BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 6

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (Shin Min Rin aka sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love

Ps. Siapin ‘playlist’ lagu2 diatas biar tambah mantep bacanya.. hehehe XD

Now that sadness slowly accumulates
Although I know that you really left
I can only hope to be nicer to you when you are back

(Lost in Love — Taeyeon&Tiffany SNSD)

Chapter 6

Tiffany merentangkan tangannya di samping kasur namun ia tidak merasakan apapun, tempat itu kosong. Rasa kantuknya masih belum hilang saat dia mencoba menepuk bantal kecil di sampingnya, berharap untuk dapat meraih tubuh anaknya yang mungkin sedang melingkarkan tubuhnya yang mungil seperti bola atau mungkin saja gadis kecil itu melepaskan pelukannya saat mereka tengah tertidur pulas.

Setelah mencoba beberapa kali menepuk-nepuk tempat yang sama, sepertinya usahanya sia-sia saja. Sebuah pikiran negatif tentang mungkin saja anaknya menghilang entah kemana seketika menyambar kepalanya, membuat Tiffany tiba-tiba terlonjak dan merasakan aliran darahnya berdesir hebat. Sambil menyelipkan kaki pada sendal selopnya, Tiffany menggeleng-gelengkan kepala. Dengan tergopoh-gopoh, ia keluar kamar dan menemukan Juhyun tengah duduk di atas meja makan kecilnya sambil meminum susu dan mengunyah roti panggangnya.

Dan juga tak ketinggalan, seorang gadis yang tengah berdiri tepat di depan seperangkat alat masak sederhana yang disediakan di ruangan mereka.

“Selamat pagi, Mommy….” Tiffany mendengar Juhyun menyapanya.

“Selamat pagi, babby…”

“Tae… Taey—TaeTae memberiku roti panggang.” Kata Juhyun sambil mengernyit, berusaha untuk mengeja namanya. Sungguh manis.

Tiffany merasakan seolah perutnya diaduk saat mendengar nama yang familiar itu dari mulut anaknya.

Mianhae, sepertinya dia kesulitan mengucapkan namamu.” Tiffany berkata saat ia menoleh ke arah gadis yang sedang berada di depan kompor.

“Tidak masalah…” Ia mendengar Taeyeon menjawab tanpa membalas tatapannya.

Sambil mendesah lirih, Tiffany mencoba untuk memfokuskan perhatiannya kembali pada Juhyun. Bisa berada dalam satu ruangan dengan Taeyeon saja seharusnya sudah jadi keajaiban baginya, karena sesungguhnya, apa yang telah ia lakukan dulu dapat disebut sebuah kejahatan.

‘Setidaknya ia mau berbicara denganmu…’

“Apa kau sudah berterimakasih atas makananmu, baby?”

Juhyun mengangguk saat Tiffany mengangkatnya, gadis kecil itu kini sedang duduk di pangkuannya sambil melanjutkan sarapannya.

“Dia sudah bangun saat aku keluar kamar jadi aku memutuskan untuk membuatkannya sarapan. Untungnya kulkas disini terisi penuh jadi….”

Tiffany melihat Taeyeon berjalan ke arahnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, pertanda bahwa ia sedang malu. Tiffany hanya bisa tersenyum melihatnya.

Beberapa hal darimu yang takkan pernah berubah, huh?

Sesungguhnya, dia berpikir Taeyeon masih marah padanya. Baik, memang seharusnya begitu, kan?

“Dia juga selalu bangun lebih awal dariku, ajhumma kecil.” Kata Tiffany sambil merapikan rambut Juhyun yang masih berantakan.

“Juhyun bukan ajhumma, mommy..” Gadis kecil itu cemberut lalu kembali melahap rotinya.

“Aw, maaf. Juhyun bayi kecil Mommy, iya kan? Iya kan?” Tiffany meremaas paha Juhyun lalu dibalas dengan kikikkan kecil yang manis.

“Aku memasak telur dan steak, dan masih ada roti panggang dalam oven. Aku juga memesan kopi dari room service, pesanannya akan segera datang. Aku, uhm,” Taeyeon merasa gugup saat meletakkan piring di meja depan Tiffany. “Aku harus, err, pergi untuk pemotretan hari ini. Oh, dan, uhm, selamat pagi Tiffany…”

Tiffany melihat gadis itu berjalan cepat menginggalkannya bahkan sebelum ia dapat berkata-kata.

_____

Taeyeon harus segera pergi sebelum air mata yang terbendung di pelupuk matanya tumpah. Percakapan antara ibu dan anak yang telah ia lihat tadi pagi sudah terlalu berat untuk dapat ia tahan, dan hal itu mengingatkannya pada sesuatu yang seharusnya ia miliki. Itu bukan kesalahannya, atau mungkin iya, namun tetap saja, gambaran yang sudah dengan susah payah ia hapus tampak melekat dengan sendirinya dalam ingatannya.

‘Aku selalu percaya kau akan menjadi ibu yang baik.’

