SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

7 Days to Remember Beautiful Love Chapter 3 [END]

7

Title : //Author : Hwang Muttiffany aka Mutiara Triastuti//

Ratting : PG-I5//Length : Chapter//Genre : Sad, Romance, Friendship//

Main cast : Tiffany Hwang and Kim Taeyeon//Art : Hwang Muttiffany aka Mutiara Triastuti

2nd Day With You

Taeyeon POV

Saat aku terbangun dari tidurku kurasakan tulang punggungku nyeri mungkin ini efek karena tidur dengan posisi terduduk. Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan, dari jendela kulihat matahari sudah menujukan dirinya. Perlahan kulepaskan gengaman Tiffany dari tanganku, aku belum mandi sedari kemarin sore. Saat aku berusaha melepaskan tanganku kurasakan Tiffany meremas tanganku. Walaupun dalam keadaan tidurpun kau tak ingin aku melepaskanmu Fany~ah?

“Permisi”, suara suster yang masuk tiba-tiba. Suster itu mungkin umurnya masih muda terlihat jelas dari wajah tak ada kerutan sedikitpun. Dengan manis ia memberi senyum padaku. “Saya mendengar kabar kalau sodara Tiffany sudah sadar? Kami harus membawanya ke laboratoriaum untuk diperiksa”

“Izinkan saya memandikan ia sebentar saja, oya boleh minta air hangat untuk membersihkan dia”, pintaku pada suster

“Tentu saja, tolong tunggu sebentar”, ucapnya kemudian berlalu untuk mengambilkan air hangat. Sekitar sepuluh menit aku menunggu suster. Akhirnya datang juga, lengkap dengan handuk untuk membersihkan tubuh Tiffany

Dengan sangat hati-hati kulepaskan jemari Tiffany satu persatu dari tanganku. Perlahan kubuka kancing baju yang di kenakan Tiffany, karena baru kali ini ia membersihkan tubuh Tiffany karena yang biasa melakukan adalah suster.

‘Tuhan kuatkan imanku’, Kim Taeyeon dalam keadaan seperti inipun Byunmu masih saja kumat, Tuhan maafkan hambamu ini

Dengan tangan yang masih bergetar ku elap setiap bagian tubuh dengan air hangat yang sudah di campur dengan larutan antiseptic dan aroma terapi yang membuat tubuh Tiffany menjadi lebih harum. Kutarik nafasku pelas, sudah selesai saat mengenakan bajumu Fany~ah. Kupandangi wajah Tiffany yang tampak tertidur pulas, hanya dengan melihatnya seperti ini aku bisa begitu bahagia

“Fany~ah Saranghaeyo”, entah sudah berapa kali aku mengucapkan kata-kata itu padanya, aku tak perduli walaupun saat ini masih tidur aku ingin terus mengucapkan kata-kata itu

“Nado”, ucap Tiffany pelan. Ku alihkan pandanganku ke Tiffany.

“Bagaimana tidurmu Yepponie?”, ucapku sambil merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan karena tidur

“Nyenyak sekali”, ucapnya tersenyum. Untunglah kini ia sudah bisa bernapas dengan normal tidak seperti kemarin yang membutuhkan slang oksigen untuk bernapas, dengan begini aku bisa melihat senyumnya dengan sempurna.

“Syukur kalau begitu, aku mandi dulu sudah sejak kemarin aku tidak mandi”

“Ehm, pantas saja ruangan ini bau tidak enak ternyata ini penyebabnya”, Godanya sambil menutup hidungnya rapat-rapat. Sepertinya keadaannya semakin membaik terbukti dia sudah bisa bercanda seperti itu.

“Arra arra aku mandi dulu”, kataku kemudian masuk kedalam kamar mandi

“Apa perlu kutemani?”, sambung anaknya. Dasar kalau saja dia tidak sakit mungkin saja aku sudah mengiyakan permintaannya itu.

“Jangan mengodakanku terus Yepponie”

“Baiklah! sayang sekali kau menolaknya”

