudengar seseorang berusaha membuka pintu ruangan, aku belum bisa melihat dengan jelas siapa orang yang membuka pintu ruangan, ku arahkan mataku kepada sosok itu, tiba-tiba kurasakan jemariku diremas, kutatap sosok yang semakin dekat denganku

“Fany~ah akhirnya kau sadar juga”, ucapnya sambil terus memegang erat tanganku

‘Taeyeon’ ucapku tak bersuara

“Fany~ah kenapa kau diam saja?Apakah kau lelah”, Taeyeon~ah kau Kim Taeyeon benar, orang yang selama ini aku cintai, kenapa kau tau aku berada disini?Dari mana kau tau?

Taeyeon POV

“Fany~ah kenapa kau diam saja? Apakah kau lelah”, tanyaku padanya, ia hanya mengangguk kecil. Matanya masih sayu, walaupun begitu ia masih tetap berusaha memberikan aku senyuman, seakan ingin menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Betapa berharganya senyuman itu saat ini. Aku tau ia ingin mengucapkan sebuah kata untuk ku tapi masker oksigen itu membuatnya sulit berbicara. Ini pertama kali dalam hidupku melihat dia lemah seperti ini, pasti di hari-hari kedepan aku akan sering melihatnya lemah seperti ini. Perih hatiku melihat ia tak perdaya seperti ini, kalaupun aku bisa, aku ingin mengantikan posisinya saat ini, namun aku tak punya daya untuk melakukannya, bahkan sedikitpun aku tak membayangkan dia Tiffany yang dulu akan kenal dengan segala keceriannya menjadi seperti ini, tergolek tak berdaya seperti ini.

Perlahan air mataku jatuh dari pelupuk, Tiffany mengangkat tangan kanannya dan menghapus air mataku. Kugengam tangannya seakan aku ingin mentransferkan semua kekuatanku supaya ia mampu bertahan sampai akhir

Dulu aku selalu berusaha menepis segala cintaku padanya saat ia masih sehat akan tetapi saat ini semuanya menjadi terbalik, kini aku ingin terus bersamanya, merengkuh erat dalam dekapanku dan berkata bahwa kau akan baik-baik saja selama ada aku. Seandainya aku tau sedari dulu aku ingin mengatakan bahwa ia tak perlu berjuang sendirian masih ada aku disini yang akan selalu berada disisinya. Entah bagimana mana jadinya nanti aku sudah memutuskan akan selalu bersamanya bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun.

“Fany~ah aku panggilkan dokter dulu supaya kau diperiksa”, izinku padanya, akan tetapi ia mengeleng lemah, ia terus memegang tanganku erat seakan ia tak ingin aku pergi dari sisinya. Baiklah mungkin nanti saja

“Mulai saat ini aku akan selalu bersamamu, sebagai keluargamu, sebagai sahabatmu, dan sebagai kekasihmu”, dia tersenyum lebar padaku, betapa berartinya senyuman itu saat ini Fany~ah Saranghae

Satu hari penuh aku berada di rumah sakit bersama. Setelah tau Tiffany sadar aku seakan engan meninggalkan ia sendiri. Lama aku duduk di sampingnya, menatapnya sampai akhirnya ia terlelap bersama mimpinya, tidurnya tampak lelap dan akhirnya akupun jatuh tertidur sambil memgang erat tangan kanannya yang dingin seperti es

TBC

Curcol Lumut

Ok saya datang

kalian seneng kagak kalau ane apdate secepat ini?????

Aku mau omong apa coba?

Bingung deh

Ya udah deh bye bye reader

Jangan lupa RCLnya yah

Iklan

58 thoughts on “7 Days to Remember Beautiful Love Chapter 2”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s