Untungnya, Tiffany terlalu memfokuskan perhatiannya pada Juhyun. Taeyeon mengingnkan apa yang mereka berdua miliki. Jika tidak, hal itu akan terlihat sangat mengerikan dan sangat memalukan. Taeyeon bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk membuatkan sarapan Tiffany dan anaknya, dan entah mengapa ia merasa bangga dapat melakukannya. Hanya itu hal terbaik yang bisa kau lakukan dalam sebuah keluarga, dengan pahit ia berkata pada dirinya sendiri.

Taeyeon berganti pakaian dan mengambil kameranya. Taeyeon harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sedang tidak dalam liburan panjang dan pekerjaan ini harus segera ia selesaikan walaupun saat ini ia terasa seolah sedang berada di surga.

Sambil mendesah, Taeyeon keluar kamar lalu hotel. Ia merasakan kamera di pundaknya semakin berat. Selama beberapa saat, ia berpikir semua itu hanyalah beban. Ya, ia gemar memotret paasangan dengan elemen yang paling natural, cinta. Namun, setiap kali ia menjepret sebuah gambar, sedikit bagian dari dirinya mati bersama cita-citanya yang telah hilang, berpisah dengan seseorang yang paling dicintainya.

Dia tidak mengerti mengapa ia beralih profesi dimana semua yang dapat ia lihat hanya akan mengingatkannya kembali pada hatinya yang telah hancur. Sahabatnya mengatakan bahwa semua ini adalah upaya membunuh dirinya sendiri secara perlahan, namun setelah beberapa bulan menjalankan bisnis ini, Taeyeon telah belajar banyak hal.

Bahwa cinta masih ada.

Walaupun tidak semua orang tampak seperti dirinya, hal itu masih tetap ada.

“Kim Taeyeon!”

Taeyeon menoleh dan merasakan sebuah pukulan mendarat di kepalanya.

“Yah! Lee Sunk—..”

“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kalian sudah saling berbicara? Bagaimana keadaannya? Mengapa kau tidak menjawab!!”

Sunny mengapit pipi Taeyeon dengan kedua telapak tangannya dan menggoncang-goncang wajahnya. Taeyeon mungkin tampak seperti ikan emas bodoh namun cengkraman Sunny semakin erat saat Taeyeon mencoba untuk mengalihkan tangan Sunny dari wajahnya.

“Apa!! Mengapa kau tidak menja—Yah!!”

Taeyeon berusaha untuk memukul bagian belakang kepala Sunny, lalu dengan cepat membebaskan dirinya dari tangan Sunny.

“Bagaimana aku bisa berbicara jika kau tak mengijinkanku bahkan untuk membuka mulut ?!” Omel Taeyeon.

“Heh, maaf..”

Taeyeon melihatnya menyeringai dan semua kembali seperti semula. Dia sangat mengerti jika Sunny lebih dari hanya sekedar mencemaskannya, jadi dia memutuskan untuk melepaskan aksi kekanakannya. Disamping itu, tidak peduli seberapa besar dia tidak ingin mengakuinya, ia merasa lega jika setidaknya ada Sunny disini untuk membantunya jika sesuatu terjadi padanya.

Dan nalurinya berkata padanya bahwa sesuatu benar-benar terjadi, sekarang, ia tengah berada di tempat yang sama dengan Tiffany.

“Aku akan memberitahumu segalanya setelah sarapan. Ayo!” Kata Taeyeon sambil menyeret Sunny menuju kafe hotel.

_____

Tiffany merasa seolah ia tengah berada di surga.

“Akhirnya, sekarang aku dapat memilikimu secara sah, seutuhnya, kupastikan aku tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun, Fany.”

“Aku dapat menikah di kamar mandi sekalipun, aku tidak peduli… Asalkan aku dapat bersamamu.”

“Aku akan menikahimu di surga.”

Tiffany membiarkan air matanya mengalir saat ia menatap horison, langit berwarna biru dan sedikit semburat ungu. Hampir terlihat sama seperti hari itu empat tahun yang lalu, sekarang ia masih bingung mengapa sesal yang ia rasakan saat ini tidak terjadi kala itu.

Setidaknya ia tidak perlu merasakan rasa sakit hatinya dan dapat mengembalikan kepercayaan itu seutuhnya.

Tiffany duduk di pinggir pantai, membiarkan air laut membelai kakinya dengan lembut. Sangat dingin untuk disentuh, terlalu dingin, hampir membekukan kakinya.

Seperti apa yang telah dia lakukan, mematahkan hati satu-satunya orang yang mencintainya lebih dari apapun di dunia ini.

Itu benar, tak dapat dimaafkan.

Setidaknya sekarang, ia yakin. Taeyeon pernah mencintainya seorang.

Pernah.

Bagaimana bisa dia pernah meragukannya?

‘TaeTae…. Mianhae…’

_____

-To Be Continued-

Iklan

40 thoughts on “Back For Good Chapter 6”

  1. Klo pun yakin cintanya untuk tae,
    knp harus nyakitin tae pany-ah 😢 brp kali pun qm minta maaf, tae akan sllu memaafkan, itu lah tae yg sllu cinta kelubang yg sama Dan rasa sakit yg sama😐

  2. Drama pernikahan..haha
    Heran gw, banyak banget yang pengen nikah sblm kiamat..kekeke #ngmong apasih -_-///

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s