“Aku tidak menolak ajakanmu, aku hanya menundanya sampai kau sembuh total”, ucap ku sambil mengguyur sekujur tubuhku dengan air.

~~~~~

“Bolehkan aku menemaninya?”, pintaku pada suster yang mulai mendorong tempat tidur Tifffany ke laboratiorium

“Maaf, hanya orang-orang yang berkepingan yang bisa masuk kelaboratoium”

“Apakah akan lama?”

“Biasanya akan memakan waktu yang lama. Sebaiknya anda pulang saja, beristirahatlah. Bila sudah selesai saya akan menelfon anda”

Aku diam, bingung, aku harus bagaimana? Hatiku cemas meninggalkan Fany sendiri seperti ini, walaupun aku tau mereka akan menjaga Fany dengan baik. Haruskan aku pulang? Berada didekatnya membuatku lebih tenang

“Gwencana Taeyeon~ah, I will Fine, I Promise”, bisik Tiffany padaku

Akhirnya dengan sebelah hati, aku mengangguk kecil kepada Tiffany. “I Will back”, janjiku padanya. Tiffany tersenyum tipis dan memelukku erat sebelum aku meninggalkannya

“Kami akan menjaganya, jadi tak usah khawatir”, suster itu kembali mendorong tempat tidur Tiffany. Dan aku hanya bisa terdiam saat Tiffany melambaikan tanganya padaku memberikan isyarat supaya aku tak perlu khawatir padanya. Entah kenapa air mataku jatuh saat melihat kepergian Tiffany kelaboratirum. Ini bukanlah perpisahan selamanya kenapa aku menangis?

3rd Day With You

Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju ruang rawat Tiffany. Hari ini aku bebas mengunjungi Tiffany tak perlu ada penggangu lagi, aku tak sabar bertemu dengannya. Aku membawa banyak barang hari ini yang kubawa untuknya, aku tau pasti dia bosan dirumah sakit terus. kupercepat langkah kakiku saat mengetahui bahwa ruang rawat Tiffany sudah semakin dekat.

“Fany~ah!”panggilku sedikit keras, namun ternyata Tiffany masih tidur. Aigoo ini jam berapa dan dia masih tidur, dasar putri tidur. Kukecup keningnya dengan pelan ,“ByunTae”, ucapnya pelan dengan mata tertutup

“Kau sudah bangun?”

“Bagaimana aku tidak bangun, kau berteriak-teriak seperti itu” ucapnya kemudian membuka matanya

“Ish siapa suruh kemarin suster membawamu kelaboratorium dan membuatku tak bertemu denganmu seharian, padahal dia bilang hanya sampai siang tapi nyatanya ish membuatku sebal saja”, ucapku ngambek

“Ah benar aku membawa hadiah yang banyak sekali hari  ini untukmu”, ucapku kemudian mulai mengeluarkan barang-barang yang tadi tersimpan rapi dalam tasku, satu persatu kukeluarkan barangnya, mulai dari beberapa bonekah Tororo, Dookong dan beberapa novel untuk menemaninya saat bosan.

“Akh Bonekah Taeroro”, teriaknya kegirangan saat melihat aku membawa bonekah kesayangannya

“Tororo bukan Taeroro”, koreksiku

“Aku suka Taeroro”

“Baiklah, aku mengalah”

“Karena aku suka memeluk bonekah Taeroro saat kau tak ada, jadi aku memanggilnya Taeroro, aku anggap dia adalah penggatimu”, ucapnya pelan sambil memaninkan kan bonekah Tororo

“Tapi saat ini aku akan selalu bersamamu Fany~ah, aku tak akan meninggalkanmu”,  menggenggam tangan yeoja itu dengan penuh cinta.

“Ah..”sentakku ketika mengingat sesuatu yang ingin sekali ku tunjukkan Tiffany. Kuambil Hp dan kemudian mengutakatik dalamnya, aku ingin menunjukan sesuatu yang telah kusimpan dalam hp

“Lihat…ini adalah hasil foto kita beberapa bulan yang lalu, saat itu kau masih koma”, ucapku sambil menunjukkan satu persatu foto Tiffany dan diriku.

“Aigoo lihat ini Kim Taeyeon cantik sekali, dan dirimu aigoo sungguh sangat buruk, kita pasangan yang tidak serasi sama sekali”, Aku terus saja berbicara saat menunjukkan foto-foto diriku bersama dengan Tiffany hingga habis. Kebahagianku saat menunjukan foto kami hilang seketika saat aku melihat wajah Tiffany yang kesakitan dan memeras jantungnya.

“Fany~ah, Fany~ah Gwencana?”, tanyaku gagap serayah merah tanganya

“Sa..ki..tt”, ucapnya terputus-putus dengan napas yang terengah-engah

Dengan gemetar aku memecet tombol darurat untuk memanggil dokter, “Fany~ah bertahanlah aku disini aku akan bersamamu”, ucapku terus memberikan kekuatan padanya

Brakkk

Tiba-tiba segerombolan perawat dan dokter datang keruangan Tiffany, dengan membawa beberapa alat mendis, tubuhku masih saja bergetar saat suster menyuruh aku keluar dari ruangan. Entah ini hanya perasaanku atau apa waktu yang kujalani ini lambat sekali. Aku merasakan kelelahan emosional yang luar biasa. Aku ingin tegar, tapi jiwaku rapuh. Aku tak ingin menangis tapi air mata terus saja memambanjiri mataku. Sedih, takut, bingung. Semuanya bercampur menjadi satu dan mengaduk-aduk emosi batinku.

Lewat tengah malam dokter baru keluar dari ruangan Tiffany, ada banyak gejolak dibantin, takut kalau seandainya hari ini adalah hari terakhirku bersamanya.

