Fantasy, SOSHI FF

TIME TRAVEL Part 10 (YulSic) [END]

by : Dmoky Senchou

Read it first!

FF ini murni 100% bikinan ‘Dmoky Senchou’

Sasya disini hanya bantu posting aja :) kamsahamnida ^-^

 Part 10 [END]

Jessica mendapati Yul berdiri di depan pintu kamarnya pagi itu. Wajah yang sama dengan Yuri. Namun dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang membuat hatinya sakit. Sangat menyakitkan baginya melihat wajah Yuri yang menatapnya penuh kebencian seperti ini.

“Apa yang kau lakukan padaku?” Yul langsung menyerang Jessica dengan pertanyaan begitu gadis itu keluar. Tatapannya penuh dengan kemarahan.

“Mwo?” Jessica menaikkan alisnya. Memangnya apa yang ia lakukan pada Yul sehingga Yul semarah ini padanya. Ia sedikitpun tidak mengganggu Yul. Ia bahkan tidak bertemu dengan Yul selama beberapa minggu terakhir.

“Jangan bersikap seolah kau tidak mengetahui apa – apa. Dasar penyihir!” Yul mencengkeram lengan Jessica membuat gadis itu meringis kesakitan. “Aku tahu pasti kau di balik semua ini. Tiba – tiba aku mengetahui kalau aku tidak ingat apa yang terjadi selama lebih dari tiga minggu terakhir. Kemudian teman – temanku memusuhiku. Dan aku mendengar kabar aneh kalau ternyata aku berpacaran denganmu. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau ingin balas dendam dengan membuatku gila?”

“Lepaskan!” Jessica menghentakkan tangan Yul, namun Yul tetap mencengkeramnya. Bahkan lebih kuat lagi. “Mengapa kau berpikiran kalau aku ingin membalas dendam padamu? Apa karena selama ini kau selalu mengusik hidupku?”

“Jadi itu benar?” Yul berteriak tepat di depan wajah Jessica. “Kau yang sudah membuatku seperti ini?”

“Kau tidak berhak berteriak padaku!” Jessica balas meneriaki Yul. Ia mendorong tubuh Yul menjauh darinya. “Kau pikir apa yang sudah kau lakukan sehingga kau berhak meneriakiku? Memangnya apa yang sudah kau lakukan untukku? Kau datang dan pergi sesuka hatimu. Kau bahkan menjanjikan untuk membawaku bersamamu. Mengapa kau memberikan harapan padaku? Mengapa kau harus menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau tepati? Mengapa kau harus bersikap baik padaku sehingga aku jatuh cinta padamu?”

“Berhentilah mengatakan hal – hal yang membuatku semakin bingung!” Yul mencengkeram kepalanya. Semua ini membingungkan. Bahkan Jessica juga bersikap aneh.

“Kau pikir aku tidak bingung?” Jessica tertawa sinis. “Kau membuatku nyaris gila dengan semua kebingungan ini. Aku mencarimu seharian di dalam kolam. Aku memeriksanya berkali – kali berharap bisa menemukanmu. Lalu kau muncul di hadapanku dan menatapku dengan kebencian. Kau tahu? Ini benar – benar menyakitkan.”

“Aish! Aku bisa gila jika terus bicara denganmu.” Yul pergi meninggalkan Jessica sendirian dengan tangan terkepal.

“Mengapa kau melakukan ini padaku?” Jessica terus bicara meskipun tidak ada siapapun di hadapnnya. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di lantai. Saat ini ia ingin sekali menangis. Namun seluruh air matanya sudah kering karena ia menangis semalaman. “Mengapa kau melakukan ini padaku? Mengapa kau pergi sebelum aku sempat mengatakan kalau aku mencintaimu?”

***

Enam bulan telah berlalu. Jessica hidup nyaris seperti mayat hidup. Matanya sembab dan menghitam. Wajahnya begitu pucat. Tadinya ia berpikir kalau ia bisa hidup tanpa Yuri. Ia bisa bertahan dengan sedikit kenangan yang sempat mereka buat. Namun ia salah. Ia sama sekali tidak mampu hidup tanpa Yuri. Ia merindukan semua perhatian yang pernah Yuri berikan padanya. Ia merindukan Yuri.

Kehidupannya sudah kembali seperti semula. Yul kembali mengganggunya meskipun ia tidak lagi bersama dengan ketiga temannya. Yuna tidak lagi bicara padanya. Sunny tidak berteman dengannya. Semua kembali ke awal sebelum Yuri datang. Namun semua terasa tidak sama lagi.

