Fantasy, SNSD, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 9 (YulSic)

 

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

 

 Part 9

Jessica dan Yuri duduk di pinggir kolam yang berada di taman. Sejak tadi Yuri tidak melepaskan tangan Jessica. Firasatnya mengatakan kalau tidak akan lama lagi ia akan kembali ke masa depan. Karena itu ia tidak ingin melepaskan tangan Jessica meskipun hanya sedetik. Ia ingin membawa gadis itu bersamanya.

Sebenarnya Yuri belum mengatakan pada Jessica kalau ia akan membawa gadis itu bersamanya ke masa depan. Ia takut kalau Jessica akan menolaknya. Ia tahu Jessica juga mencintainya. Hanya saja ia masih tidak yakin Jessica akan setuju untuk ikut bersamanya. Bagaimana juga keluarga Jessica berada disini. Ia yakin gadis itu tidak akan dengan mudahnya memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan pergi bersamanya ke masa depan.

“Mengapa kau hanya diam?” Jessica menyelipkan lengannya di lengan Yuri kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Yuri. “Biasanya kau tidak pernah berhenti bicara.”

“Benarkah?” Yuri menatap riakan air kolam yang ditimbulkan oleh guguran daun. Ia tersenyum melihatnya. Duduk disini bersama Jessica, benar – benar nyaman.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Masa depan.” Yuri mencium puncak kepala Jessica kemudian membelai lembut rambut gadis itu.

“Benarkah?” Jessica kembali duduk dengan tegak lalu memiringkan kepalanya untuk melihat bagaimana ekspresi Yuri. “Aku penasaran bagaimana masa depan itu.”

“Kalau kau penasaran, mengapa kau tidak melihatnya sendiri?”

“Ck, kau lucu sekali.” Raut wajah Jessica berubah. Bagaimana mungkin ia melihat masa depan yang dilihat Yuri? Itu terjadi seratus tahun lagi. Ia tidak akan hidup selama itu. “Ceritakan saja padaku.”

“Hmm..” Yuri menggaruk dagunya mencoba membayangkan masa depan. “Masa depan itu sangat indah.”

“Seindah apa?” Jessica terlihat penasaran.

“Sangat indah.” Yuri menatap langit yang mendung kemudian menarik nafas dalam. “Kau akan melihat begitu banyak warna hijau. Sangat banyak pohon. Orang – orang lebih suka berjalan kaki atau menggunakan sepeda daripada memakai kendaraan bermotor. Tidak ada anak yang lebih kuat mengganggu anak yang lebih lemah darinya. Kami semua setara. Saling menghormati, dan menghargai. Kau tidak akan melihat kejahatan di jalanan. Tidak ada yang punya cukup waktu untuk melakukan kejahatan.”

“Benarkah? Berarti penjara disana kosong?” Jessica semakin tertarik.

“Tidak juga.” Yuri memasang senyum jahilnya. “Penjara disana sangat penuh. Para polisi menangkap siapapun yang menangis.”

“Jinjja?”

“Kenapa? Kau takut?” Yuri terkekeh. “Aku hanya bercanda. Mengapa kau begitu mempedulikan penjara jika sangat banyak sesuatu yang indah di masa depan?”

“Lanjutkan!” Jessica duduk dengan manis menunggu Yuri melanjutkan ceritanya. “Ceritakan lebih banyak lagi.”

Yuri berpikir sejenak sebelum melanjutkannya. “Tidak ada kemiskinan, tidak ada kelaparan, tidak ada perang. Kau bahkan tidak akan melihat anak kecil yang menangis karena es krimnya terjatuh.”

“Sepertinya sangat indah. Terdengar seperti surga.” Jessica menundukkan kepalanya. “Pasti menyenangkan bagimu tinggal di tempat seperti itu.”

“Tentu saja.” Yuri tersenyum kecil. “Wae? Kau mau tinggal disana juga?”

“Kau mau mengajakku?” Terdengar nada antusias dari kata – kata Jessica.

“Tentu saja.” Senyuman Yuri semakin melebar.

“Jinjja?”

“Mengapa tidak?” Yuri semakin mengeratkan genggamannya. “Karena itu jangan pernah melepaskan tanganku.”

“Ya! Kalian mengotori pemandangan disini.” Seseorang berteriak tepat di belakang mereka. Keduanya serempak menoleh dan mendapatkan wajah menyebalkan dari Kim, Shona, dan Mona.

“Mengapa kita harus bertemu mereka disini lagi?” Yuri berbisik di telinga Jessica. “Apa mereka tidak ada pekerjaan lain selain menguntit kita?”