“Kondisinya jantungnya semakin memburuk, ia akan sering mengalami serangan jantung seperti tadi, semoga saja ia masih bisa bertahan sampai ada donor jantung untuknya”, ucap dokter yang kemudian berlalu.  Kulihat Tiffany yang sudah tertidur. Slang Oksigen kembali terpasang di wajahnya. Betapa sedihnya aku sampai akhirnya aku jatuh tak berdaya karena kakiku sudah tak mampu menopang segala perasaan yang bergejolak dihatiku.

“Tuhan tolong jangan kau ambil dia dariku”, doaku sambil terisak

4th Day With You

Tiffany POV

Mataku menyapu setiap sudut ruangan. Tak ada istimiwa tentunya hanya bau-bau obat-obat yang selalu menyengat hidungku, aku bosan seperti ini. Ku lepaskan selang infus yang terpasangan di tanganku dengan keras sehingga menimpulkan sedikit bercak darah disana, namun aku tak mengaduh sedikitpun. Setelah itu kulepaskan slang oksigenku, slang oksigen ini membuatku sulit berbicara, setelah selesai melepas semua peratan medis aku mengambil semua bajuku yang tergantung di dinding pintu, aku ingin kabur dari sini.

Saat aku sedang berganti baju biasa tiba-tiba ada aku seseorang membuka ganging pintu, mungkin saja itu suster atau dokter, aku malas bertemu dengan mereka

“DOKTER, SUSTER, TIFFANY  KEMANA?”, Teriak seseorang dibalik pintu, setelah selesai megenangkan baju, kubuka gagang pintu dan benar dugaanku pasti Taeyeon, sesaat aku tersnyum manis kepadanya, akan tetapi belum selesai aku tersenyum padanya, tiba-tiba ia memeleluku dengan erat, sangat erat, lebih erat dari biasanya.

“Kukira kau mati bodoh!”, aku tak akan mati semudah itu Taeyeon, sebelum aku membahagiakanmu, aku tak akan akan mati.

“Aku baik-baik saja, bahkan aku merasa sangat sehat hari ini”, ucapaku melepaskan pelukannya

“Ayo kita pergi”, kutarik lengannya, berusaha menjauh secapatnya dari rumah sakit. Namun sepertinya Taeyeon tak bisa membiarkan aku pergi begitu mudahnya dari rumah sakit ini

“Tidak Fany~ah, kau harus tetap disini, aku tak mau mengambil resiko dengan membahayakan nyawamu”

“Please Taeyeon aku sudah tak betah disini, disini sangat menyiksa”, mohonku padanya

Taeyeon POV

“Ayo kita pergi”, ucapnya sambil menarik lenganku

“Please Taeyeon aku sudah tak betah disini, disini sangat menyiksa”, pintanya dengan mata memelas, aku harus bagaimana? Kalau aku mengiyakan permintaannya maka aku sama saja membahayakan nyawanya, kalau aku menolaknya aku takut dia marah, aku tak ingin dia marah padaku

“Fany~ah bertahanlah disini sampai kondisimu benar-benar baik, tolong demi aku Fany~ah”, ucapku yang tak bisa membiarkan ia pergi begitu saja.

“Baiklah kalau kau tak mau tak masalah, aku akan pergi sendiri, kau seharusnya tau betapa aku membenci rumah sakit, rumah sakit mengingatkan aku saat semua keluargaku tidak bisa diselamatkan dari kecelakan, itu membuatku sakit Taeyeon”, kulihat air matanya mulai turun dari pelupuk, baiklah mungkin ini yang terbaik, ayo pulang Fany~ah

“Baiklah Fany, Ayo pulang”, ucapku sedikit tak rela meninggalkan rumah sakit

“Saranghae Taetae”, ucapnya kemudian kucium bibirnya, dapat kulihat matanya yang terpejam, dengan kelembuatan ia membalas ciumanku, ciuman ini begitu sempurna memenuhi hasrat kehausan dakan jiwaku yang dulu sempat kosong. Tiba-tiba sarafku hanyut dalam ciuman itu.

Dan sekarang dengan jelas aku bisa mengetaui bahwa dia yang selalu mengisi hatiku bukan Sunye ataupun gadis yang duluku pacari

“I Know”, desahku saat mengakhiri ciuaman ini dan melepaskannya dari pelukanya dari tubuhku, detak jantungnya berdetak cepat sekali saat itu akan tetapi detak itu terasa lemah berbeda dengan jantungku yang berdetak dengan keras saat bersamanya

“Apakah kau akan terus hidup bersamaku Fany~ah?”, Tiffany tersenyum kecil menggeleng pelan. Ia membelai rambutku lembut, membuatku terhanyut akan kehangatan yang diberikan olehnya

“Aku akan selalu hidup disini”,ucapnya kemudian menunjuk jantungku. Tak terasa air mata yang sedari aku tahan kini jatuh jua, walaupun aku sudah berusaha untuk tidak menangis. Kupalingkan wajahku supaya Tiffany tak tau kalau aku meneteskan air mata.

“Kalau begitu teruslah berada disisiku”

Bahkan aku tak mengerti kenapa saat aku demam saja dia tau, sedangkan dia yang sakit parah seperti ini aku tidak menyadari, aku yang bodoh ataupun dia yang terlalu pintar menutupinya? Kenapa kita takdir begitu kejam disaat aku menyadari kita memiliki rasa yang sama, kita di hadapkan pada sebuah kenyataan yang bisa merengut kebahagian kita dalam sekejab yaitu kematian. Aku tak ini penyakitnya menghalangi kebahagian yang masih bisa kita raih walaupun waktunya hanya sedikit.