Jessica berdiri di tepi kolam yang mulai membeku dengan tatapan kosong. Di tempat ini terakhir kali ia melihat Yuri. Di tempat inilah Yuri menghilang. Mengingat bagaimana Yuri menghilang waktu itu, membuatnya merasakan ada ribuan jarum yang menusuknya dengan bertubi – tubi. Ia tidak sanggup menerima semua ini. Ia tidak sanggup menanggungnya lebih lama lagi.

Jessica melangkahkan kakinya di atas lapisan es yang tipis. Ia mulai berjalan di atas kolam yang membeku. Semakin lama, semakin ke tengah. Begitu tepat berada di tengah kolam, ia berhenti. Retakan di atas es mulai muncul akibat berat tubuhnya.

“Yuri!” Jessica menatap langit sambil tersenyum kaku. Senyuman yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. “Tidak bisakah aku melihatmu lagi? Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sekali saja. Aku akan mengorbankan apapun agar bisa bertemu denganmu satu kali lagi.”

Retakan es semakin melebar dan menyatu tepat di bawah kaki Jessica. Kemudian dalam hitungan detik retakan tersebut pecah dan menelan Jessica masuk ke dalamnya.

***

Yuna berlari menuju ruangan kesehatan kampus. Ia mendengar kalau Yuri terlempar beberapa meter dan terhempas di tanah saat mencoba untuk menyengat Gama dengan listrik. Gadis itu benar – benar keras kepala. Sudah lebih satu tahun berlalu, dan dia masih saja melakukan tindakan – tindakan konyol seperti ini. Sebelumnya ia selalu berhasil dihentikan saat akan mendekati Gama. Namun hari ini ia berhasil menyengat Gama dengan listrik.

Yuri berbaring menghadap tembok saat Yuna menghampirinya. Ia sepertinya baik – baik saja. Tidak terlihat ada tulang yang patah.

“Pabo!” Yuna menghampiri saudaranya itu dan duduk di sebuah kursi di sisi ranjang sementara Yuri membelakanginya. “Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?”

Tidak ada jawaban dari Yuri. Ia tetap memunggungi Yuna tanpa ada niat sedikitpun untuk menanggapi Yuna.

“Ya! Kau mendengarku?” Yuna mengguncang tubuh Yuri. “Ini sudah satu tahun. Kapan kau akan menyerah?”

“Bukankah menurutmu ini tidak adil?” Suara Yuri terdengar lirih. “Aku hanya ingin bertemu dengan Sicca. Karena itu aku melakukan semua ini. Mengapa semua orang mencoba menghalang – halangiku? Tidak bisakah kalian membiarkanku?”

“Tindakanmu itu sama saja dengan bunuh diri.”

“Kau tidak akan mengerti.” Yuri duduk kemudian menatap Yuna dengan seksama. “Kau menemukan Profesor Seo dengan mudahnya. Kau tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Tidak kah kau pikir ini terlalu kejam buatku? Mengapa hanya aku yang tidak bisa bertemu dengan Sicca. Bahkan Sunny bertemu kembali dengan Sooyoung.”

“Yuri.. Jessica akan sedih akan sedih jika melihatmu seperti ini!” Yuna menggenggam tangan Yuri dan Yuri menepisnya segera. Memang hubungan mereka tidak terlalu baik setahun terakhir ini. Yuri selalu bersikap sinis padanya. Yuri bahkan sinis pada semua orang.

“Ch, dia melihatku? Kalau benar dia sedih melihatku seperti ini, harusnya dia datang padaku.” Yuri menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Akan lebih baik jika aku mengetahui Sicca berselingkuh dengan orang lain. Akan lebih baik jika mengetahui dia mencampakkanku. Tapi ini tidak seperti itu. Aku benar – benar mencintainya dan aku tahu dia juga sangat mencintaiku. Dia pasti sangat kebingungan begitu aku menghilang tiba – tiba di depan matanya. Padahal aku sudah berjanji akan membawanya bersamaku. Dia pasti kecewa padaku. Dia pasti sedang mencariku saat ini. Karena itu aku harus kembali padanya. Aku harus bertemu dengannya.”

“Yuri!” Yuna duduk di sebelah Yuri dan menyentuh bahu Yuri dengan lembut. “Aku mohon sadarlah. Itu tidak mungkin terjadi. Kau harus mencoba melupakan Jessica.”

“Sudah aku katakan kalau kau tidak mengerti!” Yuri berteriak. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur dan beranjak meninggalkan Yuna seorang diri disana.