“Kau pikir kami tidak bisa mendengar kalau kau berbisik seperti itu?” Kim menarik lengan Yuri hingga membuat. Yuri berdiri, sementara Mona menarik rambut Jessica dengan kasar dan menyebabkan Yuri dan Jessica terpisah sekitar dua meter.

“Apa yang kau lakukan?” Yuri mencoba melawan dan melepaskan pegangan Kim darinya.

Shona mendekat dengan senyum sombongnya. Kemudian ia memegang dagu Yuri dengan kasar. “Kau berani melawan kami?”

“Lepaskan dia!” Jessica berteriak. Ia juga mencoba memeberontak, namun Mona menahannya.

“Ho..ho..” Shona tertawa di antara keduanya. Ia kemudian mencengkeram kerah Yuri sementara temannya, Kim memegangi kedua tangan Yuri. “Aku tidak mau melepaskannya begitu saja. Eottoke?”

Yuri mengangkat dagunya mencoba menantang Shona. “Apa yang sudah aku lakukan padamu sehingga kau memperlakukanku seperti ini?”

“Kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan?” Shona mendorong – dorong Yuri penuh kebencian. “Kau penghianat!”

Yuri mencoba membebaskan diri. Ia berhasil melepaskan tangannya dari Kim. Namun Shona menangkapnya dan mendorongnya ke arah kolam. Yuri yang belum sepenuhnya menguasai keseimbangan tubuhnya tidak mampu menahan dorongan Shona sehingga tercebur ke dalam kolam.

“YURI!!” Teriak Jessica. Ia mendorong Mona sehingga gadis itu terpental kemudian berlari menuju kolam. Ia menunggu di tepi kolam. Namun Yuri tidak muncul.

Melihat Yuri yang tidak kunjung muncul dari kolam, Shona mundur beberapa langkah karena takut kemudian pergi melarikan diri. Melihat ketua geng mereka kabur, Kim dan Mona ikut kabur bersamanya.

“Yuri!” Jessica yang tidak melihat tanda – tanda keberadaan Yuri di kolam mencoba masuk dan mencari Yuri sendiri.

Tinggi air kolam hanya sebatas pinggang Jessica. Tidak mungkin Yuri tenggelam. Tidak mungkin juga Yuri hanyut karena. Tidak ada arus di kolam ini yang mampu menghanyutkan Yuri. Lalu kemana Yuri menghilang? Mengapa dia tidak ada?

***

Setelah mencari ke seluruh kolam dan tetap tidak menemukan Yuri, Jessica memutuskan untuk keluar dari kolam itu. Hari sudah semakin gelap dan ia sudah memeriksa kolam itu berkali – kali. Yuri benar – benar menghilang. Bahkan Jessica tidak bisa menemukan tubuh Yuri meskipun ia melihat sendiri Yuri jatuh ke dalam kolam itu. Apa mungkin Yuri dibawa penunggu kolam yang pernah ia ceritakan dulu?

Dengan tubuh gemetar dan pakaian yang basah dan berlumpur, Jessica berjalan kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia sama sekali tidak bisa berpikir. Padahal ia baru saja merasa sangat bahagia karena kebersamaannya dengan Yuri. Lalu mengapa Yuri tiba – tiba menghilang seperti itu?

Saat Jessica benar – benar merasa putus asa, akhirnya ia menemukannya. Ia melihat Yuri sedang menaiki tangga asrama. Sepertinya ia akan kembali ke kamarnya. Wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat. Segera Jessica mengejar dan menghampirinya.

“Yuri! Syukurlah kau baik – baik saja.” Jessica menarik lengan Yuri membuat langkah gadis itu terhenti.

Yuri berbalik dan matanya membesar saat melihat Jessica. Kemudian pandangannya beralih pada lengannya yang di pegang oleh Jessica. “Singkirkan tangan menjijikkan ini dariku!”

“Mwo?” Jessica melepaskan Yuri. Kemudian tangannya terkulai lemah di kedua sisi tubuhnya. Tatapan Yuri. Tatapan Yuri padanya. Ada yang berbeda dengan itu.

Setelah Jessica melepaskannya, Yuri memutar tubuhnya kemudian kembali berjalan menuju kamarnya. Ia tidak peduli dengan mata Jessica yang mulai berkaca – kaca.

“Yul? Apa kau Yul?”

Gadis itu tidak peduli saat Jessica memanggilnya. Raut wajahnya terlihat lelah. Ia sedang tidak ada keinginan untuk meladeni Jessica.