~~~~~~~

5th Day With You

Sudah beberapa hari ini aku telah menjadi kekasih Tiffany, menjadi kekasihnya adalah saat yang membahagiakan sampai tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, namun dibalik kebahagian itu masih terselip kesedihan yang terselumung dalam hatiku. Kedua perasaan itu seakan tercampur menjadi satu menjadi satu perasaan baru yang entah aku tak tau namanya.

Sudah sejak lima hari itu pula aku memasuki seluruh kehidupannya, tak ada rahasia sedikitpun diantara kami saat ini. setelah keluar dari rumah sakit aku kembali menemukan Tiffany yang dulu, Tiffany yang penuh dengan candaannya walaupun begitu sering sekali aku dihingakpi ketakutan yang sama dengan hari-hari yang lalu yaitu ‘Tiffany akan pergi dariku selamanya suatu saat nanti’. aku selalu berusaha mengenyahkan perasaan itu. Berusaha bersikap tegar dihadapanya. Aku tak mau ia kembali melihatku menangis dihadapanya.

“Moring..”, Ucapnya yang baru bangun tidur. Aku segera meletakkan pisau yang kugunakan untuk memotong Wortel. Suara Husky Tiffany yang selalu aku dengar setiap hari. Aku mendapati Tiffany masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur yang berjalan gontai dan mengucek – ucek kedua matanya. Sungguh sangat mirip dengan balita yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Moring Yepponie”

“Baunya enak Taetae.” Ucapnya masih merengek dan melingkarkan tangannya di perutku sambil menyenderkan dagunya dibahuku. Memeluk secara mendadak.

“Ayo cepat selesaikan. Aku lapar~~~~”, rengeknya

kuletakkan pisaunya dan menoleh ke arah Tiffany sambil tersenyum lebar, “selesai! Mari kita tumis wortelnya, Yepponie.”

Tiffany yang sedari tadi diam akhirnya kini membantuku memasak, ia mulai memanaskan minyak di atas teflon memasukkan potongan-potongan wortel itu dan menumisnya, bahkan mengangkat teflonnya, membiarkan potongan-potongan wortel itu terbang dan kembali jatuh ke dalam teflon.

“Hati-hati Yepponie”, intriksiku kemudian membantunya memegang teflon

“Tenang asal ada chef Tiffany semuanya jadi beres”, candanya sambil melihatiku

“Yang ada semua wortel itu jadi gosong”

“Aigoo kenapa kau tak pernah percaya pada kemampuan memasakku Taetae?”, Tanyanya lagi

“Karena kau telah menghanguskan dapurku dulu”

“Ckckckck itu masa lalu Taetae, sekarang aku sudah berbeda”, elaknya lagi

“Tetap saja kau sudah mengosongkan dapurmu”, ucapku menyuapi Tiffany yang sudah membuka lebar mulutnya

“Ottae?”, tanyaku pada Tiffany yang melahap makanan buatanku. Beberapa saat kemudian wajah Tiffany berubah. Apakah masakan ku tidak enak?

“Enak tidak?” tanyaku khawatir

“YA! Taetae ini asin sekali”, serunya, tak tahan menahan terlalu lama. Dirampasnya segelas air yang terletak di dekatnya

“Aigoo Taeyeon~ah kalau kalau aku memakan ini terus mungkin saja, aku akan lebih cepat mati”, kulemparkan celemek yang berada di tanganku saat mendengarkan kata-katanya yang tidak lucu sama sekali. Sejak aku tau tentang penyakitnya, aku menjadi sedikit sensitive saat mendengarkan kata ‘Mati’

“I’m Sorry Taetae, I didn’t mean that”, ucapnya sambil menarik tanganku yang akan pergi meninggalkannya

“Aku hanya bercanda”, ia menunjukan tatapan puppy eye yang membuatku tidak betah marah padanya

“Tapi bahan bercandaanmu benar-benar buruk Fany~ah, aku tidak suka”

“Mianhaeyo Taetae, so apakah kau ingin mencoba masakanmu?” godanya lagi

“Ok”, jawabku.  Tiffany menyuapiku dengan senang hati. Beberapa saat kemudian kurasakan sesuatu rasa yang asin bergejolak di tenggorokanku. Aigoo ini benar-benar asin, pantas saja Fany tidak betah makannya. Dengan muka datar aku berusaha biasa memakan makan yang kubuat sendiri tidak ingin malu karena gagal memasak

“Ini tidak asin lidah kamu aja yang berlebihan”, bohongku padanya, kemudian dengan gaya sok cool aku mengambil minuman bekas Tiffany untuk diminum

“Jinjja? Sepertinya ada yang  salah dengan lidahku”

Kami terdiam. Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu rumah Tiffany. Tiffany meninggalkanku sesat untuk membuka pintunya. Hatiku merasakan sesuatu yang tidak enak saat mengetaui ternyata dia adalah wanita. Sekilas aku mendengar obrolan mereka, terdengar akrab sekali.