Yuri berjalan cepat keluar dari ruang kesehatan. Meskipun punggungnya masih terasa sangat sakit, ia tidak peduli. Ia merasa benar – benar marah saat ini. Ia marah pada semua orang yang tidak pernah mengerti dirinya. Ia marah pada keadaan yang memaksanya untuk berpisah dengan Jessica. Ia marah pada dirinya yang melepaskan tangan Jessica.

Langkah kaki Yuri membawanya ke sebuah taman. Taman kampus yang sudah lama tidak terawat. Sebenarnya lebih mirip hutan belantara daripada sebuah taman. Rumput tinggi menutupi tanahnya dan ranting – ranting pohon tua saling bertautan. Tempat itu sangat berbeda dengan yang ada di dalam ingatannya. Tempat dimana terakhir kalinya ia melihat Jessica.

Udara dingin menyeruak begitu Yuri memasuki taman itu. Benar – benar dingin. Meskipun sudah puluhan tahun tidak ada lagi musim dingin, namun Yuri bisa melihat lapisan es yang berkilauan di bawah sinar matahari. Bahkan hangatnya sinar matahari tidak bisa mengalahkan dinginnya tempat itu.

Yuri memeluk dirinya sendiri mencoba untuk melawan udara dingin yang semakin menusuk. Rasa sakit di punggungnya akibat terhempas tadi kembali terasa akibat udara yang begitu dingin. Namun itu semua tidak menyurutkan langkah Yuri untuk tetap masuk semakin jauh ke dalam taman itu. Sejak kembali ke masa depan ia belum pernah sekalipun datang ke tempat ini. Hari ini ia ingin datang untuk mengenang kembali kebersamaan mereka. Tapi ia tidak melihat satupun kenangan saat memasuki tempat yang sangat berbeda itu.

Dengan tubuhnya yang menggigil Yuri berdiri di pinggir kolam menatap air kolam yang membeku. Dulu saat ia bersama Jessica menatap kolam ini, rasanya benar – benar hangat. Tidak dingin seperti ini.

“Mengapa kau lama sekali?” Terdengat suara seorang gadis yang sangat dikenalnya. Suara yang sangat dirindukannya.

Yuri menoleh ke arah datangnya suara dan menemukan seorang gadis berambut pirang dan memakai gaun putih yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Seluruh tubuhnya berkilau. Sama berkilaunya dengan lapisan es yang menutupi kolam. Gadis itu menatap Yuri sambil tersenyum.

“Sicca?” Yuri tercekat. Seperti ada sesuatu dari dirinya yang ingin meledak keluar. Sesuatu yang membuatnya merasa sesak. Ia sangat ingin bertemu dengan Jessica. Tapi ia tidak ingin seperti ini.

“Aku menunggumu sangat lama.” Jessica mendekati Yuri kemudian menyentuh wajah Yuri dengan lembut. Terasa dingin. Lebih dingin dari es.

Air mata Yuri menetes perlahan. “Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau jadi seperti ini?”

“Senang rasanya bisa melihatmu lagi.” Jessica tersenyum. “Aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga sangat merindukanmu.” Yuri berlutut di hadapan Jessica kemudian terisak. “Maafkan aku! Aku sudah berjanji akan membawamu bersamaku. Tapi aku malah meninggalkanmu. Aku tidak berguna. Aku benar – benar tidak berguna. Aku pantas mati. Sebaiknya aku mati saja.”

“Jangan bicara seperti itu.” Jessica mendesah kemudian memandang langit yang berwarna biru. Langit yang begitu cerah tanpa satupun awan yang menghiasinya. “Mungkin kau benar – benar merasa putur asa. Begitu putus asanya sampai ingin mati. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku sangat putus asa dan ingin mati. Akhirnya aku memang mati, tapi masalahku tidak selesai sampai disitu.  Aku tetap merasakan sakit. Bahkan terasa lebih sakit lagi.”

“Kau pasti sangat menderita selama ini.” Yuri masih berlutut di hadapan Jessica. “Maafkan aku karena membuatmu seperti ini. Tidak! Kau tidak boleh memaafkanku. Kau harus membenciku selamanya.”

“Aku tidak menderita.” Jessica berjongkok di hadapan Yuri kemudian mengangkat wajah gadis itu. “Aku menunggu. Aku menunggumu. Ada yang ingin aku katakan padamu.”

Dengan tangannya, Yuri menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ia menatap Jessica yang tersenyum padanya. Senyuman yang membuatnya hangat di udara dingin ini.