“Yul kembali?” Jessica bicara di dalam pikirannya. “Yul kembali tepat di saat Yuri menghilang. Apa itu artinya semua sudah kembali seperti semula? Apa Yuri sudah kembali ke masa depan? Tapi dia bilang dia akan mengajakku bersamanya.

Dengan langkah gontai Jessica kembali ke kamarnya. Yuri sudah pergi meninggalkannya sendirian. Tidak bisakah Yuri tinggal lebih lama lagi? Ia bahkan belum sempat mengatakan perasaannya pada Yuri. Memang Yuri sudah mengetahuinya meskipun ia tidak pernah mengatakannya. Tapi setidaknya ia ingin mengatakan sekali saja pada Yuri sebelum mereka berpisah. Ia tidak bisa membiarkan Yuri pergi seperti ini. Ia tidak rela.

Jessica membuka pintu kamar dan menemukan Yuna sedang membongkar laci mejanya mencari sesuatu. Wajahnya terlihat panik. Bukan! Bukan panik, lebih tepatnya ketakutan.

“Yuna!” Jessica mendekati Yuna dan berdiri di belakang gadis itu. “Yuri sudah kembali. Dia meninggalkanku.”

Yuna melirik Jessica sekilas, mendesis, kemudian melanjutkan aktifitasnya.

“Yuna!” Jessica memanggil Yuna sekali lagi.

Kali ini Yuna berbalik dan menatap Jessica. “Bisakah kalian semua berhenti bersikap aneh? Selama ini aku tidak pernah bicara denganmu karena aku tidak ingin kau juga bicara denganku. Jadi tetaplah seperti itu dan jangan membuatku bingung! Aku sudah sangat kebingungan karena tidak bisa mengingat apapun selama beberapa hari terakhir ditambah lagi dengan orang – orang yang selalu membicarakan hal aneh. Tetaplah tidak bicara padaku agar aku tidak bertambah bingung!”

“Yuna!” Jessica menutup mulutnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. “Kau juga? Apa Sunny.. Sunny juga sudah kembali? Kalian semua?”

“Aaah! Ada apa dengan semua orang?” Yuna mengumpat. Kemudian ia pergi ke kamar mandi dan membanting pintu.

Jessica terduduk lemas di lantai. Ia masih tidak percaya semua ini terjadi padanya. Secepat inikah? Semudah itukah Yuri pergi meninggalkannya? Apa kehidupannya akan kembali seperti dulu lagi? Kembali seperti dulu sebelum Yuri datang padanya.

***

“Kau penghianat!” Shona berteriak di depan wajah Yuri. Yuri tidak peduli padanya meskipun Shona berteriak padanya. Mata Yuri fokus pada Jessica. Gadis itu membutuhkannya. Ia terlihat kesakitan saat Mona mencengkeram tangannya. Yuri bersumpah tidak akan memaafkan siapapun yang berani menyakiti Jessica.

Yuri mencoba memberontak. Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa lepas dari cengkraman Shona dan Kim. Ia memilin perut Kim dengan jarinya yang bebas membuat gadis itu melepaskan pegangannya dari Yuri. Ini kesempatannya. Ia akan segera menyelamatkan Jessica.

Ternyata Yuri kalah cepat. Shona lebih dulu mendapatkannya bahkan sebelum ia berhasil menggerakkan kakinya satu langkahpun. Shona mencoba mencengkeramnya dan ia berusaha untuk menghindar. Namun saat Yuri menghindari Shona, ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh ke kolam.

“Apa? Kolam?” Batin Yuri. Banyak ikan di dalam kolam. Ia sangat membenci ikan. Lebih tepatnya takut pada ikan hidup. Ia tidak ingin jatuh ke kolam. Ia lebih memilih jatuh ke dalam pelukan Jessica daripada jatuh ke kolam.

Namun takdir berkehendak lain. Ia pada akhirnya tetap jatuh ke kolam. Tubuhnya yang terhuyung tanpa keseimbangan jatuh dengan suksesnya di air kolam yang dingin. Yuri menutup matanya agar ia tidak melihat ikan berseliweran di depan wajahnya. Tapi ia merasa ada sesuatu yang aneh. Di saat ia seharusnya jatuh di dasar kolam yang penuh dengan lumpur, ia malah merasakan punggungnya terhempas di sesuatu yang keras. Ia merasakan udara. Tidak ada lagi air. Dan bau rumput.

Yuri membuka matanya perlahan. Ia melihat hari sudah sangat gelap dan begitu banyak orang mengelilinginya. Ia melihat sekitarnya dan menemukan Yuna dan Sunny berdiri tidak jauh darinya bersama dengan beberapa orang lain. Mereka terlihat kebingungan. Sama kebingungannya dengan dirinya.

