BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 8

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (Shin Min Rin aka @sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love

Ps. Siapin ‘playlist’ lagu2 diatas biar tambah mantep bacanya.. hehehe XD

You gave me all your love and all I gave you was ‘Goodbye’ (Back to December-Taylor Swift)

Chapter 8

“Fany! Tunggu! Mau pergi kemana kau?”

“Taeyeon, kumohon…”

“Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Aku minta maaf Taeyeon, tapi kumohon… kumohon biarkan aku pergi.”

“Aku merindukanmu, Fany.”

“Aku juga merindukanmu. Kau tidak tahu betapa aku merindukan kalian semua..” Terutama Taeyeon, ia ingin menambahkan.

Sekali lagi Tiffany mendapati dirinya di dalam bar, kali ini bersama Sunny, minum bersama setelah pertemuan heboh mereka di ujung koridor hotel. Mereka sudah berada disana selama beberapa jam, hanya minum dan menghabiskan malam bersama, membicarakan apa saja dan segalanya di bawah sinar matahari.

Termasuk Taeyeon.

“Sunny… Tae… Taeyeon…. Bagaimana?”

“Bagaimana keadaannya?”

Tiffany sudah setengah mati ingin menanyakannya sejak mereka mulai membicarakan tentang apa-apa saja yang telah terjadi selama empat tahun belakangan.

Dia melihat Sunny melirik ke samping sebelum menghela napas.

‘Seburuk itukah, huh?…’

“Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan segalanya padamu, Fany…”

“Kumohon, Sunny? A—Aku ingin tahu..”

“Tahu betapa menderitanya dia setelah kau tinggalkan.”

Tiffany tersentak mendengarnya namun dia tahu, ia pantas mendapatkannya. Dia tahu betapa ia telah menyakiti Taeyeon, betapa ia telah menghancurkan hati Taeyeon.

“Aku… Aku minta maaf.”

“Tidak, Sunny, jangan meminta maaf. Ini semua salahku.”

Keheningan menyingsing keduanya saat mereka kembali menyesap minumannya. Membawa pergi perbincangan yang tadinya hangat dan Tiffany ingin sekali memukul kepalanya dengan botol. Dia kembali bersandar dan menoleh untuk mengamati seisi bar. Masih tempat yang sama dimana dia bertemu kembali dengan Taeyeon. Walau sudah bertahun-tahun lamanya, Taeyeon masih membawa efek itu padanya. Dia merasakan jantungnya berhenti selama sepersekian detik sebelum berangsur-angsur detakannya meningkat. Semua suara disekitarnya mulai tenggelam dalam kepalanya dan matanya hanya dapat fokus pada satu hal, hanya pada Taeyeon.

Dia baru saja akan berpamitan sebelum mendengar Sunny berbicara.

“Ia bertahan disini, bahkan setelah kau tinggalkan. Ia menghabiskan bulan madu kalian yang seharusnya ada, sendirian, hanya ia dan Tuhan yang tahu apa yang dia lakukan. Aku tidak tahu, karena dia bersikeras, sial, dia memohon pada kita semua untuk meninggalkannya dan membiarkannya berpikir. Jadi, kita memberinya waktu.”

Kepalan tangan Tiffany mengeras. Tak ada orang lain yang patut disalahkan kecuali dirinya.

“Taeyeon kembali, setelah dua minggu, terlihat seperti orang yang berbeda. Terus terang, aku menduga Taeyeon akan sangat depresi dan membenci dirinya sendiri, tapi… Dia terus tersenyum saat ia kembali. Dan sejujurnya…  melihatnya seperti itu, semakin membuat kita takut. Kau tahu bagaimana dirinya, dia suka memendam segalanya sendiri.”

Tiffany terus mengangguk.

“Dan beberapa bulan setelahnya, dia memulai bisnis wedding photography. Kau tahu kan mengapa dia memilih pernikahan?” Sunny menatapnya dengan lembut dan dia hampir menangis.

Ya, dia tahu.

Keheningan kembali melingkupi keduanya, hanya suara gemerincing gelas dan botol yang dapat terdengar demgam jelas. Tiffany mulai membiasakan diri dengan suara familiar yang ada di bar itu sampai Sunny memutuskan untuk mengeluarkannya dari zona nyaman yang ada disekelilingnya.

“Sekarang certiakan padaku, Fany… Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tiffany menghela napas sebelum menyemburkan segalanya pada Sunny.

_____

Sunny merebahkan dirinya di atas sofa kamar hotel sambil mendesah. Alkohol bukanlah masalah besar baginya, ia tahu kadar kemampuannya dengan cairan itu. Namun, perbincangannya dengan Tiffany benar-benar membuatnya stress, bahkan lebih menyetresskan dari setumpuk pekerjaan yang sengaja ia tinggalkan hanya untuk menolong Taeyeon.