“Saranghae.” Bisik Jessica pelan. “Saranghae…”

Yuri merasakan udara dingin menerpa wajahnya. Kemudian begitu ia berkedip, Jessica sudah tidak ada lagi di hadapannya. Gadis itu sudah menghilang.

“Sicca?” Yuri bangkit kemudian melihat sekeliling mencoba mencari sosok Jessica. Namun ia tidak menemukannya. Tempat itu begitu sepi. Ia hanya seorang diri disana.

“SICCA!” Yuri berteriak putus asa. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Bahkan jauh lebih sakit daripada punggungnya. Ia merasa sulit bernafas. Semua ini terlalu berat. Ia tidak bisa menanggungnya. “Sicca!”

Aku penasaran bagaimana masa depan itu

Sepertinya sangat indah

Terdengar seperti surga

Pasti menyenangkan bagimu tinggal di tempat seperti itu.

Suara Jessica terus terngiang di telinga Yuri. Apa gunanya tinggal di masa depan. Apa gunanya ia tinggal di tempat yang begitu indah seperti surga jika tidak ada Jessica disisinya. Ia hanya ingin bersama dengan Jessica. Tidak peduli ia harus tinggal di surga atau neraka sekalipun.

Pandangan Yuri tertuju pada permukaan kolam yang membeku. Ia berjalan mendekat kemudian naik di atasnya. Dengan mantap ia berjalan menuju tengah kolam. Ia tidak mempedulikan retakan yang muncul saat ia mulai melangkah. Ia terus melangkah maju. Jika ia tidak bisa bersama Jessica, tidak ada gunanya lagi dia hidup.

***

Terdengar suara ketukan di pintu ruangan Profesor Seo. Tak lama kemudian terdengar suara seorang gadis dari balik pintu itu. “Profesor, apa kau di dalam?”

“Masuklah!” Ujar Profesor Seo dingin. Begitu banyak masalah yang muncul akhir – akhir ini membuat kepalanya pusing.

Seorang gadis tinggi berambut hitam masuk ke ruangan Profesor Seo sambil membawa sebuah kotak setinggi sepuluh inchi. Tanpa disuruh ia duduk di kursi di seberang meja kerja Profesor Seo.

“Seohyun? Aku tidak menyangka kau langsung datang kemari.” Profesor Seo tersenyum kecut pada Seohyun.

“Sepertinya ada masalah. Kau terlihat kurang sehat.”

“Begitu?” Profesor Seo merapikan meja kerjanya yang berantakan. “Kau benar! Memang ada masalah. Masalah yang sangat besar.”

“Apa ada hubungannya denganku?” Seohyun menyadari betapa seriusnya masalah yang dimaksud oleh Profesor Seo. Selama ini pria itu terlihat tenang dan berwibawa. Ia bisa menyelesaikan masalah apapun dengan kepala dingin. Tapi sekarang ia jadi seperti ini karena sebuah masalah menandakan kalau masalah itu sangat – sangat serius.

“Tentu saja.” Profesor Seo menghela nafas. “Masalah ini terjadi karena kita.”

“Apa itu?”Seohyun terlihat ingin tahu. Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.

“Kemarin aku mendapatkan kabar kalau salah seorang mahasiswi tewas membeku di dalam kolam. Sebelumnya aku juga mendengar kalau ada tiga orang gadis yang bertingkah seperti orang gila.” Profesor Seo menatap Seohyun dengan serius.

“Lalu? Apa hubungannya dengan kita?” Seohyun masih belum mengerti dengan maksud Profesor Seo.

“Aku mencoba mengumpulkan beberapa informasi dari mahasiswa lainnya. Tiga gadis yang bersikap seperti orang gila itu adalah mereka yang kau kurung selama beberapa hari di lubang hitam. Sedangkan gadis yang tewas itu sempat berinteraksi dengan tiga orang yang kau kirimkan kemari. Bahkan ia sempat berkencan dengan salah satunya. Bukankah kau juga berpikir kalau ini terjadi karena ulah kita. Kau mengatakan kalau semuanya akan baik – baik saja. Karena itu aku berpikir tidak akan ada masalah besar nantinya.”

“Profesor tenang saja. Aku akan memperbaiki semua ini.” Seohyun mencoba berpikir.

“Dengan apa?” Profesor Seo meninggikan nada suaranya. “Dengan merubah masa lalu? Lagi? Apa kau belum sadar juga? Ada begitu banyak korban saat kau merubah sesuatu. Kau pikir tidak akan ada korban lain jika kau mencoba memperbaikinya?”