Tempat ini. Yuri mengenal tempat ini dengan baik. Mereka sedang berada di lapangan kampus. Tempat yang sama sebelum ia terdampar di masa lalu. Dan suasana itu. Semua orang yang ada disitu. Yuri mengenalnya. Ia sudah kembali ke masa depan.

“Sicca?” Yuri tersadar kemudian mulai mencari di antara orang – orang yang berkerumun itu. Ia mencari sosok Jessica. Ia berharap Jessica ada disana. Ia berharap salah satu dari orang – orang itu adalah Jessica.

Melihat Yuri yang panik, Yuna yang juga sudah menyadari kalau mereka sudah kembali berada di masa depan, menghampiri Yuri dan mencoba menghiburnya. Yuna memeluk Yuri kemudian berbisik. “Jessica tidak ada disini. Kau harus terima kenyataan itu.”

“Mwo?” Yuri mendorong Yuna menjauh. Kemudian ia melihat tangannya sendiri. “Harusnya aku tidak melepasnya. Harusnya aku terus memegang tangannya. Aku benar – benar bodoh.”

Yuna melihat sekeliling. Sunny sudah kembali berkumpul dengan keluarganya. Begitu juga dengan beberapa anak lain yang ikut menghilang bersama mereka. Semua terlihat bahagia bisa kembali. Hanya Yuri yang tidak bahagia.

***

Setelah mencari Yuri seharian, Yuna akhirnya menemukan saudaranya itu sedang duduk di sudut lorong. Yuri duduk di lantai dengan membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Beberapa hari ini Yuri selalu murung. Ia bahkan juga melakukan hal – hal nekat. Dua kali ia kedapatan nyaris menyengat Gama yang sudah diperbaiki dengan arus listrik tegangan tinggi. Untung saja ada yang melihatnya dan menghentikan ulahnya itu sebelum ia sempat celaka. Yuna tahu tujuan utama Yuri berencana menyengatkan listrik pada Gama. Saat itu mereka sampai di masa lalu setelah Gama tersambar petir. Ia ingin kembali lagi ke masa lalu karena itu ia berencana menyengat Gama dengan listrik. Meskipun paham dengan tujuan Yuri, Yuna tetap tidak bisa membiarkannya. Bagaimana jika Yuri gagal dan malah terluka?

Yuna mendekati Yuri. Namun begitu mengetahui ada yang mendekatinya, Yuri berdiri dan berjalan sempoyongan.

“Yuri! Kau mabuk?” Yuna menahan lengan Yuri.

Yuri hanya tertawa hampa. Kemudian ia menenggak sebuah botol berwarna merah muda yang sejak tadi di genggamnya.

“Apa yang kau minum ini?” Yuna merebut botol itu dari tangan Yuri padahal Yuri baru berhasil meminumnya seteguk. Yuna kemudian membaca label pada botol itu dan mengernyit. “Susu? Kau mabuk karena minum ini?”

Yuri tidak mengindahkan Yuna. Ia kembali berjalan sempoyongan setelah mengambil kembali botol minumannya. Yuna mengikutinya dari belakang.

Sunny muncul dari sebuah ruangan dan menghentikan langkah Yuna. “Sebaiknya kau membiarkannya. Yuri butuh waktu untuk sendiri.”

“Bagaimana jika ia melakukan hal bodoh lagi?” Yuna terus mengawasi Yuri dari balik bahu Sunny.

“Tidak akan.” Sunny terlihat yakin. “Mereka sudah menyembunyikan Gamma.”

“Bagus kalau begitu.” Yuna mengangguk. Meskipun ia tidak lagi mengikuti Yuri, tapi ia tidak bisa berhenti mencemaskan Yuri. Kemudian ia melihat ke arah Sunny. Sunny tampak sama khawatirnya dengan dirinya. “Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu.”

“Aku baik – baik saja.” Sunny mencoba tersenyum. “Tapi.. Aku menemukan sesuatu yang aneh.”

“Aneh?”

“Benar! Kau ingat sepupuku Hyoyeon?” Sunny menunggu respon dari Yuna. Setelah melihat gadis itu mengangguk, ia melanjutkan kata – katanya. “Dia juga terjebak di lubang hitam sama seperti kita. Hanya saja yang ia alami tidak sama seperti yang kita alami.”

“Apa yang terjadi padanya?” Yuna terlihat penasaran.