Kembali sesuatu yang panas masuk kedalam hatiku. Bohong kalau aku tidak cemburu atas kedatangan gadis itu, apalagi dengan dengan parasnya yang cantik membuatku semakin tak kuasa menahan cemburu yang sudah membakar seluruh hatiku

“Maaf aku lupa memperkenalkan dia, dia Taeyeon, dia ke…”, ucap Tiffany terputus kala aku mendapatiku menenteng erat tasku untuk pergi. Dari matanya aku bisa melihat kalau ia sedang berusaha sedang menahanku untuk pergi tapi aku sudah tak tahan disituasi ini. kubiarkan dia tau kalau aku sedang cemburu.

“Yuri~ah Mianhae bisa tolong tinggalkan kami sekarang?”, kata Tiffany terpaksa

“Baiklah Fany, sepertinya kau sedang ada masalah, semoga cepat sembuh, bye”, nada kecewa dengar jelas dari wanita yang disebut Tiffany dengan Yuri itu, kaget karena kehadiarannya hanya membuat suasana menjadi tidak enak

“Taetae ada apa? Kenapa kau pergi?”, tanya Tiffany bingung

“Tak apa-apa Fany~ah, aku hanya lelah, aku ingin pulang”, elakku kemudian berlalu meninggalkannya. Namun ia tak membiarkanku begitu saja. Tanganya memeluk erat tubuhku dari belakang

“Gojimal”, dibaliknya tubuhku, hingga ia bisa melihat kedua mataku, berusaha menyelidik setiap kebohongan didalamnya

“Kau cemburu?”, ucapnya dengan mata menyipit

“Aniyo, kenapa aku harus cemburu padanya?”

“Sekali lagi kau berbohong Taetae, aku bisa melihat kebohongan dimatamu, bola matamu akan mengarah kekanan saat kau berbohong”, desahnya terus memegang bahuku

“Taetae berhentilah mengunakan poker facemu, katakan yang sebenarnya kau cemburu pada wanita tadi bukan? Seharusnya kau bertanya ‘Siapa wanita itu?’ padaku, kau tak perlu seperti itu.”

“Aku tak perduli dengan wanita itu”

“Jinja?”, Aku menangguk cepat meyakinkannya

“Ne”, elakku cepat.  Detik berikutnya bibir Tiffany membanjiri bibirku.

“Apakah kau cemburu pada wanita itu”, ucap Tiffany saat mengakhir ciumanya

“Ne”, ucapku tak sadar mengatakan kejujuran padanya. Dia memang tau bagimana membuatku jujur dalam keadaan seperti ini

“Namanya Kwon Yuri, temanku kuliah, dia sudah memiliki kekasih bernama Jessica Jung, sekarang kau sudah mengerti bahwa hanya Taetae yang special untukku”, Ucapnya lagi seakan menjelaskan pertanyaan yang tadi mengantung dalam otak

Aku mengangkat wajahku untuk menatap matanya. Lama kami terdiam dan hanya saling menatap. Akhirnya aku berkata padanya “Bolehkah aku tanya sesuatu Fany~ah?”

“Kenapa kau harus bertanya seperti itu? Tentu aku akan menjawab setiap pertanyaanmu Taetae” senyumnya begitu manis lengkap dengan eye smile yang begitu menawan.

“Apakah kau bahagia bisa bertemu denganku Fany~ah?”

“Pertanyaan konyol apa ini Taetae? Tentu saja aku bahagia lebih dari apapun didunia ini” tiba –tiba dadaku terasa penuh. Penuh akan sensasi kebahagian yang tak terbandingi.

6th Day With You

Hujan pertama di musim gugur akhirnya turun sudah. Tidak seperti hujan di negara tropis, hujan di negara sub tropis seperti Korea tidak terlalu deras tapi berkepanjangan bahkan bisa seharian tidak berhenti. Jendela apartemenku terbuka mengalirkan angin dingin masuk ke dalam ruangan.

Aku tengah membaca novel, kemudian kudengar hembusan nafas dari Tiffany yang berbaring di pahaku. Aku menoleh ke bawah dan mendapati Tiffany itu sudah tertidur pulas. Seharusnya aku melarang ia nonton film tadi sampai malam, tapi apa daya dia selalu tau bagaimana caranya mengendalikan perkataanku. Kuelus kepalanya pelan.

“Dingin”, ucapnya kemudian meringkukkan tubuhnya. Dengan hati-hati kuletakan kepala Tiffany dibantal, meninggalkannya sebentar untuk menutup jendela dan menyalakan penghangat. Walaupun udara pagi hari ini sunguh menusuk

“Taetae…”, panggil Tiffany yang sudah bangun

“Hem, ada apa tuan putri yang suka tidur?”