“Aku akan berhati – hati kali ini.” Seohyun mencoba meyakinkan Profesor Seo.

“Tentu saja kau akan berhati – hati. Aku tahu itu. Tapi apa semuanya akan berjalan lancar jika kau hanya akan berhati – hati?” Profesor Seo menatap Seohyun dengan serius. “Kau pikir selama ini selain kau tidak ada ilmuan lain yang cukup jenius yang bisa membuat terbukanya pintu antar waktu? Aku yakin banyak yang seperti itu. Lalu mengapa kita tidak pernah mendengar tentang penjelajah waktu sebelumnya? Karena mereka menghancurkan penemuan mereka begitu mereka berhasil menemukannya. Mereka menyadari kalau mereka tidak bisa merubah masa lalu tanpa mengorbankan sesuatu. Jadi aku mohon padamu, cukup sampai disini saja. Jangan kau gunakan benda itu lagi.”

“Aku tidak tahu kalau akan jadi serumit ini.” Seohyun menunduk. Ia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Dan ia tidak bisa merubahnya. “Aku hanya ingin Yuna menyukaiku. Setidaknya ia melihatku sekali saja. Selama ini ia hanya bisa melihat pria yang lebih dewasa darinya. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Karena itu aku ingin dia melihatmu dan kemudian ia akan menyadari keberadaanku.”

“Bukankah kau sudah berhasil?” Profesor Seo kembali memijat kepalanya. “Karena itu aku mohon padamu. Jangan gunakan benda itu lagi. Sudah cukup bagimu untuk bermain – main dengan waktu.”

“Itu artinya kita tidak akan bertemu lagi?”

“Tentu. Itu konsekuensinya.”

“Kau sudah banyak membantuku selama ini. Kau sudah memastikan mereka bertiga memakai pin itu sehingga bisa pulang dengan selamat. Kau juga sudah membuat Yuna menyukaimu. Terimakasih.”

“Tunggu! Memastikan apa?” Profesor Seo menaikkan sebelah alisnya. “Memastikan mereka memakai pinnya? Kau tidak pernah memintaku untuk memastikan itu.”

“Aku tidak mengatakannya?” Seohyun mencoba mengingat, kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa aku lupa memberitahumu?”

“Aish anak ini!” Profesor Seo menghembuskan nafas mencoba untuk bersabar menghadapi gadis di depannya. “Kau ceroboh sekali! Bagaimana jika mereka tidak memakai pinnya dan mereka tidak pernah pulang?”

“Mereka memakai pinnya. Dan mereka pulang.” Seohyun berkilah.

“Harusnya kau tidak lupa memberitahukan hal sepenting itu padaku.” Suara Profesor Seo bergetar menandakan kalau kesabarannya nyaris habis.

“Mianhe!” Seohyun menunduk.

“Aku maafkan kau asalkan kau tidak pernah memakai alat itu lagi. Jangan pernah melintasi waktu lagi.” Profesor Seo kembali terlihat serius.

“Baiklah. Aku tidak akan menggunakannya lagi.” Seohyun kemudian menyodorkan kotak yang ia bawa pada Profesor Seo. “Karena kita tidak akan bertemu lagi, aku akan memberikan ini padamu sekarang.”

“Apa ini?” Profesor Seo hanya menatap kotak itu tanpa menyentuhnya.

“Sebuah hadiah kecil dariku sebagai ungkapan terimakasih karena kau sudah mau repot – repot membantuku.” Seohyun tersenyum. “Kau akan jadi pengendali tanah dengan alat ini.”

“Begini..” Profesor Seo meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Bukannya aku bermaksud tidak sopan dengan menolak hadiah darimu. Tapi aku tidak menginginkan apapun yang berasal dari masa depan. Biarlah masa depan selamanya menjadi masa depan, dan masa lalu tetap menjadi masa lalu.”

“Kau yakin?” Seohyun membulatkan matanya. “Kau tidak menginginkan apapun dariku?”

“Tidak!” Profesor Seo menjawab cepat. Kemudian ia teringat sesuatu dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya. Ia meletakkan ponsel itu di atas kotak hadiah Seohyun. “Sekalian kau bawa ini kembali.”

“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak kau sudah mau membantuku.” Seohyun membungkuk memberi hormat pada Profesor Seo.

The End :p

Iklan

36 thoughts on “TIME TRAVEL Part 10 (YulSic) [END]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s