“Yang ia ingat hanya ia menghilang saat pulang dari kampus kemudian muncul keesokan harinya di tempat yang sama. Mendengar ceritanya itu, aku mencoba menanyai anak – anak lain yang juga menjadi korban pada kejadian itu. Cerita mereka sama persis seperti Hyoyeon. Hanya kita bertiga yang terdampar di masa lalu.” Sunny memiringkan kepalanya mencoba memikirkan kata – katanya sendiri. “Bukankah itu aneh?”

“Mengapa hanya kita?” Yuna ikut berpikir.

“Oh!” Sunny melihat jam tangannya. “Aku ada kelas lain. Sampai nanti!”

Gadis kecil itu berlari meninggalkan Yuna sendirian. Yuna terus memikirkan kata – kata Sunny barusan. Memang itu sangat aneh. Mereka semua menghilang dengan cara yang sama. Mereka juga kembali dengan cara yang sama secara misterius. Tapi mengapa hanya ia, Yuri, dan Sunny yang terlempar ke masa lalu? Apa yang terjadi dengan anak – anak lainnya? Kemana mereka selama ini?

Yuna yang berjalan sambil berpikir, tanpa sadar menubruk seorang gadis yang berjalan di depannya hingga gadis itu berlutut di lantai. Barang – barang yang di bawa gadis itu tumpah dan berserakan di lantai.

Menyadari kesalahan yang ia buat, Yuna buru – buru menghampiri gadis tersebut dan membantunya mengumpulkan barang – barang yang berserakan. “Mianhe! Aku tidak memperhatikan jalan. Kau baik – baik saja?”

“Aku baik – baik saja.” Gadis itu tersenyum sambil menyelipkan beberapa helai rambutnya yang hitam panjang di belakang telinga.

Jantung Yuna berdegup dengan kencang saat melihat wajah itu. Barang – barang yang ia kumpulkan kembali terjatuh ke lantai. Ia sangat mengenal wajah itu. Senyuman yang seperti malaikat itu. Bahkan tatapan matanya yang menghangatkan.

“Profesor Seo?” Suara Yuna terdengar tercekat. Bagaimana mungkin Profesor Seo ada disini? Ia terlihat jauh lebih muda, jauh lebih bersinar, tapi.. Dia perempuan? Yuna tidak pernah membayangkan Profesor Seo menjadi perempuan sebelumnya. Dan setelah ia melihat Profesor Seo dalam wujud gadis muda seperti sekarang, hanya ada satu kata yang ada di otaknya. “Yeppeo!”

“Ne? Profesor Seo?” Gadis itu terlihat bingung. Apalagi setelah melihat Yuna menjatuhkan barang – barangnya lagi.

“Maafkan aku!” Yuna kembali memungut barang yang berserakan itu. “Aku pikir kau seseorang yang aku kenal.”

“Tentu saja kau mengenalku.” Gadis itu mendengus kesal. “Aku Sunbaemu.”

“Jinjja?” Yuna membelalak kaget.

“Kau tidak tahu?” Wajah gadis itu terlihat sedih. “Atau kau tidak ingat padaku? Kau tidak ingat pada Sunbaemu?”

“Maafkan aku Sunbaenim!” Yuna membungkuk sembilan puluh derajat.

“Tidak perlu memanggilku begitu.” Gadis itu tertawa. “Kau cukup memanggilku Seohyun. Sebenarnya aku lebih muda darimu.”

“Kau lebih muda dariku?” Yuna mengernyit heran. “Tadi kau bilang kalau kau Sunbaeku. Kau sedang mengerjaiku?”

“Memang aku lebih muda darimu. Tapi aku tetap Sunbaemu.” Seohyun tersenyum. Benar – benar manis. “Apa terlalu membingungkan?”

Yuna menggeleng. Senyuman Seohyun berhasil menghipnotisnya. Seperti senyuman Profesor Seo yang selalu membuatnya terhipnotis. Mengapa mereka bisa semirip ini? Tidak. Senyuman Seohyun bahkan bisa membuat jantungnya berpacu lebih cepat lagi.

Tanpa di duga, Yuna mendekati Seohyun kemudian mencium bibirnya. Hanya ciuman singkat. Setelah itu ia berlari sambil berteriak kegirangan. “Ya! Aku mendapatkanmu!”

Seohyun berdiri mematung, masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya bersemu merah. Kemudian ia menoleh ke belakang tempat dimana Yuna berlari tadi. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun Yuna sudah tidak terlihat lagi.

-TBC-

 

Iklan

41 thoughts on “TIME TRAVEL Part 9 (YulSic)”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s