“Hari ini dingin sekali”, ucapnya memeluk erat tubunya sendiri

“Apa seperti ini lebih baik?”, tanyaku saat memeluknya

“Ehm”, angguknya

“Apa yang akan kita lakukan hari ini Taetae? aku bosan apartemen terus?”

“Bagimana kalau kita jalan-jalan?”, tambahnya

“Baiklan tapi tunggu sampai hujan reda, ok?”

“Siap kapten”

Kami mulai mengobrolkan tempat-tempat mana saja akan kita datangi hari ini, sampai tiba-tiba suara pintu diketuk.

“Tunggu sebentar Fany”, ucapku seraya meninggalkan Tiffany di kamar yang tengah menonton TV

Saat aku membuka pintu, tak ada orang disana, tapi saat aku tak sengaja melihat kebawah kutemukan sebuah kertas di bawah kakiku, kuambil kertas itu, dan kubuka dalamnya, ternyata undangan pernikahan dari Sunye dengan kekasihnya James Park, ternyata kau sudah akan menikah, mataku melotot saat mengetaui bahwa upacara pernikahannya diadakan nanti malam, kenapa tidak memberi tau dari kemarin-kemarin ini terlalu mendadak

“Siapa Taetae?”, tanya Tiffany yang mendekat padaku

“Tidak tau, aku hanya menemukan ini”, ujarku kemudian memberikan undangan pernikhan Sunye dengan James. Matanya sedikit melotot saat mengetaui siapa orang yang ada dalam undangan pernikahan itu

“Apa kau tidak apa-apa Taetae?”, Ucapnya khawatir

“Aku kenapa? Aku tidak apa-apa. Dia hanyalah masa lalu, dan sekarang aku sudah memilikimu disisiku”, ucapku. sedetik berikutnya, Tiffany menyunggingkan senyum pada bibirnya

~~~~~~

“Selamat atas pernikahan Sunye~ah”, ujarku sambil menyalami Sunye disusul Tiffany yang berada dibelakangku. Hari ini baju yang kita kenakan tidak terlalu Wah karena kurang persiapan jadi kami mengenakan baju yang alakadarnya. Hari ini Sunye tampak sangat cantik dengan baju penikahan yang membalut seluruh tubuhnya, begitupula dengan James yang tampak tampan dengan jas yang ia kenakan. Meraka tampak serasi saat bersama aku hanya bisa berdoa supaya mereka memiliki kehidupan bahagia nantinya

“Terima kasih Taeyeon telah menyepatkan datang kepernikahanku”, ujar Sunye tampak bahagia di hari pernikahannya hari ini

“Terima kasih juga untuk Tiffany”, yang kemudian dijawab dengan anggukan kecil Tiffany.

“Sama-sama”, balasnya

“Oya Maaf aku buru-buru pulang karena aku sudah ada janji”, ujarku yang kemudian menarik Tiffany keluar

“Kenapa cepat-cepat pulang? Aku ingin menangkap bunga yang dilemparkan Sunye Taetae”, rengek Tiffany di dalam mobil

“Aigoo dari pada merebutkan bunga yang dilemparkan Sunye, lebih baik kita ketoko bunga sendiri, kau bebas memiliki bunga sesukamu nanti”, ujarku sambil melajukan mobil

“Aish kau ini benar-benar…”, ujarnya kehabisan kata-kata

~~~~~

“Jadi apa yang kita lakukan sekarang?” Tanyaku pada Tiffany yang sedari tadi nyambek karena pulang cepat-cepat dari pernikahan Sunye

“Terserah kau” ucapnya malas-malasan

“Aigoo..uri Miyoungie sangat menggemaskan. Lihat! Pipimu merah sekali.” ucapku tertawa lebar selagi mencubit kedua pipi Fany

“Taeyeon jangan menanggil dengan nama Koreaku!” lihat kesekarang ada dua expressi diwajahnya antara merasa malu dan malu, ia cukup keras memukul lenganku.

“Kim Taeyeon jelek!”

“Apa Hwang Miyoung cantik?”

“Taeyeon!”

“Wae, chagi?”

“Yah, KIM TAEYEON!” teriaknya menaikan suara

“YES! WAE??”

“ckckckckck lihat Fany~ah gara-gara marah hidungmu keluar asapnya”, ucapku memperhatikan dirinya dengan senyum jail

“Berhenti membullyku! aku benar-benar marah saat ini” ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya.

“Aigoo baiklah” ku tepikan mobilku saat melihat ada penjual ice cream, saat itu juga aku keluar dari mobil dan hendak membelikan es cream untuknya, dia masih cemberut saja di dalam mobil dasar pemarah lihat saja sampai ice cream ini berkerja

“Ini” aku memberinya ice cream rasa strobery kesukaaannya. Sesaat kita masih terdiam, jangan-jangan dia memang marah dengan diriku

“Taetae” ahh akhirnya ice cream itu berkerja juga “Hem” ucapku kemudian mendekat padanya

“Mianhae”, sesalnya

“Aniyo, kau tidak salah aku yang salah karena memaksamu untuk cepat pulang, sekarang kau masih marah?”