Apa yang telah ia katakan pada Tiffany benar adanya, semuanya.

Dia hanya menghilangkan bagian dimana dia tidak sengaja berjalan mendekati Taeyeon yang tengah tertidur pada suatu malam saat mereka harus menginap di studio dan ia mengamati gadis malang itu diam-diam menangis dalam tidurnya hampir setiap hari sambil memanggil kembali cinta dalam hidupnya.

Tiffany tidak perlu mengetahuinya.

_____

Ia mendapati dirinya kembali berdiri di depan kamar hotel dengan gugup, mencengkeram kenop pintu dengan satu tangan sedangkan tangannya yang lain menggenggam kartu kunci pintu. Tiffany merasa seolah dia hendak membuka kotak Pandora dan menimbulkan malapetaka bagi alam semesta karenanya, namun pada kenyataannya dia telah menjerumuskan dirinya sendiri sejak dulu.

Sebuah bunyi ceklekan dari kunci pintu menghantarkannya masuk.

Tiffany terkejut mendapati kamarnya ternyata kosong. Dia berbalik menuju ruang tamu dan mendengar suara pelan dari TV yang masih menyala saat dia berjalan mendekat. Dia berpikir mungkin saja Taeyeon sengaja meninggalkannya seperti itu, dia berjalan tepat kearah TV dan mematikannya. Hampir saja ia akan berjalan ke ruangan Taeyeon untuk memastikan apakah anaknya berada di dalam situ, kemudian ia melihat keduanya tertidur pulas di atas sofa.

Tiffany merasa tubuhnya gemetar, dan perlahan, dia mendekati sofa lalu membungkuk untuk mengamati keduanya yang telah tertidur pulas.

Tiffany merasakan setetes air mata mengalir di pipinya, dia lantas membungkam mulutnya untuk menahan isakan saat ia membiarkan kedua matanya basah melihat pemandangan itu.

Taeyeon meregangkan tubuhnya disepanjang sofa, bantalan sofa menopang kepalanya dengan manis sedangkan Juhyun bersandar dengan nyaman pada batang tubuhnya. Kedua lengan Taeyeon melingkar sempurna pada Juhyun, menahannya agar tidak terjatuh dari sofa.

Mereka terlihat tenang.

Selain itu, adegan seperti inilah yang ia harapkan untuk Juhyun dan ayahnya.

Pria itu menjanjikannya sebuah keluarga, keluarga mereka sendiri.

Namun satu-satunya yang ia dapat hanyalah hati yang patah dan janji yang patah.

Kali ini Tiffany membiarkan air matanya mengalir dengan bebas. Adegan itu telah menggetarkan hati sanubarinya dan yang dapat ia lakukan hanya menangis. Tiffany tidak sengaja terisak dan napasnya berhenti saat Juhyun bergeser dari tempatnya. Dengan cepat, ia mengusap air mata di wajahnya kemudian mempersiapkan diri bilamana satu dari mereka atau bahkan dua-duanya mulai terbangun.

Tiffany menghela napas lega ketika tak satupun dari mereka membuka mata. Ia kembali melihat saat Juhyun mencengkeram kemeja Taeyeon, gadis kecil itu semakin meringkuk dibawah dagunya, dan Taeyeon membalasnya dengan mempererat pelukannya.

Ia tidak sampai hati untuk memisahkan mereka berdua, dan sebesar keinginan Tiffany untuk tidur bersama Juhyun disampingnya, ia tidak dapat membuyarkan pemandangan hangat itu.

Sambil tersenyum, Tiffany berdiri dan melangkah menuju lemari dinding untuk mengambil selimut yang bersih. Dia menyaputkan kain itu pada kedua tubuh mereka dan merunduk untuk mencium kening Juhyun. Ia mengarahkan pandangannya pada Taeyeon yang tengah tertidur, ia lantas terkejut melihat gadis itu meneteskan air mata tanpa bersuara.

Tiffany hampir saja akan menyekanya sebelum mendengar Taeyeon berbisik dalam tidurnya.

Dan disitulah ia, masih mengakar di atas lantai, berpikir bahwa hatinya takkan kembali patah malam ini.

Setidaknya sampai dia mendengar Taeyeon memohon padanya dalam diam.

“Kumohon… Kumohon… Tetaplah bersamaku..”

_____

-TBC-

Iklan

43 thoughts on “Back For Good Chapter 8”

  1. Huff😧
    Susah paham thor baca ini ga ngeluarin air mata tp apa yg terjadi mlh sebaliknya.
    Sesek ngebacanya
    Semoga happy ending

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s