“Mm..” Tiffany memutar-mutar matanya, seolah mempertimbangkan jawabannya harus ia berikan padaku

“Fany~ah!”

Tiffany mengeluarkan tawanya lagi. “Tentu tidak, Taetae aku tak pernah betah marah padamu.” Jawabnya, sedetik kemudian aku tersenyum.

“That’s my Miyoung.” Ucapku sambil mengelus rambut Tiffany

7th Day with you

Sinar matahari pagi telah merayap menghangatkan seluruh isi bumi. Kulihat Tiffany yang masih berada dalam alam mimpinya. Kupandangi raut wajahnya teduh yang telah mengisi kehidupanku selama ini. Aku tersenyum dan mengelus lembut pipinya yang lembut. Aku menjelajahi setiap inci wajahnya dengan  menggunakan jari telunjukku mulai dari mata yang berwarna coklat, hidungnya yang mancung dan terakhir bibirnya.

“Apakah aku secantik itu?” Tanya Tiffany dengan mata yang masih tertutup dan masih memelukku.

“Hem” anggukku saat melihat ia membuka matanya

“Apa kita akan terus berada diposisi seperti ini?” tanyaku padanya yang tak henti memelukku sedari tadi malam

“5 menit lagi, biarkan aku memelukmu 5 menit lagi”

“Baiklah, setelah itu mandilah”

~~~~~

Aku kembali mendudukkan diriku disofa setelah makan. Kunyalakan televisi untuk menghilangkan rasa bosanku sambil melipat kaki diatas sofa setelah mengganti pakaianku dengan kaus longgar dan hot pants pandek. Beberapa kali aku mengganti channel yang menurutku acara yang disajikannya sangat membosankan lalu meletakkannya secara kasar dimeja.

Tiba – tiba Tiffany duduk menghampiriku dan mengambil remote tersebut dan mematikan TV mendadak.

“Mandimu lama sekali aku sampai bosan menunggumu” Teriakku padanyaku. Ia masih tak bergeming menanggapi perkataanku. Aku merebut mencoba berdiri tapi ia malah meninggikan remote-nya tanpa berdiri.

“Ambil jika kau bisa Taetae!!!. Hwee!!” ia memeletkan lidah mengejekku seolah – olah tak bisa mengambilnya. Aku mengambil meraih sebisa mungkin remote TV yang ada ditangan tapi mau bagimanapun aku tidak bisa mengambilnya dari tangannya karena dia lebih tinggi dariku

“Ya sudah lah”. Ucapku beralih mencari PSP kesayanganku

“Ish kau sama sekali tidak bisa di ajak bermain Taetae, aku bosan di apartemen terus bagimana kalau kita ke taman bermain? Aku sudah lama sekali tidak kesana”

~~~~~

“Ayo turun Taetae”, Ajak Tiffany setelah kuparkirkan mobil tak jauh dari tempat penjual tiket menuju taman bermain. Tiffany tersenyum lebar sambil mengedarkan padangannyadi sekitar taman bermain.

“Taetae ayo kita naik semua wahana”, seru Tiffany bersemangat.

“Apakah ini tidak berbahaya Fany~ah? Apalagi untuk jantungmu?”, tanyaku khawatir

“Tidak apa-apa Taetae, kenapa sih kau seperti ajumma gtu? Ceweret sekali”, kemudian Tiffany berlari lebih dulu kemudian di kususul dia. Hari ini dia sangat bersemangat.

“Kajja”

Lima menit kemudian. Di saat kami turun dari roler coster. Aku melihat Tiffany masih baik-baik saja, ia tak mengalami sakit apa-apa. Aku bersyukur jantungnya tak bermasalah karena naik wahana roler coster.

Setelah menjajal semua wahana di taman bermain kita pulang dengan perasaan gembira. Saat jalan-jalan tiba-tiba aku dikejutkan dengan wajah Tiffany yang berubah pucat pasi

“Fany? Ada apa?”, tanyaku gemetaran seraya meraih tubuhnya yang limbung kearahku

“Aniya…Gwencana Taeyeon~ah, aku hanya lelah, Aku ingin tidur Taetae”, kulihat muka Tiffany yang makin memucat

“Aniya, kau tidak boleh tidur”, aku takut kalau ia akan tidur selamanya kemudian ia meninggalkan aku sendiri

“Aku sangat lelah Taetae”

“Bertahanlah Fany~ah”

Dalam kepanikan aku membawanya kerumah sakit. Dan bagiku saat ini perjalanan dari taman bermain ke rumah sakit adalah perjalan paling panjang yang pernah kulewati dalam hidupku. Sisa hari ini kulewati dengan ketakuatan yang luar biasa. Aku ingin menangis tapi air mataku tidak bisa jatuh. Apakah sebegini sakitnya sampai air mataku tak bisa jatuh? Aku takut sampai seluruh tubuhku bergetar hebat.

Sudah lewat dari 1 jam tapi dokter belum keluar dari ruangan, kenapa lama sekali ini membuatku lebih takut. Aku duduk di ruang tunggu. Tanganku terkepal kuat menahan tangis. Aku bisa merasakan asinnya darah yang keluar dari bibirku saking kuatnya aku menggigitnya. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dan mengontrol emosiku.

“Maafkan kami.. kami sudah melakukan yang terbaik…tapi Tuhan berkehendak lain.” kata Dokter itu setelah kelur dari ruang operasi

Sekali lagi aku tidak mampu lagi menahan air mataku saat mengetauai kenyataan bahwa orang yang kuncintai meninggalkanku selamanya, SELAMANYA. Langkah kakiku terasa lemas, lututku bergetar mendengar kenyataan yang benar-benar menyayat hati. Membuat otakku berhenti berfungsi, membuat air mataku tak kunjung berhenti. Kini aku tepat di depan mayat Tiffany. Ku lihat alat pendeteksi detak jantung  yang terletak di sampingnya, Saat itu rasanya jantung ikut berhenti berdetak.  Yang kulihat dari alat pendeteksi langsung melihat ke arah alat itu hanya garis lurus. Sebuah garis yang menadakan bahwa orang tersebut telah tiada.

“Fany…Fany… bangunlah! Fany ireona!! Fany ireona!!”teriakku sambil mengguncang-guncangkan tubuh Tiffany.

“TIFFANY HWANG BANGUNLAH!!!” teriakku lagi. Aku merengkuh pundak Tiffany dan memeluknya dengan erat. Air mataku kembali menetes. Kehilangan Tiffany membuatku menjadi sosok rapuh yang tak berdaya.

“Fa..ny~ah…ireona…….” kataku terbata-bata. Aku masih memeluk tubuh Tiffany yang sudah tak bernyawa hingga akhirnya seorang dokter dan beberapa perawat datang. Perawat tersebut langsung memisahkanku dan Tiffany kemudian menutupnya dengan kain putih yang menutup seluruh tubuhnya.

End Flashback

~~~~~~

“Taeyeon-ah….relakan Tiffany…biarkan dia tenang di alam sana…”kata Sunny sambil menepuk pundakku yang masih saja menatap batu nisan dengan nama “Tiffany Hwang” di atasnya. Aku hanya terdiam tak bersuara sama sekali. Melihat nama tersebut dan juga foto Tiffany saat sedang tersenyum dengan cantik telah menempel di dinding nisan membuatku tak dapat berkata sepatah katapun.

1 Years Later

Aku duduk di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari makam Tiffany sambil mendengarkan suara Tiffany yang mengkatakan kata ‘Saranghae’ yang dulu secara diam-diamku rekam. Walaupun ini hanya rekaman setidaknya ini bisa membuat rasa rindu akan dirinya sedikit menghilang. Selama 1 tahun ini aku masih terus mendengarkan rekaman ini.

“Saranghae Taeyeon~ah”, mataku terpejam mendengarkan rekaman suaranya. Kemudian mataku terbuka saat ada seseorang melepas salah earphone yang kukenakan.

“Saranghae” Ucapnya sambil tersenyum padaku, seakan semua kesengkaraan ini hilang seketika saat melihat senyumnya.

“Nado” balasku kemudian menatap kedua bola matanya, ia selalu datang padaku walaupun dalam wujud yang berbeda, wujud yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Hanya aku yang bisa merasakan keberadaanya.

~ Dulu kami ‘bersahabat’. Berbagi cerita, berbagi kebahagian dan berbagi kesedihan. Bahkan, tanpa disadari, kami pun membagi cinta. Apakah kalian tau rasanya saling mencintai namun bertahan untuk tidak saling memiliki? Percayalah, ini lebih buruk dari sekedar patah hati. Ini adalah kisah yang kualami. Kemudian sebuah kekuatan datang, membuatku berani mengakui perasaanku, taukah bagaimana rasanya saat saat rasa yang kami miliki sama? Dan dari semua kata yang ada di dunia ini, tidak ada satu pun yang dapat menjabarkan betapa bahaginya diriku saat itu~ Tiffany Hwang

The END

Curcolumut

HAH!!!! Akhirnya selesai juga bahagia rasanya kayak utangku baru di tembus!!!!

Bagimana??? Endingnya gmn??? Sedih??? Bahagia??? Ato tengah-tengah???

Main kalau banyak typo sodara2#bow 90 derajat

Bye bye sodara2#cipok basah

Iklan

57 thoughts on “7 Days to Remember Beautiful Love Chapter 3 [END]”

  1. Issssh nyesek amat sih..
    Aku kira Ppany dah smbuh total tau2 nya nggk, awal nya Taeny seneng2 eeeh akhir nya bkin mewek..
    Tapi kok agak aneh nya, ini tu genre GB atau Yuri, aneh aja kok Taeng cmburu ma Yuri..
    Author Daebak..
    Author Fighting..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s